Tuesday, May 1, 2007

GADIS WARNET

Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di
Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi
saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini,
dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak
terduga sedikitpun olehku.

Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy
ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat
tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antri menunggu
giliran.
Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, "Sorry Yo..,
kayaknya loe musti nungguin lama juga nih.."
Brengsek juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pergi
ke warnet di dekat situ, persisnya di sebelah Soto
Kudus, persis depan Danar Hadi.

Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata
adalah yang bertugas menjaga warnet tersebut. Mulanya
aku tidak begitu memperhatikannya, berhubung hatiku lagi
kesal sekali sama ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku
mulai meng-klik mouse dan sedang menunggu connect-nya
internet, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini
punya wajah cukup lumayan dan body yang oke juga. Terus
terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya,
aku jatuh hati pada "the way she look".

Aku sibuk berpikir dalam hati, bagaimana cara aku
berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir cara
itu datang dengan sendirinya, cewek itu tidak lama
kemudian membuka juga internet dan dia duduk persis di
belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi satu
sama lain. Aku sempat menoleh ke belakang, dan kulihat
dia membuka situs "mIRC".
"Kayaknya dia mau chatting nih..," pikirku.
Ternyata benar, dia mau chatting, dan aku sempat melihat
kalau dia pake "nick" yanthie. Langsung saja aku masuk
ke "mIRC" juga, aku call dia, eeh dia nge-reply.

Kami berkenalan, dan selama chatting itu dia sama sekali
tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya
adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya, hihihihi.
Pas sejam aku selesai, aku bayar, aku pancing obrolan
dengannya, aku tahu sekarang namanya "Yanti", tepatnya
"Iryanti". Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.

Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy,
mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu
di bengkel itu, kutelepon penerangan "108". Kutanyakan
nomer telepon warnet itu, setelah kudapat langsung
kutelepon, dan aku minta bicara dengan Yanti.

"Siapa nih..?" suara Yanti di seberang sana.
"Ini Rio, boleh saya kenal kamu..?" jawabku.
"Boleh aja, tapi kamu dapat nomer ini darimana..?" tanya
Yanti lagi.
"Saya yang pernah main di warnet kamu..," jawabku.
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?
"Kamu yang tadi chatting di belakang saya khan..?"
katanya.
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu aku
mengaku saja, kalau itu benar aku, dan aku terpesona
oleh penampilan dia, tapi aku malu untuk menegur disana,
jadi aku pakai cara ini saja.

Yanti tertawa, enak deh suaranya, kuberanikan saja ingin
menjemput dia, mau atau tidak. Katanya dia sore ini
tidak bisa, karena cowoknya (yang akhirnya kuketahui
namanya Joe) menjemput dia.
"Gimana kalau besok lusa aja..?" katanya.
"Oke aja.." kataku.

Jadilah lusanya aku tidak praktek, jam 17.00 tepat aku
sudah sampai di warnet Yanti. Kami terus jalan deh. Di
jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku
tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa
kali pacaran, terakhir aku juga mengaku sudah punya
cewek, terus aku tanya mau tidak Yanti jadi cewekku?
Yanti kaget.
"Jadi Yanti ngeduain Joe donk Yo..?" tanyanya.
"Iya sama Rio juga ngeduain cewek Rio.." jawabku
sekenanya.
"Nakal kamu Yo.." kata Yanti sambil mencubit lenganku.
"Naaah.., kena nih cewek..!" pikirku.

Kutangkap tangannya, kupegang kuat, kuhentikan mobilku
di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai,
kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya, Yanti
mendorong tubuhku.
"Hhhmmmhh malu-malu kucing nih.." pikirku.
Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata
gombalku. Lama kelamaan Yanti tidak menolak lagi,
dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya
bibirku, kusedot lidahnya, nikmat sekali, urat syarafku
terangsang. Kuraba pahanya, terus ke selangkangannya,
Yanti mendesah.

"Jangan Rio.." desahnya.
Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke
hotel ***(edited) di jalan ***(edited) Jakarta Pusat,
aku langsung parkir.
"Mau ngapain kita kesini Yo..?" tanya Yanti.
Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku
masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.

Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke
mobil.
"Yan, turun yuuk..!" kataku.
"Nggak tau ah, mau ngapain sih Rio..?" kata Yanti.
Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya
Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar
kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku
ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang
nonton TV.

"Film apa sih Yan..?" tanyaku sambil duduk di
sebelahnya.
"Sinetron..," jawab Yanti pendek.
Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang,
"Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?"
"Kamu cantik.." rayuku.
"Rio pengen ciuman kayak tadi deh.." kataku.
Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya,
kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya,
Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku,
kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti
membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah
memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.
"Aaacchh.., Riooo..." desahan Yanti membuatku tambah
bernafsu.
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas
memandang wajahnya sedikitpun.

Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja
tidak kupadamkan lampu, penisku langsung
"tegak-melompat" keluar "sarangnya". Kulihat Yanti
terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan
di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan
"mengocok".
"Aaahhh nikmat sekali.." desahku.

15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari
penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku.
Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga
dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya.
Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah
kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau
keluar, kutarik rambutnya.
"Stop Yanti..!" kataku.

Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai
benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi
tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup
besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya,
dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya,
Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke selangkangannya,
kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium
selangkangannya.

"Aaaccchhh Riiiooo niiikkkmaaatnyaaa sayaaanggg..."
desah Yanti.
Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan
basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku
menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut
mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke
vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak
sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti.
Kulihat Yanti menggigit bibirnya.
"Sakiiittt Riiiooo..." desahnya.
Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis
lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.

"Sakit saayyyaangg..?" tanyaku.
"Iyyaaa Riiiooo, punya kamu besar sekali.." jawab Yanti
meracau.
"Mana besar sama punya Joe..?" tanyaku.
"Besar punya kamu Riooo... sakit saaayyyaangghhh,
perrriiihhh, tapiii niiikmaaatthh sekaliii.." rintih
Yanti.
Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik
maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti
menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya,
giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waaaahhh
berdarah nih... Yanti orgasme kedua kalinya.

Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan
dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya,
kurasakan otot "spchincter ani"-nya mencengkram erat
penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam
payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.
"Riiooo... saaayyyaanngghh... ciiintaaa...
eeennnaaakkhhh... Riioooo.. Rioooo... nikmaaatthh
sayaaaanggghh... terrruuussshhh cinnntaaaa..." erang
Yanti terus menerus.
Aku benar-benar nikmat, "Yaaanntiii kuhamili kamuuuu...
badan kamuuu enak bangeeettthh.." erangku juga.

10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku
berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti,
kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.
"Aaacchhh nikmat sekali..." desahku di telinganya.
Kami pun terkulai lemas.