Sunday, May 6, 2007

MBAK TIYAH

Namaku joko, umurku memasuki usia kurang lebih 20 tahun
bulan ini. Para reader yang budiman, aku akan bercerita
tentang pengalaman nyata pertamaku bagaimana rasanya
bersetubuh dengan wanita. Pengalamanku ini terjadi
pertengahan tahun 1995 dengan kakak teman karibku.

Awalnya aku pikir bersetubuh dengan wanita adalah hal
yang biasa-biasa saja, atau kenikmatannya sama saja
dengan waktu kita beronani dikamar mandi saat kita lagi
butuh kepuasan, itu pendapatku waktu itu. Kebiasaanku
beronani atau kata orang “ nyoli “ dimulai waktu usiaku
masih 17 tahun ketika aku duduk dikelas tiga S M P.
Telah menjadi kebiasaanku sepulang sekolah aku harus
pergi kesawah untuk mencari sekarung rumput makanan dua
ekor kambingku saat masih dikampung, kini aku tinggal di
Jakarta bersama budeku. Memang kedua orang tuaku adalah
peternak yang kurang sukses.

Karena terbentur utang yang tak kunjung lunas akhirnya
hewan perliharaanya tersisa dua ekor lagi. Teman setiaku
adalah wawan, rumahnya persis didepan rumahku hanya
dibatasi sebuah jalan kecil yang menghubungkan kesebuah
danau diantara rumah kami berdua. Waktu itu hari
menjelang sore, aku bergegas berganti pakaian sehabis
makan sore sepulang sekolah lalu ku ambil sabit yang
terselip didinding dapur rumahku yang terbuat dari
anyaman bambu, serta tak lupa kutarik karung yang
tergeletak dibawah meja makan, kemudian kutaruh keduanya
diatas sadel belakang sepeda kesayanganku sambil makan
pisang aku bergegas kerumah wawan untuk meminjam asahan
menajamkan sabitku supaya mudah menebas rumput, setelah
sampai didepan pintu aku masuki rumahnya lalu kupanggil
dia “ wan…” iya…jawab wawan dari kamar. “ pinjam asahnya
dong wan “, sembari trus berjalan “ dibelakang ko, di
kamar mandi, ambil aja, saya lagi ganti pakaian” jawab
wawan dari kamar. “ cepatan wan…udah sore nih….” Pintaku
ke wawan.

Aku lalu kedapur karena memang kamar mandinya ada
diluar, dibelakang rumah. Kamar mandi dikampungku
umumnya hanya terbuat dari terpal yang dililitkan
diempat tiang yang terpancang ditanah, itupun hanya
sepatas pinggul, pendek. Pabila kita mau mandi ya harus
duduk supaya nggak kelihatan. Pintu kamar mandinya pun
hanya di tutupi dengan handuk, sebagai simbol menandakan
kalo didalam kamar mandi ada yang sedang mandi. Kubuka
pintu dapur yang menuju keluar - kekamar mandi, memang
kamar mandinya di keliling pohon pisang dan rambutan
jadi kurang begitu jelas kalo terlihat dari pintu dapur
rumah wawan. Setelah beberapa langkah mendekati kamar
mandi byur……suara orang sedang mandi betapa kagetnya
ketika kulihat kearah kamar mandi, aku pikir tak ada
orang dikamar mandi karena tak ada handuk yang terjuntai
dipintunya. Sungguh pemandangan yang spektakuler waktu
itu, betapa tidak mbak tiyah kakaknya wawan yang masih
kelas 3 SMU Negeri 1 di kampungku itu sedang asik mandi
tanpa sehelang benangpun yang menutupi indah tubuhnya.
Dibawah kuncuran air yang tertampung dalam kotak segi
empat terbuat dari semen yang digantung diatas kamar
mandi ia asik membersihkan pantat dan pinggangnya yang
ramping, karena ia membelakangiku ia tak tahu
kehadiranku aku tertengun kuperhatikan dari ujung
kakinya lalu naik kepahanya mulus, putih gempal
ditumbuhi bulu lembut diatas lututnya, aku tak tahan
pandanganku trus naik kearah pantat luar biasa padat dan
berisi ujung pantatnya yang menyembul bergoyang – goyang
ketika mbak tiyah mengoyangkan kepalanya yang sedang ia
keramasi.

Dia membalikkan badannya, semetara aku telah bersembunyi
dilebatnya pohon pisang kulihat payudaranya membusung
keatas indah dan sekal berjuntai kesana kemari seperti
balon yang terisi air, diujung payudara sebelah bawah
ada daging kecil warna coklat muda yang agak menonjol
dan astaga…..!!! pandanganku turun kebawah perutnya,
ramping sekali dan pusarnya indah serta bersih …apa itu…
disela-sela kedua panggkal pahanya ada tonjolan daging
yang belah ditengahnya ditumbuhi bulu – bulu halus
hampir sampai lubang pusarnya. Aku tetap diam dibalik
pohon pisang sembari mataku tak lepas dari pandangan
kearah kamar mandi. Aku nikmati pemandangan itu sampai
mbak tiyah selesai mandi, baru aku mengambil asahan
kemudian mengajak wawan pergi kesawah untuk mencari
rumput.

Malam harinya pikiranku nggak bisa tenang, selalu
terbayang dengan busungan kedua payudara dan bulu-bulu
halus diselangkangan mbak tiyah, sambil terbaring
dikamar yang telah kukunci kucoba untuk memejamkan mata
tetap saja terbayang, akhirnya pikiranku tak bisa tenang
perlahan kumasukan jari-jari tangan kananku dibalik
sarung, trus kebawah diantara kedua panggkal pahaku lalu
tanganku kususupkan kebalik celana dalam merk Sony yang
sedang kukenakan, kupegangi bulu-bulu dipangkal
kemaluanku, walau baru tumbuh sedikit namun terasa kasar
kutarik-kutarik perlahan-lahan bulu yang tumbuh
disekitar pangkal penis, penisku menegang beberapa urat
terasa menyembul dipinggir batang kemaluanku, kutarik
tanganku kemudian kuludahi permukaan tanganku lalu
kumasukan kembali kebalik sarung sementara celana
dalamku telah kulepas tapi masih tersangkut dimata
kakiku.

Ku urut pelan-pelan sembari kuremas-remas penisku, makin
lama terasa nikmat sekali. Namun baru beberapa urutan
genggaman tanganku pada penis terasa mulai seret dan
panas karena ludahku mengering. Disamping ranjangku
diatas meja belajar ada sebotol handbody lotion yang
selalu kupakai sehabis mandi, ku ambil dan kutuangkan
dipermukaan tanganku, ku oleskan diseluruh batang
kemaluanku setelah itu ku genggam seraya kemudian posisi
tubuh kuberbalik dan sekarang aku tengkurap sembari
menggenggam batang kemaluanyang makin membesar
kupejamkan kedua mataku seolah – olah aku sedang
menindih mbak tiyah, kutekan perlahan-lahan pantatku
sangat teratur naik turun , tanganku kubiarkan saja
menempel dikasur sembari tetap menggenggam batang
penisku.

Napasku mulai tersengal gerakanku semakin cepat ku
kuremas – remas batang kemaluanku kubayangkan kalau
kemaluanku terjepit diantara selangkangan mbak tiyah
yang berbulu halus itu makin lama kurasakan makin
“nikmat oughhhhhh…. mbak tiyah… enaaaaaaakkk….” desahku
ada sesuatu yang terasa makin memuncak makin dekat
kelubang penisku dan akhirnya "oughhhhhh…croootttt..
crottttttttt…. enakkkkk mbak tiyahhhh…..”segumpal cairan
warna kuning-kecoklatan agak kental keluar mengalir dari
ujung penisku, aku terkulai lemas, kubalikkan tubuhku
sekarang aku terlentang keringat mengucur disekitar dada
dan wajahku, pelan –pelan ku urut batang kemaluanku ke
arah atas ku peras sisa – sisa buih kenikmatan yang
masih tersisa, mungkin aku lelah karena kegiatan itu ku
ulangi sampai tiga kali malam itu sampai-sampai handbody
lotionku habis..akhirnya ku tertidur pulas..

Tepatnya malam tanggal 17 Agustustus 1995 wawan datang
kerumahku, lalu mengajakku main kerumahnya tujuannya
untuk menyelesaikan pe-er bahasa inggris dari bu guruku,
memang pelajaran yang paling kusuka disekolah adalah
bahasa inggris. Sesampai dirumahnya kulihat diruang tamu
mbak tiyah sedang tidur terlentang sambil menonton tv, “
kok sendiri mbak, Bapak sama Ibu pada kemana ?? tanya ku
kepadanya sembari kulirik buah dadanya menonjol dibalik
t-shirt warna ungu yang sangat ketat melekat ditubuhnya
serta memperlihatkan lubang pusarnya. “ lagi ke rumah
saudara ko, ada yang nikahan di Jakarta “ ujarnya “ ada
pe-er malem ini ko ?”, tanya dia“ iya mbak, pe-er bahasa
inggris, mbak mau bantuin ??, ku pancing dia . “ nggak
ah, filmnya bagus entar aja ko, coba aja dulu entar kalo
nggak bisa mbak bantuin deh “ jawab mbak tiyah, “ iya
deh mbak, saya permisi dulu kekamar wawan nggak enak
sama wawan udah nungguin” kataku, padahal aku masih
ingin mengobrol bersamanya. Dikamar aku sibuk
menyelesaikan pe –er dimeja belajar wawan sementara
wawan malahan baca majalah diatas ranjang yang terbuat
dari papan tapi diatasnya ada kasur busanya, pe-er kali
ini membuat kepalaku benar-benar pusing, akhirnya
setelah pukul 11 malam baru pe-er itu dapatku
selesaikan, karena asiknya membuka dan menutup kamus
sampai-sampai aku lupa pada wawan, kutengok kearah
ranjang kulihat ia telah terlelap tidur. Kututup kamus
dan kurapikan meja belajar wawan.

Kuselimuti dia, ahhh lebih baik aku kedapur cari makanan
pikirku karena rumah wawan sudah seperti rumahku
sendiri, ketika ku melintas ruang tamu kulihat mbak
tiyah masih tidur terlentang didepan tv, hanya saja kini
ia telah berganti pakain memakai baju tidur longgar
bercorak bunga-bunga. “ mbak belum tidur “, tanyaku “
belum ko, habis filmnya bagus, udah beres pe-ernya ?”
mbak tiyah balik bertanya seraya ku duduk disampingnya
tetapi aku menghadap ke tv sementara ia masih
tidur-tiduran. “ mana wawan ? “, tanya mbak tiyah “ udah
tidur dari tadi mbak, mungkin capek ?” jawabku. “ ko
kata wawan kamu pintar ngurut kepala ya ?“ , sembari
mbak tiyah menekan kepalanya seolah – olah sedang
pusing, atau memang pusing beneran aku tak tahu waktu
itu. “ tolong pijitan kepala mbak ko “ pintanya “ bisa
sih sedikit mbak, kenapa ?, kepala mbak sakit, yang
sebelah mana yang sakit mbak “ sembari mulai kupegang
kepalanya tepat diatas jidatnya, kutekan
perlahan-perlahan.

Tapi pandanganku tetap ke arah tv, tapi sumpah enggak
tahu pikiranku mulai porno, sementara dibalik celana
hawaiku, penisku nggak bisa diajak kompromi makin
menegang. Aku tetap memijat disekitar kening mbak tiyah,
kulirik ia ternyata matanya tertutup mungkin menikmati
pijitan tanganku. “ enak ko, kamu pintar mijatnya” kata
mbak tiyah. Aku hanya tersenyum. “ udah ko, pijitin
pinggang mbak iya” tanpa menunggu persetujuan dari ku
kemudian ia membalikan tubuhnya. “ sebelah sini ko “
mbak tiyah memegang pinggangnya menjelaskan letak yang
harus ku pijat. Ku pegang pigangnya, ku urut dari mulai
dari atas kebawah sambil ku tekan perlahan-lahan
permukaan pigangnya tapi hanya sebatas pinggulnya tak
lebih dari itu, aku takut dibilang kurang ajar. Tapi
beberapa kali tanganku tersangkut baju tidurnya. “ susah
ya ko, kamu ngurutnya, sebentar ko biar bajunya mbak
angkat keatas “ mbak tiyah pegang ujung bajunya yang
menutupi punggungnya hingga pinggulnya kemudian ia tarik
hingga sebatas tali branya, tapi mbak tiyah masih dalam
posisi tengkurap. Ia letakkan tangan yang sebelah kiri
diatas punggungnya.

Aku benar-benar terpesona melihat permukaan kulit
pinggul mbak tiyah yang kamarin lusa hanya mampu
kupandangi dari jauh kini ada di depan mataku, dapat ku
sentuh dan kuraba. “ cepatan ko “ suara mbak tiyah
mengagetkanku . “ iya mbak “ aku tergagap, kucoba tetap
bersikap wajar ku tekan sebisa mungkin pikiran pornoku
setelah sekian menit aku dan mbak tiyah hanya diam
sementara aku hanya mengurut dan mbak tiyah sesekali
mengeluh menahan tekanan tanganku, kucoba membuka
pembicaraan “ kulit mbak putih ya “ pujiku tetapi aku
tetap mengurut dibagian pinggang mbak tiyah pelan-pelan.
Pijatanku kuarahkan kebagian bawah pertama kuberanikan
memijat gundukan daging pantatnya, rasanya padat dan
kenyal lalu kupegang dengan kedua tanganku
kuremas-remas, aku hampir nggak bisa menguasai diri
sepertinya mbak tiyahpun menikmati pijatan-pijatanku,
desahan nafas mbak tiyah makin jelas kudengar iramanya
seperti orang sehabis lari pagi.

Tiba-tiba mbak tiyah berbalik kini ia terlentang. Aku
kaget setengah mati, mati aku….pikirku aku pasti akan
dicaci oleh mbak tiyah atas ulahku yang kurang ajar.
Tapi aneh mbak tiyah justru tersenyum melihatku. Mbak
tiyah bangun dari tidurnya, kulihat matanya sayu, dan
bibirnya setengah terbuka dan basah sangat mengoda. “
sini tanganmu ko “ mbak tiyah meraih kedua tanganku, aku
diam saja aku bagai terhipnotis hanya desah napasku
makin tak teratur. Diletakkannya kedua tanganku diatas
payudaranya, ia bimbing kedua tanganku untuk meremas
kedua payudara dibalik bajunya. Aku tak tahan ku angkat
ujung bajunya lalu aku berdiri dan kutarik keatas
melewati kepalanya hingga akhirnya bajunya terlepas dari
tubuhnya, aku duduk lagi dihadapannya kupeluk dia,
kupegang tali pengait BH warna ungu dipunggungnya,
kutarik secara paksa, “aduhhhh, pelan-pelan ko sakit”
ketika tali BH itu terlepas secara paksa.

Kini payudara itu menyembul keluar, membusung indah ku
pegang perlahan-lahan lalu kuremas-remas,
“aughhhh…geli……enak…ko, auhghhh pelan-pelan ko….” Mbak
tiyah memegang lenganku semakin kecang pegangannya, mata
mbak tiyah kadang terbuka kadang tertutup. Ku pegang
bagian bawah payudaranya kuangkat lalu kuarahkan mulutku
kebagian puting payudara mbak tiyah sebelah kiri,
kumasukan kemulutku lalu ku gigit pelan-pelan, “
auhghhhhhhh…..enakk..ko..geli….ko, terus terusss enakkkk
kooo ”, mbak tiyah memeluk kepalaku, ia tarik rambutku
sementara tangan kanannya membuka kancing celanaku lalu
trus kebawah hingga masuk kebalik celana dalamku
dan…auhh…ia pegang batang kemaluanku yang dari tadi
telah menegang. Ia tarik kebawah celana hawaiku hingga
terlepas, akupun tak tinggal diam ku pegang celana tidur
mbak tiyah kutarik hingga terpelorot sampai bawah.

Ku baringkan mbak tiyah diatas tilam warna ungu kemudian
kepalanya kuangkat lalu kuselipkan bantal dibawah
kepalanya. Tubuhku melorot kesebelah bawah sementara
kini posisiku diatas mbak tiyah sedangkan kedua pahanya
mengapit pinggangku, tubuhku makin kebawah. Kusentuh
bagian vital mbak tiyah trus kubelai rambut – rambut
halus disekitar lubang kewanitaanya kucium perlahan lalu
kugigit bagian daging yang menyembul keluar sebesar biji
sirsak berwarna merah, mbak tiyah
merintih…uaghhhhhh…kamu pintar kooo.. sementara kedua
pahanya mengapit kepalaku menahan geli bercampur nikmat,
kurasakan kini liang yang ada dipangkal mbak tiyah itu
makin lama makin mengeluarkan cairan yang memenuhi
lubang kemaluanya.

Posisiku kini berubah perlahan aku duduk didepan
selangkangan mbak tiyah ku pegang kedua pahanya mbak
tiyah kutaruh diatas lututku, kini didepanku terlihat
jelas belahan liang kemaluan mbak tiyah makin membelah
hingga didalamnyapun terlihat jelas olehku karena
terpaan sinar lampu diruang tengah itu, perlahan-lahan
kumasukan jari tengahku kedalam lubang kemaluan mbak
tiyah baru kira – kira satu cm ku putar – putar jari
tengah ku didalam kemaluan mbak tiyah tepat diatas
daging yang menonjol didalam liang itu.“
Aughhhh….trusss…ko….enak sekali…koooooo”,
Mbak tiyah merintih-rintih semetara kedua tangannya
berputar kesana kemari meraih apa yang bisa ia pegang,
ku lihat mbak tiyah bagai cacing kepanasan menggeliat
kesana – kemari. Ia berusaha meraih batang kemaluanku. “
Jokoo masukin punyamu ko” suara mbak tiyah terdengar
parau akibat tekanan birahi yang kian memuncak. Ku
genggam batang penisku yang sudah mengencang dari tadi
lalu tanganku yang sebelah kiri merenggangkan paha mbak
tiyah, terlihat jelas liang kemaluan mbak tiyah makin
menganga, batang kamaluanku makin dekat dengan lubang
selangkangan mbak tiyah lalu kuarahkan tepat ditengah
dan bluusss…..” aauuuuuuuuu….sakit kooo jangan kuat
–kuat nekannya,” teriak mbak tiyah.
“ enaakkk mbak, aughhhh punya mbak tiyah enakkk… aku tak
menghiraukan lagi teriakan mbak tiyah. Awalnya lubang
kemaluan mbak tiyah terasa serat tapi lama – kelamaan
ada cairan yang mengalir hangat mengalir keluar dari
rahim mbak tiyah, hingga kini batang penisku dapat
lancar keluar masuk kedalam lubang kenikmatan itu.
Cepat…kooo…tekan yang kuat punya mbak mau keluar..
rintihan mbak tiyah makin menjadi-jadi…sementara
dekapannya dipunggungku makin kecang auhghhhh cepatttt
koooo yang kuat nusukkk nya…” rintih mbak tiyah…”.
“aughhh…mbak punya saya mau keluaarrr
…enaaakkkk..enaaaakkk…..mbakk,….saya…sayang….mbak…
….auhghhhhhh….mbak
kerluarr….enakkkkkkk…..enakkkkk..mbak….”kugigit payudara
mbak tiyah, lalu ku sedot-sedot puting mbak tiyah….ada
sesuatu yang kian memuncak mendekati….” enaakkk kooooo
trussss kooo mbak sayang joko juga……….” dan akhirnya
crottt….crottt….air maniku tumpah diatas perut mbak
tiyah…aku terkulai lemas ku kecup lembut bibir mbak
tiyah…mbak tiyah hanya diam dan tersenyum…puas walau
disela matanya kulihat ada air mata.

Kulirik jam dinding ternyata tengah malam telah
terlewati, ku kenakan kembali celanaku, sementara mbak
tiyah habis membenahi pakaian dan rambutnya yang
acak-acakan lalu menuju makar mandi. Ku langkahkan kaki
menuju kamar dan aku tidur disamping sahabat karibku
wawan.

Sebulan setelah kejadian itu mbak tiyah lulus sekolah
kemudian atas saran kedua orang tuanya ia melanjutkan
kuliahnya di Yogyakarta. Salam sayang ku buat mbak tiyah
yang cantik jika sempat baca cerita ini semoga engkau
tetap sayang padaku “melati”mu.