Thursday, May 3, 2007

EOT OUGH

Pertama-tama aku mau memperkenalkan diri dulu. Namaku
"Eot" (nama panggilan dari orangtua dan teman-teman).
Aku sekarang berumur 24 tahun dan sudah bekerja di salah
satu perusahaan konsultan swasta di Jakarta. Cerita ini
merupakan kisah nyata yang benar-benar terjadi beberapa
tahun yang lalu (kira-kira bulan July tahun 1989), saat
itu aku baru duduk di kelas 1 SMA di SMA Negeri 'XXX' di
kota Bandung. Pada saat itu aku punya seorang pacar yang
sudah kupacari selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan, aku
dan dia memang sudah pacaran semenjak di bangku SMP
(pada saat itu aku dan dia sama-sama di SMP
negeri-Bandung). Pacarku adalah adik kelasku pada saat
itu.

"Poppy", ya Poppy adalah pacar pertamaku pada saat itu,
Poppy merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara, kakaknya
semua cowok. Poppy tinggal pada sebuah keluarga yang
serba berkecukupan, orang tuanya termasuk salah satu
orang terpandang di kota Bandung saat itu. Poppy
memiliki wajah yang menurutku sangat imut-imut, dengan
potongan body yang relatif kecil (163 cm, 45 kg), kulit
putih bagai kapas tanpa cacat sedikitpun. Ditambah
dengan penampilannya yang cuek tapi rapih, tentu saja
dia membuatku semakin jatuh cinta. Satu hal yang
membuatku tergila-gila padanya adalah matanya yang bulat
dihiasi dengan hidung kecil mancung dan bibir kecilnya
yang berwarna merah muda tanpa lipstik dan selalu basah
itu.

Aku dan dia berpacaran sudah cukup lama, selama
berpacaran aku sangat menghargai dia, pertama karena aku
sangat mencintai dia, selain itu aku pun melihat
keberadaan keluarganya. Waktu berjalan tidak terasa 1
tahun lebih aku berpacaran dengannya tanpa ada masalah,
bahkan aku dan keluarganya (ayah, ibu dan
kakak-kakaknya) sudah benar-benar diterima seperti
layaknya anak sendiri, hal ini membuatku semakin yakin
akan gadis pilihanku ini. Dalam waktu yang sekian lama
kegiatan pacaran kami hanya berkisar antara nonton di
bioskop ataupun makan-makan di restoran, selama itu aku
belum pernah mencium bibir merahnya, ataupun memeluknya
walaupun pada dasarnya aku memiliki hasrat untuk
melakukan hal itu, namun hasrat tersebut kalah oleh rasa
cinta dan sayangku padanya, sehingga aku tidak ingin
sedikitpun melukai hatinya. Paling-paling cium kening
sebelum pulang apel yang selalu kulakukan padanya selama
kurun waktu tersebut sebagai penghias cinta kami berdua.

Singkat cerita, pada saat aku duduk di kelas 1 SMA,
dimana Poppy yang adik kelasku itu duduk di kelas 3 SMP
akan menghadapi EBTANAS untuk masuk ke SMA, Aku yang
sudah benar-benar dipercaya oleh keluarganya,
mendapatkan perintah dari kedua orangtuanya untuk
memberikan bimbingan kepada Poppy selama masa EBTANAS
tersebut. Aku yang jelas-jelas sangat menyayanginya
sudah barang tentu tidak akan mengecewakan dirinya
apalagi kedua orang tuanya. Karena aku sudah mendapatkan
mandat untuk memberikan bimbingan selama masa EBTANAS
itu, maka aku pun dianjurkan untuk menginap di rumahnya
selama kurang lebih 2 malam. Pada mulanya aku ragu untuk
menginap di rumahnya, karena memang aku belum pernah
menginap di rumah teman cewek, apalagi di rumah cewekku
sendiri seperti ini. Namun berkat dorongan kedua
orangtua serta kakak-kakaknya yang terus memaksa,
akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menginap selama
2 malam di rumah kekasihku.

Malam Senin (malam pertama aku menginap). Aku datang ke
rumahnya (kira-kira pkl 18.30 WIB)menggunakan sepeda
motorku, sesampainya di rumahnya, aku memencet bel, tak
lama kemudian Poppy muncul dengan berlari-lari kecil,
"Eh, Kaka, kok jam segini baru dateng sih, Poppy sudah
nungguin dari tadi tau, katanya mau dari siang", ujar
Poppy sambil membukakan pintu garasi rumahnya. (Oh iya
aku lupa menjelaskan pada pembaca bahwa selama
berpacaran Poppy selalu memanggilku dengan panggilan
"Kaka"). Aku pun menuntun sepeda motorku masuk dalam
garasi rumahnya.

"Ayo, Kak, buruan masuk, itu tasnya taruh saja di
kamarnya Mas Dody", ujar Poppy sambil menarik lenganku
menuju kamar kakaknya (Mas Dody) yang kebetulan sedang
pergi ke Pangandaran bersama teman-temannya. "N'tar dulu
dong Pop, aku kan belon ketemu Ibu dan Bapak, masa sih
langsung main masuk kamar saja, entar disangka nggak
sopan lagi", ujarku.
"Oh, iya lupa", ujar Poppy sambil tersenyum kecil dan
mencubit lenganku, yang membuatku semakin gemes kepingin
mencium bibir mungilnya itu. Tak sadar aku pun
terbengong-bengong melihat wajah imutnya sambil
pikiranku membayangkan aku sedang mencium bibir sambil
berpelukan dengannya. "Eh, kok malah bengong bukannya
masuk, hayo lagi mikirin siapa yaa?" ujar Poppy. Aku pun
tersentak kaget dan tersadar dari lamunanku. "Eh, nggak
kok, ujarku sambil buru-buru membuang pikiran kotorku,
takut ketahuan lagi mikirin yang jorok-jorok.

Tak lama kemudian muncul Ibunya, "Eh, Nak Eot, kapan
dateng kok nggak kedengeran", ujar ibunya sambil
mempersilakan aku masuk ke dalam ruang keluarganya.
"Sudah, dari tadi bu", sahutku pelan sambil berjalan
menuju ke dalam. "Nanti, Nak Eot tidur saja di kamarnya
Dody, kebetulan Dody sedang keluar kota jadi kamarnya
kosong", ujar ibunya.
"Iya Bu", sahutku.
"Poppy, ayo ajak masnya makan malem dulu, sebelum
belajar!" ujar ibunya sambil mengajak kami ke ruang
makan untuk makan malam. "Kak, ayo makan dulu, nanti
masuk angin lho", ajak Poppy sambil menuntun tanganku
menuju ruang makan. Kami pun makan malam bersama
bertiga. Ternyata ayahnya sedang dinas keluar kota
sedangkan kakak-kakaknya pergi semua keluar dengan
alasan malas untuk mengajarkan adiknya yang sedang
menghadapi EBTANAS ini. "Untung ada Nak Eot, kalau nggak
bisa gawat nih, mana kakak-kakaknya Poppy pada ngabur
lagi, wah maaf ya Nak Eot, jadi merepotkan nih", ujar
ibunya. "Oh, nggak apa-apa kok Bu, kan kalau Poppy
NEM-nya bagus, saya juga yang senang Bu", balasku sambil
melirik ke arah Poppy yang tersenyum-senyum manja.
Setelah makan malam, aku dan Poppy ditinggal oleh
ibunya, masuk ke dalam kamar.

Aku pun mulai mengajari Poppy di ruangan komputer, malam
itu Poppy menggunakan baju kaos tipis berwarna putih,
dipadu dengan rok mini corak kotak-kotak merah-hitam
sehingga tampak kontras sekali di kulit pahanya yang
putih bersih. Selama mengajarinya mataku kadang terpaku
kepada pahanya yang putih mulus, ingin rasanya aku
mengelusnya, merasakan kehangatan pahanya, namun apakah
hal itu mungkin, sedangkan selama ini aku belum pernah
melakukan hal tersebut. Tak terasa aku menjadi
terangsang, dan kemaluanku pun menjadi tegang, namun
sebelum menjadi semakin parah segera kubuang pikiran itu
jauh-jauh.

Soal demi soal dikerjakan, waktu pun tidak terasa sudah
menunjukkan pukul 22.30 (setengah sebelas malam).
"Kak, sudah dulu ah, istirahat dulu sebentar, Poppy kan
capek", ujar Poppy sambil menggelendot manja.
"Eh, Poppy masak sih baru sebentar saja sudah capek,
nanti NEM-nya jelek lho", sahutku.
"Ya, tapi kan kalau sudah capek dipaksain terus belajar
juga malah nggak bagus", jawab Poppy.
"Dasar kamu pinter ngomong, ya sudah kalau gitu kukasih
kamu 1 soal lagi, nanti kalau bisa ngerjain dan
jawabannya benar, kamu aku kasih hadiah dan boleh
istirahat", ujarku lagi.
"Asyiiikkk..., benar ya, tapi hadiahnya apa?" tanya
Poppy padaku.
"Ya, sudah sekarang kerjain saja dulu nanti hadiahnya
surprise", jawabku. Poppy pun mengerjakan soal,
sementara aku bingung memikirkan hadiah apa yang bakal
diberikan padanya sedangkan tadinya aku hanya iseng
saja, dan benar-benar tidak memiliki sesuatu yang akan
diberikan padanya. Akhirnya tidak lama kemudian Poppy
pun menyelesaikan soal, kuperiksa dan ternyata
jawabannya tidak ada yang salah.
"Gimana Pak Guru, apa jawabannya benar", tanya Poppy,
"Aku pun menganggukkan kepalaku sambil tersenyum
padanya.
"Nah, sekarang mana janjinya, katanya mau ngasih
hadiah", tanya Poppy.
"Oh iya ya, naah sekarang pejamkan dulu mata kamu baru
nanti saya kasih hadiahnya", ujarku pelan. Poppy pun
menurut memejamkan kedua belah matanya.
"Sudah belum", ujar Poppy mendesakku.
"Sebentar, dulu dong", jawabku. Aku pun memandangi wajah
imutnya, bibir mungilnya, hidung mancungnya, semua
terasa sangat indah malam itu, aku pun memang sudah
berniat untuk memberanikan diri akan memberikan sesuatu
yang belum pernah kuberikan padanya malam ini. Aku pun
mendekatkan wajahku padanya, pelan-pelan kudekati bibir
mungilnya, dengan perasaan dag-dig-dug tak menentu
akhirnya kuberanikan diriku dan kedua bibir kami pun
bersentuhan, bibirnya terasa sangat lembut dan hangat.
Aku takut dia akan marah atau menganggapku kurang ajar.
Sesaat kemudian dia membuka kedua matanya, kupandang
wajahnya takut-takut, tak lama kemudian ia pun tersenyum
padaku, "Ma kasih ya Kak", ujarnya sambil tersenyum
manja, manis sekali. Ingin rasanya aku berteriak karena
girang, ternyata bisa juga aku merasakan bibirnya
walaupun hanya sekejap, batinku dalam hati. "Sudah, ya
hanya segitu saja hadiahnya Kak", ujar Poppy lagi. "Ya,
kalau pengen hadiah lagi juga nggak apa-apa", harapku
ragu-ragu.

Tak disangka Poppy pun memelukku sambil mencium bibirku,
akhirnya kami pun saling berciuman sambil berpelukkan,
nafsuku semakin tinggi setelah kedua buah dadanya
menyentuh dadaku, terasa kenyal dan hangat, ingin
rasanya aku memegangnya. Kami terus berciuman, sementara
tanganku sudah mulai berani mengelus-elus punggung,
kemudian pelan-pelan turun ke arah pantat, gila benar...
pantatnya empuk benar, sudah gitu hangat lagi, tapi aku
tidak berani berlama-lama di area tersebut, aku pun
kembali memindahkan tanganku di punggungnya, kembali
mengelus-elus punggungnya sambil lidah kami berdua
saling berpagutan di dalam, benar-benar malam spesial
yang sangat indah, batinku dalam hati.
"Pop, apa Ibu sudah tidur, n'tar ketauan lagi", kataku
sambil melirik ke arah kamar sang Ibu, "Nggak apa-apa
kok, kalau Ibu biasanya jam sepuluh sudah tidur", jawab
Poppy menenangkanku. Jawaban Poppy benar-benar membuatku
tenang, tapi juga membuat birahiku semakin memuncak,
akhirnya kami pun kembali berciuman, aku pun
memberanikan diri untuk memegang buah dadanya, mula-mula
kuelus dari belakang, kemudian menjalar dari samping,
terasa kenyal, ternyata bagian bawah buah dadanya sudah
terpegang olehku, dia diam saja, sementara aku semakin
lupa diri, dan akhirnya kuberanikan diri untuk memegang
buah dadanya dari depan, ternyata dia diam saja bahkan
kudengar nafasnya semakin tidak beraturan, rupanya dia
terangsang juga, pikirku dalam hati. "Pop, boleh nggak
tangan kakak masuk ke dalam?" tanyaku takut-takut, Poppy
pun mengangguk pelan malu-malu, akhirnya kumasukkan
tanganku dari bawah baju kaosnya, pertama tersentuh
kulit perutnya yang halus dan hangat, membuat pikiranku
melayang kemana-mana, semakin ke atas akhirnya ketemu
juga gunung kembar yang selama ini hanya bisa
kubayangkan tanpa bisa kupegang.

Buah dada Poppy masih sangat kencang dan bulat, kuelus
buah dadanya dari luar bra yang digunakannya, baru
kemudian kuberanikan untuk menyusupkan jemariku ke dalam
bra, halus dan hangat terasa jemari tanganku
menyentuhnya, Poppy pun melenguh, nafasnya semakin tak
beraturan ketika tanganku menyentuh buah dadanya bagian
dalam. Bra yang kurasakan sangat mengganggu tersebut
akhirnya dengan jerih payah berhasil kubuka, (karena
kebetulan kancing pengaitnya ada di depan, jadi mudah
untuk menemukannya). Setelah terbuka, tanganku menjadi
semakin leluasa menggerayangi kedua buah dada Poppy.
Kuelus-elus buah dada Poppy memutar keliling bagian
luarnya, baru kemudian kutemukan pentil susunya yang
masih sangat kecil mungil, dan kubayangkan pasti
warnanya merah muda. Kupelintir-pelintir pentil susunya,
membuat Poppy semakin menggelinjang "aahh, kakk,
Poppy... gelii... banget nih", ujar Poppy, aku tak bisa
menjawab, karena nafsu birahiku semakin memuncak, aku
hanya dapat tersenyum sambil mengecup keningnya.
Tanganku pun semakin berani bergerilya, sementara tangan
kananku sibuk menggerayangi buah dada, maka tangan
kiriku mulai berani untuk mengelus-elus paha putihnya,
busyeet! teman-teman, pahanya halus banget, kuelus dari
lutut, kemudian naik sedikit sampai kira-kira 20 cm dari
lutut, kemudian turun lagi, ingin rasanya elusan
tanganku ini kuteruskan ke atas, namun keberanian diriku
belum penuh.

Bibir kami terus berpagutan, sambil terus berpelukan.
Nafsu birahiku semakin bergejolak, ingin rasanya aku
membuka kaos putihnya, sehingga aku dapat melihat
sekaligus menciumi buah dadanya, namun kutakut kalau
Poppy nantinya malah tersinggung mengingat hal ini baru
pertama kali kami lakukan.
"Sudah diijinkan memegang sampai ke dalam saja sudah
untung", batinku dalam hati.
Aku sadar bahwa segala sesuatu itu harus melalui proses,
demikian juga dengan "hal ini" walaupun permasalahannya
berkisar hubungan antara 2 insan manusia yang berlainan
jenis, namun kuyakin apabila dilakukan melalui
tahapan-tahapan tertentu, maka hasilnya pun akan lebih
memuaskan. Kuurungkan niatku, walaupun kemaluanku sudah
semakin menegang, menuntut sesuatu yang lebih dari
sekedar berciuman dan berpelukan, walaupun sudah dihiasi
dengan elusan-elusan ringan ke arah 2 bukit kembarnya.

Sedang asyik-asyiknya kami berciuman, tiba-tiba kudengar
suara derit pintu yang terbuka, aku dan Poppy tersentak
kaget, Poppy pun membenahi rambutnya yang sedikit
acak-acakan sekaligus memasang kait tali BH-nya yang
sempat kubuka tadi.
"Siapa Pop?" bisikku padanya. Poppy menggelengkan
kepalanya, "Mungkin Ibu", balasnya setengah berbisik.
Kami pun langsung bergegas untuk kembali pada posisi
semula. Aku mengambil buku sambil berusaha untuk
mengatur jalan nafasku yang masih ngos-ngosan tak
karuan.
"Waahh, sialan, lagi nikmat-enaknya, adaa saja
gangguan", batinku dalam hati.

Ternyata dugaan Poppy benar, Ibu keluar dari kamar,
terbangun karena haus sekalian menengok anaknya yang
sedang belajar.
"Waahh... rajinnya anakku, jam segini masih belajar
juga", ujar Ibu sambil membelai rambut Poppy.
"Gimana Nak Eot, apa Poppy sudah siap untuk ujian
besok?" tanya Ibu padaku.
"Lumayan Bu, soal-soal yang kuberikan tadi hampir
semuanya terjawab benar", jawabku sambil melirik ke arah
Poppy.
"Ya sudah, dilanjutkan belajarnya, Ibu mau bikin susu
dulu buat kalian, biar nggak masuk angin", sahut Ibu
lagi.
"Nggak usah Bu, jadi ngerepotin saja nih", kataku
berbasa-basi.

Tidak lama kemudian Ibu kembali membawa 2 gelas susu
coklat panas plus roti buat kita berdua.
"Makasih ya Bu", ujarku pada Ibu, Ibu tersenyum kecil
sambil mempersilakan kami untuk meminum susu buatannya.
"Poppy, kalau sudah beres lekas tidur, biar besok nggak
kesiangan bangun, Ibu sudah ngantuk, mau tidur duluan."

Kami pun kembali ditinggal berdua di ruang tersebut.
"Wah, hampiiirrr saja ketauan, untung pintunya
kedengeran", ujar Poppy sambil mengelus dada.
"Ya... yaa... yaa, kalau nggak bisa gawat nih, disuruh
belajar PMP kok malah belajar ciuman", sahutku sambil
tertawa lega ibarat maling lolos yang lolos dari
sergapan Satpam.
"Uu... uuuhh... dasar guru ngeres, bukannya ngasih ilmu
buat besok kok malah 'nyonyo' susu batur" (mainin
payudara orang----> dalam bahasa Sunda)", kata Poppy
sambil mencibirkan bibirnya.
"Tapi... suka kan!" kataku sambil memeluk Poppy dari
belakang.
"Naahh, sekarang mau lanjutin belajar PMP atau lanjutin
belajar dokter-dokteran?" tanyaku pada Poppy.

Poppy tidak menjawab, ia melepaskan pelukanku dan
berpindah untuk berbaring di sofa panjang yang kebetulan
terdapat di pojok ruangan. Aku pun berjalan
menghampirinya.
"Sakit apa Mbak?" tanyaku sambil pura-pura memegang
keningnya bak seorang dokter yang menanyai pasiennya.
"Ini Dok, saya dari tadi sesak nafas, kalau nafas berat
banget kayak ada sesuatu yang ngeganjel di mulut", jawab
Poppy sambil tersenyum manja ke arahku.
"O... ok, kalau begitu coba Mbak buka mulutnya", sahutku
lagi. Poppy pun kemudian membuka mulutnya, laganya
seorang dokter, aku pun pura-pura mensenter mulutnya
bagian dalam, terlihat barisan gigi putih rapih
menghiasi bagian dalam bibir mungilnya. Melihat posisi
Poppy yang berbaring pasrah di sofa, timbul lagi
hasratku untuk kembali melanjutkan permainan kami yang
sempat terpotong tadi.

"Waduuuhh... ini sih harus diberi nafas bantuan", kataku
lagi. Aku pun kembali mendekatkan bibirku pada bibirnya,
kita pun segera berciuman kembali dengan gemasnya,
lidahku dan lidahnya saling berkaitan, kadangkala
lidahku digigitnya lembut, mungkin saking gemasnya.
Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera ikut
bergerilya di sekitar permukaan buah dadanya. Walaupun
masih tertutup baju dan BH, namun aku dapat merasakan
bahwa puting susu Poppy sudah mulai mengeras pertanda
bahwa ia mulai terangsang, hal itu juga tampak dari
jalan nafasnya yang sangat tidak beraturan. Kemaluanku
sudah sangat menegang, nafsu birahiku kian memuncak,
keringat mengucur deras, otakku sudah benar-benar
dipenuhi oleh pikiran ngeres meminta sesuatu yang lebih.
Aku pun berfikir keras agar dapat melihat buah dadanya,
memegang dan mengelusnya langsung tanpa ada baju dan BH
yang menghalangi.

Sesaat kuhentikan ciumanku di bibirnya. Kupandangi wajah
imutnya sambil bertanya, "Gimana Mbak, apa sudah baikan
sesak nafasnya?"
"Belum Dok, malahan sekarang tambah parah, gimana dong
dok?"
Aku pun pura-pura berfikir sambil mengerutkan dahiku.
"Ooo... Gitu", kataku sambil mengangguk-anggukan
kepalaku.
Aku mengambil sendok yang kebetulan ada di atas meja.
"Buat apa itu Dok?" tanya Poppy.
"Yaa.. buat periksa dong", sahutku.
"Naahh... sekarang aku mau periksa detak jantung Mbak,
tolong bajunya agak dikeataskan", pintaku padanya
takut-takut.
"Baik Pak Dokter", jawab Poppy sambil mulai mengangkat
kaos putihnya setengah badan. Tampaklah perut putihnya
dan sebagian buah dada bagian bawah yang masih
terbungkus BH warna putih gading. Aku kaget setengah
gembira melihat pemandangan tersebut, aku tidak
menyangka kalau ternyata malam ini, malam EBTANAS aku
dapat memegang sekaligus melihat buah dada Poppy,
pacarku tercinta.

"Maaf ya Mbak", sahutku sambil pura-pura memulai
memeriksa pasiennya. Pertama-tama dengan menggunakan
punggung sendok yang cembung, aku menekan lembut perut
Poppy kemudian kugeser sedikit demi sedikit naik ke arah
buah dada Poppy.
"Waahh... maaf nih Mbak, sepertinya BH-nya harus
dikendorkan habis menghalangi jalannya pemeriksaan",
sahutku ragu-ragu. Tak disangka Poppy pun melepas tali
BH-nya (kaitannya ada di depan sehingga sangat mudah
untuk membukanya). Dadaku bergemuruh keras, bagai akan
meledak melihat pemandangan yang demikian menakjubkan,
dimana di depan mataku sepasang buah dada indah, putih
nan cantik belum pernah terjamah sedikitpun menantang,
menanti belaian tangan-tangan kasarku. Untuk pertama
kalinya kumelihat langsung buah dada wanita seumur
hidupku, buah dada yang berdiri tegak, bulat dihiasi
dengan puting kecilnya yang menonjol berwarna coklat
kemerahan. Untuk beberapa saat lamanya aku duduk
tertegun, tak bergerak, diam membisu, pandanganku
sedetikpun tidak terlepas dari 2 buah dada indah itu.
Seluruh tubuhku seakan lemas tak bertenaga, otakku
berputar cepat, bingung memikirkan tindakan apa yang
akan kulakukan selanjutnya.

"Kaak... kak, kok bengong sih", tanya Poppy menyadarkan
aku dari lamunanku.
"Buah dada kamu bagus sekali", ujarku refleks. Poppy pun
tersenyum malu sambil menutupi buah dadanya dengan kedua
belah tangannya. Kusibakkan dua tangannya dari gumpalan
daging indah itu, dengan lembut kuelus buah dada itu
dari bawah kemudian berputar ke atas mengelilingi puting
susunya yang semakin menonjol itu. Poppy menggelinjang
kegelian, tampak seluruh badannya bergoyang menahan rasa
geli dan nikmat yang tak terkirakan itu. Mungkin baru
sekarang ini buah dadanya dipermainkan oleh seorang
cowok. Nafasnya seakan-akan berhenti, terutama ketika
jemariku perlahan mengelus dan memutar mempermainkan
puting susunya.
"Kaak...., Poppy geliii... banget", ujar Poppy sambil
mendekap tanganku ke arah buah dadanya.

Kukecup keningnya untuk menenangkan hatinya, kucium
bibir mungilnya, kemudian kuciumi leher indahnya,
kutelusuri, kujilati lehernya sampai bersih. Ciumanku
perlahan beranjak turun ke bawah, kucium buah dadanya
satu persatu, baru kemudian kutelusuri buah dada indah
itu dari atas memutar ke bawah, hingga akhirnya sampai
ke puting susunya yang sudah sangat keras itu. Kujilat
puting susunya perlahan, baru kemudian kuhisap-hisap
bagai anak kecil menyusu ke ibunya. Poppy memejamkan
kedua matanya, seluruh badan Poppy tampak mengejang
terutama ketika lidahku mengenai puting susunya.

Nafsuku sudah tak tertahankan lagi, ingin rasanya aku
menelanjanginya, dan kemudian menidurinya, "Tapi itu
mustahil", batinku dalam hati. Sementara mulutku bermain
di buah dadanya, tanganku tak mau kalah, mulai
meraba-raba paha putih Poppy dari bawah bergerak
perlahan ke atas, kusingkap rok mini yang dipakainya
sedikit ke atas, paha indah itu semakin tampak jelas
dihiasi bulu-bulu halus, tanganku terus bergerak ke atas
hampir sampai ke pangkal pahanya, terasa semakin hangat
dan halus. Tiba-tiba tangan Poppy memegang tanganku yang
tinggal beberapa centimeter saja mengenai kemaluannya.

"Ka.... ka..., nanti saja ya", ujar Poppy.
"Disini nggak aman", ujar Poppy lagi.
Aku pun menurunkan tanganku. Tak terasa jam sudah
menunjukkan pukul 01.30 malam. Di sini aku dihadapkan
pada 2 pilihan, di satu sisi aku merasa bahwa kesempatan
ini tidak boleh disia-siakan, namun di sisi lain aku
merasa kasihan pada Poppy yang besok pagi harus
mengikuti ujian EBTANAS. Akhirnya kuputuskan untuk
mengakhiri permainan ini. "Toh besok aku masih menginap
di rumah ini, sudah barang tentu kesempatan pun akan
lebih banyak", pikirku dalam hati. Akhirnya Poppy pun
kusuruh untuk beristirahat, aku pun beranjak ke kamar
Mas Doddy, namun sampai subuh aku tak dapat tidur,
pikiranku terus melayang pada kejadian yang baru saja
terjadi antara kami berdua, "Besok aku harus mendapatkan
yang lebih", batinku dalam hati.