Monday, May 7, 2007

TANTE VIVI 05

Aku membuka mata kembali saat kurasa Tante Vivi
menghentikan gerakan pinggul seksinya yang aduhai. Kini
ia merebahkan tubuhnya yang berkeringat basah di atas
tubuhku, kedua buah dadanya yang sebesar melon menekan
lunak dan terasa kenyal di dadaku. Batang penisku masih
perkasa tegak 100 % walau isinya serasa sudah terkuras
habis..., jepitan daging liang vaginanya masih kurasakan
begitu hebat meremas dan mengenyot alat kejantananku
yang masih terbenam kandas di dalam situ.
"mm..., bagaimana Ar..., nikmat sayangg...", bisiknya
sambil memandang genit ke arahku.
"Ahh..., kau luar biasa sekali Vi..", sahutku lirih.
Masih lemas.
"Air manimu banyak sekali Ar..", ujarnya polos. Wajahnya
yang cantik kelihatan tersenyum puas bisa membuatku tak
berdaya. Kuelus rambut hitamnya yang terurai panjang
sampai menerpa leherku yang basah berkeringat.
"Kenapa Vi...? kau tidak suka air maniku sebanyak itu.",
tanyaku lemas.
"iihh..., hik..., hik..., tidak Ar..., cuman..., Tante
khawatir kalo sampai hamil..", bisiknya padaku tetap
dengan senyum manisnya.
"aah..., Vi..., kau jangan nakut-nakuti gitu dong...,
kita khan cum..", Belum habis omonganku, Tante Vivi
menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirku.
"sstt..., Tante tau Ar..., Sudahlah..., ini cuman seks
khan sayang..", bisiknya lagi.
"Cupp...", Mulutku mengecup gemas bibir ranumnya yang
nakal itu. Sejenak kami saling bercumbu beradu bibir,
saling mengulum dan mengecup..., begitu nikmat rasa
bibir Tante Vivi itu.

Ketika kecupan mesra itu berakhir, aku berbisik mesra
padanya.
"Vi..., aku masih punya kejantanan yang lain..", kataku
gemas.
"Apa itu Ar...?", tanyanya mesra. Bibir ranumnya
kelihatan basah habis kukecup dan kukulum tadi.
"Kamu belum puas khan Vi...?", ujarku balas bertanya.
"Iyaa Ar..., mm..., tapi Tante capek sayang...",
bisiknya sambil mengerling genit.
"Aku yang akan memuasimu sekarang Vi..", bisikku gemas.
"mm..", ia tak menjawab, namun matanya dipejamkan seolah
membayangkan apa yang akan aku lakukan.

Aku jadi bernafsu, membuat batang penisku yang masih
terbenam nikmat di dalam liang vaginanya yang sempit
jadi semakin berdiri dan tambah perkasa.
Aku memeluk pinggang Tante Vivi yang kecil dan ramping
dengan erat, sambil kubisikkan kalimat mesra di
telinganya. Dengan tersenyum senang dan saling
berdekapan erat kugulingkan tubuh Tante Vivi ke samping
kiri tempat tidur, lalu dengan posisi batang penisku
masih tetap terbenam terjepit di dalam liang vaginanya,
kugulingkan tubuhku ke samping sekali lagi dan menaiki
tubuh Tante Vivi yang kini ganti berada di bawah
tindihanku.

Wooww..., nikmatnya menindih tubuh bugil montoknya yang
hangat. Terasa hangat empuk dan mulus sekali kulit
tubuhnya. Apalagi sembari menikmati jepitan daging
tubuhnya yang sangat terlarang itu.
Sejenak kami terdiam saling berpandangan mesra.
"Ar..., jujur saja..., sudah berapa wanita yang pernah
kamu tiduri...?", tanyanya pelan. Aku tersenyum geli
mendengar pertanyaannya yang spontan dan sedikit aneh.
"mm..., baru seorang saja..., Vi..", kataku terus
terang.
"Selva khan..?", tanyanya lagi.
"Bukan Vi..., orang lain..", bisikku pelan.
Pertanyaannya itu benar-benar membuat rasa bersalah itu
hadir kembali dalam batinku.
"mm..., kamu nakal Ar..., awas sayang jangan menghianati
Selva yaahh..", bisiknya sedikit serius. Jemari
tangannya mencubit pinggangku gemas.
oohh..., aku tak ingin melepas kenikmatan ini terlalu
lama dengan soal Dina atau Selva karena hanya makin
mengingatkanku dan menambah rasa bersalahku pada mereka.
Aku menundukkan muka dan kembali mengulum bibir ranum
Tante Vivi dengan gemas. Tante Vivi membalas cumbuanku
tak kalah mesra, kedua mulut kami saling berpagutan
mesra beberapa saat.

"Ar..., puasi Tante sayang..", bisiknya manja di
telingaku. Aku tersenyum penuh gairah mendengar
permintaannya. Kukecup sekilas bibir ranumnya sekali
lagi, lalu sambil saling berpandangan mesra, kutarik
pinggulku keatas secara perlahan mengeluarkan batang
penisku dari dalam jepitan liang vaginanya sampai keluar
kira-kira sekitar 8-10 centi lalu dengan perlahan pula
kembali kuturunkan pinggulku ke bawah memasukkan kembali
alat kejantananku ke dalam liang vagina sempitnya yang
seolah menyambut mesra dengan remasan dan urutan-urutan
lembut penuh kenikmatan.
"uuhh..". Tante Vivi merintih pelan keenakan sambil
tetap tersenyum manis kepadaku. Kedua jemari tangannya
mengusap-usap mesra pantatku yang lagi asyik secara
teratur mulai bergerak turun naik menyetubuhinya.
"Uuhh..., uuhh..., uuhh...", erang Tante Vivi lirih
setiap kali batang penisku kutarik keluar menggesek
daging liang vaginanya yang sempit dan licin. Untung
saja air maniku yang tumpah tadi seolah membantu
melicinkan pergesekan kedua alat kelamin kami. Aku
merasa betapa liang vaginanya itu seolah berusaha
menyedot dan mencengkeram kuat saat batang penisku
berusaha menggesek keluar dan seakan seperti diremas,
dilumat dan diurut begitu hebat tapi nikmat saat kembali
kubenamkan batang penisku ke dalam liang vagina Tante
Vivi.
"Aahhgghghgh..., aahhgghh.."

Mau tak mau aku kembali berkelojotan merasakan
kenikmatan yang tiada tara. Seakan membangun kekuatan
baru ketika kenikmatan menuju puncak ejakulasi itu mulai
kurasakan muncul pada sekujur batang penisku. Aku
semakin bersemangat dan dengan ritme teratur yang
semakin lama semakin cepat, kuhunjam-hunjamkan dengan
gemas batang penisku keluar masuk liang vagina Tante
Vivi yang makin lama kurasakan juga makin menyempit lagi
seperti hendak mendekati klimaknya.
"uuhh..., uuhh..., uhh..., uuhh..., uuhh..", Tante Vivi
mengerang semakin keras, kedua matanya kini dipejamkan
rapat menikmati genjotan alat kejantananku yang bergerak
semakin cepat seperti pompa ekplorasi minyak keluar
masuk menggesek liang vaginanya. Aku tahu Tante Vivi
sedang menuju puncak kenikmatan sexualnya. Kedua paha
mulusnya yang mengapit lembut pinggangku sesekali
dihentakkan ke bawah sambil mengejan kuat menahan
kenikmatan. Wajahnya yang cantik kelihatan meringis
saking tak kuatnya menahan rasa nikmat pada alat
kemaluannya yang sedang kusetubuhi.

Aku benar-benar puas menyaksikan ekspresi wajahnya yang
sedang didera pusaran kenikmatan yang kuciptakan di atas
tubuhnya, seandainya saja ia juga tahu batang penisku
yang sedang menggesek hebat liang vaginanya itu juga
mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas bak gunung
berapi yang hendak meletup. Namun karena ejakulasi
pertamaku tadi, maka rasa nikmat luar biasa persetubuhan
ini masih dapat kuredam dan kutahan lebih lama.
"aahh..., Vi..., ngghh..., vaginamu nikmat sekali
sayang..", erangku nakal. Tante Vivi tak menjawab,
mulutnya yang menggemaskan itu hanya terus merintih
berulangkali seiring dengan goyangan naik turun
pinggulku yang makin kupercepat.
"Uuh..., hh..., uu..., hh..., uuhh..., uuhh..", erang
Tante Vivi semakin keras.

Menit demi menit berlalu yang terasa begitu lama dan
melelahkan, entah sudah beberapa kali nyaris saja air
maniku kembali muncrat ke dalam liang vagina Tante Vivi,
gara-garanya ia mengejan terlalu kuat membuat jepitan
daging liang vaginanya mendadak mengerut dan mengecil.
Membuat batang penisku yang sudah mulai mendekati klimak
seolah dilumat-lumat dan diremas-remas hebat. Batang
penisku dibuatnya kelojotan keenakan, dan kedua kakiku
sampai gemetaran meredam sekuatnya badai kenikmatan yang
sontak menjalar di selangkanganku.


Sambil menggigit bibir menahan nikmat, kutelusupkan
kedua jemari tanganku ke balik bokongnya yang bulat
padat dan kenyal. Sembari kuremas gemas,
kuhentak-hentakkan alat kejantananku keluar masuk
menggesek liang vagina Tante Vivi secepat dan sekuat
tenagaku. Kukayuh pinggulku naik turun dengan cepat,
karena aku ingin segera menuntaskan persetubuhan ini.
"uuhh..., uhh..., uuhh..., uuhh..., uuhh..., uuhh", aku
merasa Tante Vivi begitu menyenangi permainan seks-ku
yang sedikit kasar, pinggulnya sampai ikut digoyangkan
kekiri dan kanan menikmati hunjaman demi hunjaman batang
penisku yang memenuhi seluruh liang vaginanya yang
semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya.

Sekitar 5 menit kemudian akhirnya pendakian puncak
kenikmatan itu tergapai sudah, begitu lega rasanya
melihat Tante Vivi sampai menggeliat-geliat hebat
sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya ke bawah dan
mengejan kuat melepas kenikmatan orgasmenya yang telah
menjadi penantiannya sekian lama. Mulutnya tanpa risih
menjerit, memekik-mekik dan mengerang-erang dengan suara
keras seakan tak peduli dengan keadaan sekeliling.
Akupun tak peduli, yang jelas waktu itu tak pernah
kulupakan kenikmatan yang kualami dari seorang wanita
yang entah telah sekian lama hidup tanpa pemuasan batin.
Kubenamkan sedalam-dalamnya seluruh batang penisku
sepanjang 14 centi ke dalam liang kewanitaannya.

Sejenak kuhentikan gerakan naik turun pinggulku kini
hanya sedikit kugerakkan memutar seolah batang penisku
hendak memlintir daging liang vaginanya dan kubiarkan
Tante Vivi merasakan seluruh sensasi kenikmatan puncak
orgasmenya yang luar biasa. Begitu hebatnya kurasakan
daging liang vaginanya menjepit batang penisku seakan
hendak melumat habis, seakan dipilin-pilin dan
dikenyot-kenyot kuat.
"aagghhfff..., aahh", aku sampai merem melek dan
mengerang keenakan menikmati liang sorga dunianya yang
sedang dilanda orgasme itu. Cairan lendir orgasmenya
terasa menyembur lemah menghangati dan membasahi seluruh
permukaan batang kejantananku yang sedang terjepit di
dalamnya.
"aaww..., aaww..., sshh..., nngghh..., ngnngghh...",
erang Tante Vivi karena nikmatnya.
Saking nikmatnya, pantatnya sampai diangkat ke atas
mendesak pinggulku yang juga sedang menekan alat
kejantananku sedalam-dalamnya ke dalam liang vaginanya.

Kedua jemari tangan Tante Vivi sampai mencengkeram kuat
kedua belah bokongku. Kuku-kuku jemari kedua tangannya
seakan menghunjam masuk ke dalam kulit bokongku. Terasa
sakit, namun aku tak peduli, kubiarkan Tante Vivi
menikmati sepuasnya badai puncak orgasmenya yang
panjang, kubiarkan daging liang vaginanya melumat habis
batang kejantananku. Baru kali ini aku melihat seorang
wanita yang orgasme saking begitu hebatnya sehingga
tanpa risih lagi sampai berteriak-teriak seolah ingin
melepaskan semua beban batin dalam dirinya akibat
kenikmatan tak terkira yang melanda sekujur tubuhnya.
"oouuhh..., uuhh..., ngghh..", erangnya keras berulang
kali

Mungkin hanya sekitar 6-8 detik Tante Vivi tenggelam
dalam lautan kenikmatan puncak orgasmenya, terasa
singkat mungkin bagiku. Ketika pantatnya kembali
dihempaskan ke atas pembaringan menandakan orgasmenya
mulai berakhir, sambil kucumbu mesra mulutnya yang masih
merintihkan sisa-sisa rasa kenikmatannya, kugerakkan
pinggulku naik turun lagi secara amat perlahan
menyetubuhinya kembali.
"Oouuhh...". Aku mendesah nikmat merasakan jepitan liang
vaginanya yang masih ketat sehabis orgasme, Cairan
lendirnya yang keluar membasahi batang penisku terasa
begitu licin dan hangat. Begitu nikmatnya saat alat
kejantananku kutarik melungsur keluar dari dalam liang
vagina Tante Vivi, seakan diurut dan dikenyot lembut.
Uuhh.., kupejamkan kedua mataku meresapi kenikmatan
liang surga dunia miliknya. Secara perlahan-lahan pula
setelah hampir kira2 6-8 centi-an batang penisku keluar
lalu kembali kubenamkan masuk ke dalam liang vaginanya
yang kini seakan meremas dan memijat lembut. Sreengg...,
rasanya aliran kenikmatan yang melanda alat kejantananku
membuat air maniku perlahan-lahan mulai mendesak ingin
muncrat keluar.

"oouu...", erangku keenakan saat dengan nikmatnya liang
vagina Tante Vivi kembali menjepit dan mengenyot seluruh
batang penisku.
Begitu berulang kali, naik turun secara perlahan dengan
ritme yang semakin lama semakin kupercepat menyetubuhi
Tante Vivi yang kini setelah orgasmenya berakhir malah
seolah hendak menggodaku. Entah sengaja atau tidak
setiap kali batang penisku yang kutarik keluar hendak
kubenamkam kembali menikmati jepitan daging hangatnya,
pinggulnya digoyangkan manja kesamping kiri atau ke
kanan, membuat alat kejantananku sampai keplintir serong
kekiri atau kekanan pula.

"Vivii..., aduuhh..., nikmaatt...", erangku pelan
keenakan.
"Hik..., hik..., kamu mau keluar lagi sayang..", bisik
Tante Vivi genit di sebelah telingaku.
Aku tak menjawab dan hanya bisa merem melek menahan
kenikmatan seks yang semakin lama semakin menggelora,
air maniku semakin deras mengalir dan mendesak-desak di
leher kepala penisku yang terjepit nikmat dalam liang
vaginanya.
"mm..., punyamu tegang keras sekali Ar..., hik...,
hik..., sudah mau keluar yaa..", bisiknya genit.

Astaga..., aku tak mengira, dalam keadaan masyuk seperti
ini ternyata Tante Vivi doyan sekali ngomong ngeres.
Sebodo..., ahh..
"Nngghh...", erangku semakin tak tahan.
"mm..., keluarin dong Ar..", bisiknya genit semakin
menggemaskan hati.
"Ohh..., jepit lebih keras Vii..", erangku tak kalah
genit.
"Mm..., seperti ini Ar..., mm.."
"aahhghghgghhghhghhghhgg..", Aku mendelik dan menggeram
keras saat kurasakan daging liang vagina Tante Vivi
mengerut dan mengecil, seakan meremas-remas,
mengurut-urut dan mengenyot seluruh batang penisku yang
sedang meregang menahan kenikmatan.
Dan..., aahhghhghh..., aku tak kuat lagi dan menyerah...
"Craatt..., Craatt..., craatt.."
Air maniku bak tanggul jebol membanjir keluar dengan
hebat di dalam liang vaginanya yang hangat.
Kusembur-semburkan dengan nikmat sepenuh perasaan
memenuhi liang senggamanya.
"ooww..., mm...", Tante Vivi mendesah lirih saat air
maniku menyembur-nyembur dengan kuat di dalam liang
vaginanya yang hangat.
"aahhahh..., ku..., hamili kau Vii..", erangku nakal,
sambil terus kusembur-semburkan air maniku ke dalam
rahimnya. Kuhentak-hentakkan dengan penuh nafsu alat
kejantananku menggesek keluar masuk liang vaginanya yang
semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya
bercampur air maniku yang kental. Tante Vivi sesekali
merintih kecil entah kesakitan atau nikmat menerima
hunjaman batang penisku yang bergerak begitu buas
mengoyak liang vaginanya yang sempit.
"Ooww..., iihh..., Ar..., Nggnnhh..., uu..., tegang
sekali penismu sayang...", rintihnya sambil mencengkeram
bokongku yang bergerak turun naik dengan cepat dan kuat.
"Aahhgghhg..., Vii..., Sayangghh.."

Aku seakan terbang melayang ke atas awan, jauh membubung
tinggi kesorga kenikmatan yang tiada tara.
"Uuhh..., Ar..., nggnghh..., manimu terasa kental sekali
sayaang..", rintih Tante Vivi genit.

Terasa begitu singkat namun begitu melelahkan
sesudahnya. Tubuhku seakan lemas tak bertulang begitu 2
semburan terakhir yang merupakan semburan penghabisan,
mengakhiri kenikmatan ejakulasiku. mm..., tubuhku seakan
terhempas kembali jatuh ke bumi dan lemas tak berdaya.

Aku terbaring letih di atas tubuh Tante Vivi yang baru
saja untuk kedua kali kureguk kenikmatan madu manis
tubuhnya. Oouuh..., begitu indah rasanya meresapi
sisa-sisa kenikmatan ejakulasi yang masih begitu terasa.
Batang penisku yang masih terbenam di dalam liang
senggamanya yang basah penuh cairan maniku yang seakan
telah kehilangan kejantanannya. Loyoo..., Tetapi jepitan
hangat daging liang vaginanya itu masih terasa nikmat,
seakan mengurut-urut lembut. Kami saling berpelukan
mesra, meresapi keindahan akhir persetubuhan yang sangat
melelahkan namun penuh dengan sejuta kenikmatan yang
tiada bandingnya di dunia ini. Kedua buah dadanya yang
besar montok menekan lembut dan terasa begitu kenyal dan
padat di dadaku yang bidang. Jemari kedua tangan Tante
Vivi mengusap pelan dan sesekali memijit-mijit mesra
pinggul dan bokongku yang terasa letih dan pegal. Mulut
kami bercumbu hangat saling mengadu bibir seolah saling
menukar kenikmatan.

"Mm cuupp..., cupp..., Ar..., kau benar-benar doyan seks
yaa..", bisk Tante Vivi gemas sambil berulang kali
membalas kecupan bibirku yang masih bernafsu.
"Cupp..., entahlah Tante..", bisikku lembut. Pertanyaan
sederhananya itu seolah menyadarkanku kembali. Akal
sehatku seakan kembali normal dan aahh..., rasa sesal
itu kembali datang dan selalu saja datang dikala aku
telah tuntas mereguk semua keinginan nafsu birahiku
ingin rasanya kedua mata ini menangis mengapa aku begitu
lemah dengan nafsu syahwatku sendiri.

Semenit kemudian.
Aku bergulir turun dari atas tubuh Tante Vivi, alat
kejantananku yang mulai lemas mengecil seakan tercabut
dari dalam liang vaginanya yang sempit hangat. Ia
merintih kegelian.
Sejenak aku termenung..., memikirkan semua perbuatanku
barusan, begitu lemahnya diri ini dengan yang namanya
nafsu birahi. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan
semua ini kepada Selva..., aku benar-benar gila telah
berani meniduri tantenya sendiri. Pikiranku seperti
buntu memikirkan semuanya itu.
Seakan mengerti apa yang sedang kurenungkan, Tante Vivi
mencium mulutku dengan hangat dan mengulum bibir bawahku
sejenak. Anehnya aku sendiri tak bisa menolak dan
membiarkan semua itu.
"Sudahlah Ar..., Tante mengerti apa yang kamu
pikirkan..., ini cuma seks sayang..., tidak ada ikatan
apapun diantara kita..,. selain..., seks..", bisiknya
lembut menenangkanku.
Mau tak mau aku tersenyum letih.
"Yaah..., Tante..", jawabku pendek. Bingung!
"mm..., kita akan melakukannya lagi khan Sayaang..",
bisiknya kembali terus terang tanpa rasa sungkan lagi,
sambil mengelus pipiku mesra.
Aku tak menjawab..., dan hanya bisa mengeluh dalam
hati..., aku sudah keranjingan seks..., bagaimanapun
nantinya..., kalau Tante Vivi menginginiku lagi, aku
pasti menidurinya demi sekedar kenikmatan sesaat.
aahh..., aku mengeluh pendek.