Sunday, May 6, 2007

JURAGAN

Aku bekerja sebagai seorang sopir di Malang. Namaku
Sony, umurku 24 tahun, dan berasal dari JemBut. Aku
sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku
sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa
berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang
ganteng, ditambah dengan tubuh lumayan atletis. Banyak
teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya aku anak orang
kaya, pasti sudah jadi playboy kelas super berat. Memang
ada beberapa teman cewekku yang dulu naksir padaku,
tetapi tidak aku tanggapi.

Mereka bukan tipeku.
Juraganku punya seorang anak tunggal, gadis berumur 18
tahun, kelas 3 SMA favorit di Malang. Namanya Juliet.
Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku kadang hampir
tidak tahan melihat tubuh Juliet yang seksi sekali.
Tingginya kira-kira 168 cm, dan payudaranya besar dan
kelihatannya kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C.
Ditambah dengan penampilannya dengan rok mini dan baju
seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali
menyetubuhinya.

Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku
depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik
melihat pahanya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus
atau pada belahan payudaranya yang terlihat dari balik
seragam tipisnya itu. Tapi aku selalu ingat, bahwa dia
adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa
dipecatnya aku nanti, dan angan-anganku untuk
melanjutkan kuliah bisa berantakan. Siang itu seperti
biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru
metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa
aku menunggu Non-ku di gerbang sekolahnya.

Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.
"Siang, Non..., mari saya bawakan tasnya".
"Eh..., Mas, udah lama nunggu?", katanya sambil
mengulurkan tasnya padaku.
"Barusan kok Non..", jawabku.
"Jul..., ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan
ganteng juga sih..., ha..., ha..", salah satu temannya
berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.
"Hus..", sahut Non-ku sambil tersenyum. "Jadi malu dia
nanti..".
Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya
ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.

"Kenalin nih mas, temanku", Non-ku berkata sambil
tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.
"Sony", kataku sambil merasakan tangan temannya yang
lembut.
"Niken", balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan
berbulu.
"Mas, antar kita dulu ke rumah Niken di Tidar",
instruksi Non Juliet sambil menyilangkan kakinya
sehingga rok mininya tersingkap ke atas memperlihatkan
pahanya yang putih mulus.
"Baik Non", jawabku. Tak terasa penisku sudah mengeras
menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku menjilati
paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang padat
berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia
meronta-ronta..., ahh.

Tak lama kitapun sampai di rumah Niken yang sepi.
Rupanya orang tuanya sedangke luar kota, dan merekapun
segera masuk ke dalam. Tak lama Non Juliet ke luar dan
menyuruhku ikut masuk.
"Saya di luar saja Non".
"Masuk saja mas..., sambil minum dulu..., baru kita
pulang".
Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam
rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di
ruang keluarga.
"Duduk di sini aja mas", kata Niken menunjuk tempat
duduk di sofa di sebelahnya.
"Ayo jangan ragu-ragu...", perintah Non Juliet melihat
aku agak ragu.
"Mulai disetel aja Nik...", Non Juliet kemudian
mengambil tempat duduk di sebelahku.
Tak lama kemudian..., film pun dimulai..., Woww...,
ternyata film porno. Di layar tampak seorang pria negro
(Senegal) sedang menyetubuhi dua perempuan bule (Prancis
& Spanyol) secara bergantian. Napas Non Juliet di
sampingku terdengar memberat, kemudian tangannya meremas
tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi dengan segala
macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian
membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun
berciuman. Aku tarik rambutnya, dan kemudian dengan
gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.

"Hmm... Eh", Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan
tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas
payudaranya.
Kubuka kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak
bongkahan daging kenyal yang putih mulus punya Non-ku
itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga tampaklah
putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.
"Ayo..., hisap dong mas..., ahh". Tak perlu dikomando
lagi, langsung aku jilat putingnya, sambil tanganku
meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri. Aku tidak
memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah,
karena aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu
birahi Non Juliet. Setelah puas menikmati payudaranya,
akupun berpindah posisi sehingga aku jongkok tepat di
depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok seragam
SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak
bulu vaginanya yang masih jarang menerawang di balik
CD-nya itu.

"Ayo, jilatin memekku mas", Non Juliet mendesah sambil
mendorong kepalaku. Langsung aku sibak CD-nya yang
berenda itu, dan kujilati kemaluannya.
"Ohh..., nikmat sekali...", erangan demi erangan
terdengardari mulut Non-ku yang sedang aku kerjai.
Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan
seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti
mengelus, meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.
"Aduh, cepetan dong, yang keras..., aku mau keluar..,
ehhmm ohh..". Tangan Non Juliet meremas rambutku sambil
badannya menegang. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan
dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis.
Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi
sebelum sempat aku buka celanaku, Non Juliet telah ambil
alih.

"Biar saya yang buka mas", katanya.
Tangannya yang mungil melepas kancing celana jeansku,
dan membantuku membukanya. Kemudian tangannya
meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya CD-ku
sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah
tak tahan lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku
yang sudah tegak, bergelantung ke luar.
"Ih, wowww...!!!", desis Non Juliet, sambil tangannya
mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian dijilatinya
buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku.
Dijilatinya pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke
dalam mulutnya. Aku remas rambutnya yang berbando itu,
dan aku gerakkan pantatku maju mundur, sehingga aku
seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya
luar biasa..., bayangkan..., penisku berwarna hitam
sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya
yang putih tampak menggelembung terkena batang
kemaluanku.
"Punyamu besar sekali mas Son..., Jul suka.., ehmm..",
katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.

Setelah kurang lebih 15 menit Non Juliet menikmati
penisku, dia suruh aku duduk di sofa. Kemudian dia
menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya sehingga
dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan
diarahkannya penisku ke liang vaginanya.
"Ayo.., masukkin dong mas... Jul udah nggak tahan
nih...", katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin
merasakan nikmatnya penisku. Diturunkannya pantatnya,
dan peniskupun masuk perlahan ke dalam liang vaginanya.
Kemaluannya masih sempit sekali sehingga masih agak
sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi tak lama
masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan
anak juraganku ini.
"Ahh..., yeah..., sekarang masukin deh penis mas yang
besar itu di memekku", katanya sambil naik turun di atas
pahaku. Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian
disodorkannya putingnya untukku.

"Yah, begitu dong mas", Tak perlu aku tunggu lebih lama
lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu.
Sementara itu Non Juliet masih terus naik turun sambil
kadang-kadang memutar-mutar pantatnya, menikmati penis
besar sopirnya ini.
"Sekarang setubuhi Jul dalam posisi nungging... ya mas
Son...?", instruksinya. Diapun turun dan menungging
menghadap ke sofa.
"Ayo dong mas..., masukkin dari belakang", Non Juliet
menjelaskan maksudnya padaku. Akupun segera berdiri di
belakangnya, dan mengelus-elus pantatnya yang padat.

Kemudian kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, tetapi
agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada tangan
lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya
ke liang vagina Non Juliet. Aku lihat ke samping,
ternyata Niken, yang membantuku menyetubuhi temannya.
Dia tersenyum sambil mengelus-elus pantat dan pahaku.
Aku langsung menyetubuhi Non Juliet dari belakang.
Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul
Nonku.
"Ahh..., Mas..., Mas..., Terus dong..., nikmat sekali",
Non Juliet mengerang nikmat. Tubuhnya tampak
berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang.
Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Juliet
makin hebat.

Niken sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya
sibuk menelusuri tubuhku. Ditariknya rambutku dan
diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya menerobos
masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya
kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya
yang tidak terlalu besar, tetapi tampak padat.
"Ohh.., terus dong mas... yang cepat dong ahhh... Jul
keluar mas... ohhh...", Non Juliet mengerang makin
hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi
penisku.
"Non..., saya juga hampir keluar..", kataku.
"Tahan sebentar mas..., keluarin dimulutku...", kata Non
Juliet.

Non Juliet dan Niken berlutut di depanku, dan Niken yang
sejak tadi tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di
depannya, langsung mengulum penisku di mulutnya.
Sementara itu Non Juliet menjilat-jilat buah pelirku.
Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku
dengan penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua
remaja ini, yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.
"Ayo, goyang yang keras dong mas...", Non Juliet
memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di
atas karpet ruang keluarga.
"Ayo penisnya taruh di sini mas...", kata Non Juliet
lagi. Akupun segera menaruh berlutut di atas dada Non-ku
dan menjepit penisku di antara dua bukit kembarnya.
Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku
mengapitkan buah dadanya.

"Oh, nikmat sekali...".
Sementara Niken sibuk mengelap tubuhku yang basah karena
keringat. Tak berapa lama kemudian, akupun tak tahan
lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut Non Juliet, dan
dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.
"Ahh..., Non..., ahh", jeritku dan air manikupun
menyembur ke dalam mulut mungil Non Juliet. Akupun tidur
menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara Non
Juliet dan Niken sibuk menjilati bersih batang
kemaluanku.
Setelah itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah
menunjukkan pukul 15.00. Orang tua Juliet termasuk orang
tua yang strict pada anaknya, sehingga bila dia pulang
telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan
pulang, Juliet memberiku uang Rp 1.000.000,-.

"Ambil mas, buat uang lelah, Tapi janji jangan bilang
siapa-siapa tentang yang tadi ya", katanya sambil
tersenyum. Akupun mengangguk senang.
"Besok kita ulangi lagi ya mas..., soalnya Niken minta
bagian".
Demikian kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap
pulang sekolah, Non Juliet akan pura-pura belajar
bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia
menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga
teman-temannya, Niken, Linda, Nina, Mimi, Etik, dll.
Tapi akupun senang karena selain mendapat penghasilan
tambahan dari Non Juliet, akupun dapat menikmati tubuh
remaja mereka yang putih mulus.