Sunday, May 6, 2007

CIREBON UNDERCOVER

Aku tinggal di Cirebon tapi tempat kerjaku di dekat
Indramayu yang berjarak sekitar 45 Km dan kutempuh
dengan kendaraan kantor (nyupir sendiri) sekitar 1 jam.
Bagi yang tahu daerah ini, pasti akan tahu jalan mana
yang kutempuh. Setiap pagi kira-kira jam 06.30 aku sudah
meninggalkan rumah melewati route jalan yang sama (cuma
satu-satunya yang terdekat) untuk berangkat ke kantor.
Pagi hari di daerah ini, seperti biasa terlihat
pemandangan anak-anak sekolah entah itu anak SD, SMP
ataupun SMU, berjajar di beberapa tempat di sepanjang
jalan yang kulalui sambil menunggu angkutan umum yang
akan mereka naiki untuk ke sekolah mereka masing-masing.
Karena angkutan umum sangat terbatas, biasanya mereka
melambai-lambaikan tangannya dan mencoba menyetop
kendaraan yang lewat untuk mendapatkan tumpangan.
Kadang-kadang ada juga kendaraan truk ataupun pick-up
yang berhenti dan berbaik hati memberikan tumpangan,
sedangkan kendaraan lainnya jarang mau berhenti, karena
yang melambai-lambaikan tangannya berkelompok dan
berjumlah puluhan.

Suatu hari Senin di bulan Oktober 98, aku keluar dari
rumah agak terlambat yaitu jam 06.45 pagi. Kuperhatikan
anak-anak sekolah yang biasanya ramai di sepanjang jalan
itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan
kendaraan ke sekolahnya masing-masing. Saat perjalananku
mencapai ujung desa Bedulan (tempat ini pasti dikenal
oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar
desa sampai saat ini), kulihat ada seorang anak sekolah
perempuan yang melambai-lambaikan tangannya.
Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain,
aku mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha
mendapatkan tumpangan dariku dan karena dia seorang diri
di sekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta
kubuka kacanya sambil kutanyakan, "Mau ke mana dik?".
Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab
pertanyaanku, "Pak boleh saya ikut sampai di SMA--------
(edited by Yuri)", dari tadi kendaraan umum penuh terus
dan saya takut terlambat?, dengan wajah yang penuh
harap. "Yaa..., OK lah.., naik cepat", kataku. "Terima
kasih paak", katanya sambil membuka pintu mobilku.

Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira-kira 10 Km dan
selama perjalanan kuselingi dengan pertanyaan-pertanyaan
ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3
SMU di------dan bernama War (edited by Yuri). Tinggi
badannya kira-kira 155 cm, warna kulitnya bisa dibilang
agak hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan
menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik,
mungkin karena matanya agak sayu.

Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di
daerah-------dan War segera memberikan aba-aba.
"Ooom..., sekolah saya ada di depan itu", katanya sambil
jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan
kendaraanku di depan sekolahnya dan sambil menyalamiku
War mengucapkan terima kasih. Sambil turun dari mobil,
War masih sempat bertanya, "Oom..., besok pagi saya
boleh ikut lagi.., nggak Oom, lumayan Oom..., bisa naik
mobil bagus ke sekolah dan sekalian menghemat ongkos..,
boleh yaa.. Oom?". Aku tidak segera menjawab pertanyaan
itu, tapi kupandangi wajahnya, lalu kujawab, "Boleh
boleh saja War ikut Oom, tapi jangan bergerombol ikutnya
yaa".
"Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini".

Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, War sudah ada
di pinggir jalan dan melambaikan tangannya untuk
menghentikan mobilku. Dalam setiap perjalanan dia makin
lama makin banyak bercerita soal keluarganya,
kehidupannya di desa, teman-teman sekolahnya dan dia
juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya
apakah pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil
orang, War bilang tidak apa-apa tapi tanpa ada
penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan
lebih jauh soal pacarnya. War juga cerita bahwa selama
ini dia tidak pernah kemana-mana, kecuali pernah dua
kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di
Kuningan.

Seminggu kemudian di hari Jum'at, waktu War akan naik di
mobilku kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak
seperti habis menangis dan War duduk tanpa banyak
bicara.
Karena penasaran, kusapa dia, "War, habis nangis yaa...,
kenapa..? coba War ceritakan.., siapa tahu Oom bisa
membantu". War tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama
dia diam saja dan aku juga tidak mau mengganggunya
dengan pertanyaan-pertanyaan, tetapi kemudian dia
berkata, "Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan Ibu",
lalu dia diam lagi.
"Kalau War percaya pada Oom, tolong coba ceritakan
masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu", kataku
tetapi War saja tetap membisu.
Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba-tiba War
berkata, "Oom..., boleh nggak War minta waktu sedikit
buat bicara di sini, mumpung masih belum sampai di
sekolah". Mendengar permintaannya itu, segera saja
kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan kira-kira
jaraknya masih 2 Km dari sekolahnya.

"Ada apa War...?", Kataku. War tetap diam dan sepertinya
ada keraguan untuk memulai berbicara.
"Ayoo..., lah War (sebenarnya pengarang penuliskan tiga
harus terakhir dari namanya, tapi terpaksa oleh Yuri
diganti jadi 3 huruf terdepan), jangan takut atau
ragu..., ada apa sebenarnya", tanyaku lagi.
"Begini..., Oom, kata War", lalu dia menceritakan bahwa
tadi malam dia minta uang kepada orang tuanya untuk
membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum
dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia harus
membayar, karena kalau tidak dia tidak boleh mengikuti
ulangan. Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama
sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu
sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang tuanya karena panen
padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang terus
menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia
berhenti sekolah karena tidak mampu lagi untuk membayar
uang sekolah dan mau dikawinkan dengan tetangganya.

Aku tetap diam untuk mendengarkan ceritanya sampai
selesai dan karena War juga terus diam, lalu kutanya,
"Teruskan ceritamu sampai selesai War". Dia tidak segera
menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat
menggenang dan sambil mengusap air matanya dia berkata,
"Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin War ceritakan,
tapi saya takut nanti Oom terlambat ke kantornya dan War
juga harus ke sekolah, serta lanjutnya lagi..., kalau
Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya ingin pergi
dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah
pribadi saya". Setelah diam sejenak, lalu War berkata
lagi, "Oom, kalau ada dan tidak keberatan, saya mau
pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan
saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari
orang tua saya".

Mendengar cerita War walaupun belum seluruhnya, hatiku
terasa tersayat dan segera kurogoh dompetku dan
kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan padanya.
"Lho Oom, kok banyak benar..., saya takut tidak dapat
mengembalikannya", katanya sambil menarik tangannya
sebelum uang dari tanganku dipegangnya.
"War.., ambillah..., nggak apa-apa kok, sisanya boleh
kamu belikan buku-buku atau apa saja..., saya yakin War
membutuhkannya", dan segera kupegang tangannya sambil
meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan,
"War.., ini nggak usah kamu beritahukan kepada
siapa-siapa, juga jangan kepada orang tuamu..., dan War
nggak perlu mengembalikannya".

Belum selesai kata-kataku, tiba-tiba saja dari tempat
duduknya dia maju dan mencium pipi kiriku sambil
berkata, "Terima kasih banyak Oom.., Oom.. sudah banyak
menolong saya". Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar,
bukan karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena
tangan kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa sangat
empuk sehingga tidak terasa penisku menjadi tegang dan
sementara War masih mencium pipiku, kugunakan tangan
kananku untuk membelai rambutnya dan kucium hidungnya.
"Ayoo..., War..., sudah lama kita di sini, nanti kamu
terlambat sekolahnya".
War tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih
tergenang air matanya. Ketika sudah sampai di depan
sekolahnya sambil membuka pintu mobil, War berkata,
"Oom.., terima kasih yaa.. Ooom dan kapan Oom ada waktu
untuk mendengar cerita War".
"Kalau besok gimana..?, kataku.
"Boleh.., oom", jawabnya cepat.
"Lho..., besok kan masih hari Sabtu dan War kan harus
sekolah", jawabku.
"Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom..., hari Sabtu
kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting",
kata War.
"Oklah..., kalau begitu..., War, kita ketemu besok pagi
ditempat biasa kamu menunggu".

Dalam perjalanan ke kantor setelah War turun, masalah
War terasa mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa
aku sudah sampai di kantor. Sebelum pulang kantor, aku
izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada Bossku dengan
alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan.
Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada istriku
kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor dan kalau
selesainya telat terpaksa harus menginap dan pulang pada
hari Minggu.

Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah
disiapkan oleh Istriku, aku berangkat dan sampai di
tempat yang biasa, kulihat War tetap memakai baju
seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali
kulihat matanya tetap seperti habis menangis.
Lalu kutanya, "War..., habis perang lagi yaa?, soal apa
lagi?".
"Oom, ceritanya nanti saja deh", katanya agak malas.
"Kita mau kemana Oom?", Tanyanya.
"Lho..., terserah War saja.., Oom sih ikut saja".
"Oom..., saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan
nggak ada orang lain..., jadi kalau-kalau War nangis,
nggak ada yang melihatnya kecuali Oom".
Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku
berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan
permintaan War, dan segera teringat kalau di pinggiran
kota Cirebon yang ke arah Kuningan ada sebuah lapangan
Golf dan Cottage CPN.
Segera saja kukatakan padanya, "War... Tempat yang
sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah,
tapi..., bagaimana kalau kita ke CPN saja..?".
"Dimana itu Oom dan tempat apaan?",tanya War.
Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja,
"Tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit di luar Cirebon
dan..., begini saja deh.., War.., kita ke sana dulu dan
kalau War kurang setuju dengan tempatnya, kita cari
tempat lain lagi".


Setelah sampai di tempat dan mendaftar di receptionist
serta memesan minuman ringan serta mengambil kunci
kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan
pada War--"gimana War.., kamu mau disini..?, lihat saja
tempatnya sepi (maklum saja masih pagi-pagi.
Receptionistnya saja seperti terheran-heran, sepertinya
berfikir kok ada tamu pagi-pagi sekali dan nomor
mobilnya bukan dari luar kota).

Setelah mobil kuparkir di depan kamar, sebelum turun
kutanya dia kembali, "War..., gimana.., mau di sini?
atau mau cari tempat lain?". War tidak segera menjawab
pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan
mengikutiku ke arah pintu kamar motel. Segera setelah
sampai di dalam, dia langsung duduk di tempat tidur
sambil memperhatikan seluruh ruangan. Karena kulihat dia
tetap diam saja, aku jadi merasa tidak enak dan segera
kudekati dia yang masih tetap duduk di pinggiran tempat
tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya
beberapa saat dan tiba-tiba saja War memelukku dan
terdengar tangisan lirih sambil terisak-isak. Sambil
masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan
kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta
kukatakan, "War coba tenangkan dirimu dan ceritakan
semua masalah mu pada Oom..., siapa tahu Oom bisa
membantumu dalam memecahkan masalahmu itu". War masih
saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda.
Beberapa saat kemudian kubimbing dia ke arah tempat
tidur dan perlahan kutelentangkan War di tempat tidur
dan kurangkulkan tangan kiriku di bahunya dan kupandangi
wajahnya, sambil kukatakan, "War cobalah ceritakan
masalahmu itu dan biar Oom bisa mengetahui
permasalahanmu itu".

War tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak
lama kemudian, sambil menyeka air matanya dia membuka
matanya dan memandang ke arahku yang jaraknya antara
wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali.
"Oom...", katanya seperti akan memulai bercerita, tapi
lalu dia diam lagi. "War...", kataku sambil kucium
pipinya dan kuusap-usapkan jari tangan kananku di
rambutnya, "cerita lah".

Lalu War mulai bercerita dan dia menceritakan secara
panjang lebar soal kehidupan keluarganya yang miskin,
dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang pacarnya di
sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan
sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar
baru di kelasnya dan dia juga menceritakan kalau orang
tuanya sudah menjodohkan dengan tetangganya yang sudah
punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak
terlalu jauh dari rumah War dan dia harus segera
berhenti dari sekolahnya karena akan dikawinkan pada
bulan Maret akan datang. War katanya kepingin sekolah
dulu dan belum pingin kawin, apalagi kawin dengan orang
yang sudah punya Istri dan anak. War punya keinginan mau
lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau ke mana. War
juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta
kepada kawan sekolahnya itu, apalagi dia sudah telanjur
pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan dulu,
walaupun katanya dia tidak yakin kalau punya pacarnya
itu sudah masuk ke vaginanya apa belum, karena belum
apa-apa sudah keluar katanya.

"Jadi..., gimana.., Oom.., apa yang harus saya perbuat
dengan masalah ini, katanya setelah menyelesaikan
ceritanya.
"War", kataku sambil kembali kuelus-elus rambutnya dan
kucium pipinya di dekat bibirnya.
"War..., masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan
lamaran tetanggamu itu. Begini saja War..., sebaiknya
kamu minta kepada orangtuamu untuk menunda perkawinan
itu sampai kamu selesai sekolah. Bilang saja..., kalau
ujian SMA-mu hanya tinggal beberapa bulan lagi".
"Katakan lagi..., sayang kalau biaya yang telah
dikeluarkan selama hampir tiga tahun di SMA harus hilang
percuma tanpa mendapatkan Ijasah. War..., sewaktu kamu
mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan
lemah lembut, mudah-mudahan saja orang tuamu mau
mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu
itu".
"Kalau orang tuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi
untuk menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa
dipikirkan kemudian".
Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali
kucium pipinya seraya kutanya..., "War..., bagaimana
pendapatmu dengan saran Oom ini?".
Seraya saja War bangkit dari tidurnya dan memelukku
erat-erat sambil menciumi pipiku dan berkata, "Ooom...,
terima kasih.., atas saran Oom ini..., belum terpikir
oleh saya sebelumnya hal ini..., Oom sangat baik
terhadap War entah bagaimana caranya saya membalas
kebaikan Oom", dan terasa air matanya menetes di pipiku.

Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan War
telentang dan kulihat dari matanya yang tertutup itu
sisa air matanya dan segera kucium kedua matanya dan
sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan ke hidungnya
dan terus turun ke pipi kirinya, setelah itu kugeser
ciumanku mendekati bibirnya. Karena War masih tetap diam
dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan
secara perlahan-lahan kugeser ciumanku ke arah bibirnya,
dan tiba-tiba saja War menerkam dan memelukku serta
mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup. Aku
berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan ke
dalam mulutnya dan War mengisapnya. Sambil tetap
berciuman, kurebahkan badannya lagi dan tangan kananku
segera kuletakkan tepat di atas buah dadanya yang terasa
sangat kenyal dan sedikit kuremas. Karena tidak ada
reaksi yang berlebihan serta War bukan saja mencium
bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu persatu kancing
baju SMU-nya berhasil kulepas dan ketika kusingkap
bajunya, tersembul dua bukit yang halus tertutup BH
putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar.

Ketika kucoba membuka baju sekolahnya dari tangan
kanannya, War kelihatannya tetap diam dan malah membantu
dengan membengkokkan tangannya. Setelah berhasil melepas
baju dari tangan kanannya, segera kucari kaitan BH-nya
di belakang dan dengan mudah kutemukan serta kulepaskan
kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman,
kadang dibibir dan sesekali di seluruh wajah bergantian.
BH-nya pun dengan mudah kulepas dari tangan kanannya dan
ketika kusingkap BH-nya, tersembul buah dada War yang
ukurannya tidak terlalu besar tapi menantang dan dengan
puting susunya berwarna kecoklatan.

Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan payudara
kanannya, kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus
ke bawah dan sesampainya di payudaranya, kujilati
payudara War yang menantang itu dan sesekali kuhisap
puting susunya, sementara War meremas-remas rambutku
seraya terdengar suara lirih, "aahh..., aahh...,
ooomm..., ssshh..., aahh". Aku paling tidak tahan kalau
mendengar suara lirih seperti ini, serta merta penisku
semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap
menjilati dan menghisap payudara War, kugunakan tangan
kananku untuk menelusuri bagian bawah badan War.

Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus
vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah.
Sambil masih tetap menjilati payudara War, kugunakan
jari tanganku menyusup masuk dari samping CD-nya untuk
mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan kuelus,
badan War terasa menggelinjang dan membukakan kakinya
serta kembali terdengar, "aahh..., ssshh..., ssshh...,
aahh". Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara
War mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku
yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan untuk
mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya
untuk segera kulepas. Untung saja rok sekolah yang
dipakai adalah rok standard yaitu ada kaitan sekaligus
ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka
kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi
longgar di badan War.

Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku
menelusuri perut War seraya tanganku berusaha menurunkan
roknya. Roknya yang sudah longgar itu dengan mudah
kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War
mengenakan CD warna merah muda dan kulihat juga
vaginanya yang menggunung di dalam CD-nya.

Badan War menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut
dan pada saat ciumanku mencapai CD di atas gunungan
vaginanya, gelinjang badan War semakin keras dan
pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya
yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras
serta sesekali memanggil, "ssshh..., aahh..., ssshht...,
ooom..., aahh". Sambil kujilati lipatan pahanya,
kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya
terbuka, kuperhatikan vagina War masih belum banyak
ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan vaginanya
dan basah.

Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki War yang
masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara
kedua paha War sambil merenggangkan kedua pahanya.
Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan kujilati
belahan vaginanya yang agak terbuka akibat pahanya
kubuka agak lebar. Bersamaan dengan jilatanku itu,
tiba-tiba War bangun dari tidurnya dan berkata, "Jaa...,
ngaan..., Ooom", sambil mencoba mengangkat kepalaku
dengan kedua tangannya.

Karena takut War akan marah, maka dengan terpaksa aku
bangkit dan kupeluk War serta berusaha menidurkannya
lagi sambil kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya.
War tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali
berciuman dan War sepertinya lebih bernafsu dari
sebelumnya dan lebih agresif menciumi seluruh wajahku.
Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju dan
BH War yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas,
War sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya
membantuku dengan memiringkan badannya agar bajunya
mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku
berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.

Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk
CD-ku, lalu dengan harap-harap cemas karena aku takut
War akan menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya
selalu di samping kiri atau kanan badan War, sekarang
aku naik di atas badan War. Perkiraanku ternyata salah,
setelah aku ada di atas badan War, ternyata dia malah
memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali
menekan-nekan. Dalam posisi begini, terasa penisku agak
sakit karena tertindih di antara badanku dan paha War.
Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk
mencari posisi yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku
terangkat, kurasakan War malah merenggangkan kedua
kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak
kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian
tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang
terasa penisku berada di atas vagina War. War masih
memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi
seluruh wajahku.

Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya,
kuturunkan tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan
badanku, perlahan-lahan kuelus vagina War yang
menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang
bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan
War serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari
tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam
vaginanya, terasa vagina War sangat basah dan kurasakan
badan bawah War bergerak perlahan-lahan sepertinya
mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan
meraba bagian dalam vaginanya dan sesekali kupermainkan
clitorisnya dengan jari-jariku sehingga War sering
berdesis, "Ssshh..., ssshh..., aahh..., ssshh", sambil
kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku.

Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan
jariku, kemudian kulepaskan jariku dari vagina War dan
kugunakan tangan kananku untuk memegang penisku serta
segera saja penisku kuarahkan ke vagina War sambil
kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian
dalam vagina War, serta kembali kudengar desis suaranya,
"ssshh..., ssshh..., ooom..., aahh..., ssshh", dan
pantatnya diangkat naik turun pelan-pelan. Karena
kulihat War sudah sangat terangsang nafsunya, segera
saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku
ke arah bawah bagian vaginanya dan setelah kurasa pas,
segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan-pelan
penisku k edalam vagina War.

Kuperhatikan wajah War agak mengerenyit seperti menahan
rasa sakit serta menghentikan gerakan pantatnya serta
bersuara pelan tepat di dekat telingaku, "Aduuuhh...,
ooomm..., Jangaannn..., sakiiittt..., Asiihh..,
takuuut., Oom". Mendengar suaranya yang sedikit menghiba
itu, segera kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus
dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan,
"Tidak..., apa-apa..., sayaang..., Oom..., pelan-pelan
saja..., kok", untuk menenangkan ketakutan War. War
tidak segera menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja
dengan tetap masih memelukkan kedua tangannya di
punggungku.

Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya,
segera secara perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku
ke dalam vaginanya dan terdengar lagi War berkata lirih
di dekat telingaku, "Aduuuhh..., sakiiittt..., ooom...,
Asihh.., takuuut", padahal kurasakan kalau War mulai
lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan.

Mendengar kata-katanya yang lirih ini, kembali
kuhentikan tusukan penisku tapi masih tetap ditempatnya
yaitu di lubang vaginanya, dan kembali kuciumi bibir dan
wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil kubisiki,
"Takut apa sayang..". War tidak segera menjawab
pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan
ciumanku di bibirnya dan War mulai lagi melayani
ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang kujulurkan ke
dalam mulutnya dan kurasakan War mulai memindahkan kedua
tangannya dari punggung ke atas pantatku. Aku tetap
bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk
menusukkan penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap
lidahku, kurasakan kedua tangan War sedikit menekan
pantatku, entah perintah supaya aku menusukkan penisku
ke vaginanya atau hanya perasaanku saja.

Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman,
kutunggu reaksi War selanjutnya. Ketika ciumanku
kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat War
berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali
kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku. Lalu
kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti,
kembali kutekan penisku ke dalam liang kewanitaannya,
tapi War tidak kuberi kesempatan untuk berkata-kata
karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan penisku
makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata
War menutup rapat-rapat seperti menahan sakit.

Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu
sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan ke
dalam vagina War dan, "Bleeesss", terasa penisku
sepertinya sudah menembus vagina War dan, "aahh...,
sakiiit..., ooom

Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus
vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah.
Sambil masih tetap menjilati payudara War, kugunakan
jari tanganku menyusup masuk dari samping CD-nya untuk
mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan kuelus,
badan War terasa menggelinjang dan membukakan kakinya
serta kembali terdengar, "aahh..., ssshh..., ssshh...,
aahh". Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara
War mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku
yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan untuk
mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya
untuk segera kulepas. Untung saja rok sekolah yang
dipakai adalah rok standard yaitu ada kaitan sekaligus
ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka
kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi
longgar di badan War.

Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku
menelusuri perut War seraya tanganku berusaha menurunkan
roknya. Roknya yang sudah longgar itu dengan mudah
kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War
mengenakan CD warna merah muda dan kulihat juga
vaginanya yang menggunung di dalam CD-nya.

Badan War menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut
dan pada saat ciumanku mencapai CD di atas gunungan
vaginanya, gelinjang badan War semakin keras dan
pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya
yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras
serta sesekali memanggil, "ssshh..., aahh..., ssshht...,
ooom..., aahh". Sambil kujilati lipatan pahanya,
kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya
terbuka, kuperhatikan vagina War masih belum banyak
ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan vaginanya
dan basah.

Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki War yang
masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara
kedua paha War sambil merenggangkan kedua pahanya.
Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan kujilati
belahan vaginanya yang agak terbuka akibat pahanya
kubuka agak lebar. Bersamaan dengan jilatanku itu,
tiba-tiba War bangun dari tidurnya dan berkata, "Jaa...,
ngaan..., Ooom", sambil mencoba mengangkat kepalaku
dengan kedua tangannya.

Karena takut War akan marah, maka dengan terpaksa aku
bangkit dan kupeluk War serta berusaha menidurkannya
lagi sambil kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya.
War tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali
berciuman dan War sepertinya lebih bernafsu dari
sebelumnya dan lebih agresif menciumi seluruh wajahku.
Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju dan
BH War yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas,
War sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya
membantuku dengan memiringkan badannya agar bajunya
mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku
berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.

Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk
CD-ku, lalu dengan harap-harap cemas karena aku takut
War akan menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya
selalu di samping kiri atau kanan badan War, sekarang
aku naik di atas badan War. Perkiraanku ternyata salah,
setelah aku ada di atas badan War, ternyata dia malah
memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali
menekan-nekan. Dalam posisi begini, terasa penisku agak
sakit karena tertindih di antara badanku dan paha War.
Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk
mencari posisi yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku
terangkat, kurasakan War malah merenggangkan kedua
kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak
kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian
tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang
terasa penisku berada di atas vagina War. War masih
memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi
seluruh wajahku.

Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya,
kuturunkan tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan
badanku, perlahan-lahan kuelus vagina War yang
menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang
bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan
War serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari
tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam
vaginanya, terasa vagina War sangat basah dan kurasakan
badan bawah War bergerak perlahan-lahan sepertinya
mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan
meraba bagian dalam vaginanya dan sesekali kupermainkan
clitorisnya dengan jari-jariku sehingga War sering
berdesis, "Ssshh..., ssshh..., aahh..., ssshh", sambil
kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku.

Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan
jariku, kemudian kulepaskan jariku dari vagina War dan
kugunakan tangan kananku untuk memegang penisku serta
segera saja penisku kuarahkan ke vagina War sambil
kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian
dalam vagina War, serta kembali kudengar desis suaranya,
"ssshh..., ssshh..., ooom..., aahh..., ssshh", dan
pantatnya diangkat naik turun pelan-pelan. Karena
kulihat War sudah sangat terangsang nafsunya, segera
saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku
ke arah bawah bagian vaginanya dan setelah kurasa pas,
segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan-pelan
penisku k edalam vagina War.

Kuperhatikan wajah War agak mengerenyit seperti menahan
rasa sakit serta menghentikan gerakan pantatnya serta
bersuara pelan tepat di dekat telingaku, "Aduuuhh...,
ooomm..., Jangaannn..., sakiiittt..., Asiihh..,
takuuut., Oom". Mendengar suaranya yang sedikit menghiba
itu, segera kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus
dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan,
"Tidak..., apa-apa..., sayaang..., Oom..., pelan-pelan
saja..., kok", untuk menenangkan ketakutan War. War
tidak segera menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja
dengan tetap masih memelukkan kedua tangannya di
punggungku.

Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya,
segera secara perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku
ke dalam vaginanya dan terdengar lagi War berkata lirih
di dekat telingaku, "Aduuuhh..., sakiiittt..., ooom...,
Asihh.., takuuut", padahal kurasakan kalau War mulai
lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan.

Mendengar kata-katanya yang lirih ini, kembali
kuhentikan tusukan penisku tapi masih tetap ditempatnya
yaitu di lubang vaginanya, dan kembali kuciumi bibir dan
wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil kubisiki,
"Takut apa sayang..". War tidak segera menjawab
pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan
ciumanku di bibirnya dan War mulai lagi melayani
ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang kujulurkan ke
dalam mulutnya dan kurasakan War mulai memindahkan kedua
tangannya dari punggung ke atas pantatku. Aku tetap
bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk
menusukkan penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap
lidahku, kurasakan kedua tangan War sedikit menekan
pantatku, entah perintah supaya aku menusukkan penisku
ke vaginanya atau hanya perasaanku saja.

Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman,
kutunggu reaksi War selanjutnya. Ketika ciumanku
kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat War
berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali
kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku. Lalu
kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti,
kembali kutekan penisku ke dalam liang kewanitaannya,
tapi War tidak kuberi kesempatan untuk berkata-kata
karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan penisku
makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata
War menutup rapat-rapat seperti menahan sakit.

Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu
sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan ke
dalam vagina War dan, "Bleeesss", terasa penisku
sepertinya sudah menembus vagina War dan, "aahh...,
sakiiit..., ooom….", kudengar suara War sambil seperti
menahan rasa sakit dan berusaha menarik pantatku. Untuk
sementara tidak kugerakkan pantatku dan setelah kulihat
War mulai tenang dan kembali mau menciumi wajahku, lalu
perlahan-lahan kutekan penisku yang sudah menembus
vaginanya supaya masuk lebih dalam lagi.

"aahh..., oom..., pelan..., pelaan..", kudengar War
berkata lirih.
"Iyaa..., sayaang..., ooom pelah-pelan", jawabku serta
kubelai rambutnya. Setelah kudiamkan sebentar, lalu
kugerakkan pantatku naik turun sangat pelan agar War
tidak merasa kesakitan, dan ternyata berhasil, wajah War
keperhatikan tidak tegang lagi sehingga pergerakan
penisku keluar masuk vagina War sedikit kupercepat dan
belum berapa lama terdengar suara War, "ooom...,
ooom..., aaduuuhh..., ooomm..., aahh", sambil kedua
tangannya mencengkeram punggungku dengan kuat dan
menciumi keseluruhan wajahku dengan sangat bernafsu dan
badannya berkeringat, lalu War berteriak agak keras,
"aahh..., ooomm..., aduuuhh..", lalu War terkapar dan
terdiam lemas dengan nafas terengah-engah. Rupanya Aku
yakin kalau War sudah mencapai orgasmenya padahal
nafsuku baru saja akan naik. Karena kulihat War
sepertinya sedang kelelahan dengan kedua matanya
tertutup rapat, jadi timbul rasa kasihanku, lalu sambil
kuseka keringat wajahnya kuciumi pipi dan bibirnya
dengan lembut, tapi War tidak bereaksi dan tanpa kuduga
di gigitnya bibirku yang sedang menciumnya seraya
berkata lirih, "ooom..., nakal..., yaa, War baru sekali
ini merasakan hal seperti tadi", sambil mencubit
punggungku. Aku tidak menjawab komentarnya tapi yang
kuperhatikan adalah nafasnya sudah mulai teratur dan
secara perlahan-lahan aku mulai menggerakkan penisku
lagi keluar masuk vagina War.

Kuperhatikan War mulai terangsang lagi, War mulai
menghisap bibirku dan mulai mencoba menggerakkan
pantatnya pelan-pelan dan gerakannya ini membuat penisku
seperti di pelintir keenakan. Gerakan penisku keluar
masuk semakin kupercepat dan demikian juga War mulai
makin berani mempercepat gerakan putaran pantatnya,
sambil sesekali kedua tangannya yang dipelukkan
dipinggangku berusaha menekan sepertinya menyuruhku
untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya lebih dalam
lagi dan kudengar War mulai bersuara lagi..., "aahh...,
aahh..., ooohh..., oomm..., aah", dan tidak terasa
akupun mulai berkicau, "aacchh..., aahh..., Siiihh...,
enaakk..., teruuus..., Siiih". Ketika nafsuku sudah
mulai memuncak dan kudengar juga nafas War semakin
cepat, dengan perlahan-lahan kupeluk badan War dan
segera kubalik badannya sehingga sekarang War sudah
berada di atasku dan kupelukkan kedua tanganku di
pantatnya, sedangkan wajah War ditempelkan di wajahku.
Dengan sedikit makan tenaga, kucoba menggerakkan
pantatku naik turun dan setiap kali pantatku naik,
kugunakan kedua tanganku menekan pantat War ke bawah dan
bisa kurasakan kalau penisku masuk lebih dalam di vagina
War, sehingga setiap kali kudengar suaranya sedikit
keras, "aahh..., oooh". Dan mungkin karena keenakan,
sekarang gerakan War malah lebih berani dengan
menggerakkan pantatnya naik turun sehingga kedua
tanganku tidak perlu menekannya lagi dan setiap kali
pantatnya menekan ke bawah sehingga penisku serasa masuk
semuanya di vagina War, kudengar dia bersuara keenakan,
"Aahh..., aah disertai nafasnya yang semakin cepat,
demikian juga aku sambil berusaha menahan agar maniku
tidak segera keluar.

Gerakan War semakin cepat saja dan kurasakan wajahnya
semakin ditekankan ke wajahku sehingga kudengar nafasnya
yang sangat cepat itu di dekat telingaku dan,
"Aduuuh..., aahh..., aahh..., ooomm.., War..., mauuu..,
keluaar..., aah".
"Tungguuu..., Waarrr.., kitaa..., samaa..., samaa.,
ooom.., Jugaa.., mauuu..., keluarr".
"aahh..., aahh..., ooomm", teriak War sambil mengerakkan
pantatnya menggila dan akupun karena sudah tidak tahan
menahan maniku dari tadi segera kegerakkan pantatku
lebih cepat dan, "Crreeettt..., ccrreeett...,
ccccrrreeett..., dan "aahh..., siiihh..., ooom keluaar",
sambil kutekan pantat War kuat-kuat.

Setelah beristirahat sebentar, kuajak War ke kamar mandi
untuk membersihkan badan dan War kembali menjatuhkan
badannya di tempat tidur, mungkin masih merasakan
kelelahan. Tak terasa jam sudah menunjukkan hampir jam
12 siang dan segera saja kupesan makan siang.