Monday, May 7, 2007

PENGHIBUR HATI

Ditinggal mati oleh isteri di usia 39 tahun bukan hal yang menyenangkan. Namaku
Ardy, berasal dari kawasan Timur Indonesia, tinggal di Surabaya. Isteriku Lia
yang terpaut lima tahun dariku telah dipanggil menghadap hadirat penciptanya.
Tinggal aku seorang diri dengan dua orang anak yang masih membutuhkan perhatian
penuh. Aku harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka. Bukan hal yang mudah.
Sejumlah teman menyarankan untuk menikah lagi agar anak-anak memperoleh ibu
baru. Anjuran yang bagus, tetapi saya tidak ingin anak-anak mendapat seorang ibu
tiri yang tidak menyayangi mereka. Karena itu aku sangat hati-hati.
Kehadiran anak-anak jelas merupakan hiburan yang tak tergantikan. Anita kini
berusia sepuluh tahun dan Marko adiknya berusia enam tahun. Anak-anak yang lucu
dan pintar ini sangat mengisi kekosonganku. Namun kalau anak-anak lagi berkumpul
bersama teman-temannya, kesepian itu senantiasa menggoda. Ketika hari telah
larut malam dan anak-anak sudah tidur, kesepian itu semakin menyiksa. Sejalan
dengan itu, nafsu birahiku yang tergolong besar itu meledak-ledak butuh
penyaluran. Beberapa teman mengajakku mencari wanita panggilan tetapi aku tidak
berani. Resiko terkena penyakit mengendurkan niatku. Terpaksa aku bermasturbasi.
Sesaat aku merasa lega, tetapi sesudah itu keinginan untuk menggeluti tubuh
seorang wanita selalu muncul di kepalaku.
Tidak terasa tiga bulan telah berlalu. Perlahan-lahan aku mulai menaruh
perhatian ke wanita-wanita lain. Beberapa teman kerja di kantor yang masih
lajang kelihatannya membuka peluang. Namun aku lebih suka memiliki mereka
sebagai teman. Karena itu tidak ada niat untuk membina hubungan serius. Di saat
keinginan untuk menikmati tubuh seorang wanita semakin meningkat, kesempatan itu
datang dengan sendirinya.
Senja itu di hari Jumat, aku pulang kerja. Sepeda motorku santai saja kularikan
di sepanjang Jalan Darmo. Maklum sudah mulai gelap dan aku tidak terburu-buru.
Di depan hotel Mirama kulihat seorang wanita kebingungan di samping mobilnya,
Suzuki Baleno. Rupanya mogok. Kendaraan-kendaraan lain melaju lewat, tidak ada
orang yang peduli. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak tahu apa yang hendak
dilakukan. Rupanya mencari bantuan. Aku mendekat.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanyaku sopan.
Ia terkejut dan menatapku agak curiga. Saya memahaminya. Akhir-akhir ini banyak
kejahatan berkedok tawaran bantuan seperti itu.
“Tak usah takut, Mbak”, kataku.”Namaku Ardy. Boleh saya lihat mesinnya?”
Walaupun agak segan ia mengucapkan terima kasih dan membuka kap mesinnya.
Ternyata hanya problema penyumbatan slang bensin. Aku membetulkannya dan mesin
dihidupkan lagi. Ia ingin membayar tetapi aku menolak. Kejadian itu berlalu
begitu saja. Tidak kuduga hari berikutnya aku bertemu lagi dengannya di
Tunjungan Plaza. Aku sedang menemani anak-anak berjalan-jalan ketika ia
menyapaku. Kuperkenalkan dia pada anak-anak. Ia tersenyum manis kepada keduanya.
“Sekali lagi terima kasih untuk bantuan kemarin sore”, katanya,”Namaku Mei.
Maaf, kemarin tidak sempat berkenalan lebih lanjut.”
“Aku Ardy”, sahutku sopan.
Harus kuakui, mataku mulai mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Wanita itu
jelas turunan Cina. Kontras dengan pakaian kantor kemarin, ia sungguh menarik
dalam pakaian santainya. Ia mengenakan celana jeans biru agak ketat, dipadu
dengan kaos putih berlengan pendek dan leher rendah. Pakaiannya itu jelas
menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yang ranum berukuran kira-kira 38
menonjol dengan jujurnya, dipadu oleh pinggang yang ramping. Pinggulnya bundar
indah digantungi oleh dua bongkahan pantat yang besar.
“Kok bengong”, katanya tersenyum-senyum,”Ayo minum di sana”, ajaknya.
Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja. Ia menggandeng kedua anakku
mendahului. Keduanya tampak ceria dibelikan es krim, sesuatu yang tak pernah
kulakukan. Kami duduk di meja terdekat sambil memperhatikan orang-orang yang
lewat.
“Ibunya anak-anak nggak ikut?” tanyanya.
Aku tidak menjawab. Aku melirik ke kedua anakku, Anita dan Marko. Anita menunduk
menghindari air mata.
“Ibu sudah di surga, Tante”, kata Marko polos. Ia memandangku.
“Isteriku sudah meninggal”, kataku. Hening sejenak.
“Maaf”, katanya,”Aku tidak bermaksud mencari tahu”, lanjutnya dengan rasa
bersalah.
Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya.
Akhirnya aku tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang
mengelola beberapa toko pakaian. Aku juga akhirnya tahu kalau ia berusia 32
tahun dan telah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak. Selama
pembicaraan itu sulit mataku terlepas dari bongkahan dadanya yang menonjol
padat. Menariknya, sering ia menggerak-gerakkan badannya sehingga buah dadanya
itu dapat lebih menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aku
menelan air liur membayangkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini.
“Nggak berpikir menikah lagi?” tanyaku.
“Rasanya nggak ada yang mau sama aku”, sahutnya.
“Ah, Masak!” sahutku,”Aku mau kok, kalau diberi kesempatan”, lanjutku sedikit
nakal dan memberanikan diri.”Kamu masih cantik dan menarik. Seksi lagi.”
“Ah, Ardy bisa aja”, katanya tersipu-sipu sambil menepuk tanganku. Tapi nampak
benar ia senang dengan ucapanku.
Tidak terasa hampir dua jam kami duduk ngobrol. Akhirnya anak-anak mendesak
minta pulang. Mei, wanita Cina itu, memberikan alamat rumah, nomor telepon dan
HP-nya. Ketika akan beranjak meninggalkannya ia berbisik,
“Saya menunggu Ardy di rumah.”
Hatiku bersorak-sorak. Lelaki mana yang mau menolak kesempatan berada bersama
wanita semanis dan seseksi Mei. Aku mengangguk sambil mengedipkan mata. Ia
membalasnya dengan kedipan mata juga. Ini kesempatan emas. Apalagi sore itu
Anita dan Marko akan dijemput kakek dan neneknya dan bermalam di sana.
“OK. Malam nanti aku main ke rumah”, bisikku juga, “Jam tujuh aku sudah di
sana.” Ia tersenyum-senyum manis.
Sore itu sesudah anak-anak dijemput kakek dan neneknya, aku membersihkan sepeda
motorku lalu mandi. Sambil mandi imajinasi seksualku mulai muncul. Bagaimana
tampang Mei tanpa pakaian? Pasti indah sekali tubuhnya yang bugil. Dan pasti
sangatlah nikmat menggeluti dan menyetubuhi tubuh semontok dan selembut itu.
Apalagi aku sebetulnya sudah lama ingin menikmati tubuh seorang wanita Cina.
Tapi apakah ia mau menerimaku? Apalagi aku bukan orang Cina. Dari kawasan Timur
Indonesia lagi. Kulitku agak gelap dengan rambut yang ikal. Tapi.. Peduli amat.
Toh ia yang mengundangku. Andaikata aku diberi kesempatan, tidak akan
kusia-siakan. Kalau toh ia hanya sekedar mengungkapkan terima kasih atas
pertolongaku kemarin, yah tak apalah. Aku tersenyum sendiri.
Jam tujuh lewat lima menit aku berhasil menemukan rumahnya di kawasan Margorejo
itu. Rumah yang indah dan mewah untuk ukuranku, berlantai dua dengan lampu depan
yang buram. Kupencet bel dua kali. Selang satu menit seorang wanita separuh baya
membukakan pintu pagar. Rupanya pembantu rumah tangga.
“Pak Ardy?” ia bertanya, “Silahkan, Pak. Bu Mei menunggu di dalam”, lanjutnya
lagi.
Aku mengikuti langkahnya dan dipersilahkan duduk di ruang tamu dan iapun
menghilang ke dalam. Selang semenit, Mei keluar. Ia mengenakan baju dan celana
santai di bawah lutut. Aku berdiri menyambutnya.
“Selamat datang ke rumahku”, katanya.
Ia mengembangkan tangannya dan aku dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat di
pipiku. Ini ciuman pertama seorang wanita ke pipiku sejak kematian isteriku. Aku
berdebaran. Ia menggandengku ke ruang tengah dan duduk di sofa yang empuk.
Mulutku seakan terkunci. Beberapa saat bercakap-cakap, si pembantu rumah tangga
datang menghantar minuman.
“Silahkan diminum, Pak”, katanya sopan, “Aku juga sekalian pamit, Bu”, katanya
kepada Mei.
“Makan sudah siap, Bu. Saya datang lagi besok jam sepuluh.”
“Biar masuk sore aja, Bu”, kata Mei, “Aku di rumah aja besok. Datang saja jam
tiga-an.”
Pembantu itu mengangguk sopan dan berlalu.
“Ayo minum. Santai aja, aku mandi dulu”, katanya sambil menepuk pahaku.
Tersenyum-senyum ia berlalu ke kamar mandi. Di saat itu kuperhatikan. Pakaian
santai yang dikenakannya cukup memberikan gambaran bentuk tubuhnya. Buah dadanya
yang montok itu menonjol ke depan laksana gunung. Pantatnya yang besar dan bulat
berayun-ayun lembut mengikuti gerak jalannya. Pahanya padat dan mulus ditopang
oleh betis yang indah.
“Santai saja, anggap di rumah sendiri”, lanjutnya sebelum menghilang ke balik
pintu.
Dua puluh menit menunggu itu rasanya seperti seabad. Ketika akhirnya ia muncul,
Mei membuatku terkesima. Rambutnya yang panjang sampai di punggungnya dibiarkan
tergerai. Wajahnya segar dan manis. Ia mengenakan baju tidur longgar berwarna
cream dipadu celana berenda berwarna serupa.
Tetapi yang membuat mataku membelalak ialah bahan pakaian itu tipis, sehingga
pakaian dalamnya jelas kelihatan. BH merah kecil yang dikenakannya menutupi
hanya sepertiga buah dadanya memberikan pemandangan yang indah. Celana dalam
merah jelas memberikan bentuk pantatnya yang besar bergelantungan. Pemandangan
yang menggairahkan ini spontan mengungkit nafsu birahiku. Kemaluanku mulai
bergerak-gerak dan berdenyut-denyut.
“Aku tahu, Ardy suka”, katanya sambil duduk di sampingku, “Siang tadi di TP
(Tunjungan Plaza) aku lihat mata Ardy tak pernah lepas dari buah dadaku. Tak
usah khawatir, malam ini sepenuhnya milik kita.”
Ia lalu mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalam hitungan detik mulut kami
sudah lekat berpagutan. Aku merengkuh tubuh montok itu ketat ke dalam pelukanku.
Tangaku mulai bergerilya di balik baju tidurnya mencari-cari buah dadanya yang
montok itu. Ia menggeliat-geliat agar tanganku lebih leluasa bergerak sambil
mulutnya terus menyambut permainan bibir dan lidahku. Lidahku menerobos mulutnya
dan bergulat dengan lidahnya.
Tangannya pun aktif menyerobot T-shirt yang kukenakan dan meraba-raba perut dan
punggungku. Membalas gerakannya itu, tangan kananku mulai merayapi pahanya yang
mulus. Kunikmati kehalusan kulitnya itu. Semakin mendekati pangkal pahanya,
kurasa ia membuka kakinya lebih lebar, biar tanganku lebih leluasa bergerak.
Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan kemaluannya yang masih tertutup
celana dalam tipis. Jariku menelikung ke balik celana dalam itu dan menyentuh
bibir kemaluannya. Ia mengaduh pendek tetapi segera bungkam oleh permainan
lidahku. Kurasakan badannya mulai menggeletar menahan nafsu birahi yang semakin
meningkat.
Tangannyapun menerobos celana dalamku dan tangan lembut itu menggenggam batang
kemaluan yang kubanggakan itu. Kemaluanku tergolong besar dan panjang. Ukuran
tegang penuh kira-kira 15 cm dengan diameter sekitar 4 cm. Senjata kebanggaanku
inilah yang pernah menjadi kesukaan dan kebanggaan isteriku. Aku yakin senjataku
ini akan menjadi kesukaan Mei. Ia pasti akan ketagihan.
“Au.. Besarnya”, kata Mei sambil mengelus lembut kemaluanku.
Elusan lembut jari-jarinya itu membuat kemaluanku semakin mengembang dan
mengeras. Aku mengerang-ngerang nikmat. Ia mulai menjilati dagu dan leherku dan
sejalan dengan itu melepaskan bajuku. Segera setelah lepas bajuku bibir
mungilnya itu menyentuh puting susuku. Lidahnya bergerak lincah menjilatinya.
Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tangannya kembali menerobos celanaku
dan menggenggam kemaluanku yang semakin berdenyut-denyut. Aku pun bergerak
melepaskan pakaian tidurnya. Rasanya seperti bermimpi, seorang wanita Cina yang
cantik dan seksi duduk di pahaku hanya dengan celana dalam dan BH.
“Ayo ke kamar”, bisiknya, “Kita tuntaskan di sana.”
Aku bangkit berdiri. Ia menjulurkan tangannya minta digendong. Tubuh bahenol nan
seksi itu kurengkuh ke dalam pelukanku. Kuangkat tubuh itu dan ia bergayut di
leherku. Lidahnya terus menerabas batang leherku membuat nafasku terengah-engah
nikmat. Buah dadanya yang sungguh montok dan lembut menempel lekat di dadaku.
Masuk ke kamar tidurnya, kurebahkan tubuh itu ke ranjang yang lebar dan empuk.
Aku menariknya berdiri dan mulai melepaskan BH dan celana dalamnya.
Ia membiarkan aku melakukan semua itu sambil mendesah-desah menahan nafsunya
yang pasti semakin menggila. Setelah tak ada selembar benangpun yang menempel di
tubuhnya, aku mundur dan memandangi tubuh telanjang bulat yang mengagumkan itu.
Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat telur dengan mata agak sipit seperti
umumnya orang Cina. Rambutnya hitam tergerai sampai di punggungnya. Buah dadanya
sungguh besar namun padat dan menonjol ke depan dengan puting yang
kemerah-merahan. Perutnya rata dengan lekukan pusar yang menawan. Pahanya mulus
dengan pinggul yang bundar digantungi oleh dua bongkah pantat yang besar bulat
padat. Di sela paha itu kulihat gundukan hitam lebat bulu kemaluannya. Sungguh
pemandangan yang indah dan menggairahkan birahi.
“Ngapain hanya lihat tok,” protesnya.
“Aku kagum akan keindahan tubuhmu”, sahutku.
“Semuanya ini milikmu”, katanya sambil merentangkan tangan dan mendekatiku.
Tubuh bugil polos itu kini melekat erat ditubuhku. Didorongnya aku ke atas
ranjang empuk itu. Mulutnya segera menjelajahi seluruh dada dan perutku terus
menurun ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahaku. Tangannya lincah melepaskan
celanaku. Celana dalamku segera dipelorotnya. Kemaluanku yang sudah tegang itu
mencuat keluar dan berdiri tegak. Tiba-tiba mulutnya menangkap batang kemaluanku
itu. Kurasakan sensai yang luar biasa ketika lidahnya lincah memutar-mutar
kemaluanku dalam mulutnya. Aku mengerang-ngerang nikmat menahan semua sensasi
gila itu.
Puas mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya ia melepaskan diri dan merebahkan
diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku mulai beraksi. Kuserga buah
dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku
mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya juga mengeras
diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada
kiri. Lalu perlahan tetapi pasti aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang
menahan desakan birahi yang semakin menggila. Aku menjilati perutnya yang rata
dan menjulurkan lidahku ke pusarnya.
“Auu..” erangnya, “Oh.. Oh.. Oh..” jeritnya semakin keras.
Mulutku semakin mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya yang mulus
padat itu membuka, menampakkan lubang surgawinya yang telah merekah dan basah.
Rambut hitam lebat melingkupi lubang yang kemerah-merahan itu. Kudekatkan
mulutku ke lubang itu dan perlahan lidahku menyuruk ke dalam lubang yang telah
basah membanjir itu. Ia menjerit dan spontan duduk sambil menekan kepalaku
sehingga lidahku lebih dalam terbenam. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti cacing
kepanasan. Pantatnya menggeletar hebat sedang pahanya semakin lebar membuka.
“Aaa.. Auu.. Ooo..”, jeritnya keras.
Aku tahu tidak ada sesuatu pun yang bakalan menghalangiku menikmati dan
menyetubuhi si canting bahenon nan seksi ini. Tapi aku tak ingin menikmatinya
sebagai orang rakus. Sedikit demi sedikit tetapi sangat nikmat. Aku terus
mempermainkan klitorisnya dengan lidahku. Tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya
ke atas dan memegang kepalaku erat-erat. Ia melolong keras.
Pada saat itu kurasakan banjir cairan vaginanya. Ia sudah mencapai orgasme yang
pertama. Aku berhenti sejenak membiarkan ia menikmatinya. Sesudah itu mulailah
aku menjelajahi kembali bagian tersensitif dari tubuhnya itu. Kembali erangan
suaranya terdengar tanda birahinya mulai menaik lagi. Tangannya terjulur
mencari-cari batang kejantananku. Kemaluanku telah tegak sekeras beton. Ia
meremasnya. Aku menjerit kecil, karena nafsuku pun sudah diubun-ubun butuh
penyelesaian.
Kudorong tubuh bahenon nan seksi itu rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aku
bergerak ke atasnya. Ia membuka pahanya lebar-lebar siap menerima penetrasi
kemaluanku. Kepalanya bergerak-gerak di atas rambutnya yang terserak. Mulutnya
terus menggumam tidak jelas. Matanya terpejam. Kuturunkan pantatku. Batang
kemaluanku berkilat-kilat dan memerah kepalanya siap menjalankan tugasnya.
Kuusap-usapkan kemaluanku di bibir kemaluannya. Ia semakin menggelinjang seperti
kepinding.
“Cepat.. Cepat.. Aku sudah nggak tahan!” jeritnya.
Kuturunkan pantatku perlahan-lahan. Dan.. BLESS!
Kemaluanku menerobos liang senggamanya diiringi jeritannya membelah malam.
Tetangga sebelah mungkin bisa mendengar lolongannya itu. Aku berhenti sebentar
membiarkan dia menikmatinya. Lalu kutekan lagi pantatku sehingga kemaluanku yang
panjang dan besar itu menerobos ke dalam dan terbenam sepenuhnya dalam liang
surgawi miliknya. Ia menghentak-hentakkan pantatnya ke atas agar lebih dalam
menerima diriku. Sejenak aku diam menikmati sensasi yang luar biasa ini. Lalu
perlahan-lahan aku mulai menggerakkan kemaluanku. Balasannya juga luar biasa.
Dinding-dinding lubang kemaluannya berusaha menggenggam batang kemaluanku.
Rasanya seberti digigit-gigit. Pantatnya yang bulat besar itu diputar-putar
untuk memperbesar rasa nikmat. Buah dadanya tergoncang-goncang seirama dengan
genjotanku di kemaluannya. Matanya terpejam dan bibirnya terbuka, berdesis-desis
mulutnya menahankan rasa nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan kemudian
jeritan panjang terlontar membelah udara malam. Kubungkam jeritannya dengan
mulutku. Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kemaluanku leluasa
bertarung dengan kemaluannya, di sini lidahku pun leluasa bertarung dengan
lidahnya.
“OH..”, erangnya, “Lebih keras sayang, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!”
Tangannya melingkar merangkulku ketat. Kuku-kukunya membenam di punggungku.
Pahanya semakin lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir kemaluannya
seirama dengan gerakan pantatku. Di saat itulah kurasakan gejala ledakan magma
di batang kemaluanku. Sebentar lagu aku akan orgasme.
“Aku mau keluar, Mei”, bisikku di sela-sela nafasku memburu.
“Aku juga”, sahutnya, “Di dalam sayang. Keluarkan di dalam. Aku ingin kamu di
dalam.”
Kupercepat gerakan pantatku. Keringatku mengalir dan menyatu dengan keringatnya.
Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam kedua buah dadanya.
Diiringi geraman keras kuhentakkan pantatku dan kemaluanku membenam
sedalam-dalamnya. Spermaku memancar deras. Ia pun melolong panjang dan
menghentakkan pantatnya ke atas menerima diriku sedalam-dalamnya. Kedua pahanya
naik dan membelit pantatku. Ia pun mencapai puncaknya. Kemaluanku
berdenyut-denyut memuntahkan spermaku ke dalam rahimnya. Inilah orgasmeku yang
pertama di dalam kemaluan seorang wanita sejak kematian isteriku. Dan ternyata
wanita itu adalah Mei yang cantik bahenol dan seksi.
Sekitar sepuluh menit kami diam membatu mereguk semua detik kenikmatan itu. Lalu
perlahan-lahan aku mengangkat tubuhku. Aku memandangi wajahnya yang berbinar
karena birahinya telah terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku.
“Ardy, kamu hebat sekali, sayang”, katanya, “Sudah lebih dari setahun aku tidak
merasakan lagi kejantanan lelaki seperti ini.”
“Mei juga luar biasa”, sahutku, “Aku sungguh puas dan bangga bisa menikmati
tubuhmu yang menawan ini. Mei tidak menyesal bersetubuh denganku?”
“Tidak”, katanya, “Aku malah berbangga bisa menjadi wanita pertama sesudah
kematian isterimu. Mau kan kamu memuaskan aku lagi nanti?”
“Tentu saja mau”, kataku, “Bodoh kalau nolak rejeki ini.” Ia tertawa.
“Kalau kamu lagi pingin, telepon saja aku,” lanjutnya, “Tapi kalau aku yang
pingin, boleh kan aku nelpon?”
“Tentu.. Tentu..”, balasku cepat.
“Mulai sekarang kamu bisa menyetubuhi aku kapan saja. Tinggal kabarkan”,
katanya.
Hatiku bersorak ria. Aku mencabut kemaluanku dan rebah di sampingnya. Kurang
lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Lapar
katanya dan pingin makan.
Malam itu hingga hari Minggu siang sungguh tidak terlupakan. Kami terus berpacu
dalam birahi untuk memuaskan nafsu. Aku menyetubuhinya di sofa, di meja makan,
di dapur, di kamar mandi dalam berbagai posisi. Di atas, di bawah, dari
belakang. Pendek kata hari itu adalah hari penuh kenikmatan birahi. Dapat
ditebak, pertemuan pertama itu berlanjut dengan aneka pertemuan lain.
Kadang-kadang kami mencari hotel tetapi terbanyak di rumahnya. Sesekali ia
mampir ke tempatku kalau anak-anak lagi mengunjungi kakek dan neneknya.
Pertemuan-pertemuan kami selalu diisi dengan permainan birahi yang panas dan
menggairahkan.
Satu malam di kamar tidurnya. Setelah beberapa kali orgasme iseng aku
menggodanya.
“Mei”, kataku, “Betapa beruntungnya aku yang berkulit gelap ini bisa menikmati
tubuhmu bahenol, seksi, putih dan mulus seorang wanita Cina.”
Ia malah tertawa. tahu apa jawabannya? “Tulisan yang paling indah di atas kertas
putih justru harus dengan tinta hitam.”