Sunday, May 6, 2007

Y A N G

Cerita ini merupakan pengalaman pribadi yang sangat
berkesan sekali bagi saya. Kisah ini terjadi beberapa
tahun yang lalu. Awalnya bermula pada pertengahan
masa-masa kuliah saya di sebuah Perguruan Tinggi ternama
di Jakarta. Bukan apa, selama ini entah kenapa selalu
timbul rasa penasaran dalam diri saya untuk ingin
mengungkapkan semua yang pernah terjadi pada diri saya.
Secara kebetulan saya bertemu dengan seorang teman
sekerja dan menyarankan untuk menceritakan kembali
pengalaman saya ini. Terus terang saya baru tahu ada
site semacam ini di Internet.

Saya sangat tertarik dan ingin membagi cerita pada
seluruh pembaca. Tentang kenyataan yang ada dan mungkin
sering terjadi disekeliling kita. Kelebihan dan
kekurangan dari isi cerita ini adalah menurut yang saya
alami. Terserah apapun tanggapan dari para pembaca. Dan
ucapan terima kasih saya kepada 17thn bila cerita
sederhana ini dimuat. Sebutlah nama saya Fandy tetapi
teman-teman biasa memanggil saya Andy saja.

Saya mengenal sex bisa dikatakan belum terlalu lama
juga. Baru mulai semester 3 semasa duduk dibangku kuliah
dulu (saat itu usia saya baru 20 tahun). Kali pertama
keperjakaan saya terenggut oleh mbak Dewi (salah seorang
karyawati XXX di kampus yang sempat menjadi kekasih saya
selama kurang lebih 2 tahun). Semenjak itu sex bagi saya
seolah sudah menjadi salah satu kebutuhan utama
sehari-hari. Saya seolah terjebak dengan keindahan
fantasi kenikmatan surgawi yang mbak Dewi berikan dan
ajarkan kepada saya.

Hubungan saya dengan mbak Dewi bisa dibilang lumayan
lama juga, dan malahan sampai beberapa kali membuahkan
kehamilan. Meski begitu mbak Dewi selalu saja
menggugurkannya. Hal ini terjadi berulang sampai lima
kali. Gila memang, tetapi entah kenapa mbak Dewi justru
sangat menikmati hasil perbuatan saya selama hampir
kurang lebih 2 tahun hubungan asmara kami itu
berlangsung. Saya tidak tahu apakah itu termasuk suatu
penyimpangan perilaku atau bukan. Yang jelas setiap kali
terjadi kehamilan dengan bangga ia memberitahukannya
kepada saya dan mengatakan bahwa saya adalah pria paling
hebat yang pernah dikenalnya.

Bagi saya sendiripun mbak Dewi adalah segala-galanya.
Meski secara fisik ia lebih tua hampir 5 tahun dibanding
usiaku, namun itu tidak menjadi beban dan halangan bagi
saya untuk mengasihi dan menyayanginya sebagai layaknya
seorang kekasih. Kuakui saya bukanlah pria pertama dalam
kehidupan cintanya, tetapi itu bukan masalah karena saya
sangat mencintainya. Memang meski secara resmi kami
belum menikah namun untuk masalah sex kami sudah
melakukannya sebulan semenjak pertama kali saling
berkenalan. Bercinta dengannya seakan tak pernah bosan.

Sex menurutnya adalah suatu keindahan yang setiap saat
harus bisa dinikmati. Ibarat nasi, 2 atau 3 hari saja
rutinitas intim itu tertunda pasti keesokan harinya mbak
Dewi langsung uring-uringan tanpa alasan yang jelas.
Kalau sudah demikian hanya ada satu obat paling manjur
untuk mengatasinya. Meredamnya dengan buaian-buaian
kenikmatan surgawi. Menurutnya saya adalah pria yang
paling berharga dan paling menggairahkan dalam hidupnya.
Saat itu sudah begitu besar keyakinan dan perasaan cinta
saya terhadapnya dan kukira begitu pula sebaliknya. Dan
tak pernah terlintas sekalipun di benak saya hubungan
indah ini akan berakhir begitu saja.

Sampai suatu ketika, kebetulan saya ada suatu keperluan
mendadak yang sangat penting dan harus ke Bandung selama
hampir 2 minggu. Mbak Dewi melepas kepergianku dengan
berat hati. Ia tak akan sanggup bila terlalu lama
berpisah denganku. Saya sendiri sangat memaklumi
perasaannya. Bagaimanapun selama ini tiada hari tanpa
kami lewati bersama-sama. Saya ingin mengajaknya turut
serta namun itu berarti ia harus bolos kerja. Aku tak
menginginkan itu jika ia sampai kena teguran lagipula
saat itu saya tak meragukan kesetiaannya.

Namun kenyataannya tanpa pernah kuduga sama sekali mbak
Dewi melakukan kesalahan besar dan membuat geger karena
tertangkap basah sedang melakukan hubungan intim dengan
salah seorang dosen senior. Hanya sehari sebelum
kedatanganku pulang. Fatalnya mereka melakukannya justru
disalah satu ruang kantor ketika pegawai yang lain
sedang mengikuti rapat rutin mingguan. Memalukannya lagi
kejadian tersebut sempat menjadi tontonan gratis
beberapa orang mahasiswa yang kebetulan mengetahui
kejadian mesum tersebut.

Terus terang saya sangat kecewa, malu dan sakit hati
dengan perbuatannya tersebut. Saya benar-benar tidak
menyangka mbak Dewi tega menghianati saya dan
berselingkuh dengan orang lain. Saya merasa benar-benar
telah tertipu dengan perasaan saya sendiri. Padahal saya
sangat menyayangi mbak Dewi sebagaimana layaknya seorang
kekasih bahkan calon istri. Saya tidak pernah
menghianati cinta saya kepadanya, karenanya ini
benar-benar sangat menusuk perasaan. Akhirnya karena
terlanjur malu mereka berdua menikah hanya kurang dari 1
minggu semenjak kejadian memalukan tersebut. Mbak Dewi
setengah mati berusaha meminta maaf kepadaku atas segala
perbuatannya. Dia mengaku khilaf dan meminta
pengertianku.

Meski dengan berat hati apapun alasannya saya berusaha
memaafkan dan mengikhlaskan semuanya. Saya berusaha
untuk tak menemuinya lagi. Hal ini terasa terlalu sangat
menyakitkan. Namun anehnya, hanya 2 hari menjelang
pernikahannya entah kenapa aku merasa begitu cemburu dan
ingin sekali berjumpa dengannya. Seolah tahu akan
perasaan dan keinginanku, mbak Dewi ternyata memang
telah menunggu kedatanganku. Tidak perlu saya ceritakan
detilnya, yang jelas saat itu kembali terulang kemesraan
yang biasa kami lakukan sebelum kejadian tak mengenakkan
tersebut. Bahkan saking rindunya saya sampai
menyebadaninya berulang-ulang kali tanpa henti selama
beberapa jam. Apalagi bila melihat kemolekan dan
kemulusan kulit tubuhnya yang tergeletak pasrah
telanjang bulat diatas ranjang begitu mempesona
penglihatanku. Membuat gairah birahiku terus bergelora
seakan tak pernah padam.

Kenikmatan demi kenikmatan kami raih dan entah sudah
berapa kali kami berdua saling menyemburkan cairan
kenikmatan. Rintihan dan erangan kepuasan berulang kali
terdengar lembut dari mulut mungilnya yang indah. Kedua
bibir merahnya selalu digigitnya gemas setiap kali
kuberhasil memberinya seteguk demi seteguk anggur
kenikmatan. Seakan pengantin baru hampir sepanjang siang
sampai sore kami berdua menikmati indahnya surga dunia
meskipun hanya sesaat itu saja. Kusadari sepenuhnya
bahwa kemungkinan ini adalah terakhir kalinya kami dapat
tidur bersama. Satu yang tak bisa kulupakan hingga detik
ini dan sampai kapanpun juga, hasil perbuatan kami
tersebut ternyata kembali membuahkan kehamilan. Hanya
saja kali ini mbak Dewi sama sekali tidak
menggugurkannya sebagai bukti rasa kasihnya kepadaku.

Beruntung suaminya tidak pernah curiga dengan kehadiran
anak laki-laki pertama mereka yang mukanya sangat mirip
sekali denganku. Saat ini usianya hampir menginjak 4,5
tahun. Hampir 3 minggu kemudian setelah pernikahan
mereka kami mulai jarang bertemu apalagi bertatap muka.
Di kampus pun mbak Dewi seakan berusaha menghindar bila
melihat kedatanganku. Aku berusaha mengerti atas semua
sikapnya karena bagaimanapun juga ia sekarang telah
menjadi milik orang lain. Aib yang ia alami dulu seolah
menjadi trauma yang memalukan baginya. Hari-hari yang
biasanya selalu indah ceria seakan berubah dan berbalik
180 derajat. Saya sering melamun dan dilanda rasa
cemburu yang berlebihan. Ingin marah tetapi entah kepada
siapa.

Pada dasarnya saya bukanlah orang pendendam, sehingga
sedikitpun tidak ada keinginanku untuk membalas semua
perbuatannya. Hanya saja rutinitas sex yang biasanya
saya lakukan hampir setiap hari bersama mbak Dewi seakan
terhenti total. Hal ini ternyata sangat mengganggu
pikiran dan baru saya sadari setelah sekitar 3 minggu
kebiasaan rutin tersebut terhenti. Bagaimanapun saya
adalah laki-laki normal yang sebelumnya sudah terbiasa
melakukan rutinitas sexual. Saya kira pembaca pasti
mengerti apa yang saya maksudkan.

Itulah kenyataannya, pada mulanya saya sering merasa
pusing tanpa sebab, sering sampai tidak bisa tidur dan
yang paling menyiksa bila alat kelelakian saya hampir
setiap saat sering tegang sendiri. Kalo sudah begitu
bisa sehari semalam saya tidak bisa tidur sama sekali.
Saya sendiri bukanlah pria yang senang bermasturbasi
atau onani. Sejak dulu bisa dikatakan hanya sekali atau
dua kali saja saya melakukannya sebelum mengenal mbak
Dewi. Setelah itu paling sering justru mbak Dewi sendiri
yang melakukannya bila ia sudah tak sanggup lagi
melayaniku atau kalau kebetulan dia sedang kepingin
melakukan oral sex.

Aku hanya tersenyum geli dan mengiyakan permintaannya
yang sedikit diluar kebiasaan. Karena terus terang saya
lebih senang mengeluarkan air mani saya didalam liang
vaginanya. Mungkin karena saat itu saya merasa hanya
mbak Dewi saja satu-satunya wanita didalam hidup ini
yang paling kucintai, saya mengira hanya mbak Dewi
sajalah yang memiliki (maaf) liang vagina paling nikmat
di dunia. Lucu memang. Dan setiap kali bahkan sampai
kapanpun saya akan selalu teringat atas segala keindahan
dan pesona sexual yang dimilikinya.

Bercinta dan bersetubuh dengannya membuatku benar-benar
merasa sangat berharga dilahirkan sebagai seorang
laki-laki. Saya merasa bangga dan bahagia bisa
melihatnya merintih merasakan kenikmatan yang kuberikan
dan membuatnya orgasme hingga berkali-kali. Mbak Dewi
sangat menyukai perlakuanku setiap kali aku memuasinya.
Mungkin saja dia termasuk golongan wanita yang
hiperaktif, karena apapun bentuk kenikmatan yang sedang
dirasakannya ketika orgasme selalu diekspresikan
seketika itu juga. Menjerit, memekik, menggeliat bahkan
kadang sampai menendang-nendang. Bila sedang mencapai
puncak mbak Dewi seakan seperti terkencing-kencing dan
begitu hebat tubuhnya menggeliat sambil menyemprotkan
cairan kemaluannya.

Terkadang saya nggak pernah habis pikir bila mbak Dewi
sedang berada di puncak gejolak birahinya. Bila sedang
orgasme cairan yang disemburkannya relatif sangat banyak
untuk ukuran wanita seperti dia. Mungkin jauh lebih
banyak dibanding semburan air mani pria manapun juga.
Dan uniknya mbak Dewi sanggup melakukannya berkali-kali.
Bila sedang terangsang paling tidak saya harus mengulang
menyetubuhinya maksimal sebanyak 7-8 kali dalam setiap
permainan. Mbak Dewi selalu memuntahkan cairan
orgasmenya sampai menyembur keluar dari liang vaginanya.
Persis seperti air mancur kecil. Waktu itu saya tidak
tahu apa setiap wanita memang begitu adanya bila sedang
orgasme. Bila sudah demikian dengan sabar terpaksa saya
harus mencabut keluar batang penis saya dari jepitan
liang vaginanya agar cairan kewanitaannya bisa tumpah
keluar. Kalau tidak, rasanya seperti sedang berada di
dalam kolam renang air panas.

Dengan manja mbak Dewi mencium bibir saya mesra lalu
segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan
kemaluan dan selangkangannya yang basah. "Mmm ...cupp
... kau hebat sekali Andy ... mmm ..sebentar sayang ...
aku ke kamar mandi dulu yaa ... cupp ...", bisiknya
penuh kemesraan setelah orgasme pertamanya selesai. Ia
tertawa kecil melihat alat kelelakianku yang basah
berlendir terkena semburannya. Sementara diatas sprei
juga tampak mulai basah tersiram cairan orgasmenya yang
luar biasa banyaknya. "Oooh ... kau luar biasa sekali
Dewi ... benar-benar membuatku terangsang ...", ujarku
takjub. "O yaaa ... mmm ..sabar sayang ... tunggu saja
giliranmu ...mmm ...cupp ... aku juga menginginkan
semburanmu Andy ...hhh .. aku ingin benih kita
benar-benar menyatu sayang ...mmm ..", bisiknya genit.
Dua menit kemudian ia kembali lagi keatas ranjang dan
menyuruhku langsung menyetubuhinya seperti semula.
Demikian berulang-ulang saya selalu melakukannya sampai
sebanyak 4-5 kali dan begitu pula ia selalu membersihkan
diri ke kamar mandi setiap kali selesai orgasme.
Selebihnya biasanya mbak Dewi hanya bisa terbaring lemas
kelelahan diatas kasur.

Ia memang sangat sensitif dan mudah sekali orgasme.
Setiap kali alat vitalku menekan kedalam dan merangsang
dinding vaginanya, paling tidak selama kurang lebih 2-3
menit mbak Dewi sudah mencapai klimak dan cairan
orgasmenya langsung menyemprot keluar mengguyur batang
kelelakianku. Karena itu, setiap kali menyetubuhinya
harus saya lakukan secara perlahan-lahan. Jangan sampai
penis saya menggesek liang vaginanya terlalu cepat.

Waktu sudah menjelang sore ketika ia kembali mencapai
klimak, .... kucabut keluar alat kejantananku yang liat
dan panjang dari dalam jepitan liang vaginanya. Mbak
Dewi sontak menggeliat dan mengejan sambil mengangkat
pinggulnya keatas. Aku segera bergeser sedikit ke sisi
kanan tubuhnya. Dan ... Pyuuurrr ... untuk kelima
kalinya cairan orgasmenya menyemprot keluar dari
sela-sela celah vaginanya membasahi selangkangannya
sendiri dan sebagian sprei tempat tidur. "Fuuuhhh ...
kau keluar lagi Dewi .... nikmat ya sayang ...". "Aaahh
...Andy ....nngghh ......uuwwwhhh ....ooohhh ..",
pekiknya keras setengah tertahan sebelum akhirnya
pinggulnya terhempas kembali keatas ranjang.. Sejenak
kuusap seluruh batang kejantananku yang basah kuyub
dengan selimut, lalu dengan bernafsu kuarahkan kembali
kepala penisku yang semakin mengkilat ke liang vagina
mbak Dewi yang mulai menutup rapat lagi.

"Aaww ...uuuuhhh .... Andy ...", rintihnya nikmat sambil
memelukku lagi. Aku kembali mengayuh naik turun
menggoyang tubuhnya. Memberikannya kenikmatan. Mbak Dewi
hanya menatapku pasrah melihatku kembali menyetubuhinya
seakan ingin membuat dirinya orgasme berulang-ulang kali
tanpa henti. " Su ...sudah Andy ... a ..aku lemas sekali
... aku bisa keluar lagi ...oohh ..... ja ..jangan ...
jangan sekarang Andy .... oooww ... ooww ...uuuuuhh ...
yaaahh ... ", rintihnya lemas menahan nikmat ketika
hanya dalam 2 menit cairan orgasmenya yang panas kembali
menyembur dan seolah mendorong kepala penisku keluar.

Untuk kesekian kali kembali kucabut batang kelelakianku
dari jepitan rapat liang vaginanya. Dan ... pyuuur ...
cairan orgasme mbak Dewi langsung tumpah keluar
membasahi bibir kemaluan dan selangkangannya lagi.
Sebagian besar langsung meresap kedalam sprei tempat
tidurnya yang semakin basah lembab berair. "Wooww ...
kau luar biasa sekali Dewi ... mmm ... kau cepat sekali
keluar sayang ...", ujarku takjub. "Nngg ...hhh ...su
..sudah Andy ... aku lemas sekali ... oohhhh ... ayo
dong Andy sekarang giliranmu ... beri aku semburanmu
sayang ...", rintihnya lemas. "Mmm ... sebentar lagi
sayang ... kau menggairahkan sekali Dewi ... hhh ...aku
ingin melihatmu orgasme sekali lagi ....", ujarku gemas
sambil kubenamkan kembali batang penisku yang besar dan
panjang ke dalam liang vaginanya. "Nngghh .... ja
..jangan Andy ...a..aaku lemas sekali ......aawww ..",
rintihnya kecil ketika batang kelelakianku kembali
menembus dan membelah liang vaginanya sampai menekan
peranakannya. " Ooohh Dewi ... ahh ... nikmat sekali
sayang ....", erangku keenakan merasakan gesekan lembut
dinding vaginanya yang basah dan rapat. " A.. ahh
...Andy ... a..aku bisa pingsan sayang ... nnnnggghh ...
ja ..jangan teruskan Andy ....aaaww ... oohh .. duh
gusti ... uuuuuuuuhhh .. ooww ... ooww yaaahhh ..",
pekiknya nikmat ketika begitu singkat ia kembali orgasme
entah untuk kesekian kalinya. "Wooowww ... Dewii ... kau
luar biasa sekali sayang ... mmm ... oohh ... vaginamu
mudah sekali terangsang sayang....", ujarku gemas
melihatnya kembali mereguk anggur kenikmatan.

Kurasakan cairan kewanitaannya yang menyembur hebat
berusaha mendorong batang kelelakianku keluar. " Aahhh
... A...andy ... su ..sudah ..sudah sayang .... aku
sudah lemas sekali ...", rintihnya semakin lemah.
Kupandangi wajah cantiknya yang berkeringat. Terlihat
rona-rona kenikmatan yang amat sangat terbayang di
wajahnya. Bibir merahnya yang mungil sedikit megap-megap
mengatur napas. Aku tersenyum bahagia melihatnya.
Kukecup lembut bibirnya yang hangat dan mengajaknya
bercumbu untuk sesaat. "Andy ... kenapa kau belum juga
keluar sayang .... oohhh ..berapa lama lagi aku harus
menunggumu sayang ... a ...aku sudah lemas sekali Andy
...", bisiknya masih kelelahan. "Fuuhh ... nanti saja
sayang ... kita istirahat dulu ....", ujarku penuh kasih
sayang. Aku jadi tak tega melihatnya. "Andy ... jangan
begitu sayang ... lakukanlah ... aku juga ingin
melihatmu puas ...ayo dong sayang ... jangan bersikap
begitu ..", bisiknya mesra. "Tapi kau masih letih Dewi
.... kau bisa keluar lagi nanti ...", ujarku khawatir.
"Hehh ... lakukanlah Andy ... aku tak peduli sayang ...
atau ...atau aku akan meng-onani alat vitalmu ...",
ujarnya nakal. "Wooww ...kau nakal sekali Dewi ... tadi
kau minta berhenti ... mmm ternyata kau masih kurang
puas juga sayang .. mmm cupp ...ok .. kau ingin
melihatku puas juga sayang ....", bisikku penuh gairah.
Mbak Dewi tersenyum gemas lalu mencubit pinggulku mesra.
"He-eh .. Andy ... kau tahu aku sangat menyukainya
sayang .... semburan hangatmu yang mmmm ...", bisiknya
lembut penuh gairah.

Selama kurang lebih 3 menit aku kembali menggoyang
pinggul turun naik menyetubuhinya. Dinding vaginanya
yang hangat dan lembut seakan meremat-remat hebat
pertanda mbak Dewi akan segera orgasme kembali. "Andy
...ooh ...Andy ...duh gusti ... aku mau keluar lagi ...
ooh ... oohh ja ..jangan terlalu cepat sayang .. a...a
..aku... ooww ..oww ..uuuuww ....", pekiknya kuat
menahan rasa nikmat. " Keluarkanlah Dewi ... yaahh ...
aku ingin merasakan semburanmu ....ssshhh ...."
"A...andy ... sekaraaang .....sekarang .... aakkhhhh ..
oooowwwwwhgk ", teriaknya tertahan. Secepat kilat
kucabut batang kelelakianku dari jepitan dinding
vaginanya yang rapat lalu kugeser tubuhku kebawah
sehingga mukaku kini persis berada diatas
selangkangannya. Jemari tangan kananku secepat kilat
meraih dan memlintir daging clitorisnya. Dan ...
Pyuuuurr .... Kembali mbak Dewi memuntahkan keluar
cairan orgasmenya yang bening. Begitu kuat semprotannya
hingga sebagian besar sampai mengenai dan menyiram
mukaku. Dengan cepat mulutku menangkap cairan
kenikmatannya dan langsung kutelan nikmat. Terasa hangat
dan encer. Mmmm ... tiada yang lebih nikmat dan indah
kecuali merasakan seutuhnya air surgawinya.
Kerongkonganku yang tadinya agak kering kini sedikit
terasa lebih segar dan basah. Kukecup dan kukulum gemas
pentil daging clitorisnya yang kemerahan. Sementara
ujung lidahku menggapai masuk kedalam liang kemaluannya
sembari menyedot sisa-sisa cairan orgasmenya yang masih
merembes keluar.

Kali ini mbak Dewi benar-benar lemas tak berdaya.
Napasnya semakin megap-megap karena nikmat luar biasa
yang dirasakannya. Selangkangannya benar-benar basah
kuyub oleh cairan orgasme yang berulangkali ia
semburkan. "Mmm ... aku menyukai rasanya sayang .... aah
... kau menikmatinya Dewiku sayang ...",ujarku puas
melihatnya tak berdaya. "A...andy ... a...a...aku
su..sudah tak kuat lagi sayang ... oohh ..a..aku seperti
terkuras Andy ...", rintihnya lemas. " Aku tahu sayang
... sekarang tidurlah .... kau kelihatan capek sekali
...", ujarku mesra. "Ka ..kau bagaimana sa..sayang
....", bisiknya setengah bingung melihatku masih belum
terpuaskan. " Sudahlah Dewi ... tidak apa-apa
...tidurlah ...", kataku pelan.

Kupeluk mesra tubuh telanjangnya yang basah berkeringat
dan menina bobokkannya. Kubelai dan kuremas lembut kedua
buah payudaranya secara bergantian. " Oohh ..Andy ...aku
akan memuasimu setelah ini sayang ... mmhh ....hhh
..hhh..", rintihnya perlahan sambil mengatur napas. "
Sudahlah Dewi ... tidurlah dulu ... nanti setelah segar
kau boleh memuasi aku ...Ok ..!", bisikku penuh kasih
sayang. Dewi mencium bibirku sampai lama sekali sebelum
akhirnya kemudian ia jatuh terlelap saking lelahnya.
Wajahnya yang cantik terlihat sedikit pucat, namun
tampak rona kepuasan yang tak terhingga terbayang
disitu. Mulutnya yang indah merekah terlihat tersenyum.
Senyum kepuasan.