Monday, May 7, 2007

TANTE VIVI 02

Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan
aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program
aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan
sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu
membuang banyak waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak
juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik arlojiku
sudah hampir setengah 12 malam.
"Sudah malem Tante..., besok-besok khan masih bisa
belajar Tante..., mm sekarang saya pulang dulu ya
Tante...", kataku sambil setengah berjalan hendak keluar
kamar.
"Iya deh..., waah..., makasih ya Ar..., kamu pinter
sekali mm..., Tante gimana harus ngucapin terima kasih
sama kamu Ar..., hik..., hik..", tanyanya sambil tertawa
kecil.
"aah..., Tante ini ada-ada aja..., sudah deh..., sudah
malem Tante...", jawabku sambil berjalan keluar, Tante
Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak.
Sambil berjalan aku tersenyum, "Gilaa...", Tante Vivi
begitu baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku
duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.

Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak
terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus
erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika
tiba-tiba seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan
kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat ke lantai
begitu tanganku memegang handle pintu, refleks tanganku
kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku tidak
tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh
Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak
jatuh. Namun dengan sigap walaupun tubuhku masih
setengah merinding, aku langsung memegang lengan
kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik
tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear..., saya
memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.

"Aduuh..., Ar..., ada apa sih kamu..", pekiknya.
"Anuu Tante..., laba-laba gedhe...", sahutku sambil
memandang ke sekeliling ruangan, aku bener-benar senewen
sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin
orang aja" bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum
sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante
Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.

"Ar...", bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan
terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat
sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat
sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan
sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit
sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku,
hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan
bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah
terbuka..., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan
kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan
lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva.
Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama
Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku
mencegahnya..., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya
seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama
sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku
di luar kesadaran..., dan dalam 2 detik bibirku telah
mengecup lembut bibir Tante Vivi yang setengah terbuka.
Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku
menikmati kelembutan bibir hangatnya..., terasa manis.

Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya,
meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan ketika
aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka...
" ooh...", bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu
berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku
melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan
sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga
baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak
memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat
betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik.
Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka
barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup
kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah
terbuka dan merekah basah menawan hati.
"Tan.., te..., apa yang kulakukan...", bisikku masih
setengah tak percaya atas sikapku barusan kepadanya.

Tante Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona
kemarahan di wajahnya yang cantik. Ia hanya tersenyum
setengah malu-malu dan menundukkan muka. Sejenak kami
berdua terdiam..., hening dalam pikiran masing-masing.

Kali ini aku benar-benar malu pada diriku sendiri,
terlalu gampang mengumbar perasaan kepada setiap
orang..., aahh tetapi..., kenapa ada sesuatu yang lain
pada tubuhku..., sesuatu yang aku begitu sangat
mengenalnya..., astaga..., aku merasa batang penisku
telah berdiri tegak..., tuing..., tuiing..., gilaa
begitu cepatnya batang penisku mengeras dan mendesak
celana dalamku seolah ingin berontak keluar.
"Sudahlah Ar... ", bisik Tante Vivi lirih, memecah
keheningan itu. Aku tersadar pula.
"Maafkan Ari Tante..., sa..., saya..., teringat Selva
Tante...", sahutku setengah gugup.

Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang
barusan kukecup semakin indah menawan membentuk senyuman
mesra.
"Kamu rindu Ar..., sama dia...", tanyanya seolah
melupakan peristiwa yang barusan. Aku sedikit bernapas
lega karena ia kelihatan sama sekali tidak marah. Aku
tidak tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa
meredam rasa maluku.
"Eehh..., iya Tante...", sahutku beralasan.
"Ya sudahlah..., tidak pa-pa Ar...", sahutnya enteng.
Mau tak mau aku jadi bingung juga melihat sikapnya.
Semudah itukah. Mencium seseorang yang bukan apa-apanya
secara disengaja, itu tidak apa-apa?
"Tante tidak marah...?", tanyaku balik. Entah kenapa aku
seolah diatas angin melihat sikapnya dan seolah timbul
keberanianku.
"Tidak Ar...", jawabnya sambil tetap tersenyum manis.
Kedua matanya memandangku dengan sejuta arti. Dalam
pandanganku wajahnya kelihatan semakin bertambah cantik
dan cantik. Sebagai seorang laki-laki dan sebagai
seorang terpelajar seperti aku yang sudah kenyang dengan
cerita pengalaman orang lain plus pengalamanku sendiri,
apalagi soal perilaku seks. Sikap Tante Vivi seperti itu
seolah sebagai tantangan dan ajakan. Otakku berpikir
cepat, menimbang..., dan memutuskan. Sampai disitu jalan
pikiranku menjadi buntu..., yang ada hanyalah..., nafsu.

Seolah ada yang memberiku kekuatan dan keberanian,
kuraih tubuh Tante Vivi yang masih berada di hadapanku
dan kubawa kembali ke dalam pelukanku. Benar saja..., ia
sama sekali tak melawan atau memberontak. Seolah lemas
saja tubuhnya yang seksi montok itu berada dalam
dekapanku. Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan
memandangku pasrah dan tetap dengan senyum manis
bibirnya yang kian menggoda. Kedua pipinya kelihatan
semakin memerah pula menambah kecantikannya. Aku semakin
terpana.
"Apa yang ingin kau lakukan Ar...", bisiknya lirih
setengah kelihatan malu.

Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa
sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa
jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya
yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra
sambil berbisik.
"Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan...", bisikku
pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Telah kulupakan
bayangan Dina dan juga Selva. Aku lupa diri, setan-setan
burik telah menyapu habis pikiranku tentang mereka.
"Kau yakin Ar...", tanya Tante Vivi lirih. Ooh...,
desakan kedua buah payudaranya yang besar pada dadaku
membuat batang penisku semakin tegang tak terkira.
"Yaa..., Tante...", sahutku tanpa mengerti maksud
pertanyaannya. Dengan cepat aku sudah membayangkan
keindahan tubuhnya yang telanjang bulat, kemontokan
payudaranya yang besar dan kencang, kemulusan kulit
tubuhnya dan..., aahh bukit kemaluannya yang besar...,
wooww...

Tanpa terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan
beningnya, aku merasa seolah telah memasuki liang
vaginanya. Tanpa dapat kucegah, kuremas gemas kedua
belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik
celana jeans ketatnya.
"Oouuhh... ", Tante Vivi mengeluh lirih.
Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa
menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar
terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah
diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan
dan kemesraan kepadanya. Hanya setan-setan burik sialan
itu yang menyuruhku agar segera melucuti pakaian Tante
Vivi dan memperkosa sepuasnya.
"aah..., ki.. Kita ke kamar Tante...", bisikku semakin
bernafsu.

Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot
dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan
mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar
begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Tante Vivi.
Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari
sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat
padat dan kenyal. Aku masih menahan diri untuk tak
bergerak terlalu jauh, walau sebenarnya hatiku begitu
ingin sekali meraba selangkangan atau meremas
payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan
romantis. Bahkan kecupan bibirku padanya kulakukan
selembut dan semesra mungkin, aku kira Tante Vivi sangat
menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak
berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku
membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas.
ooh..., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya
beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula
hidungnya yang kecil mbangir beradu mesra dengan
hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Vivi telah
melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan
mengusap mesra rambut kepalaku.

Batang kejantananku terasa semakin besar dan mendesak
liar di dalam CD-ku. Teng..., teng..., teng..., aku
mulai merasakan kesakitan apalagi karena posisi tubuh
kami yang saling berpelukan erat membuat batang penisku
yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan
menempel keras di perut Tante Vivi yang empuk.

Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, birahiku
telah mengalahkan segala-galanya. Keyakinan dan akal
sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu.
Kenikmatan seks yang pernah kurasakan bersama Dina telah
membuatku semakin lupa diri. Seolah menemukan daging
segar yang baru, sejenak kemudian kulepaskan pagutan
bibirku pada bibir Tante Vivi.

aah..., wajah cantiknya itu kelihatan semakin
berkeringat, dan bibirnya yang basah oleh liurku merekah
indah. Begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola
matanya sedikit redup dan memandangku pasrah. Aku
melihat ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot
matanya itu. Aku bisa menduga Tante Vivi pasti tak tahan
hidup menjanda, bagaimanapun aku tahu ia pasti jelas
sudah tak perawan lagi,... aku hanya bisa menduga-duga
dengan apa Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya
selama ini.

"Aku menginginkanmu, Tante...", bisikku padanya terus
terang. Pikiranku sudah tertutup oleh nafsu, namun
bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu seenak sendiri.
Dengan sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk
mengontrol keinginan seks-ku yang cenderung vulgar.
"oouh..., Ar..., Tante juga ingin..., oouhh..".

Belum habis ucapannya yang sangat merangsang itu,
badanku membungkuk dan meraih tubuh montok Tante vivi
dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget melihat
tindakanku, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan
manja ketika aku mulai membopong tubuh seksinya itu
masuk kembali melintasi ruang tengah menuju ke dalam
kamar. Lengan kanannya merangkul leherku sementara
jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan
wajahku. Tante vivi kelihatan setengah malu-malu
kubopong seperti ini.
"Kamu ganteng Ar...", bisiknya padaku mesra sambil
tersenyum manis.
"Kamu juga cantik Tante...", balasku tak kalah mesra.
Kami berdua sempat tertawa kecil karena kekanakan ini.
"Ar..., panggil aku Vivi saja yaa...", ujar Tante Vivi
padaku. Aku mengangguk senang.

Di dalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari
boponganku di sisi kiri tempat tidurnya. Kami berdua
saling berpandangan mesra dalam jarak sekitar 1 meter.
Aah..., kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku
ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan,
lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok,
bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan
kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya
yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis
remaja, pahanya yang seksi dan aah..., kubayangkan
betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu
menonjol dari balik celana jeansnya..., mm..., betapa
nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki liang
vaginanya yang sempit dan hangat..., mm akan kutumpahkan
sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang vaginanya
sebagai bukti kejantananku..., "Oohh.., Vivi...",
bisikku dalam hati. Akan kulumat dirimu dengan
kenikmatan.
"Ar..., kamu duluan sayang...", bisik Tante Vivi,
membuyarkan fantasi seks-ku padanya.

Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah ia
mengetahui apa yang ada dalam pikiranku kedua jemari
tangannya kini berada di atas kedua belah payudaranya
sendiri. Tante Vivi mulai mengusap perlahan kedua
bulatan payudaranyanya yang besar dari balik baju
kemejanya. Seolah merangsang dan menggodaku. Aku tak
tahan melihat tingkahnya, andai saja Tante Vivi tahu
betapa sakitnya batang penisku yang terjepit di dalam
CD-ku seolah memberontak ingin keluar. aah..., dengan
cuek aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu
dengan cepat..., srrt..., kulemparkan bajuku sekenanya
ke samping, pandangan kedua mataku seolah tak lepas dari
tubuh Tante Vivi yang semakin menggoda..., srrt...,
kutarik kaos singletku keatas sampai lepas dan kulempar
sekenanya pula. Tak puas sampai di situ, dengan jemari
gemetar menahan nafsu aku mulai membuka sabuk celana dan
menarik turun ritsluiting celana panjangku dan sruut...,
langsung turun ke bawah (kebetulan aku mengenakan celana
baggy dari katun).

"Ooh...", Tante Vivi memekik kecil saat melihat tubuhku
yang setengah polos. Kulihat kedua jemari tangannya
meremas kuat payudaranya sendiri yang besar, mulutnya
yang manis sedikit melongo dan kedua bola matanya yang
hitam seakan setengah melotot pula memandang ke tubuhku
bagian bawah. Sekilas aku melirik ke bawah dan tersenyum
geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang penisku
yang sudah tegak itu mendesak hebat ke atas sampai
kepala penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam
celana dalamku. Begitu besar dan tebal mendongak ke atas
persis di bawah pusarku. Kepala penisku kelihatan
bengkak memerah karena tegang yang tak terkira. Batang
penisku tidak terlalu panjang memang hanya sekitar 14
centi, namun ukuran diameternya cukup besar dan yang
paling membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip
sekali dengan milik bintang film porno "Rocco
Siffredi"..., montok dan berurat.

Kuusap pelan batang penisku yang sedang berdiri nakal
itu dari balik celana dalam. mm..., terasa begitu
nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar
dan menempel pada jemari tanganku. mm..., bagaimanapun
juga batang penisku ini pernah merobek dan merenggut
keperawanan Dina. Tass..., Sekelebat bayangan wajah Dina
seolah berada di depan pelupuk mataku. Aku seolah
tersadar kembali.

Astaga..., aah..., apa yang aku lakukan ini?, nuraniku
seakan menjerit. Sejenak pikiranku berkecamuk. Dan
ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku
semakin menjerit. aah..., apa yang aku lakukan Selva..?
Terjadi perang berkecamuk di dalam batinku. Nuraniku
mengatakan agar aku sadar mengingat resiko buruk yang
mungkin terjadi dengan perbuatan bejatku, namun dilain
pihak pikiranku mengatakan sangat ingin mencumbu dan
melampiaskan nafsu seks-ku kepada Tante Vivi. Sikap
Tante Vivi bagiku merupakan kejutan besar yang
menggairahkan hati. Aku tak ingin melewatkan kesempatan
indah yang tak mungkin dilain waktu akan terulang lagi.
Batinku menjerit namun pikiranku yang dipenuhi nafsu
seolah lebih kuat. Entah berapa lama aku memejamkan mata
menanti perang di batinku akan berakhir. Aku merasa
imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku yang penuh
dengan gejolak birahi terlalu begitu perkasa.

Ketika aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante
Vivi sudah tak berada di hadapanku lagi. Semula aku
sedikit heran, lalu instingku menoleh ke samping kiri
dan..., Astagaa..., mataku terbeliak kaget menyaksikan
pemandangan indah yang begitu luar biasa..., begitu
mempesona..., begitu menggairahkan..., begitu aahh...

Kedua mataku melotot sampai ingin keluar menyaksikan
tubuh Tante Vivi yang kini ternyata telah berada di atas
pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa begitu
putih mulus tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat,
jauh lebih putih dari tubuh Dina..., memamerkan semua
keindahan, kemulusan dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya
yang bak gadis usia remaja.


Bersambung ke bagian 03