Monday, May 7, 2007

TANTE VIVI 01

Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya.
Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun
saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk
menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.
9.15 malam: Aku masih ragu-ragu..., berangkat...,
tidak..., berangkat..., tidak.
9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar
menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.

"Lho..., Ar..., kok kamu belum berangkat, bisa dateng
tidak Ar?..", tanyanya kendengaran agak kecewa.
"Mm..., gimana ya Tante..., agak gerimis nih di
sini...", sahutku beralasan.
"Masa iya Ar..., yaah..., kalo gitu Tante jemput aja
yaa...", balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi
blingsatan dibuatnya.
"Waah..., tidak usah deh Tante..., okelah saya ke sana
sekarang Tante..., mm Selva saya ajak ya Tante...",
sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak
mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku
tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang
malam-malam. Tapi...
"iih..., jangan Ar..., Selva jangan diajak..., mm
pokoknya ke sini aja dulu Ar..., yaa..., Tante
tunggu..., Klik", sekali lagi seolah disengaja Tante
Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia
mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada
waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva
kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer.
Wuueek..., kaya pakar wae..., sekarang baru kena
getahnya.

Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar
agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik
air gerimis malam yang dingin
.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat
Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi
sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum
dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.
Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi
rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia
mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.
"aahh..., akhirnya dateng juga kamu Ar...", katanya
ramah dari balik pintu depan.
"Iya..., Tante...", sahutku berusaha ramah, bagaimanapun
aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam
kehujanan lagi.
"Agak gerimis ya Ar...", tanyanya seolah tak mau tau.
"Hsii...", Tanpa sadar aku terbersin.
"Eehh..., kamu Flu Ar...", tanyanya kemudian.

Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab
terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk
ke dalam dan menutup pintu. "Klik...", sekaligus
menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku
sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak
meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu
tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat
dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.

"Pipimu dingin sekali Ar..., kamu pasti masuk angin
yaa..., Tante bikinin susu jahe anget yaa...", sahutnya
lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat
sekali dengan mukaku. "Duh..., cantiknya". Kulitnya yang
putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit
sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa
celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya
yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan
begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum
kecil melihatku setengah melongo.
"Kamu duduk dulu Ar..., Tante ke belakang dulu...",
sahutnya pelan.

Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan
bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke
belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm
kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat
langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu
kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta
memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan
dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya
seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif
panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup
sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas,
membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk
tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya
yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan.
Begitu gemulai bagai penari Jaipong.

Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa
empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan
tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam
bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di
belakang tempat dudukku. Selebihnya berupa
lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai
kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali.
Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak
sampai mengamati lama-lama.

Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas
besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena
asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan
senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku
jadi ikutan senang.
"Waah..., asiik nih kelihatannya..., wangi lagi
baunya..., mm..", kataku spontan.
"Pelan-pelan Ar..., masih panas...", sahutnya pendek,
sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa
risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.
"Gimana kuliah Selva Ar..., kapan nih rencana mau
majunya...", tanya Tante Vivi kemudian.
"Entah Tante..., setahu saya sih bulan depan ini dia
harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal
maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..", sahutku
polos.
"iih.., kamu ini gimana sih Ar..., pacarnya sendiri kok
tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya...", ujar
Tante Vivi setengah bercanda.
"aah..., Tau aja Tante..., tidak salah...", sahutku
sambil ketawa nyaring.
"Kamu menyukai dia Ar...", tanya Tante Vivi kemudian,
seolah setengah malas menanggapi candaku.
" Waah..., Tante ini gimana sih..., ya jelas dong
Tante..., lagipula sekarang kami sudah sangat serius
menjalin hubungan ini..., saya mencintainya Tante...",
sahutku sedikit serius.

Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih
terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya
yang tak terlalu lebar.
"Tidak Ar..., Tante khan cuman nanya..., soalnya Tante
lihat Selva sayang sekali sama kamu...", ujarnya
kemudian.
"Jangan kuatir deh Tante...", sahutku pelan sambil
mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya
itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di
lidah dan kerongkonganku.
"Komputernya di taruh mana Tante...", tanyaku tanpa
memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk
menghabiskan minumanku.
"Tuh..., di kamar kerja Tante...",sahutnya pendek.
Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi
yang berada di sebelahku.
"Lalu tunggu apalagi nih...", ujarku setengah bercanda.
"Apanya...?", tanya Tante Vivi seakan tak mengerti.
Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.
"Lhoh..., katanya pengen diker..., eeh diajarin...",
lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres,
jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan.
Untung tidak kebablasan ngomomg.
"ooh..., iya.., aduuh Tante sampai kaget..., Yuk ke
kamar Ar...", sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami
berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia
maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang
dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan
pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi
lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada
di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke
sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah
setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.

"Masuk Ar..., sorry ruangannya agak berantakan...",
ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam
ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup
besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi
walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai
persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah
karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa
majalah wanita yang halamannya masih terbuka
disana-sini. Di depannya ada sebuah meja kerja yang
cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah
buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2
kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah
hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang
berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar
Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah...,
ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran
sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari
ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna
merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan
kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur
terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.

"Waduuh..., ini tempat kerja apa kamar Tante...?",
tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini
terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang
berukuran 3x4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi
sebesar ini.
"Dua-duanya Ar..., ya kamar kerja ya..., tempat
tidur..., mm..., Tante khan cuman sendirian di rumah ini
Ar...", sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.
"Sendirian..., maksud Tante?", tanyaku kepadanya tak
mengerti.
"Lhoh..., apa Selva tidak pernah bilang sama kamu...,
Tante khan..., sudah bercerai Ar...", sahutnya kemudian.
Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya
sedikit terpatah-patah.

Astaga..., seruku dalam hati. Pantas, seolah baru
menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi
menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini
Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun..., kenapa aku
tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku
datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat
orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu
kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku
datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku.
Jadii..., hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi
teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang
pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda,
terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya
mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar
merayu. Jangan-jangan..., pikirku mulai ngeres lagi.
"ooh..., maaf Tante saya baru tahu sekarang...", ujarku
lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.
" Udahlah Ar..., itu masa lalu..., tidak usah diungkit
lagi...", ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada
setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang
indah.

Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari
tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di
depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah
berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan
di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak
membantunya.
"Sini Ari bantu Tante...", kataku pendek. Tanpa menoleh
ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah
yang masih tersisa.
"iih sudah Ar..., tidak usah..., kok kamu ikutan
repot...",sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah
cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka
menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku
sempat terpana selama 2 detik.

" Tante tidak menikah lagi...?", tanyaku padanya tanpa
sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku,
jangan-janga ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata
tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.
"Siapa yang mau sama aku Ar...?"
"aah..., Ari kira banyak Tante..."
"Siapaa...?"
"Ari juga mau Tante...", kataku cuek, karena maksudku
memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa
tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke
samping.
"Hik..., hik..., kamu ini ada-ada aja Ar..., jangan
nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki
jaman sekarang...", ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk
diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli
melihatnya melamun sambil memegangi majalah.
"Kenapa Tante... ", tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit
kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum
kecut ia hanya menjawab pendek.
"Sudahlah Ar..., jangan bicara masalah itu...". Akupun
tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa
yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.

Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu
sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung
saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga
aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa
tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan
CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke
output soundcard, sambung ke stavolt..., sudah beres.

"Sudah beres Tante..., mm..., mau sambung ke
internet...?", tanyaku puas. Agak keringetan juga
rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.
"aah masa...?, secepat itu Ar...?", tanya Tante Vivi
yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah
kananku, asyik melihatku bekerja.
"Lha..., iya..., gampang khan...", sahutku pendek.
Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah
tak yakin.
"Makanya dicoba dulu dong Tante..., biar tidak
nanya-nanya lagi..., mana nih stop kontaknya", tanyaku
kemudian.
"iih..., hik..., hik..., gitu aja sewot..., jahat kamu
Ar..., hik..., hik..., ehem..., itu ada di belakang meja
sebelah bawah Ar...", jawabnya sambil setengah tertawa
kecil.
Aku melongok ke bawah meja..., astaga di bawah situ
berarti mestinya aku harus merangkak di situ..., sejenak
aku melongo.
"Kenapa Ar...?"
"Ooh tidak Papa Tante..".

Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk
ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil
tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah.
Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang,
maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan
sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang
kuat di bawah sini. Sedang lampu meja kerja terpaksa
dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke
stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku
langsung membalikkan tubuh dan astaga..., aku terhenyak
kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok
membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku
menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.

Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat
baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis
kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi melorot ke
bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang
sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang
sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak
buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat
melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah
susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang.
Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah
kecoklatan. "Yaa aammpuunn...", bisikku lirih tanpa
sadar, "Ia tidak pake Behaa..."

Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa
yang sedang kupelototi, 5 detik saja..., bagiku itu
sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia
menjerit lirih.
"iih...", serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk,
tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas
leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan
mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu,
akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri
di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah,
akhirnya aku minta maaf juga kepadanya.

"Maaf Tante..., sa..., Ari tidak sengaja...", ujarku
cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya
hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.
"Sudahlah..., Ar...", sahutnya pendek. Dalam hati aku
berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.


Bersambung ke bagian 02