Thursday, May 3, 2007

KAMPANYE NGESEX

Cerita ini adalah kenangan semasa kampanye Pemilu 1999,
memori yang tak dapat kulupakan. Namaku Ray, aku bekerja
di sebuah harian ibukota. Baiklah ceritanya begini...

Malam itu tanggal 2 Juni 1999 sekitar pukul 21.30. Aku
di dalam mobilku sedang keliling-keliling kota Jakarta.
Rencananya aku hendak meliput persiapan kampanye
partai-partai yang katanya sudah ada di seputar HI.
Aneh, kampanye resminya besok, tapi sudah banyak yang
bercokol di putaran HI sejak malam ini. Kelihatannya
mereka tidak mau kalah dengan partai-partai lain yang
kemarin dan hari ini telah memanjat patung selamat
datang, memasang bendera mereka di sana. Tercatat pp,
PND, PBB, PKB, PAN dan PK telah berhasil. Dengan korban
beberapa orang tentu saja. Entah apa yang dikejar
mereka, para simpatisan itu. Kebanggaan? Atau sebuah
ketololan. Kalau ternyata mereka tewas atau cedera,
berartikah pengorbanan mereka? Apakah para ketua partai
itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu
menghargai kenekadan mereka? Lho, kok aku bicara
politik. Biarinlah. Macam-macam saja ulah mereka,
maklumlah sudah saat kampanye terakhir buat
partai-partai di Jakarta ini.

Di depan kedutaan Inggris aku parkirkan mobilku, bersama
banyak mobil lainnya. Memang aku lihat ada beberapa
kelompok, masing-masing dengan bendera partai mereka dan
atribut yang bermacam-macam. Aku keluarkan kartu persku,
tergantung di leher. Juga Nikon, kawan baik yang menjadi
sumber nafkahku. Aku mendekati kerumunan simpatisan
partai. Bergabung dengan mereka. Berusaha mencari
informasi dan momen-momen penting yang mungkin akan
terjadi.

Saat itulah pandanganku bertemu dengan tatap mata
seorang gadis yang bergerombol dengan teman-temannya di
atap sebuah mini bus. Wajahnya yang cantik tersenyum
kepadaku. Gadis itu memakai kaos partai yang mengaku
reformis,---aku rahasiakan saja baiknya---yang telah
dipotong sedikit bagian bawahnya, sehinggs seperti model
tank top, sedangkan bawahannya memakai mini skirt
berwarna putih. Di antara teman-temannya, dia yang
paling menonjol. Paling lincah, paling menarik.
"Mas, Mas wartawan ya?" katanya kepadaku.
"Iya".
"Wawancarai kita dong", Salah seorang temannya nyeletuk.
"Emang mau?".
"Tentu dong. Tapi photo kita dulu..."

Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka.
Dengan lagak dan gaya masing-masing mereka berpose.
"Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama
partai) baru besok kampanyenya?".
"Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?".
"Memang akan terus di sini? Sampai pagi?".
"Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang
semalaman."
"Hebat."
"Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin
manjat tugu selamat datang." Kata gadis yang menarik
perhatianku itu.

Aku pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu
kali ini. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan
pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai
mereka itu, walaupun tampak sedikit kecewa, karena
pemimpin partai mereka itu kurang berani bicara. Padahal
diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku maklum,
karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka
maksudkan itu.
"Eh, nama kalian siapa?" Tanyaku, "Aku Ray."
"Saya Diana." Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya
yang lain pun menyebut nama. Kami terus bercakap-cakap,
sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.

Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku meninggalkan
mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran
HI didatangi Kapolri yang meninjau dan 'menyerah'
melihat massa yang telah bergerombol untuk pawai dan
kampanye, karena jadwal resminya adalah pukul 06.00 -
18.00.
Saat aku kembali, gerombolan Diana masih ada di sana.
"Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan
hasil photoku. Sampai ketemu." Pamitku.
"Eh, Mas, Mas Ray! Kantornya "x" (nama koranku), khan.
Boleh saya menumpang?" Diana berteriak kepadaku.
"Kemana?"
"Rumah. Rumah saya di dekat situ juga."
"Boleh saja." Kataku, "Tapi katanya mau tetap di sini?
Begadang?"
"Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau
ngantarin nih."
Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku
dapat melihat di dalam mini bus itu ada sepasang remaja
berciuman.

Benar-benar kampanye, nih? Sama saja kejadian waktu
meliput demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan
teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar
nyentil, lho. Bukan menghujat. Angkat topi buat gerakan
mahasiswa kita! Peace!)
Diana menggandengku. Aku melambai pada rekan-rekannya.
"Diana! Pulang lho! Jangan malah..." Teriak salah
seorang temannya.
Diana cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat
mengedip.

Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan lincah Diana telah
duduk di sampingku. Mulutnya berkicau terus,
bertanya-tanya mengenai profesiku. Aku menjawabnya
dengan senang hati. Terkadang pun aku bertanya padanya.
Dari situ aku tahu dia sekolah di sebuah SMA di daerah
Bulungan, kelas 2. Tadi ikut-ikutan teman-temannya saja.
Politik? Pusing ah mikirinnya.
Usianya 17, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami
terus bercakap-cakap. Dia telah semakin akrab denganku.
"Kamu sudah punya pacar, belum?" Tanyaku.
"Sudah." Nadanya jadi lain, agak-agak sendu.
"Tidak ikut tadi?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Lagi marahan aja."
"Wah.., gawat nih."
"Biarin aja."
"Kenapa emangnya?"
"Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi
tidak mengaku."
"Perang, dong?"
"Aku marah! Eh dia lebih galak."
"Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja."
"Gimana caranya?" Tanyanya polos.
"Kamu selingkuh juga." Jawabku asal-asalan.
"Bener?"
"Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu."
"Lho, Mas sendiri cowok."
"Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai
sekarang aku tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha."
Dia ikut tertawa.

Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku,
menyalakannya. Diana meminta satu rokokku. Anak ini
badung juga. Sambil merokok, dia tampak lebih rileks,
kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Aku
merengut, hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang
mulus terpampang di depanku, membuat gondokku hilang.

Setelah itu aku mulai tertarik mencuri-curi pandang.
Diana tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap
rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang
terbuka. Gadis ini benar-benar cantik. Rambutnya
panjang. Tubuhnya indah. Dari baju kaosnya yang pendek,
dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya mengembang
sempurna, tegak berisi.
Tanpa sadar penisku bereaksi.
Aku menyalakan tape mobilku. Diana memandangku saat
sebuah lagu romantis terdengar.
"Mas, setelah ini mau kemana?"
"Pulang. Kemana lagi?"
"Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih." Katanya
menghembuskan asap putih dari mulutnya.
"Ngapain"
"Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku
males pulang jadinya. Selalu ingat Ipet, kalau aku
sendirian."
"Ipet?"
"Pacarku."
"Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?"
"Udah terbang bersama asap." Katanya, tubuhnya doyong ke
arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya menempel
di pangkal tangan kiriku. Hangat.
"Bolehlah." Kataku, setelah berpikir kalau besok aku
tidak harus pagi-pagi ke kantor. Jadi setelah mengantar
materi yang kudapat kepada rekanku yang akan membuat
beritanya, aku dan Diana menuju arah utara. Ancol! Mana
lagi pantai di Jakarta ini.

Aku parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Ancol. Di
sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah
Diana tadi. Sampai setengah jam kami hanya berdiam.
Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat
kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku.

Tiba-tiba Diana mencium pipiku.
"Terima kasih, Mas Ray."
"Untuk apa?"
"Karena telah mau menemani Diana."
Aku hanya diam. Menatapnya. Dia pun menatapku. Perlahan
menunduk. Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa sadar aku
raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan kudekatkan
wajahku ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik
lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar,
bibirku pun kurasakan bergetar, begitu juga dengan
bibirnya. Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami
berciuman kembali. Saat hendak merebahkannya, setir
mobil menghalang gerakan kami. Kami berdua pindah ke
bangku tengah Kijangku. Aku cium kening Diana terlebih
dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua
pipinya, lalu bibirnya. Diana terpejam dan kudengar
nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam
dalam ciuman yang hangat membara. Tanganku memegang
dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya.

Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. Aku arahkan
mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah
dadanya yang indah, besar, montok, kencang, dengan
puting yang memerah. Tanganku membuka kaitan BH
hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah
dadanya yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.
"Mas Ray, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling
nggak tahan kalo dijilat susu saya..., aahh...".

Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati
puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil
tanganku membuka mini skirtnya.
Terpampanglah jelas tubuh telanjang gadis itu. Celana
dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan bulu-bulu
halus yang ada di situ. Kuciumi daerah hitam itu.

Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Diana
"Diana kamu udah pernah dijilatin itunya?"
"Belum..., kenapa?".
"Mau nyoba nggak?".
Diana mengangguk perlahan.
Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi
langsung aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan
mulutku ke kemaluan Diana yang bulunya lebat,
kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas. Aku
keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan
lembut klitorisnyana.
Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari
Diana
"sstt... Aahh!!!"
Aku terus beroperasi di situ
"aahh..., Mas Ray..., gila nikmat bener..., Gila...,
saya baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini...,
aahh..., saya nggak tahan nih..., udah deh..."

Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku dan dengan
tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia mendorongku
untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya
membuka sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins
hitamku. Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah
menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan
batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam
mulutnya.
"aahh..." Lenguhku
Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena
dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti
penisku.
"Aduh Diana, jangan kena gigi dong..., Sakit. Nanti
lecet..."

Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala
kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke
kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku
berusaha memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin ke
dalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari panjang
kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam
mulutnya.
"Ohk!.., aduh Mas Ray, cuma bisa masuk seperempat..."
"Ya udah Diana, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu
tersedak."
Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku.
Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar
olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah.
Lalu kupegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang
kemaluannya. Aku rasakan kepala kemaluanku mulai masuk
perlahan, kutekan lagi agak perlahan, kurasakan sulitnya
kemaluanku menembus lubang kemaluannya.
Kudorong lagi perlahan, kuperhatikan wajah Diana dengan
matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya
sendiri, kemudian berdesah.
"sstt..., aahh..., Mas Ray, pelan-pelan ya masukkinnya,
udah kerasa agak perih nih..."

Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang
kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Diana, aku berupaya
untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang
kemaluanku ke lubang vaginanyana. Aku sudah tidak sabar,
pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang
kemaluanku agak keras. Terdengar suara aneh. Aku lihat
ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Diana, tampak
olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam
kemaluannya. Diana tersentak kaget.
"Aduh Mas Ray, suara apaan tuh?"
"Nggak apa-apa, sakit nggak?"
"Sedikit..."
"Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok..."

Dan kurasakan lubang kemaluan Diana sudah mulai basah
dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam
kemaluan Diana sudah mulai keluar, dan siap untuk
penetrasi. Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku
dengan cepat dan tiba-tiba agar Diana tidak sempat
merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat
wajah Diana seperti orang yang sedang merasakan
kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam,
dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan
mengeluarkan suara. "sshh..., sshh..."
Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya
yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa.
Kutekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung
kemaluanku ada yang mengganjal, kuperhatikan batang
kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam
lubang kemaluan Diana.

Aku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah
mentok..., kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat
masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang
kemaluan Diana. Dan Diana pun merasakannya.
"Aduh Mas Ray, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi,
perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi nikmat….,
aduh..., barangmu gede banget sih Mas Ray..."

Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar
goyanganku ke kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali
ke depan ke belakang, ke atas lalu ke bawah. Kurasakan
betapa nikmat rasanya kemaluan Diana, ternyata lubang
kemaluan Diana masih sempit, walaupun bukan lagi seorang
perawan. Ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku
yang menurut Diana besar, panjang dan kekar. Lama
kelamaan goyanganku sudah mulai teratur, perlahan tapi
pasti, dan Diana pun sudah dapat mengimbangi goyanganku,
kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang
ke kiri, Diana goyang ke kanan, bila kutekan pantatku
Diana pun menekan pantatnya.

Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku
sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Diana, aku
tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku
ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari
jemari Diana merenggut rambutku, sesekali kurasakan
tangannya mendekapku dengan erat.
Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam
ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli,
kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat
itu. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang,
keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.
"Aahh Mas Ray..., agak cepet lagi sedikit goyangnya...,
saya kayaknya udah mau keluar nih..."
Diana mengangkat kakinya tinggi, melingkar di
pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa
menit kemudian semakin erat..., semakin erat...,
tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi
mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku
sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan
panjang dari mulutnya memanggil namaku.
"Mas Ray..., aahh..., mmhhaahh..., Aahh..." Dia
kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang
dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku.
"aahh..., gila..., Ini nikmat sekali..." Teriakku.

Baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti
ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang
pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku
mengejang.
"Mas Ray..., cabut..., keluarin di luar..."
Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik
kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit
tertahan
"aahh..., ahh..." Aku mengerang.
"Ngghh..., ngghh.."
Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian
kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan
banyak sekali keluar dari batang kemaluanku.
Chrootth..., chrootthh..., crothh..., craatthh...,
sebagian menyemprot wajah Diana, sebagian lagi ke
payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.

Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.
"Mas Ray..., nikmat banget main sama kamu, rasanya beda
sama kalo saya gituan sama Ipet. Enakan sama kamu. Kalau
sama Ipet, saya tidak pernah orgasme, tapi baru sekali
disetubuhi kamu, saya bisa sampai, barang kali karena
barang kamu yang gede banget ya?" Katanya sambil
membelai batangku yang masih tegang, namun tidak sekeras
tadi.
"Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan
inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya"
Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata "Iya Diana,
saya juga, saya nggak bakal lupa".

Kami pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu
cinta. Setelah pagi, baru aku mengantarnya pulang. Dan
berjanji untuk bertemu lagi lain waktu.