Sunday, May 6, 2007

NEW YEAR SEX

Tahun baru adalah suatu hal yang selalu dirayakan oleh
hampir semua kantor, mengundang karyawan, relasi, client
maupun vendor, semua berbaur menjadi satu dalam suasana
yang penuh ceria. Agak berbeda dengan tahun sebelumnya,
kali ini lebih spesial karena suamiku ditunjuk sebagai
ketua panitia, meski segalanya sudah dilaksanakan oleh
panitia lainnya tapi sebagai orang yang paling
bertanggung jawab tentunya tidak bisa tinggal diam,
untuk itu kami putuskan check in di hotel tempat acara,
supaya lebih mudah koordinasi.

Sepanjang siang, sejak check in aku lebih sering
sendirian di kamar ditinggal suamiku yang sIbuk dengan
persiapan- persiapan pesta. Menjelang petang suamiku
baru kembali ke kamar, terlihat wajahnya menunjukkan
kelelahan walaupun dia tidak kerja secara langsung,
hanya mengawasi persiapan. KuhIbur dia dengan memijat
bahu dan kakinya, dengan sedikit sentuhan erotis
kurasakan ketegangannya mencair berganti dengan
ketegangan yang lain.

“Jangan Sayang, kita nggak ada waktu, sebentar lagi
acara dimulai”, suamiku menolak halus.
Agak kecewa juga aku menerima penolakan suamiku, padahal
dia sudah hampir telanjang dan siap untuk melanjutkan
permainan. Kupandangi punggunggnya hingga menghilang di
kamar mandi, terpaksa kutelan saja kekecewaan ini.
“Ntar aja, dia masih capek kali”, pikirku menghIbur
diri.
Kami mandi bersama, di bawah guyuran air shower yang
hangat aku masih berusaha memancing birahinya, tapi tak
berhasil, sepertinya dia terlalu khawatir dengan
persiapan yang ada, meski ini bukan pertama kalinya dia
sebagai ketua panitia acara kantor seperti ini tapi
entahlah kenapa kali ini begitu tegang.

Jarum jam masih menunjukkan pukul 19:00, masih ada waktu
untuk melakukan dengan cepat sebenarnya, karena acara
baru akan dimulai pukul 20:00, berarti paling tidak
masih ada waktu satu jam, akhirnya kuputuskan untuk
“memaksa” suamiku melakukannya.

Kukenakan gaun malam merah panjang yang anggun nan sexy,
belahan kaki hingga paha, punggung yang cukup terbuka
sehingga tidak memungkinkan memakai bra, dada
berpotongan rendah dengan seutas tali yang menggantung
di leher menahan gaunku tetap menempel di tubuhku,
selendang merah hati menutupi punggung dan sebagian
tubuhku, tapi tak menghilangkan kesan sexy dan
anggunnnya penampilanku.

“Pa, masih ada waktu sebentar kan”, tanyaku dengan
langsung berjongkok di depannya dan membuka resliting
celananya.
Sebelum dia sempat bersuara segera kukeluarkan penis
kebanggaannya dan kumasukkan ke mulutku, tak kuhiraukan
make up diwajahku berantakan karena kuluman dan usapan
penis itu ke wajahku. Desahan pelan mulai keluar dari
mulut suamiku, berarti dia sudah mulai “naik”, tangannya
meraih kepalaku dan mengocokkan penisnya di mulutku,
rambutku yang sudah bersisir rapi kembali berantakan.

Tak lama aku melakukan oral seks dia lalu mendudukkanku
di meja, lalu berjongkok di selangkanganku, disingkapnya
gaunku dengan mudahnya, tanpa melepas celana dalam
merahku, dia menjilati vaginaku dari sela sela mini
panty yang memang benar benar mini karena hanya berupa
segitiga yang menutupi daerah depan kemaluanku. Lidahnya
lincah menari nari di klitoris dan selangkanganku,
vaginaku dilumat habis membuatku cepat melayang tinggi.
Aku mendesis nikmat merasakan jilatan suamiku yang penuh
gairah, dia berdiri dan menyapukan kepala penisnya ke
bibir vaginaku, tak langsung memasukkan tapi mengusap
usapkan ke daerah selangkangan dan vaginaku yang sudah
basah siap menerima penetrasi darinya.

Sebelum penisnya memasuki liang vaginaku, kami
dikagetkan dering HP dari suamiku, kutahan dia ketika
akan menerima panggilan itu.
“Jangan sayang, mungkin anak-anak memerlukanku“, bisik
suamiku meminta pengertianku.
“Malam Pak Sis..., oh sudah beres Pak... nggak
masalah...udah kok, malahan kita tambah beberapa meja
dan... oh sudah itu..., oke aku segera turun..., Malam
Pak”, ternyata dari Pak Siswanto, atasan langsung
suamiku.
“Sorry Ma, Pak Sis sudah ada di bawah, dia mau lihat
persiapan terakhir karena dia ada acara di tempat lain,
jadi kesana dulu baru kemudian agak telat dia kembali ke
sini, dia ingin make sure everything is OK”, jelasnya
sambil merapikan kembali celana dan jas hitamnya.
Dikecupnya pipiku lalu meninggalkanku kembali sendirian
di kamar.
“Aku jemput sebentar lagi, be ready immediately”,
perintahnya sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Aku masih duduk termangu di atas meja, kakiku masih
mengangkang terbuka seperti saat suamiku mencumbuku
tadi, dengan sedikit dongkol dan harus menelan
kekecewaan akan birahi yang tak tertuntaskan akhirnya
aku harus menghadapi kenyataan ini.

Dengan masih memendam rasa kecewa aku kembali me-make up
wajahku, seperti biasa aku tak perlu berlama lama
memoles wajahku yang putih, hanya sapuan tipis sudah
menambah kecantikan dan keanggunanku, kurapikan rambutku
yang tadi sempat acak acak-an dan tak lebih dari
setengah jam aku sudah siap untuk ke pesta, kulihat
diriku di cermin, aku mengagumi kecantikan dan
penampilanku malam ini, thank god you give me great
body, dengan tinggiku yang 167 cm ditambah sepatu pesta
berhak 7 cm, bak peragawati, tentu akan menarik
perhatian banyak undangan.

Suamiku datang tak lama kemudian, dengan menggandeng
tangannya, kami memasuki ballroom tempat pesta
berlangsung, beberapa pasang mata mengalihkan perhatian
ke arah kami, deretan meja dan kursi yang melingkar
membentuk susunan ruangan menjadi nyaman, dekorasi yang
meriah menambah indahnya suasana di ballroom itu. Belum
banyak tamu yang datang kecuali para panitia dan
beberapa orang dari pihak hotel yang melakukan setting
atas segala sesuatunya, di atas panggung pemain band
yang sedang melakukan persiapan terakhir, di depan
panggung ada ruangan terbuka yang cukup luas untuk
dance, sepertinya acara ini dipersiapkan secara megah,
dengan dekorasi yang meriah untuk menyambut tahun baru.

Malam merangkak makin larut, satu persatu para tamu
berdatangan, bersama beberapa pasangan panitia lainnya
aku mendampingi suamiku menyambut kedatangan mereka,
ngobrol sejenak lalu beralih ke tamu lainnya seperti
layaknya tuan rumah dalam suatu perjamuan besar.

Kudampingi suamiku memberikan sambutan di atas panggung,
lalu disusul sambutan lainnya yang aku tak tahu satu
persatu, masing masing memberikan kesan kesan selama
bekerja bersama perusahaan ini, ada yang serius ada yang
santai dan ada pula yang penuh humor, semua menyampaikan
sambutan dengan gayanya masing masing.

Kutinggalkan suamiku yang masih asyik mengobrol dari
satu kelompok ke kelompok lainnya, capek juga berdiri
terus, apalagi dengan sepatu hak tinggi seperti ini,
kucari kursi yang masih kosong di tempat agak belakang
sambil menikmati slow musik yang mengalun secara dari
panggung.

“Malam Bu, kok sendirian, Bapak mana?”, aku dikagetkan
sapaan sopan dari Pak Edy, asisten suamiku di kantor,
dia baru 5 bulan bergabung dengan perusahaan ini, jadi
belum banyak yang dia kenal, dia membawa dua minuman dan
diberikannya sebuah padaku.
“Eh Pak Edy, terimakasih, tuh Bapak lagi ngobrol di
dekat jendela sana”, jawabku menunjuk sekelompok orang
yang ngobrol sambil tertawa riang.
Kami lalu mengobrol, tak kusangka ternyata di usia yang
sudah 35 tahun dia masih membujang, belum ketemu yang
cocok, katanya.
“Wanita ideal saya adalah yang cantik itu pasti, lalu
tinggi, putih, sexy dan anggun, ya kira kira seperti Ibu
inilah”, katanya tanpa ada nada nakal di balik
pernyataannya, entah memuji atau merayu atau memang
berkata jujur, bagaimanapun telah membuatku bangga.

Diiringi dentuman musik indah, beberapa pasangan mulai
dance, dia mengajakku dance, sesaat aku agak ragu
menerimanya tapi ketika kulihat sepintas suamiku sudah
melantai dengan seorang wanita entah siapa aku tak tahu
jelas, rasanya tak sopan kalau aku menolaknya. Slow
musik mengalun indah, lagu berganti lagu sudah berlalu,
aku sudah berganti pasangan dengan orang lain yang
sebagian tak kukenal, sudah menjadi kebiasaan tiap akhir
tahun dalam pesta seperti ini, lima lagu berlalu, aku
kembali ke meja Pak Edy, tiba tiba kurasakan ruangan
seolah berputar, kepalaku pusing, pandanganku mulai
kabur, secara refleks kuraih tangan Pak Edy sebagai
pegangan.

“Eh kenapa tiba tiba kepalaku pusing begini?”, tanyaku.
“Mungkin kecapekan Bu, habis Ibu dance semangat banget”.
“Tolong panggilkan Bapak, biar aku istirahat dulu di
kamar”, pintaku.
Sepintas aku masih bisa melihat suamiku sedang
berbincang di meja depan di kelompok para direksi. Pak
Edy meninggalkanku sendirian, mataku terasa berat, ingin
rasanya kurebahkan tubuhku segera, untunglah dia segera
datang, kukira suamiku tapi ternyata Pak Edy.

“Maaf Bu, Bapak sedang serius dengan para direksi itu,
dia nggak bisa meninggalkannya, malah memintaku untuk
mengantar Ibu ke kamar, sebentar lagi beliau menyusul”,
katanya sambil menuntunku ke kamar.
Antara ingat dan tidak, aku masih bisa merasakan dia
merangkul dan menuntunku, sepertinya tanpa sadar aku
berjalan menuju kamar, kudekap erat tangannya. Aku sudah
tak bisa menahan mata dan kepalaku lebih lama lagi,
kusandarkan kepalaku di tubuh Pak Edy, asisten suamiku,
jalan terasa panjang dan lift berjalan begitu perlahan.

Kuberikan kunci kamar ke Pak Edy, dia membuka pintu dan
menuntunku ke ranjang, aku masih ingat ketika dia
meletakkan tas dan selendangku di meja, membuka cover
bed yang masih tertutup lalu merebahkan tubuhku perlahan
lahan di ranjang, dilepasnya sepatuku lalu memijat
kepala dan kakiku, kurasakan nikmat pijatannya, aku
begitu lemah dan begitu tak berdaya.

“Ibu minum ini dulu, lalu istirahat, kebetulan aku tadi
bawa Panadol dari rumah”, katanya sambil mengangsurkan
pil dan segelas air putih.
Tanpa banyak tanya lagi aku minum, lalu kupejamkan
mataku yang semakin berat. Tak kuperhatikan lagi Pak Edy
yang masih di kamar menungguiku, tentu dia bisa
menikmati pemandangan tubuhku dengan sepuasnya, akupun
terlelap dalam kantuk yang hebat.

Belum sepenuhnya aku tertidur ketika kurasakan tubuhku
seperti digerayangi, naluri wanitaku bangkit, dengan
berat kubuka mataku, samar samar kulihat wajah Pak Edy
dekat wajahku, berulang kali dia menciumi pipiku, lalu
melumat bibirku, entah sudah berapa lama dan berapa jauh
dia menggerayangiku. Terbersit kesadaran di diriku, aku
meronta berontak marah melihat kekurangajaran ini, tapi
aku tidak punya tenaga untuk melawannya tanpa daya aku
harus menerima cumbuannya, dalam keadaan normal saja
sudah kalah tenaga apalagi kondisiku dalam keadaan
kurang fit. Semakin aku meronta semakin kuat pula dia
memegangi tanganku.

“Pak jangan.., please hentikan, ingat Pak aku ini istri
Pak Hendra, atasanmu”, aku menghiba tak berdaya di bawah
kekuasaannya.
“Sssttt.., diam.., aku tahu itu.., aku juga tahu apa
yang kamu lakukan kalau suamimu keluar kota.., jadi
jangan sok suci.., nikmati saja”, katanya perlahan
dengan tekanan kata demi kata yang seolah
menelanjangiku.
Aku memang bukanlah istri yang setia, aku sering
selingkuh di kala suamiku tak ada, tapi itu kulakukan
dengan dasar suka sama suka dan bukan dengann pemaksaan
seperti ini, ini pemerkosaan namanya.
“Please Pak Edy, suamiku sebentar lagi datang
mencariku”, meski masih lemah aku berusaha membujuknya.
“Jangan khawatir, dia pikir kamu masih ada di ruangan
pesta dan lagian dia tidak tahu kamu ada dimana karena
memang ini bukan kamarmu, tapi kamarku, jadi nggak usah
berpikir yang macam macam”, ada nada ancaman di
suaranya.

Bibir Pak Edy menyusuri leher jenjangku, dijilatinya
telingaku, aku merasa jijik tapi apa dayaku karena
memang tidak berdaya. Mataku masih begitu berat dan
tenagaku begitu lemah, aku benci akan ketidakberdayaan
ini. Aku hanya diam mematung saja menerima penghinaan
ini, mataku masih terasa berat untuk dibuka, tapi
anehnya kurasakan tubuhku mulai panas menggelora,
kubiarkan tangannya menjelajahi sekujur tubuhku dan
meremas remas buah dadaku yang masih tertutup gaun merah
sutera tanpa bra, aku hanya dapat menggigit bibir dengan
mata tertutup menerima perlakuannya.

“Masih kenyal dan padat seperti anak gadis saja”,
komentarnya ketika merasakan buah dadaku.
Bibir Pak Edy menyusuri bahu dan berhenti di dadaku,
dengan mudahnya dia melepas tali di belakang leherku,
kini dadaku terbuka lebar menantang.
“Very beautiful breast”, katanya.
Ia memandanginya sebentar, menciumi lalu mengulumnya,
lidahnya dengan liar menari-nari di putingku.

Rasa jijik yang sedari tadi menyelimutiku perlahan
berubah menjadi kenikmatan, tubuhku terasa semakin panas
menggelora, kuluman dan jilatan di putingku membuatku
mulai ikut bergairah, mataku masih terasa berat untuk
dibuka tapi gairah yang timbul tak dapat kubendung lagi,
sehingga tanpa kusadari aku mulai mendesis nikmat dalam
pelukan dan kuluman asisten suamiku. Kombinasi remasan,
jilatan dan kulumannya membuatku semakin suka tanpa
kusadari.

Entah kenapa, semakin liar dia menggerayangiku semakin
nikmat pula rasanya, rasa marahku pun mulai berubah
menjadi kenikmatan tersendiri, bahkan ketika tangannya
mulai mengusap daerah vaginaku, tanpa bisa kutahan lagi
aku ikut menggoyangkan pinggulku, menikmati usapan dan
permainan jarinya di selangkanganku. Aku masih
memejamkan mata meski mulutku mulai mendesis dan
pinggulku mulai bergoyang, sungguh di luar kemauanku,
bahkan ketika Pak Edy kembali melumat bibirku akupun
membalas lumatannya, saling mengulum.

Sungguh memalukan ketika tanganku mulai membelai dan
meremas rambutnya, bahkan aku menjerit nikmat saat lidah
Pak Edy menyentuh klitorisku dan kuangkat pantatku
ketika dia melepas mini panty-ku, aku yakin dia
menikmati “keindahan” vaginaku yang selalu kupelihara
rambutnya dengan rapi membentuk sebaris garis tegak. Aku
tak tahu kenapa begitu “horny”, apakah karena foreplay
tadi sore yang tidak berkelanjutan ataukah ada sebab
lain, tapi aku tak sempat berpikir lebih jauh lagi
karena jilatan Pak Edy begitu nikmat di vaginaku.
Kuangkat pinggulku dan kubuka kakiku lebih lebar,
permainan lidahnya makin liar dan makin nikmat apalagi
ketika kurasakan jarinya ikut mengocok vaginaku hingga
membuatku semakin membumbung tinggi.

Jantungku berdetak semakin kencang saat kurasakan penis
Pak Edy menyapu bibir vaginaku, seharusnya aku menjerit
marah tapi tanpa bisa kutahan lagi justru kubuka kakiku
lebar-lebar, entah mengapa, malahan aku ingin membuka
mataku melihat ekspresi kemenangan darinya yang telah
berhasil menikmati tubuhku, tapi tetap saja terasa
berat, kelopak mataku seakan lengket, aku menahan napas
saat kejantanannya menembus liang sempit vaginaku,
kurasakan nikmat yang berbeda.

Dia mulai mengocok vaginaku, pelan pelan kejantanannya
keluar masuk, kugigit bibirku untuk menahan desah
kenikmatanku, tapi tetap tidak berhasil, aku mendesah
makin keras, mereguk kenikmatan yang diberikan Pak Edy.
Tubuhnya ditelungkupkan di atasku, tanpa dapat kucegah
lagi tanganku memeluknya, dan baru kusadari kalau
ternyata dia masih berpakaian, ketika tanganku meraba
pantatnya yang turun naik mengocokku, ternyata dia tidak
melepas celananya, sungguh kurang ajar dia, pikirku.

Kocokannya makin cepat menghunjam vaginaku, di tengah
asyiknya mengarungi lautan kenikmatan, tiba tiba
kurasakan denyutan hebat dari penisnya dan cairan hangat
membasahi liang vaginaku, dia menjerit nikmat dalam
orgasme hingga secara refleks aku ikut menjerit karena
terkejut. Agak kecewa juga mendapati dia begitu cepat
mencapai orgasme, padahal aku menginginkannya lebih lama
lagi, dengan kasar dia langsung mencabut kejantanannya
dari vaginaku, sesaat kemudian kudengar bunyi resliting
ditutup, dia turun dari ranjang dan tak lama kemudian
kudengar dia keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah
katapun.

Aku merasa terhina dengan perlakuannya itu, tapi apa mau
dikata, tubuhku masih lemas meskipun gairahku masih
menggelora. Aku berharap suamiku datang mengisi
kekosonganku ini, tapi mana mungkin, dia tidak tahu aku
dimana, kupaksakan kubuka mataku, tapi pandanganku masih
samar dan kabur. Dengan masih tergolek tak berdaya,
akhirnya kuputuskan untuk istirahat dulu sambil dengan
tak sadar tanganku memainkan klitorisku hingga aku
tertidur tanpa ada penyelesaian.

Belum sempat aku tertidur pulas, kurasakan sesuatu
kembali menindih tubuhku, kupaksakan untuk membuka mata,
meski samar aku masih bisa mengenali wajah itu, yang
jelas bukan Pak Edy apalagi suamiku, meski tubuhku masih
tidak bertenaga tapi ingatanku masih bisa bekerja meski
tidak sebaik biasanya, wajah itu tak asing lagi bagiku,
dia adalah salah seorang rekan suamiku di kantor, aku
tak tahu namanya tapi dia salah seorang manager di
bagian keuangan.

Tentu saja aku ingin berontak tapi tenagaku hilang sama
sekali, apalagi dalam tindihan tubuh yang besar, sungguh
aku tiada berdaya, bahkan berucap pun lidah terasa
berat, hanya bibirku yang bergerak tanpa suara, kecuali
hanya desisan. Dengan liarnya dia menciumi pipi dan
leherku, sesekali dilumatnya bibirku, anehnya bukannya
perasaan muak tapi justru perasaan nikmat yang
kurasakan, semakin dia meraba tubuhku semakin nikmat
rasanya, aku seperti cacing kepanasan, tak ayal lagi
akupun mulai mendesis tanpa bisa kukontrol lagi
desisanku, bahkan kubalas lumatan di bibirku, aku tak
tahu apa yang terjadi dengan diriku, sungguh memalukan.

Nikmatnya makin tinggi rasanya ketika dia mengulum
putingku, menjilatinya dengan liar, tanpa malu akupun
mendesis dalam birahi, kuremas rambutnya. Dia berusaha
melepas gaunku yang sudah tidak karuan menempel di
tubuhku, bukannya marah tapi aku malah mempermudahnya.
Kini tubuhku telah telanjang di hadapannya, hilang sudah
keanggunan yang kupertontonkan di ruangan pesta tadi,
aku tergolek tak berdaya di hadapannya, bahkan kakiku
kubuka lebar sambil berharap dia segera melakukannya.

Kurasakan usapan kepala penisnya di vaginaku, dengan
sekali dorongan keras meluncurlah penis yang terbungkus
kondom itu mengisi liang vaginaku, aku terhenyak kaget
akan kekasarannya, tubuhku menggeliat nikmat, cairan
sperma Pak Edy yang masih tertinggal di vaginaku
memudahkan penisnya sliding dengan cepatnya, kasar dan
liar kocokannya sambil tangannya meremas-remas kedua
buah dadaku, pinggulku ikut bergoyang mengimbangi irama
permainannya, desahan nikmat keluar dari mulutku tanpa
bisa kutahan lagi. Mataku tetap terpejam selama dia
menyetubuhiku, rasanya masih begitu berat untuk dibuka.

Aku hanya bisa mendesah dalam kenikmatan, dia mengangkat
kaki kananku dan ditumpangkan ke pundaknya, penisnya
makin dalam mengisi liang vaginaku, desahanku semakin
lepas tanpa bisa kutahan. Cengkeraman di buah dadaku
makin kuat dan tak lama kemudian kurasakan denyutan kuat
dari spermanya diiringi teriakan orgasme, aku pasrah
menikmatinya, padahal tanpa sadar aku masih menginginkan
lebih dari itu. Tanpa sepatah katapun dia langsung
mencabut keluar penisnya dan turun dari ranjang, kembali
aku harus menerima perlakuan yang cukup menghinakan ini.

Tapi semenit kemudian kurasakan dia naik ranjang lagi,
diusapnya buah dadaku sambil meremas-remas gemas lalu
dijilatinya kedua putingku sebelum akhirnya dia
mengulumnya, aku kembali mendesis nikmat. Tanpa menunggu
lebih lama lagi, dia memasukkan penisnya tanpa kondom ke
vaginaku, aku kaget karena penisnya begitu keras padahal
dia baru saja orgasme, sungguh luar biasa, pikirku.

Pelan pelan dia mulai mengocok, terasa nikmat,
sepertinya penisnya lebih besar daripada sebelumnya,
kali ini lebih nikmat apalagi dengan kocokan yang penuh
perasaan, tidak kasar seperti tadi. Aku makin menikmati
irama permainannya yang slow but sure, membawa birahiku
dengan cepat terbang tinggi, desahan demi desahan keluar
dari bibirku, kubalas kuluman bibirnya, terasa lembut
dan menggairahkan. Dia memegangi kakiku dan membukanya
lebar, dikulumnya jari jari kakiku, aku menggeliat geli
dan nikmat, mendesah tanpa kendali, sungguh nikmat,
kocokannya makin cepat meski dengan irama tetap. Tiba
tiba dia mengocokku cepat sekali lalu dengan cepatnya
menarik keluar, kurasakan cairan hangat menyirami
perutku diiringi teriakannya, dia kembali mengeluarkan
sperma di atasku. Seperti sebelumnya, dengan tanpa suara
dia turun dari ranjang, dan kembali aku dibuat heran
ketika dia kembali naik ke ranjang tak lama kemudian,
what the hell is this?

Ia mengusap seluruh tubuhku dengan selimut atau handuk,
aku tak tahu, lalu langsung menindihku, melumat bibirku
dengan rakus, sepertinya tubuhnya lebih berat daripada
sebelumnya hingga sesak napas aku dibuatnya. Dengan
masih belum juga melepas pakaiannya, padahal aku sudah
bermandikan keringat. Lidahnya menyusuri leherku dan
berhenti di kedua puncak bukit di dada, aku mendesis
nikmat untuk kesekian kalinya, dengan tanpa malu aku
mendesah dan menggeliat mengungkapkan ekspresi
kenikmatan yang kudapat.
“Biarlah, toh dia sudah menikmati tubuhku”, pikirku.
Maka akupun semakin lepas merintih kenikmatan. Penisnya
langsung melesak ke dalam vaginaku. Lebih kecil kali
ini, hanya beberapa kali kocokan dia sudah menyemburkan
spermanya di vaginaku, terasa hangat membanjir,
didiamkannya beberapa saat tanpa gerakan hingga keluar
dengan sendirinya. Dia turun dari ranjang lalu naik lagi
dan langsung memasukkan penisnya.

Aku terkejut, begitu cepat penisnya membesar, kini
terasa sesak di vaginaku, suatu perbedaan yang sangat
cepat. Penasaran aku dibuatnya, kucoba untuk membuka
mataku tapi kelopak mataku masih sangat berat seakan
menutup rapat, penis besar itu sliding keluar masuk, ada
rasa nyeri dan nikmat bercampur menjadi satu, kocokannya
makin lama makin nikmat membawaku ke puncak kenikmatan.
Tak dapat dihindari lagi akupun orgasme dalam
pelukannya, tubuhku menegang seakan menumpahkan segala
hasrat nan membara sedari tadi, tak lama diapun
mengikutiku ke puncak kenikmatan.

Denyutannya begitu hebat melanda dinding-dinding
vaginaku, dicabutnya keluar untuk menumpahkan tampungan
spermanya di kondom ke dada dan perutku, aku hanya bisa
diam pasrah tanpa protes mendapat perlakuan seperti ini,
dia turun dari ranjang dan kali ini tidak naik lagi.
Napasku turun naik mendapatkan percumbuan yang baru
terjadi, rasa kantuk hebat melandaku di kesendirian ini,
entah apa yang dilakukannya di kamar ini, aku tak
peduli, aku hanya ingin tidur sejenak sebelum bergabung
kembali dengan suamiku.

Aku masih sempat melayani nafsunya beberapa kali lagi
sebelum akhirnya dia benar benar membiarkanku sendiri
terlelap dalam tidurku.
“Nggak usah khawatir, obatnya bisa bertahan sampai pagi
kalau tidak diberikan obat anti-nya”, sayup-sayup masih
kudengar orang berkata entah pada siapa dan apa
maksudnya, tapi aku keburu benar-benar terlelap.
Aku terbangun ketika kurasakan percikan air di mukaku,
kubuka mataku yang sudah tidak seberat tadi meski masih
juga terasa berat. Pak Edy duduk di sampingku dengan
senyumannya yang menawan seakan tak pernah terjadi
apapun. Dia menutupi tubuh telanjangku dengan handuk.
“Minumlah ini biar segar”, dia memberiku secangkir teh
hangat yang aromanya keras menusuk. Benar saja badanku
terasa lebih segar setelah minum, rasa hangat menjalar
ke sekujur tubuhku.
“Sana bersihkan tubuhmu, lalu kita turun”, katanya
sopan, meski tanpa sebutan Ibu lagi, sungguh berbeda
dari sebelumnya.

Kubersihkan tubuhku dari sisa-sisa sperma, kusiram
dengan air hangat hingga badanku terasa fresh lagi.
Dengan hanya berbalut handuk aku keluar kamar mandi. Tak
kusangka ternyata Pak Edy sudah menungguku di ranjang
dalam keadaan telanjang, aku berdiri bengong mematung
melihatnya.
“Tapi...”, aku berusaha mengelak karena vaginaku masih
terasa panas. Entah berapa kali aku tadi disetubuhinya.
“Aku ingin melakukannya dengan suasana yang lain, lagian
kita masih punya waktu setengah jam lebih sebelum tengah
malam”, katanya sambil menepuk nepuk bantal di
sebelahnya.

Akhirnya “terpaksa” aku menuruti keinginan asisten
suamiku itu untuk melampiaskan nafsu birahinya pada
istri atasannya. Kami bercinta dengan penuh nafsu
seperti sepasang kekasih yang dimabuk birahi, tak
kusangka dia seorang pemain cinta yang hebat. Kami
bercinta dengan berbagai posisi, hampir kewalahan aku
melayaninya, nafsunya sungguh besar dan pintar mengatur
ritme permainan, dia begitu mengerti liku-liku daerah
erotis wanita, aku benar-benar merasa puas dibuatnya.

Kami orgasme bersamaan, dia membanjiri vaginaku tepat
ketika kembang api meletus di udara menandai pergantian
tahun.
“Happy New Year”, ucapnya sambil mengecup kening dan
bibirku.
Kami masih telanjang dan saling berpelukan, kubalas
dengan mesra kecupan di bibirnya.
“Ayo, kita harus segera bergabung dengan mereka sebelum
suamiku sadar akan ketidak hadiranku”, kataku
mendorongnya turun dari tubuhku.
Segera kukenakan kembali gaun merahku, tak kutemukan
mini panty yang tadi kukenakan, akhirnya kuputuskan
untuk segera berlalu tanpa panty ke pesta. Kurapikan
pakaian, make up dan rambutku untuk bersiap turun. Tiba
tiba Pak Edy memelukku dari belakang.
“Let’s do it again quickly”, bisiknya.

Aku ingin menolaknya tapi aku juga ingin menikmatinya
sekali lagi. Dia mendudukkanku di meja, disingkapkannya
gaunku hingga ke perut, vaginaku terbuka menantang,
dengan hanya membuka resliting celananya dia melesakkan
kembali penisnya ke vaginaku, mengocok dengan cepatnya
sambil meremas buah dadaku, aku mendesis seperti yang
kulakukan sebelumnya, dan kamipun kembali orgasme
bersama. Dia menciumku mesra. Kembali kurapikan
penampilanku sebelum kami keluar kamar sendiri-sendiri,
untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Entah sudah
berapa lama aku berada di kamar itu.

Suasana ballroom sudah sangat berbeda dari waktu
kutinggal tadi. Susunan kursi sudah berubah semua, hal
itu biasa terjadi saat pesta berlangsung. Kucari-cari
suamiku tapi tidak kutemukan. Beberapa pasang mata
melihatku dengan pandangan yang menelanjangiku, tapi aku
tetap percaya diri dengan penampilanku, meski tanpa
underwear. Akhirnya kutemukan suamiku di pojok ruangan,
mengenakan topi kerucut tahun baru dan memegang
terompet, dia terlihat begitu bahagia.

“Selamat Tahun Baru, Sayang”, ucapnya sambil mengecup
bibirku yang kubalas dengan kecupan mesra.
Sepertinya dia masih tidak sadar kalau aku sempat
menghilang. Kulihat Pak Edy menghampiri kami dan
mengucapkan hal yang sama, seakan tak pernah terjadi
apapun di antara kami. Akhirnya the party is over, para
panitia berbaris di depan pintu menerima ucapan selamat
dari para undangan, sekalian berpamitan pulang. Kulihat
wajah-wajah yang kukenal, tapi lebih banyak tidak
kukenal, di antaranya adalah orang yang tadi
menyetubuhiku “berulang-ulang”.

“You have wonderful wife”, katanya pada suamiku.
“Thanks Pak Kris”, jawab suamiku sambil memelukku tanpa
tahu apa maksudnya.
“Selamat Tahun Baru Pak Hendra, Anda beruntung punya
istri seperti dia”, ucap orang lain lagi yang tidak
kukenal.
”Sama sama, terima kasih Pak Dwi“, jawab suamiku bangga.
“Happy New Year, istri anda sungguh luar biasa, thank
telah memberiku kesempatan” orang asing lagi yang
memujiku, padahal aku merasa pernah bertemu dengannya.
“Sama-sama, anda bisa saja”, balas suamiku.
“Rupanya kamu punya banyak penggemar”, bisik suamiku
sambil menyalami tamu lainnya yang berpamitan pulang.
“Habis Papa ninggalin aku, jadi kuterima saja ajakan
dance setiap orang, Papa nggak marah kan”, jawabku
berbohong sambil mencubit lengannya.
“Nggak apa, asal kamu menikmatinya”, jawab suamiku
polos.

Akhirnya kami kembali ke kamar pukul 1:30 dini hari,
dengan menyesal aku menolak keinginan suamiku untuk
melanjutkan foreplay tadi sore karena vaginaku masih
terasa memar dan nyeri, dan kamipun tertidur dengan
kenangan melepas tahun pergantian tahun yang berbeda.

Belakangan aku diberi tahu Pak Edy kalau yang
menyetubuhiku “berulang-ulang” itu sebenarnya bukanlah
satu orang, tapi beberapa orang, paling tidak 3 orang
rekan seclub golf, yang lain dia tidak mengenalnya. Dia
tidak mau menyebutkan jumlah pastinya, apalagi nama-nama
orangnya. Ini membuatku penasaran sampai sekarang.
Sungguh kelewatan kalau aku tidak tahu orang yang telah
menikmati tubuhku. Jangankan namanya, wajahnya saja aku
tidak tahu kecuali Pak Edy dan yang disebut suamiku Pak
Kris tadi. Dia tidak pernah membenarkan atau membantah
kecurigaanku bahwa obat yang dia sebut Panadol itu
sebenarnya adalah obat perangsang.