Wednesday, May 2, 2007

RENDEZVOUS

Sudah cukup lama Ratih menunggu Tom. Setengah jam lebih.
Sebelum akhirnya Tom tiba dan datang menemui Ratih yang
sedang duduk di sofa, di lounge sebuah hotel bintang
lima di kota Jakarta. Mereka akan mendiskusikan masalah
budget tahunan dari bagian Treasury yang harus
dikerjakan Ratih. Seperti diketahui, Tom atau nama
panjangnya Tommy Hudson yang berkebangsaan Inggris
adalah Treasury Head dan Ratih adalah Unit Manager pada
bagian Treasury sebuah Cabang Bank Asing di Jakarta.
Agar lebih santai mereka bersepakat untuk bertemu
setelah jam kantor di hotel tersebut untuk mendiskusikan
masalah budget tersebut.

Tom muncul dengan penampilan yang charming sore itu,
membuat Ratih agak terpesona. Tom mengenakan kemeja
favoritnya. Penampilan Tom sore ini benar-benar membuat
Ratih menilainya lebih dari orang-orang yang lalu lalang
di depan situ sepanjang sore ini. Tom tersenyum menyapa
Ratih, mereka berjabat tangan seperti umumnya dua orang
profesional yang akan membicarakan masalah bisnis. Tom
duduk di depan Ratih, lalu setelah sedikit berbasa-basi,
mereka membuka map masing-masing dan mulai membicarakan
angka-angka. Tom benar-benar menguasai bidangnya,
sehingga sejujurnya Ratih perlu berpikir keras untuk
bisa mengimbanginya dan mencari celah-celah yang bisa
menguntungkan unit yang dipimpin Ratih dalam hal
pengalokasian biaya.

Namun sepanjang pembicaraan, Ratih sering memergoki mata
Tom tidak selalu menatap kertas-kertas kerja mereka.
Pandangan Tom sering mengarah ke tempat-tempat lain di
tubuh Ratih. (Sekedar informasi agar pembaca lebih mudah
menghayati cerita ini, Ratih memiliki tinggi badan 156
cm, berat badan 49 kg, bentuk badan slender, tidak serba
mungil, rambut pendek seleher, dengan wajah blasteran
Cina-Jepang, Ratih juga mengenakan kacamata minus). Sore
itu Ratih mengenakan blazer biru muda dan rok mini
dengan warna yang sama. Di balik blazer itu, Ratih
mengenakan kaos ketat berwarna kuning, yang membuat
kecerahan warna kulitnya lebih menonjol.

Ratih sering memergoki pandangan Tom mengarah ke paha
dan tungkainya yang putih mulus itu. Kadang-kadang mata
nakalnya yang genit itu juga sering terarah pada leher
dan kaos Ratih yang mungkin memang cukup ketat, meski
masih tertutup blazer. Pada satu saat, pandangan mata
mereka bertemu. Ratih mengerutkan dahi dan Tom malah
tersenyum nakal.

"Kok kayaknya kita tidak terlalu serius membicarakan
ini?", tanya Ratih.
"Agak sulit untuk serius dengan kondisi seperti ini",
jawab Tom sambil terus menatap ke dalam mata Ratih.
"Yah..., lantas kita mesti gimana?", tanya Ratih lagi.
"Mungkin kita tunda sampai besok pagi, sekarang sudah di
luar jam kerja kan?", jawab Tom enteng.
"Baik.., ide bagus, kalau begitu kita pulang saja",
jawab Ratih sambil mengemasi kertas-kertas kerjanya dari
meja kecil itu.
"Atau mungkin bisa kita bicarakan secara agak santai
sambil makan malam?", ajak Tom.
Ratih sempat terpikir akan apa yang ada di otak Tom
waktu itu, namun demi karirnya, Ratih memilih untuk
membuang pikiran itu jauh-jauh. Namun Tom tersenyum
manis sambil mengangkat bahu.
"Gimana?", tanyanya sambil tetap menyunggingkan senyum,
memancarkan daya tariknya.
"Hm..., terserahlah", akhirnya jawab Ratih setelah cukup
lama menimbang-nimbang.

Tom mengajak Ratih untuk naik ke mobilnya. Mobil kantor
yang selama ini dipakainya sehari-hari. Ratih menyukai
suasana di dalamnya. Benar-benar menggambarkan
kepribadian Tom, kepribadian khas seorang pria yang
berasal dari Inggris. Ratih memandangi sudut-sudutnya,
dan mengagumi selera Tom. Sepanjang jalan, mereka tidak
banyak berbicara. Ratih mengamati Tom yang sedang
memegang kemudi. Wajah, tubuh, otot-otot dan cara Tom
berpakaian, hmm..., sangat mengesankan. Ups! Ratih
buru-buru memandang ke depan ketika Tom tiba-tiba
menengok ke arahnya. Dari sudut mata, Ratih dapat
melihat bahwa Tom tersenyum nakal karena memergoki Ratih
mencuri pandang ke arah Tom. Dan naluri pria Tom
mengetahui bahwa Ratih sedang mengaguminya. Lalu Tom
kembali memandang ke jalan sambil tersenyum puas merasa
menang.

Setelah mereka tiba di sebuah hotel berbintang tiga yang
terkenal akan restorannya yang baik, mereka turun dari
mobil. Tom membukakan pintu untuk Ratih. Entah sengaja
atau tidak, mereka bertabrakan. Dada Ratih bersentuhan
dengan lengan Tom, dan mereka masing-masing bukan tidak
tahu itu. Ratih mencoba untuk tetap cool namun Tom
tersenyum, seolah-olah tahu bahwa kedua putik di ujung
dada Ratih sedang agak menegang karena bersentuhan
dengan lengannya tadi. Lalu mereka berjalan masuk.
"Hm, apakah kita makan di Coffee Shop atau memesan room
service saja?", tanya Tom ketika mereka memasuki lobby.
Sejujurnya, Ratih menyukai cara pendekatan Tom yang soft
namun terarah itu. Tanpa banyak berpikir, Ratih hanya
menjawab singkat, "Terserah kamu saja". Ratih
mengucapkan kalimat itu sambil melirik ke mata Tom dan
sedikit menyipitkan mata, memberi tanda setuju dengan
apa yang Tom pikirkan. Lagi-lagi Tom tersenyum nakal
menggemaskan.

Lalu Tom segera mendatangi meja resepsionis untuk
check-in. Kamar yang mereka tempati tidak terlalu luas,
meski cukup mewah untuk ukuran hotel berbintang tiga.
Sebuah ranjang king size tertata rapi menghadap ke set
televisi. Dinding di belakang set televisi itu dilapisi
oleh cermin sepenuh tembok, sehingga ruangan itu
terkesan lebih luas. Secara refleks, Ratih melirik ke
cermin itu, dan merapikan poni di dahinya serta
membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah. Tom
melemparkan tubuh tegapnya ke ranjang dan mengamati
Ratih yang sedang bercermin.
"Kamu mau pesan apa?", tanya Tom sambil mengangkat
gagang telepon di meja kecil di samping ranjang.
"Apa kamu mau langsung makan?", jawab Ratih sambil
memandangnya dari cermin.
Tom terdiam karena tidak mengharapkan reaksi Ratih yang
begitu direct. Ratih membalikkan tubuhnya dan menatap ke
mata Tom. Dengan pelahan Ratih membuka satu persatu
kancing blazernya, sambil melangkah mendekati ranjang.
Setelah semua kancing blazernya terbuka, Ratih menaikkan
lutut kirinya ke atas ranjang, dan menurunkan blazernya
hingga kedua bahunya terlihat karena kaosnya yang sangat
ketat itu berpotongan tanpa lengan. Mata Ratih menatap
ke arah Tom sambil sedikit menyipit.

Secara refleks, Tom mulai membuka satu-persatu kancing
kemejanya, sedikit demi sedikit menampakkan dadanya yang
bidang, tegap menggairahkan. Lalu dengan gerakan yang
amat cepat, Tom melepaskan kemejanya dan melemparkannya
ke samping, lalu bangkit dan menabrak tubuh Ratih,
memeluk, dan menghujankan ciuman-ciuman hangat ke leher
dan rahang Ratih. Ratih menengadahkan kepala menikmati
ciuman Tom yang hangat dan bertubi-tubi itu. Tom menarik
lepas blazer Ratih dan melemparkannya ke sudut ruangan,
tangan Tom juga menarik kaos Ratih ke atas dan
melepaskannya dari tubuh Ratih yang mulai berkeringat.
Lalu Tom menarik Ratih hingga kini rebah telentang di
ranjang besar itu.

Ratih menyukai cara Tom itu, dan dia begitu
menikmatinya. Ratih hanya telentang di ranjang itu dan
pasrah sepenuhnya pada Tom. Menatap Tom yang kini sedang
berdiri di dekat ranjang sambil mengawasi tubuh Ratih
yang telentang dengan hanya bra putih dan rok mini yang
agak tersingkap ke atas. Ratih memandang Tom dengan
setengah terpejam dan jari-jarinya bergerak ke bibir
Ratih, merabanya, dan turun pelan-pelan ke leher, ke
dada, mengait bagian leher kaosnya dan menariknya
sedikit. Tangan Ratih yang lain bergerak mengusap
pinggangnya, bergerak ke tengah dan berhenti di bawah
gesper sabuknya. Tom segera bereaksi, naik ke ranjang
dan mulutnya mulai menjelajahi wajah Ratih. Tangan Ratih
bergerak untuk melepaskan kacamatanya, Tom menggerakkan
hidungnya menelusuri telinga kiri Ratih, menurun ke
leher Ratih.

"Aduuuhh..., aahh..., ssshh", Ratih kegelian hingga agak
menggelinjang dan mengangkat bahu kirinya yang segera
dijilati oleh Tom. Hangat dan lembabnya lidah Tom terasa
begitu nikmat, membuat Ratih kian pasrah saja. Tom
menarik tali bra Ratih ke bawah agar lidahnya lebih
leluasa menjilati pundak Ratih yang halus mulus, bulu
kuduk Ratih berdiri semakin tegak merasakan itu semua.
Tom semakin bergairah, kedua tangannya membuka kaitan
bra Ratih yang ada di bagian depan. Dan terlihatlah
olehnya kedua bukit payudara Ratih yang tidak terlalu
besar, namun kencang berwarna kuning cerah. Di puncaknya
terdapat dua tonjolan kecil merah jambu yang dikelilingi
lingkaran coklat muda.

Untuk beberapa detik Tom terdiam menyaksikannya. Ratih
hanya dapat menatapnya dengan pandangan meminta, menatap
tegapnya tubuh Tom inci demi inci dan membayangkannya
melekat, menyatu dengan tubuhnya. Dengan mata yang
terfokus pada wajah Ratih, kedua tangan Tom mulai
bergerak menyentuh kedua payudara Ratih, mengusap,
meraba dan meremasnya dengan lembut. Jari-jari Tom
dengan halus bergerak-gerak di atasnya,
melingkar-lingkar tanpa menyentuh putingnya. Ratih makin
menyipitkan matanya dan memandang mata Tom dengan
memelas.

"Aughh.., aughh", Ratih merintih lirih. Tom
menanggapinya dengan cara meletakkan bibirnya melingkupi
puting kiri Ratih. Membuat Ratih agak terhenyak dan
menggeliat keras, namun kedua lengan Tom memeluk
pinggang Ratih dan menahannya bergerak lebih jauh. Kini
mulut Tom dengan pelahan namun tegas segera memainkan
puting kiri Ratih. Lidahnya mengait-ngaitnya, bibirnya
mengisap-isapnya.
"Ngghh..., aahh..., Tooomm", Ratih merintih lirih sambil
menyebut nama Tom. Mulut Tom menarik puting kiri Ratih
dan membiarkannya terlepas. Tom dapat melihatnya menjadi
bersemu merah dan tegak mengacung ke depan. Puas dengan
karyanya itu, Tom beralih ke puting kanan Ratih,
menciumnya dan menggigitnya dengan lembut dan
perlahan-lahan.

"Akhh..., hhmm", Ratih kembali mengerang-ngerang ketika
merasakan puting kanannya mendapat jilatan dan isapan
Tom, sementara puting kirinya yang telah membengkak itu
berada di antara telunjuk dan ibu jari Tom yang
memilin-milinnya pelan. Kedua alis mata Ratih seperti
menyatu di tengah keningnya yang mengerut, kedua matanya
terpejam rapat, gigi Ratih terkatup namun bibirnya
setengah terbuka, mendesah dan mengerang menahan rasa
geli bercampur nikmat yang datang bertubi-tubi pada
bagian badannya yang paling sensitif itu. Tom mulai
merasakan betapa puting kanan Ratih mulai menegang dan
mengeras di dalam mulutnya yang dengan rakus
mengisap-isapnya. Rintihan dan erangan Ratih terdengar
memenuhi ruangan.

Tiba-tiba Tom menarik tubuh Ratih hingga terduduk. Tom
duduk di belakang tubuh Ratih sambil mulutnya menjilati
bahu dan leher Ratih yang halus. Ibu jari tangan kanan
Tom menjentik-jentik puting kanan Ratih sementara
telunjuknya bermain di puting kiri Ratih, membuat Ratih
kian tak mampu menahan birahi. Apalagi ketika tangan
kiri Tom menarik rok mini Ratih ke atas, lalu menyelip
di balik celana dalamnya. Dengan segera telunjuk kiri
Tom menemukan bibir kewanitaan Ratih yang telah lembab,
lalu jari nakal Tom itu bergerak seperti
mencungkil-cungkil, menggosok bibir kewanitaan Ratih,
dan menjentik-jentik tonjolan kecil di atasnya. Ratih
menggeliat-geliat tak karuan menahan semuanya. Rasanya
sulit untuk bernafas. Mata Ratih terbuka sedikit, dan
dari cermin di dinding itu Ratih bisa melihat betapa
rakusnya Tom mempermainkan tubuhnya yang sudah hampir
tanpa daya itu.

"Ohh..., aahh..., aduuuhh", Ratih hanya bisa merintih
sekenanya untuk bertahan dari serangan-serangan birahi
Tom. Tanpa Ratih duga sebelumnya, jari tengah tangan
kiri Tom menyusup masuk ke liang kewanitaannya,
"Ehgggg....", Ratih menjerit tertahan ketika merasakan
sesuatu memasuki tubuhnya lewat tempat sensitif itu. Tom
semakin buas, jarinya bergerak berputar-putar di dalam
liang kewanitaan Ratih, sementara tangan kanan Tom terus
meremas-remas payudara Ratih yang kini terasa ngilu
namun nikmat.

Ratih menyandarkan kepalanya di dada Tom, tubuhnya
bergetar tak kuat menahan birahi. Tangan Ratih bergerak
ke atas dan memeluk leher Tom. Rupanya mereka sudah
sama-sama menginginkannya, Tom segera menghempaskan
tubuh Ratih hingga kembali telentang di ranjang. Dengan
gerakan sigap Tom menyingkapkan rok mini Ratih,
mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar, dan menyingkap
celana dalam Ratih ke samping. Tangan Tom membimbing
penisnya yang besar dan panjang itu menyentuh bibir
vagina Ratih yang telah dibanjiri cairan pelumas, lalu
dengan segenap kekuatan Tom menekan penisnya
dalam-dalam.

"Aduhh..., aahh..., eeennngg..., ooooohh", jerit Ratih
ketika merasakan terobosan penis Tom ke dalam vaginanya.
Tom segera menggerakkan tubuhnya dengan cepat maju
mundur, membiarkan penisnya menggosok dinding vagina
Ratih dengan kencang dan bertenaga. Kedua tangan Tom
dengan gemas terus meremas payudara Ratih sambil
memilin-milin putingnya. Ratih hanya bisa merintih dan
mengerang keras-keras, kepala Ratih terlempar ke kiri
dan kanan merasakan sodokan-sodokan penis Tom yang
membuatnya lupa diri karena digempur kenikmatan yang
begitu luar biasa. Gerakan-gerakan Tom kian cepat hingga
tubuh Ratih terhentak-hentak. Matanya terpejam-pejam tak
mampu menahan kenikmatan yang luar biasa ini. Kedua
tangan Ratih mencengkeram bantal di bawah kepalanya.

"Aaduuhh..., enaakkk..., ssekaallii..., Toom", Ratih
benar-benar tak mampu menahannya lagi, terlalu nikmat.
Ratih dapat merasakan dinding kewanitaannya kian licin
karena cairan pelumas makin banyak membanjirinya. Namun
di situ penis tetap dengan perkasanya mengikis
dinding-dindingnya. Ratih meringis keenakan sementara
Tom terus saja menghunjam-hunjamkan penisnya yang amat
besar dan keras itu ke dalam vagina Ratih, sambil
meremas kedua payudaranya dan menatap wajah Ratih yang
kini berekspresi menahan nikmat. Ratih tak tahu
bagaimana dengan Tom, namun Ratih benar-benar tak mampu
lagi bertahan. Gelombang-gelombang kenikmatan terlalu
buas menerpa tubuhnya yang kini tak berdaya. Otot-otot
kewanitaannya terasa menegang berusaha menjepit
kejantanan Tom yang terus saja bergerak keluar masuk.

Akhirnya, sesuatu terasa meledak di seluruh tubuh Ratih.
Badannya melengkung, punggungnya terangkat dari ranjang.
Untuk sesaat seluruh tubuhnya mengejang. Gigi Ratih
bergemeretak menahan hantaman gelombang orgasme itu.
Pandangannya seperti kabur dan semuanya tampak putih.
Lalu kenikmatan yang begitu intens itu merenggut seluruh
energinya. Ratihpun lunglai tak berdaya di tangan Tom.
Kini tinggallah Tom yang dengan leluasa dan rileksnya
membolak-balik tubuh Ratih. Setelah Tom menumpahkan
semuanya ke dalam vagina Ratih, barulah dia berhenti.
Lambat laun Ratih mulai pulih. Terlihatlah plafon kamar
yang putih dan bertekstur. Seluruh ruangan pun mulai
terlihat jelas. Namun kenikmatan itu belum hilang.
Kenikmatan di seluruh tubuhnya yang baru saja Tom
berikan.

Ratih menengok ke samping dan mendapati Tom terbaring di
situ menatap wajah Ratih yang masih tampak kelelahan.
Lalu mereka berdua berpelukan erat. Tubuh mereka terasa
amat menghangatkan. Lalu mereka terbang ke alam mimpi.