Wednesday, May 2, 2007

TRAGEDI KOS

Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di
universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku
tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik
sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil
kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.

Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku
bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol
dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar
dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan,
memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga
lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih
muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda
yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma
terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah
wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami
rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga
para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan
munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas
tempatku belajar waktu SMA dulu.

Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di
dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas.
Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal
kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang
tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil
tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana
rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku
buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.

"Kenapa Jack"
"Ah.. tidak apa-apa", jawabku. (sebetulnya suasana
hening dan amat merinding itu membuat hasratku
bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat
jantungku selalu berdebar-debar).
"Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan",
kata Ibu Shinta.
"Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya",
jawabku dengan ragu-ragu.
"Terima kasih Jack".

Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu
Shinta bahwa aku suka kepadanya, "Oh my God what i'm
doing", dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu
Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang
kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta
ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu,
katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun
dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di
depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan
masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam
kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu
masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta
menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya,
kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta
hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu
Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku
menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam.
Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan
hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari
seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang
besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami
bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat
seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang
kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku
meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing
bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh
hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka
kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna
hitam berenda yang modelnya amat seksi.

Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu
Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung
menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati
keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga
badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu
Shinta, "Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu
sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong", bisiknya
dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya
yang juga mulai naik.

Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup
pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali.
Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok
di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan
kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya.
Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam
warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya
tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas
liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar.
Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang
kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku
sampai di pangkal pahanya.

"Mau apa kau sshh... sshh", tanyanya lirih sambil
memegangi kapalaku erat-erat.
"Ooo... oh.. oh..", desis Ibu Shinta keenakan ketika
lidahku mulai bermain-main di gundukan liang
kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi
celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan.
Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan
mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai
dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang
tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir
kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan
gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin
keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
"Aahh... Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh..."

Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu
tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang
kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya
beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih
polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di
rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti
hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan
memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan.
Mulutku seperti melekat di mulutnya. "Uh kamu pengalaman
sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?", tanyanya diantara
kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak
menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya
yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku,
BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas,
segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang
bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih
mulus.

"Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.." Ibu Shinta pun
melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku.
Batang kemaluanku yang tegak penuh segera
diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas
ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk
ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya.
Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu
dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan
jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima
menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku
merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke
mulutnya.

"Gantian dong.." Tanpa menunggu jawabannya segera
kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil.
Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa
menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku
masuk ke rongga mulutnya. "Justru di situ nikmatnya..,
Selama ini sama suami main seksnya gimana?", tanyaku
sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab.
Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku
pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang
kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu,
perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku
sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku
pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya.
Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras
itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang
kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar.
"Ohh...", desahnya ketika sedikit demi sedikit batang
kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh
barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas
tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan
kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut
bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan
kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan.
Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku
kutingkatkan. "Ooo... ahh... hmm... ssshh...", desahnya
dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak
yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya
beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya
yang berkeringat. "Sekarang Ibu Shinta berbalik.
Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di
atas meja ok!" Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta
menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. "Gaya
apa lagi ini?", tanyanya.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang
tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan
mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang
mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari
suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami
istirahat.
"Capek?", tanyaku. "Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau
remuk tulang-tulangku".
"Tapi kan nikmat Bu..", jawabku sambil kembali meremas
payudaranya yang menggemaskan.
"Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin
masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi
batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas",
kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya
kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke
selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan
seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta
tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin
lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang
menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan
lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika
dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera
kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan
aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku
meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang
kemaluanku. "Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh.."
Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang
kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai
klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang
kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku.
Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi.
Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang
baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi
hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap
kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan
sorenya baru bisa kujemput.

Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku.
Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju
tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi
kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta
mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku
pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta
makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua
pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku
mengelus belahan yang membayang. "Uuuhh.., mmmhh..", Ibu
Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke
ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok
mininya.

Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok
belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku
segera mencium puting susunya yang besar dan masih
terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri
dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang
kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin
tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan
nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan
kepalaku ke tengah ke dua pahanya. "Ehhh..., mmmhh..".
Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya
bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali
lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan
perlahan.

"Ooohh.., aduuuhh..". Ibu Shinta mengangkat punggungnya
ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya
yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke
bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali
lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu
Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak.
Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit
dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku
berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak
terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka
semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke
langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta.
"Mmmhh..., mmmhh.., ooohhm..". Ketika Ibu Shinta membuka
bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai
menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan
membelai kemaluannya. "Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak..,
teruuuss...", erangku.

Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil
tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah
banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku
yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit
dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa
sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. "Ibu
Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus", teriakku. Dia
mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat
hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku
lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu..,
"Creet.., suuurr.., ssuuur.."

"Oughh.., Jack.., nikmat..", erangnya tertahan karena
mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena
hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat
menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya,
kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, "Crooot..,
croott.., crooot..", banyak sekali maniku yang tumpah di
dalam mulutnya.

"Aaahkk.., ooough", ujarku puas. Aku masih belum merasa
lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh
Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma
kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan
Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling
membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala
kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan
sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan
pantatku dari belakang. "Ohm, masuk.., augh.., masukin"

Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang
kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah.
Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh
sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah
halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan
lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau,
"Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh..,
enak.., Jack"

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta,
lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta
sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku
menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu
diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya,
sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok
payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun
berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin
menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir
kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan
akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan
hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh
Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang,
dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku
sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu
merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan
iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang
kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh
kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling
bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan
orgasme.