Tuesday, May 1, 2007

FUCK RYO

Termenung saya dalam mini jeep yang saya kendarai, memandangi
antrean kendaraan yang hendak memasuki gerbang Puri Agung Sahid
malam itu. Sepasang janur kuning berukuran besar tampak menjuntai di
kejauhan, menandakan acara apa yang sedang dilangsungkan di
dalamnya. Saya memang berniat menuju ke sana, sama seperti kerumunan
mobil yang terjebak dalam antrean ini. Perlahan saya perhatikan
mobil-mobil yang berjejal dalam antrean. Mini jeep saya terlihat
seperti sebuah rumput liar di taman penuh bunga. Tepat di depan saya
terpampang 735iL, lalu beberapa meter darinya tampak S320. Ada pula
S70 dengan plat nomor BS di belakangnya, lalu masih banyak lagi
mobil-mobil CBU yang bahkan dalam mimpi pun saya belum pernah
melihatnya. Semuanya antri ingin memasuki halaman parkir perhelatan
tersebut. Tiba-tiba saya tersenyum simpul, mengingat ucapan seorang
yang saya tuakan dalam hidup ini. Katanya di Jakarta tidaklah heran
menemukan orang kaya, yang mengherankan adalah menemukan orang
jujur. Dan sudah jujurkah semua tuan-tuan bermobil mewah ini? atau
lebih jauh lagi, sudah jujur pulakah diri saya?
Sebelum terlampau jauh, ijinkanlah saya memperkenalkan diri. Nama
saya Ryo, 23 m Jkt (buat chatters yang nggak tau artinya, mending
balik pake mesin tik aja kali yah, hehehe...). Yah saya memang bukan
lagi Ryo 23 m Bdg seperti dalam kisah-kisah terdahulu. Kelulusanku
dari sebuah fakultas teknik yang dikenal sebagai ekonominya teknik
(karena banyak mata kuliah ekonomi dalam kurikulumnya) dari sebuah
Universitas ternama di kota itu telah mengantarkanku mendapatkan
pekerjaan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. But one thing for
sure, I'm not working at Tia's office (untuk mengetahui tokoh ini,
disarankan untuk membaca Walk Interview). Now I'm just an employee
from one of an automobile industry in Indonesia, based on North
Jakarta.
Kurang lebih 15 menit yang saya butuhkan sampai akhirnya dapat
melangkahkan kaki dengan tenang menuju pintu gerbang perhelatan
akbar tersebut, meninggalkan mini jeep saya yang terparkir nun jauh
di sana. Setelah memasukkan amplop (yang saya yakin isinya cuma
senilai kwaci bagi pasangan tersebut), mengisi daftar hadir dan
mengambil souvenir yang dengan ramah diberikan oleh penerima tamu
(pretty enough, but not my type), saya menyusuri elevator yang
menuju ke lantai II, tempat acara tersebut diselenggarakan. Antrian
tamu yang hendak memberikan selamat telah mengekor panjang dengan
saya sebagai salah satu korbannya, dengan diiringi gending-gending
Jawa yang terus mengalunkan nada-nada lembut daerahku. Di kejauhan
tampak Linda, teman semasa SMA dulu, dalam rentangan waktu '92-'95
yang lalu, tampak cantik dengan busana daerah Jawa, sibuk menyalami
para tamu sambil sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya.
Di sampingnya tampak suaminya yang terlihat cukup gagah.
Yah...mereka berdua nampak sangat berbahagia malam ini.
"Ryo..., ma kasih yah mau dateng, kapan nih mau nyusul? kok
sendiri?", berondong Linda saat dengan lembut kusalami mereka di
pelaminan. Saya hanya mampu membalasnya dengan tersenyum.
Hhmm....menikah? bahkan memikirkannya pun tidak. Dalam dua atau tiga
bulan lagi usiaku akan menginjak 24, ah...masih ada waktu cukup
untuk bermain-main, melihat semua silau dunia sebelum pada akhirnya
saya akan memutuskan untuk menetap dalam pelukan kedamaian seorang
wanita. Kok sendiri? Pertanyaan itu yang masih menggayut di
telingaku, saat satu per satu anak tangga pelaminan kuturuni.
Seakan-akan dipurukkannya diriku dalam jurang kesunyian. Even an
advounturer feels so lonely sometimes, seperti saat ini di mana
diriku merasa sangat sendiri di tengah keramaian para tamu undangan.
Hhh...sesak juga rasanya jika sisi sentimentil ini sedang terusik.
"Ryo.....ini kamu? Apa kabar?", tiba-tiba sebuah suara wanita
menghentakkan lamunanku, membangkitkan kembali diriku dari kesunyian
yang baru saja kualami. Sejenak saya palingkan muka mencari sumber
suara tersebut. Rasanya pernah sangat mengenalnya. Terus kutelusuri
wajah para tamu sampai akhirnya kutertumbuk pada sesosok wajah yang
cantik, lembut and of course, I'll never forget. Revy, sahabatku di
SMA dulu, tampak sangat anggun dengan kebaya modern bernuansa silver
transparan yang dikenakannya. Revy... is that really you?
Tiba-tiba ingatanku terlempar pada beberapa tahun silam. Revy....
sebuah nama yang masih saja membekas hangat dalam setiap jejak
ingatanku. Masih segar dalam ingatan bagaimana lekatnya kami
berkawan semasa menempuh pendidikan di tahun terakhir kami pada
sebuah SMA favorit di bilangan Slipi Kemanggisan dulu. Tidak ada
seorang pun yang percaya bahwa kita tidak terlibat cinta. You're
both too close to be friends, there must be something special
between you, dan masih banyak lagi yang nyata terngiang tuduhan dari
teman-temanku dulu akan hubunganku dengan seorang Revy. Jujur di
dalam hati pun saya pernah memimpikan hal yang sama terjadi.
Yah...saya memang hanya manusia biasa, yang terkadang sulit
mengontrol perasaan dan harapan kala mana berdekatan dengan sesosok
lawan jenis yang sangat kita kenal dan terasa sangat mengenal kita.
Tapi pada akhirnya saya memilih untuk mendiamkan perasaan itu lewat,
sambil membunuhi benih-benih rasa yang terlanjur tumbuh. Saya tidak
akan pernah bisa kehilangannya sehingga jika saya tidak dapat
memilikinya lebih dari sekedar teman, biarlah saya memilikinya
sebagai seorang sahabat. Masih banyak lagi alasan mengapa saya
memilih untuk tidak mengungkapkan perasaan saya terhadapnya. In
fact, we live in different world. Revy adalah anak dari sebuah
keluarga yang dapat di bilang sebagai konglomerat yang berkedudukan
di Surabaya. Memang Revy tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut,
bahkan dia akan marah besar jika ada yang menyinggung permasalahan
tersebut. Namun saya juga harus tahu diri, biar bagaimanapun
kesenjangan kelas sosial mau tidak mau akan menjadi kendala bagi
berjalannya suatu hubungan, apalagi dalam usia remaja seperti kita.
Di lain pihak, seusai bangku SMA, ia merencanakan untuk menuntut
ilmu di Wina, Austria. Interior Design yang menjadi impiannya selama
ini akan ditimbanya di negeri itu. And I don't belive in long
distance relationship, not a second...!! Dan memang kabar terakhir
darinya adalah ketika kumelepasnya di boarding gate Bandara
Soekarno-Hatta di suatu malam, lima tahun yang lewat. Kami
berpelukan erat, sepertinya tidak akan pernah bertemu lagi. Wajahnya
perlahan menghilang di kerumunan penumpang lain yang siap berangkat.
Dan wajah itulah yang sekarang hadir lagi di hadapanku.....
"Ryo..., kok malah bengong? Masih inget saya nggak?", sapa Revy
ramai menyapaku. Ah... tentu saja saya ingat, peri kecilku. Tentu
saja saya ingat kamu....
"Revy...?", balasku tertegun, tidak mempercayai kehadirannya di
hadapanku kini.
"Of course..., who else?", seru Revy sambil meninju bahuku, "Siapa
lagi temanmu yang secantik ini, hah?", katanya lagi. Huh...pede
sekali, tapi memang harus kuakui....
"Apa kabar Rev?", balasku sambil menyalami hangat tangannya. "Lho
kok sendiri, cowok kamu mana?", tanyaku cepat saat menyadari
lingkaran berwarna keemasan melingkar di jari manis kirinya. Ingin
rasanya memeluknya, kalau saja.........
"Mas Heru lagi nggak ada di Indo. Eh...tau dari mana kamu saya punya
cowok?", sahutnya tersadar kalau identitasnya terbongkar.
"Ah..wanita mana lagi yang mengenakan cincin emas di jari kirinya,
kalau bukan pemberian seorang pria spesial", todongku sambil cuek.
"Oh iya..yah...., eh kamu kok juga sendiri, cewek kamu mana?", balas
Revy nggak mau kalah.
"Saya memang masih sendiri kok, masih setia menantimu di ups....",
saya tidak mampu menyelesaikan kalimat, keburu sebuah cubitan
mendarat di pinggangku.
"Hhhh....gemes...masih aja kayak dulu, ngegombalnya nggak
ilangilang", kata Revy sambil mengencangkan cubitannya di
pinggangku. Tinggalah saya meringis-ringis menahan sakit, soalnya
nggak mungkin teriak, banyak tamu sih...
Selanjutnya dapat ditebak, kami terlibat obrolan yang hangat dan
akrab. Lima tahun tanpa kabar, dan kini tanpa sengaja bertemu di
sebuah pesta pernikahan. Kabar si Anu, kabar si Itu, atau si Ini
teman-teman kita dulu silih berganti mengisi topik pembicaraan.
Seems just like yesterday.... Revy kini bekerja di sebuah konsultan
interior design di kawasan Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Tak jauh
dari tempatnya tinggal, di sebuah komplek apartemen yang terletak di
belakang sebuah Hypermarket made in France, di daerah yang sama.
Katanya menimba ilmu, pengalaman dan sense terlebih dulu, untuk
nantinya membuka usaha serupa dengan modal sendiri, itu jawabannya
yang diberikan kepadaku saat ku tanya mengapa dia memilih untuk jadi
"ekor naga", daripada menjadi "kepala ayam" (buat mas dan mbak yang
sudah terjun ke dunia kerja, pasti tahu istilah ini). Mas Harry,
kakaknya semata wayang, kini sudah menikah dan dikaruniai seorang
putra, menempati rumah mereka dulu di kawasan Puri Indah. Dan
sebagai gantinya, Revy dibelikan sebuah unit apartemen yang
ditempatinya hingga kini. Dan mas Heru, lelaki yang berhasil
melingkarkan cincin itu, adalah tunangannya sejak setengah tahun
yang lalu. Ia kini sedang menyelesaikan kuliahnya di Boston, USA.
Mereka telah 3 tahun berkenalan, walaupun baru berpacaran setahun
yang lalu. Medio tahun depan mereka merencanakan untuk menikah,
segera setelah Heru menyelesaikan studinya.
Kami terus berbincang akrab, tanpa sadar jumlah tamu yang makin
berkurang karena hari beranjak malam. Dengan berat hati, akhirnya
kami berpisah. Sempat kuantarkan Revy menuju parkir mobilnya,
sebelum akhirnya kita benar-benar berpisah.
Jakarta, 20 November, 12.06 PM
Saya sedang menikmati santap siang di kantor, berkumpul dengan
rekan-rekan kerja saat tiba-tiba teleponku berbunyi, dengan nama
Revy terpampang di LCD ku. Segera aku menyingkir dari meja sambil
menjawab telepon.
"Halo....Ryo?", terdengar suara wanita di ujung sana.
"Yup... Apaan Rev?", balasku segera.
"Eh Ryo...sibuk nggak ntar sore?", tanyanya kembali.
"Ntar sore? Hhmm...enggak tuh kayaknya", jawabku, "Assiikkk... mau
nraktir yah?", sambungku dengan pedenya.
"Huh...ge-er...", sahutnya cepat, "Revy cuman mau ngajakin nomat,
abis lagi suntuk nih Ryo". Nomat adalah singkatan dari nonton hemat,
dimana setiap hari Senin kita mendapat potongan harga untuk membeli
tiket (ah..semua juga udah tahu kok).
"Boleh tapi di mana?", tanyaku lagi.
"Biasa...di tempat bersejarah kita dulu, masak sih kamu udah nggak
ingat masa-masa indah kita berdua..., hahahaha....", sambungnya
diiringi gelak tawa candanya, "Revy tunggu di tempat biasanya, 1/2 6
teng yah...". Kami masih sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum
ia menutup teleponnya. Tempat bersejarah? Ah... lamunan saya kembali
menyusuri jejak waktu yang telah berlalu sekian lamanya. Pondok
Indah Mall adalah tempat favorit kami untuk jalan-jalan semasa
sekolah dulu. Revy bilang barangnya bagus-bagus, sedangkan menurut
saya yang terbaik dari tempat itu adalah pengunjung wanitanya yang
cantik-cantik, hahahaha..... Entah sudah berapa kali kami jalan
bersama ke tempat itu. Nonton, main game (ding-dong tepatnya),
makan, atau sekedar ngeceng. Beberapa kali pula kami tertangkap
dating oleh teman-teman yang lain, sehingga makin meyakinkan mereka
kalau kami tengah berpacaran. Dating? ah... mungkin itu hanya
harapan saya yang kelewat batas menganggap even-even itu sebagai
dating.
Waktu menunjukkan jam 17.24 WIB ketika saya melangkahkan kaki
memasuki area pertokoan tersebut. "Tempat biasa" yang Revy maksud
tentunya masih seperti yang dulu, tempat kita sering nongkrong
bareng. Outlet St. Michael di lantai dasar, bersebelahan dengan
Baskin 31 Ice Cream pasti yang dimaksudnya. Dulu kita sering
nongkrong makan ice cream sambil memandangi produk-produk St.
Michael dari luar kaca. Hahaha....terasa betapa masih kecilnya kami
saat itu.
Seulas senyum telah menyambutku, sesampainya ku di sana. Revy telah
tiba terlebih dulu, dan masih seperti dulu, tengah asyik menikmati
sebuah cup ice cream rasa strawberry sambil bersender di dinding
outlet pakaian tersebut. Setelah berbincang-bincang sambil
menantinya menghabiskan sisa ice cream-nya, kami pun naik ke lantai
teratas untuk melihat film apa yang sedang diputar. Pangsit goreng,
mie bakso dan sebotol teh dingin. Masih saja seperti dulu makanan
fave-nya kalau sedang main ke PIM. Restaurant spesialis mie yang
terletak tepat di seberang sineplex masih saja kena di lidahnya, pun
setelah bertahun-tahun di negeri orang. Kami makan agak tergesa,
karena Charlie's Angel akan ditayangkan tidak lama lagi.
Waktu sudah malam, ketika Cameron Diaz, Drew Barrymore dan Lucy Liu
menyelesaikan aksinya di film dan memaksa kita untuk pulang. Seperti
kemarin, kuantarkan kembali Revy menuju mobilnya. Kita menjadi
semakin akrab, seperti seorang anak kecil yang tidak mau lepas dari
mainan favoritnya yang telah lama menghilang. Yah.....Revy memang
telah lama menghilang dari hidupku, dan entah kini apa maksud-Nya
mempertemukannya kembali denganku.
Sesampainya di rumah, kubongkar kembali file-file lamaku, berharap
mendapatkan secuil kenangan tentang Revy di situ. Dan saya berhasil
mendapatkannya.....!! Dua lembar potongan karcis film "Speed"
tertanda medio 94 yang lalu masih ada dalam salah satu file-file
lamaku. Tersenyum ku seorang diri mengingat betapa lucu mimik
wajahnya mengagumi sosok Keanu Reeves yang menjadi tokoh dalam film
tersebut, 6 tahun yang lampau sambil terus mendesakku untuk
mengikuti potongan rambut Keanu yang memang tengah mewabah saat itu.
Hahaha...makin kayak tikus kecebur got donk kalau saya nekat
memapras rambut saya meniru tokoh tersebut. Di lain pihak, entah
mengapa saya suka menyimpan benda-benda yang mempunyai memori,
mungkin saya adalah orang yang setia pada kenangan. Dan malam itu
saya tertidur dengan senyum. Senyum tentang indahnya sebuah
kenangan......
Jakarta, 1 Desember 2000, 03.19 PM
Lapar dan haus memang nyaris tidak saya rasakan, namun perasaan yang
jenuh dan mengantuk yang tengah melanda diriku dengan hebat, sambil
terus mencoba fokus memandangi General Managerku yang terus mengomel
sepanjang memimpin rapat siang itu. Busyet...bosku ini pakai baterai
apa yah, kok ngomelnya tahan banget dari tadi, pikirku sambil
setengah mati menahan mata agar tidak terpejam. Memang sih dia tidak
mengomeliku, namun rekan-rekan yang lain yang menjadi sasaran. Tapi
tetap saja bikin bete kalau dengar orang yang ngomel melulu. Ini
salah, itu salah. Ini kurang, itu kurang. Iseng kulirik ke luar
jendela. Hhmmm...ruangan ini di lantai 4, kayaknya lumayan juga kalo
GM-ku ini dilempar ke luar jendela, hahahaha........
Tet.....bunyi teleponku sekali, cukup mengejutkanku. Saya rupanya
lupa untuk men-set silent mode sebelum meeting tadi dimulai. Untung
cuma SMS, coba kalau phone call yang masuk, bisa bikin ribut
seruangan meeting donk. Sejenak kulirik SMS yang masuk. Ah...dari
Revy yang mengajakku keluar mencari makan bersama sore nanti.
Lumayan lah, malam libur seperti ini ada juga yang bisa dikerjakan.
Berarti selesai meeting, saya harus menelponnya kembali untuk
memastikan jadwal dating kita sore ini. Dating? hah? mimpi kamu...!!
Sejak kita bertemu lagi, memang sering kami berjalan-jalan seusai
jam kantor. Hampir 2 hari sekali kami jalan, pun hanya untuk dinner
dan mengobrol serta bercanda. Rasanya tidak pernah habis bahan
obrolan kami. Entah mengapa kami makin terasa dekat satu dengan
lainnya. Revy pernah bilang kalau jalan dengan saya banyak
ketawanya. Dia bisa bebas bercanda, ketawa, bahkan sampai ngakak.
Katanya lagi, komentar-komentar saya sering mengejutkannya, dan
membuatnya tidak bisa berhenti untuk tertawa. Rasanya ramai, seperti
waktu masih muda dulu, ujarnya lagi. Dia bilang belum ada seorangpun
kecuali saya yang mampu membuatnya dapat mengekspresikan apapun rasa
di dalam hatinya dengan bebas, tidak juga Heru, tunangannya. Katanya
berjalan dengan tunangannya itu adalah jalan-jalan serius, dinner di
tempat-tempat yang serius (maksudnya formal kali yah?), membicarakan
hal-hal yang serius. Datar tanpa kejutan, tanpa gejolak. But I love
him anyway, sambungnya lagi.
Tidak terasa semakin hari kita semakin dekat. Semakin sering kita
jalan, ada sesuatu yang mulai mengikat perhatianku kepadanya.
Semakin ku mengenal kembali dirinya, seperti saat-saat dulu.
Ah....kalau saja cincin itu belum ada.....
Waktu menunjukkan jam 17.36 WIB saat kulangkahkan kaki memasuki
lobby gedung kantor Revy, sebuah gedung dengan bentuk menyerupai
kipas raksasa di atapnya. Saya memang menjemputnya kali ini, karena
mobilnya telah expired surat-suratnya dan harus diuruskan ke pihak
yang berwenang untuk perpanjangannya. It takes one or two days,
katanya. Telah kutelepon dari lahan parkir tadi, mengatakan bahwa
saya akan menunggunya di lobby. Yup..., itu dia. Revy telah menunggu
di lobby. Setelan celana panjang hitam dengan blazer senada menutupi
kausnya yang berwarna biru muda sangat chic dikenakannya.
Kemacetan Jakarta sore hari telah memaksa kami untuk membongkar
kotak kue Revy lebih dulu di jalan ketika jam di mobilku menunjukkan
pukul 18.02 WIB. Sebuah restaurant Korean Food yang terletak di BBD
Tower (kini Bank Mandiri) di kawasan Diponegoro yang menjadi
referensinya kali ini. Katanya dari situ kita bisa makan sambil
menikmati gemerlapnya lampu Jakarta di bawah sana dari puncak gedung
tersebut. Mendengarnya mengingatkanku pada kafe-kafe di bilangan
bukit dago pakar Bandung, tempat kita bisa menikmati city view
Bandung sepuas mungkin sambil menghirup dinginnya udara pegunungan,
sebuah pemandangan yang selalu menjadi fave saya sampai kapan pun.
Andaikan Revy sempat pula merasakannya.... Kali ini Revy memang
benar. Indah sekali menyaksikan gemerlapnya Jakarta dari atas sini.
Lampu-lampu dari gedung maupun penerangan, berwarna-warni menghiasi
pemandangan kota di malam hari. Di bawah sana tampak permainan
ornamen lampu dari sebuah restaurant steak terkenal berpendar-pendar
indah. Bagus memang, tapi tetap ada sisi romantisnya yang hilang.
Tidaklah sesakral city view Bandung, di mana kita dibuat menyatu
dengan alam, merasakan sapaan lembut angin yang menghembus wajah
kita, tanpa batas dinding kaca dan pendingin ruangan seperti
sekarang ini.
Namun dengan Revy di hadapanku, apalah yang menjadi kurang bagus?
Memandang senyumnya saja seakan mampu memadamkan setiap lampu kota
yang ada di bawah sana. Hiperbolik memang, tapi bukankah begitu
rasanya fall in love? Hah? Jatuh cinta? mimpi kamu...!! "Lucu yah
Ryo, kalau ingat dulu kita sering dikira pacaran", katanya di tengah
obrolan. "Iya.. dan kalau mereka melihat lagi apa yang kita lakukan
sekarang, pasti semua kaget menyangka betapa awetnya kita pacaran,
hahahaha...", sahutku.
Dan kami pun tertawa bersama. Seringkali kami berjalan bersama,
tidak satu kata cinta pun terucap, pun setelah bilangan tahun telah
berlalu. And now what a perfect situation.... Delicious food, good
place, romantic sight, beautiful face, fire in the heart,
unless...... unless one thing............, ring in her hand.
Huh......
Masih sempat kulirik jam yang menempel di dinding ruang tamu Revy
menunjukkan pukul 22.42 WIB saat kami memasuki unit apartemennya.
Sebuah unit apartemen kecil yang asri, dengan 2 kamar tidur dan
teras dengan pemandangan menghampar menuju Jl. Casablanca, jelas
terlihat dari lantai 7 ini. Revy meninggalkanku sendiri di ruang
tamu, saat ia meminta ijin untuk sebentar ke kamar kecil. Hhmm..
penataan ruangan yang bergaya minimalis namun dengan paduan warna
yang terang dan berani mewarnai desain interor ruang tersebut. Iseng
kusibakkan tumpukan CD yang berserakkan di karpet. Chaka Khan, Toto,
Whitney Houston dan ah...Syaharani..., sama seperti kasetnya yang
selalu kudengarkan di mobil saat pulang-pergi kerja. Perlahan
kumainkan dalam stereo set, selembut suara Syaharani melantunkan
"Unforgetable" beberapa saat kemudian.
Kuhempaskan tubuhku di atas sofa, saat tak lama kemudian Revy
bergabung denganku, membawa dua kaleng coke dingin untuk kembali
mengobrol dan bercanda, cekikikan dan tertawa lepas. God damned, I
hate those ring......
Malam semakin larut, ketika kuputuskan untuk berpamitan dan pulang.
Why does it feel so hard everytime I say goodbye, seems like I won't
never see her again ....? Sepatu kiriku baru saja kukenakan, saat
tiba-tiba dari belakangku terdengar suara Revy bertanya, "Ryo, kita
sudah lama berteman, and I think I've already knew all about you,
except one thing", Revy menahan nafasnya sejenak untuk kemudian
melanjutkan, "...and may I know about it now? and please answer the
truth".
"Sure whatever you want to know, just ask me", tanyaku terheran.
Sebenarnya mau nanya apa sih nih anak?
"Ryo, have you ever had some different feelings about me?", tanyanya
tergugup.
"What do you mean with different feelings?", balasku tak kalah
kagetnya.
"Come on Ryo, you know what I mean. Don't make it harder for me,
please....", kata Revy dengan wajah memelas.
"Why should you know?", tanyaku lagi untuk menghindar.
"I just have to know, Ryo. Please answer me...", balasnya sedikit
memaksa. Shit....!! What should I do? Tell her everything I've been
feeling about her? or just lying and tell her everything is right?
Perang batin berkecamuk seketika, membuatku ragu untuk memilih apa
yang akan kukatakan kepadanya. Waktu merambat perlahan, sampai
akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk menceritakan yang
sebenarnya. Pikirku toh dia sudah menemukan cinta sejatinya dan
sebentar lagi akan menikah. Pengakuanku mungkin hanyalah sebuah
intermezzo dalam jejak-jejak hidupnya. Dan lagipula kita sudah
sama-sama dewasa, pasti dapat menerima keadaan seberapa buruk pun.
"Have I fallen with you, is that what you wanna know, Rev?", tanyaku
pada akhirnya. Revy hanya terdiam dan tertunduk sembari memainkan
ujung blazernya dengan kedua tangannya. "Yes Rev, I have fallen with
you. In fact I have been falling in love with you since we're in
school", jawabku mencoba untuk tegas. "Apakah saya pernah jatuh
cinta sama kamu, Rev? Jawabnya pernah, bahkan selalu.... Saya selalu
mencintaimu", lanjutku tidak kuat lagi menahan endapan perasaanku
padanya. Sunyi keadaan setelah itu. Menit demi menit berlalu tanpa
kutahu apa yang harus kulakukan. Marahkah dia padaku? Jika tidak,
mengapa dia terdiam begitu lama? Lalu saya harus bagaimana?
Meninggalkannya begitu saja, atau harus tetap tinggal untuk melihat
reaksinya? Sekonyong-konyong Revy menubruk tubuhku, memelukku erat
sambil menangis. Saya hanya mampu balas memeluknya sambil
mengusap-usap rambut sebahunya yang terurai di pundaknya. What's
wrong honey? "Kamu jahhaaattt......!!", serunya tiba-tiba, masih
sambil menangis dan memukuli dadaku dengan kedua tangannya. "Kenapa
kamu baru mengatakannya sekarang? Tahukah kamu Ryo, betapa setianya
saya menyimpan cinta untukmu selama ini, sampai akhirnya saya
memutuskan untuk memberikannya kepada orang lain?", serunya lagi
sambil sesunggukkan.
Tiba-tiba dunia terasa berputar hebat mana kala saya mendengar
pengakuannya. Revy selama ini mencintaiku? Oh My God..... I've found
someone who understand me best, and I just let it slip away? Sesak
rasanya nafasku demi mendengar semuanya. Those ring....those ring
takes my happiness away... Menit demi menit berlalu kudengarkan
seluruh cerita Revy, mendengarkan bagaimana dia terus mengharapkan
perkataan cinta dari bibirku, bahkan sampai saat dia menuntut ilmu
ke luar negeri dan kami tidak pernah berkabar berita lagi. Sampai
akhirnya dia memutuskan untuk menerima cinta Heru dan belajar untuk
mencintainya, karena cinta Heru adalah kenyataan baginya, sedangkan
cinta saya hanyalah sebuah mimpi. Saya tak tahu harus berkata apa.
Yang saya lakukan hanya berusaha meredakan tangis dan menyekakan air
matanya dengan sapu tanganku. Beberapa saat hingga akhirnya keadaan
Revy cukup tenang, dan kami masih terus saja berpelukan...
I think of you every morning, dream of you every night Darling I'll
never be lonely, whenever you're inside I love you, for sentimental
reasons......
Alunan suara Syaharani lembut melantunkan sebuah tembang lawas "For
Sentimental Reasons", makin menghanyutkan kami berdua dalam sebuah
dekapan erat yang menyejukkan. Tanpa sadar tubuh kami bergerak
perlahan mengikuti alunan lagu. Ya... tanpa sadar kami berdansa,
diiringi lembut musik yang keluar dari stereo set di buffet ruang
tamu. Dari jendela masih terlihat Jakarta yang terang, seakan
sengaja menyisakan kehangatannya untuk kami berdua.
Kami terus tenggelam dalam suatu dansa yang lembut dan romantis,
bahkan setelah musik berhenti dimainkan sekalipun. Kami hanya
bergoyang lembut, mengikuti kata hati semata. Perlahan kukecup
lembut keningnya. Terasa bagaimana ia mempererat dekapannya.
Kudongakkan perlahan dagunya, masih sempat terlihat olehku bagaimana
Revy memejamkan kedua matanya, sebelum akhirnya kucium bibirnya
penuh perasaan.....
Kami berdekapan dan berciuman erat, larut dalam galau emosi dan
kerinduan yang sekian lama tak terkatakan, bahkan dalam bilangan
tahun sekalipun. Segala macam rasa yang pernah kami rasakan, seakan
kami tumpahkan pada sebuah ciuman yang dalam. Lembut kuangkat
tubuhnya hingga kini ku menggendongnya setelah beberapa saat kita
bercumbu, sambil terus berciuman. Perlahan kuberjalan ke sofa dengan
tetap merengkuhnya dalam dekapan.
Tiba-tiba kurasakan ruangan menjadi gelap, tatkala tangan Revy
berhasil menjangkau saklar lampu yang terletak di dekat pintu utama.
Sunyi senyap gelap, hanya desahan nafas kami berdua yang sedang
dihanyutkan cinta. Kini kami terduduk di sofa, dengan Revy dalam
pangkuanku. Kami masih terus saja berciuman, semakin dalam. Perlahan
kutanggalkan dua buah kancing blazernya, untuk kemudian jatuh
terjuntai ke karpet. Revy pun berusaha melepaskan satu per satu
kancing kemejaku, hingga pada akhirnya ia berhasil mendapatkan
kemejaku dalam genggamannya, untuk kemudian dijatuhkannya pula ke
karpet. Kami terus bergumul dalam paduan kerinduan yang tak
terbilang. Tak kuingat jelas bagaimana masing-masing kami kehilangan
kain penutup tubuh satu per satu, sampai akhirnya kami hanya tinggal
mengenakan kain penutup tubuh yang terakhir. Kucumbui dada Revy
penuh kehangatan, ketika kurasakan lembut tangannya menyusup ke
balik celana dalamku, menurunkannya dan menggenggam erat
kejantananku dengan telapak tangannya. Ugh...sungguh suatu sensasi
yang tak terkatakan.
Kuturuni centi demi centi tubuh Revy dengan menyisakan bekas- bekas
pagutan berwarna keunguan pada sekujur tubuhnya. Nafas Revy terus
memburu, dan makin memburu ketika perlahan kusingkapkan celana dalam
bernuansa biru muda, sedikit-demi sedikit menyusuri kedua kakinya
yang jenjang hingga akhirnya terlepas seluruhnya.
Kini keadaan kami tak ubahnya tatkala pertama kali kami dilahirkan,
tanpa selembar benang pun menutupi tubuh kami berdua. Perlahan
kubuka paha Revy dan mengarahkan wajahku ke sana. Bagai tersengat,
nafas Revy tertahan ketika ia mulai merasakan sesuatu yang lembut
membelai organ kewanitaannya. Lembut sekali kumainkan lidahku di
liang kewanitaannya, memberinya suatu sensasi oral yang tak
terkatakan. "Ryo....uuhhh....hhhmmm...", terdengar lembut suara Revy
berbisik, di antara desah nafasnya yang memburu.
Terus kuperlakukan dia dengan penuh kasih sayang. Jilatan lembut
diselingi gigitan kecil dan hisapan perlahan terus mendera organ
kewanitaannya, membawanya makin tinggi terbuai dalam gulungan hasrat
yang perlahan-lahan merambati seluruh aliran darahnya. Menit demi
menit berlalu hingga..... "Ryooo...aahhhh...", serunya tertahan
seraya mencengkeram rambutku. Puncak itu telah datang menderanya,
menenggelamkannya pada jurang kenikmatan hingga dasarnya. Saya hanya
mampu memandanginya saja. Bagaimana indahnya ekspresi Revy terbuai
alunan orgasme yang baru saja hadir menyapanya mampu mengalahkan
segala keindahan yang pernah saya saksikan sebelumnya.
Kubiarkan Revy mengejang detik demi detik puncak yang baru saja
dilaluinya untuk kemudian mulai dapat mengatur nafasnya kembali.
Kurasakan tangan Revy lembut menepis tanganku yang telah menggenggam
latex pengaman. "Don't use it, I wanna feel you inside me
completely....", bisiknya lembut di telingaku seraya menggenggam
kejantananku dan menuntunnya ke dalam liang kewanitaannya.
Hangat dan mendebarkan rasanya tatkala ujung kejantananku menempel
pada bibir vaginanya. Terasa sentuhan lembut tangan Revy pada
pinggulku dan mendorongnya ke depan untuk menghujamkan kejantananku
dalam tubuhnya. Terasa suatu sensasi yang sangat menyesakkan dan
mendebarkan, ketika kunikmati mili demi mili kejantananku menembus
organ kewanitaan Revy. Ekspresi wajahnya yang terlihat sangat
menikmati penetrasi tersebut makin membuatku serasa terbang dibuai
kenikmatan. Hingga pada akhirnya terasa kejantananku terbenam utuh
dalam tubuhnya, seutuh seluruh perasaan cintaku padanya yang selama
ini kusimpan. Sayu matanya memandangku, kukecup lembut keningnya
sebelum akhirnya kami tenggelam ke dalam suatu persetubuhan yang
sangat indah, dimana galau hati dan rasa cinta bercampur aduk
menjadi satu di dalamnya.
Kini Revy terbaring di sofa dan diriku dengan posisi setengah
terduduk terus memompa kejantananku keluar masuk tubuhnya. Kaki
kirinya terkulai di pundakku, saat kaki kanannya terjulur ke karpet.
Kami terus bersetubuh dengan sangat intim, seakan tiada lagi hari
esok bagi kami. "Ryooo......hhhmmm...aahh..", jerit Revy lirih saat
sesekali dirasakannya kejantananku mendesak hebat liang
kewanitaannya.
Waktu terus berpacu, seiring berpacunya hasrat kami menyatukan
seluruh rasa dan raga kami berdua. Makin kurekatkan persetubuhan ini
saat kurasakan Revy mulai mendekati puncak keduanya. Dan...
"Ryoooo.....aarrggghhh..hhhmmppff.", suara Revy sungguh mendebarkan
terdengar. Puncak kedua telah datang merenggutnya kembali dan
menenggelamkannya dalam gulungan nafsu dan kenikmatan yang seperti
tiada berujung. Belum selesai Revy melepaskan seluruh ekspresinya,
dengan cepat kucium bibirnya dalam. Terdengar lirih jeritan-jeritan
kecil sisa orgasmenya saat kami berciuman. Dengan tiba-tiba kutarik
tubuh Revy dan mendudukkannya dalam pangkuanku. Kini wajah kami
berhadapan dekat, dengan Revy dalam pangkuan. Kembali kutikamkan
kejantananku dalam kewanitaannya, seraya meremas buah pinggulnya dan
menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuhku. Kami bersetubuh sambil
berciuman teramat dalam.
Tubuh Revy bergoyang-goyang mengikuti setiap hentakan persetubuhan
kami. Sesekali disibakkan rambutnya yang mulai basah terurai. Ada
suatu momen yang sangat indah setelah sekian waktu berlalu, tatkala
Revy menyibakkan rambutnya dan tetap meletakkan kedua tangannya di
atas kepalanya, seraya terus bergoyang mengikuti alunan
persetubuhan. Bagai sebuah tarian kehidupan yang sangat indah dan
sakral, mengikuti setiap gerak tubuhnya menyetubuhiku.

"Rev, I love you", bisikku lembut di telinganya, diantara
deraan-deraan lembut persetubuhan kami.
"Me too", hanya itu yang mampu diucapkannya sebelum terhentak
kembali merasakan sesaknya kejantananku memenuhi organ
kewanitaannya. Terasa pula olehku bagaimana vaginanya makin erat
menghimpit organ kejantananku.....
"Ryoo....eennngghhhh.....aahhhhh..", teriaknya tertahan ketika
orgasme itu kembali menggulungnya, menyeretnya ke dalam lembah
kenikmatan hingga ke dasarnya.
Kini ia merebahkan kepalanya di pundakku. "Revy sayang kamu...",
ucapnya lirih di telingaku. Saya hanya mampu mengusap lembut
rambutnya. Ah... Revy, andai kamu dapat tahu betapa aku pun
merasakan hal yang sama sepertimu.
Kugendong Revy menuju kamar tidurnya. Dia memelukku erat seakan
tidak akan pernah ia lepaskan. Masih sempat kupadamkan lampu kamar
tidur saat kami mulai memasukinya. Kami terus berciuman, semakin
dalam. Kuturunkan Revy dan membalikkan tubuhnya menghadap ke
jendela. Sempat kudengar jeritan lirih terkejutnya ketika ku
memposisikan dirinya seperti itu. Kini Revy setengah berdiri
membelakangiku, dengan kedua tangannya bertumpu pada meja kerjanya
yang menghadap ke jendela kamar tidurnya yang masih terbuka.
Perlahan kusisipkan kembali kejantananku dalam liang kewanitaannya.
"Ugh....", terdengar lirih bisik Revy saat ia mulai merasakan
tikaman kejantananku menembusnya dari belakang.
Kembali kami bersetubuh, sangat erat. Kuterus menikamkan
kejantananku ke dalam organ kewanitaannya dari belakang, seraya
meremasi kedua buah pinggulnya. Betapa indahnya persetubuhan ini,
suatu sensasi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya ketika
bercinta seraya memandangi lampu-lampu kota yang masih saja
benderang dari jendela tanpa kain penghalang yang terpampang di
depan kami berdua. Kami terus bercinta, mencoba merasakan kehangatan
pendar-pendar lampu jalanan kota Jakarta yang terpampang di depan
kami, seakan-akan terus memancari kami dengan cinta.
Galau hati, luapan emosi, kerinduan dan rasa cinta ditambah city
view metropolitan berpadu dalam dekapan erat sang dewi nafsu,
menghantarkan persetubuhan kami semakin dalam dan dalam. Kami
berciuman, mendesah, mengerang, mendekap, coba merasakan semua
sensasi yang ditawarkan dalam sebuah persetubuhan. Semakin terhimpit
rasanya kejantananku di dalam liang vaginanya, ketika mulai
kurasakan sesuatu bergejolak mendesak keluar dari dalam tubuhku.
"Rev, I'm almost there....", bisikku lembut.
"Yes Ryo, cum inside honey...", balasnya lirih. Makin terasa desakan
orgasme menghimpitku ketika makin kutikamkan kejantananku dalam
liang kewanitaan Revy. Perlahan merambati seluruh urat syarafku....
"Ryo....eenngghhh...", jerit Revy lirih, seakan memberi tanda
kepadaku bahwa ia pun sedang mendekati orgasmenya yang kesekian
kali. Kupacu persetubuhan ini semakin cepat, karena ku tahu tidak
ada gunanya lagi mempertahankan lebih lama, karena tembok
pertahananku akan hancur berantakan dalam hitungan detik.....
"Ryooo.....aahhhh...!!".
"I'm cumming Rev, I'm cummiiinngg...!!."
Kami berteriak hampir berbarengan kala orgasme menyapa kami dalam
waktu yang bersamaan. Kurasakan derasnya cairan kejantananku
menyembur keras, memenuhi liang kewanitaan Revy dengan suatu sensasi
kenikmatan yang tak terbilang. Revy terus menekan pinggulku ke
arahnya, seakan hendak menghabiskan setiap detik orgasme kami di
dalam tubuhnya. Entah berapa lama kami terbuai tinggi, terlenakan
gelombang hasrat yang terpuaskan di dalam suatu gulungan orgasme
yang begitu dahsyat......
Angin pagi Jakarta meniup lembut rambutku yang basah tak beraturan
di teras apartemen, sementara di belakang sana Revy sedang sibuk
mencuci piring. Jujur saja, saat ini saya sedang merasa kacau.
Seharusnya saya bangga dapat membuat seorang Revy jatuh cinta dan
terlena dalam dekapanku. Namun yang terasa kini semata rasa bersalah
menghujam batinku pilu. She is my best friend, and what have I done
to her? Slept with her? and what about her marriage few months
later? Did I think about it? What was I thinking? and what about
Heru? Don't I just screw up their life by sleeping with Revy? Ryo,
you're such a selfish person...!! Suara hatiku terus menyiksaku
dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran dan kepalaku ini.
Revy adalah sahabat saya, dan saya ingin melihatnya hidup bahagia,
dan kini saya hanya memberinya trouble yang sangat berat. Saya hanya
akan mengacaukan pilihan jalan hidupnya dengan hadir di antara dia
dan tunangannya. Dan jika kehadiranku tidak mampu menggoyahkannya,
setidaknya saya telah membuat pernikahan mereka tidak akan sesuci
seperti yang terlihat. Dan Heru, apa yang akan diperbuatnya jika
mengetahui kekasihnya jatuh cinta dan bercinta dengan pria lain?
Haruskah saya bersenang-senang di atas segala resiko kehancuran
orang lain, bahkan yang notabene adalah orang-orang terdekatku? Saya
adalah seorang pria, dan saya tahu persis hancurnya perasaan dan
harga diri seorang pria yang kekasihnya berpaling ke cinta yang
lain. Haruskah saya membuat kaumku yang lain merasakan perih itu?
Perih yang selama ini kadang kurasakan juga saat ingatanku melayang
ke masa-masa yang lalu, at the time when I gave my best love for
someone, but she felt still not worth enough....
Tiba-tiba tangan Revy melingkar di tubuhku. Dia memelukku dari
belakang dengan suatu dekapan erat yang mesra. Terasa lembut wangi
basah rambutnya menempel di pundakku. "Ryo..., I have to talk with
you", bisiknya lirih.
"So please, say it..", balasku sambil membalikkan tubuhku dan
menemukan sesosok wajah yang sangat mendamaikan dan menentramkan
jiwaku, but do I feel sorrow in her eyes? Kami duduk di teras,
menikmati semilir angin pagi Jakarta yang masih belum terkotori debu
polusi, ketika Revy memulai ucapannya, "Ryo, I've been thinking
about us.., dan Revy tidak bisa hidup begini terus". Saya hanya
terdiam sambil menebak-nebak apa yang dimaksud Revy dari perkataan
yang diucapkannya, saat Revy meneruskannya kembali, "Ryo, I have
life now. Yes...we were messed up, but I still have to go on with my
own life", Revy menarik nafas sejenak, "...and Heru is my life for
me now". Saya hanya bisa memandangi mata Revy yang mulai
berkaca-kaca saat kembali ia berkata, "Maybe I don't love him as
much as I love you, but he is real for me, Ryo...... And you seems
just like a dream for me", Revy terdiam sejenak, "...and I can't
live in dreams. Revy butuh hidup yang nyata, Ryo. Revy butuh
kepastian....dan saat ini kepastian untuk Revy adalah Heru. Walaupun
ia tidak seindah kamu, tapi setidaknya Heru-lah yang memberikan
kepastian dan hidup yang nyata buat Revy. Loving you is the greatest
feeling I've ever had, but....." "Ssstttt.....say no more honey, I
know what you think. I understand you surely....", sahutku sambil
menempelkan telunjukku di bibirnya. "Ryo mengerti apa yang kamu
rasakan. Sebagai wanita di usiamu, kamu memang wajar menuntut itu.
Dan pria yang terbaik bagimu adalah Heru, karena ia dapat memberikan
kepastian untukmu. I know I can only give you dreams,....and dreams
seems never be enough for women", sahutku lagi, "Kembalilah pada
Heru, he is where your place belongs to", kataku sambil kudekap erat
Revy penuh sayang.
"Thanks Ryo, kamu baik sekali, but may I ask you anything else",
ujar Revy lirih sambi bersandar di pundakku.
"Sure...anything you want, Rev", balasku cepat dengan terus membelai
rambutnya.
"Will you keep this night as a secret, please...?", Revy mendongak,
menatapku dengan pandangan penuh harap.
"Surely I will, Rev. Surely....", kataku meyakinkannya. "Kamu
sahabat saya Rev, dan saya tidak mau ada sesuatu pun yang
mengacaukan kebahagiaan hidup kamu, apalagi oleh hal-hal yang
disebabkan oleh saya", lanjutku lagi, "I'll do anything to make you
happy Rev, you can depend on me, as always...".
Jalanan kota Jakarta masih lengang, ketika kubelokkan mini jeepku di
dareah TPU Karet menuju kawasan Pejompongan. Pelan kutekan tombol on
radioku yang langsung ter-set pada sebuah radio swasta yang khusus
memutarkan lagu-lagu Indonesia di bilangan frekuensi 89-an FM.
..............
Selamat tidur kekasih gelapku, s'moga cepat kau lupakan aku Kekasih
sejatimu tak kan pernah sanggup untuk melupakanmu Selamat tidur
kasih tak terungkap, s'moga kau lupakan aku cepat Kekasih sejatimu
tak kan pernah sanggup untuk meninggalkanmu
..............
Suara Sheila on 7 dengan Sephia-nya cukup menerbangkan lamunanku
kembali pada Revy. Masih terbayang bening matanya, saat terakhir
kumemandangnya di pintu apartemennya. Ingin rasanya memeluk dan
menciumnya, mengungkapkan semua isi hati ini yang tidak pernah
terungkap sebelumnya. Semua kata cinta di dunia tidak akan pernah
cukup menggambarkan bagaimana inginnya diriku memilikinya. Namun
semua itu tidak saya lakukan. Biar bagaimana pun saya telah berjanji
untuk tidak lagi mengacaukan kehidupan Revy. Kata cinta hanya akan
membuat segalanya menjadi bertambah berat dan rumit bagi kita.
Better not to say it...!!
Revy butuh kepastian..., mengapa hanya kata-katanya itu yang
terngiang selalu di telingaku kini. Terbayang sekelebatan
kisah-kisahku dengan beberapa wanita yang sempat hadir di
jejak-jejak hidupku. Jika hingga kini saya belum menemukan yang saya
cari dari seorang wanita, yaitu kedamaian, mungkin karena selama ini
pula saya belum mampu memberikan apa yang mereka cari, yaitu
kepastian. Diriku masih merenung saat kulewati perempatan
Slipi-Palmerah yang mulai ramai dipenuhi aktivitas manusia, untuk
kemudian meluncur menuju kawasan Tomang. Ah...kepastian........
Something women always want, something I could never give......, not
yet......