Sunday, May 6, 2007

CINTA SESAAT

Namaku Iwan, 23 tahun. Ceritanya aku mulai ketika aku
baru saja diterima kerja di sebuah Travel Agent di Ruko
kawasan Mangga Dua Jakarta. Terus terang, aku baru saja
lulus dari kuliahku di AKPAR di Jogja. Aku baru lulus
bulan Juli 98. Terus, aku sudah berusaha melamar kerja
di Travel Agent di Jogja, tapi tidak satupun yang mau
menerimaku. Akhirnya aku berkelana ke Jakarta, aku kost
di kawasan Kemayoran bersama temanku yang sudah lebih
dulu ke Jakarta dan juga lebih dulu bekerja di Jakarta.
Sampai akhirnya, bulan Desember aku berhasil bekerja di
Travel Agent, tempatku sekarang bekerja.

Nah, di hari pertamaku kerja, aku datang pagi-pagi
sekali ke kantor. Kata Bos baruku, aku harus datang jam
8.30 pagi, yaa.., aku pergi dari rumah jam 7.00, takut
kalau-kalau ada macet di jalan, paling tidak dalam dua
jam aku sampai di kantor baruku. Ternyata di luar
dugaan, aku tiba pukul 7.30. Sial, aku pikir, tahu
begini, lebih baik aku pergi jam delapan. Dan ternyata
kantorku juga belum buka. Aku nongkrong saja di depan
kantorku. Tidak berapa lama, ada cewek yang sedang
membuka rolling door ruko di sebelah kantorku. Ah
daripada nongkrong sendirian, lebih bagus nongkrong
berdua, pikirku.

"Hai.., baru buka kantor ya?", tanyaku berbasa-basi.
"Iya..", jawabnya ramah.
"Kantor kamu kantor apa sih", tanyaku, sebab di depan
kantornya, tidak ada satupun papan nama yang menjelaskan
nama kantor itu.
"Cargo Agent", katanya sambil mendorong pintu kantornya
ke samping.
Melihat dia kesulitan mendorong pintu, akupun membantu
mendorongnya, " Kamu karyawan baru di kantor sebelah
ya..?", tanyanya.
"Iya.., eh kenalin, saya Iwan".
"Eryani..", jawabnya sambil tersenyum.
Sebelumnya, aku mau kasih gambaran gimana Eryani ini.
Doi kulitnya putih, matanya sipit, rambutnya panjang
sebahu, pipi tembem, tingginya sehidungku, atau
kira-kira 160 cm,badannya agak berisi, payudaranya
berukuran sedang, normal. Aku suka bentuk pinggul,
pantat dan betisnya, aduhai sekali.

Pagi itu Eryani memakai Blazer Hitam dengan dalaman kaos
putih dan rok berbahan kaos selutut dengan belahan
samping, menampakkan sedikit pahanya yang putih mulus.
Dan juga dia agak bungkuk badannya, kata orang-orang
sih, kalau agak bungkuk, nafsunya besar!

Dan akhirnya sambil menunggu pintu kantorku buka, akupun
ngobrol dengan Yani, dia di kantor itu bekerja sebagai
accounting. Dia yang membawa kunci pintu kantor, sebab
dia tinggal di kost-kostan di Mangga Dua juga, dan dia
datang selalu jam 8.00 pagi. Eryani orangnya baik,
nikmat jadi teman ngobrol. Orangnya cepat akrab dan
terbuka. Aku jadi terasa bersemangat ngobrol dengan dia.
Apalagi orang-orang kantornya datang tidak on time,
orang-orang kantornya baru datang 15 menit kemudian,
jadi aku bisa berdua dengannya. Dan dia membuatkan teh
panas untukku, apa tidak asyik tuh. Eryani ternyata juga
merantau sepertiku, dia berasal dari Pontianak. dia juga
dulu kuliah di Jogja sepertiku, dan hal inilah yang
membuat kami dapat cepat akrab.

Sampai akhirnya jam sudah menunjukkan 8.30, tapi aku
belum melihat satupun orang kantorku yang datang. Jadi
aku terus ngobrol dengan Eryani. Dari Eryani aku tahu
kalau kantorku ternyata buka jam 9.00, dan kunci
kantorku selalu dibawa oleh bagian Accounting, Ani
namanya, yang juga kost di sekitar Mangga Dua. Ya sudah,
aku terus saja ngobrol. Sampai akhirnya jam 9.00 baru
aku keluar dari kantornya, sebab, selain kantorku buka
jam 9.00, aku juga tidak enak lama-lama gangguin Eryani
kerja.

Hari pertama di kantor membuatku stress bukan main.
Ternyata banyak yang harus aku pelajari lagi. Siangnya,
aku makan siang cepat-cepat, dan kembali bekerja.
Sorenya, aku senang sekali, akhirnya jam pulang kantor
tiba juga. Aku lewati kantor Eryani, tapi aku malas
masuk menyapanya, sebab hari itu aku sudah pusing
sekali, ingin cepat-cepat pulang dan tidur!

Besoknya, aku pergi dari rumah jam 8.00 dan sampai di
kantor sekitar jam 8.30, aku mampir dulu ke kantor
Eryani, dan ternyata dia masih sendiri, orang-orang
kantornya belum ada yang datang. Akupun mulai bercerita
mengenai pengalaman hari pertama kerja. Aku curhat ke
dia kalau aku stress sekali di hari pertama. Dia memberi
dorongan kepadaku supaya aku tidak mudah menyerah, maju
terus pantang mundur. Pokoknya, dia betul-betul memberi
support, sehingga aku bisa semangat lagi bekerja,
walaupun sore hari pulang kerja aku masih saja suka
pusing. Tidak terasa sudah sebulan bekerja, ketika malam
minggu, iseng-iseng aku mengajaknya jalan dan
makan-makan, pertama dia menolak. Tapi aku maju terus
pantang mundur mengajaknya jalan, dengan alasan
jalan-jalan untuk menghilangkan stress dan mentraktir
dia dengan gaji pertamaku, akhirnya dia mau juga.

Hari sabtu, aku dan dia pulang kerja jam 14.00, kami
langsung ke M2M, nonton film yang jam lima sore, terus
makan-makan di restoran Pizza. Tadinya dia kelihatan
kaku ketika jalan berdua denganku, tapi lama-kelamaan,
dia mulai terbiasa, dan saat kugandeng tangannya, dia
cuek. Sampai akhirnya jam setengah delapan malam,
kuantar dia ke kostnya.

Ternyata di luar sedang hujan, dan kami berlari-lari
masuk ke dalam bajaj. Saat itu di dalam bajaj, kami
berdua menggigil kedinginan basah karena hujan dan
terkena angin malam yang dingin sekali. Sampai di
kostnya, aku di ajaknya masuk ke kamarnya. Tempat kost
Eryani sepi sekali, kata Eryani, kalau hari Sabtu banyak
yang pergi, ada yang pulang ke Bandung, ke Bekasi, ke
Tangerang dll. Akupun masuk ke kamarnya yang hanya 3x3
itu dengan kamar mandi di dalam. Eryani menyuruhku
tinggal dulu sampai hujan reda.

Sementara Eryani mandi, aku di kamarnya hanya menonton
TV. Selesai mandi, dia mengenakan daster selutut
berwarna putih. Aku bisa melihat bayangan badannya di
dalam daster, bra dan celana dalam putih yang
dikenakannya. Melihat pemandangan indah itu, yang
sebelumnya penisku menciut karena kedinginan, tiba-tiba
langsung tegap! Aku tidak berkedip memadang Eryani, dan
Eryani tahu kalau aku memandangi tubuhnya, dia langsung
mengalihkan perhatianku.
"Wan, sono dah mandi, entar masuk angin loh..".
"Trus, entar abis mandi pakai apa?", tanyaku.
"Pake kaosku saja tuh, sama celana pendekku, nih
handuknya!" katanya sambil melempar handuk ke arahku.

Jadilah aku mandi dan memakai pakaiannya. Celananya
ternyata pendek sekali, aku jadi agak risih memakainya,
tapi daripada memakai celana panjangku yang basah karena
hujan, lebih baik memakai yang kering. Selesai mandi,
dia sudah menyajikan teh hangat dan kue kering. Lumayan
untuk menghangatkan badan. Kemudian aku melihat
album-album fotonya, aku godain dia melihat foto-fotonya
waktu kecil yang punya tompel di pipinya dan sekarang
sudah dioperasi.

Ketika membolak-balik foto-fotonya, tiba-tiba aku baru
sadar, dasternya agak terangkat ketika dia duduk dan
memperlihatkan pahanya yang putih itu. Aduh, lagi-lagi
penisku tegang dan untungnya masih ketutupan sama album
foto Eryani. Akhirnya, karena posisiku tidak enak, album
foto kuletakkan saja di lantai, kulihat celanaku sudah
menonjol gara-gara penisku yang berdiri tegang. Aku coba
rileks saja dan ngobrol apa saja dengan Eryani.

Sementara di luar hujan masih saja deras, jam sudah
menunjukkan 10.30. Aku sudah merasa tidak enak sama
Eryani, tapi aku stay cool saja. Sementara Eryani
sendiri kelihatan sudah mulai mengantuk, tiba-tiba dia
merebahkan kepalanya di pahaku.

Kuelus-elus rambutnya lembut, dia memejamkan matanya.
"Wan, saya sudah ngantuk nih, lu nginep saja deh
disini.., Hoooahh (Eryani menguap), temenin saya yah..",
katanya sambil masih memejamkan matanya.
"Iya deh", kataku sambil terus mengelus-elus rambutnya.
Tidak beberapa lama, mungkin karena tidak enak
posisinya, dia menggerakkan kepalanya dan tidak sengaja
kena penisku (yang masih tegang), "Ee.., eh.., adik
tidur yaa.." katanya sambil tangannya mengusap penisku,
dan ini membuatku sangat terkejut setengah mati.., Kali'
dia tidak sadar, atau sedang mengigau barangkali,
pikirku.

Aku belum juga mengantuk, dan Eryani terus terlelap,
tidur seperti orang mati. Lama-kelamaan, capek juga
pahaku menahan kepalanya, segera kugendong badannya
(yang ternyata berat setengah mati) ke kasur. Kutidurkan
dia di kasur. Tapi, tidak sengaja, dasternya tersikap,
dan tampaklah celana dalamnya yang putih dan pahanya
yang mulus, membuatku sangat terangsang. Mau kututup
pahanya, tapi sayang, kapan lagi aku bisa melihat
pemandangan begini. Ini momentnya tepat sekali.

Kuelus pahanya, betul-betul mulus dan lembut. Kucium
lembut pahanya, mulai dari lututnya hingga ke atas
mendekati selangkangannya. Kulihat Eryani masih terlelap
tidak bergeming, akupun mulai berani merenggangkan
kakinya, sehingga selangkangannya terbuka, dan kutekuk
lututnya, sehingga sekarang selangkangannya sudah
betul-betul terbuka. Kucium bagian paha sekitar
selangkangannya. Kucium celana dalamnya. Ingin aku
merasakan daging di balik celana dalamnya.

Dengan hati-hati sekali, kugeser pinggir celana dalam
sebelah kiri ke arah kanan. Dan aku mulai terangsang
hebat ketika kulihat daging berbentuk bibir berwarna
merah kecoklatan itu terlihat. Sambil tanganku menahan
pinggir celana dalamnya, kucium lembut vaginanya yang
berbulu lebat itu. Nyum.., nikmat sekali rasanya ketika
lidahku mulai menjilat-jilat lubang kemaluannya itu.
Kujilat-jilat bibir di kiri dan kanannya, kupakai kedua
tanganku untuk membuka bibir yang menutupi bagian dalam
vaginanya itu dan kemudian mulai menjilati clitorisnya.

Kumainkan terus lidahku di daerah sensitif vaginanya.
Ternyata, Eryani mulai merasakan kenikmatan permainanku,
nafasnya mulai tak beraturan. Terus kujilati vaginanya
yang basah itu oleh air liurku. Sampai akhirnya aku
merasa ada cairan hangat keluar dari vaginanya.

Akupun berhenti menjilatnya, lagian leherku juga sakit
dengan posisiku yang tengkurap sambil menjilat
vaginanya. Sambil berdiri, kulihat penisku masih berdiri
dengan gagahnya. Kupikir, kalau aku memasukkan batangku
ke vagina Eryani, pasti dia akan terbangun dan mungkin
akan mengusirku, itu sama saja dengan memperkosa, jadi
terpaksa aku keluarin di kamar mandi. Aku keluar sampai
tiga kali di kamar mandi, kalau aku bayangkan enaknya
vagina Eryani dan kalau saja aku bisa memasukkan penisku
di dalam lubangnya yang hangat.

Setelah itu, peniskupun tidur kecapean, tidur di lantai
yang beralaskan karpet. Ternyata, aku tidak bisa
terlelap tidur, jam 5.00 pagi aku terbangun, dan susah
untuk tidur kembali. Kulihat Eryani masih terlelap di
tempat tidur. Kuhampiri dia, dan kutatap wajahnya yang
polos tanpa make up itu. Wajahnya terlihat cantik ketika
tidur. Kukecup pipinya mesra. Dia masih tetap terlelap.
Kukecup bibirnya yang agak tebal. Lembut sekali.
Kuisap-isap lembut bibirnya, seperti aku mengisap-isap
sebuah permen yang kenyal. Birahiku mulai timbul lagi.
Sambil terus memainku bibirnya di bibirku, tanganku
mulai merayap ke arah payudaranya, kuremas-remas
payudara yang padat namun lembut dan kenyal itu. Gila
benar nih, aku sudah terangsang sekali. Ingin aku
mengulangi perbuatanku tadi malam.

Tapi, tiba-tiba Eryani terbangun, dia mengusap-usap
matanya, dan melihatku seperti tak percaya kalau aku
sekarang berada di sisinya. Tanpa kusadari, tanganku
masih berada di atas payudaranya. Belum sempat dia
berkata apa-apa, kukecup lagi bibirnya dengan lembut,
"Selamat pagi Yani", kataku. Dia masih belum sadar juga
rupanya dan mengguman tak jelas. Kukecup lagi bibirnya,
dan kali ini kuisap-isap bibir itu. Eryani sepertinya
merasakan kenikmatan (antara sadar dan tidak sadar), dia
hanya diam dan menikmati.

Sambil kumainkan bibirnya dengan bibirku, aku mulai
memainkan tanganku di payudaranya, kuremas-remas lembut
payudaranya yang berukuran 32B itu. Sekali, kulepaskan
kecupanku di bibirnya, dan kuhujani pipinya dengan
kecupanku, dan saat aku kembali mengulum bibirnya, dia
mulai membalas permainanku. Aku memberanikan tanganku
mengarah ke selangkangannya, dan mulai mengusap-usap
selangkangan yang hangat itu. Mula-mula aku
mengusap-usap celana dalamnya, dan setelah beberapa lama
kami pelukan, mulai kuberanikan memasukkan jariku dari
sela-sela celana dalamnya dan menyentuh vaginanya yang
basah itu. Aku mainkan jari tengahku di sekitar
clitorisnya. Licin sekali rasanya vagina Eryani.

Permainan jariku membuatnya menggelinjang, pinggulnya
bergerak-gerak seirama dengan gerakan tanganku. Aku
ingin melakukan lebih jauh lagi, dan kuhentikan
aktivitasku, sambil kutatap matanya, kutarik daster yang
dipakainya ke arah atas, dan dia seakan mengerti dengan
maksudku, dia menaikkan pinggulnya sehingga daster dapat
dengan mudah melewati pantatnya hingga akhirnya lepas
dari tubuhnya.

Kulepas kancing BH diantara 2 cupnya. Kini, yang ada di
depanku adalah tubuh putih mulus seorang gadis yang
hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan penuh
menantang. Segera kuisap puting payudaranya yang
berwarna coklat kemerahan itu, sementara tangan kananku
kuselipkan ke dalam celana dalamnya dan kembali
kumainkan clitorisnya. Kali ini Eryani betul-betul
merasakan terangsang dan keenakan yang luar biasa, ini
bisa kurasakan dari nafasnya yang makin tidak teratur
dan desahan-desahan kenikmatan. Bentuk buah dada Eryani
memang betul-betul bagus, masih kencang dan tidak
terlalu kecil.

Kemudian, setelah beberapa saat, Eryani merintih
kencang, hampir setengah berteriak dan otot-otot
badannya seperti mengejang, sepertinya dia telah
orgasme.
Dan tak beberapa lama, dia menghembuskan nafas panjang,
"Iwan..., nikmat banget.., Kamu memang betul-betul..",
belum selesai dia mengucapkan kata-katanya, segera
kukecup bibirnya yang seksi itu.
"Kamu mau merasakan yang lebih hebat lagi..", kataku
sambil berdiri dan mulai melepaskan pakaianku. Dan
ketika celanaku kubuka, penisku yang sejak tadi sudah
mendesak di celanaku, langsung menunjuk ke depan, besar,
tegang dan siap untuk memasuki liang kewanitaannya. Mata
Eryani tidak berkedip melihat tubuhku yang bugil, dan
tangannya mengusap-usap penisku.
"Ya ampun.., besarnya..", kata Eryani dengan mata tak
berkedip. Dia kulum bibirku sambil tangannya terus
mengelus-elus barangku yang besar itu. Kemudian, dia
mencium penisku.
"Yan, berani tidak kamu isep?", tanyaku menantang.
Pertama, dia jilati kepala penisku dengan lidahnya yang
mungil. Kemudian, dia mulai berani memasukkan penisku ke
dalam mulutnya, walaupun hanya kepala penisku saja, dan
dia mulai mengisap maju mundur. Aku merasakan kegelian
sekaligus nikmat.

Tak beberapa lama, aku mulai bosan dengan hisapannya,
aku tahu ini pertama kalinya dia mengisap penis lelaki,
dan dia belum begitu mahir melakukannya. Kemudian,
kusuruh dia tidur di tempat tidur, dengan pantat berada
di pinggir tempat tidur. Kulepas celana dalammya yang
sejak tadi belum dilepas. Dan aku mulai menjilat-jilat
vaginanya yang telah kembali menguncup itu. Kujilat
cairan putih yang telah mengental di pinggir liang
surganya. dia merasakan keenakan dan mulai mendesah
keenakan. vaginanya mulai basah kembali oleh ludahku dan
kurasakan vaginanya telah membesar.

Sebelum dia kembali orgasme, dengan berdiri di atas
lututku, aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang
hangat. Belum ada seperempatnya senjataku masuk, dia
merasakan pedih. Kusuruh dia memberi air ludahnya di
kepala penisku, supaya penisku basah dan mudah masuknya,
kemudian kucoba memasukkan lagi, dan dia kembali
merintih sakit. Kutenangkan dia dan menyuruhnya untuk
rileks, dan aku coba kembali, kali ini aku mencoba
menyoblosnya dengan cepat, kutarik pinggulnya ke arahku
dan kudorong pantatku ke depan dengan kuat.

"Bless". Akhirnya terbenam semua, dan kulihat wajah
Eryani yang menahan sakit. Supaya dia tak lama-lama
merasakan sakit, segera kumaju-mundurkan penisku di
dalam liang vaginanya. Terasa hangat dan ketat sekali
vagina Eryani ini. Lama-kelamaan, genjotan penisku mulai
lancar, dan aku sampai memejamkan mataku merasakan
keistimewaan vagina Eryani.

Kami saling mendesah dan merintih keenakan. Saking
cepatnya aku menggenjot, sampai kasur yang ditidurinya
ikut bergerak hebat. Lama-kelamaan aku tak tahan lagi,
segera kutarik keluar penisku dan mulai menembakkan
isinya ke paha Eryani dan ke kasur, aku kocok penisku
sendiri dan aku merasakan sensasi yang sangat dahsyat,
seluruh tubuhku mengejang, hingga akhirnya seluruh
cairan spermaku sudah habis, tapi aku belum merasa
capek.

Segera aku ke kamar mandi dan membersihkan penisku, dan
aku kembali lagi menggenjot Eryani. Kali ini, penisku
bertahan lama sekali, hingga Eryani orgasme, aku belum
keluar juga. Sampai akhirnya Eryani orgasme yang ketiga
kalinya, baru aku ikut Orgasme. Setelah itu, kami berdua
tidur dengan nyenyak dengan tubuh telanjang.

Saat ini aku masih sering memikirkan kejadian itu, kok
bisa-bisanya dengan mudah aku dapat merengut kegadisan
Eryani, mungkin juga memang aku sedang lucky. Tapi, yang
penting setelah saat itu aku dapat bebas ber-making love
dengan Eryani. Kami berdua suka melakukan eksperimen,
mencoba gaya-gaya baru, yang kami lihat dari film BF
berdua di kamar Eryani. Eryani mudah sekali terangsang
kalau aku sudah mengisap payudara dan vaginanya, apalagi
kalau lagi sedang menonton BF. Supaya permainan kami
aman, aku dan Eryani suka membeli persediaan kondom.

Satu hal yang aku perhatikan, Eryani semakin hebat dalam
melakukan hubungan seks, dia mulai pintar melakukan oral
seks dan mulai bebas mengeluarkan suaranya ketika dia
orgasme, padahal kami melakukannya di kamar kostnya yang
hanya di batasi sebuah tembok dengan kamar sebelahnya,
dia dengan enaknya berteriak setiap kali dia mencapai
orgasme. Pokoknya, hidup serasa nikmat setiap kali aku
berhubunga dengannya, apalagi kami dalam berhubungan
badan sama-sama gilanya, hampir setiap hari, biasanya
sepulang kerja aku mampir ke kostnya dan sebelum pulang
pasti dia minta "ditusuk" (itu istilah kami berdua).

Pernah suatu saat, aku tidak masuk kerja karena ada
urusan keluarga, dan malamnya dia menelepon supaya aku
besok datang jam 7.00 ke kantor, karena dia kangen untuk
ditusuk dan dia punya surprise untukku.

Besoknya, jam 7 pagi aku datang dan dia sudah menunggu
di dalam kantornya. Rolling door kantor dibukanya
sedikit, dan di dalam kantor, begitu aku masuk, tanpa
ba-bi-bu, dia langsung mengulum bibirku, dan menyuruhku
duduk, sementara dia duduk di atas meja.

Lalu dia menyuruhku menebak, kejutan apa yang dia
siapkan untukku. Tentu saja aku tidak tahu, dan aku
jawab saja asal-asalan, sampai akhirnya dia kesal
sendiri, dan dibukanya rok mini yang dipakainya,
tampaklah selangkanganya yang tanpa mengenakan celana
dalam dan bersih dari rambut.
Ternyata dia mencukur habis semua bulu vaginanya. Aku
tentu saja senang melihatnya dan penisku kontan langsung
berdiri sampai celanaku terasa sesak sekali. Seperti
biasa, sebelum minta ditusuk, dia ingin vaginanya
dijilat-jilat dulu olehku. Dan akupun mulai menciumi
bibir-bibir vagina yang berwarna kemerahan. Aku suka
sekali dengan bau khas vaginanya, yang membuatku ingin
terus mencium vaginanya. Kujilat-jilat bagian dalam
bibirnya, dan mulai kujilat clitorisnya. Kadang
kuvariasikan dengan isapan-isapan di clitorisnya. Tidak
beberapa lama, setelah vaginanya basah, aku mulai
membuka ritsluitingku dan memasukkan penisku ke dalam
vaginanya.

Kami berdua bercinta atas meja di dalam kantornya. Dia
tidak cukup sekali orgasme, dia selalu minta nambah, dan
aku selalu dapat memenuhi keinginannya itu. Aku merasa
seksi sekali bercinta dengannya di atas meja, apalagi
ketika kami melakukan gaya doggy style. Aku dan Eryani
di atas meja masih dengan berpakaian lengkap. Kemudian
aku duduk di kursi, dan dia menindihku dari atas.

Pagi itu, kami sangat puas sekali, sebab selain di kamar
kostnya, making love di kantor Eryani baru kali ini kami
lakukan dan tidak ketahuan siapa-siapa. Tapi, tentu saja
making love di kantor tidak kami lakukan terlalu sering,
sebab aku tidak terlalu suka pergi pagi-pagi sekali dari
rumah ke kantor.


Sampai akhirnya, akhir bulan April, kantor Eryani
bangkut, karena ada masalah keuangan dengan penanam
modalnya, sehingga semua karyawannya diberhentikan. Dan
ketika Eryani sibuk mencari-cari pekerjaan, tiba-tiba
dia mendapat panggilan pekerjaan dari kokonya di Penang.

Akhirnya tanggal 26 Mei, Eryani pergi ke Penang. Terus
terang, aku merasa sedih sekali atas kepergiannya, dan
aku tahu diapun juga merasakan demikian. Tapi apa
dayaku, kalau untuk mengawininya, aku belum cukup modal.
Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk bisa menahannya
terus di Jakarta. Sampai saat kepergiaannya, di bandara
aku memeluknya dan memberikan ciuman selamat tinggal,
sebab dia akan lama sekali tinggal di Penang, dan
mungkin tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Kalaupun dia
balik ke Indonesia, dia akan balik ke Pontianak, tempat
ayah ibunya berada.