Wednesday, May 2, 2007

GAIRAH DI PESAWAT

"Ladies and gentlemen welcome aboard flight SQ318
destination Los Angeles from Taipei. We will stop in
Hawaii for a few moment to refill our fuel and continue
to Los Angeles. The flight to Hawaii will take seven
hours. So sit down and enjoy our flight entertainment.
Dinner will be served at seven pm Taiwan time."Sekali
lagi aku menguap. Perjalanan ini pasti membosankan
pikirku. Aku melirik penumpang yang duduk di sebelahku.
Wanita yang duduk di sebelahku cantik sekali. Kulitnya
putih mulus, mukanya manis. Rambutnya dipotong pendek.
Mukanya mengingatkanku akan sebuah karakter dalam kartun
Jepang Amy dalam film Sailormoon. Mataku mulai
berkeliaran, dadanya tidak terlalu besar dan tidak
terlalu kecil tapi kelihatan ketat dan tidak menunjukkan
kekenduran sedikitpun. Bajunya putih ketat terbuat dari
bahan yang elastis menunjukan lekukan tubuhnya yang
sempurna. Perutnya datar dan pinggangnya yang melekuk
sungguh aduhai.

Tak kusadari dia melihat ke arahku. "Kok ngeliatin kayak
gitu sih Mas?" Mukaku langsung merah padam menanggung
malu. Aku gelagapan bilang, "Maaf Non habis kamunya
cakep sih."

Di luar dugaan dia cuma tersenyum kecil. Sambil
mengulurkan tangannya dia berkata, "Nama saya Annie,
nama kamu siapa?" aku agak bengong sebentar tapi
kemudian menjabat tangannya dan menjawab, "Eh.. nama
saya Jonathan." Tangannya lembut sekali. Pikiranku mulai
ngeres. Wah enak sekali kalau yang dipegang itu
kemaluanku.

"Kok jabat tangannya nggak lepas-lepas sih?" aku
tersentak lagi dan minta maaf. Aku mengambil majalah dan
mulai membacanya untuk menutupi mukaku yang mulai merah
menahan malu. Aku memang boleh dibilang jarang ada pacar
walaupun aku boleh dibilang lumayan. Kalau masalah seks,
aku sih personal experience masih belum ada, cuma
masturbasi saja pernahnya. Aku sudah ngebet sekali
nge-seks dengan cewek tapi sampai sekarang peruntungan
masih belum ada.

"Eh kamu pernah sekolah di SMP **** (edited) bukan?"
tanyanya secara tiba-tiba.
"Kamu kok tahu?"
"Tadi waktu ngeliat kamu rasanya aku pernah ngeliat kamu
sih, apa lagi ngedenger nama kamu. Aku dulu pernah
sekelas sama kamu."
"Tapi rasanya nggak ada yang namanya Annie di kelasku."
"Waktu itu aku belum ganti nama, waktu itu namaku Li
Ruyin, inget nggak?"

Aku seperti tersentak saja, si Li Ruyin itu pacar
impianku, biarpun badannya tidak perfect tapi cantik
sekali. Tapi cewek yang di depan mataku ini kelihatannya
lain sekali, jauh lebih cantik. "Oh kamu toh, gila, kamu
beda banget. Kamu dulu kayak anak kecil saja, sekarang
kayak bidadari saja," timpalku.

Dia cuma tersipu saja, kemudian kami pun mulai
menceritakan keadaan masing-masing. Ternyata setelah
lulus SMP, dia pergi ke Kanada untuk belajar di sana.
Dari Kanada, dia berjalan-jalan ke Taiwan dan dalam
perjalanan balik ke Kanada tapi bakal tinggal di L.A
untuk sementara. Sementara di Kanada, dia tidak ada
cowok, katanya sih tidak ada yang mengejar dia. Gila,
pikirku, cewek cakep, body perfect seperti dia tidak ada
yang mengejar.

Akhirnya makan malam pun mulai dihidangkan. Sebagai
penumpang First Class, kami ditawari bermacam jenis arak
dan anggur. "Whisky please," ucapku kepada sang
pramugari. Dia menuangkan segelas Whisky. Annie ternyata
memilih untuk minum Brandy. Sewaktu makan malam
dihidangkan, lampu mulai diredupkan. Tiba-tiba saja aku
ada rasa untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya yang
tak tersampaikan sewaktu di Surabaya.

"Yin, aku mau tanya nih tapi kamu jangan kaget ya..."
Sambil tetap mengunyah dia menoleh ke arahku dan
mengangguk.
"Yin, aku waktu di **** (edited) dulu udah mulai suka
sama kamu, tapi tidak ada kesempatan dan keberanian."
"Jon, kamu mah gombal," jawabnya sambil meminum
Whisky-nya.
"Yin, yang mau aku tanyain, kalau misalnya aku ngejar
kamu gimana?"
"Tergantung," jawabnya polos.

Aku tidak banyak tanya lagi, kata "tergantung" sudah
membuatku hilang semangat dan putus asa. Akhirnya piring
kami diambil kembali dan waktu telah agak malam dan aku
sudah kepingin tidur. Aku minta selimut kepada pramugari
pesawat itu dan Annie pun juga minta selimut. Tapi
pramugarinya kembali dan memberitahu kalau selimutnya
tinggal satu saja tapi selimut ini cukup untuk dua
orang.

Akhirnya aku dan Annie share selimut itu dan tempat
menaruh tangan di tengah kuangkat. Aku masih tidak bisa
tidur, memikirkan si Annie. Bagiku kata "tergantung"
adalah sebuah tolakan halus yang menyakitkan. Pernah aku
menunggu jawaban seorang cewek yang memberi kata
"tergantung" tetapi ternyata dia sudah punya pacar.
Tiba-tiba saja aku merasakan kepala Annie di pundakku,
rupanya dia tertidur dan tidak sengaja. Aku tatap
wajahnya yang manis dan cakep itu. Bibir imutnya seakan
menggodaku untuk menciumnya. Tetapi aku berhasil menahan
nafsuku dan mulai membetulkan dudukku.

Aku menoleh lagi, seakan aku ingin sekali melihati dia
terus. Akhirnya tanpa peduli resiko, tanganku, kutaruh
di pinggangnya sementara tangan satunya kutaruh di
belakang kepalanya dan kucium bibirnya. Tanpa diduga,
lidahnya mulai menerobos bibirku dan akhirnya lidah kami
berduel di dalam mulut kami. Tangannya menarikku supaya
lebih dekat. Akhirnya kami beristirahat untuk mengambil
nafas.

"Yin, apa sih maksudmu 'tergantung'?"
"Maksudku, tergantung kamu mau nggak ngejar aku. Kalau
kamu mau, sih aku terima saja."

Aku tercengang, ternyata tadi dia cuma main hard-to-get.
Kucium dia sekali lagi tapi kali ini aku mulai ciumi
juga lehernya dan kupingnya. Tanganku juga mulai masuk
ke dalam bajunya yang ketat itu. Akhirnya tanganku mulai
menyentuh bagian dasar payudaranya, dengan satu gerakan
mulus, tanganku mulai menggenggam payudaranya yang
lentur itu. Pentilnya yang sudah berdiri itu kumainkan
dengan ibu jariku. Dia cuma mendesah kecil. Dia melepas
ciuman kami dan di bawah selimut yang hangat itu dia
melepaskan kaos dan BH-nya. Penumpang lain sudah tidur
dan kami duduk di kursi paling belakang, sehingga tidak
ada yang dapat melihat ataupun menduga apa yang kami
lakukan.

Setelah itu kami pun mulai melanjutkan permainan kami
yang gila ini. Tanganku mulai meraba masuk celananya tak
dapat dikira, ternyata dia tidak memakai celana dalam.
Tanganku mulai menelusuri "hutan" kemaluannya dan
akhirnya menemukan klitorisnya yang juga telah berdiri
seperti pentil payudaranya. Sewaktu tanganku menyentuh
klitorisnya, dia bergetar sedikit. Kubenamkan kepalaku
di bawah selimut dan dengan lahapnya kuhisap dan kujilat
pentilnya sementara tanganku sibuk bermain dengan
klitoris dan liang kemaluannya. Desahannya mulai agak
cepat dan aku mulai takut ketahuan dan tertangkap. Jadi
kucium dia sambil tanganku tetap bermain di kemaluannya.
Akhirnya dia mendapat klimaks dan jeritannya cuma
terdengar dalam mulutku. Ledakan klimaksnya sangat
dahsyat dan tanganku dibanjiri oleh air bah klimaksnya
seolah-olah seperti bendungan pecah keluar dari liang
kemaluannya. Celananya kini pun telah basah oleh air
klimaksnya.

Tanganku yang untuk pertama kalinya bermain dengan
kemaluan cewek ini mulai pegal. Akhirnya kubetulkan
posisi dudukku dan kupeluk dia. Dia memakai kembali
kaosnya dan bersandar pada dadaku. "Jon, kamu belum puas
kan, aku puasin yah?" Aku mulai gelagapan, jangan-jangan
si Annie mau main di pesawat. Aku tidak mau menanggung
malu kalau ketahuan orang-orang, jadi aku bilang, "Yin,
kamu keliatannya capek, kamu istirahat saja, kamu kalau
mau puasin aku boleh saja tapi nanti saja."

Akhirnya pesawat kami tiba di Honolulu, Hawaii untuk
mengisi bahan bakar. Kami diperbolehkan menunggu di
dalam pesawat ataupun turun pesawat dan melihat-lihat
keadaan Hawaii dari ruang tunggu. Aku dan Annie turun
pesawat dan ke ruang tunggu. Kami punya 2 jam untuk
jalan-jalan.

"Yin, kita mau ngapain?" tanyaku sambil menggandeng
tangannya bak sepasang kekasih.
"Kamu maunya apa?" jawabnya sambil memberikan senyuman
seribu arti.

Waktu masuk, aku melihat ada iklan hotel dalam airport.
Kuajukan saranku untuk beristirahat di dalam hotel.
Annie setuju saja dan kami memesan satu kamar. Sesampai
di kamar, aku langsung merebahkan diri di ranjang
setelah melepas kaos dan sepatu serta kaos kakiku. Annie
berdiri di depan ranjang dan menyalakan TV, acara yang
ditayangkan adalah MTV. Dia berjalan pelan mendekati
ranjang tanpa melepaskan kontak mata. Pinggulnya
bergerak ke kiri dan kanan dengan seksinya. Dengan
gerakan yang mulus, dia mulai berdansa dengan seksinya.
Satu persatu pakaiannya dilepas hingga badannya tidak
terbungkus sehelai kain pun. Batang kemaluanku sudah
tegang dan keras seperti baja. Perlahan-lahan dia naik
ke ranjang. Dengan kedua lututnya, dia menopang badannya
dan dia mulai menunduk dan menyingkapkan selimut ranjang
yang kupakai. Sabukku dilepasnya dan celanaku ditarik
sampai ke lutut. Batang kemaluanku sudah sangat menonjol
dan kepalanya keluar dari bagian atas celana dalamku.
Kutendang celanaku ke lantai. Celana dalamku
dipelorotnya dan mulutnya yang kecil itu mulai mengulum
batang kemaluanku. Semua itu dilakukannya tanpa
melepaskan kontak matanya dari mataku. Gerakan mulutnya
yang naik turun diiringi dengan sedotannya yang keras
sungguh membuat nafsuku meledak. Pinggulku, kugerakkan
naik turun seirama dengan naik turun mulutnya.

Kepalanya kupegang dan setiap kali kepalanya turun,
kudorong kepalanya serendah mungkin agar seluruh batang
kemaluanku ditelannya sedalam mungkin. Akhirnya
klimaksku mulai mendaki naik dengan tajam, gerakan
mulutnya pun mulai cepat dan hisapan-hisapannya semakin
keras. "Yin, aku mau keluar nih, kalau kamu nggak
lepasin entar aku bakal nyemprot di mulut kamu nih..."
ucapku.

Dia tidak menggubris peringatan yang kuberikan, bahkan
gerakannya makin dipercepat. "Ohhh yesss... arghhh..."
Aku menjerit keras. Aku seolah melayang di dimensi
keempat dan kenikmatan yang kudapat tidak dapat
dilukiskan dengan kata-kata sewaktu aku menyemprotkan
spermaku di dalam mulutnya yang mungil itu. Seluruh
spermaku ditelannya dan batang kemaluanku dijilatinya
agar tidak ada setetes sperma pun yang bakal tertinggal.

Dia memandangku dan bertanya, "Gimana, aku hebat nggak?"
Hebat? Apa saja yang dilakukannya sangat hebat dan
mungkin dia penjilat kemaluan laki-laki yang terbaik di
dunia. Aku tidak tahu berapa tahun dia latihan dan
berapa batang kemaluan yang telah dia hisap.

"Yin, aku nggak tahu gimana bilangnya, kamu bukan hebat
lagi, kamu the best."
"Jon, aku tahu kamu cuma basa basi saja. Tadi itu
pertama kali aku nyoba ngisep kontol orang loh..."
"Yang bener saja, aku tidak percaya Yin. Masa aku cowok
pertama yang kamu isep."
"Okay deh Jon, aku ceritain deh. Aku dulunya ada banyak
cowok, tapi semua tidak cocok. Tiap kali aku sama
cowok-cowokku yang dulu dating, kami sampai petting."
"Terus?"
"Yah, waktu sampai heavy petting, kusuruh cowokku
'ngisep aku' tapi tidak ada yang mau. Jadi satu persatu
aku putusin."
"Nah apa hubungannya sama kamu 'ngisep aku'?"
"Aku sayang sama kamu Jon, alasan kedua aku putusin
cowok-cowokku yang dulu sebab aku tidak bisa ngelupain
kamu. Aku masih inget waktu itu aku diganggu sama orang
jahat di dekat Mal Galaxy, kamu ngebantu aku. Kalau
nggak ada kamu aku nggak tahu bakalan gimana. Sejak
waktu itu aku mulai suka sama kamu."

Hatiku mulai tersentuh dengan ucapannya itu. Kupeluk dia
dan kucium bibirnya. Ciumanku mulai menjalar ke pipinya,
kupingnya, dagunya dan lehernya. Tak berapa lama,
ciumanku sampai ke buah dadanya. Sambil kucium dan
kujilat pentil buah dadanya yang mulai keras dan tegak,
tanganku menelusuri perutnya, hutannya dan akhirnya
jariku masuk ke dalam liang kemaluannya. Dia mulai
mendesah kecil. Tangannya mengelus kepalaku dan
rambutku. Ciumanku mulai menurun ke bawah sampai ke
liang kemaluannya. Klitorisnya yang telah berdiri tegak
terlihat jelas. Kujilat sekali dan efeknya sangat
dahsyat. Jeritan-jeritan kenikmatan mulai keluar dari
mulutnya. Sambil jariku keluar masuk lubangnya yang
sempit itu, kujilati klitorisnya dengan penuh semangat.
Bau odor seks yang keluar dari kemaluannya terasa harum
di hidungku, menambah semangatku. Jilatanku keras dan
cepat. Irama sodokan jariku kupercepat dan kuperlambat,
membuat Annie menggeliat dan menjerit keenakan.

"Jon, kontolmu Jon, masukin donk..."
"Yin, kamu udah pernah belum?"
"Kok nanya sih? Pasti belum lah!"
"Yin, pertama kali bakal sakit loh."
"Gini saja Yin, aku tiduran di ranjang and kamu
mengangkang di atasku, terus kamu saja yang masukin agar
kamu enak. Kalau gitu, semua kamu yang ngatur. Kalau
sakit diem, kalau udah biasa masukin lagi."
"Suka-suka kamu deh."

Akhirnya dia pun mengangkang di atas batang kemaluanku
dan berat badannya ditopang dengan lututnya.
Perlahan-lahan dia menurunkan badannya. Tangannya
memegang batang kemaluanku dan diarahkannya ke dalam
liang kemaluannya. Liang kemaluannya sempit sekali.
Sedikit demi sedikit batang kemaluanku ditelan lubang
kemaluannya. Kurasakan ada hambatan di depan batang
kemaluanku, rupanya dia masih benar-benar perawan.

"Yin, waktu hymen kamu pecah kamu pasti ngerasain sakit
jadi kamu kerasin saja agar sekali langsung masuk." Dia
menurut anjuranku dan menggunakan seluruh berat badannya
dan gravitasi, dia menurunkan badannya. Pada saat yang
sama, kuangkat lututku untuk menopang badannya.
Jeritannya menggema di dalam kamar yang kecil itu dan
seprei ranjang diremasnya kuat-kuat.

Kami beristirahat sebentar, agar liang kemaluannya bisa
beradaptasi dengan adanya batang kemaluanku di dalam
liang kemaluannya. Setelah kurang lebih 3 menit,
kutidurkan dia di ranjang. Kedua kakinya di pundakku dan
aku bertanya,
"Yin, aku mulai ya?"
"Iya Jon, tapi jangan sakiti aku."
"Tenang kalau sakit bilang saja, aku pasti stop."

Pinggulku mulai kugerakan maju mundur dan jariku bermain
dengan klitorisnya. Irama sodokanku dimulai dengan irama
yang pelan, dan irama itu terkadang kupercepat. Erangan
kenikmatan menggema di dalam kamar. Annie telah klimaks
dua kali selama irama ini kupermainkan. Akhirnya
klimaksku pun telah mendekat. Iramanya kupercepat dan
Annie pun mengikuti iramaku dan menarik tanganku agar
batang kemaluanku bisa masuk sedalam mungkin. Pas
sebelum aku klimaks, kurasakan dinding lubang kemaluan
Annie mengeras dan mencengkeram batang kemaluanku dengan
kuatnya dan dia pun mendapatkan klimaksnya sekali lagi.
Tidak lebih dari dua detik, aku pun menyemprotkan
spermaku di dalam liang kemaluannya.

Badan kami penuh keringat dan aku pun berbaring di
sebelah Annie. Kami kembali berpakaian dan bergegas
menuju pesawat, sebab kami hanya ada sepuluh menit
sebelum pesawatnya