Monday, May 7, 2007

TANTE VIVI 03

Tante Vivi sambil tersenyum manis ke arahku rebah
telentang dengan posisi setengah mengangkang
mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya yang paling
terlarang. Kedua buah dadanya yang ternyata memang
sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali
tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka.
Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat
kemerahan mengacung ke atas seolah menantangku untuk
segera kujamah. Begitu pula perutnya masih terlihat
ramping dan seksi tanpa lipatan lemak, menandakan Tante
Vivi belum pernah melahirkan seorang anak. Aku menelan
ludah melihat bagian bawah tubuhnya yang kini ternyata
tak memiliki sehelai rambutpun. Rupanya Tante Vivi telah
mencukur habis bulu kemaluannya yang kemarin sempat
kulihat begitu sangar dan vulgar.

oohh..., tanpa terasa mulutku mendesah takjub
menyaksikan keindahan bukit kemaluannya yang besar.
Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan alat kemaluan
wanita dari keturunan Tionghoa. Belahan bibir
kemaluannya yang sangat putih mulus walau sedikit
kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit
kecil mulai sekitar 6-8 centi di bawah pusar yang
terbelah di bagian tengahnya sampai ke selangkangan
bagian bawah di atas lubang duburnya yang hitaman
kecoklatan. Labia Mayoranya yang sangat merangsang itu
terlihat masih saling menutup rapat satu sama lain
meskipun Tante Vivi sudah setengah mengangkangkan kedua
pahanya, seolah menyembunyikan liang vaginanya yang
memang sangat terlarang. Ini berarti liang vaginanya
pasti masih sangat sempit walaupun ia sudah tak perawan
lagi. Dari lekukan sempit dan panjang yang terbentuk
dari kedua belah labia mayoranya itu aku sedikit dapat
melihat dan menduga betapa merahnya liang kenikmatan
miliknya.

Batang penisku yang semula agak lemas kini langsung
kembali perkasa. Dengan cepat kurasakan kepala penisku
kembali mendesak ke atas melongok keluar dari celana
dalam seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi
dihadapanku dan membuatku takjub.
oohh..., Vivi..", bisikku lemah. Batinku seolah menyerah
kalah., "Maafkan aku Selva..., aku sangat
mencintaimu..., tapi ini hanyalah seks..., bukan
cinta..."

Lalu kreekk..., Dengan gemas kurobek celana dalamku yang
terasa kecil bagi alat kelelakianku. Aku sudah tak
peduli lagi dengan segala sesuatunya. Batang penisku
yang tegang itu langsung mengacung keluar setengah
mengarah ke atas sambil manggut-manggut naik turun
menyetujui pikiranku yang ngeres. Aku sedikit heran juga
menyaksikan batang penisku yang kelihatan sedikit lebih
besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisku
yang terlihat begitu nanar dan mekal berwarna kemerahan
saking tegangnya. Urat-urat diseluruh permukaan batang
penisku sampai menonjol keluar semua membentuk
guratan-guratan kasar setengah melingkar.

Dengan lutut setengah gemetar seakan tak percaya
menyaksikan semua itu, perlahan-lahan aku mulai naik ke
atas pembaringan menyusul Tante Vivi yang sudah
menungguku sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai di
pipi Tante Vivi tersenyum manis memamerkan keindahan
bibir dan gigi-giginya yang putih menawan. Matanya
seolah meredup dan pasrah. Namun nafasnya sedikit
terdengar kurang teratur menandakan ia sedikit tegang
atau mungkin juga ia sedang dilanda nafsu birahinya.
"Vivii...", bisikku penuh nafsu. Setengah dag-dig-dug
kubaringkan tubuhku persis di sebelah kanan tubuhnya
yang bugil. Kupandangi wajahnya yang cantik mempesona,
lalu dengan jemari gemetar kuelus mesra kedua belah
pipinya yang halus. Tante Vivi tersenyum manja padaku.

"Ar..., beri aku kenikmatan...", bisiknya tanpa
malu-malu. Sorot matanya terlihat lemah seolah memohon.
Aku tersenyum penuh gairah.
"Aahh Vivi..., aku akan memberimu kepuasan..., aahh...,
kau lihat penisku Vi..., dia yang akan memberimu
kenikmatan...", bisikku nakal. Tante Vivi mau tak mau
melirik ke bawah menyaksikan alat vitalku yang besar dan
keras saking kuat ereksinya.
"Iihh..., hik..., hik..., kau nakal Ar..., oohh...,
sshh..., lakukanlah sekarang Ar...", tiba-tiba ia
berbisik sedikit keras. Aku terkaget heran.
"Sekarang Tante...?", tanyaku heran, sedikit kurang
sambung.
"Yaa..., sekarang Ar..., naiki aku..., masuki tubuhku
sekarang..., sshh...", bisiknya semakin keras. Sembari
jemari tangan kirinya memegang lenganku mengajak
untuk...

Astagaa..., Tante Vivi begitu bernafsunya sampai tanpa
sungkan-sungkan lagi memintaku untuk segera
menyetubuhinya. Namun sebenarnya aku masih ingin
mencumbunya terlebih dulu, menikmati kehalusan kulit
tubuhnya, meremas-remas dan menghisap kedua puting
susunya sampai puas dan yang paling aku gemari adalah
pasti mencumbu alat kelaminnya sampai ia orgasme seperti
yang sering aku lakukan terhadap Dina. Terus terang aku
sudah tergila-gila pada alat kelamin wanita. Setiap akan
bersenggama dengan Dina tak pernah sekalipun aku
mengawali persetubuhan tanpa terlebih dahulu aku
mencumbu alat kewanitaannya sampai Dina orgasme
berulang-ulang. Baru setelah Dina lemas kehabisan tenaga
setelah melepas kenikmatan, aku baru memasukkan batang
penisku ke dalam liang vaginanya yang sempit dan licin
terkena muntahan cairan orgasmenya, mengocoknya di dalam
situ sampai air maniku muncrat ejakulasi.

"Kita bercumbu dulu Tante...", bisikku merasa diatas
angin. Aku bisa menduga mungkin Tante Vivi terlalu lama
menahan keinginan seksualnya sampai begitu kesempatan
untuk itu ada ia sudah tak mampu menahan gejolak
birahinya yang sekian lama tertahan.
"aahh..., kita lakukan sekarang saja Ar...", bisiknya
seolah setengah memaksa. Tanpa rasa malu sedikitpun.
Kuperhatikan jemari tangan kirinya kini telah berada di
atas selangkangan mengusap-usap bukit kemaluannya yang
montok merangsang.

Astaga..., rupanya Tante Vivi sudah tak tahan lagi. Aku
tersenyum penuh gairah, aku tahu liang vaginanya pasti
sudah gatal karena sekian lama tidak dipakai. Beruntung
sekali suami Tante Vivi dulu yang pertama kali mencicipi
dan menikmati keperawanannya..., pasti luar biasa nikmat
saat pertama kali menembus liang vaginanya yang sempit.
mm..., aku jadi tak tahan karena teringat saat pertama
kali batang penisku memasuki liang vagina Dina dan
merobek selaput keperawanannya. Adalah saat terindah
bagi seorang laki-laki ketika memuntahkan air maninya
dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vagina seorang
wanita yang masih perawan. Saya telah mengalami hal itu
dan memang luar biasa nikmat. Dan kini mungkin saatnya
bagi saya untuk menikmati liang vagina seorang janda...,
mm..., pikirku ngeres.

"Kau yakin Vi..., kita tidak bercumbu dulu sayang...",
bisikku gemas.
"Ar..., kamu nakal...", sahut Tante Vivi padaku, wajah
cantiknya kelihatan memelas. Aku jadi geli baru pertama
kali ini aku melihat seorang wanita dengan nafsu seks
sebesar Tante Vivi, sampai memelas-melas seperti ini.
Tapi aku maklum karena mungkin Tante Vivi telah ngempet
tidak berhubungan seks bertahun-tahun. Tapi bagaimanapun
aku berpantangan untuk tidak langsung menyetubuhinya.
Tante Vivi bukanlah ayam betina yang langsung saja bisa
digagahi. Aku ingin memberinya terlebih dahulu
sensasi-sensasi seks terindah pada seluruh sekujur
tubuhnya sampai ia benar-benar merasakan puncak
sekaligus akhir dari pendakian indah sebelum memasuki
tahap persetubuhan untuk mencapai kenikmatan
sesungguhnya. Walaupun sebenarnya aku mau saja langsung
menggagahinya dan memuasinya dengan cepat, tapi bagiku
itu tiada berkesan selain merasakan kenikmatan sesaat.
Dan seolah bagai mimpi saja ketika akhirnya dengan sigap
aku telah berada diatas tubuh Tante Vivi yang telanjang
bulat dan menindihnya gemas.

Kami berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit
tubuh kami saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam
kemesraan. Aku tak pernah menyangka bisa meniduri
bidadari secantik Tante Vivi. Batang penisku yang
berdiri tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit
kemaluan Tante Vivi yang halus dan sangat empuk. Maklum
bukit kemaluannya memang relatif sangat besar dan
montok. Jauh lebih montok dibanding milik Dina.

Dengan nakal kepala penisku menyelip diantara bibir
kemaluannya yang rapat. mm..., terasa begitu nikmat saat
kulit kepala penisku menggesek daging celah labia
mayoranya dan menyelip ke dalam. Tante Vivi mungkin
mengira batang penisku ingin memasuki liang vaginanya,
karena begitu kepala penisku menyelip di antara labia
mayoranya kurasakan ia membuka kedua pahanya
lebar-lebar. Aku merasa betapa begitu halus kulit kedua
belah pahanya yang langsung mengapit pinggangku lembut.
Sengaja aku tidak menekan pinggulku terlalu ke bawah
untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kepala penisku
sampai terdorong kebawah memasuki liang vaginanya, walau
aku sebenarnya juga bisa menduga pasti tidak mudah
bagiku nanti memasukkan alat kejantananku ke dalam liang
vaginanya. Kalau benar Tante Vivi sudah lama tidak
berhubungan seks..., mm..., liang vaginanya pasti sempit
luar biasa.

Sambil mengusap mesra rambut Tante Vivi yang panjang,
mulutku dengan gemas kembali mengecup dan mengulum bibir
Tante Vivi yang basah dan hangat. mm..., cupp...,
cupp..., mulutku secara bergantian mengulum bibirnya
yang atas dan yang bawah. Dengan tak kalah mesra Tante
Vivi membalas cumbuanku pada bibirnya. Sesekali lidahnya
dijulurkan keluar untuk dengan segera kuhisap dan
kukulum mesra. Terasa begitu gurih manis lidah dan
bibirnya. Sementara bibir kami bercumbu, kurasakan dua
sensasi indah di dua tempat yang paling terlarang pada
tubuh Tante Vivi. Pertama di selangkangannya, kedua di
bagian dadanya.

mm..., kedua payudaranya yang luar biasa besar itu
terasa begitu kenyal dan padat menekan nikmat dadaku,
kedua puting payudaranya yang lancip seakan menggelitik
kulit dadaku. Kedua jemari tangan Tante Vivi yang halus
mengusap-usap gemas daging bokongku, berulang kali ia
mencoba untuk menekan pantatku ke bawah agar batang
penisku segera memasuki liang vaginanya, namun aku
bertahan agar pinggulku tetap setengah terangkat, hanya
kepala penisku saja yang sedikit terjepit diantara labia
mayoranya. Butuh suatu kesabaran agar rasa nikmat pada
kepala penisku yang sudah setengah terjepit di bibir
kemaluannya itu tidak membuatku berbuat lebih jauh lagi
menuruti keinginan Tante Vivi yang sudah ngebet.

Sesekali Tante Vivi dengan tak sabar menyelipkan jemari
tangan kanannya diantara selangkangan kami, lalu dengan
gemas ia meremas batang penisku dan mengarahkan kepala
penisku yang sudah setengah terjepit di situ ke mulut
liang vaginanya yang terasa licin dan buntu, menandakan
liang vaginanya itu sangat jarang dipakai. Mungkin hanya
mantan suaminya saja dulu. Aku segera menarik pinggulku
agak ke atas karena terasa geli-geli nikmat pada batang
penisku yang diremasnya. Aku melepaskan ciumanku pada
bibir Tante Vivi.

"Aaoohh..., Tante geli ahh...", erangku setengah
keenakan.
"Uuhh..., kamu nakal Ar...", bisik Tante Vivi lirih.
Bibirnya yang ranum kemerahan sangat basah penuh air
liurku. Kulihat wajah cantiknya tampak berkeringat
basah. Kelihatan ia sudah sangat ngebet kepingin
senggama. Kedua matanya yang semakin sipit memandangku
lemah seolah memelas. Aku kasihan juga melihatnya.
"Tante sudah kepingin sekali yaachh...", bisikku gemas
melihatnya.
Tante Vivi tidak menjawab namun jemari tangannya
mencubit pinggangku keras-keras. Aku memekik kesakitan.
"Aaooww...".

Lalu dengan gemas, mulutku kembali melumat bibir
ranumnya yang basah..., hanya lima detik mulutku melepas
bibirnya dan bergerak ke atas dan, "Oouuhh...", Tante
Vivi merintih manja saat bibir dan lidahku dengan gemas
mulai menggelitiki telinga kirinya. Sesekali gigiku
setengah menggigit membuat Tante Vivi menggelinjang geli
keenakan.
"Nngghh..., eenngghh..., Ar...", pekiknya lirih. Ia
sangat terangsang sekali dengan ulahku.

30 detik kemudian dengan cepat aku menggeser tubuh ke
bawah. Kini saatnya bagiku untuk bermain-main dengan
kedua buah payudaranya sepuas mungkin. Kali kurebahkan
perutku merapat ke tubuh Tante Vivi, dan mm..., perutku
terasa menekan nikmat bukit kemaluannya yang besar...,
sedikit kurasakan kalau bukit kemaluannya itu sedikit
agak kasar, seperti bekas kalo ada rambut yang dicukur.

Dari dekat aku dapat menyaksikan betapa luar biasa
besarnya payudara Tante Vivi, warnanya begitu putih
bersih dan mulus. Kedua puting payudaranya yang kecil
lucu seakan tidak sebanding dengan besar susunya,
berwarna coklat kemerahan. Baru kali ini aku melihat
seorang wanita memiliki susu yang sangat besar, selama
ini aku hanya melihatnya di dalam film BF, itupun milik
cewek bule. Bahkan jemari tanganku yang kubuka selebar
mungkin masih belum bisa melingkari bulatan kedua buah
dada Tante Vivi yang extra large. Dalam hati..., susu
sebesar ini berapa ukuran BH-nya yaah..., aku jadi makin
tegang sendiri memikirkannya. Dengan gemas kedua jemari
tanganku yang sudah melingkari kedua buah dadanya
bergerak meremas-remas pelan..., wooww..., begitu
kenyal, kencang dan hangat.

"Nngnngghh..., oouuhh", Tante Vivi memejamkan kedua
matanya dan mulutnya yang basah mengerang keenakan. Aku
tersenyum. "Kuperkosa habis-habisan kau nanti Tante..."
bisikku dalam hati penuh nafsu. Aku menunduk dan mulutku
mulai menghisap nikmat susunya yang sebelah kiri secara
perlahan. Lidahku dengan gemas menyentil putingnya dan
menggigit pelan.
"Aaww..., nngghh...", Tante Vivi merintih semakin keras.
Aku jadi ikutan terangsang. Mulutku mulai menghisap
putingnya sedikit lebih keras dan semakin keras. Kubuka
mulutku selebar mungkin, seolah ingin menelan susunya.
Kuhisap sekuatnya susu kirinya sampai pipiku terasa
kempot, lidahku dengan ganas memilin-milin putingnya
dengan perasaan geregetan.
mm..., nikmatnya..., Pop..., pop..., berulang kali aku
menghisap dan melepaskan hisapanku dengan kuat sampai
berbunyi nyaring. Puas dengan hisapan, lidahku yang
basah kujalarkan menjilati seluruh permukaan payudaranya
sampai penuh dan basah oleh air liur.

Tante Vivi bergerak semakin liar. Mulutnya berulang kali
memekik dan mengerang keenakan menikmati sedotan mulutku
pada susunya.
"Aaww..., ngghh..., aww...". Jemari tangannya tak tahan
mengerumasi rambut kepalaku dengan gemas. Mulutku kini
berpindah untuk menghisap, mengulum dan menjilati
susunya yang sebelah kanan, sementara susunya yang kiri
gantian kuremas-remas dengan lembut. Seperti juga yang
kiri, aku mengenyot-ngenyot payudara kanannya membuat
Tante Vivi semakin menggeliat hebat keenakan.
"aaww..., Ar..., hu.., hu..., sudah Ar..., ngghh...,
sudah sayang...", erangnya tak kuat menahan rasa nikmat.
Aku semakin bersemangat. Kuhisap, kukulum, kupilin,
kukenyot dan kujilati payudaranya yang kanan
berulang-ulang kali tanpa ampun, membuat Tante Vivi
berulangkali pula memintaku untuk segera menyudahi.
"aaww..., sudah sayang..., aduuh..., hu.., huu..,
ngghh..., k..., kau nakal Ar...", erang Tante Vivi
sambil tetap mengerumasi rambut kepalaku. Aku tak
peduli, cukup lama sekali aku mengenyot dan menyusu
kedua belah payudaranya yang besar. Mungkin sekitar 10
menitan lebih.

Setelah puas barulah aku dapat melihat kedua buah
dadanya yang tadinya begitu putih mulus dan bersih itu
kini sampai basah penuh liur, dan di sana sini tampak
kemerahan bekas hisapan mulutku. Terutama disekitar
kedua putingnya yang kini tampak semakin merah saja,
kulihat ada sedikit guratan merah di situ mungkin bekas
gigitanku tadi..., gemass sih.

Tante Vivi memandangku sayu, kedua matanya sedikit
berair dan memerah, bibirnya gemetar. Wajah cantiknya
itu kelihatan sedikit geregetan.
"Kamu benar-benar nakal sekali Ar..., Awas kamu yaa...",
bisiknya lirih padaku seakan ingin membalas dendam. Aku
tersenyum padanya, lalu tiba-tiba kedua jemari tangannya
tadi mendorong kepalaku ke bawah.
mm..., rupanya Tante Vivi ingin aku mencumbu alat
kemaluannya. Wooww..., ini favoritku malah..., dengan
sigap aku menggeser ke bawah..., mm terasa enaak saat
perutku menggesek bukit kemaluannya. Lidahku kujulurkan
menjilati permukaan perutnya yang halus dan sejenak
sempat kugelitik lubang pusarnya dengan lidah dan
bibirku. Dan ketika mukaku sampai di atas
selangkangannya..., wooww...,ini dia ee..., alamak
indahnya alat kemaluan milik Tante Vivi ini. Begitu
putih dan mulus sesuai dengan warna kulit tubuhnya,
disana-sini masih bisa terlihat secara samar kehitaman
bekas cukuran bulu jembut kemaluannya. Alat kemaluannya
itu kelihatan besar dan tebal, membentuk sebuah bukit
kecil di atas selangkangannya.

Kini dengan jelas aku dapat melihat dari jarak kurang
dari 15 centi bibir labia mayoranya yang tebal saling
menutup sangat rapat satu sama lain membentuk lekukan
celah sempit memanjang vertikal sampai diatas lubang
duburnya yang kecil berwarna hitam kecoklatan. Liang
vaginanya seolah tertutup rapat tersembunyi oleh
ketebalan labia mayoranya itu. Aroma khas bau alat
kemaluannya benar-benar memabukkanku. Hidungku
kembang-kempis menarik napas panjang menghirup aroma
nikmat bau alat kelaminnya.
Mm..., memang aku begitu menyukai bau alat kelamin
wanita. Baunya seharum milik Dina. Namun berbeda dengan
milik Dina yang sedikit lebih kecil bentuknya, alat
kemaluan Tante Vivi yang besar ini dapat kuduga memiliki
liang senggama yang lebih panjang dan dalam. mm...,
pasti daya tampung air maninya pasti banyak sekali.
Seolah mengerti pikiranku, batang penisku yang sudah
ereksi bak pisang raja itu manggut-manggut pelan
mengiyakan walau sudah terjepit di atas kasur.

Tiba-tiba tanpa kuduga tangan Tante Vivi menekan
kepalaku ke bawah, sehingga tanpa dapat kucegah lagi
mukaku langsung nyosor terbenam ke dalam selangkangannya
yang putih merangsang. Hidungku sampai amblas masuk
terjepit diantara labia mayoranya yang tebal. Aku tidak
bisa bernapas bebas, yang kurasakan hidungku hanya bisa
menghisap udara bercampur aroma khas bau alat
kewanitaannya yang menyengat dan memabokkan dari
sela-sela bibir kemaluannya. Sementara mulutku yang
menekan bukit kemaluannya agak sebelah bawah terasa pas
berada dimulut liang vaginanya. Aku tak menyia-nyiakan.
Lidahku langsung kujulurkan ke bawah sepanjang mungkin
menyelip dan menembus bibir kemaluannya dan secara
perlahan mulai memasuki liang vaginanya yang terasa
sempit dan licin. Aku kira cairan lendir vaginanya mulai
mengalir keluar cukup banyak, terbukti ketika lidahku
yang masuk sekitar 1 centi ke dalam, liang vaginanya
terasa penuh dengan cairan lendir yang sedikit amis
namun nikmat dirasakan. Mulutku sampai mengecap nikmat
berulangkali menyedot cairan vaginanya itu.

Tante Vivi menggeliat hebat dan mulutnya mengerang
panjang keenakan..., pinggulnya terkadang digoyangkan
lembut kekiri-kanan dan juga keatas menikmati cumbuanku.
"aagghghh..., nggnnhhfff..., sshh..., aarr...", pekiknya
nikmat. Jemari tangannya semakin menekan kepalaku ke
bawah, membenamkan mukaku seluruhnya ke bukit
kemaluannya.

Dalam posisi seperti ini, mau tak mau membuat hidungku
semakin tak bisa bernafas, hidungku seolah tenggelam
terjepit diantara bibir kemaluannya yang tebal. Bau khas
alat kemaluannya terasa makin menyengat. Meski membuatku
semakin terlena, namun aku bisa-bisa mati kehabisan
napas juga. Kususupkan kedua jemari tanganku menyusuri
ke bawah ke balik bulatan pantatnya yang kenyal dan
padat, tanganku mulai meremas gemas lalu dengan buas
kugoyang-goyangkan mukaku mengusap ke seluruh permukaan
bukit kemaluan Tante Vivi yang hangat dan empuk.
Hidungku mengambil napas sebentar lalu dengan gairah
tinggi kembali kuselipkan diantara bibir kemaluannya
menyentil-nyentil bulatan mungil clitorisnya dengan
ujung hidungku, sementara bibir dan lidahku yang kembali
kutelusupkan sekitar 1 centi memasuki liang vagina
sempitnya, menggelitik-gelitik lembut mulut liang vagina
merahnya sembari terus menyedot cairan lendir miliknya
yang masih tersisa.


Bersambung ke bagian 04