Sunday, May 6, 2007

PRIMADONA

Hari telah senja awan mendung pun mulai menyelimuti
kota metropolitan ini membuat suasana semakin gelap,
disaat itu di sebuah SMU Negeri terkenal dikota itu
nampak gadis-gadis membubarkan diri dari sebuah ruang
aula olahraga. Mereka mengakhiri latihan rutin paduan
suaranya. Tawa dan canda khas gadis-gadis SMU mengiringi
mereka bubar, satu demi satu mereka keluar dari halaman
sekolah yang telah gelap itu. Sementara itu suara
gunturpun terdengar pertanda hujan akan segera turun.
Ada yang dijemput oleh orangtuanya, adapula yang membawa
mobil pribadi, dan ada juga yang menggunakan angkutan
umum.

Aku sangatlah hafal dengan aktifitas anak-anak SMU ini,
karena memang sudah hampir sebulan ini aku bekerja
sebagai tukang cat disekolah ini. Usiaku memang sudah
tidak muda lagi, saat ini aku berusia 48 tahun. Aku
adalah seorang duda, istriku sudah lama minggat
meninggalkanku setelah mengetahui aku tengah melakukan
hubungan intim dengan keponakannya. Reputasiku
sebenarnya lebih banyak didunia hitam, dulu aku dikenal
sebagai seorang germo yang aku sambi dengan berdagang
ganja. Namun beberapa bulan yang lalu semua para wanita
yang aku jajakan terkena razia dan kemudian bisnis
ganjaku hancur setelah kurir yang biasa membawa ganja
ditembak mati oleh aparat.

Di sekolah ini aku tidaklah sendirian aku masuk bekerja
dengan sahabatku yang bernama Charles yang seorang
residivis kambuhan. Usianya tidak begitu jauh denganku
yaitu 46 th, perawakannya tinggi besar rambutnya panjang
dan kumal. Kami berdua sengaja hidup berpindah-pindah
tempat. Kami bukanlah pekerja tetap di sekolah ini, kami
hanya mendapat order untuk mengerjakan pengecatan
kusain-kusain pintu-pintu kelas disekolah ini. Kami
tidak dibayar mahal namun kami memiliki kebebasan untuk
tinggal dilingkungan sekolah ini. Maklumlah kami adalah
perantau yang hidup nomaden.Diantara gadis-gadis tadi,
ada salah seorang yang paling menonjol. Aku sangatlah
hafal dengannya. Karena memang dia cantik, lincah dan
aktif dalam kegiatan sekolah, sehingga akupun sering
melihat dia mondar-mandir di sekolahan ini.

Adinda Wulandari namanya. Postur tubuhnya mungil,
wajahnya cantik dan imut-imut, kulitnya putih bersih
serta wangi selalu, rambutnya ikal panjang sebahu dan
selalu diikat model ekor kuda. Penampilannyapun modis
sekali, seragam sekolah yang dikenakannya selalu
berukuran ketat, rok seragam abu-abunya berpotongan
sejengkal diatas lutut sehingga pahanya yang putih mulus
itu terlihat, ukuran roknyapun ketat sekali membuat
pantatnya yang sekal itu terlihat menonjol,
sampai-sampai garis celana dalamnyapun terlihat jelas
melintang menghiasi lekuk pantatnya, tak lupa kaos kaki
putih selalu menutupi betisnya yang putih mulus itu.

Tidak bisa kupungkiri lagi aku tengah jatuh cinta
kepadanya. Namun perasaan cintaku kepada Adinda lebih
didominasi oleh nafsu sex semata. Gairahku memuncak
apabila aku memandanginya atau berpapasan dengannya
disaat aku tengah bekerja di sekolah ini. Ingin aku
segera meyetubuhinya. Banyak sudah pelacur-pelacur
kunikmati akan tetapi belum pernah aku menikmati gadis
perawan muda yang cantik dan sexy seperti Adinda ini.
Aku ingin mendapatkan kepuasan itu bersama dengan
Adinda. Informasi demi informasi kukumpulkan dari
orang-orang disekolah itu, dari penjaga sekolah, dari
tukang parkir, dari karyawan sekoah. Dari merekalah aku
mengetahui nama gadis itu. Dan dari orang-orang itupun
aku tahu bahwa Adinda adalah seorang siswi yang duduk di
kelas 2, umurnya baru 16 tahun. Beberapa saat yang lalu
dia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-16 di kantin
sekolah ini bersama teman-temannya sekelas. Diapun
termasuk siswi yang berprestasi, aktif dalam kegiatan
paduan suara dan paskibra disekolah ini. Dan yang
informasi terakhir yang kudapat bahwa dia ternyata
adalah salah seorang finalis foto model yang
diselenggarakan oleh sebuah majalah khusus untuk remaja
putri terkenal di negeri ini dan bulan depan dia akan
mengikuti seleksi tahap akhir.

Kini disaat sekolah telah sepi salah satu dari
gadis-gadis anggota paduan suara tadi itu tengah
merintih-rintih dihadapanku. Dia adalah gadis yang
terakhir kalinya masih tersisa didalam sekolah ini, yang
sedang asyik bercanda ria dengan temannya melalui
HP-nya, semetara yang lainnya telah meninggalkan halaman
sekolah. Beberapa menit yang lalu melalui sebuah
pergulatan yang tidak seimbang aku telah berhasil
meringkusnya dengan mudah, kedua tangannya kuikat dengan
kencang kebelakang tubuhnya, dan mulutnya kusumpal
dengan kain gombal. Setelah itu kuseret tubuhnya ke
bangsal olahraga yang berada di bagian belakang bangunan
sekolah ini.

Tidak salah salah lagi gadis itu adalah Adinda
Wulandari, gadis cantik sang primadona sekolah ini yang
telah lama kuincar. Aku sangat hafal dengan kebiasaannya
yaitu menunggu jemputan supir orang tuanya dikala
selesai latihan sore dan sang supir selalu terlambat
datang setengah jam dari jam bubaran latihan. Sehingga
dia paling akhir meninggalkan halaman sekolah. Kini dia
meringkuk dihadapanku, dengan tangisannya yang teredam
oleh kain gombal yang kusumpal di mulutnya. Sepertinya
dia memohon-mohon sesuatu padaku tetapi apa peduliku,
air matanya nampak mengalir deras membasahi wajahnya
yang cantik itu. Sesekali nampak dia meronta-ronta
mencoba melepaskan ikatan tali tambang yang mengikat
erat di kedua tangannya, namun sia-sia saja, aku telah
mengikat erat dengan berbagai simpul.

Posisinya kini bersujud dihadapanku, tangisannya kian
lama kian memilukan, aku menyadari sepenuhnya bahwa dia
kini tengah berada dalam rasa keputusasaan dan ketakutan
yang teramat sangat didalam dirinya. Kunyalakan sebatang
rokok dan kunikmati isapan demi isapan rokok sambil
kutatap tajam dan kupandangi tubuh gadis cantik itu,
indah nian tubuhnya, kulitnya putih bersih, pantatnya
sekal berisi. Kunikmati rintihan dan tangis gadis cantik
yang tengah dilanda ketakutan itu, bagai seseorang yang
tengah menikmati alunan musik didalam ruangan sepi.
Suara tangisnya yang teredam itu memecahkan kesunyian
bangsal olahraga di sekolah yang tua ini. Sesekali dia
meronta-ronta mencoba melepaskan tali ikatan yang
mengikat kedua tangannya itu.

Lama kelamaan kulihat badannya mulai melemah, isak
tangisnya tidak lagi sekeras tadi dan sekarang dia sudah
tidak lagi meronta-ronta mungkin tenaganya telah habis
setelah sekian lamanya menagis meraung-raung dengan
mulutnya yang telah tersumbat. Sepertinya didalam
hatinya dia menyesali, kenapa Heru supirnya selalu
terlambat menjemputnya, kenapa tadi tidak menumpang Desy
sahabat karibnya yang tadi mengajaknya pulang bareng,
kenapa tadi tidak langsung keluar dari lingkungan
sekolah disaat latihan usai, kenapa malah asyik melalui
HP bercanda ria dengan Fifi sahabatnya. Yah, semua
terlambat untuk disesali pikirnya, dan saat ini sesuatu
yang mengerikan akan terjadi pada dirinya.

“Beres Yon…, pintu pagar depan sudah gue tutup dan
gembok”, terdengar suara dari seseorang yang tengah
memasuki bangsal.
Ternyata Charles dengan langkah agak gontai dia menutup
pintu bangsal yang mulai gelap ini.
“OK…sip, gue udah beresin nih anak, tinggal kita pake
aja…”, ujarku kepada Charles sambil tersenyum.
Kebetulan malam ini Pak Parijan sang penjaga sekolah
beserta keluarganya yang tinggal di dalam lingkungan
sekolah ini yaitu sedang pulang kampung, baru besok lusa
mereka kembali ke sekolah ini. Mereka langsung
mempercayakan kepada kami untuk menjaga sekolah ini
selama mereka pergi. Maka tinggallah kami berdua bersama
dengan Adinda yang masih berada didalam sekolah ini.
Pintu gerbang sekolah telah kami rantai dan kami gembok
sehingga orang-orang menyangka pastilah sudah tidak ada
aktifitas atau orang lagi didalam gedung ini. Pak Heru
sang supir yang menjemput Adinda pastilah berpikiran
bahwa Adinda telah pulang, setelah melihat keadaan
sekolah itu.

Kupandang lagi tubuh Adinda yang lunglai itu, badannya
bergetar karena rasa takutannya yang teramat sangat
didalam dirinya. Hujanpun mulai turun, ruangan didalam
bangsal semakin gelap gulita angin dinginpun bertiup
masuk kedalam bangsal itu, Charles menyalakan satu buah
lampu TL yang persis diatas kami, sehingga cukup
menerangi bagian disekitar kami saja. Kuhisap
dalam-dalam rokokku dan setelah itu kumatikan. Mulailah
kubuka bajuku satu per satu, hingga akhirnya aku
telanjang bulat. Batang kemaluanku telah lama berereksi
semenjak meringkus Adinda di teras sekolah tadi.
“Gue dulu ya….”, ujarku ke Charles.
“Ok boss….”, balas Charles sambil kemudian berjalan
meninggalkan aku keluar bangsal.

Kudekati tubuh Adinda yang tergolek dilantai,
kuraba-raba punggung gadis itu, kurasakan detak
jantungnya yang berdebar keras, kemudian tanganku turun
hingga bagian pantatnya yang sekal itu, kuusap-usap
pantatnya dengan lembut, kurasakan kenyal dan empuknya
pantat itu sambil sesekali kutepok-tepok. Badan Adinda
kembali kurasakan bergetar, tangisnya kembali terdengar,
sepertinya dia kembali memohon sesuatu, akan tetapi
karena mulutnya masih tersumbat suaranyapun tidak jelas
dan aku tidak memperdulikannya. Dari daerah pantat
tanganku turun kebawah kedaerah lututnya dan kemudian
menyelinap masuk kedalam roknya serta naik keatas
kebagian pahanya. Kurasakan lembut dan mulus sekali paha
Adinda ini, kuusap-usap terus menuju keatas hingga
kebagian pangkal pahanya yang masih ditutupi oleh celana
dalam.

Karena sudah tidak tahan lagi, kemudian aku posisikan
tubuh Adinda kembali bersujud, dengan kepala menempel
dilantai, dengan kedua tangannya masih terikat
kebelakang. Aku singkapkan rok seragam abu-abu SMUnya
sampai sepinggang.
“Waw indah nian….gadis ini” gunamku sambil melototi paha
dan pantat sekal gadis ini.
Kemudian aku lucuti celana dalamnya yang berwarna putih
itu, terlihatlah dua gundukan pantat sekal gadis ini
yang putih bersih. Sementara Adinda terus menagis kini
aku memposisikan diriku berlutut menghadap ke pantat
gadis itu, kurentangkan kedua kakinya melebar sedikit.
Dengan jari tengahku, aku coba meraba-raba selangkangan
gadis ini. Disaat jari tengahku menempel pada bagian
tubuhnya yang paling pribadi itu, tiba-tiba tubuh gadis
ini mengejang. Mungkin saat ini pertama kali kemaluannya
disentuh oleh tangan seorang lelaki. Disaat kudapatkan
bibir kemaluannya kemudian dengan jariku itu, aku
korek-korek lobang kemaluannya. Dengan maksud agar
keluar sedikit cairan kewanitaannya dari lobang
kemaluannya itu. Tubuhnya seketika itu menggeliat-geliat
disaat kukorek-korek lobang kemaluannya, suara
desahan-desahanpun terdengar dari mulut Adinda, tidak
lama kemudian kemaluannya mulai basah oleh cairan lendir
yang dikeluarkan dari lobang vaginanya.

Setelah itu dengan segera kucabut jari tengahku dan
kubimbing batang kemaluanku denga tangan kiriku kearah
bibir vagina Adinda. Pertama yang aku pakai adalah gaya
anjing, ini adalah gaya favoritku. Dan…
”Hmmmpphhhh……”, terdengar rintihan dari mulut Adinda
disaat kulesakkan batang kemaluanku kebibir vaginanya.
Dengan sekuat tenaga aku mulai mendorong-dorong batang
kemaluanku masuk kelobang kemaluannya. Rasanya sangat
seret sekali, karena sempitnya lobang kemaluan gadis
perawan ini. Aku berusaha terus melesakkan batang
kemaluanku kelobang kemaluannya dengan dibantu oleh
kedua tanganku yang mencengkram erat pinggulnya. Kulihat
badan Adinda mengejang, kepala mendongak keatas dan
sesekali menggeliat-geliat. Aku tahu saat ini dia tengah
merasakan sakit dan pedih yang tiada taranya.

Keringat terus mengucur deras membasahi baju seragam
sekolahnya, namun harum wangi parfumnya masih terus
tercium, membuat segarnya aroma Adinda saat itu,
rintihan-rintihan terdengar dari mulutnya yang masih
tersumpal itu.
Dan akhirnya setelah sekian lamanya aku terus melesakkan
batang kemaluanku, kini bobol sudah lobang kemaluan
Adinda. Aku telah berhasil menanamkan seluruh batang
kemaluanku kedalam lobang vaginanya. Kurasakan
kehangatan disekujur batang kemaluanku, dinding vagina
Adinda terasa berdenyut-denyut seperti mengurut-urut
batang kemaluanku. Sejenak kudiamkan batang kemaluanku
tertanam didalam lobang vaginanya, kunikmati
denyutan-demi denyutan dinding vagina Adinda yang
mencengkram erat batang kemaluanku. Selanjutnya
kurasakan seperti ada cairan mengucur mengalir membasahi
batang kemaluanku dan kemudian meluber keluar
menetes-netes. Ah…ternyata itu darah, berarti aku telah
merenggut keperawanan dari gadis cantik ini.

Sementara itu kepala Adinda kembali tertunduk dilantai,
desah nafasnya terdengar keras, badannya melemas.
Setelah itu, aku mulai memompakan kemaluanku didalam
lobang vaginanya. Kedua tanganku yang mencengkram erat
pinggulnya juga membantu memaju mundurkan tubuhnya.
Badan Adinda kembali tegang, rintihan kembali terdengar.
Semakin lama aku semakin mempercepat gerakanku, hingga
tubuh Adinda tersodok-sodok dengan cepat sesekali,
badannya juga menggeliat-geliat. Raut mukanya
meringis-ringis akibat rasa sakit diselangkangannya.

Hujanpun mulai turun dengan deras dan aku ingin
menikmati rintihan-rintihan dari gadis ini. Sementara
aku terus menyodok-nyodok dari belakang, aku putuskan
untuk membuka gombal yang sedari tadi membekap mulutnya.
Dan,
“Aakkk…akkkhh…oohh….ooh…iihh…oohh..”, suara erangan
Adinda kini terdengar, kunikmati suara-suara itu sebagai
penghantar diriku yang tengah menyetubuhi gadis ini.
Suaranya menggema diseluruh bangsal olahraga ini, namun
masih tertelan oleh suara derasnya hujan diluar. Adinda
semakin terlihat kepayahan, tubuhnya melemah namun aku
masih terus menggenjotnya, gerakanku semakin cepat.

Bosan dengan posisi itu aku cabut kemaluanku dari lobang
vaginanya dan kulihat darah berceceran membasahi
selangkangannya dan kemaluanku. Sejenak Adinda
mendesahkan nafas lega, kubalik tubuhnya, dan kini
posisi dia terlentang. Setelah itu kurentangkan kedua
kakinya dan kulipat hingga kedua pahanya menyentuh
dadanya. Kulihat jelas kemaluan gadis ini, indah sekali.
Bulu-bulunya yang masih jarang-jarang itu tumbuh
menghias disekitar bibir kemaluannya.
“Ohh..jangann bang…ampun…bang...ooohh…sakittt
sekali..bang”, terdengar Adinda merintih pelan memohon
belas kasihan kepadaku.
Dengan menyeringai aku tindih tubuh Adinda itu. Kembali
aku benamkan batang kemaluanku didalam lobang vaginanya.
“Aakkhh…”, Adinda terpekik matanya terpejam, roman
mukanya kembali meringis kesakitan dikala aku menanamkan
batang kemaluanku kedalam lobang kemaluannya.

Setelah itu aku kembali memompakan tubuhku, menggenjot
tubuh Adinda. Batang kemaluanku dengan gaharnya mengaduk
aduk, menyodok-nyodok lobang kemaluannya. Tubuh Adinda
kembali tersodok-sodok. Sesekali kuputar-putar
pinggulku, yang membuat tubuh Adinda kembali kelojotan,
dari bibir Adinda terdengar desahan-desahan halus
“Ohh…enngghh…oohh…ohhh…oohh…”.
Setelah sekian menit lamanya aku menyetubuhinya, aku
merasakan diriku akan berejakulasi. Segera kupeluk
kepalanya dan kucengkram erat dengan kedua tanganku
setelah itu irama gerakanku kupercepat.
“Aakkhhh…” akupun menejan, tubuhku mengeras.
Croot…croottt….croott… akupun berejakulasi, kusemprotkan
spermaku didalam rahimnya. Banyak sekali sperma yang
kukeluarkan menyemprot membasahi liang vaginanya hingga
meluber keluar meleleh membasahi pahanya.

Kulihat raut muka Adinda saat itu nampak panik, sinar
matanya menunjukkan kekalahan dan kepedihan. Dengan
tatapan sayu dia memandangiku disaat aku mengejan
menyemprotkan spermaku yang terakhir. Ahh nikmat sekali
gadis ini, baru kali ini aku merengut keperawanan
seorang gadis kota yang cantik. Setelah itu akupun
merebahkan tubuhku menindih tubuhnya yang lemah, sambil
mengatur nafasku. Tubuhku berguncang-guncang akibat dari
isakan-isakan tangisnya serta nafasnya yang
tersengal-sengal, sementara itu kemaluanku kubiarkan
tertanam didalam lobang kemaluannya.

Kubelai-belai rambutnya, kukecup-kecup pipi dan
bibirnya.
Terasa lembut sekali bibirnya, kumainkan lidahku didalam
mulutnya, sejenak aku bercumbu mesra dengan Adinda. Dia
hanya terisak-isak dengan nafas yang terus
tersengal-sengal. Akhirnya kusudahi permainanku ini, aku
bangkit sambil mencabut kemaluanku.
“Ouugghhhh….”, Adinda merintih panjang saat kutarik
kemaluanku keluar dari lobang vaginanya.
Kulihat diselangkangannya telah penuh dengan
cairan-cairan kental dan darah penuh membasahi bulu-bulu
kemaluannya.

Tak kusadari Charles ternyata telah berdiri didekatku,
dan rupanya dia telah telanjang bulat menunggu
gilirannya, badannya yang kekar dan tinggi itu nampak
semakin sangar dengan banyaknya gambar-gambar tatto yang
menghiasi sekujur dada dan lengannya. Dengan rasa
toleran sebagai seorang sahabat, akupun menyingkir dari
tubuh Adinda yang tergolek lemas dilantai. Aku ambil
jarak beberapa meter dari tubuh Adinda kemudian aku
kembali merebahkan tubuhku. Dengan tiduran terlentang
dilantai aku menggali kembali rasa nikmatku setelah
melampiaskan nafsuku ke Adinda tadi.

Sedang asyik-asyiknya aku istirahat, terdengar olehku
bunyi sesuatu,
“Srett…sreettt…sreett…brett..” diikuti oleh isak tangis
Adinda yang terdengar kembali.
Setelah kuperhatikan, oh ternyata Charles dengan sebuah
pisau cutter ditangannya tengah sibuk merobek-robek baju
seragam Adinda. Dengan kasarnya Charles mencabik-cabik
baju seragam putih Adinda, termasuk BH putih yang
dikenalkannya. Dan akhirnya kini badan Adinda telah
telanjang, kedua buah payudaranya yang tidak begitu
besar kini terpampang jelas. Termasuk juga rok abu-abu
yang melilit dipinggangnya setelah kusingkap tadi
dirobek-robeknya, haya sepasang kaos kaki putih setinggi
betisnya serta sepatu kets masih dikenakannya.
“Ouuhh…ammpuunn…bang…ampun…”, suara Adinda terdengar
lirih memohon-mohon ampun ke Charles yang sepertinya
tengah kalap kemasukan setan itu.
Setelah itu dengan gombal yang tadi menyumpal mulut
Adinda, Charles membersihkan daerah selangkangan Adinda.
Dengan sedikit kasar Charles mengusap-usap selangkangan
Adinda sampai-sampai tubuh Adinda menggeliat-geliat.

Akupun kembali merebahkan tubuhku, mengatur nafasku
serta kunyalakan sebatang rokok sebagai penghantar
istirahatku. Sementara itu hujan diluar mulai reda,
namun angin dingin terus berhembus masuk kedalam bangsal
tempat pembantaian Adinda ini. Tiba-tiba semenit
kemudian dikala aku sedang rebahan dan asyik-asyiknya
menikmati rokokku. Terdengar olehku jerit Adinda yang
memilukan
“Aaakkhhhhh……..”.
Akupun terbangun, kulihat dari asal suara itu. Ternyata
Charles tengah menyodomi Adinda. Posisi Adinda kembali
bersujud dengan kepala yang mendongak keatas, bola
matanya terbelalak, wajahnya cantiknya terlihat miris
sekali, mulutnya menganga membentuk huruf “O” dan
Charles berada dibelakangnya tengah asyik menanamkan
batang kemaluannya yang besar itu ke dalam lobang anus
Adinda.
“Aakkhh….” Charlespun mendesah lepas tatkala dia
berhasil menanamkan batang kemaluannya dilobang anus
Adinda.
Setelah itu lubang anus Adinda dihujani sodokan-sodokan
batang kemaluan Charles, Charles melakukannya dengan
gerakan yang cepat dan kasar sampai-sampai tubuh Adinda
terdorong-dorong dan tersodok-sodok dengan keras.Tidak
ada suara rintihan lagi yang keluar dari mulut Adinda
mungkin karena suara tertahan ditenggorokannya karena
menahan rasa sakit yang dideritanya, akan tetapi
badannya masih kaku menegang, raut mukanya kini
meringis-ringis, mulutnya masih saja menganga terbuka.
Rasa sakit dan pedih kembali melanda dirinya yang tengah
disodomi oleh Charles. Melihat ini aku kebali
terangsang, nafsu birahiku kembali memuncak. Aku bangkit
dari rebahanku mendekati mereka berdua. Kemaluanku
kembali ereksi melihat keadaan Adinda yang tengah
menderita. Kuamati wajahnya dari dekat dan dia masih
terlihat cantik, keringatpun mengucur deras membasahi
wajah cantiknya.

Aku dengan posisi berlutut berada didepan wajah Adinda,
yang masih mendongak kesakitan itu, sementara itu
seluruh badannya terus tersodok-sodok karena ulah
Charles yang menggenjotnya dari belakang. Kini aku dan
Charles berhadap-hadapan sementara Adinda berada
ditengah-tengah kami. Charlespun menghentikan sejenak
genjotannya untuk memberikan kesempatan padaku
memposisikan diri.Kuraih batang kemaluanku yang telah
berdiri tegak, dan kujejalkan kemulut Adinda yang masih
menganga itu.

Ah, rasa dingin dan basah menyelimuti sekujur batang
kemaluanku tatkala masuk didalam rongga mulut Adinda.
Nikmat rasanya, juga kurasakan kelembutan mulut dan
bibirnya disekujur batang kemaluanku.Setelah itu kembali
Charles menggenjot tubuh Adinda dari belakang. Kulirik
mata Adinda menjadi sayu, nafasnya tersengal-sengal, aku
hanya berdiri santai saja, karena tubuh Adinda yang
bergerak-gerak maju mundur sebagai akibat
sodokan-sodokan Charles yang tengah mulai menyodominya
kembali dari belakang. Kubelai-belai rambutnya yang
indah, sambil kutatap wajah dan badannya.
“Ahh..ahh…ah…”, nikmat sekali rasanya mulut gadis ini,
sambil memejamkan mata dan menikmati rokok aku terus
merasakan kenikmatan di sekujur batang kemaluanku yang
tengah dikulum keluar masuk mulut Adinda.

Tidak lama kemudian Charles semakin cepat menggenjot,
memompa lobang anus Adinda, badannya semakin banyak
mengeluarkan keringat, kulihat dia sepertinya akan
berejakulasi.Benar saja, tubuhnya nampak menggelinjang
dan dan menegang, dari mulut Charles keluar pekikan
kecil yang disusul oleh desahan yang penuh dengan
kepuasan. Charlespun berejakulasi dilubang dubur
Adinda.Setelah itu badan Charlespun ambruk disamping
badan Adinda.Akan tetapi posisiku masih tetap seperti
semula, kemaluanku masih tertanam dimulut Adinda.Kubuang
rokokku dan dengan kedua tanganku kuraih kepala Adinda,
kini dengan gerakan tanganku kepala Adinda ku
maju-mundurkan. Ah…nikmat rasanya, kemaluanku seperti
dipijit-pijit dengan mulut Adinda, bibir sensualnya
melingkari batang kemaluanku, memberi rasa nikmat
tersendiri, kurasakan pula lidahnya menggelitik kepala
batang kemaluanku, ah nikmatnya penuh sensasi.

Setelah sekian lama menikmati itu, tiba-tiba kembali aku
akan berejakulasi, maka kugerakkan kepalanya semakin
cepat untuk mengulum batang kemaluanku. Dan, akupun
berejakulasi didalam mulut Adinda, spermaku memancar
keluar membasahi mulut hingga tenggorokannya
sampai-sampai meleleh keluar dari mulutnya.
Rasa nikamat yang tiada taranya kembali melanda sekujur
tubuhku. Kucabut batang kemaluanku dari mulutnya, dan
Adinda terbatuh-batuk sepeti akan muntah, samar-samar
kulihat mulutnya penuh dengan cairan-cairan lendir
kental sampai membuat mulutnya nampak mengkilat karena
belepotan cairan sperma.

Wajahnya yang lesu dan lemah sejenak memandangku dengan
tatapan mata sayu penuh dengan keputus-asaan serta air
mata yang kembali meleleh. Kemudian dia terjatuh lunglai
dilantai, hanya suara nafasnya yang terdengar
menderu-deru tersengal-sengal dan isakan-isakan
tangisnya. Aku kembali merebahkan tubuhku disamping
Adinda, akhirnya akupun tertidur.

Tidak lama rupanya aku tertidur, dan kemudian terjaga
setelah kembali telingaku menagkap suara erangan-erangan
dan rintihan-rintihan. Setelah aku bangun ternyata
Charles tengah menyetubuhi Adinda, tubuh telanjang
Adinda yang hanya tinggal mengenakan sepasang kaos kaki
dan sepatu kets ditiduri oleh Charles. Dengan garangnya
Charles menggenjot tubuh Adinda, iramanya cepat dan
kasar sekali, tubuh lemah Adinda kembali
terguncang-guncang. Kini nampak roman muka Adinda telah
lunglai sepertinya hampir pingsan, beberapa saat yang
lalu masih kudengar suara rintihan lemah yang keluar
dari mulut Adinda namun kini suara itu hilang sama
sekali. Tidak lama kemudian Charlespun berejakulasi,
kembali rahim Adinda disiram dan dipenuhi oleh cairan
sperma. Adinda nampak tidak sadarkan diri dan pingsan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, 4 jam lamanya
kami memperkosa Adinda. Kini tibalah waktu kami untuk
angkat kaki, setelah kami berpakaian rapi kemudian kami
angkat tubuh Adinda dari ruang aula menuju ke sebuah
gudang dibagian paling belakang sekolah ini. Kami
rebahkan gadis cantik primadona sekolah ini disana.
Disisinya kami tebarkan baju seragam sekolah, tasnya
serta HP miliknya yang sedari tadi terus berbunyi.Kini
gadis cantik itu, terkulai pingsan didalam gudang yang
kotor, badan telanjangnya dipenuhi dengan cairan-cairan
sperma yang mulai mengering, juga darah yang nampak
masih menetes dari lubang duburnya sebagai akibat
disodomi oleh Charles tadi. Kemaluannyapun terlihat
kemerahan dan membengkak. Puas kami memperkosanya.

Tepat pukul 22.15 setelah kami menghilangkan jejak kami,
kamipun pergi meninggalkan gedung sekolah ini, berjalan
menuju ke pelabuhan dikota metropolitan ini untuk
menumpang kapal yang entah kemana membawa kami, menuju
ke suatu tempat yang jauh dari kota metropolitan ini.