Thursday, May 3, 2007

SELINGKUH 1

Orang yang paling senang mendengar berita kehamilanku adalah Meika.
“Wuaaahhhhh!!! Selamat ya! Mmmuuaach! Muuaachh! Muaacchh!…. mmmuuu….”
“Sudah, sudah ah Ka….”
“Belon! Waduh! Gua seneng banget. Huaebaat bangeett!!”
“Hebat apanya? Udah kawin ya terus hamil, ya biasa aja ‘kan?”
“Ngga biasa! Apalagi si Ko Han-Han itu udah pengin banget. Dan gua juga pengin
keponakan…. hihihi… buat nemenin si Erick.”
“Erick kan udah ampir dua taon.”
“Justru itu! Jadi dia punya dedek!”
“Ka, emangnya kamu gak mau nambah anak lagi?”
Mendadak, Meika diam. Ooops, aku salah bertanya. Aku tahu, Robby, suaminya,
sudah tidak begitu hangat lagi. Apalagi, sekarang ini Meika mulai mendapat karir
sebagai pengusaha wanita yang sukses, sebaliknya Robby malah kena PHK.
Pesangonnya sih besar, tapi kebanggaan laki-laki kan pekerjaan… tapi, memang
dari dulu si Robby begitu. Agak malas. Maunya bersenang-senang. Ngeseks. Duh,
seandainya saja Meika waktu itu tidak hamil….
Sementara itu, ternyata hamil bukan sesuatu yang menyenangkan. Aku mabok di pagi
hari, muntah di siang hari, lemas di sore hari, pokoknya serba tidak karuan
rasanya. Untungnya ada Rena, yang sekarang terbukti benar-benar jadi malaikat
bagi keluarga kami. Dia betul-betul berubah; sekarang setiap pulang sekolah,
Rena selalu membereskan rumah, mencuci pakaian, dan mulai belajar memasak. Aku
tahu caranya memasak, tetapi sejak hamil ini aku tidak tahan mencium bau bawang.
Jadi, aku hanya memberi petunjuk, lalu terbaring lemah di ranjang. Rena yang
mengerjakan ini dan itu.
Hansen yang sudah mau jadi Ayah, malah semakin sibuk keliling ASEAN. Aku tahu,
masalahnya kami selama ini belum punya cukup banyak tabungan untuk biaya-biaya.
Kalau hanya untuk melahirkan sih ada, tetapi sesudahnya? Kami kan harus
mempersiapkan biaya perawatan bayi, lalu sekolah, lalu ini dan itu. Jaman
sekarang, punya anak itu mahal! Sekali lagi, aku terbantu karena Meika sekarang
rajin menelepon, dan setiap kali aku butuh bantuan ke dokter, Meika muncul
dengan Honda Jazz-nya. Enak ya, walau hamilnya bikin lemas, tetapi dari sana dan
sini, terutama dari sobat baikku yang sekarang jadi saudara iparku, ada segala
pertolongan yang dibutuhkan.
Sekali waktu, Meika seperti biasa pagi-pagi datang dengan Robby, yang masih
menganggur. Suaminya bosan di rumah, dan mau jadi sopir bagi kami berdua —
mengapa tidak? Tapi, kali itu Robby kelihatan tidak enak badan. Mungkin kurang
tidur. Jadi, aku dan Meika pergi ke dokter berdua saja, sementara Robby tidur di
sofa. Toh waktu itu rumah kosong, karena Rena masih sekolah sampai sore.
Aku tidak berpikiran apa-apa, waktu menjumpai Rena duduk termenung di ruang
tengah, di malam hari ketika aku sampai kembali ke rumah, sedang Robby dan Meika
juga terus pulang. Aku mulai heran ketika dua minggu kemudian, Meika mengajakku
pergi belanja keperluan bayi, sementara Robby lagi-lagi mengatakan tidak enak
badan. Ketika pulang, lagi-lagi aku menemukan Rena seperti amat tertekan.
Akhirnya, ketika dua minggu berikutnya aku ke dokter dengan kondisi yang sama
terjadi lagi — ketiga kalinya — aku terus menginterogasi Rena. Apa yang terjadi?
Sungguh mengejutkan.
Ketika pertama kali Robby tinggal di rumah, ia memang tidur — sampai tahu-tahu
Rena pulang dari sekolah. Seperti biasa, gadis itu masuk dari pintu belakang,
menaruh sepatu di rak, lantas masuk ke dalam. Rena terkejut menemui Robby yang
tertidur di sofa, tapi karena memang ia sudah kenal, jadi Rena tidak mengganggu
dan terus masuk ke kamarnya sendiri, berganti baju, dan seperti biasa mulai
membersihkan rumah. Ia memakai t-shirt yang panjang dan celana pendek, dengan
sendal jepit dan mulai dengan mencuci baju. Robby belum bangun. Rena kemudian
menyapu.
Di saat itulah, sedang asyiknya Rena menyapu, tiba-tiba ia dipeluk dari
belakang. Pelukan kuat.
“Ko Robby… lepasin dong!”
“Rena, kamu cantik sekali…. hhuuummppfff” Robby mencium leher Rena dari
belakang. Rena menjadi panik.
“Ko Robby…. sadar dong! Saya Rena! Adiknya Ka Meika!”
“Ya kenapa? Dulu Meika juga hot kayak kamu. Tetapi sekarang Meika dingin… lebih
panas kamu nih… Cuppp” Robby mempereat pelukannya dan mencupang leher Rena.
Gadis itu panik. Ia meronta. Tiba-tiba, Robby menjadi marah. Ia menampar Rena.
“Perek sialan! Lu pikir gua ngga tahu kelakuan elo? Lu pikir gua engga tahu
nafsunya elo? Dulu elo dientotin, sekarang juga pasti masih pengin! Kalo elo
bagi-bagi buat temen-temen, elo jangan pelit ama gua!” Sambil menghabiskan
kata-kata itu, Robby menampar sekali lagi. Rena terpelanting. Ia mendadak pusing
dan lemas. Robby serta merta menelentangkan Rena di atas karpet, lalu
menyingkapkan daster panjangnya hingga ke perut. Dengan cepat direnggutnya
celana dalam krem itu. Kemaluan Rena sekali lagi terpampang di hadapan seorang
laki-laki.
Robby menyeringai melihat kemaluan gadis itu, yang masih berwarna kemerahan.
Bagaimanapun masih rapat, jauh berbeda dari kemaluan perempuan yang pernah
melahirkan. Robby mencium bibir kemaluan Rena, mengeluarkan lidahnya dan mulai
menjilati bibir dan kelentit kemaluan Rena, yang sudah beberapa bulan dijaganya
baik-baik. Rena memekik ngeri. Di satu sisi, ia marah dan terhina, juga bingung
bagaimana suami kakak sepupunya dapat berbuat semacam ini terhadap dirinya. Di
sisi lain, ia mulai merasakan apa yang dahulu pernah dirasakan, yang pernah
disukai sekaligus ditolaknya.
Tubuh gadis itu seperti mengkhianati pemiliknya sendiri. Betapa pun Rena tidak
menyukainya, lidah yang kasar di bibir memeknya, di kelentitnya, membuatnya
basah. Kedua pahanya otomatis terkangkang lebih lebar, sedang kedua tangannya
menahan kepala Robby tetap ada di kemaluan. Menjilat. Rena merasakan apa yang
selama ini didambakan, hasrat biologis yang tidak pernah dipuaskan lagi,
walaupun ia sendiri amat tidak ingin. Tidak mau! Tapi geloranya tidak
tertahankan. Vagina itu sudah lama ingin dijamah, disentuh….dimasuki. Sekarang
terasa gatal.
Robby kesetanan dengan vagina indah yang ada di mukanya. Secantik-cantiknya
Meika, seseksi-seksinya istri, memang Rena lebih cantik. Lebih putih, tinggi,
langsing, sensual, dan ada yang istimewa dengan memeknya. Ketika terangsang,
memek gadis ini bergetaran, berkedut-kedut dengan cepat. Ia semakin asyik
mencium dan mengulum, sehinggak tak sampai 15 menit kemudian, Rena mencapai
orgasmenya.
“Ko Robby….janggaaaaannn…. aauuuuhhh….. oh oh OH! AAAHHHHH!!!” Orgasme yang
hebat, sampai Rena mengejang kuat, matanya membelalak, tak tahan dengan
geloranya. Tetapi, Rena tidak puas, karena vaginanya masih rapat. Belum ada
sesuatu yang masuk ke dalam, padahal rasanya sudah gatal sekali. Ingin sekali.
Robby juga sangat ingin, sehingga ia dengan tergesa-gesa membuka celananya,
memelorotkan celana dalamnya, dan batang kemaluan yang mengeras itu sudah
memanjang. Sudah lama Robby tidak merasa terangsang seperti ini, begitu kuat,
sampai tidak dapat berpikir panjang lagi. Ia mengangkangkan kedua kaki Rena
lebar-lebar, sejenak memandang kepada memek yang berwarna merah muda, basah
berlendir, menggoda. Kemudian, Robby menurunkan ujung penisnya yang bulat dan
besar dan berurat itu. Masuk.
Rena menggelinjang. Sudah berbulan-bulan tidak ada penis yang masuk ke memeknya,
padahal dahulu dalam sehari ia bisa dimasuki tiga orang, dan hampir setiap hari
begitu. Rena tidak pernah suka, selalu merasa terhina, tapi yang paling
menakutkannya adalah karena ia menikmati orgasme demi orgasme yang diberikan
para laki-laki itu, betapapun mereka berlaku kasar dan jorok. Robby juga tidak
kalah kasar, ia menghujamkan penisnya yang besar itu dalam-dalam.
Rena merintih. Ini lebih besar daripada penis manapun yang pernah memasukinya.
Lebih panjang. Dan lebih ahli, karena Robby dengan pandainya merangsang gadis
itu dengan ciuman, dengan remasan, sementara ia mulai bergerak maju mundur.
Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat.
“Ko Robby… Ko Robby!”
“Enak kan, sayang?” Rena memejamkan matanya. Menggigit bibirnya. Ia tidak suka,
tetapi sekaligus ingin. Butuh. Harus. Ia memaki diri karena mau saja dilanggar
suami kakak sepupu sendiri, bahkan sekarang ia membantu menggerakkan pantat
Robby agar lebih kuat menghujamkan senjatanya. Rena dengan cepat mencapai
orgasmenya yang kedua, yang rupanya cukup membuat Robby juga tidak tahan.
Laki-laki itu dengan cepat mencabut penisnya, lalu diarahkan ke perut Rena.
Menyembur. Muncrat sampai ke mukanya, beberapa mengenai bibir dan hidung Rena,
cairan kental putih yang Rena tahu betul rasanya. Rena berharap, sudah selesai.
Ia sudah capai, sudah lelah menahan beban diri. Robby juga sudah puas, bukan?
Lihatlah, penisnya mulai mengecil.
“Ko Robby…. sudah yah. Udah.” Rena tidak mau bicara lebih banyak lagi. Ia takut
pada laki-laki yang kurang ajar itu. Gadis ini segera bangkit, mengambil celana
dalamnya yang terlempar, lalu tertatih-tatih masuk ke kamar mandi. Menguncinya.
Membersihkan dirinya, dan di dalam sana Rena menangis terisak-isak. Di luar,
Robby merasa cukup puas, dengan santainya ia memakai baju lagi dan kemudian
duduk merokok di teras, sampai Meika dan Diana pulang dari dokter.
Dua minggu kemudian, Rena hampir melupakan semua itu, apalagi ternyata ia masih
mendapatkan mens-nya. Rena senang, setidaknya ia selamat dari suatu keadaan yang
lebih buruk: hamil. Justru setelah datang bulan, Rena menjadi lebih ceria, dan
siang itu ia pulang ke rumah tanpa prasangka apa-apa.
Hanya, ternyata di rumah kembali ada Robby. Laki-laki menyeringai kembali,
seperti serigala buas. Mengapa dunia penuh dengan serigala? Atau buaya?
“Ko Robby…. jangan…. Rena lagi mens…”
“Gua kangen sama kamu… sini!” Mulutnya mengatakan rindu, tetapi tangannya
menjambak rambut Rena. Gadis itu bahkan belum sempat menaruh tas atau berganti
baju. Gadis itu gemetar, takut. Laki-laki ini brutal dan urakan. Mengapa Kak
Meika mau sama orang seperti ini, menjadi suami? — dia tidak tahu, dulu Robby
tidak seperti itu. Tetapi ternyata pernikahan dan kegagalan karir telah
merubahnya, membangkitkan monster yang selama ini hanya kelihatan ekornya.
“Gua ingin dioral sama elo. Gua udah lama gak onani. Nih, cium!”
Rena pikir, oral saja sampai ejakulasi, lantas selesai. Sudah. Lebih cepat lebih
baik. Maka siang itu Rena mencium, menjilat, mengulum batang kemaluan yang merah
besar. Tak sampai lima belas menit, ia mulai merasakan kedutan-kedutan,
sementara Robby mengerang-ngerang. Sesaat lagi, maka semburan-semburan mani
memenuhi mulut Rena. Dengan patuh ia menelannya, menghisapnya, membersihkan
dengan lidah dan bibirnya. Rena merasa enak, tapi tidak suka. Ia mendambakan
rasa asin di mulutnya ini, tetapi tidak menginginkannya. Bukan dari orang ini.
Setelah penis Robby melemas, Rena segera bangkit dan masuk kamar, menguncinya.
Sekali lagi ia menangis di ranjang, sementara masih ada sisa-sisa mani di ujung
bibirnya yang indah.
Dua minggu kemudian, hal yang sama terulang kembali. Kali ini Robby yang sudah
berhitung tahu bahwa Rena sudah bersih dari mens, jadi begitu pulang sekolah, ia
tidak diberi kesempatan untuk melakukan apa-apa, selain menjadi objek
pelampiasan seks Robby yang semakin menjadi-jadi. Laki-laki itu membuka semua
kancing baju Rena, membuka BHnya, melepas rok abu-abunya, memelorotkan celana
dalamnya, lalu mulai beraksi dengan tangan dan mulutnya.
Rena merintih, merasakan bagaimana mulut Robby menciumi ketiaknya, seluruh
teteknya, lantas menghisap putingnya, sementara tangan yang kiri meremas tetek
lain dan tangan kanan meremas gundukan di selangkangan. Setelah beberapa saat,
Robby mengeluarkan penisnya, lalu langsung menusukkan dengan cepat ke vagina
yang sudah basah itu. Ia menggerakkan tubuhnya dengan cepat, dan selama lima
menit berikut dengan kekuatan yang menghentak, menghujamkan penisnya
dalam-dalam, menarik keluar, menghujamkan lagi.
Rena seperti melayang ke langit, tubuhnya menikmati laki-laki yang sedang
menyetubuhinya itu. Ia tidak menolak ketika Robby menyuruhnya menungging, “doggy
style” dan mulai menusuk dari belakang. Rena hampir mencapai orgasme ketika
tiba-tiba Robby mencabut penisnya, lalu mengarahkan batang yang sudah licin itu
ke duburnya. Rupanya Robby baru memperhatikan kalau dubur Rena lebih besar,
seperti sudah pernah dimasuki. Disodomi. Dan Robby ingin merasakan lubang lain
ini.
Ia menusuk. Rena memekik. Sakit. Enak. Robby memakai jari-jari tangannya untuk
menarik liang memek Rena, sementara penisnya amblas semua di lubang pantat gadis
itu. Rena seperti terlontar, orgasmenya datang lebih cepat. Robby juga merasakan
jepitan kuat di pangkal, kedutan otot-otot vagina yang kuat dari gadis remaja
ini, hingga tak lama kemudian ia memuntahkan semua maninya di dubur Rena, hampir
bersamaan dengan orgasme Rena yang dahsyat.
“Uhhh.. Ko Robby jahat! Jahat!”
“Tapi elo enak kan?”
“Nggak! Nggak!….” Rena memaksa melepaskan diri dari penis laki-laki yang masih
menancap di duburnya itu, lalu mengambil seluruh bajunya yang berserakan dan
hampir setengah berlari ia masuk ke kamar. Ia merasa bingung. Agak gila. Robby
sudah mengentoti memeknya, mulutnya, juga anusnya. Dan Robby benar, memang enak.
Rena merasa dirinya rendah, seperti perek, yang tidak bisa menahan nafsunya.
Begitulah cerita Rena malam hari itu, dan setelah bercerita Rena terus menangis
sesunggukan di pangkuanku. Aduh, betapa kasihannya Rena, yang cantik, yang baik,
yang seharusnya bisa mendapatkan pria yang pantas baginya. Dan aku pun bingung,
bagaimana membereskan masalah ini? Bagaimana mengatakan kepada Meika, bahwa
suaminya sudah tiga kali memperkosa Rena? Dan bagaimana pula menjelaskan,
sementara Meika pun sudah tahu kelakuan Rena dahulu?
Pasti ia akan mempersalahkan Rena. Padahal, Rena sendiri sudah setengah mati
mempersalahkan dirinya sendiri. Orang sudah merasa cukup buruk, mengapa harus
dibuat menjadi semakin buruk? Rena sudah mau bertobat. Yang salah adalah Robby.
Tapi, bagaimana menunjukkannya?
“Rena… dengarkan.”
“Ya, Kak Di?”
“Orang mungkin berbuat salah dahulu. Dan orang masih diikat oleh dagingnya
sendiri sekarang. Tetapi, tidak berarti kamu harus menjadi buruk, atau
ditakdirkan menjadi perek, seperti yang kamu bilang. Kamu bukan perek. Kamu
adalah Rena, dan tidak ada yang bisa mengambil harga diri itu dari kamu.”
“Kak Di… tapi Rena memang sampah…. keterlaluan. Seharusnya Rena tidak sekolah.
Jadi pembantu saja. Jadi pelayan Kak Di.”
“Tidak Rena, kamu bukan sampah. Apa yang ada pada kamu, adalah berharga. Cantik.
Indah.”
“Udah dipake laki-laki. Banyak, Kak Di. Apa harganya?”
“Pikirkan, memangnya apa bedanya memek yang masih perawan, dengan yang sudah
dimasuki banyak laki-laki? Ini masalah kamu memandang diri kamu sendiri. Daging
kamu, memek kamu, tidak banyak berbeda. Harga kamu tidak terletak di sebuah
organ tubuh yang disebut kemaluan.
Kamu berharga senilai cara kamu menilai diri sendiri. Apa kamu mau menyerah dan
dibikin murah? Itu keputusan kamu. Kalau kamu menganggap diri kamu berarti,
tidak ada siapapun yang bisa merebutnya dari kamu. Sekalipun ada orang yang
menelanjangi kamu, lalu kamu dipake oleh seribu laki-laki sampai hampir setengah
mati, kamu tetap bernilai karena kamu ada.
Kamu lupa, Rena. Orang tidak dihargai dari apa yang dialaminya, dari apa yang
diperbuat orang terhadapnya. Orang berharga karena apa yang dapat diberikannya
pada orang lain. Walau kamu sudah disetubuhi banyak lelaki, kamu tetap bisa
melakukan sesuatu. Yang baik. Dan di sana ada harga dirimu, Rena. Itulah Rena
yang sesungguhnya.”
“Tapi aku sudah merusak orang lain. Saya sudah merusak Enita.”
“Betul, dan kamu sudah bertobat. Kamu sudah berubah, Rena. Kami berterima kasih
karena kamu hadir di sini. Kamu memberikan banyak. Seharusnya kamu menghargai
diri kamu sendiri atas semua yang kamu kerjakan. Kamu membuat aku bangga.”
Rena memelukku. Aku mengelusnya, hangat. Tiba-tiba, aku sudah merasa menjadi
seorang ibu, dan sedang memeluk anakku sendiri. Mudah-mudahan, apa yang singkat
ini memberi Rena kehidupan. Tapi, aku masih harus membereskan masalah Robby.
Karena aku tahu, aku nanti akan pergi dan Robby akan memperkosa Rena lagi. Dan
sementara itu, aku tidak bisa mengatakan apa-apa pada Meika. Aku hanya
menasihati Rena, agar lain kali jangan menyerah. Jangan takut. Lawan saja Robby.
Benar saja, pola yang sama terulang. Beberapa hari kemudian Robby datang dengan
Meika, dan ia mengatakan malas dan mau tinggal di rumahku, sementara Meika
mengajakku mencari kado untuk ulang tahun anak rekanannya. Sialan si Robby itu,
pikirku. Pasti ia menunggu Rena pulang dari sekolah. Tapi, kali ini harus
diakhiri. Harus berbeda.
Aku memperhatikan betul jam bubar sekolah Rena. Aku berhitung, ia akan sampai di
rumah jam satu lewat dua puluh. Jadi aku dan Meika harus sampai di rumah jam
setengah dua, tidak lebih dan tidak kurang. Tapi Meika tidak boleh tahu, jadi
aku sepanjang siang itu harus mengatur strategi agar waktunya tepat. Aku memberi
alasan bahwa aku baru ingat harus minum vitamin dari dokter, dan harus segera
pulang karena sudah jamnya.
Meika masih tetap ceria dan penuh canda, bahkan setengah mengebut ia membawaku
ke rumah. Jam 1:24pm. Aku mengajak Meika masuk lewat belakang, melalui jalan
yang biasa dipakai Rena. Aku melihat sepatunya sudah ada di rak. Rena sudah
pulang. Aku sengaja tidak membuka suara, malah menaruh jari di bibir menyuruh
Meika untuk tidak bersuara juga.
“Ada apa?” bisiknya.
Kami mendengar suara dari ruang dalam.
“Nggak Ko Robby…. jangan!”
“Eh…. perek sialan, kamu berani melawan yah?” Suara keras orang jatuh.
Braaaakkk! Aku meringis. Rena pasti sakit jatuh di lantai kayu, kalau suaranya
sekeras itu.
“Uuuhh… nggak Ko Robby, Rena nggak mau. Rena nggak mau!”
“Jangan membantah! Sini, buka celana elo, terus ngangkang!”
“Nggak mauuu!!”
“Eh, jangan lari!” Lalu terdengar suara lagi. GUBRAK! Kukira mereka berdua
kembali terjatuh, bergulingan di lantai kayu.
Meika tidak bisa menahan diri lagi. Perempuan mana yang tahan mendengar suaminya
sedang berniat memperkosa adik sepupu sendiri?
“ROBBY! SIALAN! LAKI-LAKI BAJINGAN!”
“Meika?”
Dengan kalap Meika mengambil kursi sofa — yang kecil dari kayu — lalu
melemparkannya tepat ke arah Robby. Laki-laki itu begitu kaget dan terkesima
sehingga tidak mengelak ketika kursi kayu itu menghantam pelipisnya. Ia
terbanting. Kepalanya berdarah. Robby tidak bergerak.
Aku setengah berlari segera menghampiri Rena. Ia sangat kesakitan, juga
ketakutan. Aku memeluknya. Ia menangis sesunggukan lagi, sambil memegangku
erat-erat.
Meika juga, setelah melihat suaminya terkapar dengan kepala berdarah, berlari
melihat keadaan Robby. Ia melihat Robby hanya merintih, dan tiba-tiba saja
murkanya meluap lagi. Dengan sepatunya yang runcing, Meika menendang dada Robby.
Pria itu begitu kesakitan, sehingga matanya seperti mau keluar. Ujung sepatu
Meika rupanya tepat menghantam dada kanannya, di sela-sela rusuk, dan rasanya
sakit bukan main.
“Meika, jangan! Ingat, Meika! Sadar!” seruku. Aku kuatir sebentar lagi Meika
membunuh Robby. Ini sudah keterlaluan.
“Pergi sana! PERGI!!!” jerit Meika. Sambil memegang dadanya, dengan kepala yang
masih berdarah dari pelipis, Robby melangkah keluar. Seperti anjing yang kena
pukul, dengan ekor yang terlipat di antara kedua kaki, ia tertunduk pergi.
Syukurlah. Orang itu masih cukup waras untuk tidak membalas istrinya. Kalau
Robby mengamuk, memangnya kami tiga perempuan ini bisa apa melawan kuatnya
laki-laki?
Ketika semuanya sudah berlalu, semua terasa seperti mimpi. Meika meminta cerai.
Robby meluluskan permintaan cerai itu, lalu ia melamar kerja di pertambangan di
Kalimantan, kemudian pergi dan tidak memberi kabar lagi. Meika yang amat
berduka, mengisi hari-harinya dengan merawat Erick, anak yang cakap itu.
Bagusnya Erick lebih mirip Meika daripada Robby, jadi ia tidak perlu mengingat
bahwa inilah hasil hubungan mereka berdua, yang bahkan tidak pernah mereka
rencanakan atau inginkan. Tapi kini Meika sangat menyayangi Erick.
Rena meneruskan sekolahnya dengan baik, dan ia bisa lulus dengan hasil yang
bukan main. Tidak banyak anak pindahan yang bisa lulus sebagai juara umum
sekolah, bukan? Lagipula ia cantik, baik hati, dan semakin pandai membawa diri.
Rena kini semakin dewasa, semakin matang oleh pengalaman, juga semakin rendah
hati karena tahu bagaimana buruknya diri manusia. Apa yang bisa dibanggakan dari
daging dan tulang dan darah, yang selalu berdesir oleh kuatnya nafsu?
Apa yang dialami Rena, juga apa yang telah dicapainya, rupanya meluluhkan hati
kedua orang tuanya. Mereka masih menyayangi putri mereka, apapun yang terjadi,
dan melihat bagaimana Rena bertobat telah menimbulkan kasih sayang mula-mula.
Jadi, Rena pindah kembali ke rumah orang tuanya…. untuk sementara.
Karena Rena kemudian masuk kuliah di kotaku, ia kembali tinggal denganku.
Menjadi pelamar paling cantik yang mendapat beasiswa.
Aku sendiri terus melahirkan secara normal, melahirkan seorang anak laki-laki
yang cakap, seperti Hansen. Anak menjadi berkah bagi kami, karena Hansen terus
menjadi asisten Direktur dan tidak lagi harus keliling ASEAN, hanya berselang
seminggu setelah kelahiran Roy, anakku ini.
Menyenangkan, bukan?