Tuesday, May 8, 2007

NIKMAT SESAAT

Berikut ini ada kisahku bersama seorang pelacur yang
tidak bisa kulupakan selamanya. Sebagai perkenalan, saya
adalah seorang pemuda yang mempunyai wajah yang tampan,
berkulit putih dan banyak wanita yang mencoba mendekati
saya, namun saya belum bisa menerima para wanita itu
sebagai teman istimewa, dan saya tidak mau memanfaatkan
mereka hanya untuk iseng saja.

Tetapi sebagai lelaki normal tentu saya mempunyai
kebutuhan biologis yang tidak bisa saya pungkiri, dan
saya tidak mau pada saat menikah nanti saya tidak
mempunyai pengalaman apapun di atas tempat tidur. Belum
lama ini akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke tempat
yangmenyediakan wanita.

Suatu hari di bulan Februari 2001 hujan turun
rintik-rintik, dan matahari tidak muncul seharian. Kaki
saya melangkah masuk ke salah satu diskotik yang lumayan
terkenal di Jakarta. Hari ini adalah untuk kedua kalinya
saya melangkahkan kaki saya ke tempat ini.

Begitu masuk, saya langsung naik ke lantai 2 diskotik
tersebut. Di sana saya melihat ada beberapa pria sedang
duduk di sofa sambil merokok. Mungkin sedang menunggu
wanita langganannya. Seorang bartender menyapa saya
dengan ramah, "Haloo Boss, mau yang mana nich.." Saya
lalu melihat foto-foto yang ada di meja, saya akhirnya
minta bantuan bartender itu untuk memilihkan untuk saya,
karena foto yang ada begitu banyak. Lalu bartender itu
bertanya, "Sukanya yang besar apa yang kecil?" tanyanya
ramah. Saya agak bingung juga menjawabnya. Akhirnya saya
minta yang sedang-sedang saja. Lalu ia menunjuk satu
foto sambil berkata, "Ini orangnya baik sekali,
service-nya juga bagus," dan saya langsung
menyetujuinya.

Di belakang meja terdapat 2 orang wanita cantik, salah
seorang dari mereka sambil memberikan kunci ke bartender
yang akan mengantarkan saya, terus menyanyikan lirik
lagu dari Sephia, "...Selamat tidur kekasih
gelapkuuu..." secara berulang-ulang. Saya bisa merasakan
bahwa lagu itu ditujukan untuk menggodaku. Mungkin ia
heran mengapa orang seperti saya harus datang ke tempat
itu, sedangkan mungkin banyak wanita yang bersedia tidur
denganku tanpa dibayar. Lalu saya diantar ke satu kamar
sambil diberikan pengaman, di kamar tersebut belum ada
siapa-siapa.

Setelah menunggu 5 menit, terdengar suara ketukan di
pintu. Saat saya membuka pintu terlihat seorang wanita
muda yang sangat manis berumur sekitar 20 tahun. Lalu
saya menyalaminya, dan ia pun menyebutkan namanya Win.
Lalu ia duduk di ranjang sedangkan saya di kursi. Saya
coba mengajaknya ngobrol. Ia menceritakan bahwa ia
berasal dari sebuah tempat di Jawa. Dari pembicaraannya,
saya mengetahui bahwa di tempat tersebut ada lebih dari
300 wanita. Dalam hati saya berpikir betapa kerasnya
persaingan di sini. Dari cara bicaranya saya tahu bahwa
Win bukanlah orang yang berpendidikan. Suaranya sangat
lirih bahkan saya kadang-kadang hampir tidak mendengar
apa yang diucapkannya. Pandangan matanya sulit untuk
dilukiskan, mungkin sudah terlalu banyak cerita pahit
terlukis di sana dalam usianya yang masih muda itu. Dari
cara bicaranya saya tahu bahwa Win mempunyai hati yang
soft and very kind.

Setelah kami ngobrol agak lama, kemudian ia berkata,
"Kok bajunya nggak di lepas, malu ya?" katanya dengan
tersenyum. "Ah nggak kok," elak saya, padahal saya
memang tidak tahu bagaimana harus memulai, karena ini
adalah pengalaman saya yang ketiga bercinta dengan
seorang wanita. Saya lalu melepaskan baju saya.
Bersamaan dengan saya melepaskan baju, saya lihat Win
pun mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu hingga
tubuhnya tidak ditutupi sehelai benang pun. Sekarang
terlihat di hadapan saya tubuh mulus dari seorang wanita
yang siap untuk dibelai olehku.

Berbekal adegan-adegan yang saya lihat di Blue Film, dan
dari 2 pengalaman terdahulu, saya mulai mencumbunya.
Saya memintanya untuk duduk di pangkuanku, sehingga
pantatnya menekan kemaluanku yang lumayan besar dengan
keras dan saya pun mulai meremas dan menjilati kedua
payudaranya yang tidak begitu besar, namun sangat padat
dan kenyal. Selama itu Win juga terus menggerak-gerakan
pantatnya menggesek kemaluanku. Saya merasakan betapa
enaknya saat penisku sesekali bertemu dengan vagina Win
yang hangat. Ingin rasanya saya memasukan penisku saat
itujuga ke dalam vaginanya, namun bisa kutahan, karena
saya tidak mau hasratku menjadi menurun sebelum saya
selesai menjelajahi setiap lekuk tubuhnya. Sehingga saya
tetap bertahan sambil berkonsentrasi di kedua
payudaranya yang benar-benar sempurna bagiku.

Setelah beberapa lama lalu Win berkata, "Pindah ke
tempat tidur aja yuk, nanti kamu kecapean.." Saya pun
mengiyakannya lalu kami pindah ke tempat tidur. Ia lalu
membaringkan tubuhnya yang polos itu di tempat tidur
dengan kedua pahanya terentang lebar memperlihatkan alat
kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Lalu saya
naik ke atas dan menindih tubuh Win dan bisa saya
rasakan betapa halus kulit tubuhnya, begitu merasakan
halusnya tubuh Win, penisku menjadi makin tegang dan
saya bisa merasakan betapa kerasnya tekanan di sekitar
kepalapenisku yang makin membesar seakan ingin meledak.
Saya mulai mendekap tubuh Win dengan kuat sambil
menggesekan tubuh dan kemaluanku ke tubuhnya. Win juga
balas memeluk saya dengan kuat. Kedua pahanya menjepit
pahaku dengan kuat sekali. Saat itu pikiranku
benar-benar melayang entah kemana, kulit tubuh Win
benar-benar halus dan licin, belum pernah saya menyentuh
benda sehalus kulitnya.

Sambil terus menindihnya, kedua tangan saya kembali
meremas-remas kedua payudaranya dan mulut saya menghisap
payudaranya dan lidah saya menjilati kedua putingnya.
Kadang-kadang tangan saya berpindah memegang dan meremas
pantat Win yang bulat dan padat dengan kuat. Entah
berapa lama kami bergulingan dan berpelukan seperti itu,
namun saya benar-benar menikmati kulit tubuhnya yang
halus. Sesekali saya dengar desahan nafas yang memburu
darinya. Lalu dari kedua payudaranya saya mulai turun ke
bawah dengan terus menciumi dan menjilati perut dan
pahanya sambil mata saya memandangi vaginanya. Terus
terang baru pertama kali ini saya melihat vagina wanita
dengan begitu dekat dan terbuka, pada pengalaman
terdahulu saya tidak sempat melihatnya karena terlalu
terburu-buru. Saya tidak akan melewatkannya kali ini.

Saya coba untuk membuka vaginanya dengan kedua jari
saya. Terlihat sebuah liang berwarna merah muda. Lalu
saya memasukan jari tangan saya ke dalamnya. Ternyata
vaginanya masih sangat rapat. Saya bisa merasakan jari
tangan saya seperti terjepit di dalamnya. Rasanya hangat
dan bergetar lembut, namun saya tidak memainkan jari
tangan saya terlalu lama di sana, karena saya khawatir
melukai alat kewanitaannya yang begitu lembut.

Kemudian saya mencoba menjilati vaginanya seperti di
film BF yang pernah saya tonton. Lidah saya bergerak
dengan cepat di vaginanya. Tidak tercium bau amis di
vaginanya, malah ada kesan harum. Ternyata aksi saya itu
cukup lumayan juga untuk seorang pemula, walaupun hanya
berbekal adegan yang saya lihat di film. Begitu lidah
saya menyentuh vaginanya, kedua pahanya langsung
menjepit keras kepala dan wajah saya. Saya sih merasa
keenakan juga karena pahanya terasa lembut sekali.

Kemudian vaginanya ditekan sekeras-kerasnya ke wajah
saya sehingga saya agak kelabakan juga. Tubuhnya juga
melengkung ke atas, dan kepalanya bergerak ke kiri dan
ke kanan dengan nafas yang sangat kencang. Akhirnya ia
menarik kepala saya ke atas dan meminta saya memasukan
penisku yang sudah tegang sekali ke dalam vaginanya.
Lalu saya pun memasukan kemaluanku yang lumayan panjang
dan besar ke dalam vaginanya. Sambil memeluk tubuhnya
yang halus kuat-kuat dan menekan tubuh saya ke
payudaranya yang indah itu, saya mulai menaik-turunkan
pantat saya, dan penis saya terjepit dengan kuat sekali
di vaginanya. Alat kelamin saya meluncur masuk keluar
dari vaginanya. Selama itu terdengar suara yang
dihasilkan oleh pertemuan kedua alat kemaluan kami. Saat
itu saya tidak melihat bagaimana ekspresi dari Win,
sebab saat itu saya sudah terlalu sibuk dengan sensasi
yang saya rasakan di seluruh tubuhku. Saya hanya bisa
membenamkan seluruh wajah saya ke payudaranya.

Cukup lama saya menggenjot vagina Win sampai saya merasa
lelah juga. Setelah penantian yang panjang akhirnya saya
mencapai puncaknya. Terasa seluruh tubuhku bergetar
seolah tidak mempunyai tulang lagi, karena saya memakai
pengaman, Win tidak tahu kalau saya sudah keluar. Dia
mungkin mengira saya kelelahan, karena saya lihat
nafasnya masih keras, makanya saya tetap genjot sampai
akhirnya tubuhnya tersentak kuat tanda ia juga sudah
keluar, baru saya hentikan. Setelah itu saya
membersihkan diri, dari kaca saya lihat ia terbaring
dengan memejamkan matanya. Saya tidak tahu apakah ia
terlalu lelah atau menikmati apa yang barusan kami
lakukan.

Setelah saya selesai membersihkan diri, lalu saya duduk
di sebelahnya. Saya lihat dia tersenyum ke arahku, lalu
ia pun membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia berkata
sambil tersenyum ke arahku, "Udah selesai kan?, sekarang
pulang ya!" katanya menggoda. Mungkin karena ia
menganggapku masih lebih muda darinya. Tapi saya malah
berkata, "Boleh sekali lagi nggak?"Sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum, ia lalu
merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, dan kali
ini saya berkonsentrasi pada payudaranya yang sangat
padat itu. Saya saat itu bertekad untuk menikmati
sepuasnya kedua payudaranya, agar tidak ada penyesalan
nantinya. Bentuk payudaranya hampir sama dengan bintang
BF asia yang pernah saya tonton. Bentuknya bulat kencang
menjulang ke atas tidak turun, dan putingnya juga masih
berwarna merah muda dan mungil. Saya mulai lagi
memainkan lidah saya di payudaranya bergantian ke
payudara yang kiri dan kanan.

Permainan lidah ini saya peroleh pada pengalaman saya
yang kedua, di mana pada saat itu saya benar-benar
menjadi objek dari seorang wanita di sebuah kompleks
Jakarta Pusat. Saat itu sekujur tubuh saya dan kemaluan
saya menjadi objek permainan lidah dari seorang wanita
yang benar-benar ahli dan profesional sehingga pada
pengalaman saya yang kedua itu, bukan saya yang
mempermak wanita, tapi malah saya yang dipermak
habis-habisan. Saat itu malah saya sudah mengeluarkan
sperma terlebih dahulu sebelum sempat memasukan penis
saya ke vaginanya, saking dahsyatnya permainan lidahnya.
Untung saya saat ini masih muda sehingga saya tidak
langsung lemas setelah keluar 1 atau 2 kali.

Sekarang tehnik permainan lidah itu saya coba praktekan
ke Win. Sambil terus memainkan lidah saya di
payudaranya, tangan saya juga terus mengusap dan
meremas-remas payudaranya, sesekali saya mengisap
payudaranya dengan keras, dan kadang-kadang saya
menggigit payudaranya dengan lembut. Kadang-kadang saya
mengisap payudaranya begitu keras sampai seakan-akan
semua payudaranya ingin saya masukan ke mulut. Makin
lama saya bermain di payudaranya, Win yang semula
tenang, makin lama makin gelisah, tubuhnya bergerak liar
ke kiri dan ke kanan, terus tubuhnya makin ditempelkan
dan digesekan dengan keras ke tubuhku, dan vaginanya di
gesek-gesekan ke alat vital saya. Saya mendengar
nafasnya sangat keras dan terdengar desahan dari
mulutnya. Karena mendengar nafas Win yang semakin
memburu sambil terus meremas-remas payudaranya dan
menggesekan tubuh dan kemaluanku ke tubuhnya.

Saya mencoba untuk melihat wajahnya. Begitu melihat
wajahnya, saya sempat terpaku. Saya sempat terpana di
buatnya. Terus terang saya sudah banyak bertemu dengan
wanita-wanita cantik, namun baru kali ini saya melihat
sebuah wajah yang sangat menakjubkan. Apa yang saya
lihat saat itu adalah pemandangan yang sangat indah yang
mungkin tidak akan pernah bisa saya lupakan. Di depan
saya terlihat sebuah wajah wanita yang begitu cantik,
anggun, damai, dengan kedua mata terpejam, dagunya agak
terangkat ke atas sehingga terlihat jelas lehernya yang
jenjang dengan seuntai kalung di lehernya. Tergambar
jelas di wajahnya betapa ia begitu bahagia. Benar-benar
pemandangan yang sangat sempurna dan sukar dilukiskan.
Mungkin saat itu saya benar-benar telah merasakan cinta
sesaat. Ingin rasanya saat itu saya mengecup bibirnya
yang mungil itu, namun saya takut akan menghilangkan
pemandangan yang mungkinkah akan bisa menyaksikannya
lagi dari wanita lain. Sayang sekali saya tidak bisa
melihatnya terlalu lama karena ia keburu meminta saya
kembali untuk memasukan penis saya ke vaginanya.

Akhirnya saya kembali untuk kedua kalinya memasukan
penis saya ke vaginanya, dan kali ini kami lebih liar
dari yang pertama, apalagi saya sudah mengeluarkan
sperma sekali, maka untuk yang kedua ini saya lebih kuat
dan tahan lama dan saya lihat Win pun gerakannya lebih
liar dari yangpertama kali, sekali ini dia malah
berteriak kecil agak ditahan.

Setelah saya menggenjot vagina Win dan tidak terhitung
berapa kali kami bergulingan berganti posisi, kadang dia
di bawah, kadang saya di atas. Akhirnya saya kembali
mencapai puncaknya dan kali ini rasanya lebih dahsyat
dari yang pertama. Namun saya tahu Win belum mencapai
orgasme, tapi ia lalu minta ganti posisi, ia minta duduk
di atas, begitu saya mencabut penis saya, terlihat bahwa
sperma saya sudah keluar dan terkumpul di pengaman, tapi
saya tetap memintanya untuk menggenjot dari atas, dia
sempat menanyakan pada saya, "Masih kuat nggak?" Dengan
wajah yakin saya bilang, "Masih.." Dan memang saat itu
penis saya masih berdiri tegak, dan belum loyo, hanya
saya tidak tahu apakah masih ada sperma yang tersisa.
Lalu Win mulai menaik-turunkan pantatnya dengan cepat,
sedangkan saya hanya berbaring santai saja menikmati apa
yang masih saya nikmati, sampai akhirnya Win berteriak
lirih dan mencapai orgasme, namun saya sendiri tidak
berhasil mencapai orgasme saya yang ketiga, karena saya
tahu untuk mencapai yang ketiga akan dibutuhkan waktu
lebih lama lagi buat saya dan saya rasa waktu yang
disediakan mungkin tidak cukup, maka setelah Win
mencapai orgasme yang ketiga, akhirnya saya membersihkan
diri, dan Win juga. Lalu saya menunggu dia berpakaian
baru saya mengenakan pakaian saya. Lalu saya memberikan
bayarannya dan kembali menyalaminya sambil mengucapkan
terima kasih. Dia juga mengucapkan terima kasih pada
saya dengan kembali tersenyum manis.

Saya melihat wajahnya lekat-lekat untuk yang terakhir
kalinya sebelum saya keluar dari kamar dan diskotik itu
untuk kembali menjalani hidup sehari-hari yang penuh
dengan tantangan dan tekanan, kembali bergelut dengan
komputer.

Entah kapan saya akan bertemu lagi dengan Win karena
setelah hubungan saya dengan Win tersebut, saya bertekad
bahwa Win adalah wanita terakhir yang pernah bercinta
dengan saya selain Istri saya. Saya tidak akan
mengunjungi tempat pelacuran selama-lamanya karena saya
sudah mendapatkan apa yang perlu saya ketahui sebagai
seorang lelaki dewasa. Saya hanya berharap mudah-mudahan
istri saya nanti bisa memberikan seperti apa yang saya
rasakan bersama Win. Dan nantinya saya bisa bertemu
dengan Win dalam kondisi yang lebih baik bukan sebagai
seorang pelacur dan pelanggannya. Tetapi sebagai seorang
sahabat.

ADIK TANTEKU 4

Tante Rani membuka celana renangnya dan memegangnya
sambil merangkul Arie. Batang kemaluan Arie langsung
masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Rani yang sudah
dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel
di pundak Arie. Beberapa detik kemudian, setelah liang
kewanitaan Tante Rani telah melahap semua batang
kemaluan Arie dan dirasakannya batang kemaluan Arie
sudah menegang. Tante Rani menciumnya dengan cepat dan
langsung mendorong Arie sambil pergi dan terseyum manis
meninggalkan Arie yang tampak kebingungan dengan batang
kemaluannya yang sedang menegang.

Mendapat perlakuan itu Arie menjadi tambah bernafsu
kepada Tante Rani, dan ia berjanji kalau ada kesempatan
lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan.
Lalu Arie langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk
membersihkan badannya.

Setelah di kamar, Arie langsung membuka semua bajunya
yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi
dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan
membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya
ternyata tidak berjalan seperti biasanya. Dan langsung
Arie teringat akan keberadaan kamar Yuni. Arie lalu
pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel
di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi. "Yuni..
Yuni.. Yuni.." teriak Arie sambil mengetuk pintu kamar
Yuni. "Masuk Kak Ariee, tidak dikunci." balas Yuni dari
dalam kamar.

Didapatinya ternyata Yuni masih melilitkan badan dengan
selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan
kemaluannya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia
melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Arie
dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu
yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.

"Ada apa Kak Arie," kata Yuni sambil terus berpura-pura
menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan
bahwa dirinya sedang asyik memainkan kemaluannya yang
sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan
yang dilakukan kakaknya dengan Arie. "Anu Yuni.. Kakak
mau ikut mandi karena kamar mandi Arie airnya tidak
keluar." Memang Yuni melihat dengan jelas bahwa badan
Arie dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan Yuni
bukannya badan tapi Yuni memperhatikan diantara
selangkangannya yang kelihatan mencuat.

Iseng-iseng Yuni menanyakan tentang apa yang
mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar
pertanyaan itu niat Arie yang akan menerangkan tentang
biologi ternyata langsung kesampaian dan Arie pun
langsung memperlihatkannya sambil memengang batang
kemaluannya, "Ini namanya penis.. Sayang," kata Arie
yang langsung menuju kamar mandi karena melihat Yuni
menutup wajahnya dengan selimut.

Melihat batang kemaluan Arie yang sedang menegang itu
Yuni membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang
dilakukan kakaknya. Keringat dingin keluar di sekujur
tubuh Yuni yang membayangkan batang kemaluan Arie dan ia
ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga
ia melakukannya. Mata Yuni terus memandang Arie yang
sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap
kemaluannya.

Akhirnya karena Yuni sudah dipuncak kenikmatan, ia
mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah
berhasil dirasakannya .Dengan beraninya Yuni pergi
memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Arie.
Melihat kedatangan Yuni ke kamar mandi, Arie hanya
tersenyum. "Kamu juga mau mandi Yun," kata Arie sambil
mencubit pinggang Yuni.

Yuni yang sudah dipuncak kenikmatan itu hanya tersenyum
sambil melihat batang kemaluan Arie yang masih mengeras.
"Kak boleh nggak Yuni mengelus-elus barang itu," bisik
Yuni sambil menunjuknya dengan jari manisnya. Mendengar
permintaan itu Arie langsung tersenyum nakal, ternyata
selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan
hasilnya. Dalam pikiran Arie, Yuni sekarang mungkin
telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah
lagi Arie langsung mendekatkan batang kemaluannya ke
tangan Yuni dan menuntun cara mengelus-elusnya. Tangan
Yuni yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki
itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya
seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat
hingga membuat Arie kesakitan.

"Aduh.. jangan keras-keras dong Yuni, nanti batang
kemaluannya patah." Mendengar itu Yuni menjadi sedikit
kaget lalu Ari membatunya untuk memainkan batang
kemaluannya dengan lembut. Tangan Yuni dituntunnya untuk
meraba batang kemaluan Arie dengan halus lalu batang
kemaluan Arie didekatkan ke wajah Yuni agar mengulumnya.
Yuni hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu
Arie memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum
ice crem, atau mengulumnya seperti mengulum permen
karet. Diperintah tersebut Yuni langsung menurut,
mula-mula ia mengulum kepala batang kemaluan Arie lalu
Yuni memasukkan semua batang kemaluan Arie ke dalam
mulutnya. Tapi belum juga berapa detik Yuni
terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga
karena nafsunya terlalu besar.

Setelah sedikit tenang, Yuni mengulum lagi batang
kemaluan Arie tanpa diperintah sambil pinggul Yuni
bergoyang menyentuh kaki Arie. Melihat kejadian itu Arie
akhirnya menghentikan kuluman Yuni dan langsung
mengangkat Yuni dan membawanya ke ranjang yang ada di
samping kamar mandi. Sesampainya di pinggir ranjang,
dengan hangat Yuni dipeluk oleh Arie dan Yuni pun
membalas pelukan Arie. Bibir Yuni yang polos tanpa
liptik dicium Arie dengan penuh kehangatan dan
kelembutan. Dicium dengan penuh kehangatan itu Yuni
untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya
naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium
oleh Arie. Bila Arie menjulurkan lidahnya maka Yuni pun
sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Arie. Dengan
permainan itu Yuni sangat menikmatinya apalagi Arie yang
bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah
berpengalaman.

Kecupan Yuni kadang kala keluar suara yang keras karena
kehabisan nafas. "Pek.. pek.." suara bibir Yuni
mengeluarkan suara yang membuat Arie semakin terangsang.
Mendengar suara itu Arie tersenyum sambil terus
memagutnya. Tangan Arie dengan terampil telah membuka
daster putih yang dipakai Yuni. Dengan gerakan yang
sangat halus, Arie menuntun Yuni agar duduk di pinggir
ranjang dan Yuni pun mengetahui keinginan Arie itu.
Bibir Yuni yang telah berubah warna menjadi merah terus
dipagut Arie dengan posisi Yuni tertindih oleh Arie.
Tangan Yuni terus merangkul Arie sambil bukit
kemaluannya menggesek-gesekkan sekenanya.

Lalu Arie membalikkan tubuh Yuni sehingga kini Yuni
berada di atas tubuh Arie, dengan perlahan tangan Arie
membuka BH putih yang masih melekat di tubuh Yuni.
Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan Yuni, Arie
pun membuka CD putih yang membungkus bukit kemaluan Yuni
dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya. Erangan
panjang keluar dari mulut Yuni. "Auuu..." sambil
mendekap Arie keras-keras. Melihat itu Arie semakin
bersemangat. Setelah Arie berhasil membuka semua pakaian
yang dikenakan Yuni, terlihat Yuni sedikit tenang iapun
kembali membalikkan Yuni sehingga ia sekarang berada di
atas tubuh Yuni.

Arie menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan
pagutannya ke bukit kemaluan Yuni yang telah terbuka
dengan bebas. Dipandanginya bukit kemaluan Yuni yang
kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh
bulu-bulu hitam yang kecil-kecil. Kaki Yuni
direnggangkan oleh Arie. Pagutan Arie beganti pada bibir
kecil kepunyaan Yuni. Pantat Yuni terangkat dengan
sendirinya ketika bibir Arie mengulum bukit kemaluan
kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit
kemaluan perawan membuat batang kemaluan Arie semakin
ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Arie kasihan
melihat Yuni karena kemaluannya belum juga merekah.
Jilatan bibir Arie yang mengenai klitoris Yuni membuat
Yuni menjepit wajah Arie. Semburan panas keluar dari
bibir bukit kemaluan Yuni. Yuni hanya menggeliat dan
menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkanya.

Lalu Arie merasa yakin bahwa ini sudah waktunya,
ditambah lagi batang kemaluannya yang sudah telalu lama
menengang. Arie menarik tubuh Yuni agar pantatnya pas
tepat di pinggir ranjang. Kaki Yuni menyentuh lantai dan
Arie berdiri diantara kedua paha Yuni.

Melihat kondisi tubuh Yuni yang sudah tidak menggunakan
apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kemaluan
Yuni yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari
bibir kecilnya membuat Arie menahan nafas. Arie berdiri,
dan batang kemaluannya yang besar itu diarahkan ke bukit
kemaluan Yuni. Melihat itu Yuni sedikit kaget dan merasa
takut Yuni menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Melihat gejala itu Arie hanya tersenyum dan ia sedikit
lebih melebarkan paha Yuni sehingga kllitorisnya
terlihat dengan jelas.I a menggesek-gesekkan batang
kemaluannya di bibir kemaluan Yuni. Sambil
menggesek-gesek batang kemaluan, Arie kembali mendekap
Yuni sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya.
Melihat Arie yang membuka tangannya, Yuni langsung
merangkulnya dan mencium bibir Arie. Pagutan pun kembali
terjadi, bibir Yuni dengan lahapnya terus memagut bibir
Arie. Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut Yuni.
"Aduhh... Kaak..." erang Yuni sambil merangkul tubuh
Arie dengan keras. Arie meraba-raba bukit kemaluan Yuni
dengan batang kemaluannya setelah yakin akan lubang
kemaluan Yuni, Arie mendorongnya perlahan dan ketika
kepala kejantanan Arie masuk ke liang senggama Yuni.
Yuni mengerang kesakitan, "Kak.. aduh sakit, Kak..."

Mendengar rintihan itu, Arie membiarkan kepala
kemaluannya ada di dalam liang senggama Yuni dan Arie
terus memberikan pagutannya. Kuluman bibir Yuni dan Arie
pun berjalan lagi. Dada Arie yang besar terus
digesek-gesekkan ke payudara Yuni yang sudah mengeras.
Yuni yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan
rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi
untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan
itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah
nikmat.

Kepala kemaluan Arie yang besar baru masuk ke liang
kewanitaan Yuni, tapi jepitan liang kemaluan Yuni begitu
keras dirasakan oleh batang kemaluan Arie. Sambil
mencium telinga kiri Yuni, Arie kembali berusaha
memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Yuni.
"Aduh.. aduh.. aduh.. Kak," Mendengar rintihan itu Arie
berkata kepada Yuni. "Kamu sakit Yuni," bisik Arie di
telinga Yuni. "Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit
biasa, sakit tapi nikmat.."

Mendengar penjelasan itu, Arie terus memasukkan batang
kemaluannya sehingga sekarang kepala kemaluannya sudah
masuk semua ke dalam liang senggama Yuni. Batang
kemaluan Arie sudah masuk ke liang senggama Yuni hampir
setengahnya. Batang kemaluannya sudah ditelan oleh liang
kemaluan Yuni, kaki Yuni semakin diangkat dan tertumpang
di punggung Arie. Tiba-tiba tubuh Yuni bergetar sambil
merangkul Arie dengan kuat. "Aduhhh..." dan cairan
hangat keluar dari bibir kemaluan Yuni, Arie dapat
merasakan hal itu melalui kepala kemaluannya yang
tertancap di bukit kemaluan Yuni. Lipatan paha Yuni
telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh
mereka berdua.

Mendapat guyuran air di dalam bukit kemaluan itu, Arie
lalu memasukkan semua batang kemaluannya ke dalam lubang
senggama Yuni. Dengan satu kali hentakan. "Preeet..."
Yuni melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan
kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan
Arie. "Auh.. auh.. auh.." suara itu keluar dari mulut
kecil Yuni setelah seluruh batang kejantanan Arie berada
di dalam lembah kenikmatan Yuni. "Kak, Badan Yuni sesak,
sulit bernafas," kata Yuni sambil menahan rasa nikmat
yang tiada taranya. Mendengar itu lalu Arie membalikkan
tubuh Yuni agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan
posisi itu Yuni seperti pasrah dan tidak melakukan
gerakan apapun selain mendekap tubuh Arie sambil
meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru
kali ini dirasakannya.

Yuni dan Arie terdiam kurang lebih lima menit. "Yuni,
sekarang bagaimana badanmu," kata Arie yang melihat Yuni
sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya
dengan pelan-pelan. "Udah agak enakan Kak," balas Yuni
sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan
ke kanan. Mendapatkan serangan itu Arie langsung
mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Arie dari
atas ke bawah.

Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara
selangkangan Yuni dan Arie. Sambil menggoyangkan
pantatnya, mulut Yuni tetap mengaduh, "Aduhhh..."
Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh
badannya. Tanpa disadari sebelumnya oleh Arie. Yuni
dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatnya ke
samping dan ke kiri membuat Arie kewalahan ditambah lagi
kuatnya jepitan bukit kemaluan Yuni yang semakin
menjepit seperti tang yang sedang mencepit paku agar
paku itu putus. Beberapa menit kemudian Arie memeluk
badan Yuni dengan eratnya dan batang kemaluannya
berusaha ditekan ke atas membuat pantat Yuni terangkat.
Semburan panas pun masuk ke bukit kemaluan Yuni yang
kecil itu. Mendapat semburan panas yang sangat kencang,
Yuni mendesis kenikmatan sambil mengeram, "Aduhh...
aduh.. Kak.."

Selang beberapa menit Arie diam sambil memeluk Yuni yang
masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri
dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat. Setelah
badannya merasa sudah agak baik, Arie membalikkan tubuh
Yuni sehingga sekarang tubuh Yuni berada di bawah Arie.
Batang kemaluan Arie masih menancap keras di lembah
kemaluan Yuni meskipun sudah mengeluarkan sperma yang
banyak. Lalu kaki Yuni diangkat oleh Arie dan
disilangkan di pinggul. Arie mengeluarkan batang
kemaluannya yang ada di dalam liang senggama Yuni.
Mendapat hal itu mata Yuni tertutup sambil
membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu
dengan perlahan memasukkan lagi batang kemaluannya ke
dalam liang senggama Yuni, turun naik batang kemaluan
Arie di dalam liang perawan Yuni membuat Yuni beberapa
kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur
dengan nikmatnya dunia. Tarikan bukit kemaluan Yuni yang
tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan
berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya
Arie mengerang-erang sambil memeluk tubuh Yuni dan Yuni
pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang,
keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada
taranya.

Arie mendekap Yuni sambil menikmati semburan lahar panas
dan keluarnya sperma dalam batang kemaluan Arie dan Yuni
pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah
kenikmatannya. Kurang lebih lima menit, Arie memeluk
Yuni tanpa adanya gerakan begitu juga Yuni hanya memeluk
Arie. Dirasakan oleh Arie bahwa batang kemaluannya
mengecil di dalam liang kemaluan Yuni dan setelah merasa
batang kemaluannya betul-betul mengecil Arie menjatuhkan
tubuhnya di samping Yuni. Arie mencium kening Yuni. Yuni
membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Arie
bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki
Yuni.

Mendengar itu Arie hanya tersenyum karena memang selama
ini Arie mendambakan istri seperti Yuni ditambah lagi ia
mengetahui bila hidup dengan Yuni maka ia akan
mendapatkan segalanya. Arie mengucapkan selamat bobo
kepada Yuni yang langsung tertidur kecapaian dan Arie
langsung keluar dari kamar Yuni setelah Arie menggunakan
pakaiannya kembali.

Arie masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam
keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan
jelas celana merah muda yang dipakai tantenya. Tante
Rani dibuat kaget karena Arie langsung meraba liang
kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil
menegurnya. "Tante sudah pulang," tanya Arie. Sambil
melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan
tantenya. Lalu Arie membuka kulkas untuk mencari air
putih. "Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante
kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan
dalam keadaan menantang," jawab Tante Rani sambil
tersenyum. "Bagaimana sekarang Arie burungnya, sudah
mendapatkan sarang yang baru ya.." Mendapat ejekan itu,
Arie langsung kaget. "Ah Tante, mau cari sangkar di
mana," jawab Arie mengelak. "Arie kamu jangan mengelak,
Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru
jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan
Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa
kamu telah bermain gila bersama Yuni dan Tante."

Mendengar itu, Arie langsung diam dan ia akan menikahi
Yuni seperti yang dijanjikanya. Mendengar hal itu Tante
Rani tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada
Arie sambil meraba batang kemaluan Arie yang sudah tidak
kuat untuk berdiri. Melihat batang kemaluan Arie yang
sudah tidak kuat berdiri itu Tante Rani tersenyum.
"Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa... Buktinya
burung kamu tidak mau berdiri," goda Tante Rani. "Ahh
nggak Tante, biasa saja kok."

Tante Rani meninggalkan Arie, sambil mewanti-wanti agar
menikahi adiknya. Akhirnya pernikahan Yuni dengan Arie
dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau
pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA
karena Yuni masih dibawah umur.

ADIK TANTEKU 3

Tangan Tante Rani terus memainkan batang kemaluan Arie
dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. "Aduh punya
kamu ternyata besar juga," bisik Tante Rani mesra sambil
terus memainkan batang kejantanan Arie dengan kedua
tangannya. "Masa kamu tega sama Tante dengan tidak
memberikan reaksi apa pun Riee," bisik Tante Rani dengan
nafas yang berat. Mendengar ejekan itu hati Arie semakin
berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di
depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu
bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi.

Mulut Tante Rani yang merekah telah mengulum batang
kemaluan Arie dengan liarnya dan terlihat badan Tante
Rani seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt.
"Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan
begini... ayo dong gerakin tanganmu." Kata-kata itu
terlontar sebanyak tiga kali. Sehingga tangan Arie
semakin berani menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan
sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi
batang kemaluan Ari menegang. Arie mulai meraba-saba
pantatnya dengan penuh kasih sayang.

Mendapakan perlakuan seperti itu, Tante Rani terus
semakin menggila dan terus mengulum kepuyaan Arie dengan
penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir
Tante Rani yang merekah itu seperti mencari sesuatu di
dalam batang kemaluan Arie. Mendapat serangan yang
sangat berapi-api itu akhirnya Arie memutar kaki kirinya
ke atas sehingga posisi Arie dan tantenya seperti huruf
T.

Tangan Arie semakin berani mengusap-usap pinggul
tantenya yang tersingkap dengan jelas. Daster tantenya
yang sudah berada di atas pinggulnya dan kemaluan
tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu.
"Ahkkk, nikmat.." Tantenya mengerang sambil terus
merapatkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu sambil
menghentikan sementara waktu kulumannya. Ketika ia
merasakan akan orgasme. "Arie... Tante sudah tidak tahan
lagi nich.." diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh
tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam
mengulum batang kemaluannya sementara tangannya dengan
aktif mempermainkan sisi-sisi batang kemaluan Arie
sehingga Arie dibuatnya tidak berdaya.

"Aduh . aduh.. Tante nikmat sekalii..." erang tantenya
semakin menjadi-jadi. Hampir tiga kali Tante Rani
merintih sambil mengerang. "Aduuh Rieee.. terus
tekan-tekan pantat Tante.." desah Tante Rani sambil
terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya ke bantal
kecil itu. Arie meraba kemaluan tantenya, ternyata
kemaluan Tante Rani sudah basah oleh cairan-cairan yang
keluar dari liang kewanitaannya. "Ariee... nah itu terus
Riee.. terus.." erang Tante Rani sambil tidak
henti-hentinya mengulum batang kemaluan Arie.

"Kamu kok kuat sekali Riee," bisik tante rRni dengan
nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang
kemaluan Arie. Tante Rani setengah tidak percaya dengan
kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat
Arie keluar sperma. Arie berguman, "Belum tahu dia, ini
belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari
empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk
mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang
keluar seperti air hujan yang sangat deras."

Melihat batang kemaluan Arie yang masih tegak Tante Rani
semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi
telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju
Arie yang masih melekat di badannya. "Buka yaa Sayang
bajunya," pinta Tante Rani sambil membuka baju Arie
perlahan namun pasti. Setelah baju Arie terbuka, Tante
Rani membuka juga celana pendek Arie agar posisinya
tidak terganggu.

Lalu Tante Rani membuka dasternya dengan kedua
tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya
di depan Arie. Melihat dua gunung yang telah merekah
oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang
merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan
ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai
tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat terampil dalam
memainkan batang kemaluan laki-laki.

Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas
permadani dan ia langsung menghisap kembali batang
kemaluan Arie sambil tangannya bergantian meraba-raba
sisi batang kemaluan Arie dan terus mengulumnya seperti
anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh
gairah. Dengan bantuan payudaranya yang besar, Tante
Rani menggesek-gesek payudaranya di belahan batang
kemaluan Arie. Dengan keadaan itu Arie mengerang kuat
sambil berkata, "Aduh Tante.. terus Tante.." Mendengar
erangan Arie, Tante Rani tersenyum dan langsung
mempercepat gesekannya. Melihat Arie yang akan keluar,
Tante Rani dengan cepat merubah posisi semula dengan
mengulum batang kemaluan dengan sangat liar. Sehingga
warna batang kemaluan Arie menjadi kemerah-merahan dan
di dalam batang kemaluannya ada denyutan-denyutan yang
sangat tidak teratur. Arie menahan nikmat yang tiada
tara sambil berkata, "Terus Tante.. terus Tante..", Dan
Arie pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam
batang kemaluannya dan semprotan yang maha dahsyat
keluar di dalam mulut Tante Rani yang merekah.
Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Rani
kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua
yang ada di dalam batang kemaluan Arie yang membuat Arie
meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya
memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah
keluar dan batang kemaluan itu tetap disedotnya maka
akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil.

Melihat itu Tante Rani semakin menjadi-jadi dengan terus
menyedot batang kemaluan Arie sampai keluar bunyi
slurp..., slurp..., akibat sedotannya. Setelah puas
menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kemaluan
Arie, lalu Tante Rani kembali mengulum batang kejantanan
Arie dengan mulutnya yang seksi.

Melihat batang kemaluan Arie yang masih memberikan
perlawanan, Tante Rani bangkit sambil berkata, "Gila
kamu Rieee.. kamu masih menantang tantemu ini yaah..
Tante sudah keluar hampir empat kali kamu masih
menantangnya." Mendengar tantangan itu, Arie hanya
tersenyum saja dan terlihat Tante Rani mendekat ke
hadapan Arie sambil mengarahkan liang kewanitaannya
untuk melahap batang kemaluan Arie. Sebelum memasukkan
batang kemaluan Arie ke liang kewanitaannya, Tante Rani
terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan
Arie pun membalasnya dengan hangat. Saling pagut terjadi
untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu
dan saling menyedot. Tante Rani semakin tergila-gila
sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di
atas batang kemaluan Arie sekarang tergeser ke
belangkang sehingga batang kemaluan Arie tergesek-gesek
oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.

Mendapat perlakuan itu Arie mengerang kenikmatan. "Aduuh
Tante..." sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan
cukup lama. "Clepp..." suara yang keluar dari beradunya
dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Rani
mendorongnya masuk ke lembah surganya. Dorongan itu
perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Arie bergetar.
Mata Tante Rani dipejamkan sambil terus mendorong
pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Rani
telah berhasil menelan semua batang kemaluan Arie. Tante
Rani pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.

"Arieee..." rintihan Tante Rani semakin menjadi ketika
liang senggamanya telah melahap semua batang kemaluan
Arie. Tante Rani diam untuk beberapa saat sambil
menikmati batang kemaluan Arie yang sudah terkubur di
dalam liang kewanitaannya.

"Riee, Tante sudah tidak kuat lagi... Sayang.." desah
Tante Rani sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke
samping kiri dan kanan. Mulut tantenya terus mengaduh,
mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke
kanan. Mendapatkan permainan itu Arie mendesir, "Aduh
Tante... terus Tante.." mendengar itu Tante Rani terus
menggeser-geserkan pantatnya. Di dalam liang senggama
tantenya ada tarik-menarik antara batang kemaluan Arie
dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat
batang kemaluan Arie dengan liang senggama Tante Rani.
Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang
kemaluan Arie jauh lebih besar bila dibandingkan dengan
milik Om Budiman.

Goyangan pantatnya semakin liar dan Arie mendekap tubuh
tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar
itu. Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya
pantat Tante Rani dengan paha Arie menimbulkan bunyi
yang sangat menggairahkan, "Prut.. prat.. pret.." Tangan
Arie merangkul tantenya dengan erat. Pergerakan mereka
semakin liar dan semakin membuat saling mengerang
kenikmatan entah berapa kali Tante Rani mengucurkan
cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh
batang kemaluan Arie. Tante Rani mengerang kenikmatan
yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami
rasakan ketika Tante Rani berkata di dekat telingan
Arie. "Arieee..." suara Tante Rani bergetar, "Kamu kalau
mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaaah". "Iya
Tante..." jawab Arie.

Selang beberapa menit Arie merasakan akan keluar dan
tantenya mengetahui, "Kamu mau keluar yaaa." Arie
merangkul Tante Rani dengan kuatnya tetapi kedua
pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan
Tantenya, begitu juga dengan Tante Rani rangkulanya
tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang
kemaluan Arie. Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara
Arie keluar dengan keras, "Tanteee.. Tanteee.." dan
begitu juga Tante Rani mengerang keras, "Rieee...".
Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan
merapatkan batang kemaluan dan liang kewanitaannya
sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang
kemaluan Arie masuk ke dalam liang senggama Tante Rani.

Akhirnya Arie dan Tante Rani diam sesaat menikmati
semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga
Tante Rani. Masih dalam posisi Tante Rani duduk di
pangkuan Arie. Tante Rani tersenyum, "Kamu hebat Arie
seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih
besar dari suaminya dan sangat menggairahkan."

"Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu
ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa.." goda Tante
Rani. Arie hanya tersenyum di goda begitu. Tante Rani
lalu mencium kening Arie. Kurang lebih Lima menit batang
kemaluan Arie yang sudah mengeluarkan lahar panas
bersemayam di liang kewanitaan Tante Rani, lalu Tante
Rani bangkit sambil melihat batang kemaluan Arie.
Melihat batang kemaluan Arie yang mengecil, Tante Rani
tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang
kemaluannya masih berdiri maka ia harus terus berusaha
membuat batang kemaluan Arie tidak berdiri lagi. Untuk
menyakinkannya itu, tangan Tante Rani meraba-raba batang
kemaluan Arie dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah
dipijit-pijit batang kemaluan Arie tidak mau berdiri
lagi.

"Aduh untung batang kemaluanmu Rieee... tidak hidup
lagi," bisik Tante Rani mesra sambil berdiri di hadapan
Arie, "Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak
kuat Rieee" lanjutnya sambil tersenyum dan Duduk di
sebelah Arie. Sesudah Tante Rani dan Arie berpanutan
mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing.

Pagi-pagi sekali Arie bangun dari tempat tidur karena
mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun
badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek.
Akhirnya Arie jalan-jalan di taman untuk mengisi
kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya
badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada
hari itu Arie tidak ada kuliah. Kebiasaan lari pagi yang
sering dilakukan diwaktu pagi pada saat itu tidak
dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat
pertarungan tadi malam dengan tantenya.

Lalu Arie pun berjalan menuju kolam, tidak dibanyangkan
sebelumnya ternyata Tante Rani ada di kolam sedang
berenang. Tante Rani mengenakan celana renang warna
merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Arie.
Tante Rani mengajaknya berenang. Arie hanya tersenyum
dan berkata, "Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya."
Mendapat jawaban itu, Tante Rani hanya tersenyum,
soalnya Tante Rani mengetahui Arie tidak menggunakan
celana renang. "Sudahlah pakai celana dalam aja," pinta
Tante Rani. Tantenya yang terus meminta Arie untuk
berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana
pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya
yang berwarna biru.

Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang
kemaluan Arie yang kedinginan. Loncatan yang sangat
indah diperlihatkan oleh Arie sambil mendekati Tante
Rani, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah
Arie. Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Rani
menjadi kejaran Arie yang ingin membalasnya. Mereka
saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak
kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Rani dapat juga
tertangkap. Arie langsung memeluknya erat-erat, pelukan
Arie membuat Tante Rani tidak dapat lagi menghindar.

"Udah akh Arie.. Tante capek," seru mesra Tante Rani
sambil membalikkan badannya. Arie dan Tante Rani masih
berada di dalam genangan kolam renang. "Kamu tidak
kuliah Rieee," tanya Tante Rani. "Tidak," jawab Arie
pendek sambil meraba bukit kemaluan Tante Rani. Terkena
rabaan itu Tante Rani malah tersenyum sambil memberikan
ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya
ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Arie.
Mendapatkan perlakuan itu Arie menjadi semakin menjadi
bernafsu dan terus memburu tantenya. Dan pada akhirnya
tantenya tertangkap juga. "Sudah ah... Tante sekarang
mau ke kantor dulu," kata Tante Rani sambil sedikit
menjauh dari Arie.

Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Rani tertawa
geli melihat Arie yang celana dalamnya telah melorot di
antara kedua kakinya dengan batang kemaluannya yang
sudah bangkit dari tidurnya. "Kamu tidak sadar Arie,
celana dalammu sudah ada di bawah lutut.." Mendengar itu
Arie langsung mendekati Tante Rani sambil mendekapnya.
Tante Rani hanya tersenyum. "Kasihan kamu, adikmu sudah
bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena
Tante harus sudah pergi," kata Tante Rani sambil meraba
batang kemaluan Arie yang sudah menegang kembali.

Mendengar itu Arie hanya melongo kaget. "Akhh, Tante
masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja," kata
Arie sambil tangannya berusaha membuka celana renang
Tante Rani yang berwarna merah. Mendapat perlakuan itu
Tante Rani hanya diam dan ia terus mencium Arie sambiil
berkata, "Iyaaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan
lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat."


Bersambung ke bagian 04

ADIK TANTEKU 2

Arie menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju
rumahnya sambil berkata, "Aku tidak mungkin bisa
melakukan itu Tante," Tante Rani hanya berkata, "Arie,
Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan,
masa Arie tidak kasihan sama Tante." Tangan Tante Rani
dengan berani membuka baju bagian atas dan
memperlihatkan buah dadanya yang besar. Terlihat buah
dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu
menantang untuk disantap. Melihat Arie yang tidak ada
perlawanan, akhirnya Tante Rani memakai kembali bajunya
dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung
sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Arie jadi
salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu.

Kedekatan Arie dengan Yuni semakin menjadi karena bila
ada PR yang sulit Yuni selalu meminta bantuan Arie. Pada
saat itu Yuni mendapatkan kesulitan PR matematika.
Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar Arie. Pada saat
itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan
tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Rani yang
menolak melakukan itu. Arie keluar dari kamar mandi
tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Dengan jelas
Yuni melihat batang kemaluan Arie yang mengerut
kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya,
Yuni membalikkan badannya. Arie hanya tersenyum sambil
berkata, "Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu
dulu," goda Arie sambil menggunakan celana pendek tanpa
celana dalam. Kebiasaan itu dilakukan agar batang
kemaluannya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas.

Arie bergerak mendekati Yuni dan mencium pundaknya yang
sangat putih dan berbulu-bulu kecil. "Ahh, geli Kak
Arie.. Kak Arie sudah pake celana yah," tanya Yuni.
"Belum," jawab Arie menggoda Yuni.
"Ahh, cepet dong pake celananya. Yuni mau minta tolong
Kak Arie mengerjakan PR," rengek Yuni sambil tangan
kirinya meraba belakang Arie.
Melihat rabaan itu, Arie segaja memberikan batang
kemaluannya untuk diraba. Yuni hanya meraba-raba sambil
berkata, "Ini apa Kak, kok kenyal." Mendapat rabaan itu
batang kemaluan Arie semakin menengang dan dalam
pikirannya kalau dengan Yuni aku mau tapi kalau dengan
kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih
punya pikiran yang betul, masa tenteku digarap olehku.

Rabaan Yuni berhenti ketika batang kemaluan Arie sudah
menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan
langsung membalikkan badannya. Arie kaget dan hampir
saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit
batang kemaluannya yang sudah menegang.

Tangan yang tadi digunakan meraba batang kemaluan Arie
kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan Yuni
membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat
Arie sudah memakai celana pendek. "Nah, gitu dong pake
celana," kata Yuni sambil mencubit dada Arie yang
menempel di susu kecil Yuni. "Udah dong meluknya,"
rintih Yuni sambil memberikan buku Matematikanya.

Saling memeluk antara Arie dan Yuni sudah merupakan hal
yang biasa tetapi ketika Arie merasakan kenikmatan dalam
memeluk Yuni, Yuni tidak merasakan apa-apa mungkin
karena Yuni masih anak ingusan yang badannya saja yang
bongsor. Arie langsung naik ke atas ranjang besarnya dan
bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun
ada meja belajar tapi Arie segaja memilih itu karena
Yuni sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang
kemaluan Arie terasa hangat dibuatnya. Dan memang
seperti dugaan Arie, Yuni tiduran di dada Arie. Pada
saat itu Yuni menggunakan daster yang sangat tipis dan
di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH
juga yang warna putih terlihat dengan jelas. Yuni tidak
merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah
seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Arie.

Sambil mengerjakan PR, pikiran Arie melayang-layang
bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada Yuni
bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada
Yuni. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila
orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga
pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering
dilakukan oleh Arie dan Yuni.

PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, Yuni
terseyum gembira. Terlihat dengan jelas payudara Yuni
yang kecil. Pikiran Arie meliuk-liuk membayangkan
seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat
nikmat dan sangat hangat. Ketegangan Arie semakin
menjadi ketika batang kemaluannya yang tanpa celana
dalam itu tersentuh oleh pinggul Yuni yang berteriak
karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi
Arie menerangkan tersebut ada di bawah Yuni dan pinggul
Yuni sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif.

Gerakan badan Yuni yang agresif itu membuat paha
putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan
kemaluannya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh
CD yang berwarna putih. Hal itu membuat nafas Arie naik
turun. Yuni tidak peduli dengan apa yang terjadi pada
batang kemaluan Arie, malah Yuni semakin terus
bermanja-manja dengan Arie yang terlihat
bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran
Arie semakin kalang kabut ketika Yuni mengerak-gerakkan
badan ke belakang yang membuat batang kemaluannya
semakin berdiri menegang. Dengan pura-pura tidak sadar
Arie meraba gundukan kemaluan Yuni yang terbungkus oleh
CD putih. Bukit kemaluan Yuni yang hangat membuat Arie
semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin
terengah-engah.

"Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini,
yang nomor sepuluh susah."
Arie membalikkan badannya sehingga bukit kemaluan Yuni
tepat menempel di batang kemaluan Arie. Dalam keadaan
itu Yuni hanya mendekap Arie sambil terus berkata,
"Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya."
"Boleh, tapi ada syaratnya," kata Arie sambil terus
merapatkan batang kemaluannya ke bukit kemaluan Yuni
yang masih terbungkus CD warna Putih. Pantat Yuni
terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah
badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih
membuat Arie semakin panas dingin dibuatnya. Yuni hanya
bertanya apa syaratnya kata Yuni sambil mengangkat
wajahnya ke hadapanya Arie. Dalam posisi seperti itu
batang kemaluan Arie yang sudah menegang seakan digencet
oleh bukit kemaluan Yuni yang terasa hangat. Arie tidak
kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut
Yuni. Yuni hanya diam dan terus menghidar ciuman itu.
"Kaak... apa dong syaratnya", kata Yuni manja agresif
menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kemaluannya
terus menyentuh-nyentuh batang kemaluan Arie. Gila anak
ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang
Yuni tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain
dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun.
"Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya."

Mendengar itu Yuni hanya tertawa, suatu syarat yang
mudah, dikirain harus pus-up 1000 kali. Konsenterasi
Arie dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang
kemaluannya agar tetap berada di bawah bukit kemaluan
Yuni yang sering terlepas karena Yuni yang banyak
bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan
PR-matematikanya. Yuni terus mendekap badan Arie sambil
kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh
paha Arie.

Setelah selesai mengerjakan PR-nya, Arie
menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di
atas bukit kemaluan Yuni. Arie semakin tidak tahan
dengan kedaaan itu dan langsung meraba-raba pantat Yuni.
Ketika Arie akan meraba payudara Yuni. Yuni bangkit dan
terus melihat ke wajah Arie, sambil berkata, "PR-nya
sudah Kaak.. Arie," sambil Menguap.

Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Arie, Yuni langsung
memeluk Arie erat-erat seperti memeluk bantal guling
karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan
oleh Arie begitu saja, Arie langsung memeluk Yuni
berguling-guling sehingga Yuni sekarang berada di bawah
Arie. Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu
Yuni berkata, "Masa Kakak meluk Yuni nggak bosan-bosan."
Berbagai alasan Arie lontarkan agar Yuni tetap mau di
peluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang
kemaluan Arie bergerak-gerak seperti akan ada yang
keluar, dan pada saat itu Yuni berhasil lepas dari
pelukan Arie sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan
pantatnnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.

"Aduh, Gila si Yuni masih tidak merasakan apa-apa dengan
apa yang barusan saya lakukan," guman Arie dalam hati
sambil terus memengang batang kemaluannya. Arie berusaha
menetralisir batang kemaluannya agar tidak terlalu
tegang. "Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati
kepunyaan Yuni cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan
pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi
badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa
kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang."

Arie memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan
ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya.
Itulah pola pikir Arie yang terus ia pertahankan.
Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa
Yuni.

Ketegangan batang kemaluan Arie terus bertambah besar
tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air.
Untuk menghilangkan kepenatan Arie keluar kamar sambil
membakar sebatang rokok. Ternyata Tante Rani masih ada
di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang
dibuatnya sendiri. Tante Rani yang menggunakan daster
warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak
sangat cantik malam itu. Lekukan tubuhnya terlihat
dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan
jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus
terpampang indah di hadapannya. Keadaan itu terlihat
karena Tante Rani duduk di sofa yang panjang dengan kaki
yang putih menjulur ke depan.

Ketenganan Arie semakin memuncak melihat keidahan tubuh
Tante Rani yang sangat seksi dan mulus itu.
"Kamu kenapa belum tidur Ari," kata Tante Rani sambil
menuangkan segelas air susu untuk Arie.
"Anu Tante, tidak bisa tidur," balas Arie dengan gugup.
Memang Tante Rani yang cantik itu tidak merasa canggung
dengan keberadaan Arie, ia tidak peduli dengan keberaan
Ari malah ia segaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di
hadapan Arie yang sudah sangat terangsang.

"Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan
terhadap Arie."
"Tidak apa-apa Tante, Arie mengerti tentang hal itu,"
jawab Arie sambil terus menahan gejolak nafsunya yang
sudah diluar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan
Yuni yang membuat batang kemaluannya semakin menegang
tidak tentu arah.
"Oom ke mana Tante, kok tidak kelihatan," tanya Arie
mengisi perbincangan.
"Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek
yang baru," jawab Tante Rani.
Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan
itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante
Rani, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan
tantenya.

Arie dan Tante Rani duduk di sofa yang besar sambil
sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing
kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Arie, Tante Rani
membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih
bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar
gundukan kemaluannya. Mata Arie melongo tidak percaya.
Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Rani,
tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam
mobil, sekarang Tante Rani tidak menggunakan celana
dalam. Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam
tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Rani terus
menggaruk-garuk di seputar kemaluannya itu karena merasa
ada yang gatal.

Melihat itu Arie semakin gelisah dan tidak enak badan
ditambah lagi dengan ketegangan di batang kemaluannya
yang semakin menegang.
"Kamu kenapa Arie," tanya Tante Rani yang melihat wajah
Arie keluar keringat dingin.
"Nggak Tante, Arie cuma mungkin capek," balas Arie
sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih
milik Tante Rani.

Setelah merasa agak baikan di sekitar kemaluannya, Tante
Rani segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk
bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya
dan kemaluannya yang merekah. Melihat Arie semakin
menegang, Tante Rani tersenyum dan mempersilakan Arie
untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.

Ketegangan Arie semakin memuncak dan Arie tidak berani
kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya
segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu. "Tante,
saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara
segar." Melihat Arie yang sangat tegang itu Tante Rani
hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu
akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur
denganku.

Sebelum sampai ke paviliun belakang Arie jalan-jalan
dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat
kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan
gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak.
Sambil terus berpikir tentang kejadian itu. Tidak segaja
ia mendegar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar
Pak Dadi. Arie terus mendekati kamar Pak Dadi yang
kebetulan dekat dengan Paviliun. Arie mengendus-endus
mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci
dan dengan mudah Arie dapat melihat adegan suami istri
yang sedang bermesraan.

Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, Arie
melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan
pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya
ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan.
Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum
batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh
birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kemaluan
Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang
dimiliki Arie. Astri terus mengulum batang kemaluan Pak
Dadi. Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan
celananya yang telah melorot ada di lantai dengan posisi
duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada
bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai. Terlihat
Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam.
Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kemaluan Pak
Dadi semakin mesra di kulum oleh Astri.

Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya
karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan
kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar
masih ditutupi BH hitamnya. Pak Dadi membantu membuka
BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri.
Astri yang masih melekat di bandan Pak Dadi meminta Pak
Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi
menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya
diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat
bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang
kejantanan Pak Dadi.

Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi
mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan
Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri
tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan
suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap
bertempur. Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi
dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri
merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara,
kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya
terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba
buah dadanya. Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi
dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena
ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering
dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat
tubuh Arie semakin Panas dingin, entah sudah berapa
menit lamanya Tante Rani memainkan kemaluan Arie yang
sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di
belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.

"Tante, kapan Tante datang", suara Arie perlahan karena
takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh
dari tempat tidur Pak Dadi. Tangan Tante Rani terus
menggandeng Arie menuju ruang tengah sambil tangannya
menyusup pada kemaluan Arie yang sudah menegang sejak
tadi. Sesampainya di ruang tengah, Arie duduk di tempat
yang tadi diduduki Tante Rani, sementara Tante Rani
tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal
paha Arie dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang
kemaluan Arie yang sudah menegang.

"Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti
kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin
susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak
ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi
malu. Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante
ini, juga kena marah." Tante Rani memberikan
nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada
diantara kedua selangkangan Arie terus digesek-gesek ke
batang kemaluan Arie. "Tante tahu kamu sekarang sudah
besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi
kamu pura-pura tidak mau," goda Tante Rani, "Dan kamu
sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip
kemesraan Pak Dadi," nasehat-nasehat itu terus terlontar
dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya
digesek-gesekkan pada batang kemaluan Arie.

Arie semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang
sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada diluar
batas kemanusiaan. "Tante jangan gitu dong, nanti saya
jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai
tahu." Mendengar elakan Arie, Tante Rani malah
tersenyum, "Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak
memberitahunya."

Gila, dalam pikiraanku mana mungkin aku memberitahu
Oomku. Gerakan kepala Tante Rani semakin menjadi
ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang
menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang
terawat dengan bersih terlihat merekah. Bukit kemaluan
Tante Rani terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi
bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat
seperti kemaluan gadis seumur Yuni.

Arie sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Rani.
Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk
melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan
selalu memberikan kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari
tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar
sehingga kepala batang kemaluan Arie terangkat dengan
bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lebut dan putih
itu. Melihat Keberhasilanya itu Tante Rani membalikkan
badan dan sekarang Tante Rani telungkup di atas sofa
dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh
bantal sofa.


Bersambung ke bagian 03

ADIK TANTEKU 1

Sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa duduk
di bangku perguruan tinggi. Apalagi kenyataan yang ada
di kampungnya, masih dengan mudah dihitung dengan jari
orang-orang yang telah duduk di bangku perguruan tinggi.
Bukan karena tidak ada kemauan, tetapi dari semua itu
dikarenakan kebanyakan dari mereka keluarga yang sangat
sederhana dan rata-rata berada digaris kemiskinan.
Selain itu jarak antara perguruan tinggi yang ada sangat
jauh, sehingga bila ada yang berkeinginan untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi harus berganti mobil
angkot minimal lima kali, itu juga dengan bantuan
kendaraan roda dua yaitu ojeg.

Sangat beruntung bagi Arie bisa sampai menyelesaikan
pendidikan di bangku SMA. Tapi lepas dari SMA
kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus
bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA.
Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap
besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan
dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang
pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan
dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang
ada, akhirnya semuanya diceritakan di hadapan kedua
orang tuanya. Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan
semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan
kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah.
Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak
ibunya.

Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat
semangat Arie bertambah untuk melanjutkan ke perguruan
tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk
ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang
tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah
satu tokoh di kampung itu.

"Arie.." sapa ibunya ketika Arie sedang merapikan
beberapa pakaian untuk dibawa ke kota. Ini ada surat
dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang
mungkin penegasan dari ayah Arie untuk menyakinkan bahwa
anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah
Oomnya. Sebetulnya orang tua Arie sudah menelepon Tuan
Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Arie sangat
jarang sekali bertemu maka orang tua Arie memberikan
surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung,
di rumah Oomnya untuk sementara waktu.

Oomnya yang bernama Budiman memang paling kaya dari
keluarga ibunya yang terdiri dari empat keluarga. Oomnya
yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha
dibidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat
kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat
berhasil.

Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua
orang tua Arie sebetulnya tidak ada masalah, hanya
karena kedua orang tua Arie yang sering memberikan
nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering
berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti
istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana.
Menurut ibu Arie, Oomnya telah berganti istri sampai
dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari
keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak,
dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari
istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang
keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.

Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Arie dua
tahun dan ia masih SMA di Bandung. Jadi usia Om Budiman
kira-kira sekarang berada diatas limapuluh tahun.

Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas
manusia, Arie langsung masuk ke sebuah kantor yang
bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut
oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah.
Belakangan diketahui namannya Asep dari papan nama yang
dikenakan di bajunya.

"Selamat siang Pak," Tegur Arie kepada salah satu satpam
yang ada dua orang.
"Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu," jawab satpam
yang bernama Asep.
"Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?"
"Bapak Budiman yang mana Dik," tegas satpam Asep, karena
melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada
bisnis dengan anak kecil yang baru berumur dua puluh
tahunan.
"Anu Pak, apa ini PT. Rido," tanya Arie menyusul
keraguan satpam. Karena sebetulnya Arie juga belum
pernah tahu di mana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi
bisnis yang digelutinya.
"Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik
perusahaan ini," tegas satpam Asep menjelaskan tentang
keberadaan PT.Rido dan siapa pemiliknya.
"Adik ini siapa," tanya satpam kepada Arie, sambil
mempersilakan duduk di meja lobby bawah.
"Saya Arie Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa
Gunung Heulang."
"Keponakan," tegas satpam, sambil terus mengangkat
telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.

Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang
menghampiri Arie sambil memberikan selamat datang di
kota Bandung. "Arie.. Apa masih ingat sama Bapak," kata
Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru
ketemu.
Mimik Arie jadi bingung karena orang yang datang ini
ternyata sudah mengenalnya.
"Maaf Pak, Arie Sudah lupa dengan Bapak," kata Arie
sambil terus mengigat-ingat.
Pak Dadi terus menerangkan dirinya, "Saya yang dulu
sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Arie berumur
kurang lebih lima tahun."
Arie jadi bingung, "Wah, Bapak bisa saja.. mana saya
ingat Pak, itu kan sudah bertahun-tahun."

Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini
diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai
tangan kanan Tuan Budiman. Bapak Dadi mengetahui apa pun
tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering
minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang
keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli
sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang
tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya
sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang
kurang lebih baru berumur 35 tahun.

"Aduh Dik Arie, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan
Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Arie karena
harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya
diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Arie. Nah,
sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan
dulu," sambung Pak Dadi melihat ekpresi Arie yang
sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal.
Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar,
"Jangan takut Dik Arie pokoknya kamu tidak akan ada
masalah," tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur
dimana dan akan kuliah dimana, itu semunya telah
diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa
dibidang apapun.

Mendengar itu Arie menjadi tersenyum, sambil
melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya.
Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah
dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik
ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok
mini. Keberadaan Arie sebagai keponakan dari pemilik
perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah
lagi dengan postur badan Arie yang atletis dan wajah
yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang
tersenyum bila melewati Arie dan Pak Dadi yang sedang
asyik ngobrol.

Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Arie dan
ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk
pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi
karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat
lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk
perusahaan, dan semua itu membuat Arie menjadi betah
sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata.

Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya
pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan
merek Mesri terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang
terletak di pinggiran kota Bandung. Sebuah pemukiman
elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang
berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah
kompleks yang sangat mengah dan dijaga oleh satpam.

Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai
dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat
satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik
menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah
yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami
Pak Dadi dan Istrinya. Sedangkan pos satpam dan rumah
kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang
Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu
menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil
telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua
barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh
dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang
dibawa Arie. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil
menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.

Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke
rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi
masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi
meninggalkan Arie, sedangkan Arie ditemani oleh Bi Enung
menuju ruang tengah. Setelah Tante Rani datang sambil
tersenyum menyapa Arie, Bi Enung pun meninggalkan Arie
sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum
untuk Arie.

"Tante sudah menunggu dari tadi Arie," bisiknya sambil
menggenggam tangan Arie tanda mengucapkan selamat
datang.

"Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa", lanjut Tante
Rani yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna
Merah. Wajah Tante Rani yang cantik dengan uraian rambut
sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh
perhatian.
"Tante sudah tahu bahwa Arie akan datang sekarang dan
Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu
karena dia sedang sibuk."
Obrolan pun mengalir dengan punuh kekeluargaan,
seolah-olah mereka telah lama saling mengenal. Tante
Rani dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan
Arie. Gerakan-gerakan tubuh Tante Rani yang pada saat
itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Arie
membuat Arie salah tingkah karena celana dalam yang
berwarna biru terlihat dengan jelas dan
gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan
menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan
pinggulnya yang besar membuat kepala Arie pusing tujuh
keliling. Meskipun Tante Rani telah yang berumur
Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis
remaja.

"Nah, itu Yuni," kata Tante Rani sambil membawa Arie ke
ruang tengah. Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP.
Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi
mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah. Sambil
tersenyum, Tante Rani memperkenalkan Arie kepada Yuni.
Mendapat teman baru dalam rumah itu Yuni langsung
bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau
untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan
sendiri. "Nanti Kak Arie tidurnya sama Yuni ya Kak."
Mendapat pertanyaan itu Arie dibuatnya kaget juga karena
yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya
hampir sama dengan Arie. Adik kakak yang sama-sama
mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat
cantik. Lalu Tante Rani menerangkan kelakuan Yuni yang
meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor
padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu,
Arie hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur
badannya padahal dalam pikiran Arie, ia sudah menaruh
hati pada Yuni yang mempunyai wajah yang cantik dam
putih bersih itu.

Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan
ditemani oleh Tante Rani, Arie masuk ke kamarnya yang
berdekatan dengan kamar Yuni. Memang di lantai dua itu
ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi.
Tante Rani menempati kamar yang paling depan sedangkan
Arie memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar
Yuni berhadapan dengan kamar Arie.

Setelah membuka baju yang penuh keringat, Arie
melihat-lihat pemandangan belakang rumah. Tanpa sengaja
terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya
sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang
bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel
sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang
sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikeruniai
anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman,
Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di
dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu
membuahinya.

Hari-hari selanjutnya Arie semakin kerasan tinggal di
rumah Om Budiman karena selain Tante Rani Yang ramah dan
seksi, juga kelakuaan Yuni yang menggemaskan dan
kadang-kadang membuat batang kemaluan Arie berdiri. Arie
semakin tahu tentang keadaan Tante Rani yang sebetulnya
sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan
tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung
yang bernama BIP. Tante Rani dengan mesranya menggandeng
Arie, tapi Arie tidak risih karena kebiasaan itu sudah
dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang. Tapi
yang membuat kaget Arie ketika di dalam mobil, Tante
Rani mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara
batin. Mendengar itu Arie kaget setengah mati karena
tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Rani
menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo
saat bercinta dengannya.

Arie tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan
karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu
meskipun selama ini ia sering menghanyalkan bila ia
mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kemaluan
Tante Rani. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante
Rani dengan berani tiduran di atas paha Arie sambil
terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini
dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Arie yang
mengetahuinya.

Sambil bercerita, lipatan paha Tante Rani yang telentang
di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya
melorot ke bawah. Arie dengan jelas dapat melihat
gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante
Rani yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan
itu. Arie menelah ludah sambil terus berusaha
menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi. Ketika
Arie akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak
segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah
mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah
meminta Arie untuk terus merabanya.


Bersambung ke bagian 02

ABG TETANGGA

Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD
porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si
adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina.
Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku
pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang,
karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak
tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri
dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku
tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa
berdenyut-denyut bagian pucuknya.
"Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku
sendiri nonton CD porno seharian", gumamku.

Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil
segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan,
tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik
barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut.
Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk
jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit
kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada
obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir
kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya,
tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan
tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap.
"Sekarang minta jatah..". Sambil terus berusaha
menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca
surat kabar pagi yang belum tersentuh.

Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku
mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga
mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada
apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa",
kataku ramah.

ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia
duduk di kursi kosong sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa
bantu", tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai
mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari
dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar
bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".

Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak
ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku,
kemudian membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi
membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku
mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari
belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya.
Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju
kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau
saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.

"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak
lamunan nakalku.
"Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski
sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku
uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku
itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku
mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke
kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, "inilah
kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut.
Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri?
Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu
terlampiaskan".

Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar
kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut.
Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."

Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir
ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan
televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di
sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi
potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung,
tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.

Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk
gadis itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku
yang melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak
lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha
lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku
segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak
memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah
pengalaman.."

Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal
pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar
vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah
terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang
tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi
segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut
celana warna hitam.

"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha
merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah
celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku
terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu
begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi
bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil.
Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu
vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk
liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus
menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan.
Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah
meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.

Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi
dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih
barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku.
Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku
merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul
kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas
buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti
mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium
putingnya yang kecil.

"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas
rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru
sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"

Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi
badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia
tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar
lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia
masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan.
Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah
kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak
kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat
kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian
kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit
itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga
makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih
agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat
sebentar karena dia tampak menahan nyeri.

"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya
sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol
perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan
pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai
masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa
menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit
kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah
demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouuu..", dia
menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah
aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah
membasahi sprei.

Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya
untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai
menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh...", dia mengerang dan melenguh
ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan
kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar
itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu.
Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya
dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan
atau pundakku.

"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouuu enak sekali Om..."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi
senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu
macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati.
Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.

Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan
sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan
payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan.
Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil
memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai
klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu.
Nggak mungkin hamil dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku
tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.

"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar
berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini
Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak
menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk
diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa
nikmatnya memerawani ABG tetangga.

NIKMATNYA ABG

Aku kuliah di suatu perguruan tinggi swasta di Malang,
yang mana cerita berawal dari Perkenalanku dengan
seorang gadis SMU, gadis ini bernama Naning
(panggilannya). Kuakui sangat cantik sekali karena yang
kutahu banyak sekali yang suka dengannya. Perkenalanku
dengannya berlanjut sampai aku mendekatinya, setelah
kutahu dia sudah memiliki pacar. Tapi dalam kamusku aku
harus bisa mendapatkannya, karena aku sudah terlampau
jauh dan tidak ingin kehilangan dia. Namanya otak kotor
sudah banyak sekali di otakku, maka dia kuhasut untuk
meninggalkan pacarnya. Tapi namanya mungkin
keberuntunganku dia ternyata meninggalkan sang pacar.

Berawal setelah meninggalkan pacarnya, dia sudah dekat
denganku dan dalam genggamanku. Berjanji ketemu di
rumahnya setelah pulang sekolah, dia kujemput untuk
kuajak ke kontrakanku. Setelah sampai di rumahku, kami
langsung menuju kamarku untuk bercerita masalah-masalah
yang dialaminya. Setelah beberapa waktu kami bercerita,
tanpa disadari aku menatap buah dadanya yang begitu
padat yang membuat pikiran kotorku mulai bekerja. Kulit
putih tinggi semampai selalu menggerogoti otakku untuk
menyentuhnya. Aku takut untuk memulainya, tapi dia mulai
berkata, "Mas... kalau di rumah ngapain aja?" tanyanya
sambil menatap mataku. Yang kutahu matanya itu memiliki
magnet yang sangat besar untuk menarikku. Aku menjawab,
"Yaa.. pulang kuliah langsung tidur lagi," kataku sambil
aku mendekat untuk mencium harum tubuhnya. Rupanya entah
kenapa nafsuku sudah tak bisa aku bendung, aku makin
mendekat. Naning merasa kudekati dan berkata, "Mas kok
gelisah sekali sih?" Aku menjawab sambil menahan, "Si
Dul berganti posisi duduk."

Tanpa kusadari Naning melihat ke arah "Dul" punyaku,
langsung berkata, "Ehh.. itu Mas kok keliatan?" Aku
malu, tapi dia tertawa. Karena sudah ketahuan aku
mendekatinya dan langsung kusergap bibirnya yang merah
ranum, rupanya dia juga merasakan apa yang kurasakan.
Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang
sangat panjang. Tanganku mulai meraba kedua buah dadanya
yang padat, dan tangan satunya ke arah kepala membelai
rambutnya yang hitam panjang. Merasa sesuatu ada yang
menyentuh buah dadanya, Naning mulai mengeluarkan suara
yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti
melakukan gerilya di sekujur tubuhnya, sampai aku
membuka satu persatu pakaiannya. Dari baju kubuka
terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh
kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke
belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah
tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya.

Setelah terlepas, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini
baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil
yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning
langsung menjerit seakan terbang ke awan. Wajahku
bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah
dadanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka
celana jeans-nya. Aku takut juga, dikira laki-laki
kurang ajar, namanya otak kotor, ya aku langsung saja
melepas kancing celananya dan dia meneruskan membuka
celananya. Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan
kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku
bergumam, aduh mulusnya tubuh putih ini. Tanpa pikir
panjang aku langsung membuka seluruh pakaianku. Dia
berkata, "Cepet Mas... aku udah gak tahan!" dengan nafas
terputus-putus. Membuatku sedikit tergesa-gesa
melepaskan pakaianku, mungkin dia tidak ingin melepaskan
kenikmatan yang baru didapat. Dia terkejut melihat si
"Dul" punyaku yang besar sekali, sambil berkata, "Wahh..
Mas.. kok besar sekali?" Aku menjawab, "Akh masa sich?"
sambil aku menindihkan tubuhku di tubuhnya.

Disambut dengan kecupan bibir mungilnya, aku mulai
kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang
berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke
rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya
berkedip-kedip menahan nikmat yang dirasakan. Pinggulnya
mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin
mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih
dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih
dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan yang aku
sendiri tak tahu. Mungkin itulah kesimpulanku adalah
cairah dimana seorang wanita mulai terangsang. Semakin
lama aku bermain, semakin dia bergerak lebih agresif
dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan
tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang
sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia
mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh
mengejang. Naning berkata, "Akh... Masss... aku
keluarrr..." dengan ucapan yang tak ada hentinya dan
kata terakhir yang panjang, "Aaahhh..." dan seluruh
tubuhnya mulai melemah.

Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena
akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh
mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk
mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata
yang tegang dia melihat ke arah "Dul"-ku, seperti ingin
melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam,
"Mas.. kok besar sekali?" seperti orang terkejut. Aku
tak ambil pusing mau besar atau kecil langsung kutancap
gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan "Dul"-ku ke
kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena
mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan
layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakinya
sehingga tampaklah sosok yang belum pernah kulihat.
Akhirnya dia yang mengarahkan senjataku untuk masuk ke
kemaluannya. Sedikit demi sedikit kutekan secara
perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat
badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia
menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang
kutahu dia mengeluarkan kata "Ssttt... aaakkkhh... terus
Mass..." begitu terus, sampai kata-katanya berlanjut
dengan... "Aku pingin yang lama Mass..." permintaannya
harus kupenuhi dan aku juga tak ingin membuang-buang
kesempatan seperti ini.

Dengan kedua tangannya di punggungku, dia melakukan
gerakan-gerakan yang membuat permainan ini semakin
terasa nikmat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan
mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa "Dul"-ku
mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya,
maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk
mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan
sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya
bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di
bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan
nikmat. Kuperhatikan wajahnya sepperti menahan sakit
atau apa, kedua tangannya menggenggam seprai kasur dan
kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan
kata-kata yang tak menentu, "Aaakkhhh... Masss...
jangannn... di... lepass... yang kuattt.. Mass...
aaahhkk... akuuu... udahh... gaakkk.. tahaann nihh...
aduhh.. Mass... enakk Mas..." dan dia mengecupkan
bibirnya di keningku. Keringat mulai keluar di sekujur
tubuhku dan dia tak kuhitung berapa kali si "Dul" keluar
masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti
memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan
sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara,
dia pun setengah berteriak, "Aahk.. Maass... uuhggk...
Masss.. eemmmhhhh..." begitu seterusnya.

Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di
kemaluanku, rupanya dia sudah akan mencapai puncaknya.
"Aaahhkk... Mas... aku.. keluar Mas.. aaahhhkk...
uuughh.. Maaas..!" sambil memeluk erat tubuhku dan
terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya
mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai
dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai
menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia
merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang
jelas dia ingin ekali lagi mengulanginya. Aku
menyuruhnya berganti posisi. Dia sekarang berada di
atasku dan kulihat "Dul"-ku masih berdiri tegak menanti
adanya sentuhan halus bulunya. Kedua kakiku kuluruskan,
Naning mulai dengan membengkangkan kedua pahanya dan
tangannya meraih "Dul"-ku dan memasukkan ke dalam
vaginanya. "Blep..." begitulah kira-kira antara
pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti
mur dan baut.

Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan
bawah, "Aaahhkk... eeemmhhh... enaknyaa Mas..." sambil
kedua tanganku membelai kedua buah dadanya dan
sekali-kali kulumat salah satu dari buah dadanya itu.
Rupanya Naning merasakan lain dari yang pertama yang
dirasakannya. Ini kulihat dia lebih bersemangat dengan
menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar.
Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang
sungguh nikmat sekali. Tangannya menarik kepalaku dan
menyuruhnya mencium buah dadanya, aku menurut saja apa
yang ingin dia lakukan dan itu rupanya berhasil. Sampai
saatnya aku akan ejakulasi, kuberi tanda kepada Naning
bahwa aku akan keluar. Naning pun tak ingin
menyia-nyiakan usahanya untuk mencapai orgasme lagi dan
berucap,
"Ssst.. aaahk... Mas.. bareng yaa... aku juga akan
keluar... teruss.. Mas cium teruss.. Mass... aahhkk..."
Sambil aku berhitung, "Satu..."
"Aaahkk..." ucapnya.
"Dua...""Uuughh Masss... iiyaa... Masss.. aakuu..
aaakkhh...""Tiii... gaaa..."
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, "Aaahkkggk..." dan
berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya,
si "Dul" memuntahkan laharnya. Naning masih terus
menggoyangkan pinggulnya.

Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua, dan setelah
itu dia menciumku dengan penuh rasa sayang. "Wah.. Mas..
kamu hebat sekali yaa... seperti berpengalaman saja."
Aku hanya menjawab, "Enggak ah..." dan hari-hari
selanjutnya kami selalu menghabiskan waktu berdua. Tanpa
ada hambatan aku melakukannya dimana saja, kapan saja,
kalau ada kesempatan kami melakukan di rumahku atau di
rumahnya.