Monday, May 7, 2007

TANTE VIVI 04

Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras,
pinggulnya menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan
yang kuberikan pada alat kelaminnya. Aku benar-benar
puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas dan
kucengkeram kuat bulatan bokongnya yang kenyal agar
jangan bergerak terlalu liar, seolah tak ingin
melepaskan pagutannya, mukaku sedikit kuangkat kembali
sembari menghirup udara segar lalu lidahku kujulurkan
sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati
permukaan bukit kemaluan lunaknya yang putih merangsang.
Mulutku tak henti-hentinya mengecup gemas bukit
terlarang milik Tante Vivi itu.

"oouuhh..., nngghhnngghh..., ngghh..", mulut Tante Vivi
merintih dan mengerang tak karuan menahan geli dan
nikmat. Pinggulnya digoyang-goyang kiri kanan, sesekali
kurasakan kedua pahanya yang kini menjepit kepalaku
sambil mengejan kuat ke bawah seolah ingin memuntahkan
cairan kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya
demikian, lidahku yang sesekali menelusup masuk ke dalam
liang vaginanya sambil menyentil gemas daging
clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil yang
mengalir deras. Sementara tangan kiriku masih
mencengkeram bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan
dengan jemari tangan kananku bibir kemaluannya yang
tebal, jemariku itu sampai gemetar seolah masih tak
percaya dengan segala keindahan ini, terasa begitu
lunak, hangat dan basah ketika jemari tanganku secara
perlahan menyibakkan bibir kemaluannya mengintip
keindahan celah dan liang vagina sempitnya yang ternyata
berwarna kemerahan.

oohh..., kulihat..., liang vaginanya yang terletak
sedikit di atas lubang duburnya, begitu kecil dan
terlihat sempit sembari mengalirkan keluar cairan lendir
kemaluannya yang berwarna bening. Agak di sebelah atas
liang kewanitaannya itu kulihat bulatan daging kecil
clitorisnya yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo.
Aku sedikit heran, karena liang vagina milik Tante Vivi
ini kecilnya hampir sama dengan liang vagina milik Dina.
Aahh..., batang penisku yang sudah berdiri tegak
menunggu giliran untuk take over jadi makin
cenat-cenut..., teng-teng tidak karuan..., tidak tahan
nih kalau sempitnya seperti ini..., bisa-bisa tidak
sampai digenjot 5 menit air maniku sudah muncrat
keluar..., seperti yang aku rasakan bersama Dina
akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa
sewaktu aku dulu memperawani Dina bisa menahan gesekan
dan jepitan liang vaginanya sampai 20 menit, tapi
akhir-akhir ini bisa tahan tidak muncrat sampai 10 menit
saja itu sudah lumayan. Mungkin saja aku terlalu
terangsang saat menggagahi Dina. Entahlah.

"A.. Aarr..., Lagi sayangghh...", Tante Vivi berbisik
sedikit serak. Aku sejenak tersadar dari lamunan...,
He.. He..., aku jadi geli juga..., di saat lagi asyik
masyuk seperti itu masih bisa juga aku ngelamun...,
ngeres lagi..., he..., he..".
Kudongakkan kepala ke atas sambil kupandang wajah cantik
Tante Vivi yang berkeringat agak kusut sekilas, lalu
kutundukkan muka, lidahku dengan liar penuh rasa gemas
kembali menjilati kedua belah permukaan labia mayoranya,
kepalaku sedikit kuputar sekitar 40 derajat kekiri lalu
dengan nikmat mulut dan lidahku mulai mencumbu,
mengulum, memilin dan menghisap bibir-bibir kemaluan
Tante Vivi secara bergantian atas dan bawah, seperti
kalau kami berdua berciuman mulut.

mm..., rasanya yang jelas tidak selezat daging hamburger
McDonald atau Wendys tapi yang pasti ada semacam feel
great dan sensasi keindahan bercampur kenikmatan
tersendiri yang tak bisa diungkapkan kata-kata begitu
indah rasanya mengulum dan mengecup bibir kemaluan
wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya
dan juga suara erangan nikmatnya.
mm..., aku benar-benar bangga membuat Tante Vivi sampai
berulang kali mengejan ke bawah menghentakkan kedua
belah pahanya yang putih seksi, sambil tak
henti-hentinya mulutnya memekik kecil dan merintih
panjang menahan geli bercampur sejuta kenikmatan.
"Aahh..., nnggngghghh..., ngghghnhgghh...", rintih Tante
Vivi berulang kali.

Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir
labia mayoranya dengan mulutku lalu dengan nakal kembali
kusibakkan sedikit lebih lebar bibir vaginanya dan
dengan cepat kujulurkan lidahku mengusap lembut celah
merah diantara bibir kemaluannya..., menyentil mulut
liang vaginanya yang sempit dan mungil beberapa puluh
detik lalu kembali menggelitik daging clitorisnya. Tante
Vivi sampai menaik-turunkan pinggulnya menahan rasa
nikmat. Saat bibir dan lidahku secara bersamaan
menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai
pipiku sedikit kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik
keras dan akhirnya mendesah panjang..., pinggulnya
sontak diangkat ke atas seolah tak kuat menahan rasa
nikmat dan mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat
kepalaku dari samping kiri dan kanan. Jemari tangan
kiriku yang kini terasa bebas, mengusap mesra kedua
belah bulatan bokong Tante Vivi dan meremas-remas
lembut.
"Aagghh..., aoohh..., sshhghffhhghh..."
Desah Tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang
meregang menuju puncak kenikmatan..., Sedetik..., 2
detik..., 3 detik..., aku merasakan kedua belah pahanya
yang begitu halus dan padat menekan kepalaku mulai
bergetar lembut dan mengejan semakin kuat menandakan
cairan lendir kenikmatannya segera tumpah keluar...,
orgasmee.

Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan
hisapan mulutku pada daging clitorisnya dan dengan kuat
kedua tanganku membuka kedua belah pahanya yang masih
menjepit kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap aku
merangkak keatas dan rebah di samping tubuh bugil Tante
Vivi. Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua matanya
seolah sedang menikmati sesuatu, sejenak begitu tersadar
kenikmatan yang ia inginkan tak tercapai..., kedua
matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot memandang
selangkangannya yang kosong..., dan Tante Vivi mendapati
diriku telah berada di sebelahnya sambil kutersenyum
penuh kemenangan.

Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah
seolah menahan sesuatu, bibir bawahnya digigit keras
seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah
memandangku seolah mau marah. Aku semakin tersenyum
lebar, namun tidak demikian dengan Tante Vivi...,
rupanya ia jengkel karena hampir saja aku membuatnya
orgasme namun justru aku malah menghentikannya ditengah
jalan.
"K.., kkamu..., benar-benar nakal sekali Arr..., hh...,
teganya kamu Sayang...", bisiknya dengan bibir gemetar.
Lalu dengan cepat tanpa kuduga sama sekali, Tante Vivi
menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke
atas menaiki tubuhku, Kedua pahanya dibuka lebar dan
kedua belah bokongnya yang bulat padat terasa begitu
kenyal dan tanpa ampun menduduki buah zakarku sementara
bukit kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan
batang penisku yang sudah sangat tegang..., ooh...,
nikmatnya.

Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi
memandangku seolah ingin menelanku.
"Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr...", bisiknya
pelan. Aku yang masih terkaget menyaksikan ulahnya tadi
hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh
montoknya pada alat kejantananku sambil memandangi kedua
buah payudara besarnya yang mengacung kencang ke depan
memamerkan kedua buah puting susunya yang kelihatan
sedikit membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.

Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika
dengan cepat Tante Vivi mengangkat pinggulnya yang
ramping ke atas, kedua belah pahanya yang putih mulus
kelihatan begitu seksi dan padat. Begitu gemas saat
jemari tangan kanan Tante Vivi menggenggam dan meremas
batang penisku..., lalu di arahkan ke bukit kemaluannya
sebelah bawah..., ke depan mulut liang vaginanya...,
oohh..., aku mendesah pelan menyaksikan semua itu. Aku
tidak menyangka Tante Vivi melakukan semua itu tanpa
perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah begitu
ngebet dan liang vaginanya sudah gatal kepingin
disetubuhi. Sejenak aku mengira ia pasti sukar sekali
memasukkan batang penisku yang sudah berdiri tegak dan
besar mirip punya Rocco Siffredi. Kuluruskan kedua
pahaku ke bawah agar Tante Vivi tidak terlalu kesulitan
menyetubuhiku nantinya. Tetapi kali ini aku kecele...,
sambil menundukkan wajah yang membuat rambut panjangnya
terurai indah, kulihat Tante Vivi sejenak berkutat masih
mengarahkan batang penisku ke pintu liang vaginanya lalu
dengan perlahan pinggulnya diturunkan.

Oogghh..., Aahh..., aku mendelik dan mengerang nikmat
saat dengan mata kepalaku sendiri kulihat bibir
kemaluannya yang tebal itu vaginaar lebar menerima
tusukan kepala penisku dan liang vaginanya yang merah
dan sempit mulai tersibak dan menjepit ujung kepala
penisku yang secara perlahan-lahan mili demi mili mulut
daging liang vaginanya semakin melebar sesuai ukuran
kepala penisku dan mulai menenggelamkannya ke dalam
liang vagina Tante Vivi.

"Oougghhghh..., nngngnghhaahh...", pekikku keras menahan
rasa nikmat yang luar biasa saat kepala penisku dalam 5
detik telah berhasil memasuki liang vaginanya yang
ketat. aahh..., di dalam situ kurasakan daging vaginanya
seolah sudah menjepit sedemikian kuat seolah
diremas-remas membuat kepala penisku berdenyut-denyut
keenakan.

Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang
penisku, kini kedua tangannya diletakkan di atas dadaku
sambil setengah membungkuk untuk menyangga tubuhnya
bagian bawah yang masih melakukan penetrasi. Ia kini
memandangku dengan senyuman manisnya kembali, bibirnya
yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar
dan kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya.
"Enaak..., Arr...", bisik Tante Vivi tanpa malu-malu
padaku.
"I..., iiyaa tantee...", sahutku gemetar menahan rasa
nikmat.
"Mm..., milikmu besar juga sayangg...", bisiknya lagi.
Lalu dengan perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan
pinggulnya kebawah lagi sambil memejamkan mata. Namun
mulutnya yang indah itu malah tersenyum seolah ikut
menikmati apa yang sedang kurasakan sekarang.

"Aahhgghh...", erangku keenakan saat daging liang
vaginanya yang luar biasa sempit itu mili demi mili
secara perlahan terus menjepit kuat dan menenggelamkan
batang penisku yang masih tersisa sekitar 11 centi lagi.
Dengan sekuat tenaga sambil menahan rasa nikmat
kusaksikan terus proses penetrasi itu, urat-urat di
seluruh batang penisku sampai menonjol keluar membentuk
guratan-guratan kasar di sekeliling permukaan penis
menahan jepitan daging liang vagina Tante Vivi yang
terus berusaha menenggelamkan seluruh alat kejantananku
itu. Mili demi mili kini berganti centi demi centi...,
dengan tanpa hambatan berarti walau terasa begitu sesak
dan sempit batang penisku melungsur masuk dengan ritme
semakin cepat kedalam liang vaginanya.

"Mm..., aahh..., mm", Tante Vivi hanya mendesah dan
merintih kecil saat batang penisku yang besar dengan
perlahan telah hampir seluruhnya tenggelam ke dalam
bagian tubuhnya yang paling sangat terlarang. Hanya
tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku yang masih
tersisa di luar liang vaginanya. Kedua mataku sudah
merem melek keenakan, kedua pahaku sampai gemetaran
saking hebatnya rasa nikmat itu.
"ooww..."
"Aaghghghh..."

Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat
penetrasi yang terakhir berlangsung. Kulihat sekilas
bukit kemaluan milik Tante Vivi itu sedikit menggembung
lebih besar karena seluruh batang penisku yang tebal
sepanjangnya 14 centi itu telah terbenam kandas di dalam
liang vaginanya. Betapa indah menyaksikan dua alat
kemaluan milik kami berdua yang telah menyatu padu.
Selain jepitannya yang luar biasa ketat, kurasakan
daging vagina Tante Vivi yang terasa hangat dan licin
itu seolah memijat-mijat mesra dan menghisap lembut.
Wooww...' ujung jemari kakiku sampai gemetaran
keenakkan.

"mm..., Bagaimana sayang..", bisik Tante Vivi pelan
sambil memandangku mesra sekali.
"Aahhghghg..., Nikmat sek.., kali Vii..", sahutku
gemetar.
Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra,
sementara pinggulnya menempel selangkanganku dengan
ketat. Bokongnya yang kenyal menduduki kedua buah bola
zakarku.
"Air maniku..., mau keluar Tante...", bisikku menahan
nikmat sambil setengah menggodanya.
"Iihh..., Awas yaa kamu Ar..", sahutnya sambil
tersenyum. Ia seolah mengerti batang penisku tidak
bakalan lama bertahan dijepit liang vagina miliknya
seketat itu.
"Ar..., Tante sudah lama sekali tidak melakukan ini...,
mm..., tahan ya sayang..., tunggu Tante yaa..",bisiknya
begitu genit sekali.

Lalu dengan perlahan Tante Vivi mulai menggoyangkan
pinggulnya naik turun secara perlahan menggesekkan
daging liang vagina sempitnya dengan batang penisku yang
sudah tegak tak terkira. Seolah tidak ada hambatan
walaupun terasa begitu sesak saking sempitnya ketika
kedua alat kelamin kami saling beradu dan bergesekan.
"Uuhh..., uhh..., uhh..", Tante Vivi merintih kecil saat
setiap kali pinggulnya bergerak turun memasukkan kembali
batang penisku yang besar dan keras ke dalam liang
vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang lembut seiring
dengan goyangan pinggulnya yang menggemaskan di atas
selangkanganku. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah
sedang meresapi dan menikmati persenggamaan yang
benar-benar luar biasa indah ini. Kedua buah dadanya
yang besar terguncang-guncang begitu indah bak buah
kelapa tertiup angin. Kedua jemari tangannya yang
menyangga dan menekan lembut dadaku menghentak-hentak
pelan setiap kali pinggul Tante Vivi bergoyang pelan
naik turun secara teratur.

Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini
sendirian. Aku masih seakan tak percaya melihat sesosok
tubuh cantik bak bidadari yang begitu montok dan seksi,
begitu putih dan mulus dan kini malah sedang asyik
menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas
selangkanganku menikmati alat kejantananku.
"Oohhaahh..., hahahhgghh...", erangku saking nikmatnya.
Batang penisku seakan dikocok, dibelit, disedot dan
dikenyot habis-habisan oleh daging liang vaginanya yang
luarbiasa sempit dan licin. Kedua mataku merem-melek
secara bergantian menikmati gesekan itu, setiap kali
pinggul Tante Vivi bergerak ke atas aku merasa batang
penisku seakan disedot kuat daging liang vaginanya namun
begitu pinggulnya bergerak turun ke bawah batang penisku
seakan diremas dan dilumat hebat oleh liang vaginanya.

Sukar diungkapkan dengan kata-kata rasa nikmatnya.
"Vivi..., aagghh..., aahahhgghh...", erangku
berulangkali keenakan. Kedua tanganku berusaha menahan
laju naik turun pinggulnya yang kurang ajar itu. Namun
jemari kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat
bokongnya yang berat, dan tanpa ampun secara
terus-menerus liang vagina Tante Vivi dengan jepitannya
yang luar biasa meluluh lantakkan seluruh batang penisku
seperti pisang kepok yang tak berdaya diremas dan
dipilin-pilin sampai lumat. Aku tak sanggup bertahan
meredam rasa nikmat seks yang luar biasa itu, air maniku
sontak langsung mengalir mendesak-desak hendak muncrat
keluar. Tante Vivi seolah tak mau tahu terus bergerak
naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan batang
penisku ke dalam liang vagina sempitnya.

"Uuhh..., uuhh..., uu..., hh..., uuhh..", erangnya
berulangkali menikmati alat kejantananku yang sedang
berada di dalam liang vaginanya.
"aahahh...", aku mengerang panjang sambil sejenak
menahan napas untuk menghambat agar air maniku tidak
sampai muncrat keluar.
"uuh..., kamu mau keluar sayang...", bisik Tante Vivi
genit.
"Iyyaa..., Vi..", sahutku gemas tanpa memanggilnya
dengan sebutan Tante lagi
"ooh..., Aku bener-bener tidak tahan lagi."
"Hik..., hik..., oke Sayang..., kamu keluar duluan
Ar..., Tante jepit lebih keras yaa Sayang...", bisiknya
semakin genit tanpa malu-malu. Aku jadi makin gemas
dibuatnya.

Tante Vivi memang benar-benar luar biasa sambil
menggoyang pinggul semakin cepat naik turun, kurasakan
daging liang vaginanya seolah menjepit 2 kali lebih
hebat, batang penisku seolah diremas dan dikenyot-kenyot
hebat sambil digesekkan keluar masuk meski hanya sekitar
4 centi saja.

oohh..., bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah
kalah..., aku tak mampu menahan desakan air maniku yang
sudah sampai di leher batang penisku. Kuremas gemas
kedua belah payudara Tante Vivi yang besar terguncang
dengan kedua belah jemari tanganku. Aku menggeram keras
dan melepas puncak kenikmatan seks.
"aagghhghghhgaahh...", Teriakku nikmat..., saat dengan
hebatnya air maniku muncrat keluar dengan
tembakan-tembakannya yang keras dan kuat.
"Craatt..., craatt..., Crraatt..., craatt.." ke dalam
liang vagina Tante Vivi yang sempit licin dan hangat.
"uu..., mm..., uu..., mm..., ooww.., banyak sekali
manimu sayangghh..., uu...", desahnya lembut saat air
maniku kutembakkan berulang kali dengan sepenuh rasa
nikmat ke dalam liang vaginanya.

Jiwaku seakan terbang melayang jauh keatas awan...,
begitu tinggi..., terasa begitu nikmatnya, "Oohh...".
Tubuhku seakan menggelepar dirajam kenikmatan yang tak
terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang
vagina Tante Vivi yang menyempit hebat menggesek semakin
cepat pula batang penisku yang sedang collapse...,
ejakulasi, seakan milikku diurut-urut mesra sembari
memuntahkan air mani yang sangat banyak dan kental.
Crraat..., crraatt..., crraatt..., creett...

Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabukkan. Aku masih
terlena diawan kenikmatan menikmati sisa-sisa semprotan
air maniku yang masih tersembur keluar di dalam liang
vaginanya. Tante Vivi dengan masih bersemangat
menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat meluluh
lantakkan alat kejantananku yang benar-benar sudah lumat
terkuras. Jiwaku seakan kembali terhempas keatas
tanah..., seolah terlempar dari pusaran awan kenikmatan
yang terasa begitu singkat.


Bersambung ke bagian 05