Thursday, May 3, 2007

BASKET GIRL

Hi, Kembali aku akan menceritakan pengalamanku di
sekolahku. Mungkin Anda sudah melihat cerita SCHOOL
LOVERS milikku. Kali ini aku akan menceritakan
pengalamanku yang tak kalah menarik dengan cerita itu.
Namaku Alex. Aku sekolah di salah satu SMU terkemuka di
Semarang.

Dua bulan setelah aku menikmati threesome-ku bersama
Fanny dan Christina, aku menambah lagi daftar cewek yang
pernah bercinta denganku. Ketika itu, sekolahku sedang
mengikuti persiapan untuk lomba basket HEXOS Cup.
Sebagai pemain inti tentu saja aku mengikuti program
latihan yang diberikan oleh pelatih. Kami diharuskan
menginap di sekolah untuk suatu latihan. Yah, terpaksa
aku menginap juga di sekolah. Ternyata yang menginap
tidak hanya tim basket putra tetapi juga tim basket
putri. Dalam hati aku bersorak gembira karena di tim
basket putri di sekolahku terdapat banyak cewek cantik.
Apalagi pakaian tim cewek memang sangat sexy. Memang
mereka bisa main basket, cuma yang bisa bermain bagus
hanya satu atau dua orang saja. Aku datang ke sekolah
pukul 16:00 WIB. Setelah menaruh tasku di kelas, aku
segera bergabung dengan teman-temanku.

Saat itu langit masih agak terang, sehingga aku masih
bisa bermain di lapangan basket yang outdoor. Latihan
berjalan seperti biasa. Pemanasan, latihan lay-up dan
permainan. Seperti biasa, putra dan putri dicampur. Jadi
di satu tim terdapat 3 cowok dan 2 cewek. Aku main
seperti biasa tidak terlalu ngotot. Saat itu tim lawan
sedang menekan timku. Vinna sedang melakukan jump shoot,
aku berusaha menghalanginya dengan melakukan blocking.
Namun usahaku gagal, tanganku justru menyentuh bagian
terlarangnya. Aku benar-benar tidak bermaksud menyentuh
dadanya. Memang dadanya tidak terlalu besar namun
setelah menyentuhnya kurasakan payudaranya sangat
kenyal. Lalu aku meminta maaf kepadanya. Vinna pun
menerima maafku dengan wajah agak merah. Setelah itu
giliran timku melakukan serangan. Lagi-lagi aku
berhadapan dengan Vinna. Aku berusaha menerobos defend
dari Vinna. Namun tak sengaja aku menjatuhkan Vinna dan
aku dikenai personal foul. Aku mencoba membantu Vinna
berdiri. Kulihat kakinya berdarah, lalu kutawarkan untuk
mengantarkannya membesihkan luka itu. Vinna pun menerima
ajakanku. Kami pun berjalan menuju ke ruang guru yang
jaraknya memang agak jauh dengan lapangan basket. Vinna
berjalan tertatih-tatih, maka kubantu ia bejalan. Saat
itu sekolahku sudah kosong semua, hanya tinggal kami tim
basket dan karyawan sekolah.

Sesampainya di ruang guru, aku segera mengambil
peralatan P3K. Kubasahi luka di paha kiri Vinna dengan
perlahan. Sesekali Vinna mendesah kesakitan. Setelah
kucuci lukanya, kuberi obat merah dan kuperban kakinya.
Saat menangani lukanya, baru kusadari bahwa Vinna juga
memiliki kaki yang menurutku sangat sexy. Kakinya sangat
panjang dan mulus. Apalagi dia hanya mengenakan celana
pendek. Kuarahkan pandanganku ke atas. Dadanya tidak
terlalu besar, namun cukuplah bagi cewek berusia 16
tahun. Oh ya.. Vinna berusia 16 tahun, rambutnya lurus
panjang sebahu, kulitnya putih mulus, dia Chinese
sepertiku. Tingginya 172 cm dan beratnya kira-kira 50
kg.

Tiba-tiba kudengar erangan Vinna yang membangunkanku
dari lamunanku.
"Ada apa Vin?" kutanya dia dengan lembut.
"Kakiku rasanya sakit banget." jawabnya.
"Di mana Vin?" tanyaku dengan agak panik.
"Di sekitar lukaku.."

Kupegang daerah di sekitar lukanya dan mulai memijatnya.
Penisku lama-lama bangun apalagi mendengar desahan
Vinna. Tampaknya ini hanya taktik Vinna untuk
mendekatiku. Aku pun tak bisa berpikir jernih lagi.
Segera saja kulumat bibir Vinna yang indah itu. Vinna
pun tak mencoba melepaskan diri. Ia sangat menikmati
ciumanku. Perlahan, Vinna pun membalas ciumanku.
Tanganku mulai merambah ke daerah dadanya. Kuraba
dadanya dari luar bajunya yang basah oleh keringat.
Vinna semakin terangsang. Kucoba membuka bajunya, namun
aku tidak ingin buru-buru. Kuhentikan seranganku. Vinna
yang sudah terangsang agak kaget dengan sikapku. Namun
aku menjelaskan bahwa aku tak ingin terburu-buru dan
Vinna pun dapat memahami alasanku walaupun ia merasa
sangat kecewa. Kemudian aku membantunya kembali ke
lapangan. Sebelum kembali ke lapangan aku mencium
mulutnya sekali lagi. Kami pun berjanji untuk bertemu di
ruang kelas IB setelah latihan selesai. Dalam hati aku
berjanji bahwa aku harus merasakan kenikmatan tubuhnya.
Sisa latihan malam itu pun kulakukan dengan separuh
hati.

Setelah latihan, kami semua mandi dan beristirahat.
Kesempatan bebas itulah yang kami gunakan untuk bertemu.
Di ruang kelas itu kami saling mengobrol dengan bebas.
Aku pun tahu bahwa Vinna belum pernah memiliki pacar
sebelumnya dan kurasa dia menaruh hati padaku.
Perasaanku padanya biasa-biasa saja. Namun mendapat
kesempatan ini aku pun tak ingin melewatkannya. Kami pun
mengobrol dengan santai. Vinna pun bermanja-manja
denganku. Kepalanya disandarkan ke bahuku dan aku pun
membelai rambutnya yang wangi itu. Entah siapa yang
memulai, kami saling berpagutan satu sama lain. Bibirnya
yang hangat telah menempel dengan bibirku. Lidah kami
pun saling beradu. Kuarahkan ciumanku ke bawah. Kupagut
lehernya dengan lembut sehingga Vinna mendesah. Tanganku
mulai aktif melancarkan serangan ke dada Vinna.
Kurasakan payudara Vinna mulai mengeras. Kusingkap
T-Shirt pink miliknya dan terlihatlah payudara Vinna
terbungkus Triumph 32B. Ketika aku akan melancarkan
seranganku, Vinna tiba-tiba melarang. Kali ini dia yang
belum siap. Rupanya ia ingin melakukannya secara utuh
denganku di suatu tempat yang pantas. Aku pun memahami
maksudnya. Akhirnya kami hanya berciuman saja.

Keesokan harinya, kami kembali melakukan latihan basket.
Namun Vinna hanya melakukan latihan ringan saja. Pukul
13:00 kami boleh pulang ke rumah masing-masing.
Kutawarkan tumpangan kepada Vinna. Aku memang membawa
mobil sendiri ke sekolah. Kuantarkan ke rumahnya di
sebuah jalan besar. Sesampainya di sana, aku diajaknya
masuk ke rumahnya. Aku tahu bahwa Vinna tidak tinggal
bersama orang tuanya. Orang tuanya terlalu sibuk
mengurus bisnis mereka. Vinna memang anak orang kaya.
Pertama-tama aku minta ijin memakai kamar mandinya untuk
mandi sejenak. Setelah selesai, aku menunggu di
kamarnya. Kamarnya cukup luas. Suasananya pun cukup
enak. Aku kini mengerti mengapa Vinna tak ingin
melakukannya di kelas. Vinna juga sedang mandi rupanya.
Memang cewek kalau mandi itu agak lama.

Tak lama, Vinna keluar dari kamar mandi dengan
mengenakan T-Shirt Hello Kitty berwarna biru muda dengan
celana pendek. Lalu kami pun berbincang-bincang. Aku pun
memuji kecantikannya. Setelah agak lama berbincang, kami
saling memandang dan kami pun mulai berciuman. Ciuman
kali ini sangat kunikmati. Kuraba dengan lembut payudara
Vinna. Kemudian kubuka baju Vinna dan terlihatlah BH
hitam membungkus payudara yang sangat indah. Aku
termenung sejenak lalu mulai melepas pakaianku dan
pakaiannya. Aku sudah telanjang sedangkan Vinna masih
mengenakan pakaian dalam berwarna hitam. Kulanjutkan
ciumanku di dada Vinna. Vinna melenguh perlahan
menikmati perlakuanku.

Perlahan-lahan kuarahkan mulutku di antara dua belahan
pahanya yang mulus. Lalu kusentuh permukaan celana
dalamnya yang sexy dengan ujung lidahku. Badan Vinna
seperti mengejang perlahan. Kuliarkan lidahku di celana
dalamnya. Vinna pun mendesah nikmat karena lidahku
mengenai klistorisnya. Kulepas BH dan CD-nya hingga
tampaklah sesosok tubuh yang sangat indah dan
proporsional. Tubuhnya tak kalah dibandingkan Fanny
maupun Christina (baca: SCHOOL LOVERS).

Kembali aku mempermainkan buah dadanya. Buah dadanya
sudah mulai menegang dan bentuknya pun menjadi sangat
indah walaupun tidak besar. Kugigit-gigit lembut
putingnya yang menegang keras. Kuturunkan ciumanku ke
arah rambut-rambut halus yang tertata rapi di bagian
bawah tubuhnya. Kucium harum khas kemaluan Vinna.
Kujulurkan lidahku masuk ke dalam belahan kemaluannya
dan berusaha menemukan klistorisnya. Ketika kutemukan
daging kecil itu, Vinna mengeluarkan desahan-desahan
yang sangat merangsang diriku. Aku semakin bergairah
untuk merasakan sempitnya kemaluannya. Kemaluannya terus
kulumat dengan lidahku. Tak lama kemudian, kurasakan
kepalaku dijepit oleh kedua belah paha Vinna. Badan
Vinna mulai mengejang, melonjak dan melengkungkan
tubuhnya sesaat. Vinna telah mencapai orgasme pertamanya
bersamaku. Kubiarkan ia menikmati gelombang orgasme
pertamanya selama beberapa menit dengan terus memainkan
lidahku dengan lembut di daerah sensitifnya. Kemudian
Vinna terbaring lemas karena gelombang orgasme yang
telah melandanya tadi. Ia sangat menikmati orgasme nya
tadi.

Memahami kebutuhanku, Vinna kembali aktif. Vinna meraih
batang kemaluanku dan menyentuhkan lidahnya ke kepala
penisku. Kurasakan hisapannya masih malu-malu. Tapi
terus kumotivasi dia dengan ucapan-ucapan kotor. Dan
usahaku berhasil. Lama-lama Vinna tidak lagi merasa
canggung. Hisapannya mulai membuatku mendesah. Ukuran
mulut Vinna pas sekali dengan lebar penisku. Jadi
kenikmatan yang kudapat sangatlah nikmat. Aku pun tak
mau diam. Kuraih kedua paha Vinna dan kubenamkan
kepalaku diantaranya. Sehingga kami membentuk sikap 69.
Rangsangan-rangsangan yang telah menjalari tubuh kami
berdua rupanya sudah semakin hebat dan tak dapat ditahan
lagi. Vinna bergulir ke sampingku, memutar posisi
tubuhnya sehingga kami dapat berciuman sejenak.

Aku bertanya, "Vin, aku masukkan ya?" Dengan lemah,
Vinna pun menganggukkan kepala. Kubaringkan tubuhnya ke
ranjang, kuangkat kedua belah tungkainya yang muluh ke
bahuku. Kuarahkan kepala kemaluanku menuju ke arah
kemaluannya. Lalu kumasukkan kepalanya dahulu ke dalam
milik Vinna. Rupanya kemaluan Vinna sangat sempit. Tidak
dapat kumasuki. Vinna mendesah kesakitan sambil melonjak
ketika aku mencoba menekannya. Sebenarnya aku senang
mendapat vagina yang begitu sempit. Namun aku sangat
kesulitan memasukkannya. Aku sudah sangat bersusah payah
melakukannya. Aku sangat berhati-hati dalam
melakukannya, karena aku tak mau menyakiti Vinna. Aku
merasa kasihan pada Vinna. Vinna terpaksa harus menahan
gejolak nafsu dalam dirinya karena hal ini. Wajahnya
terlihat sangat menderita. Terpaksa kuambil jalan
pintas. Kumasukkan sekali lagi kepala kemaluanku ke
dalam lubang kemaluan Vinna dan kudorong sekuat tenaga,
namun gagal. Justru aku kesakitan sendiri. Vinna pun
menjerit kesakitan. Kucoba menenangkannya sebentar. Lalu
kucoba lagi.

Setalh 5 menit akhirnya berhasil. Penisku ternyata dapat
masuk seluruhnya ke dalam milik Vinna. Dapat dikatakan
sangat pas. Kurasa milik Vinna sangat dalam, karena dari
semua cewek yang pernah ML denganku, vaginanya tak ada
yang dapat menampung milikku. Paling-paling hanya
3/4-nya. Mungkin karena Vinna itu tinggi sehingga
vaginanya juga dalam.

Setelah masuk semua, kudiamkan beberapa saat agar Vinna
terbiasa. Lalu penisku mulai kutekan-tekankan
perlahan-lahan. Vinna masih mendesah kesakitan. Walau
penisku dapat masuk semuanya tapi ini sangat terasa
sempit. Lama-lama kugerakkan agak cepat. Vinna sudah
dapat mengikuti permainanku. Ia sudah dapat mendesah
nikmat. Klistorisnya tergesek terus oleh milikku.
Setelah agak lama, kuganti posisi. Aku berada terlentang
di ranjang dan Vinna berada di atasku menghadap ke
arahku. Dengan posisi ini, Vinna dapat mengatur sendiri
kecepatan penisku. Vinna menggerakkan sendiri pantatnya.
Aku pun menaikkan pantatku saat Vinna menurunkan
pantatnya. Tanganku pun berada di kedua bukit kembarnya.
Sensasi ini sungguh luar biasa. Vinna sangat menikmati
permainan ini. Vinna mendesah lantang dan ia bergerak
semakin seru setiap kali kejantananku menghantam ujung
rahimnya. Gerakan kami berdua semakin cepat dan semakin
melelahkan, sampai akhirnya Vinna mengejang dan
membusurkan badannya kembali. Gelombang orgasme kedua
telah melandanya. Ia tampak masih berusaha meneruskan
gerakan-gerakan naik turunnya untuk memperlama waktu
orgasmenya yang kedua sebelum akhirnya merebahkan
tubuhnya yang lemas di atas tubuhku dan terdiam untuk
beberapa saat. Tubuhnya bermandikan keringat. Aku
menatap wajahnya yang menunjukan rasa bahagia.

Setelah memulihkan tenaga sesaat. Kembali aku melakukan
permainan. Kali ini doggy style. Kubimbing ia pada
posisi itu. Aku berdiri di belakangnya dan menusukkan
penisku ke dalam miliknya. Kugerakkan penisku perlahan,
namun lama-lama semakin cepat. Vinna berulangkali
mendesah sambil mengucapkan kata-kata kotor yang tak
dapat kubayangkan mampu keluar dari mulut gadis cantik
seperti dia. Sampai akhirnya aku merasakan spermaku
sudah mengumpul di penisku. Kukatakan padanya aku hampir
orgasme. Dia pun hampir orgasme. Kupercepat laju penisku
di dalam vaginanya. Kubuat agar Vinna keluar terlebih
dahulu. Vinna pun meraih orgasmenya yang ketiga.
Kubiarkan penisku di dalam vaginanya untuk menambah
sensasi baginya, walau aku harus mati-matian menahan
laju spermaku agar tidak muntah di dalam. Kemudian,
kucabut penisku dan kumasukkan dalam mulutnya. Spermaku
ternyata tidak mau keluar. Vinna pun berinisiatif
mengulum penisku. Tak lama kemudian, spermaku muncrat di
dalam mulutnya. Spermaku keluar banyak sekali. Vinna
kaget, namun ia segera menelannya. Kami diam sesaat.
"Vin, kamu masih kuat untuk main lagi?" tanyaku nakal.
"Tentu donk.." jawabnya mesra. Vinna memang memiliki
stamina yang kuat. Walaupun tubuhnya telah basah oleh
peluh keringat, ia masih belum capai.

Setelah penisku kembali tegang, aku duduk dan Vinna
duduk di atasku. Kumasukkan kembali penisku ke dalam
vaginanya. Kali ini sudah tidak sesulit tadi walaupun
masih agak rapat. Kugoyangkan pantatnya untuk meraih
kenikmatan. Kugesek-gesek klistorisnya dengan penisku.
Vinna kembali bergairah menyambutnya. Lalu kucoba
menusukkan penisku keras-keras. Rasanya sungguh luar
biasa. Vinna sangat menyukai tusukan itu. Ketika
spermaku sudah mengumpul lagi, aku berganti posisi.
Vinna kutidurkan terlentang lalu aku tengkurap di
atasnya. Kugerakkan pantatku naik turun dengan cepat.
Namun Vinna kurang menyukai posisi ini. Kuanjurkan dia
untuk tengkurap di atas ranjang dan aku di atasnya.
Seperti kura-kura saling menumpang. Kumasukkan penisku
ke dalam liang kenikmatannya. Vinna kembali merasakan
rasa puas. Kugerakkan penisku dengan cepat. Vinna
akhirnya keluar juga untuk yang keempat kalinya. Aku pun
mengeluarkan spermaku lagi di kedua belah dadanya. Kami
pun tertidur selama beberapa jam. Ketika aku bangun, jam
sudah menunjukkan pukul 19:30. Aku pun mencoba bangkit
dari ranjang. Vinna pun terbangun. Saat itulah Vinna
mengungkapkan perasaannya padaku. Kuterima cintanya
dengan tulus. Kami pun berpacaran. Setelah 5 bulan
berpacaran, kami pun putus dengan baik-baik. Tapi aku
tetap menyukainya. Vin, di mana pun kamu, kalau kau
membaca cerita ini. Ingatlah selalu kepadaku!