Tuesday, May 1, 2007

TANTE ERNI

Kejadian ini terjadi ketika aku kelas 3 SMP, yah aku perkirakan umur
aku waktu itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan
sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain
yang enak-enak. Yah itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya
temen nyokap Aku yang namanya Tante Erni (biasa kupanggil dia
begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin
aku bergetar.
Tante Erni ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah
Tante Erni ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada
hubungan saudara. Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak
ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka
ngomongin suaminya sendiri. Nah Tante Erni inilah yang bikin aku
cepet gede (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yang
cepet-cepet).
Biasanya Tante Erni kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau
kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser..
Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan
biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik. Tante
Erni ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia
sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit
bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.
Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa
ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai
kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai
ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Erni ngangkang
sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih).
Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada
perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai
panas dingin tapi Tante Erni malah diam saja malah dia tambahin lagi
deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante
yang satu itu. Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama
celana dalem tuh Tante.
Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di
villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak
Aku pasti Tante Erni pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu
hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket
taman sambil bakar jagung. Ternyata mereka sedang bercerita tentang
hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang
serem-serem, pas waktu itu Tante Erni mau ke WC tapi dia takut.
Tentu saja Tante Erni di ketawain sama gangnya karena enggak berani
ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut
sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman.
Lalu Tante Erni menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku
sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Erni,
sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante
Ernin ngsajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.
"Lex temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya
enggak usah di tutup, Tante takut nih", kata Tante Erni sambil mulai
berjongkok.
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana
dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga.
"Serr.. rr.. serr.. psstt", kalau enggak salah gitu deh bunyinya.
Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Erni kencing, dalam
hatiku, kalau saja Tante Erni boleh ngasih liat terus boleh
memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante Erni.
"Heh kenapa kamu Lex kok diam gitu awas nanti kesambet" kata Tante
Erni.
"Ah enggak apa-apa Tante", jawabku.
"Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke
bawah terus sih?", tanya Tante Erni.
"Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan
kaya apa sih bentuk itunya cewek?" tanyaku.
Tante Erni cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.
"Kamu mau liat Lex? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang
yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu", kata Tante Erni.
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah
vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali
ini Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante Erni
membiarkanku memegang-megang vaginanya.
"Sudah yah Lex nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain
kita ngapain lagi".
"Iyah Tante", jawabku.
Lalu Tante Erni menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus
kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku
panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi
sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut
karena badanku enggak enak.
"Lex, kamu enggak ikut?" tanya mamiku.
"Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain
kue mochi saja yah Mah" kataku.
"Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi" kata Mami.
"Erni, kamu mau kan tolong jagain si Alex nih yah, nanti kalau kamu
ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin" kata Mami pada
Tante Erni.
"Iya deh Kak aku jagain si Alex tapi beliin aku tales sama sayuran
yah, aku mau bawa itu buat pulang besok" kata Tante Erni.
Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Erni berdua
saja di villa, Tante Erni baik juga sampai-sampai aku di bikinin
bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.
"Kamu sakit apa sih Lex? kok lemes gitu?" tanya Tante Erni sambil
nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
"Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja
nih yang di rasa" kataku.
Tante Erni begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya
yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
"Kepala yang mana Lex atas apa yang bawah?" kelakar Tante Erni
padaku. Aku pun bingung, "Memangya kepala yang bawah ada Tante? kan
kepala kita hanya satu?" jawabku polos.
"Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman"
kata Tante Erni sambil memegang si kecilku.
"Ah Tante bisa saja" kataku.
"Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah" aku hanya diam
saja.
Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante Erni, pada
waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, "Tante enggak usah deh
Tante biar Alex saja yang ngelap, kan malu sama Tante"
"Enggak apa-apa, tanggung kok" kata Tante Erni sambil menurunkan
celanaku dan CDku.
Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.
"Lex mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah"
"Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya" kataku polos.
"Iyah kamu tenang saja yah" kata Tante Erni.
Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan
saat itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi
pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan
yang seperti ini.
"Achh.. cchh.." aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku
memegang vagina Tante Erni yang masih di balut dengan celana pendek
dan CD tapi Tante Erni hanya diam saja sambil tertawa kecil terus
masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan
mau kencing.
"Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih" kataku.
"Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok" kata
Tante Erni.
Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante
Erni karena Tante Erni tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa
diam karena merasakan enaknya.
"Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener " kataku sambil
meremas vagina Tante Erni yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Ernipun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun
mengejang keras.
"Croott.. ser.. err.. srett.." muncratlah air maniku dalam mulut
Tante Erni, Tante Erni pun langsung menyedot sambil menelan maniku
sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Tante Erni berdenyut
kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante Erni lembab dan
agak basah.
"Enak kan Lex, pusingnya pasti hilang kan?" kata Tante Erni.
"Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih
soalnya Tante.."
"Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget,
wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Lex?"
"Enggak Tante"
Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante Erni.
"Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih". Aku jadi salah
tingkah
"Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti" katanya padaku.
"Tante boleh enggak Alex megang itu Tante lagi" pintaku pada Tante
Erni. Tante Erni pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana
dalam Tante Erni basah entah kenapa.
"Tante kencing yah?" tanyaku.
"Enggak ini namanya Tante nafsu Lex sampai-sampai celana dalam Tante
basah".
Dilepaskannya pula celana dalam Tante Erni dan mengelap vaginanya
dengan handukku. Lalu Tante Erni duduk di sampingku
"Lex pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap" katanya. Akupun
mulai memegang vagina Tante Erni dengan tangan yang agak gemetar,
Tante Erni hanya ketawa kecil.
"Lex, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih" kata Tante
Erni. Dia mulai memegang penisku lagi, "Lex Tante mau itu nih".
"Mau apa Tante?"
"Itu tuh", aku bingung atas permintaan Tante Erni.
"Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau
kan?"
"Tapi Alex enggak bisa Tante caranya"
"Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah" kata Tante
Erni padaku.
Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku
juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Erni
yang di tumbuhi bulu halus.
"Lex jilatin donk punya Tante yah" katanya.
"Tante Alex enggak bisa, nanti muntah lagi"
"Coba saja Lex"
Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Erni di
atas dan tanpa pikir panjang Tante Erni pun mulai mengulum penisku.
"Achh.. hgghhghh.. Tante"
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante
Erni tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih
baunya vagina Tante Erni seperti wangi daun pandan (asli aku juga
bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante Erni
sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante Erni dan juga
melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.
Tante Erni pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian
Tante Erni menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium
bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.
"Kamu tahu enggak mandi kucing Lex" kata Tante Erni.
Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Erni pun langsung menjilati
leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya
berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke
perutku, terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai
bereaksi mengeras. Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya
menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa
geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante Erni pun langsung
menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap
bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya
sampai aku merasakan anusku basah.
Kulihat payudara Tante Erni mengeras, Tante Erni menjilati sampai ke
betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok
penisku, tanganku pun meremas payudara Tante Erni. Entah mengapa aku
jadi ingin menjilati vagina Tante Erni, langsung Tante Erni
kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Erni
seperti menjilati es krim.
"Achh.. uhh.. hhghh.. acch Lex enak banget terus Lex, yang itu isep
jilatin Lex" kata Tante Erni sambil menunjuk sesuatu yang menonjol
di atas bibir vaginanya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir
yang keluar dari vagina Tante Erni tanpa sengaja tertelan olehku.
"Lex masukin donk Tante enggak tahan nih"
"Tante gimana caranya?"
Tante Erni pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan
langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante Erni naik turun
seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur.
Setengah jam kami bergumul dan Tante Erni pun mengejang hebat.
"Lex Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh" erang Tante Erni.
Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama
kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante
Erni. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina
Tante Erni mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan
Tante Erni sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Tante
Erni tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya.
"Lex nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya" pinta Tante Erni
padaku.
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante
Ernipun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi
yang seperti tadi.
"Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg.." kataku dan tak lama
aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
"Tante Alex kayanya mau kencing niih"
Tante Erni pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih
lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan
tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan
seperti yang pertama Tante Erni pun menelannya dan menghisap ujung
kepala penisku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas
tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.
Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat
dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Erni
menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas
arahan Tante Erni yang hebat. Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1
siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante Erni,
setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante
Erni di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam
Tante Erni. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami
melakukannya atas permintaan Tante Erni, tepat jam 4:30 kami
mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul
6 sore.
"Lex kamu sudah baikan?" tanya Mamiku.
"Sudah mam, aku sudah seger n fit nih" kataku.
"Kamu kasih makan apa Ni, si Alex sampai-sampai langsung sehat"
tanya Mami sama Tante Erni.
"Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja
obat anti panas" kata Tante Erni.
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di
samping Tante Erni yang semobil denganku. Mami yang menyopir
ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih
mencuri-curi memegang barangnya Tante Erni.
Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante Erni
bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Erni.
Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3
kali. Kini Tante Erni sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru
kuketahui bahwa suami Tante Erni ternyata menagalami ejakulasi dini.
Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Erni.
Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL Tante
Erni bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku.
Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante Erni yang nasibnya
sama seperti Tante Erni, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan
suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria
muda.