Sunday, May 6, 2007

SOPIR BEJAT

Kisah ini terjadi sejak setahun yang lalu dan herannya
aku tidak dapat melepaskan dirinya dari sisiku. Panggil
saja aku Emma. Sejak usiaku 20 tahun aku menjadi bintang
iklan dan foto model, dan saat ini usiaku 27 tahun jadi
sudah 7 tahun aku malang melintang di dunia modelling.
Sejak aku sibuk menjadi model, ayah memberiku sebuah
mobil sedan dan aku sendiri yang menyupirnya.

Karena makin lama aku makin banyak iklan yang
kubintangi, otomatis kesibukanku juga makin bertambah.
Kalau pulang ke rumah pasti di atas jam 12.00 malam.
Karena terlalu sering pulang malam habis syuting dan
tidak enak karena mengganggu tetangga tempat tinggal
ayah, atas persetujuan ayah dan ibuku, aku menyewa
apartemen di daerah Kuningan dari hasilku menjadi model.

Akhirnya sejak 2 tahun lalu aku tinggal di apartemen
beserta seorang pembantu (Menik). 6 bulan aku sudah
tinggal di apartemen itu. Suatu malam ketika aku pulang
secara tidak sadar aku menubrukkan mobilku ke pohon,
untungnya aku tidak cedera berat, namun hal itu membuat
diriku trauma untuk membawa mobil sendiri dan selama
hampir 3 bulan, aku menggunakan Taxi untuk mengantarku
syuting iklan.

Pada suatu hari, temanku mengajurkan untuk menggunakan
jasa supir. Akhirnya setelah kutimbang-timbang, suatu
hari temanku mengantarkan supir ke apartemenku. Pada
awalnya aku agak ragu setelah melihat wajah (sebut saja
David) untuk menjadi supirku. Terus terang aku agak
takut karena dia berasal dari Timur Indonesia, orangnya
berkulit hitam legam, usia sekitar 53 tahun, orangnya
tinggi besar dan berbulu. Namun kata temanku, dia biasa
mengendarai mobil-mobil otomatic dan pernah menjadi
supir dari salah satu kedutaan. Akhirnya dengan segala
pertimbangan David resmi menjadi supir pribadiku.

Sejak saat itu aku berpikir untuk memilih mobil baru,
karena mobil sedan yang ayah belikan untukku tidak
pernah kuperbaiki sejak kecelakaan tersebut. Mobil yang
kugunakan adalah keluaran Korea. Dan memang rupanya
David selain ahli dalam menyupir (menyupirnya tenang dan
hati-hati), sopan terhadap diriku (jadi bodyguard-ku),
ternyata dalam hal melayani nafsu seksku dia juga ahli.

Kejadiannya kira-kira satu tahun lalu, malam itu jam
02.30 aku pulang dari acara pembubaran panitia iklan
salah satu produk makanan. Karena pada acara tersebut
ada minuman yang memabukkan, aku agak sempoyongan ketika
dipapah temanku masuk mobil dan Pak David terkaget-kaget
dari tidurnya. Setelah itu David langsung menggantarku
pulang ke apartemen.

Dalam keadaan setengah mabuk, berat rasanya untuk naik
lift sendiri, setelah sampai di parkiran apartemen,
kuminta David mepapahku ke kamarku di lantai 37. Tubuhku
mengelayut di tubuh David. Sampai di pintu kamar, kunci
kamar lepas dari tanganku karena aku makin pusing.
Dengan cekatan David mengambil kunci yang terjatuh,
secara otomatis tubuhku juga lunglai dan dengan cepat
juga David membopong tubuhku, lalu membuka pintu dan
masuk apartemen. Aku dibopong hingga masuk kamar
tidurku, lalu direbahkannya tubuhku di tempat tidur.
David lalu keluar kamar tidurku.

Setengah jam kemudian karena aku tidak dapat tertidur
akibat kepalaku pusing dan aku merasakan mual ingin
muntah, aku berteriak memanggil Menik pembantuku untuk
membantuku bangkit. Tapi yang masuk kamar bukan Menik
melainkan David.
"Ada apa Non..? Menik khan lagi pulang kampung.."
"Oh.. iya.. aku lupa.. tolong.. Pak.. saya mau muntah."
"Kemana.. Non..?"
"Tolong.. ke kamar mandi.."
David lalu membopongku ke kamar mandi. Sampai di sana
aku pun langsung muntah.

Setelah selesai, David membopongku kembali ke kamar
tidur, namun secara tidak sengaja rok yang kukenakan
tersingkap hingga terlihat celana dalamku yang berwarna
hitam model cawat oleh David disaat dia merebahkan
tubuhku di tempat tidur. David pun langsung berubah
menjadi buas dan kasar. Dia langsung menggosokan
tangannya di pahaku yang putih mulus dan vaginaku yang
masih tertutup celana dalam diremas oleh tangannya. Aku
hanya dapat mendesah dan tidak dapat berbuat apa-apa
untuk menolaknya, karena badanku yang lemas sehabis
muntah.

David pun makin kasar, celana dalamku langsung ditarik
ke bawah hingga betis lalu jari-jarinya mulai dimainkan
di vaginaku. Aku hanya dapat melengguh dan mendesah
ketika jarinya dimainkan di vaginaku.
"Ahhh.. aahh.. sshh.. sshhh.. awghh.."
Jari-jari tangan David ditusukkan makin ke dalam
vaginaku. Aku sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa
terhadap apa yang David lakukan padaku karena pusing di
kepalaku makin berat dan tubuhku sama sekali tidak
bertenaga. Karena aku tidak dapat berpikir jernih, David
makin menggila menguasai tubuhku.

David mulai menjilati pahaku yang putih nan mulus, makin
lama makin ke atas hingga liang vaginaku terjilat oleh
lidahnya yang agak kasar permukaannya. Aku makin terbawa
arus kenikmatan dan bukannya berontak terlebih-lebih
ketika lidahnya menemukan biji klitorisku dan
disedot-sedot oleh lidahnya hingga aku pun melintir dan
menggelinjang nikmat.
"Arhh.. arghh.. sshh.. sshhh.. oohh.. oohh..! Pak..
David.. terus.. Pak.. trus..!"
Aku malah berceracau tidak karuan. David pun makin
menyedot klitorisku lebih gila karena kusuruh.

Setelah hampir 15 menit lamanya vaginaku disedot oleh
David (supirku), aku pun berontak, dimana kepala David
yang ada di selangkanganku kuremas dan keluarlah dari
vaginaku cairan yang langsung dijilat dan ditelan habis
oleh David hingga tidak bersisa. Tubuhku makin lemas
setelah cairan yang keluar dari vagina dengan banyak.
Hal ini berbeda dengan David yang makin ganas, bajuku
langsung dirobek, begitu juga BH-ku hingga aku
benar-benar bugil dibuatnya. Payudaraku yang 36B
terbungkus kulit putih bersih nan mulus terbuka tanpa
penutup, dan terus terang baru sekali ini aku bugil
dilihat oleh seorang laki-laki seumur hidupku, dan yang
beruntung adalah supirku sendiri. Pacar-pacarku
terdahulu pun belum seuntung supirku.

David yang belum puas menikmati klitorisku tadi,
langsung melepaskan baju dan celananya hingga bugil.
Mataku langsung melihat batang kemaluan David yang
panjang, gede, besar dan hitam menggelantung dengan
tegang dan keras di antara pahanya yang kulitnya hitam
legam. Saking hitamnya tubuh David, sampai terlihat
mengkilap karena keringatnya mulai menetes dari
pori-porinya.

David lalu naik ke atas tubuhku dan jongkok di perutku,
batang kejantanannya menggelantung tepat di wajahku. Aku
mulai berontak, kugelengkan wajahku, aku tidak mau
menggulum kejantanannya, karena selain hitam dan besar,
penis David mengeluarkan bau yang agak aneh. Tapi David
rupanya lebih pintar, hidungku dibekap oleh tangannya
sehingga aku sulit bernapas, mau tidak mau aku harus
bernapas dengan mulut.

Begitu mulutku terbuka untuk bernapas, tangannya yang
memegangi penisnya langsung menyodokkan kejantanannya
masuk mulutku. Aku pun tersedak oleh batangnya yang ada
di mulutku. Aku berusaha berontak, namun lagi-lagi
hidungku dibekap hingga disaat mulutku terbuka makin
lebar batangnya ditekan lagi lebih ke dalam mulutku. Aku
makin tersedak karena batang David rasanya menyentuh
amandelku. Namun rupanya walau sudah menyentuh
amandelku, batang kejantanan David belum sepenuhnya
masuk dalam mulutku. David mencoba menyodokkan lebih ke
dalam lagi batangnya dalam mulutku hingga terasa sampai
kerongkonganku hingga aku terbatuk-batuk.

David lalu melonggarkan dengan menarik kemaluannya
sehingga aku dapat bernapas, tapi lalu dia menyodokkan
lagi penisnya masuk ke dalam mulutku hingga aku
tersengal dan terbatuk-batuk lagi, sedangkan hidungku
tetap ditutup oleh tangannya. Otomatis mataku mulai
berair menahan rasa sakit di kerongkonganku. David terus
melakukannya selama hampir 1 jam sampai cairan putih
kental, rasanya aneh dan berbau memenuhi mulutku.

Aku berusaha mengeluarkan cairan itu dari mulutku dengan
menahan napas agar cairan itu tidak masuk, tapi David
menyodokkan lagi kemaluannya sehingga cairan yang bau
dan rasanya aneh tertelan juga yang membuatku
terbatuk-batuk.
"Nah.. gitu dong... Bu. Cairan David.. harus Ibu telan.
Gimana rasanya, enak.. khan..?"
"Bangsat loh.. Sialan loh Vid..! Keluar kamu dari rumah
saya..!"
Kumarahi dan kumaki David yang telah menyiksaku. Memang
pada saat David menjilati klitorisku, aku merasakan
nikmat, namun hal yang baru saja dia perbuat terhadapku
membuat diriku tersiksa.

Namun David rupanya semakin gila dan ganas. Tubuhku lalu
ditariknya ke sisi tempat tidur, kakiku direnggangkannya
dan diletakkan di pundaknya. Batang kemaluannya
ditempelkan pada vaginaku, lalu dengan jarinya dibukanya
vaginaku dan dimasukkan kejantanannya ke dalam vaginaku.
Vaginaku yang masih rapat karena belum pernah dimasuki
kemaluan siapa pun merasa seperti dirobek.
Aku meringis kesakitan, "Akh.. akhh.. sakit Vid..
sakit..!"

Kejantanan David mulai membongkar vaginaku yang masih
rapat dan sempit. Disodokkannya batangnya yang hitam,
panjang dan besar itu ke vaginaku.
Aku dibuatnya menjerit-jerit menerima sodokan itu di
vaginaku, "Akh.. sakit Vid.. kontolmu besar sekali.."
"Gimana Bu rasanya..? Nanti juga enak kok.. Bu.."

Payudaraku yang ranum, terbungkus kulit yang putih
bersih pun dan ukurannya 36B sudah dilahap oleh
mulutnya, dicucup, disedot dan digigit putingnya. Aku
makin lama makin menggelinjang mengikuti irama
permainannya. Walaupun tubuh David hitam legam sedang
berada di atas tubuhku yang putih mulus, makin lama
permainan kami membuat tubuhnya mengkilat karena
keringat yang menimbulkan aroma bau yang tidak enak,
yang membuatku ingin muntah lagi, namun vaginaku rasanya
makin enak setelah semua batangnya masuk ke vaginaku.

"Argh.. argh..! Vid, kontolmu enak sekali.. walau
tubuhmu bau.. keringat.. argh.. arghh.. Trus.. Vid..
trus..! Kontolmu nikmat sekali.."
David terus menghujamkan kemaluannya ke dalam vaginaku.
Perasaan ini sama sekali belum pernah kurasakan dalam
hidupku. Tapi karena nikmatnya, aku merasa tidak
memperdulikan apakah laki-laki yang menikmati vaginaku
itu supirku sendiri.

David pun juga terus melumatkan payudaraku dengan
putingnya digigit-gigit, yang membuatku makin
menggelinjang.
"Vid.., gila..! Enak buanget kontol lu, argh.. argh..!"
kataku menanggapi kelakuannya.
"Bu.. memek Ibu juga.. nikmat banget..! Kontol saya
kayak diperas-peras..! Enak buanget.. Bu." jawabnya
sambil terus melakukan gerakan yang membuatku terasa
nikmat.

Hampir satu jam kemudian, vaginaku terhujam batang
kejantanannya David. Aku pun memberontak dan mengelepar
ke kiri dan kanan, sambil kujambak rambutnya yang hitam
ikal. Vaginaku terasa sakit luar biasa dengan
mengeluarkan cairan putih kental dan berdarah, namun
nikmat bukan kepalang. Cairan itu membasahi kemaluan
David yang masih tertanam di vaginaku. Saking banyaknya
cairan itu sampai keluar hingga meluber ke pahaku.

"Argh.. arghh.. Vid. Aku keluar nich..! Argh.. argh..
sakit Vid, namun.. enak buanget deh..! Aku sampe.. lemas
nih..! Argh.. argh..!"
Tubuhku pun lemas tidak berdaya dengan tetesan cairan
putih kemerah-merahan di vaginaku yang tumpah ke seprei,
membuatku agak panik begitu melihatnya.
"Vid..! Aku kenapa..? Kok ada.. darahnya.. juga..?"
"Ya.., memang Bu. Vagina Ibu sudah sobek. Jadi
berdarah.., Ibu bukan perawan lagi."
"Hah..? Aku tidak perawan lagi..? Kamu apain sih..!"
"Tenang Bu..! Kalau ada apa-apa, David tanggung jawab."
"Ya sudah."

Aku pun langsung lemas lagi karena tetesan itu masih
mengalir. Namun aku tidak berbuat apa-apa ketika badanku
diputar posisinya hingga aku menungging. Dan selama itu
pun batang David masih tertanam pada vaginaku sehingga
terasa agak perih. David lalu memompanya lagi
kemaluannya keluar masuk vaginaku, makin lama rasa perih
vaginaku hilang karena rasa nikmat luar biasa yang
kurasakan pada vaginaku. Aku merasa kalau batang
kejantanan David rasanya lebih tertusuk ke dalam lagi
hingga terasa ke perutku.

Hampir 1 jam kemudian, aku pun mengeluarkan cairan lagi
yang membuat diriku makin lemas tidak berdaya, yang mana
banyak sekali cairan putih kental seakan tidak
habis-habisnya dari vaginaku, tubuhku menjadi lunglai.
"Akh... akh.. Vid... aku keluar lagi nich..!"

Lima menit kemudian, akhirnya David pun sampai juga pada
puncaknya. Namun karena posisi tubuhku yang sudah loyo,
sehingga David tidak dapat melepaskan batang kemaluannya
dari vaginaku dan secara otomatis cairan hangat pun
mengalir dengan derasnya dari penisnya membasahi
rahimku.
"Bu.., aku keluar nich..! Aku.. keluar.. argh.. argh..
tapi.. nggak bisa dicabut dari memek Ibu.."
Aku tidak berbuat apa-apa atas tindakan david membuang
sperma di rahimku, karena rasa hangat dan nikmat yang
kurasakan, aku hanya tersenyum.
"Vid. Hangat sekali sperma kamu. Argh..!"

Setelah cairan sperma David membasahi vaginaku, dan
setelah dia mengubah posisi tubuhku, akhirnya batang
kejantanannya terlepas juga dari vaginaku. Lalu
ambruklah tubuh David di atas tubuhku yang sangat lemas.
Kami pun tertidur lemas tidak berdaya.

Aku terbangun sekitar jam 06.00 pagi. Disaat terbangun,
aku terkaget-kaget melihat David, supirku sedang
tertidur telanjang di sampingku. Aku pun langsung loncat
dari tempat tidurku, saat itu aku ingin sekali
membangunkan dan memarahinya, namun setelah kuingat lagi
peristiwa yang David lakukan padaku malamnya, aku malah
tersenyum senang. Lalu kudekatkan tubuhku yang juga
bugil, kusandarkan kepalaku dekat kemaluan David, lalu
mulai kujilati dan kukulum batang kejantanannya. Ada
sisa-sisa sperma yang rasanya agak asin terjilat olehku.
5 menit kemudian ketika batang David yang hitam legam
sedang kusedot-sedot, David pun terbangun, aku pun
menyudahi tindakanku.

"Akh.. Vid.. batangmu..enak..sekali, tadi malam memekku
kamu.. apain..? Enak sekali deh..! Saya mau kalau kamu
lakukan lagi kapan-kapan."
"Akh.. Ibu. Kalau begitu saya siap main lagi. Semua
terserah Ibu.., tapi.. Ibu nggak marah sama David khan
kalau vagina Ibu saya rusak..?"
"Nggak Vid. Ibu malah menikmatinya. Kamu.. mau nggak
nemenin Ibu mandi..?"
"Kalau Ibu mau.., saya mah ayoo aja.."
"Yoo.. Vid..!"
Aku dan David bermain lagi di kamar mandi sekalian
membersihkan tubuh kami.

Sejak saat itu, aku dan David hampir tiap malam
melakukan hubungan suami istri. David, selain menjadi
supirku kini menjadi budak nafsu seksku, dan sudah
hampir 9 bulan hubunganku dengan David. Aku pun berharap
dapat hamil dari benihnya David, supirku.