Sunday, May 6, 2007

ISTERI SOHIB

Kejadiannya bermula dari perjumpaan saya dengan seorang
teman SMP saya di sebuah toko elektronik, ketika saya
sedang membeli VCD Player. Pertemuan di toko itu
kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama. Joko,
teman saya itu, bekerja sebagai *** (edited) di salah
satu perusahaan minyak. Karena ia bekerja di bagian
produksi, maka waktunya lebih banyak dihabiskan di
anjungan minyak lepas pantai. Dua minggu di anjungan,
dan satu minggu kemudian ia bekerja di darat. Begitulah
pola jadwal kerjanya. Ia telah 5 tahun menikah tetapi
belum juga dikaruniai anak. Nama isterinya adalah Nina,
bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi
swasta. Pembicaraan di rumah makan tersebut sedemikian
mengasyikkan. Kami banyak mengenang berbagai kejadian
lucu semasa kami di SMP dahulu. Bagaimana kami berusaha
mengintip paha guru-guru wanita, cerita tentang Bibi
Kantin, dan sebagainya. Tidak kami sadari, rupanya rumah
makan itu akan segera tutup. Kemudian Joko mengajak saya
ke rumahnya.

Rumah Joko sudah sepi ketika kami sampai di sana.
Menjawab pertanyaan Joko, pembantu wanita yang
membukakan pintu mengatakan bahwa isteri Joko telah
masuk kamar dari jam sembilan, mungkin sudah tidur
katanya. Sambil duduk di ruang tamu menunggu Joko yang
masuk ke kamarnya, saya mengamati rumah Joko yang cukup
asri ini. Dari foto mereka yang terpajang, saya dapat
melihat dan menilai bahwa isterinya cukup menarik dan
seksi. Ternyata penilaian saya tersebut tidak salah.
Dengan hanya mengenakan daster tanpa lengan dan sedikit
terkantuk-kantuk ia menjulurkan tangannya, "Nina"
katanya. "Bambang", jawabku singkat. Kemudian Nina
mengatakan ia mohon maaf karena mengantuk sekali dan
harus tidur cepat karena ia mendapat jadwal mengajar
pagi keesokan harinya.

Tinggallah saya berdua dengan Joko melanjutkan
perbincangan kami. Sambil berbincang-bincang, kemudian
Joko mencoba VCD yang baru dibelinya. VCD itu sendiri
isinya film yang cukup terkenal (judulnya kalau tidak
salah "Indecent Proposal". Kurang lebih film itu
berkisah tentang tawaran dari seorang pria untuk
memberikan sejumlah besar uang apabila ia diperbolehkan
mengencani isteri pria yang satunya tersebut). Sambil
menonton Joko bertanya, "Kalau kamu bagaimana Bang?",
tanyanya. Aku menjawab, "Enggak tahu deh.., bingung".
Kemudian aku balik bertanya, "Kalau kamu bagaimana Jok?"
Joko mengemukakan bahwa kalau ia menghadapi situasi yang
demikian, maka ia akan menerima tawaran itu. Bahkan ia
kemudian secara terbuka mengungkapkan kepadaku bahwa
terkadang ia suka membayangkan isterinya bersetubuh
dengan orang lain. Ia merasa janggal dengan keadaannya
yang satu ini. Kemudian kami memperbincangkan berbagai
hal lainnya. Menjelang tengah malam, akhirnya saya
pamit, walaupun sebenarnya masih banyak yang ingin kami
perbincangkan.

Dengan kesibukan masing-masing, selama hampir tiga
minggu kami tidak berkomunikasi. Sampai akhirnya di satu
hari Kamis, ia menelepon saya di kantor menjelang jam
pulang kantor. Joko mengajak saya untuk bertemu di salah
satu Cafe di bilangan Kemang. Karena tidak acara,
akhirnya saya menyanggupi ajakan tersebut. Rupanya Joko
ingin membicarakan suatu hal yang agak pribadi, sehingga
ia mengajak saya bertemu di cafe tersebut. Setelah
pembicaraan basa-basi, akhirnya ia mengutarakan maksud
utama mengapa ia mengajak saya bertemu.

"Begini Mbang", kata Joko sebagai pembukaan.
"Sebetulnya saya agak sungkan mengemukakan hal yang akan
saya utarakan ini, karena sifatnya begitu pribadi",
lanjutnya, "Mudah-mudahan kamu tidak terkejut dan tidak
berpikir yang bukan-bukan terhadap saya, setelah
semuanya ini saya ungkapkan padamu" sambung Joko lagi.
"Ada apa sih Jok", tanyaku penasaran.
"Pernah tidak kamu membayangkan isterimu bermesraan
dengan orang lain", tanyanya.
"Pernah", jawabku singkat dan sejujurnya memang
demikian.
"Aku juga", katanya, "Bahkan, aku sangat terangsang
kalau membayangkan isteriku bersetubuh dengan laki-laki
lain" lanjutnya.
"Sebenarnya, secara tidak langsung aku pernah
mengemukakan hal tersebut ketika kita nonton film di
rumahku dulu" lanjutnya lagi, "Bayangan itu, hampir tiap
malam singgah di kepalaku. Dan sepertinya aku tidak
tahan lagi untuk mewujudkannya", kata Joko sambil
meneguk minumannya. "Karena itulah, aku mengajakmu
bertemu. Terus terang Mbang, aku mau minta tolong
padamu. Maukah kamu menyetubuhi isteriku? Aku ingin
melihat kamu menyetubuhi isteriku", katanya malu-malu.
Walaupun sebenarnya aku juga sudah menduga-duga
kemungkinan akan hal itu, tetapi aku tetap tertegun
mendengar ungkapan Joko tersebut.
"Maaf ya Mbang, kalau permintaanku itu kurang nikmat
buat kamu", kata Joko melihat aku diam saja.

"Terus terang Jok, aku kaget dan agak bingung. Walaupun
masih ada beberapa pertanyaan di benakku, tapi aku dapat
memahami keinginanmu itu. Yang benar-benar membuatku
bingung..., kenapa aku yang kamu pilih untuk menyetubuhi
isterimu?", tanyaku.
"Ada beberapa alasan", jawab Joko. "Pertama, aku sudah
cukup mengenal kamu, yang artinya kamu aku nilai tidak
akan sembarangan membocorkan rahasia ini kepada orang
lain. Kedua, walaupun kita kenal sudah cukup lama, tapi
kita kan tidak sering berhubungan. Aku pikir keadaan itu
dapat mengurangi resiko timbulnya berbagai masalah yang
lebih besar kemungkinannya timbul kalau yang menyetubuhi
isteriku adalah orang yang bergaul sehari-hari dengan
kami", lanjut Joko.
"Maksudmu bagaimana Jok, aku agak kurang jelas?",
tanyaku.
"Begini, seumpamanya yang menyetubuhi isteriku itu
tetanggaku atau teman kantorku, kan kejadian itu dapat
menimbulkan situasi hubungan yang baru di antara kami.
Misalnya, jadi salah tingkah dalam berhubungan. Dan jika
hal itu terjadi, akan lebih besar pengaruhnya
dibandingkan jika dengan kamu. Karena, hampir tiap hari
kan aku ketemu mereka." kata Joko menjelaskan.
"Kalau begitu, ada kemungkinan dong hubungan kita
menjadi renggang?", tanyaku lebih jauh.
"Itu kan cuma permisalan saja", kata Joko.
"Tapi kan aku harus tetap memperhitungkannya", kata Joko
lagi.
"Pertimbangan lainnya", tanyaku lagi.
"Terus terang Mbang, biar bagaimana juga kan aku harus
pilih-pilih. Aku tidak mau dong orang sembarangan yang
menyetubuhi isteriku. Tampang dan kondisi
sosial-ekonomi, setidaknya selevel denganku", kata Joko.
"Kalau orang sembarangan, isteriku juga belum tentu
mau", lanjut Joko lagi.
"Memangnya hal ini sudah kamu bicarakan dengan
isterimu?", tanyaku sambil meneguk Coca Cola yang ada di
hadapanku.
Kemudian Joko mengatakan, "Sudah tahunan Mbang aku
mengungkapkan keinginanku ini ke Nina. Tapi dia selalu
menolaknya. Ide gila katanya. Baru beberapa bulan yang
lalu sikapnya agak melunak, karena kayaknya dia mulai
takut aku ceraikan karena tidak punya anak. Tapi, sampai
saat ini keinginanku itu belum terpenuhi. Kami belum
menemukan orang yang benar-benar cocok dengan keinginan
kami. Kadang aku yang tidak cocok, kadang dia yang tidak
menyenangi orang yang aku usulkan. Ada juga yang
alternatif orang yang kami berdua kurang cocok".
"Memangnya kalau aku, isterimu sudah setuju?", potongku.
Joko menjawab "Aku sudah pernah membicarakan kamu
sebagai alternatif kepada Nina, dan responsnya menurutku
lebih baik dibandingkan dengan calon-calon sebelumnya".
"Apa komentar Nina tentangku", tanyaku lagi.
"Nina bilang kamu 'boleh juga', dan seperti penilaianku,
Nina juga menilai kamu cukup dikenal olehku, namun kita
tidak terlalu dekat dan tidak terlalu sering berhubungan
dengan kami", jawab Joko. Setelah menanyakan beberapa
hal lainnya, kemudian aku mengatakan kepada Joko bahwa
aku masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Alasan utama
yang aku utarakan adalah bahwa aku belum pernah
melakukan hal tersebut. Kemudian setelah kami
berbincang-bincang tentang berbagai hal lainnya, kami
akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Pada malam saat aku berbicara dengan Joko di cafe
tersebut, aku sebenarnya sudah ingin memberikan jawaban
bersedia. Selain memang mungkin benar bahwa pria
memiliki kecenderungan untuk tidak puas dengan satu
wanita saja, juga didukung oleh situasi dimana satu
bulan terakhir ini isteriku sudah tidak mau diajak
bersetubuh karena usia kandungannya yang sudah tua.
Faktor kebat-kebit sehubungan dengan hasratku terhadap
mertuaku, juga semakin menggelitik kebutuhan seksku.
Satu-satunya hal yang menunda persetujuanku adalah
kekhawatiran akan resiko dari memenuhi permintaan itu.
Pertama, terus terang aku takut affair tersebut akan
diketahui orang dan akhirnya sampai ke telinga
keluargaku atau keluarga isteriku. Kedua, aku khawatir
kalau Joko meminta imbalan sebaliknya. Artinya, ia juga
ingin menyetubuhi isteriku. Aku khawatir kalau ia
meminta hal ini, aku tidak dapat memenuhinya. Isteriku
kemungkinan besar akan menolak ide itu, aku sendiripun
masih bertanya-tanya apakah aku mau membiarkan isteriku
disetubuhi orang lain. Walaupun aku terkadang
memfantasikannya, kan tetap ada beda antara fantasi
dengan realita.

Setelah aku timbang-timbang kurang lebih selama
seminggu, dan setelah memperoleh konfirmasi dari Joko
bahwa ia tidak bermaksud untuk meminta imbalan
menyetubuhi isteriku, akhirnya aku memutuskan untuk
memenuhi tawaran dari Joko tersebut. Kemudian, melalui
telepon aku memberitahu Joko, dan langsung saat itu juga
kami membuat janji untuk bertemu di rumah Joko pada hari
Jumat malam.

Dengan alasan ingin bertemu dengan teman lama, setelah
mandi dan sempat bermasturbasi di kamar mandi, aku pamit
pada isteriku dan berangkat ke rumah Joko. Makan malam
di rumah Joko berlangsung agak kaku. Hanya Joko saja
yang banyak berbicara dan berusaha menghangatkan
suasana. Aku hanya mengiyakan atau menjawab singkat
pertanyaan-pertanyaan Joko. Sementara itu, Nina lebih
banyak menundukkan kepala dan terlihat agak jengah
ketika bertemu pandang denganku. Yang ada di kepalaku
saat itu, adalah bayangan bahwa sebentar lagi aku akan
memesrai wanita ini. Beberapa kali aku sempat mencuri
pandang ke arah Nina dengan agak menjelajahi tubuhnya.
Khususnya, ketika ia berdiri dan berjalan mengambil buah
untuk penutup makan malam itu.

Sehabis makan, ketika Nina membereskan meja makan, Joko
dan saya duduk-duduk di ruang keluarga. Beberapa saat
kemudian Nina masuk ke ruang keluarga itu, duduk di
salah satu sofa tunggal di ruang itu. Ia duduk dengan
kedua tangan menyatu dan diselipkan di antara kedua
kakinya. Terkesan sangat gugup, canggung dan agak
ketakutan. Suasana terasa sangat kaku, walaupun beberapa
kali Joko berusaha melucu. Tatapan kami lebih sering ke
arah televisi, tapi aku yakin kalau pikiran kami bukan
ke acara di televisi tersebut. Suatu saat Joko berdiri
dan kemudian menarik tangan Nina untuk bangun dari sofa
yang di dudukinya. "Ada apa Mas?" tanya Nina keheranan.
Tanpa menjawab, Joko kemudian menuntun Nina ke arahku
yang duduk di sofa panjang, lalu mendudukkan Nina di
sampingku. "Apa-apaan sih" kata Nina sambil terduduk.
Situasinya semakin menjadi tidak enak dan semakin
canggung.
"Kayaknya kamu terlalu maksa deh Jok" kataku kepada
Joko. Nina diam saja dengan wajah memerah, campuran rasa
malu dan canggung.
"Sorry deh, Mungkin lebih baik kalian berdua saja dulu
untuk lebih akrab. Aku ke teras depan dulu ya..", kata
Joko sambil berjalan meninggalkan kami.
"Kita batalin saja Nin, kalau kamu memang tidak mau",
kataku kepada Nina sambil mengarahkan pandangan ke
televisi lagi.
"Nggak apa-apa kok..., saya memang sudah menyanggupi hal
ini pada Mas Joko. Cuma aku bingung saja aku harus
bagaimana", jawab Nina. Kemudian aku memandang wajah
Nina, terlihat pipinya memerah kembali.
"Aku juga bingung, belum pengalaman sih", jawabku sambil
memberanikan diri memegang tangan Nina. Ia diam saja,
dan membiarkan tangannya kuelus-elus. Detak jantungku
maupun jantung Nina, semakin mengeras sejalan dengan
kegugupan kami masing-masing.

Kemudian aku menyandarkan lenganku ke bahunya, terasa
hangat namun tetap gugup. Kemudian kuusap-usap
rambutnya, turun ke leher, ke rambut lagi. Bolak-balik
begitu. Suasana terasa lebih rileks, dan kemudian Nina
menyandarkan kepalanya ke punggung tangan kiriku yang
ada di bahu kirinya. Kemudian tangan kanannya menarik
tangan kananku dan meletakkan di telapak tangan kirinya,
sambil tangan kanannya mengelus-elus punggung tangan
kananku. Saat itu, bagi kami, terasa lebih mudah
melakukan gerakan-gerakan dibandingkan dengan berbicara.

Setelah beberapa saat, kemudian aku menarik kedua
tanganku, dan duduk menghadap Nina sambil memegang kedua
pipinya dengan tanganku. Sesaat kami berpandangan,
tetapi kemudian Nina menutup kedua matanya. Secara
naluriah kemudian kucium bibir Nina. Untuk sesaat,
terasa bibir Nina agak menutup rapat, tapi kemudian
lama-lama melemah dan membuka. Kukulum bibirnya dengan
lembut. Lalu kujepit bibir bawahnya dengan kedua
bibirku, sambil kubelai bibir bawahnya itu dengan
lidahku. Kemudian kukulum lagi lidahnya, terasa mulai
ada respon dari Nina. Ia mulai aktif membalas ciuman dan
kulumanku. Secara refleks, tanganku mulai membelai-belai
payudaranya, dan sesekali meremas dengan lembut.
Kemudian Nina melenguh, dan melepaskan bibirnya dari
bibirku dengan napas terengah-engah. Matanya terbuka dan
kemudian bibirnya tersenyum, akupun tersenyum sambil
memandangnya. "Aku belum pernah dicium dengan cara tadi
dan belum pernah ciuman selama itu", kata Nina kepadaku.
Aku diam saja sambil terus membelai payudara Nina.
Dengan gerakan memutar, aku mengelus daerah puting
payudaranya. Secara perlahan, aku dapat merasakan bahwa
putingnya makin lama makin menonjol. Tanpa berkata-kata,
kupeluk erat Nina, dan kemudian kucium lagi.

"Nah begitu dong...", kata Joko yang tanpa kami sadari
sudah berada di dekat kami. Nina dan aku sama-sama
terkejut dan agak terlonjak mendengar suara Joko. Tubuh
kami pun menjadi agak merenggang.
"Ngaget-ngagetin saja kamu Jok" kataku sambil merasa
agak malu dan sedikit terganggu, karena situasi tadi
sempat membuaiku.
"Sorry deh.., kita ke kamar saja yuk", kata Joko.
Kemudian kami bertiga masuk ke salah satu kamar.
Perkiraanku, kamar ini bukanlah kamar mereka, karena
terlihat agak kosong. Boleh jadi kamar ini adalah kamar
untuk tamu.

Di kamar Joko langsung duduk di kursi meja rias dan
berkata, "Terusin deh yang tadi..., kaya'nya kalian
sudah mulai hot". Namun kecanggungan kembali merajai
situasi di ruangan. Boleh jadi, keberadaan Joko
menyebabkan kami menjadi canggung. Nina hanya duduk diam
di salah satu sisi tempat tidur. Di sisi lainnya aku
juga duduk terdiam. Namun kemudian aku berkata, "Rasanya
canggung Jok ada kamu di sini".

Menyadari situasi, kemudian Joko mengatakan bahwa ia
akan keluar dulu dari kamar itu, sementara kami mencoba
untuk memadu kemesraan. Setelah Joko keluar kamar, baru
terasa bahwa situasi menjadi lebih rileks dan
menyenangkan. Aku kemudian tersenyum, sambil berjalan ke
arah Nina. Nina membalas senyumanku itu sambil
merentangkan tangannya dan memelukku ketika aku sampai
di hadapannya. Sambil duduk kami terus berpelukan dan
berciuman, sambil meraba-raba satu sama lainnya. Secara
tidak sadar posisi kami sudah setengah berbaring. Kakiku
dan kaki Nina masih terjuntai ke lantai, tapi aku sudah
dalam posisi menindih Nina. Kuciumi payudara Nina, ia
mulai menggeliat-menggeliat sambil terkadang menarik
nafas panjang. Nafasnyapun terdengar semakin berat.
Kubuka kancing-kancing baju Nina, dan terlihatlah BH-nya
yang berwarna coklat muda. Kusingkapkan BH sebelah kanan
agak ke atas dan tersembullah buah dada Nina yang cukup
besar itu. Putingnya tidak terlalu besar tetapi sudah
cukup menonjol. Tampaknya ia sudah mulai terangsang.
Segera kuciumi payudaranya dan kumainkan putingnya
dengan bibir dan lidahku, kadang-kadang kusedot puting
payudaranya. "Oooohh...", lenguh Nina, satu saat ketika
putingnya kusedot.

Setelah cukup lama bermain-main dengan payudaranya,
kemudian ciumanku mulai turun ke arah perutnya. Nina
menggeliat kegelian. "Geli Mas" katanya. Seakan-akan
sudah janjian, kami kemudian merenggangkan tubuh kami
dan sama-sama bangkit duduk, sambil melepas pakaian
masing-masing, sehingga tinggal celana dalam kami
masing-masing saja yang masih melekat di tubuh kami.
Kemudian, kubaringkan Nina, dan kuciumi bagian dalam
pahanya, sambil menarik celana dalamnya ke bawah, sampai
akhir terlepas. Bulu-bulu di kemaluan Nina cukup lebat,
tapi garis kemaluannya masih cukup jelas terlihat.

Kemudian, kubuka celana dalamku sendiri, sehingga
akhirnya kami sama-sama telanjang bulat. Kulihat Nina
agak tertegun melihat kemaluanku. "Kenapa Nin?",
tanyaku. "Tidak apa-apa", jawabnya. Kemudian kutindih
kembali Nina dan kuciumi leher dan kupingnya. Kembali
terdengar lenguhan-lenguhan Nina. Agak berbeda dengan
isteriku yang tidak banyak mengeluarkan bunyi kalau kami
sedang bermesraan, Nina cukup banyak mengeluarkan bunyi,
entah itu lenguhan "Oooohh" atau "eeggghh" atau "heegg",
dan beberapa bunyi lain yang tidak dapat aku ingat.
Kemaluanku yang mulai membesar dan mengeras menempel di
pahanya. Mungkin tanpa disadari, tangan Nina
bergerak-gerak seakan mencari kemaluanku. Kuangkat
sedikit pinggulku sehingga tangan Nina dapat menyelinap
ke sela-sela badan kami dan akhirnya menyentuh
kemaluanku. Dengan lembut kemaluanku digenggamnya dan
digeser-geserkan ke selangkangannya. Nikmat rasanya,
walaupun hanya bergesekan saja. Setelah cukup tegang,
Nina melepaskan genggamannya pada kemaluanku dan kedua
tangannya mulai mengusap-usap punggungku sambil
terkadang memeluk erat tubuhku yang ada di atas
tubuhnya.

Tiba-tiba ada seberkas cahaya tambahan terlihat. Kami
sama-sama menoleh ke arah pintu dan melihat Joko berdiri
di ambang pintu sedang memandang kami. Joko tertegun dan
kemudian menganggukkan kepalanya. Aku tidak tahu apa
maksud dari anggukan kepalanya. Hanya aku sempat kesal
dan berpikir, "waduh ini orang, selalu tidak sabaran dan
menggangu saja". Berusaha mengabaikan keberadan Joko,
kugesekkan terus kemaluanku di selangkangan Nina, yang
rasanya mulai membasah. Khawatir "turun" lagi situasi
yang sudah panas ini, kupegang kemaluanku dan mencoba
mengarahkannya ke lubang keramat Nina. Dengan sedikit
dorongan ekstra, akhirnya kemaluanku berhasil menembus
lubang kemaluan Nina. Pada dorongan pertama hanya
kepalanya saja yang masuk. Terasa hangat dan empuk
kemaluan Nina. Ketika kumasukkan, Nina mengeluh,
"aduuhh...". Kutarik dan kemudian kumasukkan lagi
kemaluanku, hasilnya lebih dalam dari yang pertama.

Pada genjotan kelima, bersamaan dengan masuknya seluruh
batang kemaluanku ke lubang kemaluan Nina, Nina kembali
mengeluh, "Aduuhh sakit Mas...", katanya. Kudiamkan
sebentar kemaluanku di dalam kemaluan Nina. Kemudian
kadang-kadang kutegangkan kemaluanku yang masih di dalam
kemaluan Nina dengan sedikit mengencangkan otot-otot
selangkanganku. Secara halus kurasakan kadang-kadang
kemaluan Nina berespon, dengan gerakan menyempit
kemudian normal dan menyempit lagi. Tatkala kutatap
wajah Nina yang tersenyum kecil, aku baru sadar bahwa ia
memang sengaja membalas gerakanku menegangkan kemaluanku
tersebut dengan gerakan vaginanya. Beberapa lama kami
berkomunikasi dengan kemaluanku, tanpa Joko dapat
melihatnya. Tetapi kemudian aku tidak tahan lagi. Segera
kugenjot lagi pinggulku, kira-kira pada genjotan yang ke
sepuluh, aku tidak tahan lagi dan akhirnya memuncratkan
air maniku di dalam kemaluan Nina. Entah karena sensasi
pengalaman baru, entah karena munculnya Joko, entah
karena sudah cukup lama aku tidak bersetubuh, yang
menyebabkan aku ejakulasi lebih cepat dari biasanya.
Yang jelas aku terbaring di atas tubuh Nina dan
mebisikkan ke telinga Nina, "Terima kasih Nin. Punyamu
sempit dan nikmat sekali". Nina diam saja. Setelah
beberapa lama dalam posisi itu, kemudian Nina berkata,
"Sesak nafasku Mas, badanmu berat". Aku tahu diri dan
kemudian menggeser badanku ke samping dan berbaring
tertelentang menikmati pengalaman yang baru kurasakan.

Nina bangkit berdiri dan menutupi tubuhnya dengan
bajunya sambil berjalan ke luar.
"Mau ke mana Nin", tanya Joko ketika Nina lewat di
hadapannya.
"Ke kamar mandi", jawab Nina singkat sambil terus keluar
kamar. Menyadari Joko masih berada di pintu kamar itu,
aku segera bangkit dan mengenakan pakaianku.
"Kok sebentar?", tanya Joko.
"Aku sudah lama tidak begituan Jok", jawabku sambil
memakai celana panjangku.
"Aku belum sempat melihat banyak lho", kata Joko.
"Mau nggak main sekali lagi?", tanya Joko.
Aku terdiam sesaat dan kemudian menjawab, "Untuk kali
ini kayaknya cukup Jok", kataku, "Kalau pulangnya
kemalaman, nanti isteriku bisa curiga" lanjutku lagi.

Kemudian kami keluar kamar meuju ruang keluarga lagi. Di
ruang keluarga, aku dan Joko mendiskusikan pengalaman
yang baru terjadi. Joko mengatakan bahwa pengalaman itu
sangat merangsang dirinya. Aku mengungkapkan secara
terbuka bahwa keberadaan Joko sedikit-banyak menghambat
situasi panas yang sedang meningkat. Akhirnya, aku
mengungkapkan bahwa aku mau pulang. Joko kemudian
memanggil Nina, yang ternyata masih berada di kamar
mandi yang ada di dalam kamar mereka.
"Lama amat sih...", kata Joko menyambut Nina yang keluar
dari kamar.
"Maaf", kata Nina singkat.
"Aku pulang ya Nin", kataku.
"Iya Mas...", kata Nina tersipu malu. Sambil pulang,
terbayang kembali kejadian-kejadian yang baru aku alami.
Dan sesampainya di rumah, aku sempat bermasturbasi di
kamar mandi, sebelum akhirnya berbaring di samping
isteriku yang telah tertidur lelap.

Pada hari Seninnya, Nina meneleponku di kantor. Nina
menceritakan bahwa Joko agak marah pada dirinya, karena
persetubuhan antara Nina dengan aku hanya berlangsung
sebentar saja. Menurut Joko, Nina kurang melayani aku
dengan baik. Pendek kata, Joko tidak puas dan ingin
mengulangi lagi. Aku bilang pada Nina bahwa aku bersedia
lagi, jika Joko meminta lagi padaku. Kemudian secara
bergurau Nina berkata, "Kalau aku yang minta bagaimana
Mas Bambang..?".
"Maksudmu?", tanyaku.
"Iya..., tadi kan Mas Bambang bilang bahwa kalau Mas
Bambang bersedia bermesraan lagi denganku kalau Mas Joko
meminta lagi pada Mas Bambang. Nah ..., maksudku kalau
aku yang minta ke Mas Bambang bagaimana?".
"Siapa yang takut" jawabku. Sudah hilang rupanya
kecanggungan Nina kepadaku. Boleh jadi hal tersebut
disebabkan karena kami sudah pernah melakukan hubungan
intim sebagaimana layaknya suami-istri.

"Emangnya kamu serius Nin, ingin lagi bermesraan
denganku", kataku lirih takut ada yang dengar.
"Serius Mas, aku ingin mencoba tanpa ada Mas Joko.
Rasanya, keberadaan dia mengganggu moodku. Waktu itu,
kan sebenarnya aku sudah pengin banget, tapi pas Mas
Joko masuk, aku jadi agak terhambat deh. Mas Bambang
merasakan tidak sih waktu si 'adek', aku pijit-pijit
pakai kemaluanku?".
"Terasa kok Nin, aku baru sadar waktu aku menatapmu",
jawabku.
"Waktu itu, sebenarnya aku sudah ingin banget dipuaskan.
Tapi sengaja, aku bilang bahwa aku merasa sakit.
Soalnya, aku takut Mas Joko cemburu karena aku jadinya
juga menginginkan persetubuhan dengan Mas. Padahal kan
Mas Bambang bisa merasakan sendiri bahwa saat itu kan
aku sudah basah banget di bawah sana", kata Nina.
"Iya Nin, waktu itu aku agak bingung. Kamu sudah basah,
tapi kok masih bilang sakit", kataku.
"Pada awalnya memang agak sakit sih Mas.., soalnya
punyamu lebih besar daripada punyanya Mas Joko. Tapi,
habis itu rasanya nikmat sekali. Padat rasanya punyaku
dan terasa punyamu menggesek seluruh dinding
kemaluanku", sambung Nina.
"Nah, pas Mas sudah keluar, aku kan buru-buru pergi ke
kamar mandi dan agak lama di sana. Waktu itu, di kamar
mandi aku menuntaskan apa yang belum Mas tuntaskan",
kata Nina lagi.
"Sorry deh Nin, abis waktu itu rasanya nikmat banget dan
aku sudah lama tidak melakukan hubungan intim dengan
isteriku", kataku.

"Mengenai permintaanku tadi bagaimana Mas?", tanya Nina.
"Bagaimana caranya dong, kita bisa berhubungan tanpa
sepengetahuan Joko?", tanyaku.
"Begini Mas, kebetulan aku minggu depan ditugaskan ke
Bandung sendirian. Mas bisa menemui aku di Bandung kalau
mau", kata Nina. Akhirnya kami membuat janji untuk
bertemu di Bandung. Setibanya di Bandung, nanti Nina
akan menghubungiku via handphone untuk memberitahukan ia
menginap di mana dan di kamar berapa.

Minggu depannya, setelah menerima telepon dari Nina, jam
9 malam kutekan bel pintu kamarnya di hotel. Dengan
hanya mengenakan daster dan rambut terikat ke atas Nina
membuka pintu kamarnya. Bagaikan sepasang kekasih yang
sudah lama tidak bertemu, kami langsung berpelukan dan
berciuman segera setelah pintu kamar ditutup. Kutekan
tubuh Nina ke dinding, dan kugerayangi tubuhnya dengan
tetap tidak melepaskan ciuman kami. Karena tidak tahan,
segera kubopong Nina ke tempat tidur dan kemudian
kutindih dia dan terus kumesrai.

"Mas..., Mas..., stop dulu dong...", pinta Nina
tersengal-sengal.
"Kenapa Nin?", tanyaku.
"Mas ini ahh..., baru datang langsung ganas saja. Minum
dulu kek atau lepas sepatu dulu kek", kata Nina sambil
bangkit lalu bersimpuh dihadapanku yang duduk di tempat
tidur. Nina kemudian dengan lembut membuka sepatu dan
kaus kakiku. Kemudian ia mengambilkan sandal kamar yang
disediakan oleh hotel dan memasangkannya ke kakiku. Aku
tersentuh dengan perlakuan Nina tersebut. Aku belum
pernah diperlakukan demikian oleh isteriku.

"Aku ambilkan minum dulu ya", kata Nina seraya berjalan
ke arah kulkas. Kemudian aku pindah duduk di kursi yang
ada di kamar itu. Nina meletakkan jus jeruk di meja
sambil mencubit tanganku dengan genit. Kurengkuh tubuh
Nina, tapi dia mengelak dan duduk di depan meja rias.
Kuteguk minuman yang disediakan Nina, sambil memandangi
Nina yang sedang menyisir rambutnya yang berantakan
karena serbuanku tadi.

Setelah membuka kran bath tub, kemudian Nina mengikat
kembali rambutnya di depan kaca di kamar mandi tersebut.
Kupeluk tubuhnya dari belakang. Kuraba-raba kedua
payudaranya dari belakang, terkadang kuremas lembut.
Sementara tangan kiriku tetap di dadanya, tangan kananku
turun merambat hingga di selangkangannya, kuusap-usap
daerah kemaluannya, diselingi dengan tekanan-tekanan
lembut berputar. Nina mulai mendesah-desah, tubuhnya
mulai menggeliat-geliat. Mendapat respon demikian, aku
menjadi semakin semangat. Kemudian dengan ganas kucium
tengkuknya, kadang-kadang menggeser ke sekitar
telinganya. Desahan dan geliatan Nina semakin
menjadi-jadi. Aku makin bertambah semangat lagi, dan
tanpa kusadari remasan tanganku baik pada payudaranya
maupun selangkangannya semakin menggebu-gebu. Aku tidak
tahan lagi dan kukatakan pada Nina, "Nin..., aku masukin
ya sebelum kita mandi". Nina mengangguk perlahan.

Dengan cepat kulepaskan baju dan celanaku serta celana
dalamku. Habis itu, kusingkap daster Nina ke atas, dan
kutarik celana dalamnya ke bawah. Lalu kutempelkan
kemaluanku yang dari tempat tidur tadi sudah tegang ke
belahan pantatnya, sehingga menyentuh bibir kemaluannya.
Dengan gerakan pelan kugesekkan kemaluanku ke
selangkangan Nina. Terasa hangat dan lembut. Pada posisi
ini, walaupun belum masuk ke vaginanya, aku sudah
merasakan jepitan pada kemaluanku. Mungkin itu jepitan
pahanya, tetapi mungkin juga jepitan dari bibir
kemaluannya. Sementara itu, kedua payudara Nina terus
kuremas-remas. Kulirik ke kaca di depan kami, kepala
Nina hanya tertunduk saja, aku tidak dapat melihat
wajahnya. Sesekali kulihat kepalanya menggeleng ke kiri
dan ke kanan. Sesekali terdengar rintihannya, "Massss,
shh, shh, aduhh, ahh...".

Setelah kurasakan kemaluan Nina sudah mulai cukup basah,
kupegang kemaluanku dan kuarahkan ke vagina Nina. Secara
perlahan saya dorong kemaluan saya memasuki kemaluan
Nina. "Aaawww..., asshh", jerit Nina perlahan ketika
kepala kemaluan saya mulai masuk. Kutarik sedikit dan
kemudian kutekan lagi sehingga hampir seluruh kemaluanku
masuk ke kemaluan Nina. Setelah kudiamkan sebentar,
kemudian aku mulai menggerakkan kemaluanku maju mundur
ke kemaluan Tina.

Desahan dan erangan Nina semakin sering terdengar.
Ketika kepala Nina mendongak ke belakang ke arahku,
kulirik kaca di depan kami, terlihat wajah Nina memerah
dengan mata terpejam. Suatu pemandangan yang sangat
merangsang. Kuteruskan gerakan-gerakanku dan karena
nikmatnya, aku tidak tahan lagi dan akhirnya dengan
jeritan tertahan kumuntahkan air maniku di dalam
kemaluan Nina. Nina menggeliat-geliat resah karena
setelah ejakulasi, gerakanku menjadi terhenti.
"Mass.., aku belum nih..., rasanya menggantung...", kata
Nina seakan-akan protes dengan apa yang baru saja
terjadi.
"Maaf deh Nin..., nikmat banget sih", kataku.
"Sini aku bantuin supaya kamu tuntas", sambungku lagi
sambil menarik tubuh Nina ke arah bathtub.

Kemudian kami berdua masuk ke dalam bath tub dalam
posisi aku duduk di belakang Nina. Tangan kiriku mulai
kembali meraba-raba payudara Nina, sedangkan tangan
kananku berputar-putar menggerayangi kemaluannya di
dalam air. "Shh oohh.., ahh!", kembali terdengar
bunyi-bunyian dari mulut Nina. Secara perlahan, tubuh
kami mulai setengah terbaring, dengan posisi tubuhku
bersandar pada ujung bathtub, sedangkan tubuh Nina
bersandar di tubuhku. Mulutku juga aktif menciumi leher
dan telinga Nina.

Setelah beberapa lama kemudian kurasakan tubuh Nina
mulai menegang dan tanganku mulai terjepit agak keras
oleh kedua pangkal pahanya. Kuteruskan
gerakan-gerakanku, sampai akhirnya kudengar jeritan
tertahan, "Mass, ahh...", disertai dengan jepitan yang
sangat keras pada tangan kananku. Aku menduga bahwa Nina
sedang mencapai orgasme, dan ternyata memang benar.
Secara perlahan-lahan tubuh Nina yang tadinya sangat
tegang mulai mengendur dan rileks di pelukanku. "Ma
kasih ya Mas", kata Nina singkat. Sejenak kami terdiam,
dan setelah beberapa lama kemudian kami mulai mandi,
dengan saling menggosok tubuh kami satu sama lainnya.

Setelah mandi, sambil berbaring berpelukan di tempat
tidur, kami membicarakan beberapa hal. Nina banyak
bercerita tentang hubungannya dengan Joko. Setelah
beberapa lama kemudian kembali kami memadu nafsu kami di
ranjang hotel yang sempit itu, sampai akhirnya kami
tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Keesokan
paginya, sebelum aku kembali ke Jakarta, kami sempat
berhubungan sekali lagi. Nina mengemukakan bahwa ada
satu pengalaman baru yang ia alami selama dua hari kami
berhubungan, yakni untuk pertama kalinya ia merasakan
nikmatnya kemaluannya diciumi. Menurut Nina, Joko tidak
pernah mau menciumi kemaluannya, tapi sering meminta
Nina untuk menciumi kemaluan Joko.

Seminggu setelah kejadian di Bandung tersebut, Joko
menelepon dan meminta kesediaanku untuk mencoba lagi
berhubungan dengan Nina. Seakan belum terjadi apa-apa,
aku mensyaratkan kepada Joko agar aku mencoba dulu
berhubungan dengan Nina tanpa dia di sekitar kami.
Dengan agak berat hati, Joko menyetujui syaratku itu.
Belum tahu saja dia bahwa aku dengan Nina sudah cukup
akrab, bahkan sejak pulang dari Bandung, hampir tiap
hari kami berhubungan melalui telepon.

Pada hari yang telah kami sepakati, Joko pamit ingin
jalan-jalan setelah kami selesai makan malam di rumah
Joko. Sepeninggal Joko, Nina menghambur ke pelukanku
seraya mengungkapkan bahwa ia kangen sekali,
sampai-sampai hampir tiap hari ia bermasturbasi sambil
mengingat-ingat kejadian di Bandung. Kugendong tubuh
Nina ke kamar di mana kami untuk pertama kalinya
bersetubuh.

Sesampainya di kamar itu, kubaringkan tubuh Nina di
tempat tidur dengan langsung menindih, menciumi dan
meraba-raba tubuhnya. Setelah beberapa saat, tiba-tiba
meronta-ronta dan kemudian bangkit duduk. Belum hilang
rasa terkejut dan bingungku, tiba-tiba lagi kemudian
Nina mendorong tubuhku hingga terbaring dan dengan cepat
membuka kancing bajuku dan kemudian melepaskan celana
panjang dan celana dalamku. Setelah itu ia dengan
agresif mulai menciumiku. Mulai bibir, kuping, merembet
ke leher dan dada. Bahkan Nina cukup lama menciumi dan
mengulum putingku.

Dari dada, ciuman Nina merambat ke perut dan kemudian ke
pangkal paha. Berbeda dari perkiraan dan harapanku, dari
pangkal paha, ciuman Nina tidak menyentuh kemaluanku.
Padahal aku ingin sekali agar kemaluanku dicium atau
setidak-tidaknya diraba oleh Nina. Ketika ciuman Nina
mulai turun, aku sebenarnya secara tidak sadar sudah
menarik kepala Nina agar berada tepat di tengah
selangkanganku. Tetapi, tampaknya Nina tidak memenuhi
keinginanku itu. Bibir dan lidah Nina terus merembet ke
bawah, ke bagian dalam dari paha kananku sampai ke
dengkul, termasuk ke bagian belakang dari dengkul. Di
bagian belakang dengkul ini, kurasakan lidah Nina
menyapu-nyapu. Nikmat dan menggoda rasanya, karena
sebelumnya saya belum pernah merasakan hal itu. Saya
hanya dapat mendesah dan menahan napas saja.

Dari dengkul kanan, Nina pindah ke dengkul kiri, dengan
melakukan hal yang sama. Secara perlahan kemudian
merambat ke atas, ke bagian dalam paha kiriku, kemudian
ke pangkal paha.
"Nin..., Ayo dong", pintaku. Nina rupanya memang sengaja
ingin menggodaku. Agak berlama-lama ia menciumi pangkal
pahaku, dan bahkan kemudian turun lagi ke bawah.
"Nin..., Please..", pintaku lagi. Nina tidak juga segera
memenuhi permintaanku, tetapi ia kemudian mulai menciumi
bagian bawah kantung kemaluanku. Lumayanlah.., Batinku
dalam hati. Dan akhirnya, Nina mulai menciumi kemaluanku
dari samping, baik kiri maupun kanan, tetapi kepala
kemaluanku belum dijamahnya.

Akhirnya, dengan sentakan yang cukup keras, kutarik
kepala Nina hingga mulutnya menyentuh kepala kemaluanku.
Mulailah ia mencium, menghisap dan menyedot kemaluanku
hingga pada akhirnya kemaluanku memuncratkan isinya. Aku
agak terkejut sekaligus terharu ketika Nina, menampung
air maniku di mulutnya, bahkan menelannya. Jangankan
menelan, untuk sekedar menciumi kemaluanku saja,
isteriku sangat jarang. Hitungannya masih bisa dihitung
dengan jumlah jari dalam satu tangan. Jijik dan tidak
pantas kata isteriku. Terus terang, aku merasa
tersanjung waktu Nina menelan air maniku.

"Tadi kamu ngeledek aku ya Nin..", kataku.
"Orang sudah pengen banget..., eh malah turun ke dengkul
lagi", lanjutku lagi.
Nina tertawa kecil dan kemudian berkata, "Tapi nikmat
kan...", dengan yakin.
"Enak baanget..", jawabku.
"Kamu tidak jijik Nin menelan maniku?", lanjutku
bertanya.
"Biasanya sih iya", kata Nina, "tapi tadi aku tidak
sadar dan tidak merasa jijik, malah aku juga ikut
menikmatinya sepenuh hati" kata Nina.

Dalam hati aku membenarkan perkataan Nina. Ketika
dimesrai Nina tadi, aku merasakan pelayanan dan
penyerahan yang total dari Nina, bahkan tidak
mempedulikan badanku yang belum mandi, karena tadi aku
langsung dari kantor ke tempat ini. Suatu ketotalan yang
bahkan rasanya belum pernah aku dapatkan dalam
berhubungan dengan isteriku.
"Biasanya aku menolak jika Mas Joko mau mengeluarkan
maninya di mulutku, apalagi menelannya", sambung Nina di
tengah lamunanku.
"Ma kasih ya Nin", kataku sambil mengelus-elus tubuhnya.
"Aku juga Mas", kata Nina, "Anggap saja itu sebagai
imbalan dari pengalaman baru yang Mas berikan di Bandung
waktu itu" kata Nina.
"Yang mana Nin?", tanyaku sambil sekali-kali memberikan
kecupan ringan di pipi dan kupingnya.
"Itu lho, yang punyaku Mas ciumin. Itu kan juga
sebelumnya aku tidak pernah mengalaminya", jawab Nina
sambil membalas elusanku, dengan mengelus-elus dadaku.

Kecupan-kecupan ringan terus kulakukan di wajah dan
kuping Nina. Bahkan aku mulai merembet turun ke leher,
dada, perut dan akhirnya kubalas apa yang Nina lakukan
padaku. Ketika aku menciumi kemaluannya, Nina
membalikkan arah tubuhnya, sehingga kami bisa saling
meciumi kemaluan satu sama lainnya. Kadang-kadang Nina
berhenti mencium, ia hanya menggerak-gerakkan
pinggulnya. Aku mengira ia sedang menikmati
rangsangan-rangsangan yang kuberikan. Pada posisi itu,
entah berapa kali Nina mengalami orgasme aku tidak tahu
persis. Tetapi, aku merasa setidaknya tubuh Nina sempat
meregang-regang secara ritmis sebanyak dua kali. Karena
kemaluanku sudah tegang, akhirnya kubalikkan tubuhku dan
kumasukkan kemaluanku ke kemaluan Nina. Kugerakkan
pinggulku turun naik. Sampai akhirnya aku ejakulasi di
dalam kemaluan Nina.

Di tengah perbincangan kami setelah permainan yang
melelahkan tersebut, Joko datang dan langsung masuk
kamar. Ia menanyakan bagaimana keadaan kami. Aku
mengatakan bahwa kami sudah berhasil melakukan intim.
Kemudian Joko meminta kami untuk bermain lagi. Tetapi,
entah kenapa, saat itu kemaluanku tidak lagi dapat
berdiri tegak. Setelah dicoba beberapa lam, tetap tidak
dapat tegak walaupun terkadang dapat agak membesar.
Boleh jadi, hal itu disebabkan karena aku sudah dua kali
mencapai kepuasan malam itu. Boleh jadi juga karena
keberadaan Joko mengurangi nafsu saya dan Nina. Joko
terlihat sedikit kecewa ketika kukenakan pakaianku dan
pamit pulang.

Keesokan siangnya Nina meneleponku di kantor. Dengan
terisak ia bercerita bahwa ia dan Joko baru saja
bertengkar hebat. Tanpa kami sadari, rupanya Joko
merekam dengan kamera video apa yang kami lakukan di
kamar ketika ia pergi. Melalui hasil rekaman itulah Joko
mengetahui apa yang kami lakukan di kamar itu. Joko
sangat marah, karena ketika ia tidak ada kami dapat
berhubungan sedemikian panas dan binal. Nina
menceritakan bahwa Joko juga mengungkit-ungkit beberapa
hal yang tidak pernah Nina lakukan padanya. Khususnya
karena Nina mau menerima air maniku di mulutnya bahkan
menelannya, serta Nina bersedia menciumi kemaluanku
setelah kemaluan tersebut masuk ke dalam kemaluan Nina.

Kuberikan beberapa saran praktis untuk Nina saat itu,
sambil membuat janji untuk bertemu pada siang hari.
Setelah kejadian itu, Joko tidak pernah menghubungiku
atau meminta tolong lagi padaku. Tetapi, kadang-kadang
aku masih berhubungan intim dengan Nina. Entah itu di
hotel, di villa keluarga kami, bahkan pernah juga di
rumah Joko ketika ia bertugas ke anjungan minyak.