Sunday, May 6, 2007

CHANGE

Cerita ini merupakan kisah pribadi saya yang terjadi
sekitar tahun 1999. Cerita ini berawal ketika saya mulai
melanjutkan studi di satu perguruan tinggi swasta di
kota Bandung. Saya sendiri datang dari daerah yang
terpencil jauh dari keramaian dan pergaulan kota.

Nama saya Kaka, usia sekarang 25 tahun. Saya dibesarkan
di keluarga yang sangat keras. Walaupun bukan dari
kalangan militer, namun ibu selalu mendidik saya dengan
keras. Dan hasilnya memang terbukti, saya menjadi anak
mami yang super penurut dan alim. Dalam hal pendidikan
pun saya selalu masuk ranking.

Kerasnya ibu dalam mendidik saya, telah menjadikan saya
sebagai seorang pemuda 'kuper'. Saya tidak biasa
mengikuti trend mode terbaru yang selalu ditiru oleh
pemuda-pemuda lain. Tapi biarlah itu tidak terlalu
masalah bagi saya. Ibu sangat melarang keras saya untuk
mempunyai pacar, alasannya takut mengganggu sekolah.
Namun bagaimana pun pembaca, saya ini seorang pria
normal yang membutuhkan teman wanita untuk berbagi
cerita suka dan duka.

Secara diam-diam saya menjalin kisah cinta monyet di SMA
kelas dua. Namanya Lulu, dia anak orang kaya, cantik,
pintar, pokoknya saya cinta berat sama dia. Saya dan dia
kebetulan beda kelas, namun saya tetap berhubungan
dengan dia selepas bubaran sekolah. Kisah cinta saya
dengannya berjalan normal-normal saja. Namun terus
terang saja saya kalah agresif dengannya. Saya sendiri
sangat malu untuk sekedar menciumnya, walaupun hasrat di
hati sangat menggebu-gebu.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan,
tahun demi tahun, saya lalui dengannya sampai akhirnya
saya harus pergi ke kota Bandung untuk melanjutkan
studi. Sewaktu pergi saya beranikan diri untuk sekedar
memberi ciuman sebagai tanda perpisahan. Lucunya.. waktu
saya menciumnya, justru dia yang malah mendahului saya,
sehingga saya gelagapan sekaligus senang dan nikmat
sekali rasanya. Bibir kami saling berpagut hampir 5
menit. Saya pun menikmati permainan ini.

Keesokan harinya, saya pergi ke kota Bandung. Perasaan
sedih menghinggapi diri, ketika melihatnya menitikkan
airmata untuk melepaskan kepergian saya.

Saya pun akhirnya kuliah, setiap bulan saya selalu
berkomunikasi walaupun hanya dalam selembar surat. Saya
tidak dapat pulang setiap bulan menemuinya, karena
walaupun pulang saya tidak dapat menemuinya karena ibu
akan sangat marah kalau saya ketahuan pacaran. Yang
lebih parah lagi, kalau ketahuan saya pacaran, biaya
kuliah saya akan dicabut.

Tidak terasa saya sudah hampir 5 semester, dan selama
itu pula saya tidak berjumpa dengannya. Padahal saya
sangat rindu berat untuk bertemu dengannya, hingga suatu
peristiwa datang menghampiri kehidupan saya yang
merupakan cerita perubahan hidup saya.

Kisah ini terjadi sewaktu saya turut serta dalam sebuah
acara kampus, tepatnya penerimaan mahasiswa baru. Tidak
sengaja, saya berjumpa dengan seorang mahasiswi, dan ya
ampun.., dia itu wajahnya mirip sekali dengan Lulu pacar
saya di SMA itu. Wajahnya, bodynya, rambutnya, pokoknya
segalanya dech, namun yang ini, lebih seksi, terlihat
dari bentuk payudaranya yang aduhai.

Lanjutnya saya pun menjalin kisah asmara dengannya.
Namanya Hani, asalnya dari Sumatra, dan kebetulan saya
satu fakultas dengannya. Kisah asmara ini berbulan-bulan
berjalan tanpa sepengetahuan ibu.

Suatu hari saya mengajaknya ke kontrakan saya di sekitar
jalan Setiabudi. Di kontrakan saya, dia menonton
televisi, sedangkan saya hanya memandangi wajahnya yang
menurut saya itu adalah Lulu. Kebetulan waktu itu Hani
memakai pakaian kaos ketat warna hitam, sehingga nampak
sekali payudaranya menonjol.

"Kenapa lihat-lihat, ada yang aneh?" tanya Hani ketika
saya sedang memperhatikannya.
"Nggak.. cuma lagi menikmati ciptahan Tuhan." jawab
saya.
"Ciptaan Tuhan..?" ujar Hani sambil menatap saya.

Saya tatap matanya yang bening, saya dekatkan wajahnya,
lalu secara refleks bibir saya mendekati bibirnya.
"Jangan ach..," ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
Namun kerinduan saya terhadap Lulu telah mendorong saya
untuk lebih berani mendekatinya. Saya peluk dia dari
belakang, tangan saya memeluk kedua perutnya, sedangkan
wajah saya menciumi rambutnya. Saya gesekkan hidung
terhadap rambutnya, akh... wangi sekali rambutnya.

Kali ini Hani diam saja. Pelan-pelan saya tarik tangan
ke atas menyentuh payudaranya. Hani pun hanya terdiam
dan nampaknya dia pun sangat menikmati permainan ini.
Akh.., besar sekali payudaranya, tangan pun hampir tidak
muat memegangnya.

Masih dalam balutan kaos ketatnya, saya remas perlahan
payudaranya.
"Akh..!" Hani mendesis.
Mulut pun beralih ke belakang telinganya, dan.. Hani
membalikan tubuhnya, lalu bibirnya mencium bibir saya.
Saya kaget sekaligus senang. Saya kulum bibir tipisnya,
berpindah dari bibir atas ke bibir bawah, begitulah
seterusnya sampai saya hampir merasa kehabisan napas.

Yang paling mengasyikan dari permainan ini adalah
sewaktu Hani menyuruh mengeluarkan lidahnya, kemudian
Hani menarik lidah saya ke mulutnya dan mengulumnya
hingga kadang gigi kami saling beradu. Enak sekali
rasanya, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Sementara bibir kami saling berpagut, kedua tangan pun
mulai beraksi menggerayangi payudaranya. Saya masukkan
tangan ke dalam baju ketatnya, dan terasalah 'gunung
kembar' yang cukp besar. Walaupun masih terbungkus BH,
namun tangan saya dapat dengan leluasa meremasnya.

"Kamu nakal..!" ucap Hani sambil melepaskan pagutannya.
Namun saya terus memburunya, kali ini ciuman saya
arahkan ke bagian lehernya yang jenjang.
"Oh... Ohh... shh.. akh... terus.. terus..!" desah Hani
sambil menekankan kedua tangannya ke kepala sehingga
wajah saya amblas di lehernya.

Setelah puas tangan ini meremas kedua 'bukit
kembar'-nya, kali ini saya tarik ke atas baju ketatnya,
perlahan tapi pasti. Nampaklah kedua payudaranya yang
putih dan mulus, sementara penis ini sudah menegang dan
menyilang di dalam celana dalam saya.

Nampak kedua gundukan payudaranya terbungkus BH berwarna
hitam. Saya tarik tali belakang BH Hani, dan ola-la...
Kali ini Hani sudah tidak memakai BH lagi dan nampaklah
sepasang payudara yang besar dan putingnya yang berwarna
kemerahan. Saya cium, saya kulum, lalu sedikit gigit
putingnya.
"Oshh... achh.. hh... ngg..!" Hani meracau merasakan
kenikmatan indahnya permainan ini.
Saya pindahkan ciuman ke payudara sebelahnya dan Hani
pun melenguh kenikmatan.

Sementara itu tangan Hani mulai membuka kemeja saya.
Satu demi satu kancingnya terlepas, sehingga saya pun
tidak memakai baju lagi. Puas memainkan kedua
payudaranya, bibir saya mulai memainkan pusarnya dan
lagi-lagi Hani melenguh kegelian.

Kali ini birahi sudah sampai di ubun-ubun. Saya buka
celana jeans-nya yang membalut pahanya, dan ternyata
Hani memakai celana dalam berwarna pink bermotifkan
renda. Saya tarik celana dalamnya, nampaklah vagina Hani
yang indah, bulunya masih sedikit. Lalu kali ini ciuman
saya arahkan ke vaginanya.

"Oh... ah.., shh.., Kaka.. aku udah mo keluar..!" ujar
Hani sambil menggelinjang.
Kepalanya menggelinjang ke kanan dan kiri, sedangkan
rambutnya sudah acak-acakan. Saya jilat kemaluan Hani
yang berwarna sedikit kemerahan, kemudian menyedotnya.
Tiba-tiba.., "Aku keluaaar..!" ujar Hani sambil memelu
tubuh saya keras-keras.
Sementara jari tangan saya membantu memutar liang
kemaluannya agar Hani dapat merasakan orgasme yang luar
biasa.

Melihat peristiwa itu saya sendiri sudah tidak tahan.
Saya lepaskan celana jeans saya termasuk celana
dalamnya, sehingga kami benar-benar bugil alias
telanjang. Hani sendiri nampak kaget melihat penis saya.
Penis saya memang tidak terlalu besar namun cukup
panjang. Penis saya sudah tegang dan sudah siap untuk
tinggal landas.

Nampaknya Hani sudah mengerti kalau saya sudah tidak
tahan lagi. Lalu tangannya membimbing penis saya ke
lubang kenikmatannya. Saya tekan perlahan batang penis
saya ke lubang vagina Hani. Susah sekali. Lalu saya
dorong pantat ke depan dan perlahan tapi pasti kepala
penis saya masuk ke lubang kenikmatan Hani.
"Oh.. terus. Terus.., dorong lagi..!" ujar Hani
kegelian.

Kepala penis saya sendiri terasa ada yang memijat-mijat,
enak sekali rasanya. Lubang kemaluan Hani sangat kecil,
sehingga penis ini tearasa sangat terjepit. Saya dorong
lagi pantat dan bles.., seluruh batang kemaluan saya
masuk ke lubang vagina Hani.

Kemudian setengah penis saya tarik keluar, lalu dorong
ke dalam seperti gerakan orang sedang push-up.
"Oh.. yes.. yes... terus... terus... aku mo keluar
lagi..!" ujar Hani sambil merem melek.
Saya percepat gerakan memompa sehingga terdengar bunyi
yang unik yang keluar dari dalam liang senggama Hani.
Sementara saya pun sudah mulai merasakan orgasme, saya
percepat gerakan push-up, dan tiba-tiba saya merasa
sperma mulai mengumpul. Dan, crot.. crot... crot..!
Keluarlah sperma diiringi rasa nikmat yang luar biasa.

Sementara Hani sendiri mulai merasakan akan orgasme.
Saya cabut penis yang kelelaham setelah bertempur. Saya
masukkan jari telunjuk lalu memutar-mutar, saya jelajahi
seluruh isi vagina Hani sampai akhirnya Hani merasakan
kembali indahnya permainan cinta ini.

Hari-hari berikutnya kami sering mengulangi permainan
ini, tentunya dengan variasi dan posisi yang berbeda.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya
pun sering memakai 'pelindung' yang kadang Hani sendiri
yang menyediakannya.

Ternyata bercinta itu mengasyikan, layaknya bermain
sepak bola. Dimulai dari fore play sampai kenikmatan
yang tiada bandingannya. Sementara itu, Lulu nampaknya
tidak kuasa menolak keinginan orangtuanya untuk menikah
dengan pria pilihan orangtuanya. Saya sendiri tidak
dapat berbuat apa-apa. Ucapan saya padanya hanya satu,
"Semoga kamu bahagia."

Kisah cinta saya dengan Hani akhirnya kandas setelah
Hani pulang ke Sumatra dan tidak pernah mau menghubungi
saya lagi. Permasalahan yang kami hadapi sudah
membuatnya melupakan lagi diri saya. Kini saya hidup
sendiri lagi dan tentunya tidak dapat merasakan indahnya
bermain cinta. Selamat jalan Lulu dan Hani sang
pengganti.