Friday, May 4, 2007

TRAGEDI DI HOTEL

Waktu itu jarum jam di dinding ruangan kantorku telah
menunjukkan pukul 7 malam. Aku sudah berkemas-kemas
untuk pulang, karena kebetulan waktu itu aku mempunyai
janji dengan seorang teman lamaku di daerah Cinere.
Sewaktu aku berjalan melewati front office, aku melihat
Eksanti juga sedang berbenah hendak pulang. Ketika aku
bertanya mau pulang ke arah mana, ternyata ia mau ke
rumah salah seoarang kawannya di daerah Lebak Bulus.
Jadi kami bisa searah satu jalan. Kebetulan, Eksanti
tidak membawa kendaraan sendiri, sehingga aku menawarkan
untuk pulang bersama semobil denganku. Ternyata Eksanti
pun setuju, “Terima kasih Pak, daripada kehujanan”.
“Lumayan ada teman ngobrol di jalan”, fikirku dalam
hati.

****

Gerimis rintik-rintik membasahi jalanan yang kami
lewati. Dan seperti biasa kalau sedang hujan, penyakit
di daerah selatan Jakarta, macetnya minta ampun…. Waktu
sangat cepat berlalu, jam di mobilku menunjukkan pukul
20.15.
"Dingin Santi…?", aku bertanya memecah keheningan kami
berdua ketika kami sampai di sekitar Blok A. Memang aku
merasakan mobilku dingin sekali AC-nya, padahal sudah
aku setel minimal. Mungkin karena hujan, meskipun tidak
begitu deras.

"Iya Pak. Dingin banget", jawabnya sambil mendekapkan
tangannya ke dada.
"Kalau lagi di luar kantor gini jangan panggil aku Pak
dong..., ntar kelihatan tua aku. Panggil aku Mas saja
yaa.. Toh, usia kita nggak beda jauh", kataku berusaha
untuk mencairkan suasana.
"Ya… Mas". Ia tersenyum ke arahku.

Hujan makin deras. Jalanan makin macet. Pukul 21.00 kami
masih berkutat di kawasan Blok A.
"Aku lapar, Santi", ujarku spontan
"Sama. Aku juga dari tadi, Mas..", Eksanti menjawab
jujur
Kami tertawa bersama. Perut kosong, badan menggigil.
Bayangkan…, kami mengobrol apa saja tentang kantor,
teman-temannya, keluarga sampai keinginannya untuk
segera mendapat pacar yang mau mengerti dirinya. Aku
lebih banyak menjadi pendengar cerita Eksanti. Kali ini
baru aku sadari, ternyata Eksanti yang duduk di
sebelahku bukanlah seperti Eksanti yang aku kenal dalam
waktu-waktu terdahulu di kantor. Dalam curhatnya, ia
terlihat sangat rapuh.

Entah memang nasibku untuk selalu menjadi tempat curhat
orang lain. Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga
kini setelah bekerja, aku selalu dijadikan tempat curhat
orang-orang dalam lingkaran terdekatku. Dan kini aku
harus menghadapi Eksanti yang sesekali sesunggukkan,
meremas-remas sapu tangannya dan menghapus air matanya
yang mulai jatuh satu persatu. Love... look what you
have done to her, bastard...!

Aku mencoba menenangkannya sebisaku dengan menganalisis
kehidupannya dari berbagai perspektif. Aku hanya bisa
mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan
ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka belum
menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua
itu dihadapi justru ketika mereka telah menikah.

Setelah beberapa waktu kami membahasnya, Eksanti
terlihat sudah agak tenang.
"Thanks Mas, kamu mau jadi tempat sampah Santi," katanya
sambil sedikit tersenyum.
"That what friends are for," jawabku singkat sambil
menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak
kecil.
"Mas, kamu itu aneh yaa…?" tiba-tiba suara Eksanti
menyentakku.
"Aneh…, apa sih maksud kamu?" tanyaku asal.
"Hihihihi..." terdengar Eksanti cekikikan mendengarnya.
"Yaa.. aneh aja, Santi sudah kenal mas dari beberapa
tahun yang lalu, tapi rasanya Santi nggak pernah merasa
dekat dengan Mas, sampai dengan hari ini.., " kata-kata
Eksanti meluncur lancar dari mulutnya.
“….sampai Santi mau curhat sama mas, padahal Santi
paling jarang curhat, apalagi sama orang yang nggak
deket bener dengan Santi."
"Sama, aku juga gitu kok. Bisa aja..., jangan-jangan
kita pernah ketemu di kehidupan lain sebelumnya yaa…?"
jawabku sambil nyengir.
"Ada-ada aja kamu, mas..." katanya sambil tiba-tiba
merebahkan kepalanya di bahu kiriku.
Jujur saja, aku cukup terkejut menerima perlakuannya,
tapi santai saja, lagipula apalah yang mungkin terjadi
dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala sejenak?

Dengan sudut mataku, aku meliriknya, Eksanti tampak
sangat damai. Ia sedang menggosok-gosokkan tangan
kanannya ke hand rem, mungkin biar hangat. Lalu
tiba-tiba, dengan tangan kiriku sengaja aku pegang
tangannya.
"Tanganmu dingin banget, Santi".
"Dari tadi, mas..".
"Tanganku juga yaa…?".
"He eh…", sahutnya tanpa mencoba melepas tangannya dari
remasanku. Hujan tetap lebat, sehingga praktis mobilku
berhenti seperti yang lain. Macet.

Dalam keheningan, aku meremas-remas tangannya. Eksanti
diam saja. Bahkan ia juga mulai ikut membalas meremasi
jari-jemariku.
"Lumayan. Agak hangat", kataku.
"He eh..", jawabnya lagi sambil senyum.
Aku melirik ke arah Eksanti, ia mengenakan rok mini
warna gelap berbunga-bunga kecil warna terang. Meskipun
cahaya di dalam mobilku agak gelap, namun aku masih bisa
melihat dengan jelas kaki jenjangnya yang putih mulus
tanpa cela, semakin kelihatan kontras dengan warna
roknya. Aku membawa tanganku ke atas pahanya. Eksanti
masih terdiam. Lalu dilepaskannya tangannya agar
tanganku leluasa menyentuh… meraba… kulit mulusnya.
Halus, haluus.. sekali pahanya. Aku mengusap-usap naik
turun. Perlahan tapi pasti, aku mulai menyentuh
ujung-ujung renda celana dalamnya. Dari ujung lutut,
merayap perlahan ke atas, dengan gerak mengambang aku
mengusap-usap sampai menyentuh kembali pangkal celana
dalamnya. Berulang-ulang, “Hmm...”, lenguhnya.
"Makin hangat, Santi", bisikku.
Eksanti diam saja. Aku meliriknya lagi, ia memejamkan
matanya. Tangannya memegang tanganku, dan di
diusap-usapkan ke atas lapisan satin celana dalamnya.
Kini Eksantilah yang mengendalikan tanganku. Aku
merasakan, ia mulai basah.

Tanpa aku sadari, mobilku sudah melewati Golden Trully.
Aku menarik tangan Eksanti, aku membawa jemari halusnya
ke atas kejantananku yang sejak tadi sudah menegang,
tetapi masih rapi tertutup celana pantalonku. Eksanti
mengerti. Dia meremas-remas lembut batang kejantananku.
Lama…., kami saling mengelus, mengusap dan meremas
bagian-bagian yang paling sensitif dari tubuh kami
masing-masing. Aku juga merasa, setetes cairan bening
sudah mulai membasahi celana dalamku. Eksanti tetap
memejamkan matanya. Tanganku terus aktif bergerilya.
Perlahan-lahan aku tarik dengan lembut rambut
kewanitaannya dari celah samping celana dalamnya.
Eksanti terus melenguh. Pahanya makin panas. Tangannya
makin aktif mengelus-elus kejantananku dari luar.

Tidak terasa, kami sudah sampai di perempatan Fatmawati
- Simatupang. Arah lurus ke Cinere masih macet, kanan ke
arah Pondok Indah jalanan kosong. Jam di mobil sudah
menunjukkan pukul 23.00.
"Aku laper", bisikku lembut sambil menjilat belakang
telinganya.
"Cepet mampir. Bisa pingsan aku. Laparrr... juga aku",ia
mendesah pelan.

Aku memutuskan untuk mengambil arah ke kanan, lalu
menyusuri jalur paling kiri. Untuk sementara, kegiatan
usap-mengusap, remas-meremas, kami dihentikan. Sekarang
kami akan mencari makan dulu. Aku melihat bangunan
berpagar bambu gelap, jalan masuknya menurun. Mungkin
itu adalah sebuah hotel dan kami bisa makan di sana.
"Kiri yaa..?, Mungkin kita bisa makan di resto-nya",
bisikku.
"Itu restoran..?", tanya Eksanti.
"Nggak tahu. Kalo resto yaa.. syukur, kalau hotel kita
bisa makan di restonya", jawabku sejujurnya. Sejujurnya,
waktu itu aku memang belum tahu sama sekali tempat apa
itu.

Aku membelokkan mobil ke kiri, lalu terlihat ada orang
yang berlari-lari memakai payung menyambut dan memberi
kode untuk mengikutinya. Dia menunjuk suatu tempat
seperti garasi dan mempersilakan mobilku masuk ke dalam
garasi itu. Aku masuk, lalu ia segera menutup pintu
garasi. Aku memandang bingung ke arah Eksanti. Dia
mengangkat bahunya tanda bahwa ia bingung atau tidak
tahu juga.

Aku lalu turun, sementara Eksanti masih tinggal di dalam
mobil. Aku mengikuti petugas yang masuk ke sebuah pintu
di dalam garasi itu. Ternyata pintu itu langsung
menghubungkan garasi ke suatu kamar tidur. Sebuah spring
bed besar berada di tengah ruangan. Dua tempat duduk dan
satu meja kaca, lemari buffet kecil dengan pesawat TV 20
inch di atasnya, melengkapi perabotan di sisi-sisi
ruangan. Di dindingnya tertempel sebuah kaca cermin yang
besar. Di sana juga tersedia kamar mandi di dalam
ruangan, yang dilengkapi dengan shower.

Ooo.., ternyata ini hotel atau motel garasi, seperti
yang sering diceritakan teman-teman priaku. Setelah
membereskan pembayaran kamar dan memesan makanan,
petugas segera keluar melalui pintu penghubung ke garasi
tadi. Aku mengikutinya.
"Turun yuk…", kataku kepada Eksanti, yang masih berada
di dalam mobil.
Eksanti turun dari mobil dan aku menggandengnya masuk ke
dalam kamar. Lalu pintu segera aku kunci dari dalam.
Melihat isi kamar itu Eksanti tampak tertegun. Aku lalu
bergeser, berdiri tepat di hadapannya. Mataku tajam
memandang ke arah mata indahnya, aku tidak bisa menduga
apa yang ada dalam benaknya saat itu. Eksanti pun
membalas memandangku, ada sesuatu yang bergelora disana.
Agak lama kami berdua saling tertegun, terdiam…..

Cukup lama kami masing-masing terdiam dalam posisi ini
sambil memandang sebagian horizon langit yang dipenuhi
kerlap-kerlip bintang yang mulai nampak setelah hujan
reda dari jendela kamar itu. Sayup-sayup terdengar suara
dari TV dalam kamar, rintihan Sinnead O'Connor yang
tengah menyanyikan lagu legendarisnya:
...I can eat my dinner in the fancy restaurant but
nothing, I said nothing can take away this blue cos
nothing compares, nothing compares to you...

Perlahan aku usap rambutnya dan memberanikan diri untuk
mengecup keningnya. Eksanti mendongakkan kepalanya untuk
memandangku. Beberapa saat kami saling berpandangan, ah
oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang selama
ini aku cari? Mungkinkah aku menemukannya hanya dalam
beberapa jam saja setelah sekian lama aku mencarinya
entah kemana? How can I be so sure about that? dan
sekian banyak pertanyaan lainnya berkecamuk dalam
pikiranku melewati detik demi detik kami berpandangan.
Yang aku tahu beberapa saat kemudian wajah kami semakin
mendekat dan sekilas aku melihat Eksanti menutup matanya
dan pada akhirnya aku kecup lembut bibirnya.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba tubuh kami sudah
saling merapat. Aku mencium Eksanti sampai nafasnya
terengah-engah. Aku menjilati bibirnya sambil tetap
dalam posisi berdiri. Lidahku meliuk-liuk di dalam
mulutnya. Eksanti pun tak kalah garang. Dia memeluk
tubuhku erat-erat dan membalas ciuman buasku. Tangan
kiriku menyusup ke dalam blouse-nya, sementara tangan
kananku menyusup ke celana dalamnya bagian belakang dan
mengusap, meremas lembut belahan pantatnya. Aku menciumi
Eksanti dengan buas. Bibir sensualnya yang tipis itu aku
lumat habis. Lidahku meliuk-liuk di dalam mulutnya dan
disambut dengan kelincahan lidahnya. Lalu mulutku turun
ke arah leher jenjangnya, aku menjilati lehernya.
Eksanti memejamkan matanya, ia tampak sangat menikmati
rangsanganku. Tangannya terus mengusap-usap kejantananku
yang masih rapi berada di dalam sarangnya.

Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang
telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan
dalam kehangatan sebuah ciuman. Perlahan aku raih
pinggang Eksanti dan mendudukkannya dalam pangkuanku di
atas tempat tidur. Kini kami semakin dekat, karena
Eksanti aku rengkuh tubuhnya dalam pangkuanku. Aku usap
lembut rambutnya, sedangkan dia memegang lembut pipiku.
Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia
lepaskan. Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar
tarikan nafas Eksanti yang terdengar begitu lembut.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk mulai menurunkan
bibirku ke arah lehernya. "Ugh...". hanya terdengar
lenguhan lembut Eksanti ketika ia mulai merasakan
hangatnya bibirku menjelajahi lehernya. Tidak ada
perlawanan dari aksi yang aku lakukan. Eksanti justru
makin mendongakkan kepalanya, semakin memamerkan
lehernya yang putih dan jenjang. Kedua tangannya meremas
seprai tempat tidur sebagai tumpuan. Aku pun semakin
terhanyut terbawa suasana. Aku perlakukan Eksanti
selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi milimeter
lehernya, mengusap rambutnya dan makin menekankan
punggungnya ke arah tubuhku.
"Mas... ookkhh...", lenguh Eksanti saat dia menyadari
terlepasnya satu per satu kancing kemeja blouse-nya.
Ya... aku memang melepaskannya untuk melanjutkan
cumbuanku kepadanya.

Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari dada Eksanti,
seiring meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri kami.
Dengan sekali gerakan, aku dapat menggendongnya. Kami
lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri lagi dengan
tubuh Eksanti dalam gendonganku. Tangannya mulai
meremasi rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh
terhempas ke karpet ruangan, menyisakan bagian atas
tubuh Eksanti yang tinggal berbalutkan sehelai bra
putih.

Beberapa saat kami bercumbu dalam posisi ini, sampai
akhirnya aku merebahkannya lagi di ranjang. Terdengar
suara Donita, presenter MTV Asia, terakhir kali sebelum
aku meraih tombol off TV yang terletak di buffet samping
ranjang. Kali ini suasana benar-benar senyap, hanya
tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk bercumbu.
Eksanti mencoba untuk melepaskan satu per satu kancing
kemejaku, hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya,
hampir bersamaan saat aku berhasil melepaskan bra-nya.
Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah perasaan aneh
menyusup ke dalam hatiku.

She's different, pikirku. Jujur saja, aku sudah beberapa
kali mengalami sexual intercouse, pun dengan orang-orang
yang baru saja aku kenal. Namun kali ini terasa berbeda.
Ada perasaan lain yang mengiringi nafsu yang bergejolak,
sebegitu dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi
tidak berarti lagi keberadaannya. Rasa sayang, yaa…
mungkin inilah yang disebut dengan perasaan sayang itu,
sesuatu yang sudah lama tidak aku rasakan keberadaannya.
Ini membuatku ingin memperlakukannya seindah dan
selembut mungkin. Eksanti bukan hanya seseorang yang
mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu manusiawi dalam
hidupku. Dia berbeda, she deserves the best!

Terdengar lagi lenguhan Eksanti saat aku mulai mengulum
buah dadanya. Kali ini terdengar lebih keras dari
sebelumnya. Mungkin hasrat itu telah memenuhi kepalanya.
Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat
di sekitar putingnya, berkali-kali membuatnya berjingkat
terkejut. Aku meneruskan cumbuanku ke arah perutnya,
hingga pada akhirnya berhasil membebaskan roknya ke
karpet.

Sekarang terpampanglah pemandangan indah yang tidak
mungkin aku lupakan, seorang dewi cantik, rebah dengan
hanya berbalutkan celana dalam satin putih. Untuk
pertama kalinya aku memandang seorang wanita dalam
kondisi seperti ini, tidak dengan nafsu yang menguasai.
Begitu terasa bagaimana aku memang menyayangi dan
menginginkannya. Matanya yang memandang lembut ke
arahku, menghadirkan begitu banyak kedamaian, sesuatu
yang terus aku cari selama ini dari diri seorang wanita.

Kini aku mengulum pusarnya, seiring lenguhan-lenguhan
kecil yang terdengar dari bibirnya. Perlahan aku mulai
menurunkan kain terakhir yang menempel pada tubuh
Eksanti. Terdengar sedikit nada terkejut Eksanti saat
aku mulai menurunkan centi demi centi celana dalamnya
menyusuri kedua kakinya hingga terlepas entah kemana.
Seiring itupun, aku mulai menurunkan jilatan ke arah
selangkangannya.
"Masss... mau ngapain... uugghh...", pertanyaan yang
coba diajukan Eksanti tidak dapat diselesaikannya begitu
dirasakannya sebuah jilatan mendarat di bibir
kewanitaannya.
Permainan lidahku pada liang kewanitaannya memang aku
usahakan selembut mungkin, hingga terkadang hanya
sedikit saja ujung lidahku menyentuhnya. Namun hal ini
malah justru memicu reaksi Eksanti semakin terbakar.
"Occhhh... Masss..." lenguhnya panjang diiringi nafasnya
yang semakin tidak beraturan.

Hisapan dan jilatan silih berganti aku lakukan dengan
penuh kelembutan padanya, hingga pada akhirnya terdengar
Eksanti seperti mendekati puncaknya.
"Aaacchhh..." jeritnya panjang sambil menghentakkan
tubuhnya ke atas, saat puncak itu datang melandanya,
menggulungnya dalam suatu sensasi keindahan yang sangat
melenakan dan menghempaskannya ke dalam jurang
kenikmatan yang begitu dalam.

Kini aku memandang wajahnya. Matanya yang terpejam
sambil menggigiti bibirnya sendiri, tangannya yang
mencengkram seprei di tepian ranjang dengan kencang,
serta nafasnya yang tidak beraturan, cukup untuk
mengekspresikan betapa tingginya Eksanti telah terbuai
dalam gelombang orgasme yang baru saja dilaluinya. Aku
biarkan Eksanti meregang dirinya dalam detik demi detik
puncak kenikmatan yang baru saja didapatnya.

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, sehingga kami harus
menghentikan aktifitas yang sangat menggairahkan itu.
"Aku ke kamar mandi dulu", bisiknya, aku mengangguk.
Makanan pesanan kami telah tiba, dan terhidang rapi di
atas meja. Aku duduk di atas kursi dan menarik kursiku
mendekat ke arah meja kaca itu. Aku menuangkan sebotol
coca-cola ke dalam gelas yang telah berisi es. Aku
meneguk… hmm..., segar. Ditengah keheningan kamar itu,
aku mendengar suara shower dari arah kamar mandi,
rupanya Eksanti sedang mandi. Pantas lama sekali dia di
dalam sana. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi.

Gila…!, Gila…!, Belum pernah aku melihat pemandangan
seindah dan seeksotik ini. Menggairahkan, menakjubkan.
Aku bengong, terpana, terpesona. Suasana kamar mandinya
remang-remang, karena hanya ada cahaya lampu 15 watt
yang menerangi. Eksanti sedang mandi di bawah pancuran
shower. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat sempurna. Putih dan
mulus tubuhnya yang tersiram air bagaikan gambar-gambar
wanita yang sering aku lihat di majalah Playboy.
Badannya tinggi, kakinya panjang dan jenjang,
pinggangnya kecil, tapi pinggulnya cukup besar. Sangat
sempurna. Eksanti sedang menggosok lehernya dengan sabun
sambil memejamkan matanya.

"Mas, tolong matikan AC kamar. Biar nggak kedinginan
kalau aku keluar nanti", katanya.
Aku terjaga dari lamunanku, cepat-cepat aku keluar.
Memang dingin sekali di dalam kamar ini. AC tidak aku
matikan tapi aku setel menjadi 35 derajad. Biar hangat.
Lalu aku kembali melangkah ke kamar mandi lagi.
"Jangan bengong. Mas, mandi sekalian aja…", katanya
waktu aku bengong lagi. Aku segera melepas hem dan
celana pantalonku.

Airnya hangat. Pantas Eksanti berlama-lama mandi setelah
kedinginan di dalam mobil tadi. Sesaat ketika badanku
basah tersiram air, Eksanti menyabuni seluruh tubuhku
dengan pelan dan lembut. Mula-mula tanganku, lalu dada
dan perut. Dimintanya aku berbalik badan dan kemudian
punggungku mendapat giliran. Setelah bagian atas tubuhku
rata terkena sabun, Eksanti berjongkok. Disabuninya
kakiku, lalu naik ke paha. Aku memejamkan mata. Aku
merasakan seluruh elusan dan usapan tangan lembutnya di
sekujur tubuhku. Akhirnya, Eksanti memegang kejantananku
dan mengelus batangnya pelan-pelan, terasa sangat licin
dengan sabun. Setelah bersih, kemudian Eksanti menarik
dan melepaskan tangannya dari batang kejantananku.

Kini tiba giliranku. aku segera mengambil sabun dari
tangan Eksanti. Mula-mula aku mengusap kedua tangannya.
Lalu beralih ke perutnya. Kemudian tanganku merayap
naik, kedua payudaranya aku sabuni dengan lembut.
Kenyal…. Puting kecoklatannnya mencuat ke atas, sangat
kontras dengan warna putih mulus kedua bukit kembarnya.
Tangan kiriku membelai lembut dada kanannya, sementara
tangan kananku mengusap-usap dada kirinya. Aku lakukan
berulang-ulang.., berganti-ganti... Eksanti memejamkan
matanya sambil mendesah, menikmati sensasi. Tubuhku
merapat ke tubuhnya, dan dengan posisi seperti memeluk,
tanganku beranjak menyabuni punggung dan pantatnya.
Ketika tanganku sampai di belahan pantatnya, sengaja
dengan lembut aku sedikit menusukkan jemariku ke lubang
anusnya. “Emmhh… masss,…”, Eksanti mendengus perlahan.

Setelah bagian atas tubuhnya rata dengan sabun, aku lalu
berjongkok. Aku mulai mengusap kaki dan betis indahnya.
Pelan.., perlahan sekali. Aku sungguh sangat menikmati
keindahan ini. Lalu tanganku naik ke pahanya. Eksanti
agak merenggangkan kakikanya, agar tanganku bisa
menyusup ke celah pahanya. Lalu tanganku naik lagi,
sampai akhirnya aku bisa menyabuni rambut-rambut
kewanitaannya. Agak lama aku mengusap-usap sekitar
daerah kewanitaannya dengan lembut, hingga bibir
kewanitaannya merekah.
"Sudah.. Mas, sudah.., please…", lenguhnya.

Aku berdiri, aku segera memeluk tubuh Eksanti. Terasa
licin, tetapi nikmat. Tubuh kami bersatu. Aku mencium
mulutnya sampai Eksanti kembali terengah-engah. Tubuh
kami terus bergerak mencari kenikmatan. Tanganku
mengusap pantat, paha dan kedua bukit payudara indahnya.
Tangan Eksanti juga terus menggerayangi tubuhku. Dari
usapan di punggung, pantat dan akhirnya bermuara ke
kejantananku. Dikocok-kocoknya kejantananku. Aku merasa
nikmat. Belum pernah aku mengalami pengalaman sedahsyat
ini sebelumnya.

Eksanti mundur dan bersandar di dinding. Kakinya
direnggangkan, matanya terpejam seolah membayangkan
sesuatu…. Tangannya lalu memegang batang kejantananku.
Sabun makin mencair tapi masih tetap licin. Eksanti baru
membuka matanya ketika dirasakannya sebuah benda
menempel lembut pada bibir kewanitaannya. Dibukanya
matanya, memandang lembut ke arah wajahku yang tepat
berada di depan wajahnya. "Santi, bolehkah aku...?"
bisikku sambil mengecup keningnya. Eksanti hanya
mengedipkan kedua matanya sekali, sambil tetap
memandangku. That's enough for me to know the answer of
this question.

Perlahan-lahan aku tekan kejantananku menerobos liang
kewanitaannya. So gentle and smooth. Eksanti mengerti.
Direnggangkannya lagi kakinya. Dibimbingnya kejantananku
ke arah lubang kewanitaannya. Dan acchh..., aku mulai
masuk. Terdengar nafas Eksanti tertahan di
tenggorokannya, menikmati sensasi mili demi mili
penetrasi yang aku lakukan terhadapnya, hingga akhirnya
keseluruhannya terbenam utuh. Kami terdiam dan saling
berpandangan sejenak, menikmati bersatunya raga (dan
hati) kami berdua.

Aku kecup bibirnya lembut sebelum mulai melenakannya
dalam sebuah percintaan yang sangat indah. Mula-mula
perlahan. Makin lama makin cepat. Tangan Eksanti memeluk
kedua pantatku ikut menekan. Nikmat sekali rasanya.
Badan kami masih licin. Terus aku ayun-ayunkan pantatku
dan kejantananku menghujani kewanitaan Eksanti
berulang-ulang. Aku masih ingat persis, bagaimana kedua
tangan kami saling bergenggaman erat, saat kami terus
bergumul menyatukan hasrat dan raga kami. Betapa lembut
buah dadanya menekan dadaku, dan betapa hangat
dinding-dinding kewanitaannya melingkupi kejantananku
yang terus memompanya, membawa kami semakin tinggi
terbuai kenikmatan duniawi.

Tak lama, Eksanti merasa tak tertahankan lagi.
Dipeluknya aku erat-erat. Eksanti telah sampai ke
puncaknya lebih dulu. Kejantananku makin kencang
menancap. Aku ayun lagi pelan. Makin lama makin cepat.
"Achh..., achh..., terus mas..., terusss...", lenguhnya.
Pinggulnya terus bergerak mengimbangi tusukanku. Sejurus
kemudian, kami saling berpelukan erat sekali. Mulutnya
lalu aku cium. Bibir sensualnya terlalu sayang untuk
dilewatkan.

Aku mencabut kejantananku. Aku menghadapkan tubuh indah
Eksanti ke arah dinding. Aku sangat menginginkan doggy
style. Eksanti mengerti, lalu ia menungging. Pantatnya
masih licin oleh sabun. Aku usap-usap. Jari tengahku
mulai memainkan kewanitaannya. Eksanti melenguh. Aku
mainkan klitorisnya. Aku usap, aku pelintir, aku sodok.
Eksanti makin menggelinjang.
"Sekarang..., sekarang...", desahnya.

Dipegangnya kejantananku, dan dibimbingnya masuk ke
dalam celah kewanitaannya. Aku memejamkan mata. Aku
tusukkan pelan-pelan kejantananku. Aku condongkan
badanku, bersatu dengan punggungnya. Licin..., enak
sekali. Tanganku meraih kedua bukit indah payudaranya.
Aku mengusap-usap. Licin…, nikmat sekali. Aku lakukan
berulang-ulang, sambil tetap menusuk, menggenjot
kejantananku ke dalam kewanitaan Eksanti. Aku lalu
menegakkan badanku. Aku memegang sisi pinggulnya. Aku
mulai mempercepat ayunan. Eksanti menggoyang-goyangkan
pinggulnya. Aku menarik pinggulku, Eksanti juga ikut
menarik pinggulnya. Aku menusukkan sekuatnya, Eksanti
pun mengimbanginya, "Clep..., clep..., clep".

Akhirnya aku mau keluar. Gerakanku makin aku percepat.
Jeritan Eksanti makin keras.
"Di dalam atau di luar Santiii..", bisikku sambil
terengah-engah.
"Di luar saja", sahutnya.
Eksanti tetap dalam posisi menungging. Pinggulnya makin
liar. Aku makin tak tahan. Dan..., aku cabut
kejantananku dari lubang kewanitaan Eksanti.
"Sekarang Santiii..", kataku sambil memejamkan mata.
Eksanti segera membalik badannya, lalu ia jongkok dan
mengocok kejantananku.
"Acchh..., "cret..., cret..., cret", benih-benih cintaku
muncrat ke wajah dan badan Eksanti. Banyak sekali.
Eksanti terus meremas kejantananku sampai tetesan
terakhir air nikmatku.

Eksanti meratakan cairan cintaku ke dadanya, perut dan
mengusapkan sedikit ke wajahnya. Baru kemudian dibasuh
dengan air shower. Aku membantunya menggosok-gosok
tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang masih menempel.
Tetapi tetap saja, yang lama aku gosok adalah
payudaranya yang ranum itu. Putingnya aku hisap-hisap,
aku mainkan dengan lidahku.
"Sabar, Mas. Nanti lagi, yaa…", bisiknya mesra.
"Nggak usah pakai handuk Santi..", kataku, ketika
Eksanti mau keluar menuju tempat tidur.
Eksanti tersenyum. Dia keluar kamar mandi dengan tubuh
telanjang. Aku mengikuti. Eksanti langsung menuju ke
tempat tidur. Hawa sudah hangat.
"Lapar?", tanyaku.
"Sangat", jawabnya singkat.

Aku duduk selonjor di atas tempat tidur, bersandar ke
bantal di belakang punggungku. Eksanti duduk di atas
pangkuanku. Kewanitaannya menempel erat di atas
kejantananku. Sepiring mie goreng berada diatas
tangannya, dan kami makan berdua. Sesendok disuapkan ke
mulutnya, dan sesendok kemudian ia menyuapiku. Sungguh
sangat romantis suasana waktu itu. Kami makan mie goreng
itu dengan lahap, sehingga cepat tandas. Namun perut
kami masih belum merasa cukup, Eksanti meraih piring
lain bersisi nasi goreng dan kami makan lagi bersama.
Sambil makan, Eksanti menggerak-gerakkan pantatnya.
Kejantananku yang terjepit mulai mengeras.

"Sakit punyaku, Santii....", bisikku sedikit mengerang.
"Sebentar..., tolong pegang piringnya", ujarnya sambil
mengangkat pantatnya kemudian memegang kejantananku yang
sudah siap tempur. Perlahan dimasukkannya ke dalam celah
kewanitaannya, "Blesss".
"Nggak sakit lagi kan..?", katanya sambil tersenyum.

Piring yang tadi aku pegang dimintanya lagi. Gila,… kami
lalu makan kembali, sementara kejantananku menancap erat
di dalam kewanitaannya. Eksanti menggerak-gerakkan
pinggulnya sambil makan. Akhirnya habis juga sepiring
nasi goreng itu. Ia mengambil coca-cola dingin segar...

"Siap?", tanyanya.
"Ntar dulu, biar turun nasinya", kataku.
Aku raih tubuh mulus Eksanti, aku peluk dan aku tidurkan
di atas tubuhku. Kejantananku tetap menancap di dalam
kewanitaannya. Karena tinggi badan Eksanti tidak beda
jauh denganku, maka wajah Eksanti tepat berada di atas
di wajahku. Kami diam menikmati tubuh kami yang sedang
bersatu. Agak lama kami terdiam. Tanganku memeluk erat
punggungnya.

Ruangan makin hangat. Bahkan cenderung panas. Kami mulai
berkeringat. Wangi tubuh Eksanti menyapu hidungku.
"Mau didinginkan AC-nya?", tanyaku.
"Dikit aja, Mas... Makin panas makin asyik. Makin
berkeringat..", ujarnya.

Eksanti menggulingkan tubuhnya telentang di sampingku.
Clepp.., bunyi ketika kejantananku tercabut dari
kewanitaannya. Aku berbalik memandang Eksanti. Aku cium
bibir Eksanti dalam-dalam. Eksanti menyambut dengan
menyedot dalam-dalam bibirku. Disedotnya pula lidahku.
Lalu turun ke leher dan akhirnya aku hisap-hisap puting
susunya yang menantang. Eksanti melenguh-lenguh.
Tangannya memeluk kepalaku, mengusap-usap dan menekan
agar aku lebih dalam mengulum bukit dadanya. Capek.

Aku cium mulutnya dengan ganas. Tanganku meraba-raba
pahanya, lalu mengusap-usap lembut rambut kewanitaanya,
berulang-ulang. Jari tengahku lalu memasuki celah sempit
kewanitaannya. Aku masukkan perlahan-lahan. Keluar..
masuk.. keluar.. masuk.. berulang-ulang. Kepala Eksanti
bergerak-gerak tak beraturan ke kiri, kanan, kadang
maju, mundur. Sepertinyanya ia mulai on lagi. Aku pindah
lagi. Aku jilati putingnya dengan lidahku. Aku
puntir-puntir, aku sentuh-sentuh dengan ujung lidah.
Lalu aku hisap dan aku kunyah. Berulang-ulang. Matanya
terpejam menikmati permainanku. Bibirnya aku lihat
meringis menahan nikmat. Jari tengahku menemukan
klitorisnya. Aku mainkan. Aku tekan, aku gelitik dan aku
tangkap dengan jempolku lalu aku pencet pelan-pelan.
Eksanti makin menggelinjang. Keringat mengucur di wajah
dan lehernya.

“Aaacchh..”, Eksanti menjerit dan menegang. Entah berapa
lama keadaan ini berlangsung, ketika pada saatnya
terdengar Eksanti mulai mendekati orgasme kesekian
kalinya. Tangannya merangkul pundakku, mendekap tubuhku
erat seakan ingin mengajakku ikut dalam gelombang
orgasmenya. Nafasnya makin memburu, terdengar jelas di
telinga kananku. Aku pun meningkatkan kecepatan
penetrasi jemariku untuk membantunya mendapatkan puncak
berikutnya.
"Eeegghhh... Mass... aacchhh..." jerit Eksanti tertahan
saat gelombang orgasmenya benar-benar datang
menggulungnya, menelannya kembali ke dalam jurang
kenikmatan yang sangat dalam. Tanganku terjepit di
antara pahanya. Sejenak Eksanti terdiam.
"Nikmatt..., sekalii.. mas…", desahnya sambil
memandangku.

Aku menghentikan pergumulan kami sejenak, memberinya
kesempatan untuk kembali mengatur nafasnya seusai
melewati puncaknya yang kedua. Aku hanya memberikan
senyuman dan kecupan lembut di keningnya saat pada
akhirnya Eksanti mulai membuka matanya.
"You're so lovely tonight", bisikku padanya.

Aku turun dari tempat tidur. Aku setel AC menjadi 28
derajad. Hembusan hawa agak dingin mulai menyapu
ruangan. Lampu utama aku matikan. Juga lampu dekat kamar
mandi. Pintu kamar mandi aku tutup agar cahayanya tidak
masuk. Yang menyala hanya lampu kecil di kedua sisi atas
tempat tidur.

Aku berdiri di samping tempat tidur. Aku memandang tubuh
Eksanti yang bugil tanpa selimut. Indah, sempurna.
Berkulit putih bersih tanpa ada cacat atau bekas goresan
atau luka setitik pun. Kedua tangannya ditarik ke
belakang kepala. Rambutnya tergerai di kedua sisi
bantal. Matanya terpejam seperti menikmati orgasme yang
baru saja aku berikan lewat jemari tanganku barusan.
Dadanya menantang. Putingnya mencuat. Wajah, leher dan
dadanya basah oleh keringat. Seksi sekali.

Aku layangkan pandangan ke bawah. Perutnya rata, tanpa
lekukan lemak. Pinggangnya kecil. Pinggulnya seakan
selalu siap ditempel. Rambut-rambut kewanitaannya
sebagian menyeruak ke atas. Pahanya juga kecil, panjang,
seperti jangkrik. Betisnya panjang. Mulus sekali.
Ramping. Jari-jari kakinya lentik. Indah. Jagat Dewa
Batara! Mimpi apa aku semalam! Aku menelan ludah. Tanpa
sadar aku mengelus-elus kejantananku.
"Jangan masturbasi sendiri..., sini naik Mass..", kata
Eksanti dengan lirih mengagetkanku.
Matanya masih terpejam. Eksanti menggeliat. Dadanya
dinaikkan. Duhai..., indahnya. Putingnya mencuat.
Sekeliling payudaranya basah oleh keringat. Kakinya
ditekuk sedikit. Mulus sekali...

Aku rebahkan badanku di samping tubuh indah Eksanti. Aku
miringkan badanku. Aku peluk Eksanti dari samping.
Eksanti tetap diam. Matanya terpejam. Nafasnya agak
cepat tapi teratur. Kaki kananku di atas pahanya.
Lututku tepat berada di tulang kewanitaannya. Aku
gerak-gerakkan mengusap rambut kewanitaannya.
Kejantananku menempel erat di pinggul sampingnya.
Tanganku mengusap-usap payudara kirinya.
"Giliranku...", ujar Eksanti sambil langsung bangun dan
duduk bersila di sampingku.
Dipandanginya tubuhku dari ujung kepala sampai ujung
kaki. Eksanti tersenyum. Dibasahinya bibirnya dengan
lidahnya.

Tanpa basa basi, langsung dipegangnya kejantananku
dengan tangan kirinya. Ufff.., Aku memejamkan mata.
Dipermainkan di kejantananku. Dicengkeram kuat, lalu
dilepas. Cengkeram lagi, lepas lagi. Senut-senut
rasanya. Jempol jarinya lalu mengusap-usap topi baja
kejantananku. Aku merasa melayang. Apalagi kalau jarinya
tepat menyentuh ujung kejantananku. Uuuff..., rasanya
tak tergambarkan.

Dengan ganas Eksanti lalu menyerbu mulutku. Dilumat dan
dihisapnya bibirku hingga aku sesak nafas. Rambutnya
yang agak panjang tergerai menerpa wajahku. Mulut
Eksanti terus menerobos mulutku, dan lidahku menyusup
masuk ke dalam mulutnya. Bagai ular, aku rasakan
bibirnya menari-nari, mematuk-matuk lidahku. Mulut
Eksanti menyerbu mulutku yang aku buka dan menghisap
lidahku dalam-dalam. Dimainkannya lidahku di mulutnya,
dikeluarkan sedikit, dan dihisapnya lagi. Nikmat sekali.

Tangan Eksanti tak kalah aktif. Dikocoknya kejantananku
dari lembut, makin cepat, cepat dan lembut lagi.
Permainannya ini aku nikmati sambil memejamkan mata. Aku
merasa di awang-awang. Tanganku menemukan payudaranya,
dan aku remas-remas. Kenyal dan nikmat sekali untuk
diremas. Jariku memainkan putingnya dan memang menonjol
karena ia juga sangat terangsang.

Eksanti melepas ciumannya dari bibirku dan mulai
menciumi wajahku. Dari dahi, kelopak mata, pipi, lalu
turun ke leher dan telinga. Dihisapnya telingaku
bergantian. Ini membuatku geli namun mm.., nikmat
sekali.

Eksanti mulai menciumi dadaku. Sampai di puting,
dimainkannya lidahnya di putingku. Bergantian, yang kiri
dan yang kanan. Rasanya tak tertahankan. Dihisapnya
putingku, dan di dalam mulutnya, putingku dipelintir
dengan lidahnya. Aaccchh...

Eksanti kemudian merubah posisi. Tangannya tidak lepas
dari kejantananku. Eksanti melangkahi aku, dan dengan
perlahan Eksanti hendak mendudukiku.
"Mass... eh..!" teriaknya sedikit terkejut saat
tiba-tiba aku menarik kedua tangannya untuk kemudian
mendudukkan pantatnya di atas pangkuanku. Punggungku
bersandar di kepala ranjang, dan wajah kami saling
memandang. Kami kembali berciuman. Perlahan kuangkat
tubuhnya, untuk kembali menekankan kejantananku pada
liang kewanitaannya. Tangan Eksanti membimbing
kejantananku untuk memasuki lubang surgawinya. Dan
uuuff.., blesss..., kejantananku masuk ke lubang
kewanitaannya. Clep..!, Eksanti langsung duduk dengan
mantap. Kejantananku tenggelam di dalam kewanitaan
Eksanti. Walaupun kami tengah berciuman, masih sempat
kudengar erangan lirihnya saat Eksanti merasakan
bagaimana kejantananku perlahan menikam tubuhnya.

Aku membuka mataku. Eksanti tersenyum manis. Dadanya
yang indah dengan puting yang menonjol tergantung dengan
manisnya. Tanganku tak kuasa untuk tidak meraihnya. Aku
usap pelan payudaranya. Juga putingnya.
"Kamu cantik dan seksi sekali Santi...", kataku tulus
dan pelan.
Eksanti mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, memutar.
Aku masih diam, tetapi kedua tanganku mengelus-elus
kedua bukit dadanya.

Kali ini kubiarkan Eksanti memegang kendali. Aku biarkan
bagaimana dengan bebasnya Eksanti memompa diriku.
Pundakku dijadikan tumpuan olehnya untuk terus
menaik-turunkan tubuhnya di atasku. Aku hanya
membantunya dengan meremas buah pinggulnya dan sedikit
menaikkan posisi selangkanganku, hingga batang
kejantananku terasa makin dalam menghujamnya. Acchh...
sungguh suatu pemandangan yang tidak akan terlupakan
bagaimana melihat dirinya terus menyatukan raga kami ke
dalam suatu persetubuhan yang sangat intim. Matanya yang
terpejam, rambut sebahunya yang sudah mulai dibasahi
keringat terurai bebas, bibirnya yang digigitnya sendiri
dan tubuhnya yang berguncang-guncang. Ughh... It's
really a loveable thing to see.

Eksanti mulai menggerakkan pinggulnya makin cepat. Aku
mulai menaik-turunkan pantatku. Nikmat sekali. Tangan
Eksanti mendekap tanganku di dadanya. Menekan agak
keras. Aku makin mengeraskan cengkeramanku pada
payudaranya. Aku remas keras. Eksanti makin menggila.
Pinggulnya berputar hebat. Erangan Eksanti makin keras.
"Acchh..., aachh..., tusuk lebih keras...", erangnya.
Aku makin ganas menembak Eksanti. Untung spring bednya
bagus, bisa memantul. Makin keras aku menyodok, makin
keras desahan dan erangan Eksanti. Dan, “..aaccchh...”,
Eksanti mengerang panjang, menggelinjang, lalu diam.
Eksanti lalu rebah ke atasku. Aku peluk erat tubuhnya.
Ternyata Eksanti mengalami orgasme lagi.

Kejantananku masih tegak dan keras di dalam
kewanitaannya. Aku mulai menggerakkan perlahan. Eksanti
duduk lagi. Kali ini Eksanti mengambil posisi jongkok.
Mulanya diangkatnya pantatnya pelan, lalu dimasukkan
lagi pelan. Makin lama makin cepat. Aku juga makin
cepat, makin keras dan makin dalam menusuk Eksanti.
Gila..!, Bagai naik kuda, Eksanti menghunjamkan
kewanitaannya ke batangku di bawahnya. Eksanti mulai
mengerang lagi. Dengan binal Eksanti menaik-turunkan
pantatnya dan aku serbu kewanitaannya dengan
kejantananku.

"Accchh..., achh.. Masss…", Eksanti terus mengerang.
Ketika pantat Eksanti meluncur ke bawah, dengan kekuatan
penuh aku naikkan pantatku. Aku sambut kewanitaannya
dengan kejantanan perkasaku. Aku tak tahu lagi rasa
nikmat apa ini. Berulang-ulang kami mereguk kenikmatan.
Mata Eksanti terpejam. Kepalanya tengadah ke atas
bergoyang-goyang. Seksi sekali. Keringat deras mengucur
dari wajah dan lehernya yang putih bersih.

Pemandangan yang sangat melenakan ditambah dengan
kehangatan yang makin erat menghimpit kejantananku,
menit demi menit mulai membuaiku ke dalam sensasi
kenikmatan sebuah persetubuhan. Terasa sesuatu mendesak,
menghimpitku untuk keluar dari dalam tubuhku. Oh My God,
aku rasa aku akan sampai puncaknya, pikirku.
"Mass... I'm almost there..." bisik Eksanti lirih sambil
mempercepat gerakan tubuhnya memompaku.
"Yes... babe, me too..." jawabku sambil mengecup erat
bibirnya.
Selanjutnya terasa bagaimana gelombang menuju puncaknya
seakan berpacu dengan gelombang menuju puncakku.
Goncangan tubuhnya makin terasa mendesak cairan
kejantananku untuk keluar, sementara tikaman batangku
semakin menghadirkan sensasi kenikmatan suatu orgasme
yang hanya tinggal sejengkal dari raihannya.
"Aaacchhh... Mass..." jeritnya lirih memanggil namaku
saat ternyata gelombang orgasme lebih dahulu menyapanya.

Aku merasa hampir sampai. Aku percepat tusukanku.
“Acchh..., acch..., achh..., cepat..., cepat”, Eksanti
juga makin liar. Gerakannya makin tak beraturan.
"Aku mau keluar Sannn..", bisikku pada Eksanti, Eksanti
diam saja. Terus saja dia menggoyangku. Dan,
”….Aaaacch...”, Eksanti menjerit lagi. Kejang.
Menggelinjang lagi. Orgasme lagi dia! Kurasakan jepitan
bibir kewanitaannya semakin kencang, seolah
memijat-mijat batang kejantananku.
"Santiii..., di dalam atau di luar..?", tanyaku sambil
ngos-ngosan karena terus menggoyang Eksanti.

Eksanti kemudian mencabut kewanitaannya dari
kejantananku. Dikocoknya kejantananku dengan cepat.
Aaacchh..., makin cepat Eksanti mengocoknya,
berulang-ulang. Tapi belum juga keluar.
"Kulum Santiiiii…., please", pintaku.
"Aku belum pernah….", jawabnya sambil terus mengocok.
Namun Eksanti kemudian menunduk dan memasukkan
kejantananku ke dalam mulutnya. Tangannya tetap
mengocok. Eksanti tidak memainkan lidahnya atau
mengemut-emut kejantananku. Mungkin masih janggal. Aku
yang mulai. Aku naik turunku pantatku. Kejantananku
keluar masuk mulut Eksanti yang terus mengocok. Aku
masih sempat meneruskan tikaman kejantananku beberapa
kali lagi hingga pada akhirnya...
"Santiii..., aku keluaarrr...!" teriakku sambil mendekap
erat tubuhnya.

Dan, acchh..., acchh..., eeemm..., berkali-kali cairan
cintaku muncrat di dalam mulut Eksanti. Terasa bagaimana
derasnya cairanku menyembur keluar, di sela-sela
gulungan ombak ejakulasi yang menenggelamkanku dalam
suatu sensasi kenikmatan yang sangat dahsyat. Namun
Eksanti tetap saja mengocok. Aku merasa diperas sampai
habis benih-benih nikmatku. Agak lama kejantananku
berada di dalam mulut Eksanti. Ketika sudah loyo,
Eksanti mengeluarkan kejantananku.

Diambilnya tissu dan disekanya bibirnya. Dikeluarkannya
cairan cintaku dari mulutnya dan diseka dengan tissu
berikutnya. Kemudian Eksanti mengambil coca cola,
berkumur dan ditelan. Aku pandangi Eksanti yang luar
biasa dengan perasaan kagum. Eksanti tersenyum padaku.
Dalam beberapa saat ke depan kami hanya mampu
berpelukkan erat, untuk kemudian bersisian rebah di
ranjang.
"Thanks honey, you're so great..." bisikku sambil
mengecup lembut bibirnya.
"Acchh... Mass..." lirih suaranya terdengar, seakan
ingin mengatakan hal yang sama kepadaku
Kemudian dipeluknya aku. Kami masih telanjang. Aku tarik
selimut. Aku peluk Eksanti erat-erat.

******

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dari jendela
kamar ini terlihat bagaimana lengangnya jalan tol
Simatupang yang melintas di atas sana. Hanya lampu
jalanan yang mengerjapkan cahaya kuningnya yang
menandakan maasih adanya kehidupan di sana. Sesekali
masih melintas mobil menuju arah Pondok Indah atau ke
arah Cawang. Kami hanya duduk menatapnya tanpa banyak
berkata-kata. Aku genggam erat Eksanti dalam dekapanku,
menatap kesunyian tanpa sehelai benangpun yang melekat
di tubuh kami. Terkadang aku dengus lembut telinga
Eksanti, yang selalu saja diiringi desahan manjanya.
Ah.. betapa romantisnya, memandang cahaya lampu lewat
tengah malam tanpa selembar busana pun yang melekat.

Tak terasa sudah lebih dari lima belas menit kami berdua
tertegun memandang jalanan, sejak gelombang-gelombang
orgasme tadi menelan kami berdua dan menenggelamkan
hingga ke dasarnya.
"Mas, Eksanti pengen mandi lagi rasanya," tiba-tiba
suara Eksanti mengejutkanku.
"Ya udah sana mandi..," jawabku.
"Ehh.. pintunya jangan dikunci yaa.., siapa tau ntar aku
mau nyusul," godaku lagi.
"Huuh... maunya, aku sudah lemess…," sahut Eksanti manja
sambil menjentikkan telunjuknya di hidungku dan kemudian
berlalu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Selanjutnya aku hanya terdiam, melanjutkan lamunanku
sendiri. Mengingat betapa beberapa menit yang lalu aku
telah melalui sebuah permainan cinta yang sangat indah.
Kali ini sungguh berbeda rasanya, lembut dan melenakan.
Sungguh jauh lebih indah dibandingkan dengan
pengalaman-pengalaman terdahulu, dengan beberapa wanita
yang sempat hadir dalam malam-malamku. Entah mengapa
tiba-tiba timbul keinginanku untuk selalu berdekatan
dengan Eksanti. Hanya beberapa menit ia tinggalkan (dan
itupun hanya untuk mandi), rasa kehilangan itu sudah
hadir dalam benakku.

Tanpa aku sadar telah aku langkahkan kakiku ke arah
kamar mandi untuk menyusul Eksanti. Krek... terdengar
pelan suara handle pintu kamar mandi yang kuputar.
Hmm... ternyata memang Eksanti tidak menguncinya.
Perlahan aku buka pintu untuk kemudian kembali
mendapatkan suatu pemandangan yang sangat memukau.
Terlihat samar-samar dari belakang bagaimana Eksanti
tengah menikmati pancuran air dari shower yang membilas
lembut tubuhnya. Kaca penutup shower menghalangi
pandanganku karena telah tertutup uap dari air hangat
yang Eksanti gunakan. Entah mengapa pemandangan yang
tersamar ini membangkitkan kembali gairahku. Terasa
bagaimana kejantananku mulai menunjukkan reaksinya.

Perlahan aku buka pintu kaca shower untuk kemudian
mendekap tubuh Eksanti dari belakang.
"Hei...!" seru Eksanti terkejut sesaat menyadari ada
orang lain yang berada dalam kotak showernya.
"It's me honey..." kataku menenangkan sambil mendaratkan
ciuman bertubi-tubi ke arah leher belakangnya.
"Ughh... Mass..." lenguh Eksanti pendek. Terus aku
daratkan ciuman bertubi-tubi ke tubuhnya. Kadang di
leher belakangnya, kadang di punggungnya, terkadang pula
kulumat bibirnya. Kami berciuman di tengah derasnya
pancuran shower yang membasahi tubuh kami. Ingin sekali
rasanya aku tikamkan kembali kejantananku dari belakang
ke dalam liang kewanitaannya, menikmati sensasi bercinta
di sebuah shower yang deras menghujani tubuh kami dengan
butiran-butiran air.

Setelah aku rasa percumbuan kami cukup untuk kembali
membuatnya bergairah, perlahan aku tuntun batang
kejantananku ke dalam liang kewanitaannya. Sejenak
terasa lembut dan hangat tatkala kejantananku menempel
pada bibir liang kewanitaannya, sebelum aku hentakkannya
menerobos hingga ke pangkal batangku.
"Arrggghh..." jerit Eksanti tertahan ketika ia mulai
merasakan dirinya sesak dipenuhi oleh desakan
kejantananku. Aku mulai memompanya perlahan, keluar dan
masuk. Eksanti membuka kedua kakinya lebar sambil kedua
tangannya bertumpu pada kedua keran panas-dingin pada
shower. Kami kembali bercinta, bergumul dalam desakan
arus birahi yang memenuhi kepala dan tubuh kami. Kami
bercinta di bawah siraman kehangatan shower yang terus
menghujani tubuh kami tiada henti. Terdengar sayup-sayup
deru nafas Eksanti diantara derasnya suara air yang
tumpah keluar dari shower. Aku lingkarkan tangan kananku
di leher Eksanti ketika aku daratkan tangan kiriku untuk
mempermainkan puting kanannya, sambil tentunya terus
memompanya dari belakang.

Terus aku tikamkan batang kejantananku ke dalam liang
kewanitaannya tiada henti. Menit demi menit berlalu,
mengiringi persetubuhan kami yang sangat indah. Terasa
bagaimana semakin ketatnya lubang kewanitaan Eksanti
kian menghimpit kejantananku. Tiba-tiba kedua tangan
Eksanti menjangkau tangkai shower yang terpaku pada
dinding bagian atas kepalanya, mendongakkan kepalanya
seraya melenguhkan erangan yang begitu menggairahkan
perasaan, "Occhh Massss... ahhh..."

Ternyata Eksanti kembali meraih orgasmenya yang
menariknya kembali ke dalam kenikmatan yang
bergulung-gulung mendera batinnya. Aku dekap erat
tubuhnya, menjaganya dari kelimbungan yang mungkin dapat
saja menghempaskannya ke lantai marmer yang kami injak.
Beberapa saat tetap aku dekap erat tubuhnya, sampai pada
saat akhirnya Eksanti mulai dapat menggerakkan dirinya
sendiri. Kami sejenak bertatapan, perlahan aku cium
lembut bibirnya.
"You're wonderful, Babe," pujiku saat dia mulai membuka
matanya dan memandang ke arahku.

Eksanti membalikkan tubuhnya dan memelukku erat. Aku
cium kembali bibir Eksanti sambil aku angkat tubuhnya
meninggalkan kotak shower tempat kami memadu nafsu. Aku
rebahkan tubuhnya di lantai marmer kamar mandi dengan
perlahan. Kembali aku letakkan kejantananku di bibir
kewanitaannya seraya perlahan mendorongnya masuk ke
dalam. Sejenak aku lihat Eksanti mengigit bibirnya
sendiri, seakan tengah menikmati sensasi penetrasi
batang kejantananku ke dalam liang kewanitaanya.

Kembali aku pompakan kejantananku ke dalam tubuh
Eksanti, membiarkan tungkainya bersandar di pundakku
untuk kemudian membuat kami terbang meraih kenikmatan
duniawi dengan lembut dan perlahan. Terus aku setubuhi
tubuh Eksanti yang tergolek di lantai, mencoba
mengimbangi gerakan pinggulnya yang makin menjepit
batangku.
"Eksanti, Mas mau keluar..." bisikku lirih saat mulai
kurasakan sesuatu mendesak keluar dari batang
kejantananku, setelah beberapa waktu berlalu.
"Yes Maass…., semprotkan ke dadaku, please…." sahut
Eksanti sambil mengecup perlahan bibirku sejenak.

Terus aku pompakan batang kejantananku untuk mencapai
puncak ejakulasiku yang ketiga sejak malam hari tadi.
Aku mencoba untuk menahannya selama mungkin, namun
usahaku tidaklah banyak membawa hasil, karena tidak
berapa lama kemudian aku pastikan bahwa benteng
pertahananku tidak akan bertahan lama lagi. Sempat aku
hujamkan beberapa kali lagi kejantananku ke dalam liang
kewanitaannya sebelum berteriak keras seraya menarik
keluar batangku dan memuntahkan isinya, membajiri
seluruh permukaan dada Eksanti.

"Accchhh... Aku keluaaarrr..." teriakku parau.
"Yes... ehhhmmm..." erang Eksanti tidak dapat
menyelesaikan kalimatnya, karena dirasakannya cairan
kejantananku ternyata juga mendarat di wajah dan
rambutnya.
Cukup lama aku meregang diriku dalam orgasme yang sangat
dahsyat, dimana Eksanti ikut membantunya dengan
mengurut-urut batang kemaluanku, menghabisi cairan yang
mungkin masih tersisa di dalamnya. Aku cium bibirnya
dalam-dalam sambil mengucapkan terima kasih atas klimaks
yang baru saja aku dapatkan, sebelum akhirnya merebahkan
diriku di sampingnya.

******

Pukul 5 pagi hari, aku tersadar dari tidur dengan
mendadak. Di sampingku tergolek tubuh Eksanti yang tidur
memunggungiku sambil aku peluk dari belakang. Sejenak
aku coba mengingat-ingat apa yang baru saja aku alami.
Samar-samar aku mulai mengingat bagaimana sekitar dua
setengah jam yang lalu aku lalui sebuah klimaks yang
dahsyat dalam dekapan Eksanti di lantai kamar mandi.
Yaa.. aku ingat bagaimana kemudian kami saling
membersihkan diri, mengeringkannya untuk kemudian
menikmati tidur dalam posisi saling berpelukan.

Terasa dinginnya udara AC kamar menjalari tubuhku yang
tidak ditutupi selembar kain pun saat aku singkapkan
selimut untuk kemudian mencari pakaianku yang berserakan
di lantai kamar yang ditutupi karpet bernuansa maroon.
Aku kecup lembut kening Eksanti saat telah lengkap aku
berpakaian. Terdengar lirih suara Eksanti saat dia mulai
tersadar sedikit demi sedikit dari tidurnya. Aku kecup
bibirnya saat dia benar-benar telah membuka matanya,
memandangku dengan suatu tatapan yang sangat sulit
ditebak artinya. Tatapan sayangkah itu?

******

Jam mobilku menunjukkan pukul 05.30 pagi, ketika dengan
santai aku kendarai mobilku membelah jalanan yang masih
lengang sambil mendengarkan musik yang mulai dimainkan
radio-radio swasta yang mulai mengudara. Aku baru saja
mengantarkan Eksanti kembali pulang ke rumah kostnya di
sekitar jalan Radio Dalam, sedangkan aku langsung
berangkat lagi menuju kantor. Toh di dalam bagasi
mobilku selalu tersedia baju ganti, dan aku bisa
membersihkan diri di Executive Toilet di kantor nanti.
Aku memang harus segera pergi dari sisi Eksanti,
setidaknya untuk hari ini, karena dia harus segera
berbenah untuk berangkat ke kantor lagi. Sungguh, apa
kata orang nanti kalau aku datang bersamanya ke kantor
di pagi hari begini, apalagi dengan pakaian kusut yang
belum diganti sejak kemarin.

“But no business talks allowed”, masih terngiang di
telingaku perkataan Eksanti saat aku ajak dirinya
melewatkan malamnya menikmati suasana romantis semalam.
Yaa... semoga memang begitu keadaan selanjutnya. Terus
terang aku paling tidak mau mencampurkan urusan
pekerjaan dengan pribadi.

Dalam hati aku masih sedikit terbersit harapan untuk
tetap melanjutkan hubungan ini. Masih terasa bagaimana
Eksanti mengecup lembut bibirku saat dia melepasku
sebelum dia turun dari mobilku. As I said before,
everything seems so right when we're together. Is she
the Miss. Right for me after I've been looking for all
over places? Why do I feel that she's the one,
eventhough I have known her deeply only by a day.
Biarlah waktu yang menjawabnya, karena orang bijak
berkata hanya waktulah yang dapat secara pasti
menentukan apa yang akan kami jalani di masa depan,
sepasti sinar matahari yang selalu menyapa penduduk bumi
setiap pagi.

Seperti saat ini, dimana sinar matahari yang pertama
jatuh menemani perjalananku menembus lengangnya jalanan
kota ini. Sungguh beruntung sekali. Tak terduga. Tak
dinyana. Aku bisa bercinta dengan gadis secantik
Eksanti, berulang kali tanpa rencana.

*****

Siang hari di kantor, ketika aku sedang menulis cerita
ini, ada email masuk dari Eksanti yang isinya, "Mas,
nanti sore kalau boleh Eksanti ikut lagi, yaa..? ".
“Apakah aku sedang bermimpi…?”