Sunday, May 6, 2007

HONEY

Aku 36 th, married dan telah memperoleh 3 orang anak,
bekerja di bidang medis, dan tinggal di Selatan Jakarta.
Wajahku biasa aja, hitam manis kata istriku, tinggi
badan 165 cm, rambut lurus-halus cenderung tipis.
Kehidupan sex-ku normal, bahkan dapat dikatakan aku
mempunyai nafsu sex yang tinggi.

Meskipun dengan istriku aku telah mendapatkan kepuasan,
namun sebagai laki2 normal, aku juga mempunyai fantasi
untuk melakukan hubungan intim dengan wanita lain. Aku
akan sangat terangsang pada type wanita kutilang-dara
(kurus tinggi langsing, dengan dada rata). Itulah
gambaran diriku, menjelang Valentine’s day ini aku jadi
teringat peristiwa 5 th silam, dan kucoba untuk
menuangkan dalam bentuk tulisan.

Antara 1997-98 aku mendapat tugas belajar di Surabaya.
Kota Surabaya sangat tidak asing bagiku karena disanalah
aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku putuskan untuk kost
karena gak mau ngerepotin sanak-saudara, lagian cuman 6
bulan. Baru 2 hari dan belum selesai beresin baju –
buku2 yang kubawa, nafsu dan gairahku meningkat butuh
penyaluran, sampai akhirnya onani. ‘Gue gak bisa kaya
gini terus…..’ pikirku dalam hati.
Besoknya aku cari beberapa no telf teman2 deketku
se-angkatan. Singkatnya aku dapatkan no seorang teman,
sebut saja Hani, usia kami sebaya, married with 2 kids.
Kami dulu pernah deket, sering jalan bareng juga 1
kelompok saat praktikum.

Hanni keturunan chinese, cukup tinggi untuk ukuran
wanita, kulit putih, dada rata. Awalnya hanya saling
telfon, diskusi, makan-makan dan jalan bareng, sampai
suatu saat (pertengahan februari) dia telfon (kayanya
abis nangis) ingin bertemu.

“Mas, bisa nggak datang ke rumahku, aku pengen cerita”.
‘Ok, say, ntar ktemu di tempat biasa ya, jawabku.
Dengan Lancer th 83’an aku meluncur menemuinya, kemudian
bareng ke rumahnya. Dalam perjalanan kami ngobrol
macem-macem mulai ilmiah, politik sampai hal-hal yang
jorok,
“Mas, kapan pulang ke Jakarta?” dia tanya (jadwalku
pulang tiap bulan).
“Minggu depan, emang knapa?” aku balik tanya.
“Gak papa sih cuman, iseng aja”.
‘Kalo cuman iseng, jangan cuman nanya…. ….ngerjain aku
deh’, timpalku.
‘Hehehehe dasar ngerest, otakmu’ tak terasa kami telah
sampai ke rumahnya hani membuka pintu pagar rumah.
(terasnya kotor…penuh debu, kaya beberapa hari gak
disapu.
‘Kamu tinggal disini?????’ tanyaku heran.
“kebangetan deh…….aku gak tinggal disini, ini rumah ortu
yang kmaren abis dikontrakin, seminggu sekali aku tengok
dan bersihin”, jawabnya sambil masuk ke dalam.

Aku masukkan mobilku dan segera masuk rumah…
Meskipun tersanya kotor penuh debu, tapi rumahnya gak
pengap……. Cukup nyaman, perabotannya terpelihara. Hani
mempersilahkanku duduk smentara dia sapu teras depan.
‘Enak2in diri ya…..aku bersih2 bentar’katanya.
‘Gimana mau enak…… udah gak disuguhi minum,…. Ditinggal
lagi,’ sahutku
“Udah ah, aku mandi dulu ya?”. Langsung aja otakku
ngeres membayangkan tubuhnya yang indah di balik baju
yang dikenakan
‘Whats the problem?’ tanyaku basa-basi, sambil pindah
duduk kesebelahnya. ‘Biasa……. masalah keluarga’,
katanya.
‘Is it about sex?’ Gue becandain
‘Loe tetep aja kaya dulu, sableng, and gak jauh dari
sono’…… tapi ada benernya sih ….. meskipun gak
langsung’, jawabnya.

Kemudian Hani cerita panjang lebar, intinya rasa gak
puas sikap suami yang otoriter dan selalu menyalahkannya
bila ada perselisihan dengan mertua.
“aku bner2 capek, Sony (suaminya) selalu berpihak ama
ibunya, padahal aku berusaha netral kalo mertua
ngomel2”. Sambil terisak dia akhiri ceritanya.
Saat aku pegang tangannya, dan dia diam, malah bilang
“boleh aku nyandar di dadamu?”. Aku mengangguk dan
segera meraihnya serta membelai rambut sebahu itu dengan
lembut. Kucium keningnya perlahan, Hani tengadah dan
berbisik lirih “Mas, aku butuh support, kasih sayang dan
belaian mesra”.

Saat itu aku merasa hanyut dengan situasi yang
diciptakannya, sehingga tanpa rasa canggung kucium
matanya, hidungnya, hanni menngeliat sehingga bibir kami
bertemu. Hanni bangkit dan berkata lirih sambil
memelukku, “hold me tight, im yours now”.
Aku cium kembali bibirnya dengan lembut, hani merespon
dan memagutku. Kami berpelukan bagai sepasang kekasih
yang baru berjumpa setelah sekian lama berpisah dengan
segunung kerinduan.

Dengan posisi hani duduk di pangkuan, tanganku bergerak
meraba rambut dan lehernya, Hani melenguh, tangannya
mencari dan mencoba meraih penis yang udah tegang
dibalik celanaku. Tangan kananku kemudian bergerak dari
perutnya kearah pinggul, hani bergeser turun dari
pangkuanku sambil menaikkan pahanya, otomatis dasternya
terangkat. U know what?, ternyata hani gak pake CD.

“mas aku pengen,……….. do it now bisiknya. Segera aku
jilat mecky merah muda yang indah dengan sedikit rambut
namun panjang2 itu, aku basahin dan sibakkan bulu2
halusnya dengan lidahku sambil sesekali menyentuh
clitnya.
‘Ahhhh, ………… mas……. Aku………..pengen, fuck me now’………………….
Tangannya berusaha membuka celanaku dan menggenggam
penisku.
‘Aku risih di sini’ aku berasa gak enak karena masih di
ruang tamu.
“kamar yuk’, katanya berdiri dan mengunci ruang tamu
tempat kami melakukan pemanasan.
‘Siapa takut…… ,dia tersenyum dan berjalan sambil
membuka dasternya, aku ikuti dari belakang, begitu indah
tubuhnya……..mulus bak pualam.

Ruang tidur utamanya berukuran 5x6 m luas dan cukup
mewah. Yang istimewa adalah adanya cermin besar (mungkin
3X2,5 m) di depan bed. Didepan cermin aku peluk Hani
yang dengan cekatan membuka kemeja, celana serta CD-ku,
begitu indah dan menggairahkan. Erotis banget gerakan2
kami dilihat dari cermin itu.

Penisku segera mencuat kencang seakan-akan kegirangan
menemui kebebasannya. Aku puaskan seluruh dahaga-ku,
kami saling meraba dan berciuman. Setelah beberapa saat
saling meraba, Hani menghempaskan tubuh indahnya ke
tempat tidur yang telah menanti. Kuteruskan kegiatanku
yang terhenti tadi, hoping that she’ll understand what I
want. Look’s like she catch what im thinking, Hani
berbalik memposisikan diri pada posisi 69…. dia kulum
penisku, yang segera berkembang, ke ukuran tempurnya
dengan diameter 2,5-3 dan panjang 15-16an -cm.

Ahhh… skarang aku mendesah menikmati kuluman dan hisapan
lembut Hani……… ‘Kamu jago banget ngisep, Han’ kataku
memujinya, sambil tetap menghisap meckynya, yang telah
dibasahi lendir gairah.
Ohh,………… mas……….. ayo………. katanya bangkit dan jongkok
diatas miniature monasku…….
Diraih dan diarahkan penisku ke liang senggamanya,
kemudia dia bergoyang naik turun sambil menggigit
bibirnya. I catch her tiny breast and squeze it slowly,
then after 3 mnts, Hani wants me on her body… tampaknya
hani telah mencapai orgasmenya saat dia
menunggangiku……..

Aku balik badannya dengan posisi penis masih tertanam.
Hani membantu membuka lebar2 gerbang surgawinya.dengan
mengangkat ke 2 pahanya ke atas.
Aku maju mundurkan penisku, dengan ritme 5 kocokan
ringan X 1deep penetrated, ‘Mas…. ,mmmmhhh, ……Deeper…….
Harder……., dia meracau……….
‘Ini udah maksimal kataku’,…..
Hany ketawa ….. sehingga otot2 vaginanya ikut berdenyut
seirama tawa……. ,
aku tarik tubuh hanni ke ujung bed, dan kutekan
dalam-dalam penisku. Hanni berteriak histeris menikmati
gaya permainanku, ke2 tangannya menarik pinggulku
seakan-akan menahan penisku tetap pada posisinya.
Han……. Aku mo sampai………. belum sempat dia menyahut aku
keluarkan spermaku ke rahimnya……….. Sepertinya hanni
juga telah mencapai orgasme nya yang ke 2 saat itu. Kami
bercanda dan bercengkrama di tempat tidur sehabis
pertempuran yang menguras tenaga tadi.
‘tadi kamu kebangetan deh, gue gak bisa nahan ketawa
waktu loe bilang udah maksimal’…….., ‘loe yang
kebangetan’, timpalku udah tau penisku segitu malah
bilang lebih dalem……,gara-gara kamu ketawa aku gak kuat
nahan,…. ……abis meckymu juga ikutan ketawa timpalku…….
‘Hehehehe siapa suruh loe nahan’, katanya. Udah ah,
mandi bareng yok, katanya manja sambil menciumku.

Setelah kejadian itu kami semakin sering ktemu dan ML di
tempat-tempat yang memungkinkan, sampai aku selesaikan
tugas belajarku.