Sunday, May 6, 2007

KURSUS ASSOOY

Hari itu hujan rintik-rintik di awal tahun 2001, aku
bersama temanku berniat mendaftarkan diri di sebuah
tempat bimbingan belajar yang katanya paling berkualitas
di kota kami untuk persiapan UMPTN 2001. Sesampainya di
sana aku dan temanku disambut seseorang di tangga.
Dia berkata, "Mo mendaftar yah Dek..? Kalo mau mendaftar
di atas."
Dia kelihatan agak dewasa dari yang lainnya yang ada di
sana. Belakangan aku tahu dia tentor kelas IPA yang juga
mengajarku di kelas, sangat kebetulan yah.

Tidak cakep sih kakak itu, namun rayuannya membuatku
sangat tersanjung. Dan wibawa serta senyumannya sangat
membuatku terkesima, apalagi saat ia menjelaskan
terlihat sekali kecerdasannya terpancar. Aku semakin
kagum melihatnya. Dari hari ke hari kami semakin akrab.
Aku pun biasa diantarnya pulang, kami pun sering ngobrol
bersama tentang masalah kami karena kami juga sudah
saling terbuka bahkan menyangkut cerita pribadi kami.
Kami juga seringbercanda. Ia pun sesekali menyentuhku,
sehingga aku merasakan sesuatu yang lain dalam
sentuhannya yang begitu lembut dan mesranya.

Sampai pada suatu hari dia mengajakku nonton dan aku pun
menerima ajakan itu. Kami pun pergi sekitar jam 7 malam
ke twenty one. Saat film tengah diputar, ia tidak
henti-hentinya melihatku. Aku pura-pura serius nonton,
tapi aku sebenarnya juga melihatnya. Kemudian ia mulai
berani memegang tanganku, aku pun membiarkannya dan ia
pun berkata, "Kakak sayang kamu."
Serr.., rasanya aku tersambar petir asmara dan tidak
kuasa menolaknya, apalagi ketika ia mulai berani
menyandarkan kepalanya di bahuku dan meletakkan
tangannya di pahaku. Aku semakin tidak kuasa menepisnya.

Kemudian ia pun memandangku sejenak dan langsung
menyambar bibirku, aku pun menyambutnya dengan mesra.
Lidah kami saling bertautan dan aroma nafas kami saling
memburu mereguk nikmatnya air liur kami yang saling kami
tukarkan. Kebetulan di sederetan kursi kami duduk tidak
ada orang, jadi tidak ada yang melihat aktivitas kami
ini. Baru sekali ini saya melakukan hal seperti ini di
bioskop, bahkan sama pacar saya yang jauh lebih cakep
dari kakak tentor saya ini saya tidak pernah
melakukannya. Itulah sebabnya saya sangat menikmatinya.

Kakak saya yang satu ini pun semakin berani
mengelus-elus paha mulusku yang kuning langsat itu,dan
dia berkata, "Paha kamu mulus yah.., Kakak jadi tambah
sayang sama kamu."
Kebetulan rok yang kupakai saat itu memang mendukung,
sebuah rok biru pendek selulut namun ada belahannya yang
menyebabkan tangan kakakku ini mudah menyusup masuk
mencari kehangatan cinta di antara dua pahaku.
Namun karena malu aku pun menahan tangannya, dan
berkata, "Jangan Kak."
Ia pun tidak memperhatikan kata-kataku, dan tangannya
terus memaksa masuk.

Sekarang celana dalamku bagian paha dalam sudah ia raih.
Sedikit lagi ia tarik, maka ia akan mendapatkan
kemaluanku yang sudah basah ini.
Ia berkata, "De.., nggak pa-pa kok, enak deh, masa nggak
percaya sih sama Kakak. Ya Yang... ya..!"
Aku pun tetap bertahan untuk tidak memberikan apa yang
ia mau, namun tenaganya lebih kuat dari padaku,
sehinggga slep.., jarinya menyentuh klitorisku.

Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, apalagi ketika
ia mulai memainkan tangannya di lubangku bagian luar,
mengelus-elus buluku yang tipis dan menggesek-gesekkan
klitorisku yang sudah basah dengan cairanku. Sungguh
sensasi yang luar biasa yang sudah lama tidak kurasakan.
Memang sih pacarku yang dulu (sebelum dengan yang
sekarang) agak nakal dan suka minta jatah, tapi yang
sekarang orangnya sangat baik, alim, nggak kurang ajar.
Tapi aku gampang dekat sama laki-laki, jadi pacarku yah
pacarku, temenku yah temenku, kadang malah lebih dekat
dari pacarku, seperti kakak tentorku sayang yang sedang
asyik memainkan klitorisku ini.
Tidak sadar aku pun mengeluarkan suara-suara yang erotis
sambil menjambak rambutnya, "Ahh... ahh... Kakak..,
Kakaak.., enak. Kakak nakall..!"

Kepalanya yang tanpa sadar juga sudah sudah menempel di
kedua payudaraku. Film pun habis, lampu kembali menjadi
terang. Ia pun memandangiku dengan mesranya.
"Pulang yuk..!" katanya sambil menggandeng tanganku.
Sambil berjalan turun, aku pun membetulkan rokku yang
sudah diacak-acak olehnya tadi.

"Maafin kelakuan Kakak yah tadi." ia pun memecahkan
kebisuan di antara kami berdua.
"Nggak pa-pa, tapi jangan diulangi lagi yah Kak.. aku
takut." jawabku.
Ia langsung merangkul pinggulku dan mencium pipiku,
sungguh sangat mesranya. Kami pun pulang dengan
menggunakan jasa taxi.

"Turun dulu Kak..!" kataku saat taxi sudah sampai di
depan rumahku.
Ia pun menyanggupi dengan langsung membayar taxi dan
ikut turun bersamaku. Sungguh lelaki yang bertanggung
jawab dalam hatiku. Aku pun mengambil kunci di bawah
pot, di situ biasa kami menyimpan kunci kalau tidak ada
orang di rumah. Maklumlah, ibuku sering pergi ke rumah
kakakku yang paling tua, sehingga aku biasanya hanya
tinggal di rumah bersama saudara-saudaraku. Bapak dan
ibu sudah cerai sejak aku SD.

Aku langsung mempersilakannya masuk ke rumah mungilku.
"Duduk Kak.., mo minum apa..?"
"Nggak usah repot-repot deh, ehh iya orangtuamu nggak
ada..?"
"Nggak ada Kak, lagi pergi kayaknya."
"Oohh.."
Begitu percakapan kami setelah kami masuk. Aku pun
langsung masuk kamar untuk mengganti baju.

"Tunggu sebentar yah Kak." kataku, namun ia langsung
mengikutiku ke dalam kamar dan menggendongku ke atas
ranjang, lalu mengunci pintu kamarku.
"Kak, Kakak mau apa..?" tanyaku lugu.
"Lanjutin yang tadi yah..?" ucapnya.
"Jangan Kak, aku takut..!" kataku lagi tapi dia langsung
memelukku dan meciumku dengan liarnya.
Aku yang juga sudah terangsang menyambutnya dengan
ciumanku yang bernafsu.

"Achh.., ack.., ack..!" bunyi mulut kami yang saling
terpaut mesra.
Ia pun melepaskan semua bajunya dan bugil di depanku.
Kemaluannya yang menggelantung di depanku sangat besar,
baru kali ini aku melihat yang sebesar ini. Kemaluan
pacar-pacarku tidak ada yang sebesar dan sehitam ini,
sungguh membuatku ingin merasakannya. Walaupun aku suka
petting samapacarku, namun aku masih tetap menjaga
perawanku sampai saat ini. Aku tidak kuasa menolak
ketika ia melepaskan seluruh bajuku, sehingga aku polos
tanpa sehelai benang pun yangmenempel pada tubuhku.

Di kamarku sendiri, di atas ranjangku sendiri, dimana
ibuku biasa tidur bersamaku, sekarang akusedang
memegangi batang kemaluan tentorku yang amat panjang dan
keras yang ia sodorkan ke mulutku. Walaupun sempat
menolak karena agak jijik, namun akhirnya aku mau juga
dan malah keenakan menghisap miliknya seperti lolypop
yang dulu sering diberikan mama waktu aku kecil.
Kakak tentorku pun mengerang keenakan, "Ahh.., aah..,
ahhh.., enak Sayang.. terus..!"
Terdengar juga saat itu, "Ckkc.. ckkk..!" bunyi hisapan
mulutku di batang kemaluannya.

Dalam posisi aku tidur dan ia mengangkang di atasku
sambil kedua tangannya meraih payudaraku dan
meremas-remasnya, aku pun keenakan dibuatnya. Ia kini
melepaskan penisnya dan menghisap kedua payudaraku
secara bergantian dengan liarnya sambil tangannya
memainkan klitorisku dan sesekali menusuk masuk ke
lubangku yang sudah amat becek. Aku pun merasa sangat
nikmat dibuatnya.
"Aaah.., ahh.., uhh.., uuhh Kaa.. Kkaakaa..kkk tyus Kak
eenaakk.., ah.. aahh uhh yeah..!" begitulah teriakanku
sambil meracau tidak karuan karena menahan nikmat yang
luar biasa.

Ia pun menjilati tubuhku, turun dan turun hingga sampai
kepada lubang kemaluanku yang ia garapmesra.
Aku pun melenguh keenakan, "Aahh.., aahhh... Kakkk..,
aku mo keluar..!"
Ia seakan tidak menggubrisku, jilatannya pindah ke arah
paling sensitif. Klitorisku dimain-mainkan dengan
lidahnya. Aku hanya bisa merem melek dibuatnya, karena
sensasi yang luar biasa atas permainan lidahnya di
bagian tubuhku yang sensitif.

"Kakkk.., Kakkk.., aku keluarrh. Ahh.., aahh..!" aku pun
mengeluarkan cairanku, namun ia tidak berhenti menghisap
vaginaku sampai semuanya dibuat bersih.
"Oohh.., Kakkk.., enakk.. Kakk..!" aku seakan tidak
perduli lagi apa yang kuucapkan.
Ia pun mencoba menusukku dengan senjatanya yang sudah
menegang dari tadi. Sungguh seorang kakak yang perlu
diteladani, ia mau memuaskanku dulu baru memikirkan
nasib 'adek'-nya.

Aku pun dengan senang hati melebarkan kakiku untuknya,
seakan aku pasrah memberikan diriku untuknya. Ia pun
berusaha memasukkan batang penisnya ke arah vaginaku,
namun agak sulit karena memang aku masih perawan. Aku
pun merasa sakit, namun karena ia juga meremas
payudaraku dan menghisap bibirku, rasa sakit itu sedikit
terobati. Sampai akhirnya, "Bless..! Pertahananku
berhasil ditembusnya.
Aku pun berteriak, "Ahh.., saa.. saakiitt Kaakkk..!"
Ia pun membelai rambutku, dan berkata, "Tahann ya
uhh..!"

Ia pun nampak keasyikkan menikmati jepitanku, "Uhh..,
Dekk.., kamu hebat..!"Kami pun terus berciuman sementara
tangannya memainkan puting susuku yang semakin mengeras.
"Ahh.., aahh.. aahh.." betul-betul nikmat dan asyik,
"Aahhh.., ohh.., uuhh..!"
Ia pun menghisap bibirku dengan lembut.
Tidak lama kemudian, "Ahh.., aahh.., ohh.., yeaahh..
yeaah.. Kak.. aku mo keluarr. Oohh aku sudah tidak tahan
lagi..!" dan, "Serrr..." keluarlah cairanku.

Aku pun merasakan kenikmatan yang teramat sangat di
sekujur tubuhku seiring keluarnya cairan di liang
kenikmatanku beserta darah segar yang sejak tadi keluar
dan membasahi sepreiku. Namun aku tidak menangis dan
menyesalinya, bahkan seketika itu juga dia mengeluarkan
batang kemaluannya dari lubang kemaluanku dan
menyemprotkan spermanya ke seluruh wajahku, dan mulutku.
Aku pun membersihkan sisa-sisanya dengan menelan sperma
yang ia semprotkan dengan menghisap batang kemaluannya
sampai bersih.

Kemudian kami pun menatap mesra, berpelukan dan tertidur
bersama. Masalah besok yah besok lah diatur. Terima
kasih bimbingannya yah Kakak. I love You.