Wednesday, May 2, 2007

INGESEX

Kejadian ini saat aku belum menikah dan masih bekerja
di perusahaan distribusi makanan. Aku saat itu menjadi
Chief Account Officer dan salah seorang stafku yang baru
bekerja 4 bulan namanya Inge, dia seorang sarjana
ekonomi yang baru setahun lulusnya umurnya masih 23
tahun. Dulu saat pertama kali masuk kantor kulihat
sering diantar dan dijemput pakai motor oleh pacarnya,
tetapi sudah ada seminggu terakhir Inge selalu
mengendarai motor sendiri. Memang Inge berwajah manis,
hanya sayang kurang tinggi sedikit.

Yang menarik buat lelaki semacam saya adalah bibirnya
yang selalu kelihatan basah terus karena lidahnya sering
dipakai membasahi bibirnya dan selain itu model
rambutnya yang pakai gaya sedikit yang terurai di dekat
telinga dan diberi jelly hingga kelihatan basah. Juga
yang kelihatan sensual adalah cara berpakaiannya karena
Inge selalu pakai baju atau kaos yang agak ketat
sehingga perutnya kelihatan ramping dan buah dadanya
terlihat agak menonjol. Memang buah dadanya sendiri tak
terlalu besar tetapi cukup bagus bila pakai baju atau
kaos yang ketat.

Suatu saat aku tegur dia,
"Inge, kenapa sekarang kamu naik motor sendiri?"
"Yaahh, yang antarin sudah nggak ada", sahutnya.
"Masak iya, kemana pacarmu itu?" tanyaku.
"Aach, nggak tahu pergi kemana dia, biarin saja",
jawabnya dengan nada kesal.

Beberapa hari kemudian, saat makan siang, aku melewati
kamarnya, kebetulan cuma Inge seorang diri dan sedang
makan, rupanya yang lain makan keluar, segera kumasuk
dan duduk di depan mejanya. "Makan sendirian saja?"

"Iya Pak, sahutnya. Sambil makan, Inge melihat-lihat
iklan bioskop di koran. Tiba-tiba Inge berbicara,
"Waah, film Mandarin ini bagus Pak, Inge kepingin nonton
tapi nggak ada teman sekarang."
"Kalau memang nggak ada teman nanti saya temani" kataku.
"Ah, Bapak bisa saja, nanti pacar Bapak marah lho!"
sahutnya.
"Yaa, jangan sampai ketahuan dong, sekali-kali kan nggak
apa-apa", kataku.
"Kalau sungguh, kapan Bapak bisanya? asal jangan yang
malam-malam, paling lambat yang pukul 7.00 malam", jelas
Inge.
"Besok malam? Pokoknya jangan Sabtu dan Minggu malam itu
acara Bapak sudah patent" kataku.
"Kalau gitu besok malam ya Pak?"
"Boleh, Bapak jemput jam berapa?"
"Inge sampai kost jam 5 sore, lalu mandi dulu, jadi
kira-kira pukul 6 sore ya!"
"Oke", sahutku.

Besok sorenya setelah saya pulang ke kost dan mandi lalu
siap ke kostnya Inge. Sampai di sana ternyata Inge belum
selesai hingga kutunggu beberapa menit, kemudian kita
langsung berangkat. Karena baru pukul 6.10 padahal
filmnya mulai pukul 7, maka kita putar-putar kota dulu.
Dalam mobil aku bilang dengan Inge kalau lagi nggak
dinas begini jangan panggil aku Pak, sebab umur kami
paling hanya berbeda 7 tahun, aku jadi nggak enak dong.
Akhirnya setelah putar-putar kita langsung ke bioskop
dan beli tiket lalu masuk, aku memang sengaja minta
tempat duduk yang di pinggir. Rupanya filmya kurang
bagus, sebab sampai saat mulai penontonnya hanya
sedikit.

Memang artis-artis yang main seksi-seksi, apalagi film
Mandarin terhitung banyak yang berani juga actionnya.
Kalau pas adegan yang hot Inge tiba-tiba memegang
tanganku, suatu saat kalau adegan panas sebelum
tangannya Inge yang beraksi kupegang dulu telapak
tangannya erat-erat.

Walaupun adegan panas sudah berlalu tangannya tetap
kupegang terus dan perlahan-lahan tangannya kuletakkan
di atas pahanya. Ketika Inge masih diam saja atas aksi
ini, maka jari-jariku kupakai untuk mengutik-utik
pahanya yang sudah terbuka karena roknya yang agak
pendek itu naik kalau buat duduk. Beberapa menit hal itu
kulakukan dan Inge pun masih diam, lalu tangannya
kutarik ke paha lebih atas sekaligus untuk menyingkap
roknya supaya naik ke pangkal paha.

Setelah kulihat roknya menyingkap sampai hampir pangkal
pahanya sehingga paha yang mulus itu terlihat
remang-remang dengan penerangan cahaya dari film saja.
Aku pura-pura diam sebentar, kebetulan ada adegan panas
lagi dan tanganku segera memegang pahanya dan tangan
Inge memegang bagian atas tanganku. Kupikir Inge akan
melarang kegiatan tanganku itu, tetapi tangannya hanya
ditumpangkan saja di tanganku. Kuberanikan lagi operasi
ini, tanganku kuusapkan ke pahanya dari atas lutut
sampai ke atas dekat pangkal pahanya. Sudah ada 5 menit
aku melakukan ini bergantian paha kanan dan kiri, tapi
Inge tetap diam hingga nafasku yang mulai memburu.

Akhirnya kuberanikan tanganku untuk mengusap pahanya
sampai ke selakangannya hingga menyentuh CD-nya dan
bagian kemaluannya kugelitik dengan 2 jariku. Saat itu
Inge kelihatan mendesah sambil membetulkan duduknya.
Kugelitik terus clitorisnya dengan jari dan
kadang-kadang jariku kumasukkan ke dalam lubang
vaginanya, ternyata lubangnya sudah basah juga.

Belum beberapa lama, Inge menggeliat duduknya dan
bilang, "Oom, Jangan digitukan nanti basah semua vagina
Inge juga CD-nya, sebab Inge punya banyak keluarnya."
Lalu tanganku kutarik dan kupindahkan ke pahanya saja.
Aku bisiki, "Nanti lain kali saja sambil santai di hotel
ya?".
Inge mengangguk dan berkata, "Kira-kira minggu depan
saja sebab kalau sering pergi malam nanti nggak enak
dengan tante kost".

Setelah film selesai sambil jalan keluar, kurangkul
pundaknya dan Inge pun memegang pinggangku sambil
kepalanya disandarkan ke bahuku. Kuajak Inge makan malam
sekalian sambil ngobrol macam-macam. Aku bertanya,
"Inge, biasanya kamu diajak pacarmu santai di mana?"
"Yaah,kadang-kadang di hotel P atau Hotel NP di atas
Candi kadang-kadang juga di Hotel R di bawah kalau malas
jauh-jauh." Dengan jawaban Inge itu, aku sudah dapat
mengambil kesimpulan bahwa Inge saat ini sudah bukan
perawan lagi, jadi aku berani untuk mengajaknya ke hotel
minggu depan.

Selesai makan kuantarkan Inge pulang, sebelum turun
mobil kupeluk dia dan dia pun membalasnya dengan
merangkul leherku kuat-kuat untuk menerima ciuman dan
kecupan-kecupan pada bibirnya dan selesai itu dengan
sedikit teknik tanganku menyambar dan memijit buah
dadanya. "Acch.. nakal ya Oom? katanya, dan "Bye...
bye...." Pada keesokan harinya saya bertemu Inge di
kantor dan kita bersikap biasa-biasa saja sehingga tak
ada teman yang curiga kalau kita telah pacaran semalam.
Saat kutanya kenapa sang pacar tak mengantar lagi, Inge
bilang kalau pacarnya sekarang lagi renggang walaupun
belum putus 100 % karena pacarnya yang SH itu dan
bekerja sebagai salesman electronic itu belakangan suka
tersinggung tanpa sebab yang jelas. Mungkin iri atau
malu karena Inge dapat kerjaan dengan gaji yang semetara
ini lebih besar dari padanya.

Suatu siang di hari Rabu seminggu setelah kita menonton,
kebetulan Inge datang ke kamarku dengan membawa
laporan-laporan yang kuharus tanda tangani. Inge
bertanya,
"Pak, nanti malam Bapak ada waktu?"
"Kenapa?" tanyaku pura-pura sebab dalam hatiku saat-saat
inilah yang kunantikan.
"Kalau Bapak ada waktu, Inge kepingin makan di luar tapi
kok nggak ada teman", sahutnya.
"Oke, kalau Inge yang ngajak saya bersedia. Jam 6 sore
seperti minggu lalu saya datang ke kost, ya Inge?"
kataku.
"Terima kasih ya Pak."

Sore itu aku cepat-cepat pulang dan segera mandi. Jam
5.30 sore aku siap berangkat ke kost Inge, karena
terlalu pagi Inge belum siap dan kutunggu di ruang tamu.
Baru kira-kira 10 menit kemudian Inge keluar. Aku sempat
terpesona beberapa saat, karena Inge yang saya tahu
biasanya memakai rok agak mini dengan baju atau kaos
pendek perutnya dan agak ketat. Kali ini tampil dengan
memakai gaun panjang warna ungu dengan belahan yang agak
tinggi di bagian paha sebelah kirinya, sehingga kalau
jalan pahanya yang kiri dan putih bersih itu kelihatan
dengan jelas dan bagian dalam pahanya kanan juga tampak
samar-samar.

"Ceeek.... ceekkk.... ceeekkk", komentarku. Inge bahkan
tersenyum manis dan kemudian memutar tubuhnya dan bagian
punggungnya terbuka lebar sampai ke bawah dengan model
huruf V sampai di atas pinggulnya. Aku yakin sekali
kalau Inge pasti tidak pakai bra sekarang. Tanpa duduk,
Inge langsung mengajak berangkat. kurangkul pinggangnya,
Inge jadi agak kikuk takut kalau tante kostnya tahu.
Begitu masuk mobil kuminta untuk mengecup dulu bibirnya
yang merah merekah dan basah terus itu, sambil
punggungnya yang terbuka itu kuusap-usap dan ternyata
dugaanku benar saat dadanya kutekan erat-erat ke dadaku
terasa gumpalan daging yang kenyal dengan nama payudara
tanpa terlindungi spons BH menempel di dadaku. Denyut
jantungku langsung berdetak cepat. Kemudian mobil mulai
kujalankan dan tangan Inge diletakkan di atas paha
kiriku sambil kadang-kadang memijit pahaku.
"Mau makan kemana Inge?"
"Terserah Bapak", katanya.
Memang Inge tetap tak mau panggil aku dengan sebutan
lain, ia pilih dengan "Pak" karena takut salah ngomong
kalau di kantor nanti.
"Kalau makan sate kambing apakah Inge suka?" tanyaku.
"Mau Pak, malah sebenarnya Inge sudah lama tak pernah
makan itu karena pacar Inge tak suka daging kambing",
katanya.
Akhirnya kita ke rumah makan sate kambing. Saat turun
dari mobil dan masuk ke rumah makan sekarang ganti Inge
yang selalu merangkul pingganku. Inge duduk di sebelah
kananku. memang kuatur demikan supaya tangan kananku
bisa dekat dengan paha kirinya yang terbuka sampai ke
atas untuk kuraba-raba.

Memang kali ini Inge berbeda dengan waktu nonton film,
kali ini Inge tampak ceria dan manja. Saat duduk makan
Inge duduknya merapatkan tubuhnya ke tubuhku serta
tangannya memegang pahaku. Tanganku sebelum beraksi di
pahanya kupakai untuk mengusap-usap punggungnya yang
terbuka. Untuk saat itu rumah makan masih sepi
pengunjung,jadi aku agak bebas berkarya. Setelah puas
meraba punggungnya tanganku kususupkan ke dalam roknya
ke daerah pinggang dan turun di sana tanganku meraba
CD-nya. Kemudian tanganku bergerak ke atas dan menyusup
ke bawah ketiaknya dan menuju ke samping depan sehingga
ujung jariku dapat menyentuh samping payudaranya yang
benar-benar masih kenyal. Pekerjaan tanganku berhenti
saat pelayan membawa makanan ke meja kami. Saat makan
tanganku kadang mulai meraba pahanya kiri yang terbuka
itu. Inge betul-betul penuh pengertian saat tangan
kananku sibuk meraba pahanya, ia yang menyuapkan nasi ke
mulutku hingga tanganku diberi keleluasaan untuk bermain
di pahanya dan sampai vaginanya pun kuraba-raba dengan
penuh kemesraan. Kadang-kadang tangan kananku kupakai
untuk menyendok makanan lagi, tapi lebih sering kupakai
untuk berkarya di paha dan lubang vaginanya sedang Inge
yang terus dengan kasih sayangnya menyuapiku dengan
makanan sampai suatu saat Inge mendesah dan memegang
tanganku yang berkarya erat-erat seraya berkata, "Pak,
karya tangan Bapak benar-benar hebat bisa membuat Inge
basah."

Lalu kuraba vaginanya ternyata CD-nya juga sudah basah
apalagi lubang vaginanya, ujung jar-jariku kumasukkan ke
lubangnya untuk bisa mengkait lendir yang menempel di
bibir vaginanya, ternyata usahaku itu berhasil juga.
Kulihat ada lendir kental mirip cendol menempel di ujung
telunjukku, segera kujilati lendir itu dan kutelan
bersama makanan yang disuapkan oleh Inge. Aku
betul-betul merasa "hot" makan daging kambing dicampur
lendir Inge, kurebahkan kepalaku ke kepalanya Inge
sambil berbisik, "Inge sayang, saya menyayangimu." Inge
menjawab, "Pak, sebentar lagi Inge menjadi kepunyaan
Bapak seluruhnya, Inge akan memberikan segalanya yang
terbaik untuk Bapak nanti. Percayalah!" sambil mencium
pipiku.

Selesai makan, kita langsung menuju Hotel CB di kota
atas yang banyak pemandangannya walaupun itu hotel kuno.
Kita langsung check in. Inge tetap manja, jalan sambil
merangkul pinggangku dengan badannya disandarkan ke
tubuhku. Pintu kamar segera kukunci setelah pelayan
menyiapkan air minum, sabun dan handuk.

Inge ganti kupeluk dan ia pun merangkul leherku
erat-erat hingga permainan ciuman mulut, bibir dan lidah
berlangsung dengan hangatnya dan penuh kemesraan. Karena
saat aku menciumnya, kukecup dalam-dalam bibirnya dengan
penuh perasaan hingga Inge bukan merasakan kenikmatan
saja tetapi juga merasakan kasih sayangku. Setelah
berciuman dengan mesranya untuk beberapa saat, maka
tanganku kupakai untuk meraba punggungnya yang terbuka,
kurasakan tubuh Inge cukup hangat lalu kupegang rok
bagian kedua pundaknya dan kutarik ke depan, Inge pun
membantu dengan meluruskan tangannya ke depan sehingga
roknya bagian atas langsung lepas dan payudaranya yang
masih kenyal dan hangat kalau diraba itu terlihat dengan
jelas di depan mataku ditambah putingnya yang kelihatan
mulai membesar dan tegang dengan warna merah padma
membuatku terpesona.

Walaupun aku sudah sering menelanjangi dan meniduri
pacarku di hotel, tetapi bentuk tubuhnya yang berbeda
itu mempunyai daya rangsang yang tersendiri. Hanya
karena kebiasaan yang sudah sering melihat pacarku dalam
keadaan telanjang bulat itu yang bisa membuat aku
mengendalikan emosi dan gelora nafsu mudaku. Roknya
terus kutarik ke bawah sehingga terlepas semua kemudian
kuambil dan kutaruh di atas meja dan Inge kuangkat untuk
kutidurkan di ranjang dengan masih memakai CD saja. Tapi
CD-nya pun kulorot untuk dilepas dan vaginanya yang
seperti bukit kecil itu tertutup oleh rambut yang cukup
lebat.

Aku kemudian melepas T-Shirtku dan celana panjang serta
CD-ku sambil memandangi tubuh Inge yang telentang di
ranjang dengan pose yang menggiurkan ditambah lidahnya
yang sering membasahi bibirnya itu. Kudekati Inge
kemudian kuciumi seluruh wajahnya dengan tangan
menjelajahi seluruh daerah dadanya termasuk lembah dan
bukit maupun puncak payudaranya sampai ke pusarnya dan
perut bagian bawah. Setelah ciumanku berpindah ke bagian
dadanya terutama bukit-bukit payudaranya, tanganku mulai
beraksi di sekitar vaginanya serta pahanya serta
sekali-kali rambut bawahnya kutarik pelan-pelan sambil
jari tengahku menggelitik clitorisnya yang mulai nongol.

Lalu kuciumi terus perutnya bawah sampai rambut
kemaluannya dan daerah sekitar vaginanya dan pahanya
serta tanganku terus mengusap dan memijit betis serta
telapak kakinya. Ciumanku terus ke lututnya, kemudian ke
betis, tumit kaki lalu telapak kakinya sampai jari-jari
kakinya pun kuhisap satu persatu semua baru aku balik
naik menghisap daerah selakangannya dengan membuka
lebar-lebar pahanya lalu daerah antara anus dan vagina
itu kucium dan kukecup serta kujilati sehingga Inge
mendesah kenikmatan dan terasa ada cairan lendir yang
menyemprot keluar dari lubang vaginanya. Setelah kulihat
benar terlihat dari lubangnya vagina mengalir keluar
cairan lendir dengan bau khusus.

Langsung kucucup lubangnya dan kusedot kuat-kuat hingga
sruuuuttt... lendirnya masuk ke dalam mulutku dan
kugelitik terus selangkangannya supaya cairan nya keluar
lagi lebih banyak dan kusedot terus dan ternyata benar
Inge masih mengeluarkan lendirnya yang masuk kemulutku.
Rasanya asin2, asem dengan bau khas seperti juga milik
pacarku, aku memang jadi semangat dengan minum
lendirnya.

Langsung saja Inge kuajak main dengan pose 69, aku
segera naik ke atas tubuhnya dan penisku kupaskan
dihadapan mulut Inge supaya mudah ia untuk mempermainkan
penisku dengan lidah dan mulutnya sedang aku sendiri
segera menyingkap rambut kemaluannya yang rimbun itu
untuk menjilati clitorisnya. Lalu kugigit-gigit dan
kutarik-tarik juga clitorisnya dengan bibirku. Inge
tampak terangsang sekali dengan permainan mulutku di
daerah vaginanya, apalagi pahanya sekarang kubuka
lebar-lebar dan selangkangannya antara anus dan
vaginanya kugosok terus dengan jari-jariku dan
kadang-kadang kujilati.

Begitu clitorisnya kugetarkan dengan ujung lidahku yang
bergerak begitu cepat (seperti lidah cecak katanya
pacarku) hanya semenit saja Inge sudah berontak dengan
kakinya dan pantatnya digerakan kesana kemari kemudian
mengaduh, "Aduuuuh Pak, Inge nggak tahan... sudah keluar
dan lemas Pak." Saat itu terasa lendirnya menyemprot dan
mengenai hidungku, segera kucucup lagi lubang vaginanya
untuk kusedot semua lendirnya yang sudah keluar di
lubang vaginanya. Aku merasakan kenikmatan juga dari
semprotan lendirnya itu dan vaginanya jadi basah semua.

Aku sekarang membelai rambutnya dan mengusap keringat
yang banyak dikeningnya serta bertanya,
"Inge sayang, apakah Inge sudah capai?"
"Belum Pak, Inge cuma lemas saja karena tak kuat menahan
kenikmatan yang luar biasa dari permainan lidah Bapak
tadi, rasanya sampai ujung rambut dan ujung kaki Pak"
sahutnya.
"Kalau begitu kita main lagi ya?" kataku.
Inge mengganggukan kepala. Lalu aku naik lagi ketubuhnya
dan kumasukkan penisku pelan-pelan ke lubang vaginanya,
kemudian kutarik keluar lagi pelan-pelan setelah masuk
keluar ini lancar berulang-ulang lalu penisku langsung
kubenamkan seluruhnya ke dalam vaginanya, sampai Inge
menghela napas panjang menahan sakit dan nikmatnya
karena katanya masuknya terlalu dalam.

Setelah itu kugerakan pantatku memutar searah jarum jam
sehingga Inge menjerit kenikmatan terus karena
clitorisnya tergesek oleh rambut kemaluanku dan dinding
dalam vaginanya tergesek oleh batang penisku yang
mengeras sehingga ia berbisik, "Aduuuh Pak, nikmat
rasanya luar biasa. Aku mau orgasme Pak." Mendengar itu
aku langsung menciumi payudaranya yang sebelah kiri,
karena Inge bilang lebih sensitive dari pada yang kanan
dan putingnya langsung kugetarkan lagi dengan ujung
lidahku. Tanpa basa basi lagi hanya beberapa detik
terasa vaginanya mencengkeram penisku dan
berdenyut-denyut serta ada lendir hangat yang menyiram
penisku. Inge sudah klimaks, ia tampak terkulai lemas.

"Capai Inge, sayang?" tanyaku.
"Iya... Pak" sahutnya lirih manja.
"Tolong Inge diberi air maninya Pak" pintanya.
"Sekarang?" tanyaku.
"Iya Pak."
"Tahan sebentar lagi iya, nanti aku semprotkan".

Lalu aku mengkonsentrasikan segenap pikiranku pada
segala keindahan tubuh Inge yang sedang kunaiki ini dan
tingkah polanya yang merangsang sambil memandang
bibirnya yang merah basah merangsang. Kugenjot terus
gerakan penisku naik turun dan semakin lama semakin
cepat sampai Inge menggeliat, menggelinjang tak karuan
sambil menarik lepas sprei dan meremas-remasnya dan
akhirnya, crruuuutttt... cruuuuuttttt... crrruuuutt,
maniku menyemprot kedalam vaginanya sambil kutekan terus
penisku dalam-dalam ke vaginanya.

"Sssseeetttt.... aacccchh, Inge merasakan kehangatan
yang luar biasa dari air mani Bapak." Dan Inge pun
orgasme lagi karena penisku merasakan vaginanya
berdenyut-denyut lagi. Setelah beberapa menit kita
istirahat dengan tidur bertindihan sambil berpelukan,
kita bangun tidak terasa jam telah menunjukkan pk 9.30.
Karena sudah agak malam Inge cepat-cepat bangun dan
mengambil handuk yang dibasahi lalu membersihkan penisku
dan kemudian vaginanya. Kita tak cuci karena makan waktu
lama.

Segera Inge memakai roknya lagi, demikian juga aku.
Sedang CD-nya dilipat dan dimasukkan ke dompetnya karena
masih basah kena lendir saat kugosok clitorisnya di
rumah makan tadi. Dalam perjalanan pulang Inge sempat
bertanya,
"Bapak jadi kawin kapan?"
"Iya masih 2-3 tahun lagi, tunggu pacarku selesai
kuliah", sahutku.
"Kenapa?" tanyaku. Inge merebahkan kepalanya ke bahuku
sambil berkata,
"Inge tak akan kawin dulu kok tunggu kalau mungkin ada
mukjizat."
"Maksud Inge?" tanyaku.
"Siapa tahu suatu saat Inge dapat kabar gembira dari
Bapak. Sebab Inge malam ini benar-benar merasakan
kenikmatan yang hebat dari Bapak dan lebih dari itu Inge
merasakan Bapak meniduri Inge dengan penuh kasih dan
kemesraan yang layaknya suami istri yang dipenuhi rasa
cinta. Kapan-kapan Inge boleh merasakan lagi ya Pak?"
"Kapan saja Inge kangen saya bersedia, tapi Inge harus
benar-benar atur waktunya jangan sampai Inge hamil yaa!"
pesanku.
Saat mobil sampai di rumah kost, Inge tak segera turun
ia malah merangkul leherku dan ditariknya aku, lalu
diciuminya seluruh wajahku dengan penuh perasaan hatinya
dan terlihat matanya memerah dan berkaca-kaca. Aku jadi
terenyuh dibuatnya, kubelai rambutnya dan kuusap matanya
yang berair lalu kubisiki, "Inge jangan sedih, kan tiap
hari kita masih bertemu. Inge malam ini capai nanti
langsung istirahat ya, jangan melamun macam-macam ya
sayang?" pesanku sambil kubelai sayang dari rambutnya
pipinya terus payudaranya sampai pahanya yang terbuka
itu, baru Inge mau turun dengan senyum kecil.

Esok harinya di kantor pagi-pagi saat kupanggil Inge
untuk memberikan tugas, ia masuk ke kamarku dengan
senyum-senyum manja, setelah kujelaskan tugas-tugas yang
harus dikerjakan kutanya kenapa kok senyum-senyum. Inge
menjawab sambil mendekat ke sisiku, "Pak, air maninya
semalam baru keluar tadi saat Inge duduk di kantor,
sekarang CD Inge jadi basah." Karena Inge sudah mendekat
tandanya minta untuk dibuktikan, maka kuraba melalui
bawah roknya dan benar CD bagian vaginanya basah juga
sela-sela pahanya basah agak licin dan ternyata baunya
memang seperti maniku. Aku bilang, "Inge kamu cuci dulu
sana ya." Inge menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Biarin saja Pak, Inge toch nggak punya CD lagi di
kantor malah nggak enak kalau dilepas CD-nya, sampai
nanti sore juga tak apa-apa malah nanti siang mungkin
sudah kering sendiri." Lalu tanganku digenggam erat-erat
dan memandang tajam penuh arti dan berkata,
"Kapan Bapak mau memberikan kemesraan dan kepuasan lagi
pada Inge?"
"Kapan saja terserah Inge", kataku.

Semenjak itu aku sering diajak kencan hampir tiap minggu
sekali dan setelah pacarnya baik kembali hubungannya,
hubungan seks tetap berlangsung terus kira-kira tiap
bulan sekali sambil cerita-cerita apa saja yang
dilakukan suaminya padanya. Sampai sekarang sudah hampir
sepuluh tahun berlalu dan aku sudah pindah kerja di
bank, sedang Inge menggantikan jabatanku dan kami
masing-masing telah berkelarga dan punya anak, tapi
hubungan intim itu masih tetap berlangsung di siang hari
saat jam makan siang, hanya frekuensinya jauh berkurang
kira-kira 3-4 bulan sekali. Tapi justru karena waktu
yang lama itu menyebabkan tiap kali hubungan intim itu
tambah mesra saja dan bukan menjadi kebosanan.