Thursday, May 3, 2007

DOSEN FAISAL

Namaku Anita, kelahiran Samarinda, kuliah di fakultas
Ekonomi sebuah PTS cukup beken di kota Malang, saat ini
semester 6. Kabarnya teman kuliahku bilang aku cukup
manis untuk dipandang, dengan ukuran buah dada 34C,
tubuhku seolah tak kuat menyangga buah dadaku. Tinggiku
165 cm dan beratku 60 kg, kulitku putih mulus dan
pantatku berisi. Tiap kuliah dengan kelebihan yang
kupunya aku berusaha menarik perhatian semua orang
dengan pakaian ketat dan rok miniku berjalan melenggang.
Semua mata tertuju kepadaku ada juga beberapa berdecak
kagum atas kemolekan tubuhku dan, aku bangga menyaksikan
semua itu.

Terus terang aku sudah tidak perawan sejak usia 18 tahun
pada waktu aku di SMA, karena bebasnya pergaulan dan
longgarnya tatanan keluargaku aku bebas pergi kemana
saja yang kusuka. Keperawananku hilang saat aku
melakukan kegiatan "camping" bersama teman-teman saat
perpisahan sekolah di suatu tempat pariwisata. Aku tidak
menyesali karena kulakukan atas dasar suka sama suka.

Kuliah sore ini adalah dosen favoritku. Faisal namanya,
wajahnya ganteng atletis dan banyak sekali mahasiswi
yang berusaha menarik perhatiannya pada saat dia
mengajar. Bahkan aku pernah dari kakak tingkatku walau
dia kelihatan alim sebenarnya piawai juga dalam
menaklukkan hati wanita yang diincarnya. Pak Faisal
sudah berkeluarga tetapai masih banyak juga mahasiswi
yang tergila-gila melihat penampilannya termasuk aku
sendiri. Aku pilih tempat duduk paling depan lurus
dengan tempat duduknya biar aku dapat dengan mudah dan
puas memandangnya. Tak lama kemudian Pak Faisal memasuki
ruangan, setelah memberikan salam dan berbasa-basi
pelajaran dilanjutkan. Aku tidak dapat konsentrasi pada
kuliah yang diajarkannya, pikiranku tertuju pada wajah
dan bodinya yang tepat berdiri di depanku. Sesekali
kugerakkan kakiku untuk menarik perhatiannya dan dia
terpancing, diliriknya rokku yang cukup sempit itu,
sreet. Dan dipalingkan wajahnya pada pandangan lain, ah
dia kena, pikirku. Dan secara tidak sengaja dilemparkan
pandangannya pada daerah dadaku Pak Faisal agak
terbelalak melihat belahan dadaku yang seolah mau
melompat keluar karena ketatnya T-shirt yang kukenakan.

Merah wajahnya seketika menyadari keadaan ini dan dia
pura-pura menulis di papan. Selang beberapa saat dia
melanjutkan membahas materi kuliah dan kini aku yang
benar-benar terkejut, kulihat celana Pak Faisal ada yang
menggembung di bagian depan. Beberapa mahasiswa
tersenyum malu memandangnya bahkan ada yang sempat
terhenyak sampai menutup mulutnya. Kubayangkan betapa
besar batang kemaluan Pak Faisal yang sekarang sembunyi
di balik celananya. Aku semakin terkagum dan merinding
membayangkan andaikan vaginaku yang sempit ini sempat
disinggahi oleh batang kemaluannya. Ketika kuliah usai
mahasiswi ramai membicarakan kejadian yang baru
berlangsung yaitu menggembungnya celana Pak Faisal.
"Eh, Neti kamu lihat nggak anunya Pak Faisal meradang",
tanya Nina sambil berbisik berbicara dan menutup
mulutnya.
"Iya Nin, Aku jadi merinding lho membayangkan, ngeri
juga ya, kalau kamu bagaimana Anita", Tanyanya kepadaku,
mereka berdua denganku (jadi bertiga) adalah kelompok
belajar yang kadang suka ngerumpi hal-hal yang
jorok-jorok untuk selingan, dan kedua temanku juga
orangnya fair dia mengaku sama-sama tidak perawan dan
senang melakukan hubungan seks dengan orang yang di
sukai. Yang jelas ketiganya ini memang sedang berburu
Pak Faisal, Karena konon kabarnya Pak Faisal pernah juga
terlibat beberapa kali affair dengan mahasiswinya dan
semua berjalan santai-santai saja.
"Pasti dong, aku kan duduk depan sendiri jadi aku paling
jelas lihat burung raksasanya, benar juga ya kali. Kakak
tingkat kita itu yang pernah sama dia pasti ketagihan
dibuatnya,.." cerita Anita berapi-api, " Dan yang jelas
aku pengin mendapatkannya", lanjutnya.

Setelah puas ngerumpi kiri, kanan, depan dan belakang
mengupas habis masalah dosen favorit, aku berpisah
dengan sahabatku untuk janji bertemu besok dan akan
berusaha bertemu dengan Pak Faisal pada minggu depan,
aku berjalan kaki karena kebetulan mobil yang biasa
kupakai harus mengalami pemeriksaan medis di bengkel.
Tak kurasakan ada mobil berjalan pelan mengikutiku
sampai akhirnya kira-kira berjarak 300 meter di luar
halaman kampus, kaca jendela mobil terbuka dan
kudengarkan suara yang tidak asing menawari untuk
mengantarku. Aku menoleh dan, deg, deg, deg, jantungku
seakan berhenti. Pak Faisal yang baru saja kubicarakan
tersenyum manis mengajakku. Tanpa berkata lagi aku
langsung membuka pintu kiri dan kuletakkan pantatku pada
tempat duduk kiri. Mata Pak Faisal tak luput melihat
pahaku yang tersingkap dan dengan cepat kututup pintu
serta membenahi letak dudukku yang terlalu sembrono itu.

Mobil berjalan lambat kuperhatikan interior di dalamnya
cukup mewah dengan lapisan karpet halus dan bersih serta
wangi, aku kerasan di dalam mobilnya. Sesekali mata Pak
Faisal mengarah pada belahan dada yang padat berisi,
apabila jalan bergelombang tak ayal lagi dadaku ikut
turun naik sesuai irama jalan. Tak terasa perjalanan
sudah jauh melampaui arah kos-kosanku. Sambil bercerita
ringan Pak Faisal memindahkan persnelling tanpa
melihatnya dan... secara tidak sengaja dia menyenggol
pahaku, cepat-cepat ditarik tangannya sambil mengucapkan
maaf berkali-kali. Aku tersenyum saja padahal aku juga
kepingin tangannya berlama-lama di pahaku bahkan tidak
hanya di paha saja.

Tak terasa mobil dibelokkan pada restoran yang mewah
dengan fasilitas karaoke. Pak Fasial memilih tempat yang
asri dengan lokasi pribadi ruang hanya untuk dua orang.
Setelah makanan tersedia Pak Faisal menikmati sambil
bernyanyi. Merdu juga suaranya, mesra di telinga.
Ruangan ber-AC tinggi membuat aku agak dingin, sengaja
kurapatkan dudukku untuk tidak terlalu dingin, Pak
Faisal masih terus bernyanyi. Dua lagu telah selesai
dinyanyikan dan dengan lembut tangannya mulai memeluk
bahuku dan... gila, aku menikmati sekali. Tak lama
kemudian dia semakin berani mempermainkan rambutku, aku
tetap terpejam dan disentuh bibirku dengan tangannya
akhirnya perlahan dan lembut bibirnya merapat di
bibirku. Aku tidak menyia-nyiakan keadaan ini dengan
cekatan pula kujulurkan lidah kecilku untuk dinikmati
dan kami saling berpagukan ketat. Kuhisap mulutnya dia
juga membalas tangkas sampai aku hampir kehabisan nafas,
dia tidak diam dengan perlahan diraihnya payudaraku dari
luar kaos dan tangannya mulai menyibak kaosku. Dingin
terasa payudaraku disentuh jari yang kokoh. Putingku tak
luput dari jarinya dan kurasakan pentilku mulai
mengeras. Aku masih tetap memeluk dan kuciumi lehernya.
Perlahan ditarikknya kaosku keatas hingga tinggal BH dan
rok miniku saja, dia semakin agresif saja kelihatannya,
Pak Faisal berdecak kagum melihat buah dadaku meyembul
besar seakan BH-ku tak sanggup menampung semua
payudaraku ini. Didekatkan kumisnya pada susuku aku
kegelian dan kurasakan hangat lidahnya mengulum
pentilku, aku kegelian hebat. Rambut Pak Faisal jadi
sasaran untuk menahan geli, aku mengucek dan menjambak
rambutnya, tetapi dia semakin menjadi. Susuku diberi
cupang hingga nampak merah pekat ganas sekali dia,
pikirku.

Perlahan diraihnya leher dan aku ditidurkan di atas
sofa, lagu karaoke sendu menambah gairahku semakin
tinggi. Pak Faisal tak bosan-bosan menciumi bagian
tubuhku dan kurasakan pahaku bersentuhan dengan tangan
berbulu milik Pak Faisal. Rokku disibak dan ditariknya
keras sehingga pengaitku lepas, gila cing... kini
tinggal celana dalamku yang berwarna ungu serta BH
dengan warna yang sama. Pak Faisal semakin bernafsu,
mulutnya menjalar kemana-mana aku hanya gelisah dan
mengerang, semakin aku mengerang semakin ganas dia
melakukan aksinya.
"eeh, Pak, Pak, Faisal,aah", Aku nggak betah saat dia
memainkan vaginaku dengan tangannya dan dielus lembut
bulu vaginaku yang mulai basah. Aku kegelian saat jari
tengahnya dimasukkan kedalam lubang vaginaku, dia
semakin bernafsu.
"hhmm, Hmm", lenguhnya.

Aku semakin menjadi tak menentu, kekuatanku hilang saat
Pak Faisal dengan fasih menaruh lidahnya dalam lubang
kemaluanku, digigit-gigit kecil kelentitku yang
memanjang dan semakin basah. Bunyi kecipak air
kemaluanku menambah Pak Faisal semakin berani
menjulurkan lidahnya pada bagian dalam. Aku semakin
kegelian. Semakin aku menggeliat mengangkat pantat
kurasakan sentuhan lidah dalam vaginaku dan tangan Pak
Faisal yang satu juga masih tidak mau lepas pada
payudaraku. Lengkap sudah kepuasan saat ini. Semua
daerah sensitif milikku telah direngkuhnya. Tangannya
sekarang sibuk melepas baju dan kini dia tinggal celana
saja. Disuruhnya aku duduk dan dia berdiri, tanganku
dituntun ke arah celananya dan disentuhkannya pada benda
yang mengeras dibaliknya. Kuelus lembut, kutempelkan
mukaku pada celana tersebut terasa berdenyut keras. Aku
mulai tak sabar kubuka retsleting celana Pak Faisal,
kulihat putih warna celana dalamnya dan... Astaga kepala
kemaluan Pak Faisal ternyata sudah keluar dari kolornya
kucoba meraba ujung kemaluannya, keluar air sedikit agak
liat. Celana dalam putih kutarik ke bawah dan aku kaget
setengah mati, baru kali ini kulihat kemaluan lelaki
kaku mendongak ke atas, otot-ototnya kelihatan jelas
meradang dan ukurannya tak terbayangkan. Aku was-was,
digoyang-goyangkan kemaluannya ke arah mukaku, terasa
pipiku seperti dipukul palu. Dengan senyum kupegang
kemaluan Pak Faisal dan... Wuuiihh tanganku tak cukup
melingkari bulat kemaluannya dan panjangnya kuperkirakan
sekitar 22 cm, dia juga tersenyum melihat kebingunganku.
Kulihat dia sambil melongo dan dia tidak menyia-nyiakan
waktu dengan mendesakkan kemaluannya ke mulutku.

Mulutku yang kecil tidak muat mengulum semuanya hingga
masih banyak yang tersisa di luar. Aku dengan menganga
penuh kususahan agar kemaluan Pak Faisal masuk dalam
rongga mulutku, tetapi masih tidak bisa. Akhirnya aku
jilati secara merata, dia mulai menggelinjang dan
melenguh. Mulai dari ujung kugerakkan masuk dan keluar
dengan mulutku dia semakin tidak karuan juga geraknya.
Dengan susah payah kukelomoh kemaluan Pak Faisal yang
besarnya seperti botol, semakin cepat dan semakin cepat.
Kurasakan ada cairan manis keluar sedikit di mulutku.
Kuhisap semakin kuat dan kuat, Pak Faisal pun semakin
keras erangannya. Pak Faisal mulai ingat tangannya
bekerja lagi mengelus vaginaku yang mulai mengering
basah kembali. Mulutku masih penuh kemaluan Pak Faisal
dengan gerakan keluar masuk seperti penyanyi karaoke.

Aku tersentak merasakan Pak Faisal menarik kemaluannya
agak keras menjauh dari mulutku dan dengan sigap
ditidurkannya aku di atas karpet, kedua kakiku diangkat
diletakkan di atas pundaknya kiri kanan sehingga
posisiku mengangkang, dia bisa melihat dengan jelas
vaginaku yang kecil namun kelihatan gemuk seperti
bakpau. Kulihat dia mengelus kemaluannya dan
menyenggol-nyenggolkan pada vaginaku aku kegelian. Aku
bersiap dibukanya kemaluanku dengan tangan kiri dan
tangan kanan menuntun penisnya yang gede menuju lubang
vaginaku. Didorongnya perlahan, sreett, dia melihatku
sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi, mulai
kurasakan ujung kemaluan Pak Faisal masuk perlahan. Aku
mulai geli tetapi agak sakit sedikit. Pak Faisal
melihatku meringis menahan sakit dia berhenti dan
bertanya, "Sakit ya..", Aku tidak menjawab hanya
kupejamkan mataku ingin cepat merasakan kemaluan
besarnya itu. Digoyangnya perlahan dan... Bleess
digenjotnya kuat pantatnya kedepan hingga aku menjerit,
"aauu." Kutahan pantat Pak Faisal untuk tidak bergerak.
Rupanya dia mengerti vaginaku agak sakit dan dia juga
ikut diam sesaat. Kurasakan kemaluan Pak Faisal
berdenyut dan aku tidak mau ketinggalan. Aku berusaha
mengejan sehingga kemaluan Pak Faisal merasa
kupijit-pijit. Selang beberapa saat vaginaku rupanya
sudah dapat menerima semua kemaluan Pak Faisal dengan
baik dan mulai berair sehingga ini memudahkan Pak Faisal
untuk bergerak. Aku mulai basah dan terasa ada
kenikmatan mengalir di sela pahaku. Perlahan Pak Faisal
menggerakkan pantatnya kebelakang dan kedepan, aku mulai
kegelian dan nikmat. Kubantu Pak Faisal dengan ikut
menggerakkan pantatku berputar.

"Aduuhh, Anita", erang Pak Faisal menahan laju
perputaran pantatku rupanya dia juga kegelian kalau aku
menggerakkan pantatku. Ditahannya pantatku kuat-kuat
agar tidak berputar lagi, justru dengan menahan pantatku
kua-kuat itulah aku menjadi geli dan berusaha untuk
melepaskannya dengan cara bergerak berputar lagi tapi
dia semakin kuat memegangnya. Kulakukan lagi gerakanku
berulang dan kurasakan telur kemaluan Pak Faisal menatap
pantatku licin dan geli. Rupanya Pak Faisal termasuk
kuat juga berkali-kali kemaluannya mengocek kemaluanku
masih tetap saja tidak menunjukkan adanya kelelahan
bahkan semakin meradang. Kucoba mempercepat gerakan
pantatku berputar semakin tinggi dan cepat kulihat
hasilnya Pak Faisal mulai kewalahan dia terpengaruh
iramaku Yang semakin lancar. Kuturunkan kakiku mengkamit
pinggangnya, dia semakin tidak leluasa untuk bergerak
sehingga aku bisa mengaturnya. Aku merasakan sudah tiga
kali vaginaku mengeluarkan cairan untuk membasahi
kemaluan Pak Faisal tetapi Pak Faisal belum keluar juga.

"Kecepek, kecepek, kecepek", bunyi kemaluanku saat
kemaluan Pak Faisal mengucek habis di dalamnya aku
kegelian hebat, "Anita, aku mau keluar, Tahan ya..."
Pintanya menyerah. Tanpa membuang waktu kutarik vaginaku
dari kemaluannya, kugenggam dan dengan lincah kumasukkan
bonggol kemaluan tersebut kedalam mulutku, kukocok,
sambil kuhisap kuat-kuat, kuhisap lagi dan dengan cepat
mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar air
maninya cepat keluar. Mulutku mulai payah tapi air mani
yang kuharapkan tak juga keluar. Kutarik kemaluannya
dari mulutku. Pak Faisal tersenyum dan sekarang
telentang. Tanpa menunggu komando kupegang kemaluannya
dan kutuntun kelubangku dengan mendudukinya. Aku
bergerak naik turun dan dia memegang susuku dengan erat.
Tidak lama kemudian ditariknya tubuhku melekat di
dadanya dan aku juga terasa panas. Sreet, sreett,
srreett kurasakan ada semburan hangat bersamaan dengan
keluarnya pelicin di vaginaku dia memelukku erat
demikian pula aku. Kakinya dijepitkan pada pinggangku
kuat-kuat seolah tak bisa lepas. Dia tersenyum puas.
"Nita, tak pernah aku merasakan vagina kecil seperti
punyamu ini, nikmat gila memijit punyaku sampai nggak
karuan rasanya, aku puas Nit.""aahh Bapak bohong,
berarti sering dong ngerasain yang lain", manjaku.

Dia tidak menjawab hanya tersenyum dan kembali mengulum
bibirku kuat-kuat. Akhirnya kita keluar dari karaoke dan
pulang menuju ke rumah. Kini tangan Pak Faisal menempel
pada pahaku dan tanganku menempel di celananya. Sesekali
kusandarkan wajahku di dadanya dan jari nakal Pak Faisal
mulai beraksi dengan manja. Kurasakan gumpalan daging
kemaluan Pak Faisal mulai mengeras lagi, dia tersenyum
melihatku dan dipinggirkan mobilnya pada tempat yang
cukup sepi. Kugosok pelan pelan kemaluan Pak Faisal
semakin mengeras. "Gila baru main sudah minta lagi
rupanya, wah gawat ini bisa nggak pulang dong malam
ini", pikirku.

Diciumnya kening dan pipiku dan dia berkata manja."Kalau
sekarang Nita boleh ngeluarin punyaku ini dimulut
seperti tadi", aku terbelalak rupanya dia mengerti
keinginanku tadi belum kesampaian dan inilah saatnya.
Tanpa ba bi bu lagi kuarahkan ke bawah retsleting
celananya dan aku kaget ternyata Pak Faisal tidak
memakai celana dalam, gila dia sudah ngerti rupanya.
"Lho Kemana CD-nya pak", tanyaku pura-pura
bingung."Sudah tak taruh di bagasi kok", jawabnya kalem
sambil mendorongkan kepalaku ke arah kemaluannya. Aku
menurut, malam ini aku bebas berbuat apa saja terhadap
kemaluan Pak Faisal. Kuhisap dengan berbagai cara agar
aku puas dan puas, kursi ditarik kebelakang jadilah
posisi Pak Faisal seperti orang setengan telentang aku
semakin leluasa menghisap kemaluan itu. Tangan Pak
Faisal pun tak tinggal diam diselipkan pada vaginaku
yang basah lagi, dia juga berusaha memasukkan jari
tengahnya penuh ke vaginaku, sesekali diremasnya kuat
susuku saat dia kegelian.

Kulepas mulutku, kulihat kemaluannya itu lagi sambil
kugosok naik turun seperti onani, aku kagum melihat
ukurannya. Kuhisap lagi berulang sampai aku puas. Aku
mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung
kemaluannya. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah,
kugoyang-goyangkan telur kemaluan Pak Faisal, dia
kegelian dengan mengucek vaginaku dalam-dalam.
"eehh, sstt, aahh", kudengar erangannya mulai tidak
karuan, aku terus melakukan hisapan, kuluman dan jilatan
pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar
biasa.
"Nit, aku mau keluar nih." Mendengar perkataan itu aku
semakin gencar melakukan hisapan sambil tanganku
bergerak naik turun untuk mempercepat rangsangannya. Dan
tak lama kemudian, "Sreett... srreett.." kurasakan dua
semburan air warna putih pekat masuk mulutku terasa agak
manis asin. Karena kuatnya semprotan dari kemaluan Pak
Faisal kurasakan ada air mani yang langsung masuk
tertelan. Aku bertahan sambil terus menghisap dan dia
semakin tidak karuan tingkahnya. Kuhisap terus sampai
terasa tidak ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan
Pak Faisal. Kubersihkan kemaluan Pak Faisal dengan
menjilatinya sampai bersih. Aku puas merasakan semuanya
dan Pak Faisal pun demikian. Masih terus kujilati dan
kudorong keluar masuk kemaluan Pak Faisal dia terus
mengerang tidak karuan. Aku bahagia, sebentar kemudian
kurasakan kemaluannya mulai mengecil dan lemas, pada
saat kecil dan lemas tersebut aku merasakan mulutku
mampu melahap kemaluannya secara menyeluruh.

Diciumnya keningku yang basah keringat, tepat pukul
22.00 aku sudah sampai di Kos-ku dan berharap suatu saat
Pak Faisal mengajakku kembali. Pada esoknya sahabatku
hanya ternganga mendengar ceritaku yang telah berhasil
berkencan dengan Pak Faisal sampai keluar air maninya
dua kali, dia mengatakan aku curang karena tidak memberi
tahu bagaimana cara menggaet Pak Faisal. Aku cuek saja
dan sampai kini walaupun aku sudah berkeluarga aku masih
sering membayangkan kemaluan Pak Faisal yang tegak
menantang itu, hal ini dikarenakan suamiku orangnya
pekerja keras sehingga lupa waktu dan jarang memberikan
nafkah batin yang cukup, tetapi sayang sejak menikah aku
tidak pernah ketemu lagi sama orang yang memiliki
kemaluan dan permainan seks yang hebat.