Thursday, May 3, 2007

CINDY MALANG

Namaku Ryan, umurku 22 tahun dan aku sekarang sedang
menyelesaikan kuliah di sebuah PTS di Yogyakarta.
Pengalaman ini terjadi tiga tahun yang lalu ketika aku
masih kuliah di Bandung. Sudah lama memang, tapi aku
selalu ingat akan kejadian itu dan tak akan pernah aku
melupakan satu nama : Cindy. Walau hingga sekarang pun
akan selalu kukenang saat-saat indah bersamanya.

Aku akrab dengan Cindy karena ia adalah cucu dari ibu
kostku. Cindy lebih tua 2 tahun dan dia anak Surabaya,
sedang kuliah di Bandung hanya beda kampus denganku.
Yang aku tahu, kedua orangtuanya sudah pisah ranjang
selama dua tahun (tapi tidak bercerai) dan Cindy ikut
tinggal bersama neneknya (ibu kostku) ketika ia masuk
kuliah. Mungkin terlalu panjang kalo kuceritakan
bagaimana prosesnya hingga kami berpacaran. Aku
beruntung punya cewek seperti dia yang wajahnya sangat
cantik (pernah dia ditawarin untuk menjadi model),
segala yang diidamkan pria melekat pada dia. Kulitnya
yang putih, hidung bangir, matanya yang indah dan
bening, rambut ikal serta tubuhnya yang padat.. Aku juga
nggak tahu kenapa ibu kost menerimaku untuk nge-kost
dirumahnya padahal yang kost di rumahnya adalah cewek
semua. Mungkin karena ngeliat tampangku seperti orang
baik-baik kali ya (hehehe)…

Pada awal kami berpacaran , Cindy termasuk pelit untuk
urusan mesra-mesraan. Jangankan untuk berciuman, minta
pegang tangannya saja susahnya minta ampun! Padahal aku
termasuk orang yang hypersex, dan aku sering kali
melakukan onani untuk melampiaskan nafsu seksku, hingga
sekarang. Aku bisa melakukan onani sampai tiga kali
sehari. Setiap kali fantasi dan gairah seksku datang,
pasti kulakukan kebiasaan jelekku itu. Entah dikamar
mandi menggunakan sabun, sambil nonton VCD porno dan
seringnya sambil tiduran telungkup di atas kasur sambil
kugesek-gesekkan penisku. Aku merasakan nikmat setiap
orgasme onani. Bact to story, sejak aku dan Cindy resmi
jadian, baru dua minggu kemudian dia mau kucium pipinya.
Itu pun setelah melalui perdebatan yang panjang,
akhirnya ia mau juga kucium pipinya yang mulus itu, dan
aku selalu ingin merasakan dan mengecup lagi sejak saat
itu.

Hingga pada suatu malam, ketika waktu menunjukkan pukul
setengah sepuluh, aku, Cindy dan Desi (anak kost yang
lain) masih asyik menonton TV di ruang tengah. Sementara
ibu kostku serta 3 anak kost yang lain sudah pergi
tidur. Kami bertiga duduk diatas permadani yang
terhampar di ruang tengah. Desi duduk di depan sementara
aku dan Cindy duduk agak jauh dibelakangnya. Lampu neon
yang menyinari ruangan selalu kami matikan kalau sedang
menonton TV. Biar tidak silau kena mata maksudnya. Atau
mungkin juga demi menghemat listrik. Yang jelas, cahaya
dari TV agak begitu samar dan remang-remang. Desi masih
asyik menonton dan Cindy yang disampingku saat itu hanya
mengenakan kaos ketat dan rok mini matanya masih konsen
menonton film tersebut. Sesekali saat pandangan Desi
tertuju pada TV, tanganku iseng-iseng memeluk pinggang
Cindy. Entah Cindy terlalu memperhatikan film hingga
tangannya tidak menepis saat tanganku memeluk tubuhnya
yang padat. Dia malah memegang rambutku, dan membiarkan
kepalaku bersandar di pundaknya. Terkadang kalo pas
iklan, Cindy pura-pura menepiskan tanganku agar
perbuatanku tidak dilihat Desi. Dan saat film diputar
lagi, kulingkarkan tanganku kembali.

“I love you, honey….” Bisikku di telinganya.
Cindy menoleh ke arahku dan tanpa sepengetahuan Desi, ia
mendaratkan ciumannya ke pipiku. Oh my God, baru pertama
kali aku dicium seorang cewek, tanpa aku minta pula.
Situasi seperti ini tiba-tiba membuat pikiranku jadi
ngeres apalagi saat Cindy meremas tanganku yang saat itu
masih melingkar di pinggangnya, dan matanya yang sayu
sekilas menoleh ke arah Desi yang masih nongkrong di
depan TV. Aman, pikirku.Apalagi ditambah ruangan yang
hanya mengandalkan dari cahaya Tv, maka sesekali
tanganku meremas payudara Cindy. Cindy menggelinjang,
sesekali menahan nafas. Lutut kanannya ditekuk, hingga
saat tangan kiriku masuk ke dalam daster bagian bawah
yang agak terbuka dari tadi, sama sekali tidak diketahui
Desi. Mungkin ia konsen dengan film, atau mungkin juga
ia sudah ngantuk karena kulihat dari tadi sesekali ia
mengangguk seperti orang ketiduran.

Ciumanku kini sedikit menggelora, menelusuri leher Cindy
yang putih mulus sementara tangan kiriku
menggesek-gesekkan perlahan vagina Cindy yang masih
terbungkus celana dalam. Ia mendesah dan mukanya
mendongak ke atas saat kurasakan celana dalamnya mulai
basah dan hangat. Mungkin ia merasakan kenikmatan,
pikirku.Tanganku yang mulai basah oleh cairan vagina
Cindy buru-buru kutarik dari dalam roknya, ketika
tiba-tiba Desi bangkit dan melihat ke arah kami berdua.
Kami bersikap seolah sedang konsen nonton juga.
“Aku ngantuk. Tidur duluan ya….. nih remote-nya!” ujar
Desi sambil menyerahkan remote TV pada Cindy.
Desi kemudian masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari
dalam. Aku yang tadi agak gugup, bersorak girang ketika
Desi hanya pamitan mau tidur. Aku pikir dia setidaknya
mengetahui perbuatanku dengan Cindy. Bisa mati aku.
Cindy yang sejak tadi diam (mungkin karena gugup juga)
matanya kini tertuju pada TV. Aku tahu dia juga
pura-pura nonton, maka saat tubuhnya kupeluk dan
bibirnya kucium dia malah membalas ciumanku.
“Kita jangan disini Say, nanti ketahuan….” Bisiknya
diantara ciuman yang menggelora.
Segera kubimbing tangan Cindy bangkit, setelah mematikan
TV dan mengunci kamar Cindy, kuajak dia ke kamar sebelah
yang kosong. Disini tempatnya aman karena setiap yang
akan masuk ke kamar ini harus lewat pintu belakang atau
depan. Jalan kami berjingkat supaya orang lain yang
telah tertidur tidak mendengar langkah-langkah kami atau
ketika kami membuka dan menutup kunci dan pintu kamar
tengah dengan perlahan.

Setelah kukunci dari dalam dan kunyalakan lampu kamar
kuhampiri Cindy yang telah duduk di tepi ranjang.
“Aku cinta kamu, Cindy…..” ujarku ketika aku telah duduk
disampingnya.
Mata Cindy menatapku lekat.. Sejenak kulumat bibirnya
perlahan dan Cindy pun membalas membuat lidah kami
saling beradu. Nafas kami kembali makin memburu menahan
rangsangan yang kian menggelora. Desahan bibirnya yang
tipis makin mengundang birahi dan nafsuku. Kuturunkan
ciumanku ke lehernya dan tangannya menarik rambutku.
Nafasnya mendesah. Aku tahu dia sudah terangsang, lalu
kulepaskan kaosnya. Payudaranya yang padat berisi
ditutupi BH berwarna merah tua. Betapa putih kulitnya,
mulus tak ada cacat. Kemudian bibir kami pun berciuman
kembali sementara tanganku sibuk melepaskan tali
pengikat BH, dan sesaat kemudian kedua payudaranya yang
telah mengeras itu kini tanpa ditutupi kain sehelai pun.

Kuusap kedua putingnya, dan Cindy pun tersenyum manja.
“Ayo Yan, lakukanlah….” Ujarnya.
Tak kusia-siakan kesempatan ini, dan mulai kujilati
payudaranya bergantian. Sementara tangan Cindy membantu
tanganku melepaskan kemeja yang masih kukenakan. Kukecup
putingnya hingga dadanya basah mengkilap. Betapa
beruntungnya aku bisa menikmati semua yang ada
ditubuhnya. Tangan kananku yang nakal mulai merambah
turun masuk ke dalam roknya, dan kugesek-gesekkan pelan
di bibir vaginanya. Cindy menggelinjang menahan nikmat,
sesekali tangannya juga ikut digesek-gesekkan kesekitar
vaginanya sendiri.

Bibirnya mendesah menahan kenikmatan. Matanya terpejam,
Sebentar kemudian vaginanya mulai sedit basah. Dan kami
pun mulai melepaskan celana kami masing-masing hingga
tubuh kami benar-benar polos. Betapa indahnya tubuh
Cindy, apalagi ketika kulihat vaginanya yang terselip
diantara kedua selangkangannya yang putih mulus.
“Wah.. punyamu oke Cindy, Ok's banget…” ujarku terpana
Begitu mulus memang,ditambah dengan bulu-bulu lebat
disekitar bagian sensitifnya.
“Burungmu juga besar dan bertenaga. Aku suka Yan….”
Balasnya sambil tangannya mencubit pelan kemaluanku yang
sudah tegak dari tadi.
“Come on Honey….” Pintanya menggoda.

Aku tahu Cindy sudah begitu terangsang maka kemudian
kusuruh Cindy berbaring di atas kasur. Dan aku baringkan
tubuhku terbalik, kepalaku berada di kakinya dan
sebaliknya(posisi 69). Kucium ujung kakinya pelan dan
kemudian ciumanku menuju hutan lebat yang ada diantara
kedua selangkangannya. Kukecup pelan bibir vaginanya
yang sudah basah, kujilat klitorisnya sementara mulut
Cindy sibuk mengocok-ngocok kemaluanku. Bibir vaginanya
yang merah itu kulumat habis tak tersisa. Ehm, betapa
nikmatnya punyamu Cindy, pikirku. Ciumanku terus
menikmati klitoris Cindy, hingga sekitar vaginanya makin
basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya.

Kedua jari tanganku aku coba masukkan lubang vaginanya
dan kurasakan nafas Cindy mendesah pelan ketika jariku
kutekan keluar masuk.
“Ahh… nikmat Yannn…ahhhh…” erangnya.
Kugesek-gesekkan kedua jariku diantara bibir klitorisnya
dan Cindy makin menahan nikmat. Selang 5 menit kemudian
kuhentikan gesekkan tanganku, dan kulihat Cindy sedikit
kecewa ketika aku menghentikan permainan jariku.
“Jangan sedih Say, aku masih punya permainan yang
menarik, okay?”
“Oke. Sekarang aku yang mengatur permainan ya?” ujarnya.
Aku mengangguk.Jujur saja, aku lebih suka kalau cewek
yang agresif.Cindy pun bangkit, dan sementara tubuhku
masih terbaring di atas kasur.
"Aku di atas, kamu dibawah, okay? Tapi kamu jangan nusuk
dulu ya Say?"
Tanpa menunggu jawabanku tubuh Cindy menindih tubuhku
dan tangan kanannnya membimbing penisku yang telah
berdiri tegak sejak tadi dan blessss.......ah,Cindy
merasa bahagia saat seluruh penisku menembus vaginanya
dan terus masuk dan masuk menuju lubang kenikmatan yang
paling dalam. Dia mengoyang-goyangkan pantatnya dan
sesekali gerakannya memutar, bergerak mundur maju
membuat penisku yang tertanam bergerak bebas menikmati
ruang dalam “gua”-nya.

Cindy mendesah setiap kali pantatnya turun naik,
merasakan peraduan dua senjata yang telah terbenam di
dalam surga.Tanganku meremas kedua payudara Cindy yang
tadi terus menggelayut manja. Rambutnya dibiarkan
tergerai diterpa angin dingin yang terselip diantara
kehangatan malam yang kami rasakan saat ini. Kubiarkan
Cindy terus menikmati permainan ini. Saat dia asyik
dengan permainannya kulingkarkan tanganku dipinggangnya
dan kuangkat badanku yang terbaring sejak tadi kemudian
lidah kami pun beradu kembali.
"Andainya kita terus bersama seperti ini, betapa
bahagianya hidupku ini Cindy " bisikku pelan
"Aku juga, dan ku berharap kita selalu bersama
selamanya.."

Sepuluh menit berlalu, kulihat gesekan pinggang Cindy
mulai lemah. Aku tahu kalau dia mulai kecapekan dan aku
yang mengambil inisiatif serangan. Kutekan naik turun
pinggangku, sementara Cindy tetap bertahan diam. Dan
suara cep-clep-clep… setiap kali penisku keluar masuk
vaginanya.
“Ahh terusss Yannnnn….terusss…nikmattttt…ahh…ahhhh….”
hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Cindy, dan aku
pun makin menggencarkan seranganku.
Ingin kulibas habis semua yang ada dalam vaginanya.
Suara ranjang berderit, menambah hot permainan yang
sedang kami lakukan. Kutarik tubuh Cindy tanpa
melepaskan penisku yang sedang berlabuh dalam vaginanya
dan kusuruh dia berdiri agar kami melakukan gerakan sex
sambil berdiri.
"Kamu punya banyak style ya say?" katanya menggoda.
"Iya dong, demi kepuasan kamu juga" jawabku sambil mulai
menggesek-gesekan pebisku kembali.
"Ahh teruss...terusss......" desah Cindy ketika penisku
berulang kali menerobos vaginanya.

Kupeluk tubuh Cindy erat sementara jari tangan kirinya
membelai lembut bulu-bulu vaginanya, dan sesekali
membantu penisku masuk kembali setiap kali terlepas.
Keringat membasahi tubuh kami. Lehernya yang mulus
kucium pelan, sementara nafas kami mulai berdegup
kencang.
"Yan, keteteran nih, mau klimaks. Jangan curang
dong...."
"Oke, tahan dulu Cindy" dan kucabut batang penisku yang
telah basah sejak tadi.
Kusuruh Cindy nungging di ranjang, sementara tanganku
mengarahkan penisku yang telah siap masuk kembali. Dan
kumasukkan sedikit demi sedikit hingga penisku ambles
semua ke dalam surga yang nikmat.
"Ah...tekan Yan…enaaaakkkkk…terusssss Yannn…." Erangnya
manja setiap kali penisku menari-nari di dalam
vaginanya.
Tanganku memegang pinggangnya agar gerakanku teratur dan
penisku tidak terlepas,.
"Ohh...nikmat sekali Yan....teruss....terusss......"
desahnya.
Betapa nikmatnya saat-saat seperti ini...dan terus
kuulang sementara mulut kami mendesah merasakan
kenikmatan yang teramat sangat setiap kali penisku
mempermaikan vaginanya.
"Yan....aku mo keluar nih.....udah ngga
tahan....ahhh....ahhhh...." ujar Cindy tiba-tiba.
"Tahan Cin, aku juga hampir sampai...." aku
menekan-nekan penisku kian cepat,sehingga suara ranjang
ikut berderit cepat.
Dan kurasakan otot-otot penisku mengejang keras dan
cairan spermaku berkumpul dalam satu titik.

"Aku keluar sekarang Cin...." penisku kucabut dari
lubang vaginanya dan Cindypun seketika membalikkan badan
dan menjulurkan lidahnya, mengocok-ngocok batang penisku
yang kemerahan dan saat kurasakan aku tak mampu menahan
lagi kutaruh penisku diantara kedua belah payudaranya
dan kedua tangan Cindy pun menggesek-gesekkan
payudaranya yang menjepit batang kemaluanku
dan....croott...crooottt... spermaku jatuh disekitar
dada dan lehernya Sebagian tumpah diatas sprei. Cindy
menjilati penisku membersihkan sisa-sisa spermaku yang
masih ada.
"Kamu ternyata kuat juga Say, aku hampir tak berdaya
dihadapanmu" kubelai rambut Cindy yang sudak acak-acakan
tak karuan.
"Aku juga ngga nyangka kamu sehebat ini Yan...."desahnya
manja .

Waktu sudah menunjukkan setengah satu malam Dan setelah
kami istirahat sekitar lima belas menit, kami memakai
pakaian kami kembali dan membereskan tempat tidur yang
sudah berantakan. Dan tak lama kemudian kami pun pergi
tidur dikamar masing-masing melepaskan rasa lelah
setelah kami ‘bermain” tadi.

Begitulah kisahku dengan Cindy, setiap hari kami selalu
melakukannya setiap kali kami ingin dan ada kesempatan.
Kami melakukannya di kamar sebelah kalau malam hari,
kamar kostku, atau bahkan dikamar mandi (sambi mandi
bareng disaat rumah kost kosong hanya ada kami berdua).

Hingga pada suatu hari Cindy harus pindah ke luar kota
ikut kedua orang tuanya yang telah berbaikan lagi. Aku
benar-benar kehilangan dia, dan ingin kuterus
bersamanya. Pernah beberapa kali kususul ke tempatnya
yang baru dan kami melakukannya berkali-kali di hotel
tempat kami menginap. Tanggal 27 November 1998,
tiba-tiba kuterima surat dari Cindy yang mengabarkan
bahwa ia akan menikah dengan orang yang dipilihkan orang
tuanya dan aku benar-benar kehilangan dia….. Sekarang,
setiap kali aku melakukan masturbasi, fantasiku selalu
melayang mengingat saat-saat terindah kami melakukan
hubungan seks pertama kali dikamar sebelah itu. Ingin
rasanya aku ulangi saat-saat indah itu…