Thursday, May 3, 2007

GIGOLOKU

Wanita normal mana pun di dunia pasti tidak akan terima
bila mengetahui suaminya berselingkuh. Demikian juga
aku. Setelah mengetahui, suamiku yang pejabat di salah
satu instansi pemerintah itu ‘tidur’ dengan sekrertaris
pribadinya, sudah tak ada minat lagi bagiku untuk
mencari pasangan lain. Kerjaku kini hanyalah mencari
kesenangan dengan cara yang sangat tidak masuk akal.
Siapa pun karyawanku yang kuanggap kompeten, aku akan
membawanya ke atas ranjang.

Tak perlulah kuceritakan bagaimana latar belakangku.
Namun perlu diketahui, aku adalah janda muda kaya raya
yang memiliki harta warisan keluarga yang berlimpah.
Belum lagi, perusahaan alat berat yang kini aku kelola
adalah peninggalan suamiku setelah dia menikah lagi
dengan sekretaris pribadinya. Yang paling penting kini
hanyalah, aku ingin bercerita tentang sepak terjangku
sebagai seorang penikmat pria-pria muda yang ‘nota bene’
adalah karyawanku sendiri. Bila ada yang ingin mencerca,
mungkin aku memang pantas menerimanya.
Dari lima karyawan pria yang pernah mampir di atas tubuh
mulusku, salah satunya adalah Yonda. Pria ini sebenarnya
sudah termasuk pria dewasa, yakni berusia 27 tahun. Akan
tetapi, karena aku sudah berusia 36 tahun, aku tetap
menganggapnya sebagai gigolo yang memang pantas dan
pandai memuaskan tubuh mudaku di atas ranjang. Terlebih,
dia begitu materialistis dan selalu menuntut lebih,
walau Baleno mulus sudah ada di genggamannya.
Yonda sebenarnya tidak terlalu tampan. Karena walau
tubuhnya atletis dengan tinggi dan berat badan seimbang,
wajahnya biasa saja. Bahkan kalau diberi nilai, Yonda
hanya mendapat nilai enam, dibanding pria-pria muda lain
yang pernah kutelanjangi. Namun, pelayanannya dan
jilatan-jilatan liarnya di sekujur tubuhku bagai magnet
yang tak mampu kulepaskan. Sayangnya, walau dia mengemis
ingin kunikahi, hatiku tetap tak bergeming. Aku hanya
membutuhkan layanan liarnya.
Satu pengalaman bercinta yang tak pernah bisa kulupa
dengan Yonda adalah ketika dia tiba-tiba masuk ke ruang
kerjaku ketika karyawanku yang lain sibuk bekerja.
Seingatku, saat itu pukul 14.30 Wib, usai makan siang.
“Aku ingin bercinta,” bisiknya di telingaku setelah
sebelumnya mengunci pintu kamar kerjaku. Mendengar apa
yang dia katakan, tentu saja aku agak marah. Akan
tetapi, seperti tak peduli dengan kemarahanku, dia
lantas membalikan kursi kerjaku hingga menghadap
padanya.
Serta merta dia menyambar bibirku dan melumatnya dengan
penuh nafsu. Aku yang tadinya ingin mendorong tubuhnya,
jadi lemas tak berdaya. Di antara nafasku yang
megap-megap, tangan Yonda bergerilya bagai cacing
kepanasan. Dengan terampil dia melepaskan blouse-ku dan
mulai menyambar ke segala arah. Sampai akhirnya dia
menemukan bukit kembarku yang masih kenyal. “Yonda
sayang,” aku berbisik karena mulai dipermainkan birahi.
Yonda mendesah sambil terus melucuti seluruh pakaianku
hingga yang tersisa hanya pakaian dalam. Perlu
diketahui, aku memang gemar memakai G-string karena
lebih nyaman dan tidak meninggalkan bekas di balik rok
ketatku. “Aku sudah bilang berkali-kali, menikahlah
denganku. Tapi kau tidak mau peduli. Kau hanya sibuk
memikirkan uang dan uang,” cerca Yonda di balik
kesibukannya mempermainkan birahiku yang mulai memuncak.
Selanjutnya mungkin aku tidak perlu bercerita. Karena
setelah Yonda mulai tidak tahan, dia tanpa sungkan
menyingkirkan semua berkas yang ada di mejaku dan
menidurkan tubuh telanjangku di atas meja. Di antara
sejuknya udara pendingin ruangan, kembali, untuk
kesekian kalinya aku merasakan kenikmatan bercinta
dengan Yonda. Aku mengatakan bercinta, karena aku
melakukannya dengan sukarela dan atas dasar sayang.
Ya, aku memang mulai menyayangi Yonda. Tidak seperti
karyawan pria lain yang pernah menjamah tubuhku, Yonda
begitu piawai membawaku ke awang-awang. Dia seperti
mengerti, sudah kunikmatikah bagian tubuhnya yang masuk
ke dalam tubuhku, atau sudah sampai di puncakkah
perjuangan birahi kami, atau akau memang belum
mendapatkannya. Yonda sangat mengerti itu semua.
Aku kecanduan Yonda. Aku sangat menggemari apa saja yang
dia lakukan dengan tubuhku. Namun, sampai sekarang aku
tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadikannya
suamiku. Perbedaan usia kami demikian besar. Aku tidak
ingin dianggap sebagai pelahap daun muda. Biarlah apa
yang kurasakan kini, kunikmati dengan cara kusendiri.