Sunday, May 6, 2007

KUNDALINI

Namaku Kundalini. Sebenarnya aku malas menceritakan
pengalamanku ini kepada orang lain. Apalagi aku harus
mengetiknya terlebih dahulu. Tapi tidak apalah, demi
pembaca situs 17thn tercinta ini.

Seperti tadi sudah kunyatakan, namaku Kundalini, cewek
25 tahun, 41 kg, 34B, 27". Aku tinggal di kota kecil di
Jawa Tengah. Setelah menyelesaikan studiku di perguruan
tinggi negeri di Jawa Tengah. Aku tidak mau terlalu
spesifik. Kalaupun ada yang mau menghubungiku, e-mail
saja kepadaku.

Aku termasuk orang yang bisa dibilang maniak dalam
hubungan seksual. Aku pun mampu bertahan lama dalam
menghadapi lawan jenisku. Untungnya aku tergolong
pendiam. Sehingga orang tetap mengenalku sebagai
Kundalini yang pendiam dan memang aku minder dan kurang
banyak berteman. Selama ini aku menjalin hubungan dengan
temanku yang bernama Prast. Prast tidak terlalu good
looking, namun bisa dikatakan point tujuh, berkulit
gelap, tinggi kurus. Bulu matanya kata teman-temanku
indah seperti bulu mata cewek. Namun ada sesuatu yang
lebih dari sekedar tampilan fisik. Setelah membaca
ceritaku, mungkin anda akan paham apa yang dinamakan
pria idaman, bagaimana definisinya. Mungkin ini pulalah
yang membuat dia banyak mempunyai teman wanita, yang
terus terang terkadang (meski jarang) aku agak sedikit
cemburu. Menurut ceritanya, dia hanya telah pacaran
dengan beberapa cewek, namun kurasa pasti lebih dari
puluhan. Dengan dia pulalah aku pertama kali mengenal
hubungan seks dan ternyata aku sangat menyukainya. Kami
melakukannya hampir setiap malam.

Peristiwa ini berawal 3 tahun yang lalu ketika aku masih
kuliah. Waktu itu aku ke rumah Prast. Seperti biasa kami
nonton film di rumahnya. Kebetulan waktu itu Prast punya
film bagus yang judulnya Powder. Kami rebahan sambil
ngobrol. Sementara Prast asyik merokok. Selama ini,
hubunganku hanya sebatas snogging, necking atau petting
saja. Tidak pernah intercourse. Kalaupun ada yang harus
disebutkan lagi, paling heavy petting saja. Namun siang
itu terjadi sesuatu yang tidak kami perkirakan
sebelumnya. Entah siapa yang memulai, aku atau Prast.
Tapi kami saling berpagutan. Sementara tangan Prast
masuk ke hem yang kukenakan dan meremas-remas
payudaraku.

Satu yang kusukai dari Prast adalah dia selalu membuka
bra yang kukenakan tanpa menggunakan tangan, tetapi
menggunakan gigi. Itupun tanpa perlu melepas baju yang
kupakai. Dia biasanya menggigit hook braku hingga lepas.
Aku menyukainya ketika giginya terasa menyentuh
punggungku.

Tangan Prast sekarang tidak lagi cuma bermain di
payudaraku, namun sudah mulai turun membelai pusarku.
Bibirnya pun meniup-niup pusarku. Geli rasanya, namun
sangat merangsang. Lidahnya menjilati bulu-bulu yang ada
di atas kemaluanku. Bolak-balik dari pusar ke atas
kemaluanku. Aku paling suka jika Prast melakukan hal
ini. Terutama waktu lidahnya menari menjilati sisi atas,
kiri dan kanan dekat kemaluanku. Nikmatnya tidak
terkira. Akupun mulai meremas-remas batang kejantanan
Prast. Dia sangat menyukainya. Tanganku merogoh masuk ke
dalam jeans-nya. Tak puas dengan hanya merogoh, kubuka
dan kulepaskan celananya. Celana dalamnya kelihatan
penuh dan ujung kemaluannya nongol dari celana dalamnya.
Aku tertawa kecil melihatnya, kusentuh dengan
menggunakan ujung jariku, Prast menggeliat kegelian dan
cekikian. Prast menindihku dan kami bergumul di atas
karpet.

Sejauh ini kami hanya bermain sperti ini. Hanya
menggesek-gesekkan kemaluan kami tanpa melakukan
intercourse. Namun siang itu rupanya lain. Aku meraih
celana dalam Prast dan melepasnya, dan Prast pun berbuat
demikian padaku. Celana dalamku lepas sudah, sementara
baju masih kupakai. Prast sendiri pun demikian. Praktis
pusar ke bawah, kami bebas.

Kembali Prast menindihku dibarengi dengan ciuman-ciuman
yang mesra. Badanku terasa panas bergelora. Kurasakan
badan Prast hangat menindihku. Batang kemaluan Prast
menggesek-gesek di belahan kemaluanku. Prast mencoba
menusukkannya. Aku pun, jujur saja sudah ingin melakukan
persetubuhan, namun aku takut hamil. Tetapi akhirnya
Prast membujukku untuk sedikit menggesekkan kepala
kemaluannya ke lubang kewanitaanku. Aku menurut saja.
Kepala kemaluannya terasa hangat menyentuh klitorisku.
Nikmat kurasakan kegelian yang memuncak ketika kepala
kemaluan itu menyentuh lembut bibir kewanitaanku. Kami
tidak tahan lagi akan sensasi yang tercipta oleh gesekan
itu.

Tanpa kusadari, gerakan tubuhku rupanya membuat kepala
kemaluan Prast tidak saja menyentuh klitorisku, namun
kini telah penetrasi lebih jauh masuk ke lubang
kemaluanku. Aku kaget, berusaha menolak. Namun, dorongan
untuk mencoba lebih jauh akibat kenikmatan itu telah
membutakanku. Kupikir sebentar lagi saja, ah. Tanggung.
Aku kaget setengah mati ketika kutarik kemaluan Prast
terlihat darah di kepala kemaluannya. Kupikir ini pasti
darah keperawananku. Aku menangis, menyesal. Kenapa
tidak berhenti waktu kemaluan Prast hanya menyentuh
klitorisku. Kembali aku menangis dan menangis
menyesalinya. Prast mencoba meredakan tangisku. Namun
aku tetap merasa tidak tenang. Akhirnya kuputuskan untuk
pulang saja ke kost-ku.

Seminggu setelah kejadian itu, aku berpikir bahwa aku
sudah tidak perawan lagi. Kenapa juga waktu itu aku
berhenti sebelum mengalami kenikmatan. Itu juga tidak
akan mengubah keadaan. Menangis pun percuma karena
kenyataan akan tetap sama. Akhirnya waktu malam itu
Prast datang, aku berhubungan badan dengannya. Lagipula
aku ingin menikmatinya. Aku tidak mau membohongi diri
sendiri. Kami melakukannya di kursi tamu di teras
kost-ku yang gelap.

Aku memang lebih suka memakai rok dibanding dengan
celana kalau berada di rumah. Karena itulah, mudah saja
bagiku untuk bersenggama di teras. Terlebih lagi, kalau
di kost-ku, apalagi kalau sedang kencan dengan Prast,
aku memang jarang memakai celana dalam. Aku lebih senang
yang praktis seperti ini. Meskipun selama ini kami hanya
heavy petting saja atau kubiarkan Prast meraba-raba
kemaluanku. Namun malam ini aku memutuskan untuk
melakukannya karena aku pun sudah tidak perawan, kenapa
tidak aku nikmati saja hal ini.

Prast memang ahli dalam foreplay, pandai sekali dia
merangsangku sebelum akhirnya kami bersenggama. Rambutku
yang panjang sepinggang dinaikkannya dan diciuminya
punggung leherku. Turun sampai ke hook bra-ku.
Digigitnya pelan dan dilepaskannya dengan mulut. Bagian
inilah yang paling kusuka. Gigitannya terasa sangat
mesra di punggungku, diangkatnya kaosku dan tangannya
terasa mesra membelai punggungku. Aku benci dengan orang
yang terburu-buru meremas payudara. Mereka tidak bisa
menghargai keindahan seni bercinta.

Aku duduk di atas Prast. Aku merasakan kemaluannya sudah
mendesak tegang. Kuraihkan tanganku ke belakang dan
menyusup masuk ke celananya. Aku sudah hafal ini. Agak
susah memang, namun terasa asyik sekali ketika ujung
jariku menyentuh kepala kemaluannya. Perlahan
diangkatnya tubuhku. Secara reflek akupun mengangkat
rokku sedikit. Dalam posisiku agak sulit untuk melepas
kancing celana dan menurunkan ritsluitingnya. Prast
membantuku. Kemaluannya kini tegak tinggi. Pernah aku
mencoba mengukur kemaluan Prast, panjangnya sekitar 27
senti. Entah itu besar atau hanya sedang-sedang saja.
Tetapi indah. Ototnya tampak menggelembung di keremangan
terasku yang terpisah tirai bambu dengan jalan raya yang
ada di atas kost-ku.

Aku segera menurunkan tubuh sembari membimbing kemaluan
Prast ke liang kewanitaanku. Aku turun perlahan,
berusaha menikmati segala keindahan yang tercipta dari
fantasi cinta kami. Kurasakan agak sakit ketika pertama
kali kemaluannya menyeruak masuk ke lubang surgaku.
Untungnya kemaluanku sudah basah akibat foreplay yang
dilakukannya, sehingga tidak terlalu perih waktu batang
kejantanannya penetrasi masuk ke liang senggamaku.
Uuugh, nikmatnya selangit. Kurasakan tubuhku memanas dan
semakin panas serta melambung tinggi.

Pelan-pelan aku mulai menaik-turunkan tubuhku di atas
Prast. Prast pun berusaha mengimbanginya dengan
menusukkan batang kemaluannya dari bawah. Sodokan Prast
terasa menyakitkan, tetapi juga nikmat. Aku mencoba
menurunkan tubuhku secara penuh agar kemaluan Prast
masuk semua ke dalam liang senggamaku, namun Prast
bilang itu menyakitkan biji pelirnya. Kupikir benar
juga. Akhirnya aku memintanya untuk menyodokkan
kemaluannya keras-keras dan seluruhnya ke dalam liang
kenikmatanku, karena kupikir dialah yang tahu persis
apakah itu menyakitkan bijinya atau tidak.

Ternyata kenikmatan yang tercipta akibat sodokan itu
sangat hebat. Aku menggeliat-geliat, sementara Prast
tetap mencoba menahan tubuhku agar tidak terlalu banyak
bergerak dan jatuh ke tubuhnya. Aku merasakan seluruh
tubuhku bergetar dengan hebat. Gejolak yang kurasa
ketika kami hanya melakukan gesekan kemaluan kalah jauh
bila dibandingkan dengan kenikmatan yang tercipta waktu
batang kejantanan Prast penetrasi ke lubang kemaluanku.
Kalau saja aku tahu kenikmatan yang tercipta sedahsyat
ini, pasti aku sudah melakukannya dari dulu-dulu. Lagian
apa sih enaknya mempertahankan keperawanan.

Kurasakan batang kejantanan Prast menyodok-nyodok dengan
kasar. Aku mencoba bergerak memutar, karena gatalnya
kemaluanku akibat sodokannya. Tanpa kusadari, ternyata
rotasi tubuhku semakin memperhebat kenikmatan yang
kurasa. Selama kurang lebih 15 menit batang kejantanan
Prast serasa bagai poros yang mengaduk-aduk isi
kemaluanku. Prast pun meracau tidak karuan. Aku semakin
menggila akibat kenikmatan itu. Putaranku makin
kupercepat, searah jarum dan berbalik melawan jarum jam
berbarengan dengan gerakan sodokan Prast. Wow,
nikmatnya, bung. Anda harus mencoba hal ini dengan
pasangan anda.

Prast memintaku untuk menghentikan sebentar permainan
gilaku ini. Aku berpikir, aku memang baru sekali ini
melakukannya, tetapi memang bercinta hal yang alamiah.
Tanpa belajar pun aku rupanya bisa melakukannya. Sejenak
kami terengah-engah dan terperangah oleh permainan kami
sendiri. Aku baru tahu, permainan gaya inilah yang
nantinya dikatakan Prast sebagai gaya anjing (doggy
style). Hanya saja kami melakukannya tidak dengan posisi
tubuhku bersandar ke tembok/kursi atau berdiri empat
kaki seperti anjing dan ditusuk dari belakang. Kami
melakukannya dengan dengan cara duduk, yang ternyata
nantinya kuketahui memiliki kenikmatan yang sama namun
tidak menyakitkan seperti jika dilakukan dengan posisi
tubuh bersandar ke tembok/kursi atau apapun.

Kami hampir tidak percaya kami bisa bercinta sehebat
itu. Prast dan aku terdiam sejenak, mencoba mengatur
nafas dan menenangkan diri akibat sensasi yang begitu
intens dari persenggamaan itu. Kalaupun kami
mengetahuinya, kami hanya menontonnya dari film-film
yang memang sering kami tonton. Namun mengalaminya
sendiri adalah satu hal lain yang benar-benar berbeda.
Tidak heran kalau banyak orang yang gemar kawin kalau
memang kenikmatannya seperti ini. Tidak heran pula kalau
banyak kasus seks pranikah, karena memang enak.

Setelah sekitar 5 menit menenangkan diri dan mengatur
nafas, Prast menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
Kemudian dia menghadap ke arahku dan menusukkan kembali
batang kejantanannya ke kemaluanku. Agak susah memang,
karena teras kost-ku gelap. Kubimbing batang
kejantanannya ke mulut kemaluanku dan secara reflek
Prast langsung menusukkan kemaluannya. Oooh, nikmatnya
waktu kurasakan kemaluan Prast menggaruk dinding dalam
lubang kemaluanku. Kini aku berada di bawah, dengan
posisi duduk mengangkang membuka kedua pahaku
lebar-lebar. Prast kembali menusukkan dan menggoyang
seperti yang kulakukan waktu aku berada di atasnya.
Hujaman itu terasa menggelitik dinding kemaluanku yang
semakin gatal. Basah makin kurasakan kemaluanku oleh
cairanku yang keluar melumasi bagian dalam.

Aku turut mencoba menggoyangkan pantatku, namun agak
sulit, karena aku di posisi bawah. Akhirnya aku mencoba
mengimbanginya dengan menggoyang ke kiri kanan saja.
Tangan Prast yang tadinya bertumpu pada pegangan kursi
panjang kuangkat agar meremas payudaraku. Aku sudah
tidak tahan lagi. Sensasi ini sudah demikian menggila.
Pundak Prast kugigit. Kepalaku terhentak ke kanan dan
kiri. Kukibas-kibaskan rambut panjangku. Tak puas,
kujambak rambutku sendiri akibat kenikmatan yang kurasa.

Sudah setengah jam lebih kami bersetubuh, namun belum
tampak tanda-tanda Prast akan mengakhirinya. Sementara
aku sudah gilanya menikmati setiap tusukan batang
kejantanannya yang disertai goyangan memutar. Kurasakan
bagai tombak yang menghujam. Mengaduk-aduk seluruh
syaraf nikmat yang ada dalam kemaluanku. Kalau tidak
takut ketahuan oleh teman sekost, mungkin aku sudah
berteriak-teriak, mengekspresikan segala kenikmatan yang
kurasa.

Tidak tahan lagi aku mencapai puncak setelah sekitar 45
menit bersenggama. Entahlah, apakah itu tergolong lama
atau tidak, namun kenikmatan yang kurasa tak mampu
kutahan lagi. Dahsyat sekali waktu aku mencapai orgasme
senggama pertamaku ini (kalau orgasme akibat gesekan
saja sih aku sudah sering mengalaminya, itu pun setelah
satu jam atau lebih). Basah kurasakan sampai pahaku,
mungkin akibat cairanku yang meluap-luap. Aku menjambak
rambutku sendiri. Kedua pahaku kurapatkan, kakiku
mencengkeram pinggangnya dan menariknya, memaksanya
untuk memasukkan batang kejantanannya secara penuh ke
liang senggamaku. Nikmat sekali mencapai orgasme. Prast
berbisik lembut agar aku menahan dan tetap bercinta.
Anggukanku dibalasnya dengan tusukan tajam yang makin
cepat. Kubiarkan saja dia mengobrak-abrik dinding
kemaluanku. Pasrah, namun tetap berusaha mengimbangi dan
menikmati sembari berharap semoga dia tidak langsung
keluar.

Benar saja, baru setelah dua puluh menit aku orgasme,
Prast baru mencapai orgasmenya. Dia meracau tidak karuan
dan menggenggam pundakku kencang-kencang. Sakit, tapi
kucoba menahannya dengan mengatupkan gigiku karena aku
tahu Prast memerlukannya. Segera dicabutnya batang
kemaluannya dari kemaluanku dan langsung dikocoknya di
depanku. Spermanya muncrat dan ditumpahkannya ke
payudaraku. Ada sebagian yang mengenai wajahku dan
tembok di belakangku. Oooh, nikmatnya, waktu kurasakan
hangat spermanya menyentuh kulit payudara dan wajahku.
Langsung kuusap. Aku tidak mau begitu saja melewatkan
kehangatan spermanya di atas puting payudaraku.
Diciuminya aku, kubalas dengan pagutan mesra. Nikmat dan
mesra sekali kami malam itu. Meskipun pemula, kini aku
tahu teknik untuk menghindari kehamilan dengan
mengeluarkan batang kejantanannya dari liang
kewanitaanku dan mengocoknya untuk membantu Prast
orgasme.

Pengalaman pertama bersenggama inilah yang mungkin
akhirnya mempengaruhiku menjadi cewek yang bisa
dikatakan gila seks. Bayangkan, kami melakukan ini dua
sampai tiga kali setiap malam (kecuali kalau aku sedang
menstruasi, tentunya) dengan berbagai gaya yang berbeda.
Prast memang pandai dalam membuatku jadi pecinta yang
gila, dan yang aku herankan, aku yang pendiam ini
terbawa permainannya. Lebih-lebih lagi, kata Prast, dia
kadang-kadang sampai heran dan kewalahan mengatasi
kemampuanku bertahan dalam bermain seks selama lebih
dari satu atau dua jam.

Pernah pada suatu hari, ketika itu kami sedang KKN di
desa yang memang terpencil, kebetulan kami ditempatkan
di desa yang sama, kami minta ijin untuk pulang ke kota,
perguruan tinggi kami untuk mengurus proposal dana KKN.
Kost-ku sepi karena KKN di universitasku memang
dilaksanakan setiap musim liburan, akhirnya Prast
memutuskan untuk menginap di tempatku. Kami bercinta
seharian, baik di kamarku, ruang tamu, dapur ataupun
kamar mandi. Selama tiga hari kami nikmati kebebasan itu
dengan bercinta. Berbagai gaya kami coba karena gairah
yang kami pendam hampir sebulan lebih di desa KKN tidak
mampu melakukan percintaan.

Siang itu sebelum kami kembali ke desa KKN, kami
bercinta sampai menjelang petang. Prast dan aku rebahan
di ruang tamu sambil nonton TV. Namun berakhir dengan
bergumul, saling mencium. Rangsangan yang dilakukannya
sangatlah efektif. Kami yang waktu itu baru saja selesai
mandi setelah bercinta, kini mulai terlibat foreplay
lagi, yang tampaknya akan disusul dengan percintaan.
Satu yang kucinta dari cowok ini adalah kepandaiannya
melambungkan emosiku naik turun. Kadang dia bergerak
cepat tanpa menghilangkan kemesraan, lalu menurunkan
temponya begitu saja seolah tidak niat bercinta dan
menungguku untuk aktif memulai percintaan.

Begitu juga siang itu, setelah merangsangku
habis-habisan, tiba-tiba dia berhenti diam mematung. Aku
yang sadar akan hal itu segera bertindak aktif sebelum
suasana menjadi dingin. Aku harus menciumnya dan melepas
celananya tanpa menggunakan tangan. Fantasi kami memang
cukup liar, kugigit lepas kancing bajunya satu persatu,
kuciumi seluruh dada dan perutnya. Lidahku menari
menyusuri sampai ke pusar dan kususul dengan kancing
celananya. Agak sulit memang, karena tanganku kubiarkan
saja diremas oleh Prast. Setelah kancing celana lepas,
barulah celana itu kulepaskan dan baju Prast kulepas.

Prast menyuruhku untuk mengambil bantal dari kamarku.
Aku heran, gaya apa lagi yang akan kami lakukan, namun
kuturuti saja. Aku disuruhnya untuk rebah dan ternyata
bantal itu ia pakai untuk mengganjal pantatku.
Akibatnya, kemaluanku kurasakan mengembang dan terbuka
lebar. Aku heran, tahu darimana dia tentang hal ini.
Perlahan, diciuminya pusar dan daerah sekitar kiri dan
kanan kemaluanku. Rasanya sungguh menggelitik. Aku gemas
dan meraih kepalanya lalu mengarahkannya ke liang
senggamaku. Setelah puas menciumi lalu dia mulai
menjilati bagian dalam kemaluanku. Dia menyuruhku untuk
tidak memakai tanganku. Uuugh, rasanya ingin rasanya aku
menempeleng dia akibat siksaan kenikmatan yang amat
sangat. Aku tidak mampu berbuat apa-apa. Tanganku hanya
mampu mengepal dan mengejang di samping tubuhku,
sementara dia dengan bebasnya menjilati klitorisku dan
bibir kewanitaanku yang terbuka lebar. Dia tiup lubang
senggamaku dengan mesranya, dingin. Kembali aku terbuai,
karena tiupannya disusulnya dengan gigitan pada bibir
kemaluanku yang kurasakan makin gatal dan panas.

Akhirnya saat yang kunanti tiba juga. Dia mulai bangkit
dan dengan mudahnya memasukkan batang kejantanannya ke
lubang senggamaku yang terbuka lebar menganga. Tanganku
mengangkat ke atas sementara Prast bertumpu pada kedua
tanganku. Teriknya siang itu jadi bertambah panas dengan
percintaan kami berdua. Kami terdiam beberapa saat
lamanya tepat setelah Prast melakukan penetrasi. Aku
hapal dia, Prast sedang berusaha menikmati kehangatan
bagian dalam kemaluanku. Memang, waktu kami berhenti dan
diam, aku bisa merasakan denyutan batang kejantanan
Prast dalam lubang senggamaku. Sementara lubangku pun
juga berdenyut-denyut memijit batang kemaluannya.
Keadaan diam itu justru menambah kenikmatan. Prast
memang pandai dalam bercinta. Dia pulalah yang
mengajariku cara untuk menggerakkan otot kemaluanku,
terutama bibir dan dinding kemaluanku, sehingga aku bisa
memijit batangannya tanpa harus melakukan gerakan
apapun. Inilah yang kami lakukan siang itu. Mencoba
menikmati dalam keadaan diam dengan merasakan denyutan
batang kemaluan Prast dan pijitan liang senggamaku.

Setelah beberapa lama, Prast akhirnya bergerak juga naik
turun menusukkan batangannya ke lubang senggamaku. Aku
secara naluriah mengimbanginya dengan menggoyangkan
pantatku. Ternyata bantal yang di taruhnya di pantatku
sangat menolong. Biasanya agak susah untuk mengoyangkan
pantatku akibat tekanan Prast, namun kali ini gampang
saja, karena relatif lebih licin. Hampir lebih dari satu
jam kami melakukannya sebelum akhirnya Prast
mengangkatku untuk berganti gaya.

Tanpa melepas senjatanya dari liang kemaluanku, Prast
mengangkat tubuhku yang relatif kecil (beratku 41 kg).
Agak susah memang, tapi dia memang pintar. Waktu dia
mencoba mengangkat tubuhku, otomatis aku memeluknya erat
dan ini membuat batang kemaluannya tenggelam lebih dalam
ke lubang senggamaku. Sementara itu, waktu tubuhnya
telah tegak dan aku menggelayut memeluk lehernya,
tangannya mengangkat pahaku agar burungnya tidak lepas
dari sarangku. Betisku (sebenarnya tungkai) kulingkarkan
ke lehernya untuk membantu dia agar aku tidak terjatuh.
Dan waktu dia mencoba memperbaiki posisi berdirinya
sembari memanggulku, inilah yang kurasakan sangat
intens. Batang kejantanannya dengan kasar menyodok
kelaminku karena memang tidak ada kontrol waktu tubuhku
diangkatnya agar posisi kami lebih baik. Lalu dengan
kasarnya tubuhku dilambung-lambungkan pelan. Hujaman
batang kemaluannya kurasakan sangat menyiksaku. Tetapi
justru tusukan yang terasa kasar, dalam dan tidak
terkontrol ini malah menambah intens ketegangan kemaluan
kami berdua.

Tetap dalam posisi yang sama, disandarkannya punggungku
ke tembok. Waktu dia berjalan ke tembok, karena aku
masih menggantung dan kemaluannya masih tetap tertancap
di lubang senggamaku, maka sangat terasa hentakan ketika
Prast melangkah dan ini membuatku makin gila. Setelah
bersandar barulah aku agak tenang. Kami mencoba berhenti
sebentar untuk menikmati momen ini. Kurasakan batang
kemaluan Prast berdenyut naik turun meskipun dia dalam
posisi diam. Sementara kurasakan lendirku turun melumasi
batang kejantanan Prast. Kemaluanku pun terasa
berdenyut-denyut.

Kulihat Prast merem melek menikmati remasan lubang
senggamaku atas batang kejantanannya. Lembut aku
diciumnya. Karena sulit untuk mendapatkan kenikmatan
waktu bersandar di tembok, aku meminta Prast agar
menggendongku keliling ruang tamu. Sebenarnya ini hanya
alasanku saja, karena aku telah dibutakan oleh sensasi
kenikmatan kasarnya sodokan senjatanya yang tadi
kurasakan waktu dia memanggulku. Prast mengiyakan dan
langsung mengangkat kembali tubuhku dengan memperbaiki
sanggaan atas pahaku dan membawaku berjalan keliling
ruang tamu. Pelan saja, pintaku, yang dijawabnya dengan
anggukan. Wajahnya tenggelam diantara kedua belah
payudaraku yang tidak terlalu besar (dada 34B, lingkar
pinggang 27").

Aduh, nikmatnya merasakan tusukan kasar dalam gerakan
jalan lambat seperti ini, batinku. Makin lama, kurasakan
jalan Prast bertambah cepat dan hentakan yang terasa
makin kuat. Tempo permainan itupun makin cepat. Tanganku
makin erat melingkari lehernya. Aku tidak mau jatuh.
Sedangkan aku juga tidak mau begitu saja Prast
menanggung berat badanku dengan kedua lengannya.
Hentakan batangannya makin lama makin hebat. Aku
mengerang. Kutancapkan kukuku di punggungnya. Aku hampir
orgasme. Inikah kenikmatan cinta?

Setelah mengelilingi ruang tamu empat kali aku akhirnya
mencapai orgasme yang sangat nikmat. Direbahkannya aku
di meja dapur dan dibiarkannya aku menikmati puncak
kenikmatan itu. Tusukannya dipercepat di atas meja itu.
Kakiku yang sekarang terangkat di pundaknya, mengejang.
Sementara tanganku berpegangan erat pada kedua sisi meja
dan tangan Prast bertumpu pada pundakku. Tiba-tiba
dicabutnya batang kemaluannya dari lubang surgaku dan
dikocoknya di hadapanku. Rupanya ia pun hampir mencapai
orgasme. Tak lama kemudian, dimuncratkannya spermanya ke
pusarku. Ada sekitar tujuh kali semburan dahsyat
disertai beberapa kali muncratan sisa spermanya. Bahkan
wajahku pun bersimbah sperma yang tidak sengaja muncrat,
bercampur dengan keringat akibat teriknya matahari siang
itu dan senggama kami. Puas rasanya siang itu.

Satu hal lagi yang kusukai dari Prast adalah kekuatannya
bersenggama. Meskipun telah beberapa kali bersenggama
dan memuntahkan spermanya, ia masih kuat untuk
melakukannya lagi ketika kami mandi berdua siang itu.
Butuh waktu dua jam bagi kami untuk mandi dan
bersenggama lagi setelah lebih dari satu jam bersenggama
sebelumnya siang itu. Kami mandi di dua kamar mandi yang
berseberangan tanpa menutup pintu sebelum akhirnya
memutuskan untuk mandi bersama dan bersetubuh lagi di
kamar mandi.

Pernah suatu kali kami mencoba main dengan gaya kasar.
Kata Prast ini adalah "bondage" atau penyiksaan.
Beberapa kali aku pernah melihatnya waktu kami nonton
film blue jepang. Apa salahnya ini kami praktekkan pula.

Waktu itu dua hari setelah ulang tahunku ke duapuluh
tiga di bulan september. Mahasiswa baru biasanya masuk
sekitar bulan agustus. Sementara mahasiswa lama baru
mulai kuliah sekitar awal september. Itupun masih banyak
yang bolos hingga akhir september, bahkan lebih. Kost-ku
memang masih sepi, karena mayoritas isinya mahasiswa
senior. Sebenarnya bisa saja kami bercinta di rumah
Prast, karena ia memang tinggal sendirian. Tetapi kami
lebih suka melakukannya di kost-ku.

Malam itu, hari rabu sekitar jam delapan lebih (karena
layar emas di TV swasta sudah mulai), kami bercinta.
Kali ini tanpa foreplay, Prast menyuruhku untuk
mengambil sabuk. Aku turuti dan kuambil sabuk kimonoku.
Ternyata sabuk kain itu dia gunakan untuk mengikat
tanganku. Direbahkannya aku di tempat tidurku. Tanganku
menghadap ke atas. Diciuminya aku dengan kasar. Seperti
yang telah kukatakan, kami berdua memiliki fantasi
seksual yang liar. Meskipun aku pendiam, namun urusan
seks aku sangat berpikiran progresif. Kalau ada sesuatu
yang baru, kenapa tidak dicoba untuk sekedar menyegarkan
suasana.

Prast masih duduk di atas tubuhku, ketika tiba-tiba
dirobeknya bajuku dengan kasar. Aku menyukai gayanya.
BH-ku pun direnggutnya. Padahal biasanya dia menggigit
hook BH-ku sampai lepas. Kali ini sangat berbeda.
Setelah itu, giliran rokku yang ditariknya ke bawah
hingga kancingnya pun lepas. Seperti telah kukatakan,
aku lebih senang memakai rok tanpa celana dalam. Kini
aku telah telanjang bulat di hadapannya.

Dia lalu berdiri dan melepas kaos serta celananya satu
persatu hingga polos. Kulihat batang kemaluannya
mengacung tinggi di atasku. Oooh, indahnya. Dia turun
dari kasur dan tubuhku diseretnya hingga kakiku
berjuntai di pinggir tempat tidur. Posisi pantatku yang
berada di bibir tempat tidur membuat kemaluanku merekah
lebar. Sementara tanganku masih terikat ke atas. Dengan
kasarnya dipukulkannya batang kemaluannya ke liang
kewanitaanku. Sakit sekali rasanya, tapi aku telah
terbuai oleh kenikmatan yang akan kunikmati.

Pelan-pelan dia naik ke ranjang dan ditamparkannya
kembali batang kemaluannya ke pipi kanan dan kiriku
berulang-ulang. Turun dari ranjangku, diambilnya ikat
pinggangnya yang kubelikan untuk hadiah ulang tahunnya.
Ujung ikat pinggang yang terbuat dari logam itu
dipukulkannya ke perut dan kemaluanku. Nikmat sekali
rasanya meskipun sakit. Aku mengaduh kesakitan, namun
memintanya untuk terus menyakitiku. Tiba-tiba
dimasukkanya dua jarinya ke dalam lubang kewanitaanku
dan dihujam-hujamkannya dengan kasar. Sementara tangan
kanannya digunakannya untuk menjambak rambutku. Kini
posisiku seperti udang goreng, melengkung. Satu karena
jambakan Prast, dan yang satu lagi karena hunjaman
jarinya atas liang senggamaku.

Tidak puas dengan dua jari, kini tiga jarinya dimasukkan
ke lubang senggamaku. Jari telunjuk dan manis masuk ke
lubang, sementara jari tengahnya menggosok-gosok
klitorisku, terasa geli setengah mati. Nikmat bercampur
geli, namun aku tidak bisa berbuat-apa-apa karena
terikat. Tanganku yang terikat tidak memungkinkan aku
bergerak bebas. Kakiku menendang ke sana ke mari.
Tiba-tiba Prast menghentikan hujamannnya. Diambilnya
sabuk yang tadi dipergunakannya untuk mencambukku.
Diikatnya kakiku dengan sabuk itu. Satu ke kaki tempat
tidur kiri dan kaki kananku diikatnya dengan tali tasnya
ke kaki kanan ranjangku. Kini aku tergeletak
mengangkang, terikat, telanjang dan tidak berdaya
bagaikan wanita jepang dalam film blue.

Prast kulihat kembali mendekati diriku dan menciumi
liang kewanitaanku yang terbuka lebar. Diambilnya bantal
dan diganjalkannya ke bawah pantatku. Waktu
diganjalkannya bantal itu, karena kakiku terikat,
otomatis ikut tertarik dan pergelangan kakiku terasa
sakit sekali. Kembali ia naik ranjangku dan
disodorkannya batang kemaluannya ke wajahku. Posisinya
yang berada di atas tubuhku persis tidak memungkinkanku
untuk menghindar. Aku tahu, aku harus mengulumnya
seperti layaknya permen saja. Dulu waktu pertama kali
aku harus mengulum batang kemaluan Prast, terus terang
aku merasa jijik. Tetapi Prast memang mungkin telah
mempersiapkan segalanya. Biasanya sebelum memintaku
mengulum batang kemaluannya, dia ke kamar mandi dulu
untuk mencuci barangnya hingga bersih. Sehingga waktu
aku pertama kali mengulumnya tidak terlalu merasa jijik.

Kinipun aku akan melakukannya lagi. Segera kujulurkan
lidahku untuk menjilatinya. Aku merasa bagaikan anjing
yang memohon pada tuannya untuk diberi makan. Aku jilati
ujung batang kemaluannya. Prast merem melek kegelian
karena nikmat. Ditariknya lagi batang kemaluannya dan
dipukulkannya ke pipi dan mataku berulang kali. Aku
mengaduh kesakitan, namun itu tidak akan
menghentikannya, karena dia tahu aku menyukai dan
menikmati rasa sakit yang kualami. Kusodorkan mulutku
untuk mengulumnya, namun Prast kembali menyiksaku dengan
jalan menaikkan posisi tubuhnya sehingga aku harus
berusaha keras untuk dapat menggapai ujung batang
kemaluannya. Tubuhku harus meregang, yang tentu saja
kembali menyakitkan pergelangan kakiku meskipun kedua
tanganku terikat bebas tidak ditalikan di kedua kepala
ranjang.

Tiba-tiba saat tubuhku meregang ke atas mencoba
menggapai batang kemaluannya, Prast menurunkan tubuhnya,
sehingga tak ayal lagi seluruh batang kemaluannya yang
sepanjang 27 cm masuk memenuhi seluruh rongga mulutku
dan menyentuh anak tekakku. Hampir aku muntah dibuatnya.
Bagaimana tidak, kemaluannya yang kupikir cukup panjang
itu masuk sampai ke tenggorokanku. Aku sampai tersedak
dibuatnya. Segera kukatupkan bibirku ke dalam gigiku
sehingga tidak akan melukai batang kemaluannya. Aku tahu
ini karena pernah Prast marah karena gigiku menggores
batang kemaluannya. Aku segera membasahi batang
kemaluannya dengan ludahku, lalu kukulum keluar masuk
dengan sangat tersiksa karena kakiku sakit terikat.
Prast tidak tinggal diam, tubuhnya maju mundur (naik
turun) memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam
mulutku. "Emppfffh!" Aku tersentak-sentak karena
tenggorokanku terisi penuh oleh kemaluannya.

Dia tidak berhenti begitu saja. Tangannya terulur ke
belakang dan ujung putingku ditariknya keras-keras.
Akibatnya akupun secara reflek dengan bibir terkatup ke
gigi menggigit kemaluannya. Mungkin inilah yang
menyebabkan dia merasa begitu menikmati permainan ini.
Kusedot keras-keras batang kemaluannya, seiring dengan
mengerasnya putingku ditarik. Dicubitinya putingku agar
hisapanku tambah kencang. Aku tahu apa yang dia sukai
dan dia tahu apa yang kubutuhkan. Kenikmatan kasar.

Setelah beberapa lama dicabutnya batang kemaluannya dari
mulutku dan kini aku mulai menjilati buah pelirnya. Aku
sruput buah pelir yang berbulu tipis itu. Pernah satu
kali Prast menamparku karena aku menyedotnya terlalu
kencang. Kini, kuberanikan lagi untuk menyedotnya
kencang-kencang agar dia menamparku dan aku terpuaskan.
Namun reaksinya berbeda. Bukan tamparan yang kuterima,
tetapi tangannya meraih jauh ke liang kewanitaanku dan
menepuknya keras-keras. Aku mengaduh kenikmatan.

Sekarang dia berdiri di atasku. Kulihat kemaluannya naik
turun pertanda nafsu yang memburu tidak karuan. Nafasku
pun tersengal-sengal karena ingin mendapatkan kenikmatan
yang lebih dari sekedar mengulum batang kemaluan. Aku
tertawa terkikik. Prast tersenyum, paham maksudku. Dia
turun dari ranjang dan kembali memukulkan batang
kemaluannya ke kemaluanku. Batang kemaluannya yang basah
oleh ludahku dengan mudah menerobos liang kewanitaanku.
Dihujamkannya dengan keras sehingga tubuhku terangkat
naik ke atas ranjangku. Kembali kakiku terasa sakit
karena tertarik oleh hentakannya itu. Jempolnya tidak
diam, namun turut menekan dan memainkan klitorisku.

Aku semakin gila dan kepalaku terayun-ayun ke sana ke
mari. Kenikmatan yang kurasa tak tertahankan lagi. Aku
jebol dan mencapai orgasme yang teramat sangat tinggi.
Baru kali ini aku merasa nikmat dan sakit dalam waktu
yang bersamaan setelah lebih dari setengah jam bercinta,
itupun itu tidak hanya satu kali saja. Karena Prast
tidak menghentikan permainannya meskipun dia tahu aku
sudah orgasme. Dia belum, itu yang dia pikirkan. Mau
tidak mau aku harus tetap melayaninya. Hujaman demi
hujaman yang disertai tekanan atas klitorisku kembali
merangsangku dan membuat aku mampu mengimbangi
permainannya.

Alat kelamin Prast tetap tegar menusuk lubangku dengan
kasarnya. Berulang-ulang kulihat Prast membasahi jarinya
dengan ludahnya dan menggunakannya untuk melumasi
klitorisku. nikmatnya kurasa sampai ke ubun-ubun. Liang
kewanitaanku kembali berlendir setelah agak kering
karena orgasme telah lewat. Perih yang kurasakan kini
hilang kembali berganti kenikmatan tusukan Prast yang
disertai goyangan memutar. Batang kemaluannya kurasakan
bagai bor tumpul yang mendera dinding kelaminku. Ujung
batang kemaluannya terasa menyodok-nyodok dinding
rahimku. (Kalau batang kemaluan anda cukup panjang,
pasti inilah yang akan dirasakan oleh pasangan anda).

Tangan kanan Prast kembali beraksi. Kini dengan memukuli
pantatku yang terganjal bantal. Sakit tapi nikmatnya
terasa sekali, sementara jempol dan jarinya bergantian
memainkan klitorisku dan batang kemaluannya menyodok
liang kewanitaanku. Semakin sakit aku merasa semakin
nikmat. Namun kami bukan pasangan masochis. Kami hanya
sekedar bereksperimen dengan gaya bercinta. Aku kembali
mengejang karena orgasme, sementara Prast kulihat masih
tegar dan menikmati permainan ini. Dua kali sudah aku
orgasme. Mungkin inilah yang disebut sebagai multi
orgasme. Bahagia sekali rasanya memiliki pasangan yang
mampu memuaskan nafsuku.

Prast pun sangat menyukai hal ini. Aku yang dianggap
sebagai gadis desa pendiam dan rendah diri oleh
teman-teman sekelasku di kampus sebenarnya adalah maniak
seks. Sementara orang melihat Prast sebagai pemuda yang
kekanak-kanakan karena kesenangannya akan kartun dan
video game. Tidak seorang pun yang menyadari bahwa
sebenarnya kami adalah pasangan yang sangat panas dalam
bercinta.

Hampir dua jam sudah Prast meyetubuhiku dan belum tampak
tanda-tanda dia akan orgasme juga. Kekuatan dan gaya
bermain seksnya yang mungkin menjadikan aku makin cinta
kepadanya. Kuturuti kemauannya untuk terus bersenggama
sampai kapan pun.

Dua puluh menit kemudian barulah Prast mulai tampak
goyah. Pertahanannya tampaknya akan segera jebol. Aku
mulai memompa semangat berusaha memuaskannya. Tetapi apa
yang terjadi justru sebaliknya, dia bertambah kencang
dan aku bertambah lemah. Tidak, aku tidak boleh kalah,
pikirku. Akhirnya aku kembali mengalami orgasme,
mengejang keras, menggeretakkan gigi-gigiku karena
tangan dan kakiku terikat. Baru lima menit sesudahnya
Prast mencabut batang kemaluannya dan bergegas naik ke
atas tubuhku dan menjepitkannya di antara kedua belah
payudaraku yang ditekannya dengan tangannya sehingga
mampu memberi kenikmatan laksana dinding liang
kewanitaan. Digesekkannya maju mundur sampai akhirnya
spermanya dimuntahkannya di atas payudaraku dan
dimintanya aku mengulumnya setelah bersih tidak ada lagi
sisa sperma yang menyembur.

Perlahan kurasakan batang kemaluannya mengecil dalam
mulutku sehingga dapat kukulum penuh dalam mulutku
beserta buah pelirnya. Kami tersenyum puas tepat jam
sebelas. Berarti kami bercinta kurang lebih selama tiga
jam. Entahlah itu tergolong lama atau tidak, yang
penting aku terpuaskan sampai tiga kali dan untungnya
aku juga bisa memuaskan Prast meskipun setelah itu
kurasakan pergelangan kakiku terasa nyeri akibat ikatan
yang terlalu kencang. Malam itu Prast akhirnya menginap
di tempatku.

Setelah membersihkan badan, kami rebahan di kasur lipat
tipis milik temanku sambil nonton berita menjelang
tengah malam salah satu TV swasta. Tubuh kami masih
terbalut handuk saja. Namun karena agak dingin, aku
mengambil selimut di kamar dan berpelukan agar lebih
hangat. Handuk kami lempar ke tempat pakaian kotorku.
Kami terbiasa tidur telanjang berdua di rumah Prast. Di
bawah selimut, kami berdua berpelukan, telanjang,
sembari nonton TV. Segar sekali rasanya mandi setelah
bercinta. Pikiranku jadi lebih tenang dan lebih jernih.
Entah karena apa aku tak tahu.

Kira-kira jam setengah dua dini hari, saat program TV
sudah habis, Prast membopongku ke kamar. Aku kecapaian
setengah mati setelah tiga kali orgasme malam itu. Prast
selalu memilih sisi kanan ranjang. Itu tidak masalah,
karena aku bisa tidur di sisi manapun. Namun ternyata,
aku tidak dapat tidur pulas karena Prast selalu
menggangguku dengan rabaan-rabaan nakal di pusarku dan
bagian atas kemaluanku yang terasa sangat menggelitik.
Aku balas dengan mencoba meraba batang kemaluannya,
tetapi, astaga, ternyata batang kemaluannya sudah tegang
mengacung dan aku tertawa ngakak karena selimut kami
jadi mirip tenda pramuka. Digesek-gesekkannya batang
kemaluannya ke perutku. Aku yang tadinya kegelian kini
jadi terangsang.

Tawaku berubah jadi sensasi aneh yang menjalari seluruh
tubuhku. Akupun mulai bereaksi dengan mencari tangan
Prast dan membimbing tangannya untuk meraba dan meremas
payudaraku. Aku memang terkadang gampang panas. Mungkin
ini pulalah yang disukai Prast dariku. Sementara
tangannya meremas payudaraku, tanganku bergerak ke
bawah, mencoba menggapai batang kemaluannya. Aku selalu
menikmati momen-momen seperti ini. Kugenggam batang
kemaluan Prast, kurasakan kehangatannya di telapakku dan
kupejamkan mataku menikmati segenap sensasi yang muncul.
Rasa hangat yang aneh, yang disertai berdirinya buluku
seiring dengan sentuhan kulit tubuh telanjang kami
berdua di bawah selimut.

Tiba-tiba Prast beranjak turun dari ranjangku dan
bergegas ke ruang tamu. Aku heran, kenapa dia berbuat
begitu. Ternyata dia mengambil toples yang berisi kripik
singkong. Aku memang suka menyimpan keripik singkong
yang jadi kesukaannya. Apa lagi yang hendak
dilakukannya. Gaya bercinta yang selalu baru membuat aku
terheran-heran atas fantasinya. Sekarang apa lagi yang
akan terjadi, aku hanya bisa menebak-nebak.

Diangkatnya selimut yang menutupi tubuhku, lalu
ditariknya kakiku sehingga badanku terseret agak ke
pinggir ranjang. Diremasnya keripik singkong itu
kecil-kecil dan ditaburkannya di sekujur badanku. Kini
aku sudah mulai bisa menebak jalan pikirannya. Setelah
rata ditaburkannya keripik singkong itu di atas badanku,
perlahan dia naik ke atas ranjang dan rebah di
sampingku. Posisi tubuhnya miring sehingga
memungkinkannya bersentuhan langsung dengan kulitku. Dia
mulai dengan mencoba menjilati seluruh kripik yang
ditaburkannya ke sekujur badanku.

Kini aku dihinggapi sensasi aneh ketika ujung kripik
singkong yang kasar tersebut meyentuh kulitku sewaktu
akan dimakan Prast. Campuran antara kasarnya ujung
singkong dan lembutnya ujung lidah Prast menciptakan
fantasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ini
sangat berbeda dengan rabaan atau ciuman mesra bibir
Prast yang biasanya menghujani punggung dan dadaku.
Tanganku memelintir puting payudaraku sendiri keenakan.
Kutarik kencang-kencang agar rasa gatal akibat gesekan
ujung kasar keripik itu kalah. Tetapi hal ini tidak
terlau banyak menolong. Aku makin panas dan bertambah
horny.

Kubiarkan lidahnya menari-nari di atas tubuhku,
menjilati bersih semua kripik singkong yang ia taburkan.
Sementara aku mencoba menikmati segenap sensasi yang
timbul dengan berdiam diri. Semakin aku berusaha
menekan, semakin tersiksa aku, namun kenikmatan yang
kudapat akibat siksaan itulah yang membuatku tetap
bertahan untuk mencapai titik akhir yang paling nikmat.
Terdengar gila memang, cewek seperti aku yang pendiam
ternyata memiliki fantasi seksual yang aneh. Mungkin ini
pula yang membuatku melayani Prast untuk main kasar
tanpa harus menjadi seorang sadomasochis. Prast lah yang
mengajari semua yang aku tahu, termasuk semua istilah
seksual yang tadinya adalah tabu bagiku. Karena Prast
pulalah, fantasi seksualku makin menggila. Tampaknya aku
memang berpotensi untuk memiliki fantasi seksual yang
agak sakit.

Tak perlu kukatakan betapa nikmatnya waktu lidahnya
berputar-putar di sekeliling putingku karena aku yakin
pasti anda sudah tahu. Namun waktu lidahnya mulai
menjilati pusarku, inilah bagian yang paling kusukai.
Aku justru merasa sangat terangsang ketika jemari atau
lidah Prast membelai bagian antara pusar dan lubang
kelaminku. Tanpa dimintapun, Prast sudah tahu dan
sedikit berlama-lama ketika mencapai bagian ini. Pria
satu ini memang penuh pengertian dan jagoan bercinta.

Setelah puas dengan sedikit foreplay, Prast berbisik
lembut kepadaku untuk mengambil agar agak memiringkan
badanku. Pasti ada posisi baru, bathinku. Aku turuti
kemauannya, kumiringkan badanku ke kiri. Prast segera
mengambil posisi di dekat selangkanganku dan
menelentangkan badannya. Selangkangan kami bertemu. Aku
mulai paham, poros bertemu poros. Kaki kanan Prast di
dadaku, sedangkan yang kiri di punggungku. Begitu pula
dengan kakiku yang ada di dada dan di bawah punggungnya
yang sengaja diangkatnya sedikit. Perlahan Prast
menusukkan batang kemaluannya ke lubang kewanitaanku.

Nafasku tertahan waktu Prast memintaku untuk beringsut
mendekat. Seiring aku mendekat, batang kemaluannya makin
terbenam ke lubang senggamaku dan gerakanku menciptakan
sensasi aneh. Mungkin ini terjadi karena batang kemaluan
Prast secara tidak beraturan membentur dinding liang
kewanitaanku. Posisi gunting seperti ini sungguh memberi
kami kenikmatan yang teramat sangat. Ini kurasakan
karena dengan posisi begini, batang kemaluan Prast bisa
masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaanku. Bahkan
kurasakan tulang kemaluannya keras membentur dinding
luar lubang liang kewanitaanku.

Untuk memudahkan gerakannya, Prast sedikit mengangkat
tubuhnya dengan jalan bertumpu pada tangannya. Posenya
seperti orang senam kuda-kuda pelana. Kakinya sedikit
menekuk tepat di depan perutku. Dengan cara seperti ini,
tubuhnya bisa bergerak seperti naik turun, tapi dalam
kondisi miring. Dia memulainya dengan gerakan perlahan,
namun secara pasti makin bertambah cepat. Tubuhku
terhentak-hentak tidak karuan karena sodokannya dari
bawah tersebut. Aku berusaha untuk turut bergerak, namun
terasa agak sulit, dan terlebih lagi Prast memintaku
untuk menikmati saja setiap tusukannya. Aku tidak tahan,
lagi. Ayo kundalini, tahan orgasmemu sebentar lagi,
bisikku dalam hati. Terus terang sangat sulit bagiku
untuk tidak langsung orgasme dengan posisi senggama
seperti ini.

Aku berusaha menahan orgasme dengan menekan kenikmatan
yang kurasakan. Secara psikologis aku memang agak
tertekan kalau begini. Aku tahan semampuku, namun jebol
juga pertahananku. Aku tidak kuat lagi untuk menahan
segenap cairan yang sudah meluap-luap di dalam
kemaluanku. Aku rengkuh betis Prast dan kutarik
sekuatnya agar batang kemaluannya terbenan seluruhnya
ketika aku orgasme. Kutahan beberapa waktu dan Prast
menurut saja. Kupikir dia tahu aku mencapai puncakku.
Kurasakan hangat dan nikmat. Aku pasrah saja dan
membiarkan Prast melanjutkan permainan kami. Lagian aku
juga menikmati setiap tusukan Prast ketika kami
bersenggama.

Tak lama kemudian kulihat lutut Prast sedikit bergetar.
Pasti dia sudah hampir memuncak, pikirku. Dan benar
saja. Gerakan Prast cepat dan bertambah cepat serta
tidak teratur. Kini dia tidak saja menghujamkan batang
kemaluannya, namun juga menggoyangkannya. Mau tidak mau
aku yang tadinya pasrah menikmati, akhirnya jadi tambah
tinggi juga karena tusukan yang disertai goyangan ini.
"Ehhhg...", jeritku tertahan. Aku mencoba menahan diri
ketika kurasakan Prast mencabut batang kemaluannya dan
duduk mendekatiku. Secara refleks, langsung kukocok
batang kemaluannya, sementara tangan Prast meraih liang
kewanitaanku dan memainkan klitorisku dengan jari
tengahnya (mungkin karena hal ini tanda jari tengah
dianggap "saru"). Dengan gemasnya jari Prast
menekan-nekan klitorisku, dan ini membuatku makin
terangsang.

Segera saja kumasukkan sebagian batang kemaluannya ke
mulutku dan aku oral dia, keluar masuk mulutku sambil
kumainkan lidahku di glan batang kemaluannya. Tak tahan
dengan hisapan dan jilatan lidahku, Prast akhirnya
memuntahkan seluruh spermanya. Ditekannya kepalaku agar
seluruh batang kemaluannya masuk ke mulut, dan
benar-benar menyentuh anak tekakku. Kurasakan enam kali
semburan keras diikuti beberapa kali semburan kecil.
Semua spermanya tertelan olehku. Aku hampir muntah
ketika batang kemaluannya menyentuh anak tekakku. Untung
aku sudah agak terbiasa dengan batang kemaluannya yang,
menurutku, lumayan panjang. Sebenarnya aku agak jijik
kalau harus meminum spermanya. Tapi kali ini apa boleh
buat, ini juga tidak terhindarkan dan langsung masuk ke
tenggorokanku. Ketika itu akupun tidak terlalu merasakan
jijik karena sedang terbuai kenikmatan jari Prast yang
dengan kerasnya menekan dan memutar-mutar di klitorisku
serta meremas bibir kemaluanku dengan ganasnya.
Perbuatannya memaksaku untuk mencapai orgasme kedua yang
hanya berbeda beberapa saat dengan saat Prast mencapai
puncaknya.

Hari itu kami bangun agak telat, pada saat acara musik
TV swasta yang ditayangkan setiap jam 08.30 pagi sudah
hampir usai. Kami nikmati hari berdua saja dan hanya
keluar rumah kost untuk membeli makanan. Mungkin lain
kali akan kuceritakan pengalaman lainnya yang tidak
kalah menariknya. Semoga yang satu ini mampu
menghidupkan suasana di tempat anda dan menjadi
referensi anda bercinta atau sekedar bacaan iseng saja
jika senggang.