Wednesday, May 2, 2007

YUNI BIRAHIKU

Aku telah melakukan kegiatan seks dgn beberapa wanita
lain. Berkat bimbingan Mbak Wulan aku jadi lumayan ahli
dlm hal seks untuk anak seumurku (20 thn-an) pada waktu
itu. Aku pun jadi percaya diri dlm berhubungan dgn
wanita.

Setelah berhubungan seks dgn bbrp wanita aku jadi
menarik kesimpulan bahwa ada dua jenis manusia dlm
urusan syahwat ini. Yg pertama adalah yg menurut
istilahku sendiri aku sebut "pelahap seks" dan yg kedua
adalah "penikmat seks".

Pelahap seks dan penikmat seks sebetulnya adalah sangat
mirip, keduanya sama² sangat menyukai seks. Bedanya,
pelahap seks biasanya melakukan kegiatan seks hanya
untuk memenuhi birahinya saja. Ibarat orang makan itu
tujuan utamanya adalah mencari kenyang, kurang
mementingkan rasa dari apa yg dia makan. Jangan salah,
pelahap seks tidak harus orang yg hyper-sex, nafsu
birahi dia bisa biasa² saja.

Sebaliknya, seorang penikmat seks melakukan kegiatan
seks dgn tujuan utama menikmati seks itu sendiri. Ibarat
orang makan itu dia lebih mementingkan cita rasa
makanannya. Kadang sekalipun dia tidak makan kenyang
tapi bisa menikmati apa yg dia makan. Agak susah memang
menerangkan hal ini, tapi itu lah yg aku simpulkan.

Mbak Wulan (dan aku) adalah para penikmat seks. Kami
sangat menikmati apa yg kami lakukan tanpa harus berbuat
berlebihan.

Berbeda dgn para wanita lain yg pernah berhubungan seks
dgnku, mereka semua masuk kategori pelahap seks. Memang
selama melakukan kegiatan seks dgn mereka aku selalu
"kenyang" tapi hampir² tidak bisa menikmatinya secara
lahir bathin. Semuanya berlalu tanpa kesan. Aku sampai
agak pesimis apakah aku akan menjumpai seorang wanita
penikmat seks seperti Mbak Wulan. Sampai satu saat aku
bercinta dgn Yuni.

Maaf kepada para pembaca kalau pendahuluanku terlampau
panjang dan berlarut. Se-mata² aku hanya ingin
memberikan gambaran bathin apa yg aku rasakan sehingga
para pembaca bisa lebih memahami apa yg aku rasakan
dalam cerita pengalaman nyataku berikut ini.

Hubunganku dgn Yuni sebetulnya cukup dekat. Kami adalah
teman kuliah satu angkatan dan satu jurusan. Jadi hampir
setiap hari kami bertemu. Kami sering mengerjakan tugas²
bersama. Saling menceritakan kehidupan pribadi kami
bukan hal yg asing antara aku dan Yuni. Kami sudah
menjadi sahabat yg cukup akrab. Aku juga tahu bahwa Yuni
sudah punya pacar sejak SMA dan mereka sudah
merencanakan untuk menikah setelah Yuni lulus nanti.
Saat itu kami masih di semester 6.

Secara fisik Yuni cukup menarik. Wajahnya berbentuk oval
dan manis. Tidak terlalu cantik tapi jelas tidak bisa
dikatakan jelek. Tingginya sekitar 160 cm, beratnya
seimbang. Rambutnya dipotong pendek dgn poni di dahinya.
Kulitnya cukup putih untuk ukuran orang Indonesia.
Pokoknya tidak memalukan lah kalau kita ajak jalan dia
di tempat umum. Sayang ada satu kekurangannya, Yuni
kurang bisa bersolek, kesannya malah agak tomboy.
Ke-mana² dia hampir selalu pakai celana jeans dgn kemeja
agak longgar. Padahal perilakunya sangat feminin, jadi
agak kontras dan kurang cocok.

Sore itu aku sedang mengerjakan tugas di perpustakaan
kampus. Yuni juga kebetulan ada disana, tapi dia di meja
lain dgn beberapa teman. Aku asyik mengerjakan tugasku
sendiri sehingga aku tidak memperhatikannya. Tiba² ada
orang yg duduk di seberang meja. Aku lihat ternyata
Yuni.

"Ngerjain apa Ben? Kok asyik banget"
"Eh ... ini tugas makalah metodologi. Kamu udah selesai
Yun?"
"Yuni mah udah kelar kemarin²."
"Enak dong udah bisa santai, aku juga udah hampir
selesai kok."
"Ben ke kantin yuk ... haus nih."

Aku bereskan kertas² tugasku lalu aku kembalikan buku²
referensi ke raknya. Kami berdua berjalan bareng ke
kantin. Obrolan kami lanjutkan di kantin sambil minum.

"Yun, aku kok udah lama ndak liat kamu sama Mas Robby.
Kemana dia?"

Mas Robby adalah pacar Yuni. Dia sudah bekerja tapi
biasanya suka menjemput Yuni di kampus. Aku tidak
terlalu kenal dia cuman sebatas "say hello" saja.

Mendengar pertanyaanku tadi Yuni cuma menghela napas
panjang. Wajahnya yg manis tiba² tampak muram. Dgn agak
lirih dia menjawab,

"Kami sudah putus Ben."
"Oh ... sorry Yun. Kalau boleh tahu, kenapa Yun?"

Yuni kembali menghela napas panjang. Aku tahu mereka
sudah pacaran cukup lama, mungkin ada lebih dari 3 thn.
Jadi aku tahu bagaimana perasaan Yuni saat itu. Pasti
berat buat dia.

Akhirnya Yuni bercerita kalau Mas Robby ternyata dekat
dgn wanita lain. Ketika Yuni minta penjelasan dari dia
ternyata Mas Robby malah marah². Akhirnya dua minggu yg
lalu Yuni tidak mau lagi ketemu dgn dia. Sungguh malang
nasib Yuni, padahal mereka sudah begitu dekat dan mereka
sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Secara
eksplisit memang Yuni tdk pernah bicara ttg hal ini
kepadaku, tapi dari gelagatnya aku yakin itu.

Pembicaraan kami sore itu jadi melankolis dan kelabu.
Seperti mendung kelabu yg menggelayut di langit. Satu
hal yg aku kagumi dari Yuni, dia begitu tegar menerima
kenyataan ini. Tak ada setitik air mata pun yg
mengambang di matanya saat menceritakan perpisahannya
dgn Mas Robby.

Langit sudah agak gelap pertanda datangnya senja ketika
kami keluar dari kantin untuk pulang. Aku tawarkan Yuni
untuk mengantarnya pulang dan dia setuju. Dalam
perjalanan pulang, Yuni yg duduk di boncengan motorku
tak berkata sepatah pun. Kami pun sampai di rumah Yuni.

"Masuk dulu yuk Ben," ajak Yuni sambil membuka kunci
pintu rumahnya.

Beberapa kali aku pernah mengantar pulang Yuni tapi aku
tidak pernah mampir ke rumah Yuni. Kali ini kebetulan
aku kebelet kencing, jadi aku mau diajak masuk rumahnya.

"Aku mau numpang ke kamar mandi Yun."
"Disitu Ben," Yuni menunjuk ke salah satu pintu.

Aku segera menuntaskan urusanku di kamar mandi. Rumah
Yuni sangat sederhana tapi sangat bersih dan tertata
rapi. Keluarga Yuni memang bukan golongan orang yg
berada. Senja itu suasana rumah Yuni sepi² saja.

"Kok ndak ada orang Yun. Orangtuamu kemana?"
"Sudah 2 hari di rumah Mbak Dewi di Solo. Dia kan baru
saja melahirkan anak pertama."

Yuni pernah cerita kalau dia hanya dua bersaudara.
Kakaknya, Mbak Dewi, sudah menikah dan tinggal di Solo.
Jadi saat itu Yuni sendirian di rumah.

Aku baru saja hendak berpamitan dgn Yuni ketika tiba²
mendung tebal yg sedari tadi menggantung di langit turun
menjadi hujan yg cukup lebat.

"Pulang ntar aja Ben, Hujan tuh. Yuni bikinin kopi ya."

Tanpa menunggu jawabanku Yuni segera ke dapur dan aku
dengar detingan cangkir beradu dgn sendok. Aku duduk di
sofa di ruang tamu yg sekaligus berfungsi sebagai ruang
keluarga itu. Tak berapa lama Yuni muncul dgn secangkir
kopi yg masih mengebul di tangannya.

"Kamu ngopi dulu Ben. Yuni mau mandi dulu bentar."

Yuni kembali ke dalam dan sejenak kemudian aku dengar
deburan air di kamar mandi. Aku duduk santai sambil
menghirup kopi hangat yg dibuatkan Yuni. Di luar hujan
semakin bertambah lebat sambil sesekali terdengar bunyi
guruh di kejauhan. Suasana sudah bertambah gelap,
apalagi lampu rumah belum dihidupkan.

Tiba² lampu jadi hidup terang benderang menerangi ruang
tamu itu. Ternyata Yuni yg telah selesai mandi
menghidupkan lampu. Aku menatap Yuni dgn pangling.
Sekarang dia mengenakan kaos ketat berwarna biru tua
dipadu dgn celana pendek yg sewarna. Aku melihat Yuni yg
lain dari yg aku kenal. Kaos ketatnya memperlihatkan
lekuk tubuhnya yg nyaris sempurna yg biasanya
tersembunyi di balik kemeja longgarnya. Kulit pahanya yg
putih mulus biasanya terbungkus celana jeans. Tanpa aku
sadari dari mulutku terlontar kata,

"Kamu cakep dan seksi sekali Yun."

Yuni tampak tersipu mendengar kata²ku. Dia sedikit
tersenyum, guratan kepedihan sudah tak tampak lagi di
wajahnya.

"Ngerayu apa ngerayu nih ...," Yuni mencoba menutupi
ketersipuannya dgn canda.
"Bener kok Yun ... kamu cakep banget."

Yuni duduk di sofa di ujung yg lain. Kebetulan aku duduk
di ujung sofa yg dekat dgn bagian dalam rumah, sedang
Yuni di ujung satunya yg dekat pintu. Kami duduk ngobrol
sambil mataku tak hentinya mengagumi kemolekan tubuh
Yuni. Yuni pun kayaknya suka aku perhatikan seperti itu.
Entah sengaja atau tidak, kakinya disilangkan sehingga
pahanya yg mulus makin tampak jelas.

Kami masih ngobrol ngalor ngidul ketika kami dikagetkan
dgn bunyi guntur yg begitu keras. Seketika itu pula
suasana jadi gelap gulita. Ternyata listrik mati. Secara
reflek aku berdiri. Aku beranjak ke pintu hendak
menyalakan lampu motorku yg aku parkir di teras untuk
menerangi sementara. Belum selangkah aku beranjak, aku
merasakan tubrukan dgn tubuh Yuni yg ternyata juga sudah
berdiri hendak masuk ke dalam.

Tubrukan itu pelan saja sebenarnya, tapi krn terkejut
Yuni jatuh tertelentang di sofa dgn kakinya menjuntai ke
lantai. Aku pun kehilangan keseimbangan dan menindih
tubuh Yuni. Untung siku kiriku masih sempat berjaga di
sandaran sofa sehingga Yuni tidak tertindih seluruh
berat tubuhku.

Aku rasakan tubuh hangat Yuni menempel di tubuhku. Tanpa
sadar dan semuanya terjadi begitu tiba², aku peluk Yuni
sambil kukecup keningnya dgn lembut. Yuni tidak bereaksi
menolak, dia malah melingkarkan kedua lengannya ke
leherku. Aku cium lembut pipi kiri Yuni, dia pun
membalas mencium pipi kananku tak kalah lembutnya. Dalam
gelap gulita itu, secara alami dan terjadi begitu saja,
bibir kami saling bertemu.

Aku cium bibir Yuni dgn sangat lembut. Tidak ada
penolakan dari Yuni, dia malah membalas mengulum
bibirku. Bibir kami saling berpautan dan melepaskan
kemesraan. Aku mulai berinisiatif menjulurkan lidahku
dan membelai gigi seri Yuni. Yuni pun membuka mulutnya
lebih lebar dan menjulurkan lidahnya saling beradu dgn
lidahku. Kami terus berciuman dalam gelap. Petir yg
me-nyambar² sudah tidak kami hiraukan lagi. Lidah Yuni
yg masih menjulur ke mulutku aku kulum dgn mesra. Sesaat
ganti Yuni yg mengulum lidahku.

Entah berapa lama kami saling menikmati ciuman mesra
itu. Rasanya aku sangat ingin kejadian itu berlangsung
selamanya. Perlahan aku alihkan sasaran ciumanku. Aku
mulai menciumi bagian bawah dagu Yuni. Kemudian secara
sangat perlahan ciumanku mengarah ke lehernya yg jenjang
itu. Aku tidak bisa melihat reaksi Yuni karena gelap, yg
aku rasakan hanya belaian lembut di rambutku. Belakang
telinga kanan Yuni aku ciumi dgn mesra sambil sesekali
aku gigit lembut daun telinganya. Yuni sedikit meronta
kegelian.

Dia bereaksi dgn mendengus pelan di dekat telinga
kananku. Hembusan nafasnya membuat aku kegelian. Lalu
aku rasakan benda lembut yg hangat menggelitik lubang
telingaku. Ternyata itu lidah Yuni. Sungguh geli rasanya
tapi sangat menggairahkan. Bagi yg belum pernah
mengalaminya sendiri tentu susah menggambarkannya. Kami
masih saling menggelitik telinga dgn lidah.

Aku agak mengangkat tubuh sedikit ketika tangan Yuni aku
rasakan mencari ruang untuk membuka kancing kemejaku.
Dalam posisi sulit dan gelap seperti itu Yuni berhasil
membuka dua kancing kemejaku yg paling atas. Dia agak
merubah posisi sehingga kepalanya tepat berada di bawah
dadaku yg sudah terbuka sebagian. Dgn lembut Yuni mulai
menciumi dadaku. Tangannya sambil beraksi membuka semua
kancing kemejaku. Sekarang dadaku sudah terbuka lebar
tanpa terhalang kemeja yg masih aku pakai. Jari² lembut
Yuni mulai menggerayangi punggungku. Bibirnya masih
menciumi seluruh permukaan dadaku.

Aku agak meronta kegelian ketika kedua bibir Yuni
mengulum puting kiriku. Aku belum pernah diperlakukan
seperti ini oleh wanita manapun. Biasanya aku yg
melakukan ini terhadap wanita. Sensasinya sungguh sulit
di gambarkan. Birahiku mulai bangkit. Tangan kananku
mulai meremas lembut payudara kiri Yuni dari luar
kaosnya. Buah dada Yuni terasa sangat kenyal dan padat.
Yuni terus menciumi, menjilati dan mengulum kedua
putingku, menghantarkan kegelian dan rangsangan ke
seluruh tubuhku. Aku masih me-remas² buah dada Yuni.
Waktu terus berlalu tanpa kami sadari.

Tiba² mata kami dibutakan oleh terang yg menerpa retina
kami. Ternyata listrik telah hidup kembali. Secara
reflek kami melepaskan diri satu sama lain. Sambil
mengerjapkan mata aku berdiri dan melihat Yuni masih
dalam posisi seperti tadi, telentang di sofa dgn kaki
menjuntai di lantai. Yuni menatapku dgn penuh kemesraan,
tatapan yg belum pernah aku lihat di mata Yuni ditujukan
kepadaku. Untuk sesaat aku tak tahu harus berbuat apa.

"Di kamarku aja yuk Ben." Suara Yuni memecah
kebuntuanku.

Yuni bangkit menutup pintu depan dan kami berjalan
bergandengan tangan masuk kamar Yuni. Yuni mematikan
lampu utama kamarnya lalu ke meja riasnya dan
menghidupkan lampu kecil disana. Suasana jadi agak
temaram dan makin syahdu.

Kali ini aku ambil inisiatif. Aku peluk Yuni dari depan,
aku cium lembut bibirnya. Tanganku memeluk punggungnya.
Dengan ibu jari dan jari tengah tangan kananku aku
pegang kaitan BH Yuni dari luar kaosnya, dgn gerakan
sedikit mengatup dan memelintir lepaslah kaitan BH Yuni.
Sepertinya Yuni cukup terkesan dgn "keahlianku", dia
makin mempererat pelukannya sambil mulut kami masih
saling berpagut.

Dengan lembut tangan kiriku aku selipkan di balik tepi
bawah kaos Yuni lalu aku raba punggungnya. Aku belai²
punggung Yuni yg rata, aku nikmati kehalusan kulitnya yg
seperti sutera itu. Yuni sedikit meronta sehingga aku
melepaskan pelukanku. Kesempatan itu digunakannya untuk
melepas kemejaku dgn kedua tangannya. Tak ku sia²
peluang itu, aku pun menggamit tepi bawah kaos Yuni
menariknya ke atas bersama dgn BH hitam yg sudah lepas
kaitannya. Sedetik kemudian kami berdua sudah
bertelanjang dada.

Apa yg aku lihat di hadapanku sungguh luar biasa.
Sepasang payudara yg benar² indah bentuknya. Penerangan
lampu yg redup makin memepertegas silhouette dari buah
dada yg padat berisi. Putingnya yg kecil dan bulat
menyembul di puncak bukit yg menantang itu. Harus aku
akui bahwa sampai saat itu payudara Yuni adalah yg
terindah yg pernah aku lihat. Ukurannya tidak terlalu
besar meskipun tidak bisa dikatakan kecil. Tapi
bentuknya sungguh luar biasa. Seperti sepasang mangkuk
yg ditangkupkan di dada tanpa ada kesan melorot sedikit
pun.

Rupanya Yuni sadar kalau aku sedang mengagumi
payudaranya. Tanpa canggung dia menyangga buah dada
kanannya dgn telapak kirinya sambil lengannya menyangga
yg kakan. Dgn jari² yg menangkup di dekatkannya kedua
bukit indahnya. Tangan kanannya terangkat diletakkan di
belakang lehernya. Tubuhnya sedikit meliuk ke belakang.
Gerakan ini makin mempertegas keindahan bentuk buah
dadanya. Ditambah terpaan sinar lampu lembut dari arah
samping, sungguh pemandangan yg tidak pernah aku lupakan
sampai hari ini. Tanpa sepatah kata pun terucap dari
mulut Yuni, tapi aku tahu dalam hati dia pasti berkata:
"Nikmatilah pemandangan indah buah dadaku Ben."

Sebenarnya aku masih ingin terus menikmati pemandangan
itu, tapi aku tahu aku harus mulai berbuat sesuatu. Aku
duduk di tepi ranjang Yuni, aku tarik Yuni mendekat
sehingga dadanya tepat ada di hadapanku. Aku ciumi buah
dada Yuni secara bergantian. Kadang aku katupkan kedua
bibirku di putingnya dan aku pelintir dgn gerakan
bibirku ke kiri dan kanan. Yuni menggelinjang penuh
kenikmatan. Tangannya me-remas² rambut di kepalaku.
Dadanya semakin dibusungkan tanda dia menikmati apa yg
aku lakukan.

Aku perhatikan ternyata Yuni bukan orang yg "ribut" kala
bercinta. Mulutnya tidak bersuara apa² kecuali desahan
lembut nafasnya yg semakin cepat.

"sssssshhhhh .... sssshhhhh .... ssssshhhhhh"

Kedua tanganku me-remas² kedua buah dada Yuni dan
mulutku masih sibuk dgn putingnya. Liukan tubuh Yuni
semakin menggila tanda rangsanganku semakin tak bisa
ditahannya. Sambil masih mengulum putingnya, tanganku
menggapai kancing celana pendeknya. Tanpa banyak
kesulitan aku berhasil membuka kancing itu krn Yuni juga
membantu dgn mengecilkan perutnya sehingga tugasku
semakin mudah. Perlahan aku turunkan ritsleting
celananya terus aku tarik ke bawah sampai celana pendek
Yuni terlepas dan tersangkut di kedua lututnya.

Ternyata Yuni mengenakan CD model mini berwarna hitam,
semakin mempertegas warna putih mulus paha dan perutnya.
Aku raba lembut bagian depan CD nya, rasanya sudah
sangat lembab dgn lendir yg pasti sudah membanjir di
kemaluannya. Aku bukan type orang yg ter-buru². Masih
dari luar CD nya, aku belai lembut bukit kecil yg
menggelembung di dalamnya. Aku tekan² bagian tengahnya
dgn jariku. Yuni semakin menggelinjang tanpa
mengeluarkan suara apa pun. Hanya desah nafasnya semakin
keras dan kuat.

"SSSSHHHHHH .... SSSSSSHHHHHHH .... SSHHHHHHHH ..."

Rupa²nya Yuni sudah tidak tahan lagi atas rangsanganku.
Dengan kedua tangannya dia renggut CD nya, lalu dia
pelorotkan bersama dengan celana pendeknya. Kedua
kakinya melangkah bergantian melepaskan kain terakhir yg
menutupi tubuh indahnya. Yuni sudah berdiri bugil di
hadapanku. Dalam keremangan cahaya, aku lihat bukit
kemaluan Yuni yg padat menggembung tanpa sehelai bulu
pun disana! Satu lagi pemandangan nan indah yg belum
pernah aku lihat sebelumnya.

Secara naluri, tanganku segera membelai lembut
kewanitaan Yuni. Kemudian jari²ku mulai menggelitik
sekitar lubang kemaluannya. Di sana sudah basah dgn
lendir licin tanda Yuni sudah sangat terangsang. Sekali
lagi aku tak mau ter-buru². Perlahan aku pegang mata
kaki kiri Yuni dan aku bimbing untuk di naikkan ke tepi
ranjang. Sekarang Yuni dalam posisi berdiri mengangkang
dgn kaki kiri terangkat di tepi ranjang. Perlahan aku
berlutut di hadapan Yuni. Dgn tangan kananku masih
membelai kewanitaan Yuni, aku mulai menciumi bagian
dalam paha kanan Yuni pelan² ke arah atas sampai ke
selangkangannya.

Aku ulangi lagi dari mulai sekitar lutut terus ke atas
sampai pangkal pahanya. Kadang² kulit paha Yuni yg mulus
itu aku gigit lembut sehingga Yuni terjingkat kaget.

"Iiiiihh .... ssssshhhhhh .... sssssshhhhhh ..."

Tanganku masih terus membelai bukit kemaluannya sambil
sedikit aku tekan dgn gerakan memutar. Yuni sudah
menggelinjang tidak teratur. Kemudian aku ganti dgn
pahanya yg kiri yg terangkat di tepi tempat tidur itu.
Seluruh permukaan paha Yuni bagian dalam tak ada satu
inci pun yg luput dari ciuman dan jilatanku.

"ssshhhhhh .... shhhhhh .... ssssssshhhhhhhhh ....."

Aku singkirkan tanganku dari kemaluan Yuni. Sekarang
terlihat bibir bawah Yuni sudah merekah memperlihatkan
liang kenikmatannya yg berwarna merah jambu itu. Aku
dekatkan bibirku lalu aku mulai menciumi sekitar
kemaluan Yuni. Baunya sungguh harum, bau sabun mandi yg
dipakainya. Lidahku mulai menjalankan tugasnya. Lendir
licin yg sudah menyelimuti sekitar liang senggama Yuni
semakin mempermudah tugasku. Lidahku mulai menjulur
masuk keluar lubang kewanitaannya sambil tanganku
me-remas² pantatnya. Sesekali aku ganti variasi dgn
menjilat dan mengulum klitoris Yuni yg terlihat membesar
melebihi proporsinya. Desahan nafas Yuni semakin keras
dan kadang berubah menjadi erangan. Goyangan tubuh Yuni
semakin tak terkendali.

"SSSSHHHHHH ... SSSSSSSSSSHHHH .... GGGGGGHHHHHHH ....
GGGGGHHHHHH ..."

Dari pengalamanku dgn berbagai wanita, aku tahu sudah
saatnya melangkah ke jenjang selanjutnya. Aku tidak mau
menyiksa Yuni lebih lama. Dgn gerakan tangan aku minta
Yuni naik ke tempat tidurnya. Aku pun segera melepas
celanaku. Batang kejantananku yg memang sudah berontak
sedari tadi langsung bangkit berdiri. Aku lihat Yuni
sudah telentang di tengah ranjang, kedua kakinya membuka
lebar dan lututnya terangkat. Liang kenikmatannya
terlihat mengkilap dengan lendir dan air liurku.

Aku segera naik ke ranjang. Sambil posisi merangkak aku
bertumpu pada tangan kiriku dan kedua lututku. Tubuhku
aku turunkan pelan² sampai batang kemaluanku persis di
atas selangkangan Yuni. Dengan tangan kananku aku pegang
batang penisku lalu dgn lembut kepalanya aku gosok² ke
klitoris Yuni yg sudah membengkak itu. Yuni kembali
mendesah dan mengerang.

"Sssssssshhhhh ... eeeeeeegggghhhh ... sssshhhhhhhh ..."

Aku tahu Yuni sudah mendekati klimaksnya. Dari
pengalamanku dalam kondisi seperti ini, sedikit gesekan
pada dinding liang senggama pasti akan memicu orgasme yg
penuh kenikmatan. Dgn sangat perlahan aku dekatkan
kepala penisku ke lubang kewanitaan Yuni dan aku
turunkan tubuhku sehingga batang kejantananku mulai
menerobos masuk organ kenikmatannya. Aku benamkan
seluruh senjataku ke dalam gua Yuni yg sudah sangat
basah itu. Kehangatan segera menyambut batang penisku.
Perlahan aku pompa dgn gerakan naik turun yg teratur.

Tak sampai setengah menit aku rasakan tubuh Yuni mulai
menegang. Pelukan tanggannya di punggungku semakin
menguat. Aku memompa semakin cepat dan sesekali aku
miringkan tubuhku sehingga kepala penisku semakin
menggesek dinding liang senggama Yuni. Ternyata dugaanku
tak keliru. Pertahanan Yuni ambrol saat itu juga, aku
rasakan cairan hangat membasahi batang kemaluanku yg
masih di dalam tubuh Yuni.

"Nikmati saja Yun ... terus Yun .. jangan ditahan ..
nikmati Yun ...," aku bisikan dgn mesra di telinga Yuni.
'SSSSSsssssssssssssssshhhhhhhhhhhhhhhhh ...." Yuni
menjawab dgn desahan panjang.

Batang penisku aku benamkan seluruhnya ke dalam lubang
kenikmatan Yuni. Aku sudah berhenti memompa naik turun,
sebagai gantinya pantatku aku putar beberapa kali. Aku
bisa rasakan kepala penisku mengorek seluruh dinding
liang kewanitaan Yuni. Mulut Yuni terbuka tanpa
mengeluarkan suara apa pun. Matanya terpejam rapat dan
tubuhnya menggigil hebat. Kami dalam kondisi demikian
sampai beberapa saat.

Kemudian berangsur Yuni membuka matanya. Dari dekat
dipandangnya aku, ada sedikit senyum tersungging di
bibirnya yg manis itu. Di kecupnya pipi kiriku dgn
mesra, di dekat telingaku dia berbisik,

"Ben ... sorry aku duluan ... ndak tahan aku Ben ...
makasih .."

Saat itu juga aku rasakan kenikmatan bathin yg tak
terperikan. Ungkapan kepuasan tulus dari Yuni merupakan
kenikmatan bagi aku. Dan kenikmatan bathin ini memicu
birahiku semakin kuat.
Aku cium mesra bibir Yuni dgn perasaan lega luar biasa.

"Kamu belum keluar ya Ben ... keluarin dong .... tapi
jangan di dalam ya .."

Yuni tak perlu menjelaskan lebih lanjut, aku sangat
mengerti kemana arah pembicaraannya. Pelan² aku cabut
penisku yg semakin menegang dari tubuhnya. Tangan Yuni
segera menyambutnya. dibelainya batang penisku dgn
lembut. Pelan² mulai di kocoknya. Aku sudah berubah
posisi. Aku berlutut sambil duduk dgn ringan di atas
perut Yuni. Berat badanku aku topangkan di kedua lututku
supaya tidak memberati Yuni.

Yuni terus mengocok lembut batang kejantananku. Aku
makin terhanyut dalam permainan tangan Yuni. Aku bantu
sedikit dengan memajumundurkan pantatku. Entah berapa
lama kami dalam posisi ini. Klimaksku aku rasakan
semakin mendekat. Nafasku semakin memburu, rupanya Yuni
juga bukan orang awam dlm permaian seks. Dia bisa
membaca tanda² seorang lelaki yg mau mencapai orgasme.

Tangannya membimbing batang penis ke arah lembah di
antara kedua bukit dadanya. aku harus memajukan posisiku
beberapa inci. Ketika batang penisku sudah tepat berada
di tengah kedua buah dadanya, kedua tangan Yuni
mengatupkan kedua bukitnya yg indah sehingga batang
penisku terjepit. Aku tahu apa yg dikehendaki Yuni. Aku
pun segera mengayun pantatku maju mundur. Batang
kejantananku ter-gesek² kulit buah dada Yuni yg padat
itu. Sensasi yg aku rasakan tak bisa digambarkan dgn
kata². Yuni mengimbangi dgn remasan² dan himpitan pada
kedua payudaranya.

Gerakan pantatku semakin kuat. Aku tahu dlm beberapa
detik ke depan aku akan mengalami kenikmatan yg tiada
taranya. Pantatku terus maju mundur. Penisku terus
meng-gesek² buah dada Yuni. Mata Yuni terus
memperhatikan kepala penisku yg hilang timbul dari
antara himpitan buah dadanya. Mulut Yuni terbuka dan
lidahnya sudah terjulur menanti air kenikmatanku.
Akhirnya datang juga klimaksku.

"Aaaaaaaarrrrrrgggghhhh .... crotttt croooot crooot"

Air maniku menyembur kuat membasahi wajah Yuni, sebagian
masuk ke dalam mulutnya yg memang menganga lebar,
sebagian menetes di lidahnya yg masih terjulur dan
sisanya meleleh di leher dan dada Yuni. Aku merasakan
kenikmatan dan sensasi yg luar biasa. Dgn perlahan aku
turun dari atas perut Yuni. Aku lihat Yuni sedang
menjilati bibirnya membersihkan air maniku dgn lidahnya.
Tampak beberapa kali Yuni menelan sesuatu. Matanya
terpejam penuh kepuasan. Rupanya dia sangat senang bisa
membahagiakan aku.

Aku kecup kening Yuni sambil aku berbaring di sisinya.

"Yun .... aku puas sekali ... makasih ..."

Yuni hanya membalas dgn pandangan mesra dan senyuman
tersungging di bibirnya. Beberapa tetes air maniku masih
menghisasi hidung dan pipi Yuni semakin menambah
kecantikannya.

Kami masuk kamar mandi bersama dalam kondisi bugil. Kami
saling membersihkan diri dgn air yg terasa sangat dingin
dan sabun. Yuni dgn telaten dan lembut menggosokkan
sabun ke seluruh tubuhku. Aku pun melakukan hal yg sama
terhadap Yuni. Di bawah sinar terang lampu kamar mandi,
aku semakin bisa menikmati tubuh putih mulus Yuni yg
betul² indah. Putingnya yg sudah tak sekeras tadi
ternyata berwarna coklat muda, lingkaran gelap yg biasa
ada di sekitar puting wanita hampir tak terlihat karena
sewarna dgn kulitnya yg putih. Mungkin inilah payudara
terindah yg pernah aku jamah.

Kemaluan Yuni yg tidak ditumbuhi selembar rambut pun
semakin terlihat menggairahkan dlm cahaya terang itu.
Saat menggosok bagian ini dgn sabun sengaja aku agak
ber-lama². Gairah kami kembali timbul di kamar mandi
itu. Sayang hawa dan air mandi yg sangat dingin membuat
kami mengurungkan niat untuk bercinta disitu. Kami
segera membersihkan diri dan mengeringkan badan kami dgn
handuk yg dibawa Yuni.

Dalam kamar Yuni kami mengenakan kembali pakaian kami.
Aku dipinjami T-shirt longgar oleh Yuni.

"Pakai ini aja Ben ... bajumu kan sudah kotor dipakai
seharian."

Yuni kembali mengenakan kaos ketatnya yg tadi, kali ini
dia tdk memakai BH. Bentuk tubuhnya semakin tampak
sempurna.

"Ben ... laper nih ... Yuni gorengin telur ya, kita
makan bareng."

Tanpa menunggu persetujuanku Yuni sudah berkelebat
keluar kamar. Aku segera menyusul Yuni ke dapur. Yuni
menggoreng telur mata sapi sambil aku rangkul dan
rambutnya aku ciumi. Kami duduk berhimpitan di satu
kursi dan makan bersama dari satu piring. Kalau ingat
kejadian itu aku suka tertawa sendiri. Abisnya mirip
lagu dangdut "Sepiring Berdua". Kami saling suap, atau
lebih tepatnya Yuni menyuapi aku. Suasananya sungguh
romantis. Sesekali kami saling kecup di pipi.

Selesai makan kami duduk² di sofa sambil berdekapan.
Kami saling ngobrol membicarakan pengalaman indah yg
baru kami alami bersama. Dlm hal seks Yuni orangnya
cukup terbuka, dia sama sekali tdk canggung membicarakan
apa yg dia sukai saat bercinta. Rupanya kami sama²
penikmat seks, bukan sekedar pelahap seks. Bagi kami
seks bukan sekedar palampiasan birahi tapi lebih kepada
sesuatu yg untuk dinikmati. Mungkin ada sekitar setengah
jam kami ngobrol kemudian Yuni mengajak berbaring di
kamarnya.

Kami meneruskan obrolan kami sambil berbaring
berdampingan. Semuanya berjalan begitu alami dan apa
adanya. Tanpa terasa kami sudah saling berpelukan dan
berciuman. Sangat lembut dan mesra jauh dari gelora
gejolak birahi. Tanpa kami sadari kami berdua sudah
kembali telanjang bulat sambil masih berpelukan dan
bercumbu.

Tubuh Yuni berbaring tengkurap, punggung dan pantatnya
yg padat berisi dan mulus, membentuk bayangan yg sangat
indah di temaram lampu kecil itu. Aku mulai menciumi
punggung Yuni. Aku mulai dari tengkuknya, lidahku terus
menari ke bawah menuju puncak bukit pantatnya. Begitu
terus aku lakukan ber-ulang² sampai seluruh permukaan
punggung dan pantat Yuni tak ada yg tak terjamah
cimuanku. Sesekali aku gigit lembut bukit pantat Yuni yg
merangsang itu.

"Sssssshhhh ...... shhhhhh ..... shhhhhh ..."

Desahan lembut Yuni mulai kembali terdengar. Tanpa
teriakan dan lenguhan histeris justru menambah
romantisnya suasana saat itu.

Kemudian aku agak merubah strategi. Kali ini aku ciumi
betis belakang Yuni terus naik ke pantatnya. Ini aku
lakukan ber-kali² di kedua kakinya. Desahan Yuni menjadi
sedikit lebih kuat diiringi gerakan meronta manja.

Dgn dorongan lembut tanganku aku minta Yuni berbaring
telentang. Aku kembali menciumi seluruh
tubuh Yuni kali ini dari depan. Mulai dari lehernya yg
jenjang, turun ke dadanya, aku berhenti sejenak di kedua
putingnya untuk melakukan hisapan lembut, terus turun
lagi ke perutnya sampai daerah kemaluannya. Begitu
seterusnya. di beberapa bagian Yuni tampak menggelinjang
kegelian.

Aku berlutut di kasur di sisi kanan Yuni, jari kananku
mulai aku gosok²kan ke organ kewanitaannya yg sudah
mulai licin berlendir. Tangan kiriku mulai meraba dan
meremas buah dada Yuni yg kembali sudah menegang. Yuni
kembali menggelinjang penuh kenikmatan. Mulutnya sedikit
terbuka dan desahan erotis kembali terdengar.

"Ssssshhh ... sssshhhhh ... ssshhhh ..."

Kemudian tangan kanan Yuni mulai me-raba² mencari batang
kemaluanku yg juga sudah kaku. Dibelainya dgn lembut dan
dikocoknya perlahan. Kedua tanganku masih aktif di
kemaluan dan buah dadanya. Tangan Yuni menggamit
pantatku dan menariknya ke dekat mukanya. Aku beringsut
sedikit sehingga selangkanganku tepat di kanan wajah
Yuni.

Mulut Yuni mendekat dan langsung mencium dan mengulum
penisku. Perlahan dimasukkannya penisku ke dalam
mulutnya sambil dihisapnya lembut. Kemudian dgn lidahnya
yg lincah dia mulai menggelitik kepala penisku. Sudah
banyak wanita yg pernah menghisap penisku dan masing²
punya gaya tersendiri. Apa yg Yuni lakukan merupakan hal
baru buatku. Entah bagaimana caranya, lidahnya bisa
melakukan gerakan melingkari leher penisku. Dia laukkan
terus menerus dan ber-ulang² sambil disedotnya lembut.
Apa yg Yuni lakukan merupakan hal yg unik dan sensasinya
sungguh luar biasa. Kepala dan leher penisku yg paling
sensitif se-akan² berada dlm pusaran air yg berputar
lambat² dan teratur.

"Yun ..... oh ... nikmat ... Yun ..."

Sementara itu aku pegang tangan kiri Yuni, aku arahkan
jarinya yg lentik ke arah kemaluannya. Sambil aku
pegang, aku bimbing jari kiri Yuni untuk meng-gosok²
klitorisnya sendiri. Beberapa detik Yuni tampak mencoba
menarik tangan kirinya, tapi setelah dia rasakan
nikmatnya gesekan jarinya di klitorisnya akhirnya tanpa
bimbingan lagi dia bisa menikmatinya sendiri. Tangan
kananku sekarang bebas untuk meremas payudara Yuni dan
memelintir putingnya.

Beberapa saat kami dalam posisi ini. Tangan kiri Yuni
melakukan masturbasi di kemaluannya, tangan kanannya
meremas lembut kantong bijiku dan mulutnya sibuk
melayani penisku. Tangan kiriku mengelus rambut Yuni dan
tangan kananku masih beraksi di buah dada Yuni kiri
kanan bergantian. Tubuh Yuni aku rasakan semakin
menegang, tandanya dia sudah siap untuk melangkah lebih
jauh.

Aku cabut penisku dari mulut Yuni. Dia dgn enggan
melepaskannya dari hisapannya. Aku bangkit berdiri dan
mengambil dompet dari saku celanaku. Aku comot sebungkus
kondom dari sana dan aku sobek bungkusnya. Aku lihat
Yuni masih menikmati masturbasinya sendiri dia tidak
begitu memperhatikan apa yg aku lakukan.

"Aku pakai ini ya Yun ..."

Yuni hanya mengangguk lemah sambil matanya sedikit
terpejam menahan nikmat dari gesekan jarinya sendiri.
Aku pakaikan kondom ke penisku yg sudah menegang sampai
ukuran maksimalnya.

Dgn kedua tanganku aku balikkan badan Yuni sehingga dia
sekarang telungkup. Jari² kirinya tak lepas dari
klitorisnya, rupanya dia sangat menikmati itu. Perlahan
aku angkat sedikit pantat Yuni sehingga dia di posisi
agak nungging. Dari belakang dgn lembut aku arahkan
penisku ke liang kewanitaannya. kemudian aku benamkan
seluruh senjataku ke dalamnya. Perlahan aku turunkan
badanku menindih punggung Yuni. Aku tekan selangkanganku
ke pantat Yuni yg padat berisi itu. Dari balik karet
kondom yg tipis aku bisa rasakan kepala penisku menyodok
dinding liang senggama Yuni.

"Arrrghhhh ... shhh ... shhhh shhhhh ..."

Yuni sedikit mengerang, membuatku agak kaget krn ini
pertama kali Yuni bersuara cukup keras selama kami
bercinta.

"Sakit Yun?"

Aku lihat kepala Yuni yg sudah bertumpu d bantal
menggeleng lemah sambil nafasnya kembali mendesah. Aku
merasa lega, ternyata tadi erangan nikmat dari Yuni.
Sekarang dgn lebih santai aku tindih punggung Yuni,
Kepala Yuni menengok ke kanan, pipinya menempel pada
bantal. Aku cium belakang telinga Yuni sambil aku gigit
sedikit daun telinganya. Selangkanganku aku tempelkan
ketat ke pantat Yuni dan aku diamkan seperti itu. Aku
rasakan gosokan jari Yuni di klitorisnya semakin menguat
dan cepat. Aku tahu Yuni sudah hampir mencapai
klimaksnya. Dgn mesra aku bisikan di telinganya.

"Terus Yun ... nikmati Yun .... ndak usah tunggu aku ...
jangan di tahan Yun .. nikmati saja .. semua ini untuk
kamu Yun ..."

Yuni hanya menjawab dgn desahan

"Ssssshhh ... shhhhhh.... shhhhh ..."

Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur, otomatis
batang kemaluanku pun bergerak menggesek dinding liang
kenikmatan Yuni. Aku tahu pertahanan Yuni sudah hampir
ambrol. Dugaanku tak keliru. Beberapa detik kemudian aku
rasakan tubuh Yuni menegang, jarinya yg menggosok
klitorisnya sendiri pun sudah diam seperti patung. Kedua
kakinya mengatup keras, aku semakin membenamkan
senjataku ke tubuh Yuni dan ....

"Ben! ... Ohhhhhhhh .... shhhh .... shhhhh .. shhhhh
..."

Karet kondom yg aku gunakan menghalangi aku untuk
merasakan lendir Yuni yg meleleh dalam liang
kemaluannya. Aku hanya merasakan otot Yuni semakin
mencengkeram penisku dan ada rasa hangat di kemaluanku.
Yuni sudah mencapai orgasmenya.

Aku masih terus diam, hanya menciumi balakang leher Yuni
sambil sesekali menjilat telinga Yuni. Beberapa saat
kemudian otot Yuni mulai melemas. Cengkeramannya di
penisku sudah tidak terasa lagi.

"Nikmat ya Yun ..... "
"He eh .... Ben .... "

Aku mulai menggerakkan pantatku lagi. Kali ini gerakanku
aku atur supaya tidak terlalu cepat. Tubuh Yuni mulai
bereaksi, pantatnya digoyang memutar mengimbangi
gerakanku. Jari Yuni pun kembali memainkan klitorisnya.
Entah berapa lama kami dalam posisi ini.

Semakin lama gerakan kami semakin cepat. Pertahananku
juga sudah mulai goyah. Kami semakin giat bergerak. Aku
tahu Yuni juga sudah mau mendapat kenikmatannya yg
kedua. Tubuhku semakin aku rapatkan ke punggung Yuni.

"Aku sudah hampir keluar Yun ... ayo Yun ... nikmati
lagi ..."

Seperti biasa Yuni hanya menjawab dgn desahan yg
menggiurkan

"SSSShhhh ...... ssshhhhhh .... sssshhhhhhh ..."

Namun jawaban itu sudah cukup buatku. Aku memacu
selangkanganku semakin kuat dan cepat sampai akhirnya
tanggulku jebol diterjang air kenikmatanku.

"Yun ... ahhhhh .. ahhhhh .. crooooot crooooot ..."

Tubuh Yuni kembali kaku seperti tadi, tubuhnya menggigil
dan tiba² diam seperti arca dgn seluruh ototnya
menegang.

"SSSSSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHH .... SSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHH
...."

Akhirnya kami mencapai puncak kebahagiaan ber-sama². Aku
tunggu sampai tubuh Yuni kembali melemas barulah aku
cabut penisku dgn pelan dan aku berbaring di sisi Yuni.
Sedetik kemudian Yuni memelukku dan menghujani ciuman di
seluruh wajahku.

"Ben .... Yuni betul² puas ... belum pernah Yuni
merasakan yg seperti tadi .... makasih Ben .. makasih."

Dia kembali menciumi seluruh wajahku.

"Yun ... aku juga puas banget .... lahir bathin ....
makasih Yun ..."

Sejujurnya aku benar² merasakan kenikmatan lahir bathin
yg masih aku kenang sampai sekarang. Sejak itu
hubunganku dgn Yuni jadi agak aneh. Kami rutin melakukan
kegiatan seks dan mendaki puncak kenikmatan bersama tapi
kami tak pernah menjadi kekasih, tetap menjadi teman
baik. Bahkan di muka umum bergandengan tangan pun kami
tak pernah. Mungkinkah ini apa yg sekarang disebut
sebagai TTM, teman tapi mesra? Hubungan ini kami lakukan
selama lebih dari setahun sampai kami sama² selesai
kuliah dan aku kembali ke kota asalku dan Yuni menjalin
percintaan dgn pria lain.