Sunday, May 6, 2007

PERJAKAKU

Kurang lebih tiga belas tahun yang lalu saat aku jadi
pengangguran setelah gagal mengikuti UMPTN, aku merantau
ke Jakarta untuk mencari kerja sambil menunggu
kesempatan untuk ikut UMPTN berikutnya. Selama di
Jakarta aku menumpang ditempat kontrakan kakakku yang
juga masih bujangan, yang saat itu sudah bekerja. Sekian
lama di Jakarta rupanya keberuntungan belum berpihak
kepadaku, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang
kampung. Soalnya kupikir mending jadi pengangguran di
kampung sendiri daripada lontang-lantung di kota orang.

Akhirnya kakakku tidak bisa berbuat banyak dan
membiarkan aku pulang. Akhirnya aku memperoleh bus yang
lumayan longgar, karena memang penumpangnya sedikit. Aku
memilih bangku yang dibelakang dekat pintu belakang.
Karena kebetulan tempat itulah yang masih kosong. Bus
berangkat dari Pulo Gadung dengan banyak bangku yang
masih kosong. Begitu sampai Cakung, bus berhenti lagi
dan banyak sekali penumpang yang ikut naik. Salah satu
yang kebetulan memilih duduk dikursi sebelahku adalah
seorang perempuan yang kalau kutaksir mungkin umurnya
sekitar 29 tahun-an. Saat itu aku masih baru 19 tahunan.
Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia
yaitu sekitar 160 Cm dengan bobot yang cukup
proporsional. Tidak gemuk dan tidak pula terlalu kurus.
Kulitnya putih bersih dengan potongan rambut pendek ala
Demi Moore. Wajahnya tidak begitu cantik tapi cukup
menarik untuk dipandang.
"Masih kosong dik??" tanyanya yang sempat mengagetkanku
"Oh iya mbak masih kosong kok!!"

Akhirnya perempuan itu duduk di sebelahku. Yach,
walaupun tidak begitu cantik namun orangnya putih
bersih. Dalam hati aku sempat bersorak juga, aku pikir
ini mungkin rejeki juga soalnya masih banyak kursi
kosong eh, kok perempuan ini malah memilih duduk di
kursi paling belakang. Dan dasar aku yang sulit bergaul,
aku jadi cuma berani mencuri-curi pandang kearahnya
tanpa berani memulai percakapan. Hatiku dag-dig-dug tak
karuan soalnya gugup kalau berdekatan dengan perempuan
yang belum kukenal.

Rupanya lama-lama perempuan itu tahu juga kalau aku
selalu mencuri-curi pandang kearahnya. Karena pas aku
lagi melirik kearahnya, tiba-tiba ia menengok kearahku
sambil tersenyum. Plos! Aku tak sanggup berkata apa-apa
saking gugupnya karena ketahuan telah mencuri-curi
pandang.
"Kenapa dik? Ada yang salah dengan diriku?"
"Eh..oh.. enggak apa-apa kok mbak," jawabku gugup.
"Lho dari tadi Mbak amati kamu selalu mencuri-curi
pandang padaku memangnya kenapa?" ia masih tersenyum.
"Ah, eng..enggak kok mbak. Saya memang suka grogi kalau
berdekatan dengan wanita yang belum kenal kok mbak."
"Ooo.. begitu ya. Eh, ngomong-ngomong adik ini mau
kemana?"
"Saya mau pulang ke Kota Pati, mbak! Nah kalau mbak
sendiri mau kemana?" tanyaku agak berani setelah
percakapan mulai terbuka.
"Sama dik! Saya juga mau ke Kota Pati. Adik Pati-nya di
mana?"
"Sa.. saya di kotanya mbak!"

Setelah melalui percakapan yang panjang akhirnya aku
tahu namanya adalah mbak Yeni dan bekerja di Instansi
Keuangan di bilangan Kalibata Jakarta Selatan. Ia
kebetulan pada saat itu mau pulang untuk cuti selama dua
minggu. Dari percakapan itulah aku juga tahu bahwa ia
sudah menjadi janda karena suaminya kawin lagi dan ia
memilih cerai daripada dimadu. Ia berumur 29 tahun saat
itu dan sudah memiliki seorang anak perempuan yang baru
berumur 5 tahun yang tinggal dengan Bapak Ibunya.

Kami berdua semakin akrab, karena mbak Yeni memang
orangnya supel dan pintar bicara. Pada saat ia
mengeluarkan kue kering untuk dibagikan padaku, tanpa
sengaja tanganku dipegangnya. Badanku mulai gemetar tak
tahu apa yang harus kulakukan, sehingga aku tetap
memegang tangannya yang halus walaupun kue-nya telah
kupegang dengan tangan yang satunya. Tanpa sadar kami
masih berpegangan tangan untuk beberapa saat dalam
kegelapan bus malam yang melaju kencang menembus
kegelapan malam.

Tanpa kata-kata kami saling meremas jemari masing-masing
dalam kegelapan, karena memang lampu bus telah
dimatikan. Hatiku semakin berdebar tak karuan. Apalagi
saat kulirik ia juga menengok ke arahku sambil
tersenyum. Aku malu sekali, ingin kulepaskan tangannya,
tetapi justru ia semakin erat menggenggam jemariku.
Bahkan ia menyenderkan tubuhnya ke badanku. Aku semakin
gemetar dan panas dingin dibuatnya.
"Dik Santo kenapa? Kok gemeteran sih?"
"Eh.. oh.. enggak kenapa-kenapa kok mbak!"
"Memang dik Santo belum pernah punya pacar?"
"Sudah pernah sich mbak.. cuman cinta monyet. Biasa,
cuman surat-suratan waktu SMA dulu," gemeteranku semakin
kelihatan dalam suaraku.
"Ooh, makanya gemeteran begini. Mbak ngantuk boleh tidur
nyandar bahu dik Santo khan?"

Tanpa menunggu jawaban dariku, mbak Yeni telah
menyandarkan kepalanya ke tubuhku. Aku yang duduk di
dekat jendela jadi semakin terpojok. Entah disengaja
atau tidak pada saat ia menyandarkan tubuhnya ketubuhku
bagian dadanya yang empuk ketat menekan lenganku. Hal
ini membuat aku yang belum pernah berdekatan dengan
wanita menjadi sangat terangsang. Batang kemaluanku
mulai menggeliat bangun dan mengeras yang menimbulkan
rasa sakit karena terjepit celana jeans-ku yang ketat.
Kemudian tanganku dilingkarkan kepundaknya dan sekarang
ia menyandar di dadaku dengan tangan yang bebas
memelukku.

Udara malam yang dingin semakin membuat kami terlena
dalam kehangatan saling berpelukan. Apalagi suasana bus
yang gelap sangat berpihak pada kami. Tangan mbak Yeni
bergerak perlahan menyusur tulang iga-ku dan bergerak
terus ke atas ke bawah. Aku yang merasa kegelian dan
terangsang bercampur aduk jadi satu menjadi sesak
napasku. Ia terus menggerakkan tangannya sampai akhirnya
ia pun memegang tanganku yang satunya dan dibimbingnya
ke arah dadanya. Dengan rasa penasaran dan takut
kubiarkan saja apa yang dilakukannya. Aku membiarkan
saja tanganku dibimbing kearah dadanya yang kalau
kulihat dari kaus yang dikenakannya besarnya sedang.
Begitu menyentuh tonjolan bukit yang membusung di balik
kaos mbak Yeni, tanganku ditekannya. Aku mengikuti saja
apa yang dilakukan oleh mbak Yeni. Karena belum tahu apa
yang musti dilakukan dalam menghadapi situasi semacam
ini, tanganku hanya bergerak menekan-nekan seperti apa
yang dibimbing mbak Yeni tadi.

Sementara itu tangan mbak Yeni sudah mulai berpindah.
Sekarang tangannya mengelus lututku kearah atas dan
balik lagi ke bawah sehingga membuat batang kemaluanku
yang kencang menjadi semakin sakit karena terjepit
celanaku yang ketat. Aku menggeser kakiku untuk
memperbaiki posisi batang kemaluanku yang terjepit
celana dangan merenggangkan kedua kakiku agak terbuka.
Hal ini membuat tangan mbak Yeni semakin leluasa
bergerak menyusur paha ku di bagian dalam hingga
keselangkanganku dan menekannya dengan lembut begitu
tangannya berada di atas bagian celanaku yang menonjol.
Napasku semakin sesak mendapat perlakuan yang seumur
hidupku baru kurasakan ini. Apalagi kemudian tangan mbak
Yeni seolah-olah memijat dan meremas batang kemaluanku
yang sudah sangat kencang dari luar celana jeans-ku.
Sementara tanganku tanpa sadar sudah mulai meremas-remas
kedua bukit payudara mbak Yeni bergantian dengan
gemasnya.

"Sekarang sabuk dik Santo dilonggarkan," bisik mbak
Yeni.
"Ken.. kenapa mbak??" bisikku kaget.
"Kalau kencang begini kan ini-nya bisa kesakitan," kata
mbak Yeni sambil menekan batang kemaluanku dari luar.

Seperti kerbau dicucuk hidungnya aku nurut saja apa yang
dikatakan mbak Yeni. Kulonggarkan sabukku dan duduk
dengan posisi seperti semula. Aku yang semula penakut
sekarang menjadi lebih berani. Dengan tabah kutelusupkan
tanganku kedalam kaos mbak Yeni lewat bawah, kemudian
merayap mengelus perutnya yang halus ke atas dan terus
keatas hingga berhenti di atas bra mbak Yeni yang
lembut. Tangan mbak Yeni bergerak ke balik punggungnya
dan tiba-tiba kurasakan kain penutup bukit payudara mbak
Yeni jadi longgar. Rupanya tadi mbak Yeni membuka kait
bra-nya yang ada di belakang. Aku jadi leluasa bergerak
meremas dan mengelus kedua bukit payudaranya yang kenyal
dan halus silih berganti. Serasa mendapat mainan baru
aku dengan gemas dan antusias meremas, mengelus dan
meraba-raba kedua tonjolan bukit payudara mbak Yeni yang
kenyal dan halus itu.

"Mmhhh," napas mbak Yeni kudengar mulai memburu saat
dengan gemas putting payudaranya yang mulai mengeras itu
kupelintir dengan jepitan telunjuk dan ibu jariku. Lalu
aku sendiri merasakan sekarang tangan mbak Yeni mulai
menarik ritsluiting celana jeans-ku dan menyusupkan
tangannya kebalik CD-ku. Napasku tertahan dan badanku
semakin panas dingin saat tangan mbak Yeni yang lembut
mulai menyelusup ke dalam CD-ku dan mengusap rambut yang
tumbuh di sekitar kemaluanku. Tanganku semakin liar
meremas dan meraba kedua bukit kembar di dada mbak Yeni,
ketika kurasakan ada sesuatu yang meledak-ledak dan
mendorong di bawah pusarku karena tangan mbak Yeni yang
hangat dan lembut kini sudah mulai mengusap dan meremas
batang kemaluanku dengan lembut.

Mungkin mbak Yeni yang sudah berpengalaman mengetahui
keadaanku hingga semakin kencang meremas dan mengurut
batang kemaluanku yang sudah sangat kencang. Napasku
seolah terhenti, dan mataku erat terpejam saat kurasakan
sesuatu yang mendesak di perut bagian bawahku tidak
dapat kutahan lagi dan meledak. Badanku serasa mengawang
dan kurasakan suatu kenikmatan yang belum pernah
kurasakan saat rasa ingin kencing yang tidak dapat
kutahan lagi keluar dan membasahi tangan lembut mbak
Yeni. Crrrtt! Cratt!

"Ahhh!", tanpa sadar aku melenguh. Aku jadi malu sekali
pada mbak Yeni.
"Enak dik??" bisik mbak Yeni mesra.
"Ah, mbak Yeni. Saya jadi malu karena mengotori tangan
mbak."
"Enggak apa-apa kok. Memang dik Santo belum pernah
keluar itu-nya?"
"Kalau onani sendiri sich pernah mbak, tapi kalau yang
begini, be.. belum mbak..."
"Terus kalau tidur sama cewek sudah pernah belum?"
"Be.. belum mbak. Saya enggak berani."
"Nah kalau belum pernah dan ingin merasakan tidur dengan
cewek, nanti kita bisa nginap dulu sebelum pulang. Dik
Santo mau enggak?"
"Ah, sa.. saya takut mbak!"
"Lho, takut sama siapa? Kan mbak enggak nggigit, malah
bikin kamu keenakan iya kan?"
Aku terdiam karena tidak tahu musti menjawab apa. Di
sisi lain aku ingin dan penasaran sekali merasakan
bagaimana rasanya tidur dengan cewek. Kediamanku
ternyata dianggap sebagai persetujuanku.

Bus kami sampai ke Kota Pati dini hari. Pukul 03.00 bus
kami sudah masuk terminal. Sementara untuk pulang harus
berganti bus lagi dan belum ada bus yang ke kotaku yang
berangkat. Apalagi mbak Yeni yang dari kotaku masih
harus naik angkutan pedesaan lagi, jadi cukup beralasan
kalau kami akhirnya memutuskan untuk menginap. Kami pun
akhirnya mencari penginapan yang banyak bertebaran di
sekitar terminal.

Singkat cerita kami pun check-in satu kamar. Kemudian
aku langsung masuk kamar mandi dan mandi karena risi
CD-ku basah sekali oleh air maniku sendiri setelah di
bus tadi aku sempat mengalami orgasme karena dikerjain
mbak Yeni. Selagi mandi tiba-tiba mbak Yeni masuk ke
kamar mandi dengan tanpa sehelai kain pun menutupi
tubuhnya yang putih. Aku terkesiap. Mataku melotot
menyaksikan pemandangan luar biasa yang baru seumur-umur
kulihat ini. Tubuhnya yang polos berdiri di depan mataku
tanpa ada rasa sungkan sama sekali. Kulitnya putih
bersih, perutnya yang cukup rata tanpa guratan bekas
melahirkan kelihatan serasi dengan tonjolan bukit
payudara-nya yang sedang besarnya yang masih kencang
menggantung di dada mbak Yeni. Putingnya kulihat besar
dan berwarna agak kecoklatan. Sementara di bagian bawah
perutnya tampak tonjolan bukit yang lebat ditumbuhi
bulu-bulu hitam yang sangat lebat. Sehingga kulihat
sangat kontras sekali perpaduan antara kulitnya yang
putih bersih tanpa cacat berpadu dengan sebentuk warna
hitam yang terpusat di bawah perutnya.

Aku masih melongo saat ia memencet hidungku sambil
tersenyum dan mengatakan ingin ikut mandi sekalian.
"Aku mandi sekalian aja. Soalnya udah keburu ngantuk,
biar tidurnya enak!" demikian ia berkilah.
"Ak.. aku malu mbak," dalam hatiku sebenarnya senang
soalnya ini adalah pertama kali aku dapat melihat tubuh
wanita telanjang.
"Alaah.. pakai malu segala," desisnya, "Ayo sini mbak
mandiin."
Aku diam saja karena tak mampu berkata-kata lagi.
Kemudian mbak Yeni mengambil sabun dan mulai menggosok
tubuhku yang sudah basah dengan tangannya yang penuh
sabun. Perlahan rasa nikmat itu menyerangku lagi saat
tangan mbak Yeni menggosok punggungku dengan sabun dan
sebentar-sebentar tonjolan lembut dan hangat di dadanya
menekan punggungku dari belakang saat ia menyabun dadaku
dari arah belakang.

"Akhhh," aku mendesah panjang saat mbak Yeni dengan
memelukku ketat dari belakang menyabun tubuhku bagian
bawah, aku begitu terangsang. Di punggungku menempel
ketat tonjolan bukit payudara yang lembut dan hangat,
sedangkan selangkanganku digosok-gosok dan diurut tangan
mbak Yeni yang lembut. Kupejamkan mataku untuk menikmati
sensasi yang luar biasa bagiku. Aku merasakan betapa
batang kemaluanku yang sudah tegang berdenyut-denyut
dalam genggaman tangan mbak Yeni yang licin karena busa
sabun. Ia terus mengurut-urut batang kemaluanku ke atas
dan ke bawah dengan lembut dengan sesekali diselingi
remasan di kantung buah zakarku. Napasku kian memburu
dan desahanku kian kencang.

"Ouchh, shhhh, mbaaakkk.. ouchhhhh!"
Aku hampir saja merasakan adanya sesuatu yang mendesak
hendak keluar dari bawah perutku. Dan mbak Yeni yang
rupanya sudah cukup berpengalaman tahu keadaanku hingga
ia menghentikan aksinya.
"Sekarang gantian mbak yang dimandiin dong," pinta mbak
Yeni tak berapa lama kemudian.
Aku pun mengguyur tubuh telanjang mbak Yeni dengan air
dan kemudian tanganku dengan canggung mulai menyabuni
punggungnya.
"Pelan-pelan dik, jangan takut," bisiknya yang membuat
keberanian dan rasa pede-ku mulai bangkit.

Aku pun mulai meraba (menyabuni) punggung mbak Yeni
kemudian tanganku mulai berani nakal mulai turun ke
pinggulnya, terus turun dan akhirnya dengan gemas
tanganku mulai meremas sambil menyabuni buah pantat mbak
Yeni yang besar dan indah. Lalu setelah puas
bermain-main dengan pantat mbak Yeni, aku pun mengikuti
gaya menyabun mbak Yeni tadi. Tanganku merayap ke depan
dan mulai menyabuni kedua buah gumpalan yang menggantung
indah di dada mbak Yeni. Dengan gemas kuurut bukit
kembar itu sehingga putingnya mulai mengeras.
"Oohhhh, enaakkk diiik. Terusshhhh, shhhh!" mbak Yeni
mendesis-desis.
Aku pun tak lupa menempelkan batang kemaluanku yang
sudah mengencang sejak tadi ke tengah-tengah belahan
buah pantat mbak Yeni yang membuatku merasa sangat
nikmat. Apalagi mbak Yeni kemudian menggoyangkan
pinggulnya menggeser dan semakin erat menekankan batang
kemaluanku ditengah belahan kedua belah buah pantatnya
yang licin karena sabun.

"Ouchh, ter.. ter.. ushh dik,"
Mbak Yeni mendesis desis ketika tanganku mulai
bergerak-gerak menyabuni gundukan bukit kecil yang lebat
ditumbuhi rambut di selangkangan mbak Yeni. Tubuhnya
semakin liar bergerak menggeser batang kemaluanku yang
terjepit di sela-sela bongkahan buah pantatnya. Tubuh
kami yang licin sangat membantu pergerakan dan
gesekan-gesekan tubuh kami. Hal ini membuat sensasi yang
luar biasa bagi kami berdua. Batang kemaluanku yang
terjepit diantara belahan buah pantat mbak Yeni dan
tubuhku sendiri semakin berdenyut denyut. Aku sudah
tidak tahan lagi.
"Oochh.. mbaakkk aku su.. sudah tak ku.. aatthh mbaaak!"
bisikku di telinganya.
Mbak Yeni pun menghentikan gerakannya dan memintaku
untuk segera membersihkan tubuh kami dari sabun.

Beberapa siraman air dingin ternyata cukup untuk
menolongku untuk tidak sampai mengeluarkan air maniku
yang sudah mendesak-desak ingin disalurkan. Aku merasa
agak cool walau pun batang kemaluanku masih tegak
berdiri. Dan setelah selesai mengeringkan tubuh kami
dengan handuk, mbak Yeni segera menuntunku untuk menuju
ke tempat tidur. Dengan masih bertelanjang bulat kami
bergandengan tangan dan melemparkan tubuh kami ke tempat
tidur double-bed yang empuk.

Kami berbaring saling bersebelahan. Mbak Yeni yang sudah
berpengalaman rupanya tahu bahwa aku masih sangat hijau
dalam hal seperti ini. Dengan serta merta tanganku
dibimbingnya ke arah dadanya, sementara tangannya
sendiri juga mulai mengelus dadaku. Kembali kami saling
raba dan saling pencet. Tanganku segera meremas bukit
payudaranya dengan gemas bergantian kanan dan kiri.

"Oohhh, terushhh diiik," Mbak Yeni terus mendesah.
"Aahhh!", aku pun ikutan mendesah tatkala tangan mbak
Yeni kembali mengurut-urut batang kemaluanku dengan
lembut.
Tubuhku menggigil menahan kenikmatan yang luar biasa
ketika tangan mbak Yeni mengocok-ngocok batang
kemaluanku.
"Mbaak, oohhhh!"
"Sek.. sekarang kamu naik.. diiik.. oochhh" mbak Yeni
pun rupanya sudah tak tahan lagi. Kemudian
dipentangkannya kedua pahanya lebar-lebar dan disuruhnya
aku untuk naik keatas perutnya.

Aku pun dengan arahan mbak Yeni segera menempatkan diri
di tengah-tengah pentangan pahanya dan mulai menindih
tubuhnya. Tangan mbak Yeni segera memandu batang
kemaluanku dan diarahkannya ke tengah-tengah gundukan
daging di bawah perutnya yang lebat ditumbuhi rambut.
"Akhhhh!, aku mengerang saat ujung kepala kemaluanku
mulai digesek-gesekkan oleh mbak Yeni ke celah-celah
yang begitu hangat dan sudah basah.
"Dorong.. pelan-pelannh diik. Ouchhh!!"
"Hkk. Ouchhh," napasku seolah terhenti seketika ketika
ujung kepala kemaluanku mulai menerobos celah yang
sempit, hangat dan licin di sela-sela paha mbak Yeni.
Mbak Yeni pun kudengar napasnya tertahan "Achhh, oochh,
terushh.. doronghhhh!"

Aku terus mengikuti aba-aba mbak Yeni. Kutarik pantatku
ke atas begitu kurasakan kira-kira hampir separuh batang
kemaluanku terbenam dalam celah kemaluan mbak Yeni, dan
kemudian kudorong lagi ke bawah. Setelah beberapa kali
kulakukan hal itu aku disuruh untuk menekan dan
membenamkan seluruh batang kemaluanku ke dalam liang
kemaluannya
"Sekkaranghhh, ma.. masukkanhh.. Ouchhh!",
Mbak Yeni menjerit tertahan saat kutekan pantatku kuat
kuat hingga seluruh batang kemaluanku terbenam kedalam
liang kemaluannya yang masih cukup sempit dan sangat
hangat. Mbak Yeni pun segera menggerakkan pinggulnya
memutar.

Baru beberapa putaran dilakukan mbak Yeni. Tiba-tiba aku
merasakan seolah-olah batang kemaluanku seperti
diremas-remas oleh jepitan daging yang licin dan hangat
sehingga mataku sampai terpejam erat-erat menahan nikmat
yang amat sangat. Aku merasakan seolah olah ada desakan
yang maha dahsyat yang mendesak dari bawah pusarku.
Desakan itu terlalu kuat untuk dapat kutahan
"Ouuchh.. mbakkk, akk sudahhh oochhhhhh",
Dengan erangan yang panjang aku merasakan seolah-olah
tubuhku tersentak oleh aliran listrik ribuan volt,
jiwaku seolah melayang dan kepalaku terdongak ke atas.
Mbak Yeni yang sudah tahu kondisiku semakin gila memutar
pantatnya diangkatnya pantatnya tinggi-tinggi untuk
menyongsong sodokanku.
"Terr.. russh. Terushhh.. ohhh.. terussshhhh", desisnya
tak henti-henti.
Sementara aku sudah tidak mampu lagi menahan ledakan
yang sedari tadi kucoba untuk menahannya. Dan crrrt,
cratttt! Jebolah pertahananku. Air mani keperjakaanku
menyembur di dalam liang kemaluan mbak Yeni yang hangat
dan memenuhi semua celah yang ada di dalamnya. Badanku
masih terkejat-kejat untuk beberapa saat lamanya
seolah-olah menuntaskan sisa-sisa kenikmatan yang ada.
"Terr.. ushhh.. diiikkk, terusshhhh!", desisnya
berulang-ulang. Namun aku sudah tak mampu bergerak lagi.

Dengan gemas mbak Yeni yang rupanya sedang dalam
pendakian segera membalik tubuhku dan kini posisinya
menindihku. Walau pun sudah terkuras air maniku, namun
batang kemaluanku belum begitu mengendur. Sekarang
giliran mbak Yeni yang bergerak di atas perutku.
Tubuhnya bergerak liar seperti seorang joki yang sedang
menaiki kuda balap. Payudaranya bergoyang-goyang indah.
"Ayo, putar pinggulmu diikkkh.. ouchhh."
Aku pun mengikuti komandonya. Kugerakkan pinggulku
memutar seperti yang diinginkan mbak Yeni.
"Ya, ya.. beg..ituuu. Ouchhhh! Terushhhh!" akhirnya
kurasakan jepitan liang kemaluan mbak Yeni semakin erat
menjepit batang kemaluanku. Tubuh mbak Yeni tersentak
dan matanya membeliak.
"Ouchhhh, terrushhhh," dan akhirnya tubuhnya ambruk di
atas perutku.
"Shh.. kamu.. sudah cukup hebbathhh dikk!", napasnya
mulai teratur.
"Tapi saya kalah mbak, saya sudah keluar duluan!"
"Enggak apa apa. Mbak juga bisa orgasme kok! Memang kamu
baru kali ini merasakan bersetubuh ya dik?"
"Iya mbak. Terima kasih ya mbak telah memberikan
pengalaman yang berharga bagi saya."
"Saya justru yang terima kasih, kamu telah memberikan
kehangatan pada mbak yang sudah cukup lama tidak
merasakan seperti ini sejak bercerai dulu."

Begitulah kami pun lalu beristirahat sambil tetap
berpelukan dengan tubuh mbak Yeni masih tetap menindihku
dan batang kemaluanku masih tetap menancap di dalam
kehangatan liang kemaluan mbak Yeni.