Sunday, May 6, 2007

LOVE

Si Bule petugas Imigration ini mulai membuatku kesal.
Dia lebih lama meneliti pasporku dibanding orang-orang
sebelumku tadi. Dibolak-balik lagi, padahal visa Italy
yang kudapat masih berlaku. Ini memang kunjunganku
ketiga ke Roma. Tentu kali ini kunjungan yang berbeda,
bukan training seperti sebelumnya, tapi aku melakukan
perjalanan ribuan mil kemari hanya punya satu tujuan:
Menemui Florence, kekasih gelapku.

Sobatku di Bandung, sebut saja Erwin, barangkali benar.
Dia menyebutku gila. Gimana nggak, aku terbang belasan
jam meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Selama ini dia
hanya menyebutku 'nekat' untuk affairku yang lain
beberapa tahun lalu. Di matanya, berarti aku 'naik
grade' dengan kenekatanku sekarang ini. Biarlah. Inilah
mungkin yang orang sebut sebagai 'the power of love'.

Kenapa aku sampai segila ini, well.. kubawa Anda
flashback sebentar pada awal perkenalanku dengan
Florence. Bermula dari sepucuk mail yang kuterima
mengomentari tulisanku di 17tahun. Mail yang masuk itu
berasal dari mail-address Yahoo.com. Dari namanya, jelas
aku dapat menebak bahwa pengirimnya wanita dari etnis
Chinese.

Kesan pertamaku, pengirim mail ini orangnya terbuka,
sebab puluhan mail yang kuterima sebelumnya seluruhnya
menggunakan domain web based mail yang gratis dan 100 %
menyembunyikan identitas (termasuk aku juga lho...).
Maklumlah, di negeri kita soal yang menyangkut seks
dibahas tertutup atau malu-malu. Florence berbeda, dia
mengirim komentar 'kisah tabu'ku menggunakan address
yang 'terang benderang'. Inilah yang menarik, sehingga
aku cepat-cepat membalas comment-nya mendahulukan
mail-mail lain yang masuk duluan. Aku ingin mengenalnya
lebih dekat, siapa tahu kelak berlanjut.

Waktu itu aku berpikir juga, siapa tahu aku bisa
terlibat affair lewat virtual world, seperti yang pernah
kubaca di majalah dan di tabloid, kelihatannya excited,
gitu. Hal lain yang membuatku begitu bersemangat adalah,
terus terang, karena dia Chinese. Aku belum pernah
berpacaran dengan keturunan China. Bergaul sih sering,
di kantor atau di kompleks perumahan di mana aku
tinggal.

Mail pertama yang kukirim ke Florence langsung
kusebutkan statusku sebenarnya dengan jujur, yaitu
umurku yang sudah jauh di atas ABG, berkeluarga, kota
tinggal, dll kecuali nama asli. Aku masih menyembunyikan
nama asliku. Pembaca bisa maklum kan, di cyber world ini
awalnya wajib berhati-hati, siapa tahu mail-pal kita ini
ternyata tetangga sebelah atau kawan kantor, kan bisa
terbuka 'kenakalan'ku selama ini, berabe...

Niat awalku sih bisa mengenalnya lebih jauh, kemudian
janjian ketemu, dan berlanjut ke ranjang (kenyataannya
kemudian berlanjut lain, melibatkan emosi dan perasaan
cinta, sungguh di luar dugaanku). Balasannya menyebutkan
bahwa dia pernah tinggal di Bandung, nah.. kalau dia
sekarang tinggal di Jakarta atau kota lain yang agak
dekat, aku bisa mewujudkan keinginanku itu. Tapi
ternyata dia sekarang tinggal di negara lain yang ribuan
mil jaraknya dari negeriku. Oh, pupus sudah harapanku.
Tapi mail-mail Florence memang menarik dibaca karena
begitu terbuka, blak-blakan menceritakan kehidupannya
sehari-hari, termasuk kehidupan seks bersama pacar
tetapnya yang sekarang (yang ternyata pencemburu berat)
dan juga bersama teman-teman prianya yang lalu. Aku
begitu exited mengikuti pengalaman seks-nya yang
diceritakan lewat mail dan situs 17thn. Bayangkan,
dengan beraninya dia ML dengan anjing di dalam rumahnya
ketika pacarnya tidak ada di rumah. Juga ketika dia
menikmati betul-betul ketika 'dikerjain' sama orang di
atas bis kota di Roma. Libidonya memang termasuk tinggi
dan nekat.

"Coba aja kamu tulis cerita pengalaman pribadi kamu rada
banyakan ke situs ini," kataku lewat mail.
"Nggak ah, bahasa Indonesia gue nggak bagus," katanya,
juga melalui mail.
"Ah, siapa bilang, bagus gitu kok," kataku jujur.
Walaupun sudah belasan tahun di negeri barat, Florence
masih fasih berbahasa Indonesia, hanya logatnya memang
terasa campuran (aku bisa mengetahuinya ketika bertemu
dia).

Selain nekat, jujur, blak-blakan, dan libido tinggi,
Florence juga periang, suka humor dan smart. Ketawanya
lepas dan terdengar seksi. Masih muda sudah menduduki
posisi bagus di perusahaan teknologi informasi di negara
Sphagetti, punya penghasilan lebih dari cukup,
menunjukkan dia mampu 'mengalahkan negara maju itu.
Hanya orang yang cerdas yang mampu melakukan itu.

Lalu muncullah rasa aneh di dada, suatu desiran perasaan
yang nyeri-nikmat. Perasaan sama yang pernah kerasakan
sewaktu kelas II SMA ketika pertama kali mengenal
indahnya cinta. Sepanjang petualanganku bersama wanita,
jarang aku merasakan yang seperti ini. Umumnya hanya
satu rasa yaitu nafsu seksual. Apalagi ketika Florence
memanggilku dengan sebutan "Mas" sementara aku
memanggilnya dengan "Sayang" atau "Yang" saja (romantis
ya?).

Lama kelamaan pikiranku banyak dipenuhi oleh Florence di
manapun dan sedang apapun. Perasaan nyeri tapi nikmat
ini makin sering kualami ketika aku mengenang kembali
ucapan mesranya melalui mail. Padahal pembaca, saat itu
aku sedang berpacaran dengan seseorang, sebut saja
Shanty, yang tinggal di salah satu kota di Sumatera.
Masa pacaranku dengan Shanty sudah memasuki tahun kedua.
Rata-rata kami bertemu 2 bulan sekali dan tempat
pertemuan bisa di kotanya, atau di kotaku, atau di
Jakarta. Semua pertemuanku dengan Shanty kami lakukan di
hotel, tentu saja menginap satu kamar beberapa malam,
layaknya pasangan yang melakukan bulan madu.
Perkenalanku dengan Shanty terjadi sewaktu kami sekelas
dalam suatu training manajemen di Jakarta. Kini,
kedudukan Shanty di hatiku dengan perlahan namun pasti
telah tergeser oleh Florence. Aku lebih banyak
melamunkan Florence dibanding Shanty, lebih suka membaca
mail-mail Florence ketimbang mail Shanty.

Sejujurnya, aku tidak suka dengan keadaanku ini, begitu
mudah beralih. Aku menginginkan seorang saja kekasih
tetap, selain isteri lho. Aku merasa lelah berpetualang.
Kehadiran Shanty mampu mengurangi kenakalanku bersama
cewek-cewek lain. Aku mengharapkan hubunganku dengan
Shanty akan berjalan terus sampai kami sepakat untuk
berpisah baik-baik dan setelah itu aku akan berhenti
sama sekali melakukan affair.

Memanage kekasih gelap memang melelahkan. Harus
pandai-pandai mengatur waktu, banyak berbohong pada yang
di rumah. Menyiapkan jawaban yang masuk akal ketika
suatu saat istri nanya. Siap berkelit. Kini aku lelah
memanage Shanty. Benar-benar lelah. Saat itulah
Florenceti hadir memasuki kehidupanku. Dia hadir begitu
saja tanpa kurencanakan, tanpa mampu aku menolaknya.
Florenceti lebih matang, lebih mengerti kondisi
masing-masing untuk membina suatu hubungan, sehingga
kuperkirakan dia tak akan melakukan tindakan yang
membahayakanku atau rumah tanggaku.

Kami makin sering berkirim mail, bisa 2 - 3 kali sehari.
Rasanya ada sesuatu yang kurang kalau aku tidak membaca
mailnya sehari saja. Kadang pertanyaannya membuatku
terhenyak kaget. "Are you circumsized?" tanyanya suatu
ketika. Wah! Kujawab jujur iya. Dengan senang kujawab
semua pertanyaan Florence tentang perbedaan penis yang
disunat dengan yang asli. Rupanya, pria-pria yang pernah
jadi pacarnya semuanya tidak disunat. Dia begitu
penasaran sama yang satu ini.

Kontak kami makin berkembang, tak hanya lewat mail tapi
juga lewat telepon. Dia punya usulan yang menyenangkan.
"Gue aja deh yang nelepon," katanya.
"Lho, kenapa?" sahutku.
"Dari sini lebih murah, gue beli kartu buat sejam
nelepon ke Indonesia cuma 10 dollar.
"Murah banget, separoh dari tarif di Indonesia."
Tapi kalau aku lagi kangen, nekat nelepon juga pakai HP.
Dan kemudian Florence yang menelepon balik. Aku tak
berani pakai telepon rumah atau kantor. Tagihan
membengkak bisa jadi masalah.

Untuk memperkaya media komunikasi, Florence usul untuk
chatting. Padahal aku paling tidak suka chatting, sebab
selain butuh waktu yang khusus juga bandwidth kantor tak
menunjang buat chatting. Menulis mail bisa dilakukan
kapan saja di sela-sela jam kerja. "Tapi kalau lewat
mIRC beda, begitu instant," kata Florence sambil
menyebut nama server yang sering dia pakai yakni DALNET
yang terkenal itu. Diajarinya aku men-"donloat" (Istilah
lucu Florence untuk menyebut down load) software dari
website itu dan bagaimana memulai chat. Eh, ternyata
menyenangkan dan aku jadi kecanduan. Cuma aku harus
memperhitungkan perbedaan waktu yang 15 jam. Demi
Florence aku rela begadang sampai jam 1 malam dan
berangkat kantor jam 6.30 untuk bisa chatting. Again,
that's a kind of power of love.. padahal temanku si
Erwin menasihatiku bahwa jangan terlalu percaya sama
cewek dari Internet (maklum sih dia pernah ditipu bulat
bulat sewaktu naksir sama cewek yang dia kenal dari
IRC).

Aku jadi susah tidur, yang semakin mengurangi waktu
tidurku sampai aku jatuh sakit! Mungkin karena kurang
tidur, atau karena lagi banyak kerjaan, atau kombinasi
keduanya. Yang jelas aku merasakan indahnya cinta, bak
remaja puber saja. Atau ini memang masa puber keduaku
yang datang lebih awal? Tak tahulah.. Yang membuatku
ganjil adalah, aku sudah jatuh cinta pada Florence,
padahal kami belum pernah ketemu dan si Erwin sudah
memberikan info kepadaku bahwa si Florence ini mungkin
saja penipu setelah dia mendapatkan info dari temannya
bahwa temannya pernah kenal cewek dengan nama Florence
tetapi e-mailnya jarang dibalas! kadang aku berpikir
bahwa akulah pria terberuntung di muka bumi ini dan
benar juga, Savage Garden bilang "I know I love you
before I met you" bukan bohongan. Aku mengalaminya.
Kasusku inipun memperkuat pendapat psychologist Erlich
Fromm bahwa cinta tak harus memiliki. Aku punya anak
isteri. Florence telah dimiliki pacar tetapnya yang
bernama Erick, tapi kami saling mencintai.

Saling berkirim foto merupakan cerita tersendiri yang
kupikir agak lucu. Aku men-scan foto yang kuambil dari
rumah sedapatnya (jangan sampai isteriku tanya ada angin
apa nih nyari-nyari foto) dan kukirim lewat mail.
Florence juga telah kirim pic-nya lewat yahoo emailnya
tapi Florence belum juga membuka file jpeg fotoku, belum
siap katanya (ini membuatku agak kurang pede juga,
jangan-jangan Florence jadi berubah ketika melihat
wajahku yang "biasa-biasa" saja). Lalu dia bilang, kalau
dia akan membuka pic-ku pada saat yang bersamaan di hari
jumat karena disaat itulah kita berkenalan pertama kali
dan Florence ingin mencoba membuat hari itu tidak
terlupakan. Jadilah, Jumat pukul 13.00 WIB kami tahu
wajah masing-masing.

Ingin tahu kesanku setelah membuka e-mail berisi 1
lembar foto Florence? Tak kusangka, Florence itu muda
dan cantik! Muda layaknya gadis baru lulus SMA, yang
berarti lebih muda beberapa tahun dari umurnya sekarang,
dan cantik mirip artis GS. Matanya tidak sipit seperti
layaknya Chinese meskipun kesan mandarin-nya ada. Eh,
pembaca pria yang barangkali tertarik pada Florence,
mendingan nggak usah coba-coba deh. Bukan apa-apa,
Florence ini kalau sudah jatuh cinta adalah tipe setia.
Selama 3 bulan aku mengenalnya, sudah ada 2 cowok di
sekitar pergaulannya yang coba mendekati dan semuanya
ditolak. Dan keduanya 'jatuh' pada pandangan pertama.
Kenapa Florence menolak? Demikian kira-kira pertanyaan
Anda bukan? Good question. Sayangnya, aku belum tahu
jawabannya apalagi jika anda membaca ceritanya disaat
dia menikmati percintaannya dengan anjing dan disaat
diisengin sama orang asing di bis kota.

Ok, lanjut ke kisah cintaku, Apa reaksinya setelah tahu
tampangku? Dag-dig-dug juga aku menunggu mail di hari
berikutnya. Florence tak berubah, ini membuatku makin
sayang kepadanya. Well, Erwin, teman baikku bahkan tidak
percaya bahwa Florence begitu cantik bahkan dia sempat
menggodaku bahwa dia sempat naksir sewaktu aku
menunjukkan pic-nya kepada si Erwin tetapi setelah dia
selesai menggodaku, dia kembali menasehatiku bahwa itu
bisa saja cowok yang berpura-pura menjadi cewek, tetapi
aku tetap tidak percaya dengan pernyataannya.

Bukan Florence kalau tak membuat kejutan dalam mailnya.
"Suatu saat gue pengin tidur sama Mas" tulisnya. Mabuk
dah gua jadinya. Sudah tentu, aku mulai cari-cari
peluang untuk bisa terbang belasan jam menemuinya.
Segala kemungkinan kujajaki. Semua cara mengandung
resiko. Resiko memang harus kuambil kalau ingin berhasil
mencapai sesuatu. Aku nekat. Bahkan percaya atau tidak,
si Erwin sempat bilang kalau aku termasuk cowok terbodoh
yang pernah dia temui karena aku rela terbang jauh hanya
untuk menemui seseorang yang tidak jelas jati dirinya
dengan alasan yang sudah kuuraikan diatas.

Akhirnya Bule itu menyerahkan passporku sambil senyum
'standar "Welcome to America," katanya.
"Thank you," balasku datar.
Lepas dari imigrasi aku lewati saja gerbang Customs
tanpa hambatan, karena memang aku hanya membawa satu
koper kecil persediaan pakaian buat seminggu. Lega. Tak
lega benar sebenarnya, deburan jantungku makin menguat
ketika mendekati pintu keluar. Beberapa menit lagi aku
menjumpai kekasihku yang selama ini hanya ada dalam
bayangan. Tiba-tiba terlintas dalam kepalaku, bagaimana
kalau Florence tak menjemput? bagaimana jika selama ini
aku ditipu dan pernyataan si Erwin menjadi kenyataan?
Apa yang harus kulakukan di Roma apalagi aku tidak
mempunyai kenalan sama sekali di negeri barat ini? Ini
sama sekali tak pernah kubayangkan. Pokoknya ke luar
dulu, urusan lain dipikir nanti saja lagipula aku bawa
uang yang lumayan banyak ini.

Ha! Aku bersorak, dengan senyum lebar Florence bangkit
dari duduknya menyambutku.
"Hallo Flo..."
Kami berpelukan erat, deburan dadaku bukannya reda,
malah bertambah. Gugup dan salting. Mulutku terkunci.
"Nih.." katanya sambil menyerahkan 5 tangkai mawar merah
(means: I love you very much), sesuai permintaanku, juga
rok yang dikenakannya. Florence jarang memakai rok,
jelas ini hanya khusus buatku. Aku memang lebih suka
melihat cewek memakai rok dibanding celana panjang,
lebih feminim.

Dalam perjalanan menuju tempat parkir kami tak banyak
bicara, lidahku benar-benar kelu. Kami hanya saling
pandang dan lempar senyum. Sambil jalan tangan kiriku
merangkul bahunya. November di Roma dinginnya menusuk
tulang. Tapi bukan karena kedinginan itu aku memeluk
bahunya. Ini memang sering kukhayalkan sebelumnya, aku
ingin semesra mungkin. Wow, Florence membuka pintu
mobilnya yang iklannya berbunyi, "Kelas tersendiri"
warna biru dan jendela kaca yang gelap.
"Welcome to America, Mas..." sambutnya setelah kami
duduk di mobil.
"Oh, makasih Yang," sahutku menatap matanya. Kami saling
bertatapan.

Kusingkirkan derai-derai poninya lalu kukecup dahinya,
lembut tapi penuh perasaan. Matanya terpejam, bahkan
belum terbuka ketika aku melepaskan kecupanku.
Kusentuhkan punggung jari-jariku ke pipinya. Florence
membuka mata. Kukecup ujung hidungnya yang mancung,
sekejap. Lalu wajahnya mendekat, bibirnya sedikit
membuka dan kami siap berciuman untuk pertama kalinya.
Aku kecele. Bibir Florence mendarat di bawah bibirku.
Oh.. Kenapa aku lupa! Dalam chatting kami Florence
pernah menulis dia suka mencium daerah antara bibir
dengan dagu. Tapi aku tak mau kalah, kupegang dagunya
dan kukecup bibirnya. Lumatan erat diikuti dengan
permainan lidah. Tubuhku mulai menghangat. Sesak nafas
dan sesak 'di bawah' sana.

Bibir Florence bergeser ke bawah, aku segera tahu apa
yang akan dilakukan: menggigiti daguku. Kubalas dan
Florence melenguh, lenguhan pertama yang kudengar.
Posisi ciuman yang kurang nyaman sebenarnya, sebab tubuh
kami dipisahkan oleh box dan tongkat gigi automatic
mobilnya. Pinggang kami masing-masing harus diputar 45
derajat. Tapi tak mengapa, perasaan nikmat bercumbu yang
sudah lama ditunggu mampu mengatasi rasa pinggang tak
nyaman. Ketika aku mencumi lehernya, kurasakan ada
bayangan sekelebat lewat. Dengan refleks aku melepaskan
ciuman dam memeriksa sekeliling. Bayangan dari orang
yang menyeret koper besar lewat di depan kami. "Tenang
aja, dia nggak akan lihat..." kata Florence. Kulepas
jacket Florence. "Nggak dingin kan Yang?" Florence
menggeleng, walaupun hanya memakai blouse tanpa lengan.
Bibirku menelusuri lengan atasnya yang terbuka.
Benar-benar sehalus kulit bayi.

Blouse tanpa lengan itupun telah kulepas. Kujilati
dadanya yang masih tertutup bra cream muda, mulai di
belahan terus bergeser kiri dan kanan. Perlahan
kuturunkan tali bra kirinya lalu kuciumi bagian atas
gumpalan bukit kirinya. "Aauw.." teriakan kecilnya
ketika tanpa sadar aku menggigit buah dadanya. Gemes!
Ketika aku ingin melepaskan bra-nya, Florence menahan.
Kupandangi matanya, caraku bertanya tanpa suara.
Florence menjawab dengan melepaskan kancing kemejaku
satu persatu, juga singletku. jari-jarinya menelusuri
bulu-bulu dadaku, lalu menciuminya. Kesempatan ini
kugunakan untuk melepas kaitan bra dipunggungnya. Dengan
gemas aku mengunyel-unyel kedua bukit kembarnya.

Florence melepas sepatu dan mengangkat kakinya
'menyeberang' tongkat perseneling ke arahku. Aku
tanggap, mengelus-elus sepasang kaki panjangnya sebelum
menciuminya. Kedua tanganku menerobos masuk rok hijaunya
menelusuri lengkungan pahanya. Aku harus bangkit agar
mulutku bisa mencapai sepasang paha putihnya. Mulut
Florence terus mencerecau. Melenguh dan merintih, kadang
teriak. Pada saat kedua tanganku mencapai pinggangnya,
kutarik celana dalamnya. Sekilas sempat kulihat cairan
bening ketika kain itu berpisah dengan isinya. Belum
sempat aku menyerbu kewanitaannya, tiba-tiba Florence
bangkit melepaskan ciumanku di pahanya. Dengan tergesa
dibukanya ikat pinggangku, kancing celanaku dan
reitsleting-nya lalu mengeluarkan 'isinya' yang tegak
menjulang. Dan.. ohh.. mulutku berdesis seperti orang
yang kepedasan. Entah apa saja yang dilakukan mulut
Florence pada milikku itu, hasilnya: nikmat. Kadang
ujung lidahnya yang sedikit keluar dari mulutnya
menelusuri bagian bawah seluruh batangku, kadang
seolah-olah menggigit dari arah samping, dan kadang
punyaku lenyap ke dalam mulutnya.

Kami berdua telah siap untuk tahap terpenting:
penetrasi. Tapi aku ragu melangkah, aku belum pernah
bersetubuh di dalam mobil. Bercinta di dalam mobil
adalah 'agenda' pertama yang sudah kami rencanakan jauh
hari sebelumnya. Aku yang memintanya dan Florence
merancang agenda 1 ini di tempat parkir. Gimana
posisinya? Florence yang mengambil inisiatif. Dia pindah
dari kursi di belakang setir ke kursiku lalu duduk di
pangkuanku dengan kakinya yang membentang. Digenggamnya
kemaluanku lalu disapu-sapukannya di selangkangannya.

Saat Florence melepas pegangannya dari milikku,
kurasakan tubuhnya menekanku. Aku mulai memasuki
tubuhnya. Hangat, basah, dan nikmat. Kami lalu
'berkudaan'. Kedua tanganku mengunci punggungnya dan
mulutku bermain di dadanya. Kedua kakiku bertumpu kuat
di lantai mobil sehingga sesekali aku menusuk kuat
dengan sekali mengangkat tubuhnya. Florence jadi lebih
aktif dengan posisi begini. Tubuhnya berguncang makin
cepat. Kadang aku harus melambatkan gerakannya agar aku
bisa merasakan sensasi gesekan batang kejantananku pada
dinding-dinding kemaluannya. Gerakannya jadi bervariasi
yang membuat tubuhku serasa melayang-layang.

"Oohhh Yaang..!" teriakku.
"Maaasss...." balasnya.
Kucengkeram tubuh Florence kuat-kuat, tanpa ragu aku
memuntahkan spermaku ke dalam tubuh Florence. Aku berani
ejakulasi di dalam, karena Florence telah mempersiapkan
semuanya. Dia telah memproteksi tubuhnya agar aman,
khusus hanya untukku. Bahkan untuk pacar tetapnya
Florence, Erick dan bahkan ketika dia bersenggama dengan
pacar gelapnya yang bernama Herman (kata dia lho) masih
melakukan coitus interuptus.

Oh Florence, sungguh aku terharu atas upayamu ini. Aku
mencintaimu. Setelah itu Florence memelukku dengan erat
dan setelah aku check-in di hotel, kita melakukannya
lagi seharian apalagi menurut pengakuannya, kekasihnya
Erick selalu sibuk dengan urusan bisnisnya dan sekarang
dia sedang pergi ke Pontianak, Indonesia untuk urusan
bisnisnya dan aku berada di Roma bersama kekasih gelapku
sementara istriku menungguku di rumah, gila ya? Tapi aku
senang sekali karena aku bisa menikmati liang kewanitaan
dari cewek yang cukup terkenal di situs 17thn.