Sunday, May 6, 2007

MOBIL GOYANG

Aku mengenalnya tanpa sengaja, waktu itu hujan deras
mengguyur Jakarta. Kukendarai mobilku hati-hati, karena
memang pandangan amat terbatas. Sebuah metro mini
mendadak memotong haluan, aku benar-benar kaget, secara
reflek kuinjak rem dan tangan kiri mengubah persneling
ke gigi netral sambil membanting stir ke kiri, nyaris
menghantam trotoar.

Sambil bersungut kulihat metro mini yang sudah demikian
penuh mengambil penumpang, aku hanya tertegun
memperhatikannya. Saat hendak menjalankan mobil,
perneling masuk gigi satu, kulihatseorang gadis
melambaikan tangan, segera kembali rem kuinjak, gadis
berpakaian putih-putih itu langsung masuk ke mobil.
"Numpang ya mas..?" katanya.
Aku tersenyum dan mengangguk, "Kehujanan..?" tanyaku
sekenanya.

Akhirnya kami berkenalan, "Nama saya Putri..." ia
menyebut namanya sambil kami berjabat tangan.
"Saya Harnoto..." aku pun memperkenalkan diri.
Setelah berbasa-basi sana-sini sambil menanyakan tempat
tinggal dan sebagainya, ternyata diatinggal di sekitar
Kranji. Sepanjang jalan kulirik gadis itu yang ternyata
masih kelas tiga SMA, tubuhnya yang terbungkus baju
basah agak menggigil, blouse-nya melekat memperlihatkan
bra dan isinya yang ukurannya lumayan.

Sampai di Kranji, Putri turun dan melambaikan tangannya.
Aku pun menggenjot pedal gas tanpa pernah memikirkannya
lagi. Delapan hari setalah pertemuan itu, aku tengah
berbelanja kebutuhan anak-anakku, susu, pasta gigi,
sabun, dan sebagainya, maklumlah istriku telah meninggal
setahun lalu karena penyakit. Kini aku adalah bapak
sekaligus ibu bagi ketiga anakku yang masih kecil-kecil.
Yang tertua baru kelas 1 SD.

Saat antri di kasir, tiba-tiba terdengat suara ringan
memanggil namaku, "Mas Harnoto.."
Aku menoleh dan tersenyum, lupa-lupa ingat pada seorang
cewek dengan t-shirt dan jeans-nya. "Aku Putri.., lupa
ya..?"
Sambil berusaha keras mengingat, aku masih tersenyum,
akhirnya aku ingat, ini anak SMA yangkehujanan seminggu
lalu.

Singkat cerita kami kembali bersamaan, kali ini Putri
lebih banyak ngobrol tentang berbagai hal, aku hanya
menjadi pendengar setia.
Saat mendekati rumahnya, Putri mempersilakan mampir,
tapi aku menggeleng, "Lain kali..," ujarku basa-basi.
"Mas... lusa aku pesta perpisahan sekolah, boleh dong
mas anterin..?" pandangannya begitu memohon.
Akhirnya aku mengiyakan.

Sore sekitar pukul 18:30, aku menunggu Putri di tempat
yang dijanjikan, karena jalan ke rumahnya tidak mungkin
dilalui mobil. Aku berpakaian sepantasnya dan Putri
mengenakan gaun malam ungu, tampak begitu dewasa.
Belahan lehernya yang agak dalam membuat dua bukit
kembarnya tersembul apabila dia salah posisi. Diam-diam
jantungku berdegup melihat semua itu. Pesta perpisahan
berlagsung meriah, meski aku kurang bisa menimati, tapi
aku duduk bertahan sampai selesai.

Sekitar pukur 23:00, acara selesai. Putri mengajakku
pulang.
"Acaranya menarik nggak..?" tanya Putri lincah.
Aku hanya tersenyum menatapnya.
"Anak-anak nggak apa-apa ditinggal, maaf ya
ngrepotin..." kembali Putri berkata lincah, aku masih
tersenyum.
"Mas, jalan-jalan dulu yuk..!" ajak putri.
"Udah malem, mau kemana..?" aku terus-terang jadi
bingung.
"Muter-muter aja..!" pintanya lagi, "Sambil ngobrol..."
Kupikir, daripada sumpek, kuiyakan ajakannya.

Kuarahkan mobil menuju jalan tol Jakarta-Cikampek.
Begitu melewati pintu gerbang, "Ke Purwakarta aja
mas..!" Putri memutuskan.
Aku mengangguk. Kami berbagi cerita tentang kehidupan
kami sehari-hari.
"Berat ya beban mas, ditinggali tiga anak." ujarnya
pelan, meyakinkan.
Aku hanya menarik nafas mengingat istri tercinta yang
telah tiada. Putri memilih-milih CD dan akhirnya
memuttar koleksi lagu-lagu kenangan Rafika Duri.

Kira-kira mendekati Cibitung, putri merebahkan kepalanya
ke pundakku, kurasakan kelembutan rambutnya yang lebat.
Putri memiliki paduan badan yang seimbang, dengan tinggi
165 cm dan berat 50 kg, sungguh ideal, bibirnya agak
tebal dan bentuknya melengkung ke bawah. Kurasakan aroma
keharuman tubuhnya. Entah darimana mulanya, tiba-tiba
tangan kriku telah merengkuh pundaknya. Kubelai pipinya
yang halus, sementara tangan kanan tetap memegang stir.
Putri tersenyum, dalam keremangan nampak begitu indah
tatapan sendu matanya. Putri semakin dalam membenamkan
kepalanya ke pundakku, tangannya tersandar di paha
kiriku.

Setelah setahun lebih tidak berdekatan dengan wanita,
gelora dadaku tidak lagi tertahankan, jantungku berdegup
amat keras tidak beraturan dan celanaku semakin terasa
sesak. Putri kembali tersenyum.
Tanpa kuduga, tiba-tiba Putri mengecup pipiku, "Aku
mengagumi mas.. sejak pertama ketemu." katanya lirih,
amat dekat di telingaku, sehingga dengus nafasnya begitu
dekat di pipiku.
Batinku semakin tidak menentu, kembali aku dikejutkan
oleh gesekan lembut tangan Putri tepat di alat vitalku
yang terbungkus rapat.
Aku kaget saat Putri tertawa kecil, "Udah kelamaan
ya..?"

Dia terus mengelus-elus alat vitalku yang kian mengeras.
Tangan kiriku tiba-tiba punya keberanian untuk menyentuh
tonjolan di dada kiri Putri, bra yang keras membuatku
penasaran.
"Sebetantar..." kata Putri.
Dia merapikan duduknya, menyondongkan tubuhnya ke depan
dan tangannya bergerak ke belakang. Melihat gerakan ini
aku belum mengerti apa maksudnya. Saat dia melepas
bra-nya dan melempar ke jok belakang, barulah aku
memahami semuanya. Tanpa tunggu lebih lama lagi, aku
langsung merengkuh pundaknya dan tanganku menyelusup ke
dalam gaun ungunya, hatiku bergetar saat menyentuh
tonjolan daging empuk di dada Putri. Kuremas pelan-pelan
sambil sesekali memelintir puting yang kecil dan lembut.

Aku terkaget-kaget saat tiba-tiba Putri melepaskan ikat
pinggangku, melemparnya ke jok belakang, menyingkap
kemejaku dan kemudian membuka resliting celanaku. Mobil
kupacu pelan dan kuarahkan ke lajur kiri, jantungku
terus berdegup. Apalagi saat tangan lembut Putri
menyerobot batang vitalku dan mengeluarkannya, tangan
kirinya membimbing tangan kiriku agar terus ke bawah.
Dengan segala ketrampilan, jemariku menyentuh bulu-bulu
lebut dibalik CD Putri, mengelusnya sambil menahan
nafas. Putri menggelinjang kegelian, tangan kanannya
terus meremas halus batang vitalku. Mendadak sebuah
gerakan tidak terduga dilakukan Putri, kepalanya menuju
ke arah batang vitalku, aku kaget, kugeser tempat duduk,
dan kustel agak merebah sandarankursiku, sambil terus
menyetir, kuatur agar kepala Putri leluasa di
pangkuanku. Aku tidak mau kepalanya yang indah
tersenggol stir.

Pelan-pelan Putri mengecup, melumat dan menyedot batang
vitalku, sambil kaki tetap menginjak pedal gas, pantatku
bergerak seirama sedotan mulut Putri, tangan kiriku
berpindah-pindah antarapayudara yang lembut namun kenyal
dan selipan di kedua pahanya. Mobil masil meluncur
menuju arah Purwakarta, makin lama sedotan Putri semakin
liar, bajuku berantakan, gaun Putri juga tersingkap
tidak karuan. Putri terus melumat, menjilat dan menyedot
batang vitalku yang kian mengeras, desahan nafasnya dan
degup jantungku berpacu bak kuda balap. Putri terus
menyedot, sementara jemari kiriku menari-nari di
selangkangan Putri. Putri mendesah, seiring
mulaibasahnya selangkangan, batang vitalku pun mengeras.
Aku terus memelintir klitoris, dan jemariku menyusup
semakin dalam.

Putri merapatkan kedua kakinya, mulutnya terus mengulum
dan menyedot. Tiba-tiba Putri mendesah dan menggigit
batang vitalku, aku kaget.
"Maaf..!" ujarnya.

Rupanya dia telah orgasme. Kembali Putri mengulum batang
vitalku, pinggangku pun bergerak turunnaik, mengikuti
sedotan Putri. Kira-kira melewati Karawang barat, aku
merasakan desakan hebat di batang vitalku, segera
kutarik kepala Putri, kulumat bibirnya, sambil tetap
berusaha mendapatkan pandangan arah depan, agar tidak
menabrak.

Jemari lembut Putri kini mengambil alih tugas mulutnya,
mengocok batang kemaluanku yang telah licin. Pantatku
naik karena desakan dari dalam, isyarat ini ditangkap
putri dengan respon merapatkan dadanya dan gerak tangan
kanannya semakin keras berirama, namun tetap lembut. Tak
lama kemudian menyemburlah cairan bahan manusia dari
batang vitalku. Putri menggenggam batang vitalku
erat-erat agar tidak bertaburan kemana-mana, dan aku pun
lunglai. Putri tersenyum, memandangku, menyambar tissue
dan mulai mengelap batang vitalku yang basah, juga
perutku dantangannya.

Putri terus sibuk mengelap dengan tissue seraya
tersenyum padaku.
"Terima kasih... Putri..," desahku sambil mengecup
keningnya.
Putri tersenyum, mengecup batang kemaluanku sekali dan
membereskan celana serta bajuku. Saat melihat gerbang
tol Cikampek, Putri segera membenahi gaunnya dan duduk
manis di jok kiri. Keluar pintu gerbang, aku memutar
arah untuk masuk gerbang lagi. Putri tersenyum, melihat
keheranannya penjaga gerbang tol, aku pun tersenyum
sambil berpandangan.

Melewati jalan tol, kembali Putri merebahkan kepalanya
ke pundakku. Sejak itu, kami seringmelakukan petualangan
kenikmatan sepanjang jalan tol, di atas Grand Civic-ku.
Indah sekali.