Wednesday, May 2, 2007

MAKASAR GIGOLO

Namaku Andhika, aku seorang siswa Kelas 1 di SMU yang
cukup top di kota Makassar. Pada hari itu aku ingin
mengambil tugas kimia di rumah salah satu teman cewekku,
sebut saja Rina. Di sana kebetulan aku ketemu sahabat
Rina. Kemudian kami pun berkenalan, namanya Laura,
orangnya cukup cantik, manis, putih dan bodinya sudah
seperti anak kelas 3 SMU, padahal dia baru kelas 3 SMP.
Pakaian sekolahnya yang putih dan agak kekecilan makin
menambah kesan payudaranya menjadi lebih besar. Ukuran
payudaranya mungkin ukuran 32B karena seakan akan baju
seragam SMP-nya itu sudah tidak mampu membendung tekanan
dari gundukan gunung kembar itu.

Kami saling diam, hanya aku sedang mengamati dadanya dan
pantatnya yang begitu montok. Wah serasa di langit ke-7
kali kalau aku bisa menikmati tubuh cewek ini, pikirku.
Terkadang mata kami bertemu dan bukannya ke GR-an tapi
aku rasa cewek ini juga punya perasaan terhadapku.
Setelah satu jam berada di rumah Rina, aku pun
berpamitan kepada Rina tetapi dia menahanku dan
memintaku mengantarkan Laura pulang karena rumahnya agak
jauh dan sudah agak sore dan kebetulan aku sedang bawa
"Kijang Rangga" milik bapakku.

Akhirnya aku menyetujuinya hitung-hitung ini kesempatan
untuk mendekati Laura. Setelah beberapa lama terdiam aku
mengawali pembicaraan dengan menanyakan, "Apa tidak ada
yang marah kalau aku antar cuma berdua, entar pacar kamu
marah lagi...?" pancingku. Dia cuma tertawa kecil dan
berkata, "Aku belum punya pacar kok." Secara perlahan
tangan kiriku mulai menggerayang mencoba memegang
tangannya yang berada di atas paha yang dibalut rok
SMP-nya. Dia memindahkan tangannya dan tinggallah
tanganku dengan pahanya. Tanpa menolak tanganku mulai
menjelajah, lalu tiba-tiba dia mengangkat tanganku dari
pahanya, "Awas Andhi, liat jalan dong! entar kecelakan
lagi..." dengan nada sedikit malu aku hanya berkata, "Oh
iya sorry, habis enak sih," candaku, lalu dia tersenyum
kecil seakan menyetujui tindakanku tadi. Lalu aku pun
membawa mobil ke tempat yang gelap karena kebetulan
sudah mulai malam, "Loh kok ke sini sih?" protes Laura.
Sambil mematikan mesin mobil aku hanya berkata,
"Boleh tidak aku cium bibir kamu?"
Dengan nada malu dia menjawab,
"Ahh tidak tau ahh, aku belum pernah gituan."
"Ah tenang aja, nanti aku ajari," seraya langsung
melumat bibir mungilnya.

Dia pun mulai menikmatinya, setelah hampir lima menit
kami melakukan permainan lidah itu. Sambil memindahkan
posisiku dari tempat duduk sopir ke samping sopir dengan
posisi agak terbungkuk kami terus melakukan permainan
lidah itu, sementara itu dia tetap dalam posisi duduk.
Lalu sambil melumat bibirnya aku menyetel tempat duduk
Laura sehingga posisinya berbaring dan tanganku pun
mulai mempermainkan payudaranya yang sudah agak besar,
dia pun mendesah, "Ahh, pelan-pelan Andhi sakit nih..."
Kelamaan dia pun mulai menyukaiku cara mempermainkan
kedua payudaranya yang masih dibungkus seragam SMP.

Mulutku pun mulai menurun mengitari lehernya yang
jenjang sementara tanganku mulai membuka kancing baju
seragam dan langsung menerkam dadanya yang masih
terbungkus dengan "minishet" tipis serasa "minishet"
bergambar beruang itu menambah gairahku dan langsung
memindahkan mulutku ke dadanya.
"Lepas dulu dong 'minishet'-nya, nanti basah?" desahnya
kecil.
"Ah tidak papa kok, entar lagi," sambil mulai membuka
kancing "minishet", dan mulai melumat puting payudara
Laura yang sekarang sedang telanjang dada.Sementara
tangan kananku mulai mempermainkan lubang kegadisannya
yang masih terbungkus rok dan tanganku kuselipkan di
dalam rok itu dan mulai mempermainkan lubangnya yang
hampir membasahi CD-nya yang tipis berwarna putih dan
bergambar kartun Jepang. Mulutku pun terus menurun
menuju celana dalam bergambar kartun itu dan mulai
membukanya, lalu menjilatinya dan menusuknya dengan
lidahku. Laura hanya menutup mata dan mengulum bibirnya
merasakan kenikmatan. Sesekali jari tengahku pun
kumasukkan dan kuputar-putarkan di lubang kewanitaannya
yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia hanya
menggenggam rambutku dan duduk di atas jok mobil menahan
rasa nyeri. Setelah itu aku kecapaian dan menyuruhnya,
"Gantian dong!" kataku. Dia hanya menurut dan sekarang
aku berada di jok mobil dan dia di bawah. Setelah itu
aku menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk mulai
membuka celana "O'neal"-ku dan melorotkannya. Lalu aku
menyuruhnya memegang batang kemaluanku yang dari tadi
mulai tegang.

Dengan inisiatif-nya sendiri dia mulai mengocok batang
kemaluanku.
"Kalau digini'in enak tidak Andhi?" tanyanya polos.
"Oh iya enak, enak banget, tapi kamu mau nggak yang
lebih enak?" tanyaku.
Tanpa berbicara lagi aku memegang kepalanya yang sejajar
dengan kemaluanku dan sampailah mulutnya mencium
kemaluanku. "Hisap aja! enak kok kayak banana split,"
dia menurut saja dan mulai melumat batang kemaluanku dan
terkadang dihisapnya. Karena merasa maniku hampir keluar
aku menyuruhnya berhenti, dan Laura pun berhenti
menghisap batang kemaluanku dengan raut muka yang
sedikit kecewa karena dia sudah mulai menikmati "oral
seks". Lalu kami pun berganti posisi lagi sambil
menenangkan kemaluanku. Dia pun kembali duduk di atas
jok dan aku di bawah dengan agak jongkok. Kemudian aku
membuka kedua belah pahanya dan telihat kembali liang
gadis Laura yang masih sempit. Aku pun mulai bersiap
untuk menerobos lubang kemaluan Laura yang sudah agak
basah, lalu Laura bertanya, "Mau dimasukin tuh Andhi,
mana muat memekku kecilnya segini dan punyamu segede
pisang?" tanyanya polos. "Ah tenang aja, pasti bisa
deh," sambil memukul kecil kemaluannya yang memerah itu
dan dia pun sendiri mulai membantu membuka pintu liang
kemaluannya, mungkin dia tidak mau ambil resiko lubang
kemaluannya lecet.

Secara perlahan aku pun mulai memasukan batang
kemaluanku, "Aah... ahh.. enak Andi," desahnya dan aku
berusaha memompanya pelan-pelan lalu mulai agak cepat,
"Ahh... ahhh... ahhh... terus pompa Andi." Setelah 20
menit memompa maniku pun sudah mau keluar tapi takut dia
hamil lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dan dia
agak sedikit tersentak ketika aku mengeluarkan batang
kemaluanku.
"Kok dikeluarin, Andi?" tanyanya.
"Kan belum keluar?" tanyanya lagi.
"Entar kamu hamilkan bahaya, udah nih ada permainan
baru," hiburku.
Lalu aku mengangkat badannya dan menyuruhnya telungkup
membelakangiku.
"Ngapain sih Andi?" tanya Laura.
"Udah tunggu aja!" jawabku.
Dia kembali tersentak dan mengerang ketika tanganku
menusuk pantat yang montok itu.
"Aahh... ahhh... sakit Andhi... apaan sih itu...?"
"Ah, tidak kok, entar juga enak."
Lalu aku mengeluarkan tanganku dan memasukkan batang
kemaluanku dan desahan Laura kali ini lebih besar
sehingga dia menggigit celana dalamku yang tergeletak di
dekatnya.

"Sabar yah Sayang! entar juga enak!" hiburku sambil
terus memompa pantatnya yang montok. Tanganku pun
bergerilya di dadanya dan terus meremas dadanya dan
terkadang meremas belahan pantatnya. Laura mulai
menikmati permainan dan mulai mengikuti irama
genjotanku. "Ahh terus... Andhi... udah enak kok..."
ucapnya mendesah. Setelah beberapa menit memompa
pantatnya, maniku hendak keluar lagi. "Keluarin di dalam
aja yah Laura?" tanyaku. Lalu dia menjawab, "Ah tidak
usah biar aku isep aja lagi, habis enak sih," jawabnya.
Lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dari pantatnya
dan langsung dilumat oleh Laura langsung dihisapnya
dengan penuh gairah, "Crot... crot.. crot..." maniku
keluar di dalam mulut Laura dan dia menelannya. Gila
perasaanku seperti sudah terbang ke langit ke-7.
"Gimana rasanya?" tanyaku.
"Ahh asin tapi enak juga sih," sambil masih membersihkan
mani di kemaluanku dengan bibirnya.

Setelah itu kami pun berpakaian kembali, karena jam
mobilku sudah pukul 19:30. Tidak terasa kami bersetubuh
selama 2 jam. Lalu aku mengantarkan Laura ke rumahnya di
sekitaran Panakukang Mas. Laura tidak turun tepat di
depan karena takut dilihat bapaknya. Tapi sebelum dia
turun dia terlebih dahulu langsung melumat bibirku dan
menyelipkan tanganku ke CD-nya. Mungkin kemaluannya
hendak aku belai dulu sebelum dia turun. "Kapan-kapan
main lagi yach Andhi!" ucapnya sebelum turun dari
mobilku. Tapi itu bukan pertemuan terakhir kami karena
tahun berikutnya dia masuk SMU yang sama denganku dan
kami bebas melakukan hal itu kapan saja, karena
tampaknya dia sudah ketagihan dengan permainan itu
bahkan Laura pernah melakukan masturbasi dengan pisang
di toilet sekolah. Untung aku melihat kejadian itu
sehingga aku dapat memberinya "jatah" di toilet sekolah.