Thursday, May 3, 2007

CASTING

Pagi hari di kantor mewah sebuah perusahaan film
nasional. Seorang gadis cantik sedang diwawancara oleh
manajer casting perusahaan tersebut. Pewawancara adalah
seorang pria bernama Toni berumur 28 tahun keturunan
India.

"Namanya siapa?" kata Toni lalu duduk dan mengambil
setumpuk kertas di mejanya.
"Santi, lengkapnya Beznifa Santi Putridewi." jawab gadis
itu.
Toni lalu mencari file gadis itu di tumpukan kertas yang
dipegangnya.

"Tinggi 170 cm, berat 50 kg, umur 20 tahun," Toni
mengguman sendiri membaca data di depannya.
"Pernah main Sinetron atau pementasan sebelumnya?"
"Belum pernah."
"Kamu tahu bakat kamu apa?"
"Saya bisa menyanyi, tenis dan bakat yang terbesar
menurut saya adalah akting."

"Kok tahu bakatnya akting?"
"Saya ahli mempermainkan perasaan orang Pak," jawab
Santi sambil tersenyum malu mengakui jika dia sering
mempermainkan orang.
"Bapak bisa buktikan sendiri," tambahnya.
"Mempermainkan bagaimana maksudnya?"
"Saya bisa pura-pura menangis, sampai keluar air mata.
Saya juga bisa marah atau membentak-bentak orang padahal
dalam hati sih biasa aja."

"Oke.. saya ingin lihat itu, tapi nanti saja..!"
"Oh ya, Kamu panggil saja aku Toni. Tidak usah terlalu
formal OK..!" tambah Toni.
"Iya Pak."
"Tu kan..!"
"Oh iya." tersipu Santi, ternyata dia masih memanggil
Toni dengan Pak.
"Baik Ton.!" kata Santi terlihat canggung waktu
mengucapkannya.
"Ha.. ha.. ha.. ha..!" berderai tawa Toni melihat
keimutan gadis di depannya.

"Cantik juga gadis ini, seksi, lugu, kulitnya putih.
Wajahnya sangat keibuan, mirip Nia Daniati. Tubuhnya
memang langsing tapi susunya montok juga. Andai saja dia
istriku, pasti aku sarungan terus. Ha.. ha.. ha.. ha..
ha.. Kira-kira dia mau nggak ya?" Toni berkata dalam
hatinya sambil tersenyum-senyum.

"Coba aja ah..!"
"Ya Ton?" Santi memajukan kepalanya, disangka Toni
berkata padanya.
"Oh nggak..!"

"Kamu benar-benar ingin peran ini?" tanya Toni.
"Sangat ingin Ton.."
"Kamu tahu peran utama di film ini?"
"Tahu, yaitu seorang Gadis yang mengandung karena
diperkosa, lalu memilih untuk membesarkan anaknya
sendiri," jawab Santi.

"Pada adegan perkosaan, kamu mau memerankan sendiri
tanpa pemain pengganti?" Toni ingin mengetahui
keberanian gadis itu.
"Mau Ton."
"Tidak pa-pa sama keluarga?"
"Nggak.." Santi memang dari keluarga liberal. Dia
mengabiskan masa SMA-nya di USA mengikuti ayahnya dinas.
"Ternyata kamu memang ingin sekali peran ini ya?"
"Iya Ton, aku mau peran ini sebagai awal dari karirku di
dunia film."

"Apakah kamu tahu pendatang baru di dunia film mau
melakukan apa saja untuk dapat peran?"
"Aku tahu Ton, Aku juga mau melakukan apa saja agar
diterima."
"Aahhh..! Benar kamu mau?"
Santi mengangguk.

"Kamu bersedia jika diminta berhubungan seks?"
"Bersedia Ton."
"Jika diminta mengulum penis, sorry nih ya, apakah mau
juga?" tanya Toni sambil tersenyum. Toni merasa penisnya
mulai berdenyut-denyut.
"Mau Ton.."
"Kok mau?"
"Habis Toni ganteng sih, Ha.. ha.. ha.. ha.. ha.." tawa
Santi berderai mendengar jawabannya sendiri. Toni pun
tertawa mendengarnya.

"Entar kamu lapor polisi."
"Kok lapor polisi, kan dua-duanya senang," jawab Santi
sambil tersenyum.
"Apakah kamu pernah melakukan sebelumnya?"
"Dua-duanya pernah Ton."
"Maksudnya?"
"Ya melakukan seks pernah, mengulum penis juga pernah."
"Ooohh.. dengan siapa?"
"Dengan pacar," jawab Santi.
"Di mana?" Toni tertarik untuk mengetahui lebih banyak
tentang kisah seks Santi.
"Di rumah, 2 tahun yang lalu waktu semuanya lagi pergi."
"Awalnya gimana?" lanjut Toni lebih semangat.

"Waktu itu kami ganti baju untuk berenang, tapi karena
ganti bajunya bareng satu kamar, kami jadi sama-sama
terangsang. Terus mulai deh kami bercumbu dan akhirnya
kami berhubungan seks."
Toni merasakan penisnya semakin keras. Ingin rasanya
menyelipkan penisnya dalam vagina milik gadis cantik di
depannya.

"Kamu mau nggak menceritakan secara lengkap?"
"Kok gitu Ton?"
"Kok gitu gimana?"
"Kenapa... kenapa nggak kita aja yang melakukannya?"
kata Santi. Santi merasa dengan begitu maka peran itu
pasti jatuh ke tangannya.
"Ooohh, aku ingin dengar cerita kamu dulu aja deh."
"Diringkas aja ya Ton?"
"Iya..!" jawab Toni tidak sabar.

"Kami waktu itu akan berenang, rencananya mau ganti baju
renang di kamarku. Setelah masuk kamar, kami mulai
membuka baju. Aku membuka lemari pakaian, lalu membuka
kaos dan celana pendekku. Sehingga aku tinggal memakai
baju dalam saja. Risih juga berpakaian seperti itu di
depan orang lain. Tapi ini kan pacarku, jadi ya kupikir
tidak apa-apalah. Aku melirik ke samping, terlihat
pacarku sudah membuka seluruh pakaiannya dan tinggal
mengenakan celana dalam saja. Berdesir juga tubuhku. Aku
merasa bibir kemaluanku mulai berdenyut, "Santi
menggigit bibirnya.

"Kalau tidak ingat aku ini perempuan pasti langsung
kudatangi dia. Kuputuskan untuk lanjut mencari baju
renang. Ketika sedang memilih baju renang yang merah
atau yang biru, kudengar pacarku melangkah mendekat.
Makin dekat dan makin dekat, lalu terasa hembusan
nafasnya di leher ini. Waktu itu aku merasa tegang
sekali, menduga-duga apa yang akan dia lakukan.
Jantungku berdetak kencang dan vagina ini sepertinya
berdenyut-denyut," kata Santi sambil memegang rok
bawahnya.

"Tiba-tiba dia menelusupkan tangannya di antara
pinggang, memelukku dan merapatkan badannya, sehingga
punggungku dan dadanya bersentuhan. Dia mencium
telingaku, gelii banget.." Santi berkata sambil
mengangkat pundaknya seakan dia sedang kegelian di
bagian telinga.

"Dia mempererat pelukannya sehingga dadanya makin rapat
ke punggungku. Ciumannya lalu turun ke leher, rongga
vaginaku rasanya makin berdenyut dan rasanya agak basah
di bibirnya. Lalu pantatnya mulai bergerak-gerak
digesekkan naik turun ke pantatku. Terasa benjolan
penisnya di antara belahan pantatku. Selama itu aku diam
saja karena tidak tahu harus bagaimana. Setelah beberapa
menit dia membalikkan badanku sehingga kami saling
berhadapan."

"Diciumnya bibir ini, kami saling berpagutan. Lidah kami
saling bersentuhan, kadang bibirku disedot, kadang
digigit. Nikmat sekali rasanya. Tidak pernah saya merasa
sesenang itu. Tiba-tiba dia melepaskan ciumannya dan
membopong tubuh ini. Digendong ke arah tempat tidur. Aku
direbahkan, sebenarnya malu juga terlihat dalam keadaan
seperti ini dari depan tapi karena aku juga sudah
terangsang aku mau aja," Santi berhenti sebentar. Tak
lama dia melanjutkan lagi.

"Pacarku lalu membuka bra-ku dilanjutkan dengan celana
dalam. Pada saat dibuka gesekan antara tangannya dan
kulitku menimbulkan perasaan yang nikmat sekujur tubuh.
Aku merapatkan pahaku karena aku benar-benar malu.
Melihat itu pacarku lalu memegang pahaku dan membuka
secara perlahan lalu dia bilang jangan tutupi keindahan
tubuhmu, selain itu aku kan pacarmu," Santi berhenti
sejenak lalu melanjutkan lagi ceritanya.

"Pahaku membuka begitu juga vaginaku, aku mencoba
melihat apa yang terjadi pada kemaluanku saat
terangsang. Kulihat warnanya menjadi lebih merah, bibir
luarnya telah membuka dan kurasa vaginaku lebih tebal
dari biasanya. Terlihat ada lendir yang menetes keluar,"
Santi lalu menyilangkan kakinya.

"Setelah itu, dia pegang bahuku. Dia pegang dan belai
rambutku yang terurai di bahu. Perlahan-lahan dilepaskan
celana renang dan celana dalamnya. Kulihat tubuh pacarku
yang telanjang di depanku. Dia lingkarkan tangan di
pinggang dan mulai mendekapku lembut. Kami berpelukan
dan bertautan bibir sambil jari-jarinya meraba dan
menggosok seluruh badan."
"Kok lama amat sih pemanasannya? Kapan penisnya masuk ke
vaginamu?" Toni sudah tidak sabar.
"Ceritanya lebih cepet dong..!" tambahnya lagi.
"Tuh kan, nggak sabar. Sudah penis kamu aja yang
diselipkan. Setelah itu terima aku main di film," kata
Santi. Selain dia ingin kepastian dapat peran, dia juga
merasa terangsang mendengar ceritanya sendiri. Terasa
vaginanya sudah lembab.

"Oooh nggak.. nggak..! Lanjutin aja. Aku pengen tahu
bagian vaginamu meremas-remas penis pacarmu."
"Kalau itu yang kamu mau!" Santi membenarkan letak
duduknya dan melanjutkan ceritanya.

"Setelah itu dia mengusap kedua susuku. Diremas dan
dipermainkan putingnya sambil menggesek-gesekan batang
penisnya ke perutku. Lalu dia mencium payudaraku,
perlahan diturunkan ciumannya ke bawah. Bibir kemaluanku
dijilat, dijulurkan lidah dan menusuk ke dalam lubang
vaginaku. Dijilat, terus jilat dan dijilat sambil
tangannya meremas-remas puting payudaraku. Aku terus
melihat ke bawah mengamati perubahan yang terjadi di
kemaluan ini. Setiap lidahnya dijulurkan ke dalam, maka
vaginaku makin terbuka. Bibir vaginaku ditarik oleh
giginya, rasanya sakit tapi nikmat maka vaginaku akan
monyong ikut tertarik. Kelihatan vaginaku berdenyut
setiap lidahnya mengusap permukaan klitorisku.."

"Setelah sekian menit dalam posisi ini, ada rasa yang
tidak pernah aku alami sebelumnya. Sangat nikmat. Otot
vaginaku seperti tersedot-sedot. Rasanya aku ingin
menjerit-jerit dan berteriak untuk melampiaskan
nikmatnya. Aku baru tahu kalau itu yang namanya
orgasme," lalu Santi terdiam seperti mengenang saat-saat
itu.

"Jangan bilang kalau ceritanya sudah selesai, mana
cerita kalian berhubungan seks dan kamu mengulum
penisnya?" Toni curiga cerita Santi telah selesai
melihat Santi diam.
"Kok kamu diam sih..? Dia kan belum orgasme. Mana mau
dia cuma muasin kamu aja. Dia pasti ingin juga ngerasain
orgasme," lanjut Toni agar Santi melanjutkan ceritanya.
"Itu kamu tahu. Kamu aja deh yang ngelanjutin," sahut
Santi sambil tersenyum.
"Waduh..! Kamu ngerjain saya ya? Ya nggak mau dong..!"
jawab Toni ikut tersenyum.

"Hi.. hi.. hi.. hi.. hi.." berderai tawa Santi melihat
reaksi Toni. Lalu Santi menarik napas sebentar dan
melanjutkan ceritanya.

"Lalu dia merebahkan badanku ke kasur. Didekatkan
pinggulnya ke selangkanganku. Pahanya berada di bawah
pahaku. Aku tahu dia akan memasukkan penisnya.
Sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku juga menginginkan
hal itu. Terasa kepala penisnya sudah menempel di bibir
vaginaku. Geli juga rasanya. Tiba-tiba aku tersentak
karena rongga vaginaku terasa penuh. Tidak jelas
rasanya, antara perih dan nikmat.."

"Vagina kamu memijat-mijat penisnya tidak?" tanya Toni
bersemangat. Dia membayangkan nikmat yang dirasakan
pacar Santi.
"Ya nggak tahu dong. Kan dia yang rasain," jawab Santi.
"Kalau yang saya rasain, vagina saya berdenyut-denyut,
dan hangat sekali. Aku mencoba mendongakkan kepala
melihat ke vaginaku, kemaluanku lebih menggelembung dan
tebal. Kulihat juga pacarku memaju-mundurkan penisnya ke
dalam vaginaku. Vaginaku akan monyong setiap dia menarik
penisnya dan akan ikut masuk setiap dia menekan
penisnya."

"Pacarku mendongakkan kepala dan memejamkan matanya.
Peluh membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Makin lama
rasa perih di kemaluanku makin hilang, yang tersisa
hanyalah rasa nikmat yang luar biasa. Aku pun ikut
menaik-turunkan pantatku berkebalikan arah dengan
gerakan pacarku. Setiap permukaan vagina dan klitorisku
menyentuh pangkal penisnya rasanya indah sekali.."

"Setelah itu yang kutahu aku memejamkan mataku, lalu aku
merancau tak menentu. Hingga kurasakan rasa yang tadi
kualami, vaginaku kembali seperti disedot-sedot. Aku
berteriak dan menggigit bibirku. Rasanya lebih nikmat
dari orgasme pertamaku. Tidak lama pacarku juga
berteriak. Ouughh katanya," Santi tersenyum ketika dia
menirukan ucapan pacarnya.

"Terasa hentakan di vaginaku. Pacarku menekan penisnya
sedalam mungkin ke vaginaku, sambil badannya
terhentak-hentak. Terasa tembakan sperma di ujung dalam
kemaluanku sekitar 7 kali. Hangat sekali"

"Untuk berapa lama, penisnya tetap terselip di vaginaku.
Sepertinya kami berdua tidak mau memisahkan kemaluan
kami, kalau kata pacarku sih. Spermanya dan cairanku
telah jadi lem. Ha.. ha.. ha.. Pacarku memang garing
Ton," berderai tawa Santi.

"Lalu cerita aku mengulum penisnya terjadi setelah kami
selesai bereng.." belum selesai Santi bicara Toni
memotong ucapannya.
"Cukup.. cukup.. Aku sudah nggak kuat nih. Bagian kamu
mengulum penis dipraktekin aja. Aku janji deh kamu bakal
dapat peran itu."

Mata Santi langsung berbinar. Daripada mulut ini capek
dipakai untuk bicara lebih baik dipakai untuk bekerja.
Ternyata mulut seorang wanita bisa membantu kariernya.

"Ayo kita mulai," lanjut Toni.
"Bagaimana awal ceritanya?" Toni berdiri mendekat ke
arah Santi. Celananya tidak bisa menutupi penisnya yang
ereksi, sehingga terlihat tonjolan di situ.

"Kami waktu itu berenang tidak memakai baju. Jadi.."
Santi berkata sambil jarinya memberi kode agar Toni
membuka bajunya.
"Oh ya.. tentu saja," jawab Toni sambil membuka kancing
baju lalu reitsleting celananya. Dilepas semuanya.
Setelah itu celana dalamnya. Penisnya sudah penuh, keras
dan tegak menunjuk ke arah Santi. Santi lalu membuka
bajunya. Dilepas satu-satu seluruh kain yang melepas di
badannya.

"Santi..! vaginamu tebal sekali." Toni terkejut melihat
montoknya vagina Santi.
"Nggak pernah saya lihat yang seperti kamu.."
"Santi..! Enggak usah dikulum deh. Kita ngeseks aja
yuk.."
"Kamu mau dong..! Aku nggak tahan melihat itumu. Sudah
pengen nyelipin penis ke situ nih," kata Toni sambil
mengusap-usap penisnya.

"Tentu aku setuju Ton. Dua-duanya kan jadi ngerasain
nikmat."
"Sekarang kamu naik ke atas sofa," perintah Toni sambil
membuang semua benda yang ada di sofa ruang kantornya.
Santi melangkah ke arah sofa. Direbahkan badannya
perlahan, posisinya kini terlentang menghadap ke Toni.
Pahanya dibuka mempertunjukan seluruh alat kemaluannya.
Bibir vaginanya telah membuka, merekah sehingga bagian
dalam dari vaginanya terlihat jelas. Merah, basah dan
berdenyut. Tentu nikmat sekali merasakan pijitan
otot-otot di vagina itu.

"Uoogh..." tanpa terasa mulut Toni mendesah takjub
menyaksikan keindahan bukit kemaluan yang tebal itu.
Belahan bibir kemaluannya yang sedikit kecoklatan
terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil.
Bibir luarnya masih terbuka seakan memanggil-manggil
Toni untuk menikmati.

Melihat hal itu, Penis Toni semakin tegang. Dia ingin
sekali memasukkan kemaluannya ke lubang vagina yang ada
di depannya, merasakan jepitan dan pijitannya. Jelas
sekali Toni melihat vagina itu berdenyut-denyut.
"Terbayang betapa nikmatnya jika penisku bisa masuk ke
situ," guman Toni dalam hatinya.

Toni mendekat dan berlutut di selangkangan Santi. Lalu
tangan kirinya merekahkan bibir kemaluan Santi,
sedangkan tangan kanannya mengarahkan penisnya agar
arahnya tepat. Dengan lembut Toni menyelipkan penisnya
ke dalam kemaluan Santi yang basah. Toni berhenti
sejenak ketika kepala penisnya masuk 1/4. Dia memejamkan
matanya menahan nikmatnya perasaan saat itu.

"Uughh..." ujar Toni.
Perasaan luar biasa ketika kepala penisnya menggesek
bibir vagina Santi. Santi mungkin mengira batang penis
itu akan dimasukkan seluruhnya, karena begitu kepala
penis menyelip di antara bibir kemaluannya terlihat ia
membuka kedua pahanya lebar-lebar. Tapi ternyata Toni
menghentikan gerakannya.

"Lagi Ton, masukin lagi..!" Santi merengek ketika
mengetahui Toni menahan gerakannya.
"Jangan berhenti Ton.. masukin semuanya," Santi merengek
lagi karena Toni masih memejamkan mata menikmati 1/4
penisnya yang sedang diremas-remas oleh otot vagina
Santi.

Toni yang memang ingin seluruh bagian penisnya menikmati
pijitan tentu saja mengikuti permintaan itu, dia lalu
menekan penisnya lebih dalam perlahan-lahan sampai
akhirnya semuanya masuk.

"Ouugghh..!" Toni melenguh ketika pangkal penisnya
menyentuh lubang kewanitaan Santi. Terasa seluruh
penisnya digenggam erat oleh vagina Santi.
"Ahhkkk..! Tekan Ton, tekan yang keras..!" rengek Santi
sambil menggigit bibirnya.
"Kayak gini bukan?" lalu Toni menghentakkan pantatnya ke
depan, sehingga mulut vagina Santi terdorong dengan
keras.
"Oughh.." teriak Toni.
"Aaahhkkk..! Gila Ton..! Lagi Ton..!" rintih Santi
merasakan nikmat.

Toni lalu menarik penisnya, vagina Santi terlihat
monyong. Setelah tertarik setengah didorongnya lagi
pantatnya seperti tadi.
"Aaahkkkk..!" bersamaan mereka berteriak.

Toni lalu memaju-mundurkan pantatnya. Dia menarik sampai
sekitar 50 persen panjangnya, lalu menekan lagi hingga
masuk semuanya. Toni terus melakukan itu. Sementara itu
Santi tetap merancau tidak karuan. Sedangkan Toni lebih
banyak diam.

"Aahhkk.. Toni.. enaak.. hiks.. hiks.. hikss ooohh.."
"Yaahh.. tusuk yang keras.. hmm.. Oughh.. yaa.. terus
Ton.."
"Sshhh.. ssshhh.. oughh.. enak Ton, terus.. terus..
tarik dorong yang keras Ton..!"
"Oougghh.. oh.. oh.. oh.. oh.." Santi terus
menjerit-jerit. Vaginanya menjepit keras penis Toni.
"Ough.. terus Ton..!" Santi menggelepar-gelepar sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. Lubang vagina Santi
semakin basah, dan meremas-remas batang kemaluan Toni.
"Uhh.. hu.. hu.. huu.." terdengar suara Santi seperti
merintih, menahan nikmatnya sodokan penis Toni. Santi
makin membuka kakinya. Ditariknya kakinya ke atas,
sehingga lututnya menyentuh dadanya. Hal ini membuat
Toni makin leluasa memasukkan penisnya.

"Ton.. bentar lagi Ton.. aku mau dapat.!" teriak Santi
ketika merasakan orgasmenya akan datang, rongga
kewanitaannya menjadi lebih berdenyut, seperti menggigit
lembut penis Toni. Santi menaikkan pantatnya agar penis
Toni makin dalam mengisi vaginanya.

"Ouughhh... Ton.. hiks.. hiks.. hu.. hu.." Santi kembali
merintih kenikmatan. Kedua tangannya meremas-remas
pundak Toni.

Sesaat sebelum Santi mencapai orgasme. Toni tiba-tiba
merenggut pantat Santi, mencengkeramnya.
Dihentak-hentakkan pantatnya ke bawah lebih cepat. Hal
ini membuat gesekan antara penis dan rongga vagina makin
cepat. Toni terus melakukannya hingga pada hentakan
terakhir ditekannya pantat lama sekali ke bawah.

Santi merasakan senjata Toni semakin besar, vagina Santi
terasa semakin penuh, Toni mencapai orgasmenya.
"Ooouughh.." lenguh Toni.

Santi merasakan ada tembakan hangat di dalam ujung
vaginanya. Lembut dan mesra. Semprotannya kencang sekali
dan berkali-kali. Kira-kira tujuh atau delapan tembakan,
badan Toni mengejang, dan lalu lemas, lunglai, jatuh ke
depan, menindih Santi.

Toni lalu mencium bibir Santi.
"Terima kasih San.."
Santi mencium balik. Mereka berpagutan beberapa saat.
Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Setelah agak lama Toni menjauhkan bibirnya dan mencabut
penisnya. Terdengar bunyi, "Plop..!" ketika kedua alat
kenikmatan itu dipisahkan.

"Kamu aktris berbakat San..! kamu akan dapat peran di
film itu, tapi bukan sebagai peran utama. Kamu jadi
teman SMA si pemeran utama," kata Toni sambil memakai
celananya.
"Lhoo..! Ton.. katamu.." belum selesai Santi bicara Toni
sudah bicara.
"Aku memang bilang kamu akan dapat peran. Tapi aku tidak
bilang kalau itu peran utama. Kalau tidak mau ya udah.
Kalau mau peran utama, nanti tunggu film yang baru lagi,
kamu casting lagi sama saya. Kita lihat kamu serius
tidak menjalani kariermu."

"Sekarang kamu mau nggak peran tadi?" lanjut Toni
bertanya.
"Mau dong, tapi kiraiinn.!"
"Mau nggak?" tanya Toni lagi.
"Iya.. iya.. mau..!" jawab Santi sambil memakai bajunya.

Wawancara pun selesai, Santi pergi meninggalkan ruangan
dan kehidupan di kantor sang manajer berlangsung lagi
seperti biasa.