Thursday, May 3, 2007

SELINGKUH 4

Kerepotan sudah dimulai sejak enam bulan yang lalu. Bagaimana aku hendak
memulainya? Terlalu memusingkan untuk dituturkan. Soalnya, dalam satu saat yang
sama ada berbagai macam urusan dikerjakan sekaligus. Dan bagaimana aku
mengatakannya?
Oh ya, maafkan aku. Kali ini aku ingin berbagi tentang hari pernikahanku. Hari
yang sakral bagiku, jadi ingin kubagikan pada kalian, terutama yang mau menikah.
Aku tahu, mungkin terasa membosankan… kalian ingin tahu tentang malam pertama?
Baik, tetapi nanti dulu. Malam pertamaku tidak akan terlalu menarik, jika kalian
tidak tahu bagaimana aku menikah. Ya, aku tahu mungkin di antara kalian sudah
ada yang kawin, tanpa nikah. Tetapi percayalah, menikah itu sendiri adalah
sesuatu yang amat seksi…
Dan aku bicara yang sebenarnya. Dimulainya dari baju pengantin. Baju gaun eropa.
Tetapi aku bukan orang yang suka mengikuti kebiasaan secara persis, Hansen juga
tidak. Sebaliknya, aku suka sesuatu yang menggairahkan…mengejutkan. Dan
untungnya, orang tua kami juga tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Jadi aku
dan Hansen memilih baju pengantin yang lain. Yang istimewa.
Untuk itu, aku dibantu oleh temanku yang pandai menjahit, Rika namanya. Aku
memintanya menjahitkan baju pengantin untukku. Waktu itu Rika sampai
membelalakkan mata, "kamu gila Di? Gue nggak pernah bikin baju gaun pengantin!"
Tapi aku juga tidak butuh gaun pengantin seperti yang biasa, yang besar dan
berat dan panjang merepotkan, dengan banyak payet-payet dan pernak pernik yang
bikin gatal. Tidak, aku lebih suka model Amerika yang simple. Dengan belahan
dada yang rendah, sedemikian rendahnya sehingga puting susuku nyaris tersembul
keluar jika baju itu sampai melorot sedikit. Aku menambahkan aksen dengan
bawahan yang berupa rok mini, benar-benar mini karena hanya sejengkal dari
pangkal paha, lalu ditutup oleh ekor yang tidak begitu panjang, hanya sedikit
menyapu lantai saja.
Hasilnya? Dari depan, seperti gaun biasa saja. Tetapi Hansen yang duduk di
sebelahku dapat melihat pahaku dari bawah sampai ke atas, ke pangkal paha. Dan
kau tahu apa rencanaku yang istimewa? Bisakah kalian terka?
Ini dia: aku tidak mengenakan celana dalam. Sedikit pun tidak. Gaun itu dibuat
dengan karet yang persis menempel di pinggang, dan Hansen bisa menyelipkan
tangannya dari samping dan meremas pantatku, kalau dia mau. Tentu saja waktu aku
mempersiapkan gaun istimewa itu dengan Rika, aku tidak bilang apa-apa pada
Hansen. Aku ingin menjadi kejutan yang menyenangkan, menjadi bingkisan istimewa
yang dapat dibukanya nanti, sebagai istrinya yang sah. Menyenangkan, bukan?
Memikirkannya pun sudah merangsangku…tapi kali ini aku harus menahan diri.
Kami juga memikirkan makanan yang tepat, yang tidak biasa. Kalian tahu ‘kan,
kalau orang menikah biasanya menu makanan yang disajikan tidak banyak berbeda?
Banyak lemak. Mie. Ah, itu membosankan. Jadi aku dan Hansen memilih menu makanan
yang lebih banyak mengandung protein. Yang tidak banyak lemak, lebih banyak
protein, dan beberapa kandungan yang diketahui sebagai penambah tenaga. Madu.
Lebih banyak jahe dan bawang putih. Ada kopi ginseng. Dengan salad aprikot
(betul nggak sih, aprikot termasuk salah satu bahan aphrosidiac?). Aku dan
Hansen tidak bisa menahan ketawa setiap kali kami memilih menu berdasarkan
pengaruhnya untuk meningkatkan stamina dan nafsu seks, termasuk beberapa butir
telur ayam kampung setengah matang yang disajikan khusus di meja pengantin.
Dan nampaknya, orang-orang juga setuju-setuju saja dengan pilihan kami itu,
mereka hanya senyum-senyum simpul. Yang paling semangat malah si Meika, yang tak
henti-hentinya mencari resep penambah stamina seks dan menawarkannya sebagai
hidangan penutup dalam acara resepsi nanti. Aku dan Hansen membayangkan,
bagaimana nanti jika para tamu turut terangsang karena makanan yang mereka
santap? Kasihan yang masih jomblo… Tetapi di luar dari keisengan itu, kami
memilih menu yang lain daripada biasa, dan orang menyukainya. Ini tip untuk
kalian: jangan jadikan hari pernikahan kalian biasa-biasa saja. Kalau memang
harus repot dari beberapa bulan sebelumnya, buatlah sesuatu yang benar-benar
tidak akan dilupakan orang, jadi jerih payah kita tidak sia-sia!
Tapi, aku harus berterus terang pada kalian: sex bukan urusan pertama. Yang
pertama kali dalam menyusun semua ini adalah memastikan bahwa pria ini memang
tepat bagiku, dan aku ini tepat baginya. Aku ingin pernikahanku berlangsung
seumur hidup, jadi aku harus memastikan bahwa aku siap menerima kekurangannya.
Ya, kekurangannya.
Kebanyakan dari kita siap untuk menerima kelebihan orang lain, tapi tidak mau
menerima kekurangan. Salah besar: kalau mau menikah, justru kita harus
bersiap-siap dengan kekurangan. Dan urusannya bukan soal sex, melainkan
soal…duit. Keuangan. Aku tahu, Hansen baru lulus, belum mapan dalam bekerja. Aku
tahu, aku sendiri harus bekerja, dan Hansen juga tahu itu. Ia harus menerima
kenyataan, bahwa istrinya nanti juga menjadi seorang wanita karir. Lalu, kami
bersepakat tentang bagaimana mengelola uang; yang penting adalah kepercayaan dan
kepercayaan dan kepercayaan. Tidak ada pengaturan uang yang betul atau salah,
yang ada adalah saling percaya atau tidak. Orang selalu membuat kesalahan dalam
hal uang, masalahnya apakah dalam kesulitan karena kesalahan, satu sama lain
masih tetap saling percaya?
Lantas, hal berikutnya adalah tentang keluarga. Hansen mempunyai keluarga — yang
untungnya amat akrab denganku. Aku sendiri juga punya keluarga. Kalau kami
menikah, kami akan membentuk keluarga sendiri: Hansen keluar dari keluarganya
dan aku pun keluar dari keluargaku. Kami bersepakat, bahwa keluarga kami adalah
keputusan kami sendiri. Tentu saja kami menerima semua masukan dan saran dari
semua pihak, tetapi keputusan akhirnya ada di tangan kami berdua saja. Sendiri.
Ini memberi cukup kebebasan kepada kami…dan penting untuk hubungan yang serasi.
Termasuk seksualitas juga (buat kamu yang pikirannya ngeres melulu).
Berikutnya adalah tempat tinggal. Dan cita-cita. Dan apa yang kami mau dapatkan:
kapan mau punya anak? Bagaimana kalau nanti punya anak? Kalau soal anak lelaki
atau perempuan sih, kami tidak mengatur; toh memang tidak bisa kami atur!
Setelah semuanya beres, rencana pernikahan menjadi ajang yang benar-benar
menyenangkan. Oh ya, pernahkah kalian terpikir untuk merencanakan juga malam
pertama? Kalian sudah menunggu-nunggu bagian ini yah? Ha ha ha, baiklah…
kira-kira tiga bulan sebelum hari ‘H’, Meika membeli sebuah video kamera.
Rencananya sih untuk merekam anaknya, tetapi kami langsung terpikir pada suatu
ide gila-gilaan. Idenya Meika, tentu saja.
Idenya adalah merekam adegan malam pertama kami dengan kamera video. Oh,
hubungan sex memang menyenangkan untuk ditunggu, tetapi kalau direkam? Hansen
mula-mula tidak setuju. Tetapi, yang mau merekamnya adalah Meika, adiknya
sendiri yang sekarang sudah jadi ibu. Dalam satu dan lain hal, Meika jelas lebih
berpengalaman soal sex daripada kami berdua, dan dia tidak terlalu terganggu
dengan adegan sex. Meika juga pandai membujuk, sampai akhirnya…Hansen setuju.
Aku pun setuju, dengan catatan bahwa semua rekaman ini hanya boleh diedit oleh
Hansen di rumah kami, di simpan secara pribadi. Meika pun tidak boleh punya
copy-nya!
Singkat cerita, Meika setuju dengan rencana itu. Dan demikianlah, baju
pengantinku pun di desain sesuai dengan rencana anehnya Meika, yang membuatnya
menjadi lebih bersemangat lagi mengurusi pernikahan kami. Aku dan Hansen
membiarkannya menikmati persiapan dan perayaan nikah, karena dia sendiri tidak
sempat mengalami pernikahan seperti ini. Biarlah Meika mengalami bagian di dalam
kebahagiaan kami. Toh kami sendiri sama sekali tidak kehilangan kebahagiaan itu;
sebaliknya, rencana Meika membuat kami menunggu-nunggu.
Acara pernikahan kami pun berlangsung dengan cukup lancar dan melelahkan.
Bagaimana tidak? Aku sudah harus bangun sejak jam tiga pagi, lantas ke salon.
Kalian tahu detilnya, bukan? Tapi semuanya menyenangkan. Mengharukan.
Melelahkan.
Acara dimulai dari jam delapan pagi, lalu sampai siang, lantas diteruskan
resepsi di sore hari. Di tengah-tengahnya ada sesi pemotretan di studio. Oh ya,
bagian ini pun kami pakai dengan sebaik-baiknya, apalagi dengan baju pengantin
yang seseksi ini (tidak pernah tukang foto melihat pengantin sepertiku,
nampaknya burungnya pun ikut berdiri). Alhasil, kami bisa mendapatkan beberapa
jepret ekstra yang amat artistik, juga amat erotik. Aku dan Hansen sepakat untuk
memasangnya kelak di ruang tidur. Boleh ‘kan?
Selebihnya, acara resepsi adalah acara yang banyak senda gurau. Betul! Jadi
pengantin jangan tegang, rileks saja. Enjoy enjoy saja. Semakin menyenangkan,
semakin malam, rasanya semakin deg degan. Memang tangan dan kaki agak pegal,
tetapi tubuh rasanya semakin membara menanti semua orang pergi dan kami sampai
ke puncak kami sendiri. Berdua. Bertiga, dengan Meika yang akan merekam
semuanya.
Oh, betapa tidak sabarnya…