Wednesday, May 2, 2007

SURABAYA UNDERGROUND

Nama panggilanku Sari. Aku berusia 25 tahun dan bekerja
di sebuah perusahaan swasta di Surabaya pada posisi yang
cukup menyenangkan baik secara status maupun secara
ekonomi. Aku seorang blasteran Jawa-Jepang, namun secara
fisik, banyak orang mengira aku keturunan Chinese karena
warna kulitku putih dan mataku tidak lebar. Rambutku
pendek seleher. Aku tergolong wanita yang kurus dengan
tinggi badan 176 cm dan berat 59 kg. Namun aku merasa
memiliki bentuk tubuh yang bagus, dengan kaki yang
panjang, dan payudara yang tidak besar namun padat dan
kencang. Sejak remaja, kehidupan seksualku tergolong
cukup 'bebas' untuk orang Indonesia. Selama aku cocok
dan dia cocok, aku easy going sajalah. Mungkin sikap ini
juga yang membuatku belum mendapatkan pasangan 'resmi'
hingga sekarang, tapi..., peduli amat? aku toh enjoy aja
dengan ini semua.

Waktu itu akhir bulan Juni 99. Karena akhir bulan,
seperti biasa aku sibuk membaca dan mengevaluasi laporan
hasil kerja anak buahku, dan menuliskan laporan untuk
atasanku. Karena waktu sudah sangat sempit, aku
memutuskan untuk bekerja overtime sampai selesai. Gedung
perkantoran tempatku bekerja tergolong pelit, mereka
mematikan lampu dan listrik utama setelah lewat pukul
enam sore. Karena itu aku menyewa sebuah ruang khusus
yang memang disediakan gedung itu untuk orang-orang yang
ingin lembur. Ruangan itu kecil sekali, sekitar 3x3
meter, tidak berjendela, sehingga terkesan seperti
dikurung dalam sebuah kotak korek api, dan AC-nya tidak
begitu dingin. Namun karena tuntutan karier, ya
sudahlah, aku langsung menginput data ke dalam notebook
untuk diemailkan pada kantor pusat. Tak terasa, aku
sudah bekerja hingga pukul delapan malam.

Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan
haus. Aku ingat, di luar bilik kecil ini, di dekat lift,
ada sebuah dispenser air minum, aku segera berdiri dan
keluar dari ruang itu untuk mengambil air minum. Ketika
aku membuka pintu, aku melihat seorang pria sedang
mengambil air di dispenser itu. Nah, aku lega bahwa
ternyata dispenser itu bekerja. Aku segera menghampiri
dispenser itu, mengambil gelas, dan menuangkan air ke
gelasku. Pria yang sedang minum tadi tersenyum
menyapaku, aku tersenyum balik, sekedar ramah tamah
basa-basi. Pria itu berbadan besar, tingginya sekitar
180-an lebih tinggi dariku yang tergolong jangkung. Ia
tidak terlalu kurus atau gemuk, meskipun tidak juga
berbentuk seperti binaragawan. Tubuhnya terbungkus rapi
oleh kemeja Kenzo warna hijau muda dan di lehernya
terikat dasi bercorak ramai khas Gianni Versace.
Wajahnya pun biasa saja, tampang orang pengejar karir di
usia pertengahan duapuluhan.

"Sedang lembur juga, Mbak?", Tanyanya mencoba mencairkan
suasana sepi.
"Iya, biasa, Mas, akhir bulan. Pas hari Jumat lagi."
"Oh, pasti lagi nyelesaikan progress report yah?
"Iya, untung udah selesai barusan."
"Wah, baguslah. Eh, omong-omong, Mbak kantornya di
lantai berapa?".
"Di lantai sebelas, di PT (perusahanku). Kalau Mas?".
"Saya di lantai delapan, di PT (perusahaannya).""Oh,
wajarlah kalau kita nggak pernah ketemu".
"Haha, iya, rupanya ada gunanya juga lembur. Kita bisa
saling kenal." Pria itu berkesan begitu sopan dan ramah,
matanya sedari tadi memandang hanya ke mataku, tidak ke
arah kemejaku yang dua kancing atasnya terbuka, sehingga
nampak putihnya kulit dadaku mengintip keluar.
"Oh iya, kita belum kenalan, Namaku Ditto." Katanya
sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.
"Aku Sari." Jawabku sambil tersenyum semanis yang aku
bisa.
"Sari pulang nanti naik apa?".
"Oh, aku bawa mobil sendiri. Kalau kamu?".
"Aku naik mobil juga..., Eh, Sari keberatan nggak kalau
kita makan malam bareng setelah ini?".
Wah, orang ini 'direct' juga yah? pikirku kegirangan.
"Boleh aja, apa Ditto nggak ada yang nungguin di
rumah?".
"Ah, belum kok." Jawabnya sambil mengerdipkan mata kiri
dan tersenyum manis.
"OK, aku akan beres-beres dulu yah!", Kataku sambil
melangkah balik ke bilikku.

Aku segera mengemasi notebook dan kertas-kertas kerjaku
secara terburu-buru. Ada yang aneh di pikiranku. Aku
merasakan ada gairah yang mendorongku untuk berhubungan
lebih intim dengan Ditto. Padahal orangnya biasa saja,
kulitnya rada gelap, rambutnya cepak, wajahnya biasa
saja meski ukuran tubuhnya memang cukup besar untuk
ukuran orang sini. Tapi cara dia bicara, cara dia
tersenyum, cara dia memandang mataku, benar-benar
hangat, namun tidak nakal atau kurang ajar. Nyatanya, ia
tidak berusaha mencuri pandang ke arah yang tidak-tidak
seperti pria lainnya yang pernah ketemu aku. Hmm...
Kira-kira apakah dia ada keinginan untuk bercumbu
denganku atau tidak yaa?
Selagi aku asyik mengkhayalkannya, terdengar ketukan di
pintu.
"Masuk!" Kataku sambil berharap bahwa itu adalah Ditto.

Ternyata benar, Ditto berdiri di pintu itu sambil
menenteng tas notebook di tangan kanannya. Dasinya telah
dilepas, dan kancing bajunya terbuka yang di atasnya,
sehingga nampak rambut-rambut halus di situ.
"Gimana, udah selesai?", Tanyanya.
"Iya, udah, tapi sewa overtime nya sampai jam sepuluh
nih, jadi masih rugi kalau aku tinggalkan sekarang!" Aku
mencoba mengajak bercanda.
"Haha, pelit juga kamu, Sar! Boleh aku masuk?".
"Silakan aja, asalkan kamu nggak keburu pulang".
"Ah, nggak kok, ini kan Jumat, biasanya juga pulang
telat".
"Biasanya kemana aja kalau Jumat malam?".
"Paling-paling pergi sama teman-teman main badminton
atau basket".
"Oh, seru dong? Apa sekarang nggak ditungguin
teman-temannya?".
"Ah, mendingan juga di sini nemenin Reni. Sekali-kali
boleh kan ganti suasana?"Kami kembali tertawa-tawa.

Ia duduk di meja kerja, sementara aku duduk di kursi
kerjaku yang tadi.
"Wah, panas sekali di sini..., AC-nya kurang bagus yah?"
Katanya sambil menggulung lengan bajunya ke atas, dan
membuka satu lagi kancing baju di dadanya. Aku menahan
diri untuk tidak melihat ke arah rambut-rambut di
dadanya.
"Sar, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?"
Tanyanya dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin
saja tujuannya nakal.
"Well, sebenarnya iya sih..., boleh nggak aku copot
blazernya?"
"Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Memangnya aku
Papa mertua kamu?".

Humornya membuatku tertawa geli, tapi juga sekaligus
membuatku ingin berbuat lebih jauh dengannya. Maka aku
berdiri dari kursi, dan melepaskan blazerku dengan gaya
yang aku buat-buat agar nampak seksi. Aku menunggu apa
reaksi dia kalau dia melihat bahwa ternyata kemeja yang
aku kenakan ini tidak berlengan, sehingga kehalusan
bahuku bebas dilihatnya.
"Wah, ternyata nggak ada lengannya toh?, Bisa-bisa nanti
orang hanya menempelkan selembar kain saja di bawah
blazer". Candanya mengomentari.
"Sialan, aku kira kamu akan bilang aku seksi, Dit!",
Jawabku menggoda.
"Hah? wah, kalau itu sih..., apa kamu masih kurang
yakin? sampai-sampai aku perlu meyakinkan diri kamu
lagi?"
"Hihihi, ada-ada saja. Tapi thanks lho!", Kataku sambil
mengerdipkan mata.

Lalu dengan gaya yang kocak ia menceritakan bahwa
seorang pialang saham ulung akan lebih merasa tersanjung
bila dipuji atas kepandaiannya memasak daripada atas
kepiawaiannya menganalisis saham. Wow, aku jadi merasa
tersanjung juga karena itu berarti dia mengakui
keindahanku.
Tiba-tiba dia berkata lagi, "Kamu nggak minta dipijitin
sekalian, Sar? Kan kalau di film-film semi, adegan cewe
buka blazer dilanjut dengan adegan pijit itu trus
berlanjut dengan adegan yang biasanya disensor?".

Ya ampun..., caranya begitu jantan sekali dan sama
sekali nggak kurang ajar..., Aku jadi luluh juga
dibuatnya, dan aku jadi rela untuk menyerahkan tubuhku
padanya..., meski sebenarnya akulah yang
menginginkannya.
Aku segera menjawab, "Terserah deh, tapi nggak usah
disensor juga nggak apa-apa kok".
"OK deh, itu berarti adegan yang disensor itu bisa aja
dilakukan nanti?"Katanya, sambil berdiri di belakang
kursiku dan mulai memijit bahuku.


Kami terdiam sejenak, ia memijit bahuku lewat kemejaku.
Rasanya mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa
menyakitkan sedikit. Dan dia bukannya tak tahu itu, ia
menyingkapkan kemeja tanpa lenganku ke bawah, sehingga
kini pundakku terpampang di hadapannya.
"Huh, tali ini menggangguku memamerkan keahlianku
memijit!" Katanya sambil menyingkirkan tali bra ku ke
samping, aku jadi merasa begitu seksi, ditelanjangi
perlahan-lahan seperti ini membuat pikiranku jadi
aneh-aneh.
"mm..., nikmat sekali Ditt...", Kataku sambil menikmati
pijitannya yang memang nikmat dan membuatku
menggeliat-geliat sedikit.

Tangannya dengan mantap memijiti pundak dan leherku,
membuatku merasa begitu rileks, dan terus terang
saja..., terangsang. Tiap kali jemarinya yang hangat itu
menyentuhku, rasanya begitu nikmat hingga aku mengerang
keenakan.
"mm..., mm..., aduuh, enaknyaa..., boleh juga tangan
kamu, Dit!"
"Eh, rintihannya jangan dibuat-buat gitu dong! Nanti aku
jadi ingin mijit bagian yang lain!". Ia membuatku jadi
makin terangsang dengan pilihan katanya yang selalu di
luar perkiraanku.
"Berarti kalau aku merintih-rintih yang dibuat-buat,
kamu pijit bagian yang lain yah?"
"OK! Setuju!" Candanya dengan nada seperti orang sedang
rapat kampung. "Aahh... mmhh..., Ohh.." Rintihku aku
buat-buat sambil bercanda.

Tiba-tiba tangannya langsung turun meremas kedua
payudaraku yang masih terbungkus bra itu. Tangannya diam
di situ, dan dia bilang, "Tuh kan? apa aku bilang? kalau
kamu buat-buat gitu, tanganku jadi memijit bagian yang
lain!" Katanya sambil bercanda..., padahal aku sudah
mabuk kepayang dan ingin tangannya segera meremas kedua
payudaraku.
"Udahlah Dit..., sekarang kita mulai aja deh", Kataku
dengan nada serius.
"Baiklah, Saya juga ingin melakukannya sejak tadi, kalau
kamu yang minta oke lah!", Katanya.

Ia pun langsung menurunkan bra-ku ke bawah, hingga kedua
susuku kini terbuka lebar. Ia memutar kursiku hingga
kami kini berhadapan. Ia berlutut di depanku, matanya
menatap mataku yang telah sayu terlanda birahi. Aku
menggerakkan tanganku untuk melepas kacamata minusku,
namun ia menghalanginya.
"Nggak apa-apa, Sar..., Aku senang melihat kamu dengan
kaca mata itu..., seksi sekali!" Katanya sambil
mengedipkan mata kiri.

Tanpa banyak kata, ia lalu memajukan kepalanya dan
mengulum bibirku, aku terpejam ketika merasakan lidahnya
menerobos mulutku. Aku agak terkejut ketika ia
melepaskan bibirnya dari bibirku. Belum sempat aku
membuka mata, aku sudah merasakan jilatan lidahnya
membasahi leherku yang jenjang, merambat menyusuri
bahuku..., hangat sekali rasanya.
"Nngg...", Aku mulai merintih pelan sambil menengadahkan
kepalaku. Sementara lidahnya melingkar-lingkar mengolesi
leherku, turun ke belahan dadaku..., menari-nari di
situ..., uhh..., aku semakin tak karuan rasanya.
"Augh, cium yang aku mesra...!" Aku meracau tak karuan.
"Wah..., ketahuan nih, udah pengen yaa?", Godanya nakal.
Aku sudah kesetanan, segera kudekap kepalanya dan
kutarik mendekati dadaku, dan kubusungkan kedua dadaku
agar ia segera mengulum puting susuku. Dia malah berkata
lagi, "Iya, iya aku tahu maksudnya kok..., sslurp".
"Uhgkk", Mulutnya menangkap puting susuku yang kanan,
lidahnya menjilat-jilat lembut, aduuh..., rasanya gelii
dan nikmaat sekali..., aku menggelinjang-gelinjang
menahan geli yang luar biasa, lidahnya seperti
melingkar-lingkari puting susuku dengan cepat namun
lembut. Begitu gelinya hingga punggungku terlepas dari
sandaran kursi dan melengkung seperti busur panah.

Kini lidahnya berpindah ke puting susuku yang kiri,
mengait-ngaitnya..., Aduuhh aku semakin lupa daratan,
Aku nggak tahu kenapa, tapi jilatan Ditto rasanya begitu
berbeda, benar-benar membuatku seperti melayang-layang
kegelian, rasanya seluruh badanku kehilangan energi...,
lemas sekali, tapi terasa nikmaat sekali. Puting susuku
yang kanan kini dipilin-pilinnya.

Uhhfff..., Kedua puting susuku yang sensitif ini menjadi
bulan-bulanan mulut rakus Ditto, aku merintih dan
mengerang sebisaku, keringatku mulai menetes, rasanya
sulit sekali untuk bernafas teratur, tiap kali menarik
nafas selalu terhenti oleh rasa geli yang menyengat
puting susuku.
Tiba-tiba ia berhenti. "Sar, naik ke meja dong?",
Katanya sambil mendirikan tubuhku. Karena sudah
terangsang tak karuan, aku menurut saja ketika ia
menelentangkan tubuhku di meja kantor, kemejaku telah
terbuka kancingnya, namun ia tidak melepasnya, hanya
menyingkirkan ke kiri kanan. Aku sempat tertegun melihat
kemeja Ditto masih tampak rapi, hanya celananya saja
yang terlihat menonjol karena desakan kejantanannya. Aku
tertegun juga ketika melihat kedua pentil susuku
terlihat kemerahan, berdenyut denyut dan mencuat tinggi
sekali. Aku segera kembali terpejam ketika mulut
rakusnya kembali menyerang kedua susuku. Puting-putingku
dijilat, dihisap, digigit, dan aku tak tahu diapakan
lagi..., rasanya luar biasa geli dan nikmat. Aku hanya
bisa telentang di meja itu sambil terengah-engah dan
menggelinjang menahan serbuan birahi.
"Ahhkk..., sshh..., mmh...", Aku mendesah dan meracau
tak karuan. Sementara tangan kananku mulai gatal dan
menyusup kebalik rok mini dan celana dalamku,
menggosok-gosok bibir kelaminku yang rupanya telah
lembab dan basah sekali dari tadi.

Kini Ditto memilin-milin kedua puting susuku dengan
jari-jarinya, dan lidahnya menyusuri perutku yang
langsing, menjilati pusarku. Lidahnya mendarat di
tempat-tempat tak terduga yang memberiku sensasi yang
luar biasa selain pilinan jarinya pada puting susuku.
Paha bagian dalamku tak luput dari jilatan-jilatannya
yang mesra dan buas. Disingkapkannya rok miniku ke atas,
lalu jemarinya kembali ke puting susuku seolah tak
membiarkan mereka istirahat. Digigitnya karet celana
dalamku, secara refleks aku merapatkan kaki dan
mengangkat punggungku agar ia mudah melepaskannya. Aku
tak tahu diapakan, tapi celana dalamku segera lepas.
Secara sukarela aku mengangkangkan kedua tungkaiku
lebar-lebar agar ia bisa memandangi kewanitaanku yang
telah membanjir karena ulahnya.

Ditto melepaskan kedua putingku, lalu menekan pahaku
keluar, agar ia lebih bebas lagi memandangi
kewanitaanku. Aku hanya terengah-engah memandangi
langit-langit dalam keadaan terangsang sekali. Akhirnya
aku mampu menarik nafas panjang, karena kedua putingku
tak lagi menerima sengatan birahi darinya. Tapi
tiba-tiba kurasakan hawa dingin di kewanitaanku, ia
meniup-niupnya, memberiku rasa geli yang aneh...,
membuatku semakin tak tahan lagi, ingin ia segera
menancapkan kejantanannya ke tubuhku.
"Ohh..., cepatlahh Dittoo..., ayo..., kamu hebat...
deh!".
"Sar..., badan kamu indah sekali..., luar biasa...,
cantik sekali".
"Please, lakukan sesuatu..." Aku merintih memintanya
segera menyelesaikannya."Ahhgg...", Aku menjerit dan
menggelinjang hebat ketika lidahnya tiba-tiba menyayat
clitorisku dengan cepat dan tajam. Lalu kewanitaanku
seperti diselimuti oleh sesuatu yang basah, panas, dan
lunak, terhisap-hisap, dan clitorisku tersayat-sayat
oleh sesuatu.

Karuan saja aku makin tak tahan, menggeliat-geliat tak
karuan, punggungku terangkat-angkat dari meja itu,
mataku tak mampu kubuka, nafasku kian terasa berat,
rasanya gelii sekali..., nikmat tak terkira, "Oohh...,
Dittoo..., uuhh..., enaak sekalii..., sshh..., kamu
apain akuu..., aduuhh".
Rintihanku kian tak terkendali, aku segera
memlintir-mlintir kedua puting susuku untuk menambah
kenikmatan, meremas kedua susuku yang kenyal, sementara
Ditto tak henti mengirimkan kehangatan birahi lewat
bibir kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut Ditto kian
buas menerpa kewanitaanku. Apalagi ketika jarinya
ditusukkannya ke dalam liang kewanitaanku, dan
menari-nari di dalamnya..., Aduuh..., benar-benar tak
terperi nikmatnya.

Tusukan jari Ditto menyentuh tempat yang tepat...,
berkali-kali..., Aduhh..., terasa seluruh energiku
seperti terhisap ke tempat itu..., terkumpul di situ...,
lalu meledak.
"Aahhgg Dittoo..., uhh..", Aku segera mencapai klimaks.
Orgasme yang luar biasa sekali..., merenggut sebagian
kesadaranku..., hingga kini aku terkulai lemas. Aku
mencoba mengatur nafas..., tapi sia-sia..., kenikmatan
ini benar-benar membuatku terbang melayang. Aku
terpejam, merasakan nikmatnya diriku terombang-ambing ke
alam tak sadar..., menggumam.
"mmhh..., Ditto..., nikmat sekali..., hh".
"Sari, mau istirahat dulu?".
"Ngghh..., nggak..., langsung aja, goyang yang cepat!
sekarang!", Aku tak mampu mengontrol pilihan kataku
lagi, birahiku telah menguasai diriku.
"Well, baik kalau begitu..", Itu kata terakhir yang
kudengar dari Ditto, lalu sambil hanya dapat memandangi
langit-langit aku merasa pahaku dikangkangkan,
tiba-tiba..., sspp..., Kejantanannya mengisi tiap rongga
di liang kewanitaanku ini.
"Aduuhh..., Ohh..., terusin sayangghh..., deeper...",
Aku merintih tak karuan ketika ia mulai menggerakkan
tubuhnya. Ia berdiri sementara aku telentang di meja,
jelas ia sangat leluasa menggerakkan tubuhnya,
kejantanannya terasa menyodok dan menggerus-gerus
seluruh bagian dalam kewanitaanku dengan buas dan
garangnya.

Aku tak mampu bergerak membalas karena masih lemas oleh
orgasme yang pertama tadi..., namun persetubuhan ini
rasanya lebih hebat lagi..., rasa-rasanya seluruh
tubuhnya memasuki liang kewanitaanku, aku hanya
memejamkan mata, menggeliat, merintih. "Uhh...".
Sodokan-sodokan kejantanannya terasa kian dalam
menerobos dasar kewanitaanku telapak-telapak tangannya
yang kasar tak henti meremas dan memegang kedua susuku.

Beberapa menit kemudian, Ditto tiba-tiba menarik
kejantanannya dari kewanitaanku, lalu dengan begitu
cepat membalikkan tubuhku hingga kini badanku tengkurap
di meja, namum kakiku menjuntai ke lantai, puting susuku
terasa geli merasakan dinginnya meja kantor itu, aku
hanya terengah.

Ditto menikamkan kejantanannya lagi ke lubang
kewanitaanku dari belakang..., "Uffhh...", sensasi yang
berbeda lagi..., ia mengocok tubuhku keras sekali hingga
meja itu bergoyang-goyang, saat itu juga, aku merasakan
klimaks menyambar tubuhku..., kewanitaanku serasa
mengejang, menggigit kejantanan Ditto, kedua tanganku
mencengkeram ujung meja kuat-kuat, tubuhku menegang, dan
aku merasakan adanya gelombang kenikmatan yang menyapu
jiwaku, merenggut tenagaku, aku menjerit tertahan
"Ahkk!". Lalu aku merasakan nikmat yang luar biasa dan
tubuhku serasa lemas sekali.
"Aduuh..., Ditt..., Enakk sekali.., hh".
"Tahan sebentar, ya Sari..., bisa kan?", Jawabnya sambil
mempercepat gerakannya.
"Ahhkk..., sakit..., pelan-pelan dongg..", Kewanitaanku
terasa ngilu.
"Sebentar saja yang..., sebentaar lagii".
"Ohh..., Uhhg..., Ngg..", Aku mengerang-erang menahan
ngilu, namun rasa sakit itu tak bertahan lama ketika
tiba-tiba kehangatan kembali mengalir lewat
kewanitaanku. Aku serasa melambung lagi oleh orgasme
yang ketiga, ketika sperma Ditto menyembur menghangatkan
sudut-sudut liang kewanitaanku. Kali ini, kenikmatan itu
mengantarkanku ke alam tak sadar untuk beberapa saat.

Cukup lama aku tertelungkup di meja itu, terengah-engah,
dibanjiri keringat, lemas sekali seperti setengah
pingsan. Yang dapat kurasakan hanya rasa nikmat dan
kepuasan tiada tara, aku sempat melihat Ditto
melemparkan tubuhnya ke kursi kerja, lalu memejamkan
matanya.

Beberapa saat kemudian, aku tersadar. Dengan sisa
tenagaku aku mencoba berdiri dan merapikan kemejaku yang
telah kusut tak karuan karena habis bersetubuh tanpa
melepaskan pakaian. Tak kukenakan kembali celana dalamku
karena telah sedikit basah oleh cairan kenikmatanku
ketika foreplay tadi.

Kukenakan kembali blazerku, kulihat Ditto sedang berdiri
bersandar di pintu tanpa ada kusut sedikitpun di
kemejanya, namun wajahnya tampak berseri-seri.
"Sari, udah jam sepuluh seperempat!".
"Iya, sudah waktunya pulang nih".
"Nah, dengan begini kamu nggak rugi kan?".
"Apanya yang nggak rugi?".
"Kan bayar sewa ruang overtimenya sampai jam sepuluh!?".

Kami tertawa-tawa lagi. Lalu berjalan menuju tempat
parkir mobil kami di lantai lima. Di lift, sebenarnya
ingin juga sekedar berpelukan atau berciuman, tapi
sayang sekali satpam gedung ikut berada di lift, senyam
senyum memandangi wajah-wajah kami yang kusut meski
berseri-seri. Semenjak itu, aku masih beberapa kali lagi
melakukannya dengan Ditto, sampai ia dipindah tugaskan
menjadi kepala pemasaran di daerah lain. Dan aku?
Well..., Ia memang luar biasa, tapi availability ialah
segalanya, bukan? Aku kembali mengejar karier, sambil
bertualang dari satu pelukan ke pelukan lain para pria
(dan kadang-kadang wanita) yang aku taklukkan dengan
tubuhku.