Monday, May 7, 2007

CYBER SEX

Teknologi mempengaruhi perilaku manusia tak bisa
dibantah. Perkembangan teknologi jaringan yang begitu
pesat memungkinkan orang melakukan aktivitas untuk
memenuhi kebutuhannya hanya dengan sentuhan ujung jari
di kamar masing-masing tanpa terjebak traffic jam.
Ngobrol, berbelanja, berkiriman dokumen, cari informasi
apapun, semuanya dapat dilakukan tanpa beranjak dari
rumah. Bahkan sebentar lagi orang tak memerlukan office
space yang mahal itu. Seluruh aktivitas bisnis dapat
dilakukan dan dikendalikan dari rumah. Boss tak pernah
bertatap muka langsung dengan staff-nya merupakan hal
yang biasa. Tak apa-apa, yang penting urusan beres.

Demikian pula untuk satu urusan yang universal dimiliki
manusia penghuni planet biru ini, urusan cinta. Orang
jatuh cinta tak lagi hanya dari pandangan pertama, tapi
bisa dimulai dari sentuhan ujung jari pada keyboard.
Cyber Love, demikian julukannya. Seperti kisah cinta di
dunia nyata, percintaan di alam mayapun tak selalu
diakhiri dengan happy ending, malahan lebih banyak
unhappy-nya, paling tidak seperti yang pernah kualami.
Dua kali Aku terlibat cinta cyber dan dua-duanya
berakhir dengan unhappy. Inilah yang hendak Aku
ceritakan kepada Anda sekalian pecinta 17thn yang
budiman!

Anda yang tak tertarik dengan perselingkuhan yang
berakhir unhappy jangan dilanjutkan membacanya, cukup
sampai disini saja. Juga bagi Anda yang tak suka
kisah-kisah kegagalan. Aku memang tak secanggih para
penggemar 17thn lainnya yang begitu mudah mendapatkan
cewek idealnya. Begitu mudah menggaet cewek dengan
gambaran tubuh yang "wah" dan amat mudah juga
mengajaknya ML. Beginilah Anda biasanya menggambarkan
fisik yang "wah" itu: Langsing dan tinggi nyaris dua
meter, kulit putih mulus licin bak salju sehingga
lalatpun gagal hinggap di tubuhnya, terpeleset
--walaupun belum tentu pernah melihat salju--, buah dada
kenyal bulat sebesar kepala bayi, pinggang ramping kayak
bambu, paha bulat mirip batang pohon pinang dengan liang
vagina sekecil lidi... pendek kata, seperti Sophia
Latjuba atau Tamara Blezinsky-lah (gimanapun ejaannya).

Aku tak secanggih itu, pembaca. Cewek teman selingkuhku
tak secantik kedua selebritis itu. Tinggi "cuman" 163
(tidak 2 meter), kulit kuning langsat (bukan putih), bra
ukuran 34 (bukan bukan dibalik jadi 43), pinggang cukup
membentuk gitar (nggak sekecil bambu) dan "kewanitaan"
yang sedikit sesak untuk ukuran penisku yang rata-rata
orang melayu. Dan untuk berlanjut sampai ke ranjang pun
tak semudah seperti yang biasa Anda lakukan: begitu
ketemu, kenalan terus langsung jilat-jilat vagina dan
tancepan. Prosesku lumayan panjang dan dengan intensitas
hubungan yang naik-turun, tak selalu lancar.

Aku, pria 28 tahun, sudah berkeluarga, anak satu, kerja
di perusahaan swasta di Jakarta. "Ketemu" pertama kali
dengan Alia (begitu saja kusebut namanya) di mailing
list group yang mengkhususkan diskusi tentang politik
Indonesia. Di antara belantara lalu-lintas diskusi itu
suatu saat pada topik tertentu Aku dan Alia saling
dukung pendapat (topik apa dan gimana saling dukungnya
tak relevan bila kutulis di sini). Maka kulayangkan
sebuah mail lewat japri-nya. Isi mail masih lanjutan
topik tadi dan kuakhiri dengan keinginan untuk kenal
lebih dekat.

Perkenalanku mendapat respons positif dan mulailah kami
saling berkirim mail sampai "melupakan" forum
mailing-list dan jadi jarang posting. Pada tahap saling
membuka identitas masing-masing kusebutkan statusku
dengan sebenarnya. Alia sedang kuliah di jurusan Sospol
Universitas di kotanya Makassar semester VI. Asli dari
Manado tapi kelahiran Makassar. Statusnya sedang
berpacaran dengan mahasiswa dari jurusan lain yang
berasal dari daerah yang sama, sejak tahun pertama
kuliah.

Perbincangan lewat mail tak lagi tentang politik, tapi
lebih soal-soal pribadi. Misalnya dia dengan terbuka
menceritakan telah menyerahkan segalanya kepada pacarnya
itu. Dia sudah tak gadis lagi sejak setengah tahun
sebelum bertemu aku lewat dunia maya. Dia juga bercerita
tentang aktivitas seks-nya dengan pacarnya serta
perasaan-perasaannya. Termasuk pengakuannya bahwa dia
hanya berhubungan seks dengan satu pria saja, yaitu
pacarnya itu. Juga dia selalu menceritakan masalah yang
dia alami dalam berpacaran. Semacam curhat. Komunikasi
diantara kami tak hanya lewat mail saja, tapi juga
chatting.

"Witing tresno jalaran soko kulino" begitu pepatah Jawa
yang artinya kurang lebih awal cinta datang karena
dekatnya bergaul. Itulah yang sedang kualami. Hubungan
kami begitu dekatnya sehingga diam-diam timbul sesuatu
di dalam hati yang tak kami perkirakan sebelumnya. Ada
sesuatu yang hilang rasanya bila sehari saja tak membaca
mailnya. Ketika Aku bilang ke Alia tentang perasaan ini,
ternyata dia mengalami hal yang sama. Singkatnya, kami
saling jatuh cinta walaupun masing-masing telah punya
pasangan tetap. Kami juga berjanji, saling berusaha
mencari peluang untuk bertemu secara fisik.

----------

"Elo tahu engga kantor Departemen Anu," tulisnya pada
suatu siang kami chatting.
"Tahu. Kenapa?" jawabku.
"Gue ada rencana kuliah lapangan ke situ."
Nah! akhirnya peluang buat ketemu Alia datang juga.
Jangan gembira dulu, kataku dalam hati.
"Oh ya? Kapan? Sama siapa?" tulisku memberondong.
"He he.. satu-satu dong, semangat banget."
"Semangat dong, kan kita bisa ketemu."
"Pengin ketemu, gitu?"
"Ah elo, kaya engga tahu aja. Pengin banget, tahu. Kapan
nih?"
Alia sebutkan tanggal yang artinya 2 minggu lagi.

"Sama temen-temen 10 orang, plus 2 orang dosen," katanya
lagi.
Saat ketemu inilah yang Aku tunggu-tunggu. Oh, aku
mencintainya.
"Nginap di mana?"
"Di Mess Yayasan Anu."
"Nggak nginap ama gue aja?"
"Enak aja, engga boleh dong, musti ngumpul."Bagus, nggak
boleh bukan berarti tak mau. Saat bermalam bersama ini
pula yang kudambakan. Tak sekedar melepas rindu
memuaskan hasrat cinta, tapi juga hasrat yang lain.

"Iya ngerti musti ngumpul, tapi sesekali boleh dong
minta izin nginap di rumah famili, gitu."
Alia diam.
"Emang bisa nginap di rumah elo?" katanya setelah
beberapa saat hening. Betapa polosnya dia. Tak mungkin
Aku masukin cewek ke rumah, bisa-bisa terjadi perang
rumah tangga.
"Entar gue booking kamar." Langsung, boo...
"Ih, elo. Udah biasa gitu ya?"
"Bukan begitu," sahutku cepat-cepat.
"Alia, elo tahu kan, gue pengin banget ketemu.
Kesempatan ketemu yang amat langka ini harus kita
manfaatkan sebaik-baiknya..."
"Kenapa musti di hotel?"
Iya, kenapa ya? Bingung jawabnya.
"Yah, supaya kita bisa kangen-kangenan, ngobrol, bebas
dari gangguan."
Diam. Sejurus kemudian.
"Entarlah. Gimana nanti aja."
Bukankah ini semacam sinyal setuju?

Tibalah saat yang amat kunantikan. Alia dan rombongan
akan tiba Minggu sore di Jakarta. Dia berjanji akan
meneleponku ke kantor begitu dia punya peluang yang
aman. Akupun mulai melakukan persiapan untuk menyambut
kedatangannya.
Pertama, persiapan waktu. Aku harus cari akal supaya
bisa kabur dari rumah sekitar seminggu. Dari beberapa
alternatif alasan dan memperhitungkan resikonya, Aku
memilih alasan "dinas luar ke Semarang".
Kedua, persiapan tempat. Aku memilih Hotel "AM" di
Kebayoran Baru walaupun room rate-nya lumayan mahal,
tapi dekat dengan tempat Alia kerja dan juga Mess-nya.
Dan jauh dari rumah, supaya lebih aman.

----------

Obrolan kami makin seru setelah masa "ice-breaking" tak
lama dilalui. Kami sempat saling salah tingkah pada
menit-menit pertama Alia masuk ke kamar hotel. Alia
begitu bersemangat cerita tentang kegiatannya selama
praktek kerja lapangan di instansi pemerintah itu. Aku
tak begitu memperhatikan ceritanya. Perhatianku terpusat
pada gerak gesture dia bercerita dan sesekali melempar
pandangan ke bawah, ke sepasang kaki mulusnya dan
sedikit paha yang tak tertutup oleh rok span-nya. Tapi
konsentrasi pikiranku sebenarnya adalah, bagaimana
"strategi" untuk memindahkan Alia dari tempat duduknya
sekarang ke kasur yang kududuki, bagaimana cara
memulainya. Memang, memulai adalah hal yang paling
sulit.

"Aneh ya gue..." katanya tiba-tiba. Dia baru menyadari
mataku sering mampir ke kakinya. Aku sedikit gugup.
"Emang kalo ke kantor gue mesti pakaian begini?"
sambungnya.
"Nggak ah, justru gue seneng loe pakai seragam."
"Oh iya? Kenapa?"
"Lebih feminim."
"Emang gue maskulin ya?"
"Bukan begitu. Gue emang lebih suka ngeliat cewek pakai
rok dibanding pake celana panjang, apalagi..."
"Apalagi apa?"
"Kalo nggak pakai apa-apa."
"Huh, dasar."
"Sorry."
Aku khawatir kalau dia tak suka gurauanku yang menjurus
ini. Mukanya bersemu merah. Apakah ini saat memulai? Ayo
Sam, bangkit dan dekati dia. 'Bangkit' sih sudah, yang
di dalam celanaku, dekatinya ragu-ragu. Kenapa ragu? Dia
sudah mau masuk kamar dengan pintu tertutup, apakah ini
bukan suatu tanda? Iya, tapi kan duduk di kursi dan dia
asyik cerita pengalamannya. Siapa tahu dia menunggu
action kamu? Umm... tapi masa tiba-tiba "nyerang",
begitu. Nggak dong, gunakan cara seperti pengalaman kamu
sebelumnya! Dia duduknya "jauh" sih.

Okay, Aku ke kamar mandi pura-pura mau pipis supaya bisa
pindah duduk. Nah, sudah duduk di kursi, tapi masih ada
penghalangnya, ada meja bundar di antara kami.
"Terus nanti selesai job training di situ, ngapain?"
pancingku memulai obrolan.
"Tulis laporan. Kan kerja sambil kumpulin data."
Nah, mulailah dia bercerita lagi tentang job
trainingnya, penuh semangat. Aku terus menatapi gerak
bibirnya yang menggemaskan itu.
"Eh, ngapain sih, ngeliatinnya gitu?"
"Gitu kenapa?"
"Tajem."
"Seneng aja ngliatinnya."
"Ngliatin apaan?"
"Bibir kamu."
"Kenapa, dower?"
"Eh, nggak. Bibir kamu seksi." Telapak tanganku mampir
di bahunya. Alia menunduk tapi tak menepis tanganku.
Kuremas bahunya pelan. Masih menunduk. Dengan tangan
masih di bahunya Aku bangkit mendekat, kedua tanganku di
bahu kanan-kirinya.

"Alia..."
Dia masih menunduk. Wajahnya bersemu merah lagi.
Kusentuhkan jariku di dagunya, mengangkat. Barulah
matanya menatapku. Kepalaku bergerak pelan mendekati
wajahnya, bibirnya kukecup. Sekali kecupan lalu kulepas
lagi. Tak ada tanda-tanda penolakan. Serangan kedua pada
bibirnya tak sekedar kecupan lagi tapi diikuti dengan
lumatan. Pada detik kedua bibir Alia memberikan reaksi,
lumatanku disambutnya. Nafasnya mulai memburu. Tangan
kananku yang ada di bahunya perlahan bergeser turun.
Telapak tanganku memberi sinyal bahwa buah yang tak
begitu besar itu keras dan membulat, ternyata. Tentu
saja tanganku tak puas hanya merasakan kekenyalan
dadanya dari luar, ingin menyentuh kulitnya langsung.
Dua kancing bajunya yang teratas telah kulepas dan detik
berikutnya keempat jariku mulai menyusup ke balik bra
Alia. Detik-detik berikutnya akan lancar saja, pikirku.
Tapi ternyata tidak. Tangan Alia menarik tanganku yang
baru saja merasakan halusnya kulit buah kenyal itu dan
lumatanku pun dilepas. Alia menggeleng lembut sambil
menyodorkan mulutnya lagi. Kulumat lagi. Dadanya tak
boleh disentuh. Mungkin belum saatnya, aku harus
bersabar.

Ciuman dengan posisi begini tak nyaman juga. Kutarik
tubuhnya, kubimbing ke kasur dan kurebahkan. Tak ada
penolakan, aman. Bahkan Alia membentangkan kakinya.
Dengan sendirinya kedua belah telapak tanganku segera
menelusuri kedua pahanya, menyusup di balik roknya.
Oops, lagi-lagi Alia menepis tanganku. Kenapa sih dia?
Main tarik-ulur? Tanganku ditariknya sehingga tubuhku
rebah menindihnya. Kami berciuman lagi. Bukan Sammy
kalau tak mencoba dan mencoba lagi. Sambil terus melumat
bibir tangan kananku menyusup lagi ke bawah menelusuri
lengkungan pinggir pinggulnya. Tak ada gerakan
perlawanan. Bahkan ketika tanganku berhasil mencapai
kain celana dalam di pinggir pinggulnya. Bahkan ketika
menarik karet celana dalamnya ke bawah tak ada juga
perlawanan. Lebih jauh lagi, ketika telapak tanganku
merasakan lebatnya bulu-bulu kewanitaannya. Bulu lebat
itu tak mengagetkanku, lengannya memang ditumbuhi bulu
lumayan lebat, apalagi "pusat"nya. Aku kaget karena Alia
tak menolakku merabai kewanitaannya. Basah berlendir.
Aku jadi penasaran ingin menikmati "pemandangan" di
bawah sana. Aku bangkit dan menyingkap roknya. Alia
memang unpredictable, tiba-tiba dia mencegah tanganku
yang membuka roknya. Bingung gue. Yang membuatku makin
bingung, Alia melepas kaitan ikat pinggangku, melepas
kancing jeansku, menarik ritsnya dan karet celana
dalamku dan merabai Juniorku sudah tak betah terkurung
tegang.

Aku seperti orang tolol yang hanya diam saja menyaksikan
Alia mengelusi batang penisku. Bingung. Waktu kedua
tanganku menyusupi pahanya, dia menolak. Tapi tak
bereaksi sewaktu aku menarik celana dalamnya dan merabai
kelaminnya. Aku yakin, dia bukannya tak tahu apa
keinginanku saat ini, ingin menyetubuhinya. Tersirat
dalam mail-mailnya dia tak menolak ketika aku "minta"
kelak kalau ada kesempatan bertemu. Tubuh bawahku sudah
telanjang, penisku sudah tegang mengacung. Tentunya dia
makfum akan "langkah selanjutnya". Alia masih berpakaian
lengkap, kecuali celana dalamnya yang sedikit bergeser
ke bawah tapi masih nempel di pahanya. Gerakan Alia
berikutnya lagi-lagi membuatku bingung. Tangannya
berhenti mengelusi kelaminku lalu Alia bangkit berdiri.
Selagi aku bengong mencoba mengerti tingkahnya ini,
tiba-tiba kedua tangan Alia membuat gerakan cepat
melepas celana dalamnya! Lalu, lagi-lagi dia menarik
tubuhku hingga rebah menindih tubuhnya.

Dengan gemas kugigiti kedua buah dadanya berganti-ganti
kanan dan kiri. Tak langsung ke kulitnya sih, masih ada
penghalang baju dan bra-nya. Apa boleh buat, memang
hanya itu yang diizinkan. Beberapa kali aku berusaha
membuka pakaian atasnya, dia selalu menolak. Aku tak
tahan lagi, ingin segera memasuki tubuhnya. Dengkulku
membuka pahanya dan penisku merengsek masuk mencapai
selangkangannya. Kugeser-geser, kugosok-gosok, dan...
perlahan namun pasti, aku mulai masuk. Tak mudah memang,
tapi tak susah benar. Aku tak kaget kalau dia sudah tak
perawan lagi. Alia pernah cerita miliknya yang paling
berharga telah diserahkan kepada pacarnya yang sekarang.
"Itulah satu-satunya penis yang pernah kulihat dan
memasuki tubuhku," tulisnya ketika itu.
"Jadi nanti, punyaku yang kedua," balasku.
"Iya, kalau jadi."

Ketika pompaanku makin cepat, ketika aku telah tiba
saatnya untuk mencabut, Alia justru mengunci tubuhku
dengan kakinya. Dibiarkannya aku ejakulasi di dalam
tubuhnya. Padahal dia tahu, kami berdua sama-sama tak
menggunakan proteksi. Akupun dengan tenangnya menikmati
orgasme di dalam tubuhnya. Seluruh maniku telah
tertampung di tubuhnya. Menit-menit berikutnya aku masih
di dalam. Kebiasaanku kalau berhubungan seks memang
begitu, sampai penisku lepas dengan sendirinya ketika
mengecil kembali. Lucunya, ketika aku lepas dan rebah ke
sampingnya, Alia cepat-cepat menutup roknya kembali. Dia
sama sekali tak mengizinkan mataku menikmati
kewanitaannya. Apa sebenarnya yang dia sembunyikan?
Kurasakan kewanitaannya tak ada masalah, masih cukup
erat menjepit penisku. Masih ada "rem"nya. Pahanya pun
oke saja, tadi tanganku merasakaannya, halus berbulu
lembut.

"Kenapa sih Yang?" reaksiku ketika dia menutup roknya
kembali.
"Engga apa-apa."
"Pakaianmu masih lengkap."
"Sama aja kan, Mas puas juga kan?"
"Benar, barusan Mas puas sekali, tapi..."
"Engga pakai tapi," potongnya.
"Bagusnya kan kita berdua telanjang bulat."
Diam saja, tak ada komentar.
"Jadi foreplay kita bisa lebih panjang, gue paling suka
foreplay dengan nyiumin tubuh loe," lanjutku. "Loe juga
bisa 'tinggi' dan mencapai puncak, engga kaya tadi,"
lanjutku lagi. Aku yakin tadi dia belum sampai orgasme.
"Tadi aku puas juga kok Mas," katanya sambil mencium
pipiku.
"Tapi belum orgasme, kan?" lenganku merangkul memeluk
bahunya.
"Tak masalah, yang penting Mas bisa puas."
Dia pernah cerita, dengan pacarnya jarang mendapatkan
orgasme tapi pacarnya selalu sampai puncak setiap
berhubungan seks. Baginya tak problem asalkan bisa
memuaskan pacarnya.
"Lebih indah kalau kita berdua bisa ke puncak."
"Mas, kita engga usah bahas ini lagi, OK?"
"Okay, okay." Kupeluk tubuhnya. Aku benar-benar jatuh
cinta.

Tiba-tiba aku ingat sesuatu yang mencemaskan. Kupegang
kedua belah bahunya.
"Yang, tadi gue keluar di dalam, gue..."
"Engga usah khawatir Mas," potongnya.
"Loe pakai spiral?"
"Engga ih, kayak ibu-ibu aja."
"Lalu?"
"Sejak pertama gue ama pacar selalu keluar di dalam,
engga ada efek."
"Pacar loe mandul, kali?" Kalau benar, wah, dia bisa
hamil nih.
"Engga juga, dia pernah hamilin anak SMU."
"Oh..." Aku lega, tapi belum 100 persen yakin.
"Kayaknya dari gue Mas."
Aku diam saja, mau komentar apa? Rangkulan di bahunya
kupererat lalu kuciumi wajahnya. Menenangkan maksudku.
"Entar Mas, mau ke kamar mandi." Dia bangkit, masuk
kamar mandi dan pintunya dikunci. Di luar kebiasaan
memang. Dengan pasangan seks yang lain umumnya aku
sama-sama ke kamar mandi, saling membersihkan, atau
langsung mandi bersama, atau kalau sama-sama terangsang
bisa dilanjutkan main di kamar mandi. Alia memang
berbeda. Aku ingin segera mandi tapi mesti nunggu Alia
selesai. Gemericik suara douce menandakan Alia sedang
mandi. Membayangkan tubuh putihnya yang telanjang bulat
di kamar mandi penisku mulai bergerak bangkit lagi. Oh,
aku kepingin lagi.

Oho... Alia lupa celana dalamnya. Kupungut CD-nya yang
masih tergeletak di lantai, kusimpan. Alia keluar kamar
mandi sudah berpakaian lengkap, wajahnya segar, pipinya
masih memerah. Aku cepat-cepat masuk kamar mandi sebelum
dia mencari celana dalamnya. Selesai mandi dengan hanya
berbalut handuk aku keluar.
"Mana celana gue," tagihnya.
"Gue simpen, buat kenang-kenangan."
"Ngaco, masa gue balik engga pakai celana dalam."
"Loe bener engga mau nginep sini?"
"Mas Ajie, tadi kan gue udah bilang, gue izinnya cuman
mengunjungi famili, engga nginap."
"Jadi kapan dong boleh izin nginap?" celana dalamnya aku
berikan.
"Ini kan baru pertama gue izin keluar. Entar deh,
lihat-lihat situasi." Alia duduk di ranjang dan
mengangkat sebelah kakinya mulai mengenakan celana
dalam. Sekilas aku nampak pahanya yang putih. Kubuang
handuk yang menutupi tubuhku dan aku mendekat. Sebelum
Alia sempat bangkit untuk menarik ke atas celananya, Aku
menubruknya dan merebahkan punggungnya ke kasur.

"Mas...!"
Bibirnya kulumat. Payudaranya kuremas. Tubuhku yang
telanjang telah menindih selangkangannya.
"Maass, gue kan musti balik," katanya ketika Aku melepas
bibirnya untuk menelusuri lehernya. Aku terus menciumi
leher dan meremasi dadanya. Mulutnya mengatakan menolak,
tapi nafasnya yang mulai memburu menandakan lain.
"Kan baru sekali, Yang, sekali lagi ya?"
"Kita masih banyak waktu."
Ya, masih banyak, tapi suaramu serak dan nafasmu
memburu. Diapun tak berusaha mencegah ketika celana
dalam yang masih di pahanya itu kutarik lepas kembali.
Juga tak menampik jariku yang meraba pintu vaginanya.
Basah. Alia malah membuka pahanya lebar-lebar, membantu
penisku memasuki tubuhnya. Kembali kami menyatukan
tubuhku yang bugil dengan tubuhnya yang masih berpakaian
lengkap. Ronde kedua ini aku lebih "ganas". Kadang
tusukan kubarengi dengan hentakan kuat. Alia mengerang.
Mulutnya lebih ribut dibandingkan ronde pertama tadi.
Tubuhnya mengejang. Hah, apa ini? Denyutan-denyutan kuat
teratur kurasakan pada batang kelaminku di dalam sana.
Oh nikmatnya. Tubuhnya masih bergetar mengejang ketika
aku ejakulasi. Pun masih kurasakan getaran itu walau aku
sudah rebah lemas di atas tubuhnya.

"Oh, udah gelap," katanya mengejutkanku. Alia menolak
tubuhku ke samping dan bangkit. Dengan panik dia
mencari-cari celana dalamnya dan mengenakannya. Cara
memakai celana dalamnya yang buru-buru menyebabkan
mataku sempat menikmati bulu lebat kelaminnya. Kulihat
arlojiku. Rupanya kami sempat tertidur setengah jam
setelah orgasme yang nikmat tadi.
"Tenang Yang, nanti gue anter."
Sesuai permintaannya, Alia kuturunkan di dekat Mess
penginapannya. Aku tidak boleh mengantarnya sampai Mess,
untuk menghindari kecurigaan teman-temannya. Aku kembali
ke hotel meneruskan tidur.

----------

Begitulah. Aku dan Alia menikmati seks dengan cara ini.
Alia tak bisa setiap hari "mengunjungi famili". Selang
sehari kami setelah bertemu bisa bertemu lagi. Alia
menelepon memintaku menunggu di dekat Mess lalu berdua
kami ke hotel. Gaya berhubungan seks-nyapun masih sama
seperti yang pertama. Gaya missionarist, Alia berpakaian
lengkap (kecuali celana dalam tentunya) meskipun Aku
selalu telanjang bulat. Tanganku belum pernah menyentuh
langsung buah dadanya, apalagi menghisap putingnya.
Remasan dada kulakukan dari luar. Mataku belum pernah
menikmati klitoris dan liang senggamanya. Penis dan
jariku yang sudah menikmatinya. Aku belum pernah
menikmati tubuh telanjangnya secara utuh walaupun sudah
menyetubuhinya belasan kali.

Kalaupun ada yang berbeda, terjadi pada pertemuan ketiga
(hari ketujuh Alia di Jakarta). Dalam foreplay Alia
bersedia meng-oralku. Tadinya Aku berencana untuk
"keluar" di mulutnya. Sekaligus semacam "test" apakah
dia mau menelannya. Tapi Alia keburu minta dimasuki.
Ketika pada ronde berikutnya Aku gantian minta meng-oral
dia, sudah kuduga Alia menolak. Tapi bagiku tak menjadi
soal benar. Yang penting kami berdua puas. Beberapa kali
aku mampu membuatnya orgasme. Bahkan dua kali Alia
mengalami multiple orgasme. Satu hal lagi yang
kudambakan, ketika bangun pagi Alia ada di sampingku
sehingga kami bisa menikmati seks pagi hari yang
menyegarkan. Ketika hal ini kuutarakan, Alia berjanji
nanti pada malam terakhir dia di Jakarta akan minta izin
menginap.

Tibalah saat yang kunantikan. Jam 3 sore Alia
meneleponku. Biasanya dia menelepon sekitar jam 5.
"Udah selesai, besok siang tinggal pulang," katanya.
"Bisa nginap dong."
"Beres," sahutnya. Hatiku bersorak. Sebentar lagi sampai
besok pagi Aku bisa bersamanya.
"Gue jemput sekarang," Penisku berdenyut. Engga sabaran
"dia", sejak dua hari lalu "nganggur" saja.
Begitu masuk kamar, Aku langsung bertelanjang dan
memelorotkan celana dalam Alia, mendorongnya ke ranjang.
Untuk kesekian kalinya kami bersetubuh dengan cara yang
sama, cuma kewanitaannya yang terbuka. Keringat kami
lebih banyak keluar, mungkin karena main di siang hari
walaupun AC kamar cukup dingin. Alia benar-benar teriak!
Sampai aku harus menutup mulutnya agar suaranya tak
sampai kedengaran dari luar kamar.

----------

Kami berdua masih tergeletak lemas, tak berbicara, asyik
dengan pikiran masing-masing. Penisku baru saja lepas
dari vaginannya setelah orgasme yang amat nikmat tadi.
Kurasakan, inilah orgasme yang paling nikmat setelah
belasan kali kami bersetubuh. Alia memang agak aneh, tak
sekalipun aku diizinkan untuk menciumi bagian tubuhnya
yang tak tertutup pakaian walaupun telah menghantarnya
ke puncak kenikmatan hubungan seksual. Tak apalah, Aku
punya banyak waktu untuk mencoba dan mencoba lagi. Malam
ini Alia sepenuhnya menjadi milikku. Kalau perlu aku
akan begadang malam ini. Bertelanjang terus dan setiap
saat bila siap akan menyetubuhinya. Kalaupun perlu tidur
akan kulakukan lewat tengah malam. Itupun hanya supaya
besok bangun pagi Aku siap menyetubuhinya lagi, suatu
hal yang aku idam-idamkan: bangun pagi dengan wanita
selain isteri ada di sampingku. Membayangkan itu semua
Aku jadi horny lagi.

"Yang..." sapaku sambil mencium pipinya.
"Hmm...?"
Aku terus menciumi wajahnya, tanganku ke dadanya.
Meremasi.
"Eemmm. Apa sih?"
Kutempelkan penisku yang setengah tegang ke pahanya.
"Mau lagi."
"Kok terus-terusan."
"Iya dong, kan malam terakhir."
"Tenang dong. Kita banyak waktu. Kita mandi dulu aja
ya."
Wow, kalau nggak salah dengar, mandi bersama adalah
ajakan baru.
"Ayo!" sahutku semangat. Aku bangkit lalu menariknya ke
kamar mandi.
"Yee... siapa yang ngajak mandi bareng?"
"Lho, tadi katanya kita mandi dulu."
"Iya. Kita berdua mandi tapi gantian. Gue dulu,"
sahutnya.

Seperti biasa, selesai mandi Alia tampil dengan pakaian
lengkapnya. Walaupun begitu, tampilan segar dan wangi
tubuhnya membuatku tak sabaran untuk cepat-cepat mandi
kilat. Keluar dari kamar mandi itulah aku mendapatkan
kejutan luar biasa dari Alia.

Di kasur, Alia rebah terlentang dengan kaki membuka dan
telanjang bulat! Tubuh langsat itu mengkilat tertimpa
bias sinar matahari dari jendela kaca. Matanya tajam
menatapku, sepasang buah dadanya membulat dengan puting
menjulang seolah menantang, bulu-bulu lebat di permukaan
kewanitaannya menjadi kontras "dikawal" sepasang paha
saljunya. Aku sempat terpaku beberapa saat di depan
pintu kamar mandi karena pemandangan yang tak biasa ini.
Perilaku Alia ini lagi-lagi kurasakan aneh. Selama
sepuluh hari ini dia sama sekali tak mengizinkan aku
melihat tubuhnya yang tertutup pakaian, apalagi
menyentuh. Tapi kali ini Alia "menghidangkan"
seluruhnya! "Alia!" seruku sebelum akhirnya tersadar
dari bengong, membuang handuk dan mendekatinya. Aku tak
langsung menubruknya. Masih menatapi tubuhnya bahkan
sempat berpikir, mulai dari mana? Akhirnya, masih
berlutut di lantai, jari telunjukku (hanya satu jari)
merabai bukit dadanya. Berputar di kaki dan lereng bukit
dan berakhir dengan menyentuh ujung jariku di putingnya.
Sudah mengeras. Alia melenguh pelan. Dengan gemas kedua
telapak tanganku meremasi kedua bukit itu.

"Aah... sakit. Pelan-pelan dong."
"Oh, sorry Yang."
Kukecup keningnya semesra mungkin, penuh perasaan. Lalu
matanya, hidungnya, dan bibirnya. Disini aku lama
mengeksplorasi bibir dan lidahnya. Aku akan melaksanakan
niatku sekarang, menciumi seluruh tubuh kekasih gelapku
ini. Dagunya kugigit pelan, Alia melenguh Lehernya
kutelusuri dengan bibirku, Alia mengkikik. Tiada
semilipun bagian payudaranya yang terlewat oleh bibir
dan lidahku, Alia merintih. Waktu putingnya
kuhisap-hisap, Alia mendesis. Waktu lidahku
menyapu-nyapu pusarnya, Alia kegelian ketika bibirku
"mencabuti" bulu-bulu di bawah perutnya, Alia terkaget.
Dan... tubuhnya menggigil gemetaran waktu Aku menjilati
klitorisnya.

----------

Benar-benar malam yang menikmatkan dan melelahkan. Entah
berapa kali tubuh Alia mengejang dalam dekapan tubuhku.
Malam itu kami "menghabiskan" semuanya seolah-olah kami
tak akan bertemu lagi. Dari jam 4 sore tadi kami tak ke
luar kamar. Makan malampun tinggal telepon room service
(dan Alia dengan telanjang bulat lari ke kamar mandi,
ngumpet, sewaktu room boy mengantar makanan). Sampai
kami lunglai dan tanpa sadar ketiduran.

Suara pintu setengah dibanting membangunkanku. Oh... di
mana aku? Masih mengantuk berat kulihat sekeliling. Di
kamar hotel. Pintu kamar masih tertutup, rupanya tadi
suara dari kamar sebelah. Kesadaranku berangsur pulih.
Aku menengok ke samping. Oh! Tubuh langsat itu masih
terlentang dengan kaki masih membuka. Tak ada sehelai
benangpun menempel di tubuhnya. Sepasang buah kembar itu
kembang-kempis sesuai irama dengkuran halusnya.
Bulu-bulu di tengah paha yang membuka itu begitu kontras
dibanding sekelilingnya. Betapa indahnya Alia! Rupanya,
begitu aku "turun" dari tubuhnya setelah persetubuhan
kami terakhir lewat tengah malam tadi Alia langsung
tertidur. Badannya masih dalam posisi bersetubuh gaya
missionarist, terlentang dengan kaki membuka. Inilah
saat yang kutunggu-tunggu. Bangun pagi dengan kekasih
telanjang bulat tertidur di sampingku.

Dengan amat perlahan aku bangkit menuju ke kamar mandi,
pipis. Aku masih menikmati pemandangan indah ini.
Tidurnya begitu 'damai', aku punya kesempatan
mengamatinya. Inilah wanita yang beberapa bulan terakhir
ini memenuhi benakku dan mengisi hatiku. Inilah tubuh
yang beberapa hari terakhir ini terus tertutup walaupun
banyak kali aku 'menyuntik' maniku. Inilah bukit kembar
yang seminggu terakhir ini Aku ciumi beralaskan bra dan
baju. Inilah kewanitaan yang beberapa kali sempat
kumasuki tanpa melihatnya. Dan, inilah clit yang...

Aku menunduk mendekati selangkangannya. Kuusap, amat
pelan, klitorisnya dengan telunjukku. Dengkurannya
berhenti, Alia menggeliat dan membuka mata.
"Maass... Ih," dengan refleks kaki Alia menutup.
"Sebentar Yang," kataku sambil membuka pahanya kembali.
Alia menahan.
"Malu ah Mas. Sini aja deh," kedua tangannya terjulur.
Kusambut tangannya. Aku menindih tubuhnya. Kami
berpelukan erat. Inilah juga yang Aku dambakan, seks di
pagi hari dengan wanita selain isteri.

Pada detik-detik terakhir kebersamaan kami, Aku masih
penasaran tentang seminggu terakhir Alia "menutup" diri.
Ketika hal ini kutanyakan, lama Alia berdiam diri,
lalu...
"Sebenarnya, gue kurang pede, Mas."
"Gue nggak melihat begitu, kenapa sih?" tanyaku.
Kami masih bertindihan, penisku masih di dalam tubuhnya.
Baru saja kami mengalami orgasme pagi yang nikmat.
"Dada gue Mas," Dengan refleks Aku bangkit sehingga
penisku terlepas. Memeriksa dadanya. Bulatan kembar itu
memang tak besar, tapi juga tak kecil. Mulus kulit
"pembungkus"nya. Tak ada yang salah dengan dada itu.
"Hmmm... bagus begini," ungkapku jujur.
"Tapi..." Alia bangkit duduk.
"Agak turun, Mas... gue malu," katanya lagi. Aku amati
dadanya dari samping, rasanya wajar-wajar saja.
"Nggak kok Yang, bener!"
"Menghibur ya?"
"Tidak, Alia. Lagian kalaupun turun, tak ada masalah
bagi Mas."
Dia diam lagi.
"Di paha ada ini..." katanya kemudian.
"Apa lagi, Yang?" Memang ada sedikit "warna lain" di
paha kirinya bagian dalam. Tapi Aku tak melihatnya kalau
tak ditunjukkan Alia.
"Ah... begitu aja kok engga pede."
Oh wanita! hal-hal yang sepele begini kok bisa jadi
mengurangi rasa percaya diri. Wanita memang sensitif
mengenai keadaan tubuhnya.

Lalu, inilah saat yang kubenci, perpisahan.
Walaupun kami saling berjanji untuk berusaha bertemu
lagi, tak urung membuatku sedih. Alia sempat meneteskan
air mata. Perpisahan memang harus terjadi, setelah
kemesraan kami nikmati. Toh hanya perpisahan sementara.
Sementara? Nampaknya tidak. Beberapa hari setelah Alia
tiba kembali di Makassar, kami memang masih berkiriman
mail, tapi Aku bisa merasakan ada perubahan dalam
gayanya menulis. Tak semesra dulu lagi. Terakhir, Aku
mendapatkan mailnya dengan bahasa yang "resmi" yang
berisi ucapan terima kasih, bahagia selama bersamaku di
Jakarta, dan, ini yang bikin Aku "pingsan": Kita tak
bisa meneruskan hubungan ini, tanpa menyebutkan mengapa
harus begitu.

Beberapa kali Aku kirim email untuk minta penjelasan
tentang hal ini, tak dibalasnya. Aku coba kontak melalui
chat, dia tak pernah on-line. Aku sempat 'limbung'.
Gairah kerja menurun, marah-marah tanpa sebab. Alia
begitu saja meninggalkanku tanpa penjelasan kenapa.
Sampai aku menulis cerita inipun Aku tetap tak tahu!