Monday, May 7, 2007

SEKDES SEKSI

Kejadian ini kualami ketika aku kuliah kerja nyata di
salah satu desa terpencil di Jawa Tengah. Aku menginap
di rumah Sekretaris Desa tersebut, sudah berumur,
sekitar 60 tahun, namun isterinya masih muda, sekitar 25
tahun, sebut saja Mbak Is.

Pada waktu itu aku kehilangan cucian celana pendek,
ketika Mbak Is selesai mandi dengan memakai handuk yang
terbelit menutupi sebagian tubuhnya, sambil membawa
keranjang cucian yang sudah kering, masuk ke kamarnya
yang hanya ditutup dengan korden. Aku mengikutinya, ikut
masuk ke kamar untuk menanyakan apakah dia melihat
CD-ku. Begitu kukuakkan korden kamarnya, aku melihat
Mbak Is sudah melepas handuknya, tanpa sehelai
benangpun. Kulitnya kuning, mulus, langsing dan kencang.
Payudaranya berukuran sedang bulat. Aku kaget namun Mbak
Is melihatku dengan tenang. Sambil menutup sebuah
payudaranya dengan telapak tangan kiri, sedangkan
telapak tangan yang lain menutup kemaluannya. Sedangkan
payudara yang satunya masih menggantung dengan bebasnya.
Aku sempat memangsa pemandangan yang jarang terjadi ini.

"Ada apa Dik Agus?" tanyanya dengan suara lembut.
"Anu Mbak, nggak. Lihat celana pendek saya nggak,
Mbak.."
"Baru dicuci. Ditumpukan itu barangkali, coba saja
dicari sendiri Dik Agus," jawabnya sambil menunjukkan
onggokan cucian. Sementara aku mengaduk-aduk cucian, ia
mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tentu saja
payudara dan kemaluannya, walaupun dari samping, cukup
jelas terlihat olehku. Mulanya aku agak tidak enak,
tetapi karena Mbak Is bersikap cuek, maka aku pun nekad
menatap secara langsung pamandangan itu dengan berani.

"Tubuh Mbak Is, masih singset ya," pujiku mesra.
"Ah, Dik Agus bisa aja," katanya dengan tenang, tetapi
kemudian ia tersentak, "Eh, kok liat-liat Mbak, kan
saru," bisik Mbak Is membuyarkan lamunanku.
"Habis, rejeki kan tidak bisa dibiarkan," kataku
nyengir.
"Uh, dasar.." kemudian ia cepat-cepat mamakai pakaian.

Jam 8 malam, karena tidak ada hiburan TV, dan suasana
sudah sangat sepi, aku pergi tidur. Pak Sekdes kebetulan
sedang menginap di rumah isteri tuanya. Lampu minyak
tempel kuredupkan, dan bersiap untuk memejamkan mata.
Tiba-tiba ada orang masuk ke kamarku. Setelah kuamati
bayangan itu ternyata Mbak Is.

"Dik Agus belum tidur ya," sapanya mesra.
"Belum mbak," sahutku.
"Mbak Is kedingingan nih, nggak bisa tidur," balasnya
dan duduk di tepi tempat tidurku.
"Tidur di sini saja Mbak," ajakku penuh birahi.
"Nggak apa-apa nih," balasnya dengan senyum menggoda.
"Nggak," bisikku.
"Tapi jangan macam-macam ya," katanya sambil tertawa
genit.

Kugeser tubuhku ke kanan memberikan ruang bagi Mbak Is
berbaring di sampingku. Mulutku terkunci lagi, karena
gejolak yang sangat hebat berkecamuk di dalam dada ini
ketika ia merebahkan tubuhnya di sampingku. Bau
parfumnya membuatku semakin bergejolak.

"Dik Agus sudah pernah melihat perempuan telanjang
nggak," akhirnya Mbak Is membuka percakapan.
"Belum, kalau anak-anak sering, eh maksud saya baru
sekali, lihat Mbak tadi.."
"Apa Mbak masih singset sih?, khan Dik Agus bilang
begitu tadi," tanyanya manja.
"Iya betul Mbak, betul, seperti di gambar porno saja,"
jawabku.
"Dik Agus punya foto begituan."
"Punya, sebentar ya saya ambilkan.."

Kuambil majalah berwarna kategori triple X, kubesarkan
lampu minyak di dinding.
"Dik Agus dapat dari mana majalah ini," sambil menerima
majalah yang kuberikan.
"Serem.." komentarnya, tapi matanya terus menatap gambar
orang sedang senggama. Pada gambar lain tampak adegan
69, dimana saling menjilati kemaluan lawannya.
"Mbak pernah ngisep barangnya Bapak, nggak," tanyaku
dengan berani.
"Ah, Dik Agus ada-ada saja, jijik ah," jawabnya
pura-pura malu.
"Enak Mbak, seperti ngisep kemaluan, khan enak," kataku
lagi meyakinkan
."Memangnya Dik Agus pernah?" sambil menatap wajahku
dalam-dalam, menjadikan aku gelagapan.
"Belum, cerita teman-teman saya yang sudah kawin. Mbak
mau disun kemaluannya," pancingku nakal.
"Ah Dik Agus ini ada-ada saja, malu ah," Sambil
tangannya menyingkirkan tangan saya yang sudah melingkar
di perutnya. Tapi tanganku kembali merangkul tubuhnya,
kali ini agak ke atas dekat dengan buah dadanya.
"Emang Bapak nggak pernah ngesun barangnya Mbak?"
tanyaku.
"Ah, Bapak kan sudah tua, nggak mau yang macem-macem,"
obrolan yang semakin menjurus ini menjadikan kemaluanku
makin mengeras, sehingga celanaku terasa semakin sempit.

Aku terus mencari akal agar malam itu tidak terbuang
sia-sia. Belum sempat aku menemukan caranya, tiba-tiba
ia menarik tanganku ke atas sehingga menyentuh buah
dadanya yang montok. Aku segera bereaksi dan mulailah
mengelus-elus buah dadanya. Kulihat wajahnya sudah
berubah, nafasnya memburu, kusingkap gaun tidurnya ke
atas, dan ia membiarkannya bahkan melepasnya sendiri.
Dan kemudian melepas BH-nya, sehingga buah dada
montoknya yang tadi siang kulihat, kini dapat kusentuh,
kuelus-elus dan kupencet-pencet kekenyalan buah dadanya.
Mbak Is kembali berbaring, bibirnya menyambut dengan
hangat ketika kucium Mbak Is. Sambil berciuman tanganku
bergerilya, sampai di sekitar kamaluannya. Kuelus
pahanya dan akhirnya kemaluannya dari luar celana
dalamnya. Mbak Is semakin liar mempermainkan bibirnya
dan lidahnya, melumat habis bibirku. Kuselipkan jariku
lewat samping celana dalamnya meraih liang senggamanya,
ternyata sudah basah kuyup. Bersamaan dengan itu, ia
raih pula kemaluanku. Kubantu membuka celanaku dan semua
yang menempel di bajuku.

Dengan kencang ia terus memegang kemaluanku, seakan
sudah menjadikan haknya dan tidak ingin melepaskannya.
Sementara aku terus mencium semua permukaan kulitnya.
Sampai pada bukit kembarnya, kuisap, kusedot dan
kujilati puncaknya hingga membuatnya semakin memburu
nafasnya. Begitu kuteruskan jelajahanku ke bawah
lepaslah pegangan di kemaluanku, sampai dipusar dan
terus ke bawah sampailah di selangkangannya. Kulebarkan
pahanya, tetapi dia menahannya."Jangan ah, malu," sambil
merapatkan pahanya dan menutupi kemaluannya dengan
tangannya.Aku terus menciumi pahanya, menjilati dan
mengecupnya. Lama-lama makin ke dalam pahanya. Mbak Is
mulai mengendorkan kakinya, kubuka pelan-pelan pahanya.
Pelan-pelan pula ia mau membukanya. Sampai akhirnya rela
juga mengangkangkan pahanya dengan lebar, sehingga
membuatku mempunyai ruang yang jelas untuk menyaksikan
pamandangan yang sangat membangkitkan nafsuku itu.
Segera kusergap bagian yang sangat dirahasiakan wanita
itu. Begitu lidahku kupermainkan di bibir kemaluannya
sebelah atas. Ia segera menjerit histeris sambil
menjambaki rambutku. Pinggulnya dia angkat
tinggi-tinggi, gerakannya semakin liar sambil mulutnya
meneriakkan suara yag tidak jelas. Kemaluannya semakin
basah saja, bercampur dengan ludahku untuk memberikan
kehangatan pada liang senggamanya. Beberap menit
kemudian ia sampai pada puncak yang tertinggi, disertai
dengan lengkingan yang tertahan karena wajahnya ditutupi
bantal. Tubuhnya menegang dan pinggulnya diangkatnya
tinggi-tinggi. Beberapa detik kemudian terkulailah dia.

Selanjutnya kuambil posisi, kuarahkan kejantananku pada
liang kemaluan, pada tubuh yang lunglai itu. Mbak Is
diam saja, hanya sekali-sekali menciumiku. Aku masukkan
batang kemaluanku pada liang senggamanya yang basah
kuyup sehingga licin luar biasa. Mbak Is diam saja
ketika kugenjot dengan cepat sehingga buah dadanya
tergoncang kesana kemari. Mbak Is mulai merasakan
kenikmatan lagi, makin lama dahinya makin dikernyitkan
pertanda birahinya mulai naik. Tetapi lahar yang sudah
lama kubendung keburu keluar, segera kutarik. Mbak Is,
mulanya menahan bokongku, agar kemaluanku tetap terselit
di lipatan kemaluannya. Tetapi karena tenaganya sudah
habis, lepas juga kemaluannya dan kukocok dengan cepat
sehingga muncratlah di atas perutnya yang indah.

Mbak Is dengan takjub menyaksikan peristiwa muncratnya
spermaku. Lalu tersenyum manis.
"Kok nggak dikelaurin di dalam," tanyanya.
"Nanti kamu hamil," jawabku mesra.
"Paling Bapak juga nggak tahu kalau itu anakmu,"
jawabnya dengan enteng.

Sejak saat itu aku jadi jarang pulang, ketika hari Sabtu
dan Minggu kupergunakan mencuri-curi waktu agar bisa
bermain dengannya. Apalagi kalau sedang sepi. Misalnya
tidak ada cukup waktu untuk melakukan senggama, maka ia
aku suruh saja mengocok hingga keluar.

Sejak itu sepertinya Mbak Is semakin ceria saja. Sampai
selesai waktu KKN-ku, aku tidak kurang melakukan
senggama secara sempurna sebanyak delapan kali. Tanpa
ada seorangpun yang tahu dan curiga. Dan ternyata ini
membawa berkah lain, yang paling menonjol adalah cara
Mbak Is dalam melayani suaminya yang sepertinya
berlebihan.