Wednesday, May 2, 2007

WALI KELASKU

Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki
seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang
pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi
denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki
SD kelas 1. Setelah istriku meninggal dunia karena
terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya
yang mesti mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur,
kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum
istriku meninggal. Sekarang semuanya kulakukan sendiri
seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak
yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor
sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang
yang berdomisili di Jakarta.

Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena
bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan
untunglah Jerry, anakku satu-satunya tidak pernah
mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua
hasil masakanku tidak bisa dimakan karena kadang-kadang
terlalu asin dan kadang-kadang gosong. Suatu hari Jerry
memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya
karena gurunya ingin bertemu denganku.

Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah
anakku untuk bertemu Ibu Diana dan sewaktu aku bertemu
dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah
perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku
pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca
kegugupanku itu. Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh
ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku
tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia
mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil
dia dengan sebutan Ibu Diana. Didalam percakapan itu,
dia menceritakan mengenai pelajaran Jerry yang agak
tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru
ketahuan dari pengakuan Jerry, bahwa walaupun dia rajin
mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang
pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain
Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah
kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagi.

Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Diana akan
memberikan anakku les privat dan setelah kami sama-sama
sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan
meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah,
aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku
itu.

Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa
1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku
juga harus bersiap-siap untuk menyambutnya. Setelah guru
Jerry datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa
saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat
untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan
mereka berdua. Aku mulai membaca koran Kompas hari itu
dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku
yang sedang mengajari Jerry. Kulihat bahwa Ibu Diana ini
cukup pengertian dalam mengajari anakku yang
kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang
dipelajarinya.

Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa jam privat les
sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku
menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung
hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada
lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar
rumahku. Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW
kesayanganku dan setelah aku bersiap-siap, aku menyuruh
Jerry untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku
akan mengantarkan gurunya pulang. Jerry menuruti ucapan
ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali
bukunya dan mengulang materi yang baru saja
dipelajarinya.

Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Diana untuk masuk dan
kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku
menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak
mempunyai pembantu rumah tangga saat itu. Di tengah
perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan
mengenai perubahan yang dialami Jerry setelah ibunya
meninggal dunia. Nampaknya Ibu Diana serius sekali
mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah
ditinggal oleh istriku.

Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku
melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari
menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung
mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem
mendadak itu, karena Ibu Diana lupa tidak memakai
"Seatbelt", dia langsung jatuh kedalam pelukanku. Dia
nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi
setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti
sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan
aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk
pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air
dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh. Aku
melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan
sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke
motel terdekat untuk menyelesaikan 'bisnis'nya.

Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang
tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi.
Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di
tepi ranjang sementara Ibu Diana dengan kecepatan yang
luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di
dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku
dikagetkan oleh Ibu Diana yang keluar dari dalam toilet
dengan mendadak.

"Bu.. ada apa?" aku mendadak gugup bercampur kepingin
melihat tubuh Ibu Diana yang sangat indah itu. Tapi
tiba-tiba Diana menarikku dan langsung mencium bibirku.
Sepertinya aku mau meledak! Ibu Diana yang tingginya 172
cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat,
keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali.
Diana menuntun tanganku ke dadanya. Disuruhnya aku
meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya
34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan
senyumnya yang menggoda sekali. Aku hanya diam terpaku
melihat caranya melepas pakaian dengan pelan-pelan
dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang
pinggulnya.

Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya
tersembunyi. Dadanya yang montok kencang
menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi,
tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang
kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari
biasanya. Lalu Diana kembali merapatkan tubuhnya ke
arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku,
menjilatinya dan berbisik kepadaku, "Kamu akan merasakan
seperti di surga." Tapi aku masih berusaha menghindar
walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu.
"Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?"
"Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di
sini dan jangan diganggu."
Gile sudah direncanaka!

Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku
biasa memakai kemeja lengan pendek) Diana menjilati
perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan.
Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku. "Wah, ini
akan hebat sekali. Begitu besar, keras. Belum pernah aku
melihat seperti ini di film porno."

Diana mulai mengisap-isap batang kemaluanku (baru-baru
ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku
tidak pernah melakukannya). "Aaarghh.. argh.." aku baru
sekali senikmat itu. "Kamu mulai bergairah kan, Sayang?"
Baru kali itu dia memanggilku sayang. Aku benar-benar
bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati
liang kewanitaannya yang sudah basah itu. "Nnngghhh..
ngghhh.. aaahh... ahhh" Diana mulai mengerang-ngerang.
Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi puting
susunya yang berwarna pink. "Aahhh.. yeahh.. Tak
kusangka kamu agresif sekali." Kumasukkan jariku ke
liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat.
Diana hanya bisa mengerang, mendesah-desah. "Ricky,
cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Diana udah nggak
tahan.. ahhh.. Tapi pelan-pelan, Diana masih perawan."

Waktu itu aku tidak memikirkan dia perawan atau tidak.
Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan
pelan-pelan, sempit sekali. Benar-benar masih perawan,
kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit
batang kejantananku. Sampai akhirnya batang kemaluanku
yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas
semua. "Aaakkhhh..." lagi-lagi teriakannya membuatku
bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya,
sekancang-kencangnya. "Ngghhh.. Rickkk.. gede banget..
aanggghh.. indah sekali rasanya."

Kemudian kami mengganti posisi nungging. "Plok.. plok..
plok.." suara waktu aku sedang menggenjotnya dari
belakang. Dadanya berayun-ayun. Diana kadang meremasnya
sendiri. "Aahhh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahhh.. Diana
udah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!" Tidak lama
kemudian akupun keluar juga.

Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Diana yang lemas tak
berdaya. Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai
lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas
masih memburu terengah-engah, Diana memakai pakaiannya
kembali. "Kamu hebat sekali Rick. Diana puas sekali.
Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan
pertama." Kemudian sebelum keluar kamar Diana kembali
mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium
dia sambil kupegang payudaranya.

Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan untuk
beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa
lama. Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku
sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari
bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku. Setelah itu
aku kemudian berkata kepadanya, "Diana, aku ingin kamu
menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Jerry.." Belum
selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Diana langsung
menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan
tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja
terjadi.

Setelah kami berciuman untuk beberapa menit, Diana
langsung berkata kepadaku, "Ricky, aku juga ingin
memiliki kekasih dan ternyata aku sekarang menemukannya
dan aku ingin menikah denganmu dan kita bisa
bersama-sama mendidik Jerry." Setelah kejadian itu,
Diana sering pergi keluar bersamaku dan Jerry.