Wednesday, May 2, 2007

MUTI SISWIKU

Dulu aku sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta
nasional yang bergerak di bidang automotive di daerah
Bekasi. Ditempat itu, sebut saja PT. BT, jumlah
karyawannya cukup banyak. Tapi bukan itu yang
menyebabkan aku menurunkan tulisan ini. Selain karyawan,
disana terdapat beberapa siswi yang sedang melakukan
PKL. Diantara siswi tersebut, salah satu diantaranya,
telah membuat aku seperti kembali merasakan cinta (yang
dulu pernah hilang bersama Galuh).

Siswi tersebut, kita sebut saja namanya Muti,
diperbantukan di departemen Personalia, sedangkan aku,
bekerja di departemen PPIC. Sebenernya ruang kerja kami
agak berjauhan, tetapi karena sama-sama mengerjakan
jenis pekerjaan yang menyangkut dengan data, maka setiap
hari, kami selalu bertemu ditempat foto copy.

Awalnya sih, aku hanya sekedar mengagumi kecantikannya,
karena dengan hidung yang bangir, bentuk bibir yang
sensual, dihiasi lesung pipit di kedua pipinya, membuat
semua yang ada didirinya terlihat sempurna. Hari demi
hari kami terlihat semakin akrab, bahkan banyak
teman-temanku yang menyangka kalau aku sedang PDKT
dengannya. Semua anggapan temanku, tidak terlalu aku
pikirkan, karena aku merasa, Muti disini sedang belajar
dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolahnya,
dan sebagai seorang karyawan di PT. BT, aku hanya
sekedar membimbing dan membantu, jika seandainya ada
sesuatu hal yang dia belum mengerti. Hampir dua minggu
aku mengenalnya, ternyata sikap dan kelakuannya semakin
membuat aku terpesona.

Ketika aku mendengar gurauan salah seorang temanku, yang
mengatakan kalau dia berani memberi Rp. 500.000,- kepada
Muti, jika Muti mau menemaninya selama 2 jam, perasaanku
malah semakin care sama si Muti. Timbul perasaaan
cemburu ketika mendengar gurauan itu. Namun aku tidak
berani untuk mengungkapkannya, karena saat itu diantara
aku dan Muti, tidak mempunyai hubungan yang terlalu
istimewa. Akupun merasa wajar, jika temanku berkata
demikian, karena dengan wajah secantik itu, jika memang
Muti memanfaatkan tubuhnya, mungkin harganya bisa diatas
Rp. 350.000, per dua jam (harga tersebut diatas, adalah
harga rata-rata seorang massage girl yang sudah dianggap
cantik).

Suatu ketika, bersama seorang temannya yang bernama
Emma, Muti menuju meja kerjaku, awalnya sih bertanya
tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan
keperluannya, mungkin karena merasa sudah akrab, Muti
juga bertanya tentang no. HP ku, alasannya sih biar
gampang saja, kalau nanti dia mau nanya sesuatu. Sambil
tetap memperhatikan monitor, aku menyebutkan satu
persatu nomernya. Ketika mereka ikut memperhatikan cara
kerjaku, tiba-tiba, "buukkk.." tanpa sengaja, tangan
Emma menyenggol buku yang aku simpan disisi meja. Aku
langsung mengambil bukunya dengan cara berjongkok.

Alamak.. ketika berjongkok, tanpa sengaja sudut mataku
melihat sesuatu yang sangat indah, dua pasang paha mulus
terpampang didepan wajahku. Bukan hanya itu, karena
posisi kaki Muti ketika duduk, agak mengangkang, maka
ketika ku perhatikan, dipangkal pahanya terlihat
pemandangan yang cukup menggelitik kelelakianku. Ku
lihat dia memakai CD berwarna Pink, dengan hiasan renda
di sisinya. Mungkin karena mereka terlalu fokus
memperhatikan hasil pekerjaanku, mereka tidak menyadari
(atau memang sengaja?) kalau di bawah meja, aku sedang
menikmati apa yang seharusnya mereka tutupi.

Karena takut mengundang kecurigaan dari teman sekerjaku,
terpaksa aku kembali duduk dan menerangkan tentang cara
kerja di PT. BT kepada Muti dan Emma. Namun kejadian
yang baru saja aku alami, tetap mengganggu pikiranku.
Mungkin karena aku tidak konsentrasi dengan apa yang
sedang kami bicarakan, Muti bertanya.
"Pak, kok kadang-kadang ngejelasinnya tidak nyambung
sih..".
Sebenarnya aku malu mendapat pernyataan seperti itu,
namun karena merasa sudah akrab, aku berbisik kepada
Muti dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Bukannya malu, Muti malah tersenyum mendengarnya.
"Kenapa tidak disentuh saja Pak, biar tidak penasaran",
goda Muti.
Emma yang tidak tahu apa-apa, hanya bengong mendengar
pembicaraan kami. Sebagai seorang lelaki, mendengar
penawaran Muti, aku malah berpikir yang tidak-tidak, dan
membayangkan apa yang ada dibalik CD nya itu. Namun
semuanya berusaha aku redam, karena walau bagaimanapun,
di PT. BT ini, aku harus JAIM (Jaga Imej), agar aku
tidak mendapatkan masalah.

Bel istirahatpun berbunyi, dan kami langsung menuju
kantin untuk makan siang. Baru saja aku selesai makan,
Muti mendekatiku dan berbisik "besok Bapak saya tunggu
di Hero sekitar jam 09.00 pagi, ada yang ingin saya
bicarakan, saya tunggu didepan ATM". Walau singkat, tapi
tetap membuatku bertanya-tanya, sebenarnya apa-yang akan
dibicarakan? Mengapa waktunya hari sabtu, padahal kan
setiap hari sabtu PT. BT libur. Mengapa dia berbisik
sangat pelan kepadaku, apa takut terdengar yang
lainnya?.

Besoknya, dengan tetap berpakaian rapi (seperti jika mau
berangkat kerja), aku mengeluarkan motorku dan beralasan
lembur kepada kedua orang tuaku. Menunggu adalah hal
yang sangat membosankan, karena sampai di Hero, jam baru
menunjukkan angka 07.30, Setelah mencari sarapan, sambil
ngerokok, aku iseng-iseng ikut ngantri ATM, padahal cuma
mau liat saldo doang, karena uang yang ada di dompetku,
masih ada sekitar Rp. 400.000,-.

Dari jauh, aku sudah tahu kalau gadis yang menuju
kearahku adalah si Muti, dan pagi ini, dia terlihat
sangat sexy, karena Muti hanya mengenakan kaos dan
celana jeans ketat.
"Udah lama ya Pak? Kan Muti janjinya jam 09.00, sekarang
baru jam 08.45, Muti tidak salah khan?",
"Jangan panggil aku Bapak dech Mut, aku kan belum nikah,
dan ini bukan di kantor, panggil namaku saja dech, biar
bisa lebih akrab".
"Ok deh Pak, eh Fik", sambil tersenyum Muti langsung
menggandeng tanganku.
"Fik, enaknya kita ke mana yach", tanya Muti.
"Terserah, emang mau ngomongin apaan, kayaknya pribadi
banget".
"Ngga juga, Muti seneng saja kalau deket ama Fik, kenapa
ya?"
"Mau tahu jawabannya", candaku.
"Ngga usah Fik, Muti juga udah tahu, Muti rasa Muti
menyukai Fik", jawab Muti polos.
Tanpa disadari, mungkin karena saking senengnya, aku
yang sejak awal memang mengagumi Muti, langsung
memeluknya. Mendapat perlakuan begitu, Muti mencoba
melepaskannya, dan mengingatkan, kalau kita masih ada
dilokasi umum, tidak enak terlihat banyak orang.
Akhirnya kami memutuskan mencari tempat yang cocok untuk
berduaan. Tapi karena yang aku tahu cuma hotel tempat
satu-satunya yang cocok untuk berduaan tanpa takut
terlihat orang lain, walau terlihat agak ragu, Muti
akhirnya menyanggupinya.

Sekitar jam 09.30, kami sudah sampai di front office
hotel BI, dan mengambil sebuah kamar dengan fasilitas TV
dan AC. Dengan agak ragu Muti memasuki pintu kamar
(mungkin karena baru pertama kalinya), dan dia agak
terkejut melihat fasilitas yang terdapat di dalamnya.
Apalagi ketika dia melihat kamar mandinya.
"Enak juga ya Fik, kita bisa ngobrol berduaan disini,
tanpa takut akan terdengar atau terlihat oleh orang
lain".
Muti langsung merebahkan badannya ke ranjang, dan
mencari siaran TV yang khusus menyiarkan acara musik.
Kebetulan banget lagunya adalah lagu-lagu romantis, yang
secara tidak langsung, ikut mempengaruhi suasana hati
kami.

Lewat aiphone, aku memesan makanan dan soft drink.
Ketika aku menyalakan rokok, terdengar suara room boy
mengetuk pintu dan mengantarkan pesananku. Aku mendekati
Muti yang sedang rebahan, maksudnya sih mau nawarin
makanan, tapi Muti langsung bangun dan bertanya.
"Fik, apakah Muti salah bila Muti mencintai Fik, Muti
sebenernya malu mengakuinya, tapi bila tidak
diungkapkan, Muti takut kalau Fik tidak mengetahui apa
sebenernya yang Muti harapkan. Maafin Muti yach, Muti
udah ngerepotin Fik, padahal kan sekarang waktunya libur
dan istirahat, tapi Muti malah meminta Fik menemui
Muti".
Aku terharu juga mendengar kejujuran dan kepolosannya,
akhirnya setelah mendengarkan semua tentang apa yang ada
dihatinya, sambil membelai rambutnya (agar perasaannya
menjadi lebih tenang), aku pun berusaha meyakinkannya,
bahwa semua yang dialami, adalah wajar, jika seseorang
mencintai lawan jenisnya, dan tidak ada yang namanya
salah, jika sudah menyangkut perasaan hati.

Ketika dia menatapku dengan tatapan yang tajam, secara
perlahan aku mencium keningnya. Tapi ternyata, yang
kulakukan itu malah membuat Muti berani untuk membalas
ciumanku. Dia langsung melumat bibirku, dan seperti
seseorang yang tidak mau kehilangan sesuatu, dia
memelukku dengan erat sekali. Sambil terus menikmati
bibirku, tangannya terus mengelus dan mengusap seluruh
bagian tubuhku. Mungkin beginilah cara dia mengungkapkan
rasa sayangnya terhadap diriku. Tapi sekarang aku yang
bingung, karena dengan melihatnya bentuk tubuhnya saja
(waktu di kantor), bisa membuat aku "konak", sekarang
seluruh tubuhnya sudah melekat erat ditubuhku (walau
masih memakai pakaian lengkap).

Kedua payudaranya terasa makin mengeras, akhirnya
kuputuskan untuk menikmati keadaan ini, karena jujur
saja, kadang-kadang, dulu akupun sering menghayalkan
betapa nikmatnya jika bercumbu dengan si Muti, apalagi
jika berjalan di belakangnya, goyangan pantatnya
ngajakin kita jual tanah (maksudnya ntar duitnya buat
ngebayarin pantatnya, he.. he.. he..). tanganku mulai
berusaha membuka kaosnya, karena aku tidak mau
pandanganku yang tertuju kepada kedua payudaranya,
terhalang oleh kaos yang ia kenakan.

Pelan namun pasti, akhirnya bukan hanya kaosnya yang
berhasil aku buka, BH nya pun sudah aku lepaskan.
Sejenak aku terpana melihat keindahan bentuk payudaranya
itu, namun hanya sebentar, karena aku ingin segera
menikmati dan merasakan keindahan itu, kuremas kedua
susunya, dengan mesra aku mulai menghisap putingnya yang
sudah agak mengeras dan berwarna kecoklatan. Kucium dan
kujilati bagian tubuhnya, mulai dari leher, terus
bergerak turun dan menuju putingnya kembali.

"Yaa.. hisap terus sayaangg.. aacchh.. ennaakk banget
Fik.. geli.. tapi nick..maaattt.. teeeruuus..
aaccchhh.."
Muti terus meracau menikmatinya. Aku terus
merangsangnya, dan mencoba membuka celana jeans yang
dipakainya, lantaran jeans yang dikenakannya sangat
ketat, aku kesulitan untuk membukanya, untungnya Muti
mengerti, dengan agak mengangkat pantatnya, dia mulai
mencoba menurunkan jeansnya sendiri. Dengan sabar, aku
menunggu dan terus mempermainkan susunya. Setelah
jeansnya terlepas, tangan Muti berusaha untuk membuka
semua yang aku kenakan. Satu persatu jari tangannya
membuka kancing kemejaku, dan setelah berhasil membuka
baju dan celana yang aku pakai, Muti hanya menyisakan CD
saja yang masih melekat ditubuhku.

Mungkin dia masih ragu untuk membukanya, karena diapun
masih mengenakan CD. Walau diwajahnya terlihat, kalau
dia sedang diamuk birahi, namun dia masih bisa menguasai
pikirannya, aku yakin dia merasa takut di cap sebagai
cewe yang agresif dan takut jika aku tidak menyukai
tindakannya. Namun aku tetap menikmati suasana yang
terjadi di dalam kamar hotel ini. Aku terus merangsang
birahinya, ciumanku aku arahkan kedaerah perutnya, terus
kebawah menyusuri lubang pusarnya, dan kedua tanganku,
bergerak untuk membuka CD yang masih melekat ditubuhnya.
Secara perlahan aku mencoba membuka CD nya, sambil terus
mencumbunya, aku menciumi setiap daerah yang baru
telihat ketika CD nya mulai bergerak turun. Muti sangat
menikmati semua sentuhan yang aku berikan, bahkan ketika
CD nya telah terlepas, dan aku mulai menjilati memeknya,
dia terus mendesah dan malah membuka pahanya lebar-lebar
agar lidahku bisa menjilati bagian dalam memeknya.

Dengan keharuman yang khas, memek itu telah membuat aku
betah berlama-lama mencumbuinya. Aku terus menjilati,
dan dengan jari telunjukku, aku coba merangsang dia
dengan memainkan kelentitnya. Semakin aku percepat
memainkan jari telunjukku, semakin cepat pula dia
menggoyangkan pantatnya. Muti terus mendesah dan meracau
tak karuan.
"Aacchhhh.. terus sayang.. nikmatnya.. teruzzsss.. lebih
ke dalam lagi Fik.. teruuzzss.. yacchhh.. benar.. jilati
terus yang.. itu.. sayang.. accchhh".

Karena rangsangan yang dia terima makin hebat, pantatnya
bukan hanya digoyang-goyangkan, tapi malah
diangkat-angkat ke atas, mungkin tujuannya agar lubang
memeknya yang lebih dalam ikut tersentuh oleh lidahku.
Dengan bantuan jari-jariku, aku terus mengaduk-aduk isi
memek Muti, aku sentuh G-Spotnya secara perlahan, dia
langsung menggelinjang, lalu kuelus G-Spotnya nya dengan
jari tengahku, Muti makin liar, seperti orang yang
sedang ngigau, dia meracau tak karuan, tak jelas suara
apa yang keluar dari mulutnya, karena yang aku tahu,
lubang memeknya sudah sangat basah oleh cairan
kemaluannya, seluruh tubuhnya seperti menegang, tapi itu
tak berlangsung lama, karena, dirinya langsung terdiam
dan tergolek dengan lemas.

Melihat Muti sudah mencapai orgasme, aku berusaha untuk
tenang, tetapi kontolku sudah sangat tegang (walau masih
tertutup oleh CD) dan ingin segera merasakan nikmatnya
memek Muti. Aku segera mencium dan menjilati "lubang
surga" itu, agar Muti bisa merasakan apa yang namanya
multi orgasme. Usahaku ternyata berhasil, karena hanya
dalam beberapa menit, tubuhnya kembali bergetar dan
menegang. Diiringi desahannya yang sangat menggairahkan,
Muti kembali merasakan kenikmatan itu.

Karena beberapa kali mengalami orgasme, Muti terlihat
sangat lelah, meski tak dikemukakan, terlihat jelas
bahwa dia sangat puas dengan oral yang aku lakukan.
Dengan tersenyum, dia mencoba untuk melepaskan CD yang
masih melekat ditubuhku. Tanpa ragu, dia mulai menjilat
dan mengulum kontolku. Mendapat perlakuan seperti itu,
aku yang semula mendominasi permainan, hanya diam saja
menikmati permainan Muti. Dengan bibir indahnya, dia
mengulum dan mengeluar masukan kontolku ke dalam
mulutnya, dan sesekali, dengan menggunakan kelembutan
lidahnya, dia mengusap dan menjilat kepala kontolku.

Gila.. ternyata Muti bukan hanya indah buat dilihat,
ternyata Muti mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam
merangsang dan memanjakan kita dalam permainan seksnya.
Aku berusaha agar tidak sampai kebobolan ketika dia
melakukan oral terhadapku, namun kenyataannya, semua
spermaku telah memenuhi mulutnya, ketika secara reflek,
aku menjambak rambut dan menarik kepalanya sambil
mendesah menahan kenikmatan saat spermaku akan keluar.
Tanpa perasaan jijik, Muti menelan semua sperma yang ada
di dalam mulutnya, seperti tidak puas, dia menjilati
kontolku yang masih ada sisa-sisa spermanya.

"Fik, enak juga ya rasa sperma lo, gurih-gurih gimana
gitu..", kata Muti memuji.
Aku hanya tertawa sebentar mendengarnya, karena bola
mataku tetap memandang lekuk-lekuk tubuh Muti yang
telanjang tanpa sehelai benangpun menutupinya.
Kuperhatikan lagi "lembah" yang dihiasi oleh bulu-bulu
halus itu, ternyata, warnanya agak memerah, mungkin
karena tergesek oleh lidah dan jari-jariku.
"Makasih ya Mut..", kataku sambil menciumi memeknya.

"Fik, boleh tidak kalau Muti minta memek Muti di jilatin
lagi, abis enak banget sih..", tanya Muti sambil
memohon.
"Boleh saja sih, tapi boleh tidak kalau Fik ngentot
Muti, soalnya kontol Fik udah tidak kuat nich, pengen
buru-buru berada di dalam memek Muti. Boleh yach?"
"Muti takut Fik, kata temen-temen Muti, rasanya sakit
banget, tidak mau ah.. ntar kalau sakit gimana?", tolak
Muti.
"Pokoknya Muti rasain saja nanti, Fik apa temen Muti
yang salah", kataku sambil mulai menjilati memek Muti.
Dengan melebarkan pahanya, dan mempergunakan kedua
tangannya, Muti membantu melebarkan memeknya agar
mempermudah ku di dalam mencumbui memeknya. Kujilati
klitnya hingga dia menggelinjang tak karuan menahan rasa
nikmat yang dia terima.

Sengaja aku terus menjilati klitnya, agar dia diamuk
oleh gairahnya sendiri, ketika kulihat tubuhnya mulai
menegang, dan mengalami orgasme, entah untuk yang
keberapa kali, aku langsung memindahkan cumbuanku
kedaerah putingnya yang sudah sangat kencang. Kuciumi
bagian bawah susunya, kusedot dan kumainkan lidahku di
daerah tersebut.

"Fik.. enak sekali sayang.. acchhh.. ooohhhh.."
Muti menggelepar menahan birahinya yang semakin besar.
Kulihat jari lentik Muti mulai bermain dibibir
kemaluannya sendiri, dia terus mengelus, dan
sekali-sekali memasukan jarinya ke dalam lubang memeknya
yang sudah sangat basah karena banyaknya cairan pelicin
yang keluar dari dalam memeknya memeknya. Sambil tetap
membenamkan wajahku diantara dua gunungnya, tanganku
secara perlahan menarik tangan Muti yang sedang asik
mengeluar masukan jarinya. Awalnya dia menolak, tapi
ketika aku bimbing jarinya kearah kontolku, Muti
langsung menggenggam dan mengocoknya.

Setelah agak lama, aku meminta Muti agar dia berada
diatas tubuhku yang sudah dalam posisi berbaring. Dengan
perlahan, dia menaiki tubuhku. Sengaja aku
menggesek-gesekan kontolku diantara lubang memeknya,
ternyata benar, apa yang aku lakukan telah membuat
kenikmatan yang dirasakan oleh Muti makin menjadi-jadi,
diapun mulai bergerak menggesekan kontolku ke bagian
luar memeknya. Akhirnya, walau dengan posisi berada di
bawah, tanpa sepengetahuan Muti, aku berusaha
mengarahkan kontolku agar bisa memasuki lubang memeknya.
Muti terus menggerakkan dan menggesekan memeknya, dan
tanpa disadarinya, ternyata kepala kontolku mulai
bergerak memasuki memeknya ketika dia menggerakan
pantatnya dari atas ke bawah.

Terasa lembut sekali ketika kepala kontolku menyentuh
bagian dalam dari lubang surganya, ada perasaan nikmat
yang sulit untuk diungkapkan, dan tanpa terasa, sudah
seluruh bagian kontolku berada di dalamnya. Seperti
kesetanan, Muti terus menggoyangkan pantatnya, sesekali
terdengar rintihan dan erangannya. Akupun terus
mengeluar masukan kontolku ke dalam lubang memeknya
(walau agak sulit karena posisiku berada di bawah).

Secara reflek Muti langsung merebahkan tubuhnya diatas
tubuhku ketika dia sudah mencapai orgasmenya. Namun
karena aku belum orgasme, aku langsung membalikan
badannya agar berada di bawah tubuhku. Dengan sedikit
santai, aku terus menggerakan "junior"ku, namun karena
tubuh Muti yang bersih dan terawat, birahiku tidak bisa
mengerti jika aku ingin lebih lama menikmati kemulusan
tubuhnya. Akhirnya spermaku keluar di dalam kehangatan
lubang memeknya.