Thursday, May 3, 2007

ENJOT WALIKOTA

Seandainya itu benar wajah sang Walikota, “goyangan” di
apartemen itu niscaya membuat kursi jabatannya sebagai
walikota di daerah Kalbar bisa goyang. Soalnya, dalam
VCD yang direkam sendiri oleh selingkuhannya tersebut,
digambarkan jelas betapa Pak Wali dan Hana, 35 tahun,
sibuk enjot-enjotan. Sungguh perselingkuhan yang mahal,
karena untuk kepuasan badani tersebut Pak Wali dikuras
uangnya hingga Rp750 juta!

Ini kisah tentang pejabat yang pamitnya pada istri untuk
rapat, tapi ternyata malah “rapet” bersama
selingkuhannya. Pada keluarga selalu bilang ada
pekerjaan lembur, tapi sebetulnya malah “lempengin
burung”. Karena suaminya memang orang terpandang dan
terhormat di kotanya, tentu saja Bu Wali tak pernah
curiga akan kesibukannya. Bu Wali pun percaya bahwa
suaminya memang walikota, bukan wali setan!

Bagi kebanyakan kaum lelaki, setelah punya tahta
(kedudukan) dan mulai berlimpah harta, biasanya dia akan
berinvestasi di bidang keperempuanan. Dia ingin
memuaskan dahaga asmaranya melalui melimpahnya uang.
Walikota dari Kalbar itu agaknya begitu juga. Dia tak
bisa berkutik ketika menghadapi si jelita yang putih
bersih, seksi, betis mbunting padi dan wajah mirip ratu
ekstasi Zarima.

Ujian pertama dialami Pak Wali ketika dia berkenalan
dengan si Hana di Jakarta. Karena sama-sama berasal dari
Kalbar, keduanya pun menjadi akrab. Lebih akrab lagi
karena si Hana memang menjanjikan sejuta rasa. Dia
cantik, cerdas, dan menggairahkan. “Ah, Hana memang
wanita yang enak diselingkuhi dan perlu,” begitu mungkin
batin Pak Wali.

Karyawati sebuah perusahaan di Jakarta itu tahu bahwa
orang penting di Kalbar ini tergila-gila padanya. Hana
pun mafhum bahwa dia memiliki poisisi tawar yang tinggi
mengingat wajah dan tubuhnya yang aduhai. Maka dia
berusaha memanfaatkan Pak Wali. Itu artinya, ada cinta
harus ada harta. Ada bonggol harus ada benggol. “Silakan
aku kamu goyang, tapi berikan aku uang,” begitu prinsip
Hana.

Yang namanya pejabat, uang memang begitu mudah dicari.
Hanya lewat tanda tangan sret sret sret, duit mengalir
ke rekeningnya. Maka Pak Wali ini mudah saja memanjakan
si jelita Hana. Setiap dia ada tugas ke Jakarta pastilah
menyempatkan diri untuk kencan dengan selingkuhannya.
Ibarat mobil, habis tugas dinas beliau sporing balansing
dan amplas platina di apartemen dulu!

Agaknya Hana juga tahu bahwa kisah cintanya pada Pak
Wali tak mungkin berfinish di pelaminan, kecuali sebatas
hubungan kelamin. Tapi dengan itu pula dia merasa punya
kartu truf untuk “memeras” Pak Wali. Maka agar
skandalnya tak diketahui umum, dia selalu minta duit
pada sang pejabat manakala usai kencan. Tidak kurang
dari Rp 750 juta yang berhasil dikuras dari kantong
pejabat Kalimantan Barat tersebut. Yayank-nya yang
Walikota itu menurut saja. Bahkan lebih dari itu, beliau
mau saja disyuting Hana ketika sedang berhubungan intim
di apartemen. Di bulan puasa misalnya, saat orang makan
sahur, Pak Wali malah “sahur” paha si Hana sambil merem
melek. Ketika ditanyakan kenapa disyuting segala. “Untuk
kenang-kenangan Pa, kalau kangen aku kan bisa melihat
gambar tubuhmu,” kata Hana manja sambil terus berusaha
memuaskan selingkuhannya di ranjang.

Akan tetapi, perselingkuhan itu ternyata membuahkan rasa
cinta Hana pada sang Walikota makin dalam. Dia ingin
dinikah resmi. Entah disetujui atau tidak, yang pasti Bu
Wali telah mencium skandal ini. Terbukti dia kirim SMS
pada Hana tentang rencana pernikahan tersebut.
Sayangnya, sementara skandal sudah terbongkar, Pak Wali
malah mengecewakan cintanya. “Cinta yang kecewa bisa
jadi dendam membara,” kata Hana.

Nah, Hana sudah kepalang basah. Untuk mempermalukan Pak
Wali, dia lalu menyerahkan rekaman VCD-nya pada koran
Equator di Singkawang. Maka hari berikutnya kota
Singkawang gempar. Warga kota melihat dengan jelas
gambar Pak Wali di koran sedang “enjot-enjotan” dengan
Hana. Beliau tampak merem melek, karena Hana memang
pandai memuskan selera lelakinya di ranjang.

Kepada Equator Hana juga mengakui, sebetulnya dirinya
sudah “terbeli” oleh Pak Wali. Soalnya, beliau tak
mencintainya. Kalaupun mau memberi uang hingga ratusan
juta, karena Pak Wali takut bila Hana ngoceh ke
mana-mana. “Uang itu sebagian saya belikan mobil,” kata
sicantik yang berhasil menjual “sawah sepetak”-nya
dengan harga menggiurkan.