Sunday, May 6, 2007

HERLIN

Pertama-tama aku ingin mengenalkan diriku pada semua
netters, namaku Vito(samaran), WNI keturunan
Cina-Jawa-Manado, usia 29 tahun, tinggal di Kota S di
Jawa Tengah. Aku sudah menikah dan mempunyai seorang
anak berusia 1 tahun. Aku bekerja di pengelolaan gedung
mall yang cukup besar di kota ini. Di tempat ini, aku
tidak hanya dikenal sebagai salah satu staf perusahaan,
tapi juga orang mengenal aku sebagai “dokter”, walaupun
aku tidak pernah merasakan bangku kuliah di kedokteran,
tapi karena kemampuanku untuk mengobati berbagai
penyakit baik penyakit medis maupun nonmedis, mereka
sering datang ke kantorku untuk berkonsultasi.

Suatu hari telepon di kantorku berbunyi. Saat kuucapkan
“halo”, terdengar suara merdu dari seberang sana.
“Siang, bisa bicara dengan Pak Vito?” “Ya, saya sendiri,
dengan siapa saya bicara?” “Oh, ini Pak Vito? Pak, ini
Herlin dari toko *** ” Aku hanya mengiyakan, aku tahu
itu adalah sebuah toko handphone di mall ini. Aku
mengira dia pasti akan membicarakan masalah operasional,
atau komplain tentang pengelolaan gedung ini. Ternyata
dugaanku meleset. “Ada yang bisa saya bantu Bu Herlin?”
Aku biasa memanggil semua orang dengan sebutan Bu, baik
masih muda ataupun sudah berumur, sekedar untuk
formalitas. “Saya dengar-dengar cerita tentang Bapak,
saya ingin bertemu dengan Bapak, kapan Bapak ada waktu?”
“Saya selalu ada waktu Bu, silakan datang kapan saja
Anda suka.”

10 menit kemudian, gadis muda berusia 22 tahun ini telah
ada didepanku dan menceritakan segala keluhannya. Dia
merasa tidak PD dan minder dengan penampilannya, padahal
menurutku dia sudah dalam segala hal, dari wajahnya yang
cantik, ukuran tubuhnya sangat proporsional, kulitnya
yang kuning langsat tanpa noda, hanya saja dadanya
kecil, tapi paling tidak nilai totalnya 8 (menurutku).
“Apa yang membuat Ibu berpikir demikian? Saya rasa Ibu
sudah memiliki segalanya. Saya yang gemuk gini aja PD
kok” Dia tersipu sambil berbisik, “Maaf Pak, tolong
jangan panggil saya Ibu, saya masih single, panggil saya
Herlin.” Aku mengangguk.”Dan jangan panggil aku Pak,
panggil aja Vito.” Dia mengangguk. “Dan…, kamu bisa
menyimpan rahasia ngga Vito?” Aku memastikan hal itu
kepadanya. Kemudian dia menceritakan, bahwa dia minder
dengan dadanya yang berukuran hanya 34A.

Aku cukup kaget, karena sebelumnya aku tidak pernah
menjumpai “pasien” yang mempunyai keluhan seperti ini.
“Herlin, jujur saja aku baru pertama kali menghadapi
keluhan seperti ini. Kamu pasti tahu kan, kalau selama
ini aku hanya menangani pasien pasien dengan keluhan
yang `lumrah’, Aku ngga tau bisa berhasil atau tidak.
Lagipula aku punya istri, gimana aku harus menjelaskan
ke istriku?” Herlin mengangguk dan tersenyum, “Aku tidak
akan menceritakannya kepada siapapun, aku juga malu
kalau sampai orang tahu. Dan aku harap kamu mau
mencobanya dulu, kita ngga tau hasilnya kalau belum
mencoba dulu kan?” Aku berpikir keras sebelum aku
menyanggupinya. Herlin tersenyum dan memberikan
kartunamanya kepadaku. “Aku tunggu kamu di rumahku malam
ini jam delapan.”

Jam delapan lewat lima menit aku sudah berada di rumah
Herlin. Rumahnya tidak begitu besar tapi terasa nyaman
dan sejuk.
“Kamu tinggal sendiri di sini?” tanyaku. “Ngga, sama
temen-temen, tapi pada punya acara sendiri-sendiri ama
pacarnya. Makanya aku nyuruh kamu datangnya hari ini,
biar dirumah ngga ada orang. Yuk cepetan, nanti keburu
temen-temen pulang” Aku mengangguk dan mengikuti Herlin
yang melangkah ke kamarnya.

Kamarnya didominasi warna pink muda, dingin hembusan
angin dari AC terasa di kulitku, membuatku merinding.
Dengan malu-malu Herlin membuka kaos dan branya, dan aku
menyuruhnya tidur terlentang. Sejenak aku agak grogi
karena baru pertama kali melihat tubuh wanita selain
istiku setengah telanjang, tapi bagaimanapun aku harus
melaksanakan kewajibanku. Aku mulai terapi dengan
memijit titik-titik darah yang berada di pundak dan dada
atasnya. Setelah kurasa darahnya telah mengalir lancar,
aku mulai memijit payudaranya dengan pijitan yang
lembut.

Payudaranya kecil tetapi terasa kencang. Herlin
memejamkan matanya dan sesekali mengeluarkan lenguhan
dan erangan saat tanganku menyentuh putingnya yang
berwarna coklat muda itu. Tak kusadari, adikku mulai
berdiri. Bagaimanapun juga, aku sebagai manusia normal
tetap bisa terangsang, apalagi berada dalam satu ruangan
dengan wanita muda yang cantik setengah telanjang dan
aku sedang memijit payudaranya. “Vito…, jangan disitu
terus dong mijitnya, geli…” Aku terkejut, tanpa kusadari
pijitanku lebih sering berada di daerah sekitar
putingnya. “Ha?... ehm… iya… maaf.” Herlin mungkin
melihat wajahku yang memerah, dia tertawa dan berkata,
“hi…hi…hi…, kenapa? Kamu terangsang ya…? Ngga pa pa deh,
aku juga suka kok… Cuma agak geli aja…” kata-katanya
membuatku semakin gugup. “eh… kayaknya hari ini cukup
dulu deh Lin, mungkin besok bisa diterusin…” jawabku.
Herlin semakin ngakak, “Vito… kamu kok lugu banget sih?
Nggak pa pa… terusin aja… Kenapa? takut ketahuan istri
kamu ya?”

Herlin merengkuhku dalam pelukannya dan mencium bibirku
dengan lembut. Aku terhenyak, tapi dia kembali menarikku
dan memagut bibirku dengan penuh nafsu. Dalam
kebingunganku dia berbisik, “Vito…, sudah lama aku
menantikan hal ini…, begitu lama aku memendamnya…, aku
sayang kamu Vito… Bercintalah denganku Vito….” Aku cuma
bisa duduk diam kayak orang bego. “Aku pikir kamu salah
orang Lin… Kalau kamu pikir aku bisa membuat kamu
bahagia, kamu bener-bener salah… Aku gemuk, eemm…
barangku kecil… terus… ekonomiku pas-pasan, dan yang
terutama, aku sudah punya istri dan anak… Kamu becanda…
Kamu pasti becanda kan?” tanyaku tak percaya. Herlin
tersenyum manis dan berkata, “Vit, biar kujelaskan
dulu…, dari dulu aku memang suka dengan pria yang
bertubuh gemuk. Aku ngga peduli barangmu kecil atau apa…
kamu lihat juga dong, susuku kan kecil juga. Aku rela
jadi istrimu yang kedua, dan lagian aku kan kerja juga,
jadi kamu ngga usah bingung masalah perekonomian…”
Jelasnya panjang lebar. Herlin menatap mataku
dalam-dalam, seakan ingin menunjukkan ketulusan hatinya.
Kupeluk dia erat-erat, Herlin menciumi seluruh wajahku,
dan kubalas ciumannya dengan tak kalah bernafsu.

Herlin membuka satu persatu kancing kemejaku lalu
tangannya membelai dada dan perutku dengan lembut.
Kurasakan bulu –bulu halus di sekujur tubuhku berdiri.
Sentuhan tangannya begitu lembut. Herlin tidak berhenti,
dia memelorotkan celana panjang dan celana dalamku, lalu
dengan sigap dia memegang adikku yang sudah berdiri
tegak. Barangku memang tidak panjang, bahkan bisa
dikatakan ukuran mini. Herlin mulai mengelus-elus adikku
dan mengocoknya dengan lembut. Jari-jarinya yang lentik
terasa dingin saat menyentuh batang kemaluanku. Aku tak
mau kalah, kulepaskan celana pendek yang dia kenakan,
dan terlihat dia memakai CD semi transparant sehingga
terbayang rerimbunan bulu-bulu yang tidak begitu lebat.
Kuelus bukit kemaluannya dari luar CD yang ia kenakan,
Herlin melenguh, “ooouuuuuhhh…. Vito…., aku milikmu…”
Aku hisap puting susunya yang telah mengeras, lalu aku
mainkan dengan lidahku, kupuntir-puntir dengan bibirku
sementara tangan kiriku meremas-remas payudaranya yang
satu lagi, dan tangan kananku menyelusup masuk di balik
CDnya dan membelai bukit kemaluannya. Perlahan kubuka
belahan vaginanya, terasa sekali vaginanya telah basah
oleh cairan yang keluar terus menerus dari vaginanya.

Kumainkan kelentitnya dengan jari tengahku, Herlin
mengerang dengan sangat keras, merasakan kenikmatan yang
dia terima saat ini. “aaaauuuhhhh…aaaahhh… ooohhh
teruuusss Viit, teruuussss…. Aaaahhh…” Aku terus
memainkan kelentitnya sambil terus menyusu padanya,
sementara tangannya masih terus mengocok-ngocok
kemaluanku dengan lembut, dan sesekali pegangannya agak
mengencang, apabila dia merasakan kenikmatan. Aku tak
sabar lagi, jari tengahku aku masukkan sedikit demi
sedikit ke dalam lubang vaginanya, spontan dia berteriak
dan menarik tubuhnya, “jangan…”

Aku memandangnya dengan perasaan heran, kemudian dia
berbisik di telingaku, “I’m still virgin…, aku ngga mau
perawanku hilang oleh jari, aku ingin dengan ini,”
katanya sambil mengelus kemaluanku.” Lagi-lagi aku
terkejut. Aku tidak menyangka masih ada gadis sekarang
yang bisa menjaga keperawanannya sampai usia yang cukup
matang. Dan lagi-lagi kebimbangan hadir dalam pikiranku,
masa aku harus memerawaninya? “Lin, kamu masih perawan?”
tanyaku tak percaya. Dia mengangguk. “Aku ingin
memberikan mahkotaku ini kepada orang yang ku cintai.
Aku sudah bilang, aku rela menjadi istri kedua. Toh
nanti pada akhirnya aku akan memberikannya padamu juga,
jadi untuk apa kita tunggu lama-lama?” Herlin mengatakan
hal ini dengan mantap.

Sejenak kemudian dia merebahkan dirinya diatas kasur
sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar. “Aku siap
untuk menerimamu sayang…” Setelah ia mengatakan ini, aku
langsung berlutut di depannya dan kupeluk dia erat-erat.
Dia menciumi wajahku dan aku memulai mneggesek-gesekkan
batang kemaluanku di lipatan vaginanya. Terasa sekali
banyaknya cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

Perlahan-lahan kutusukkan penisku ke vaginanya, Herlin
memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.
Sedikit-sedikit kudorong penisku, dan kurasakan ada yang
sedikit mengganjal, lalu kudorong sekuat tenaga,
bleeeessss….. “hhheeeegggghhh….aauuuuuuuhhh….” Herlin
menjerit tertahan, dan terasa ada cairan hangat yang
membasahi penisku, mengalir keluar ke pangkal pahaku.
Lalu aku perlahan mulai menggoyangkan pantatku maju
mundur dan terasa jepitan vagina Herlin di penisku.
Herlin mulai merasakan nikmat, terlihat dari nafasnya
yang memburu dan desahan-desahannya yang membuat suasana
bertambah merangsang.
“mmmhhh….mmmmhhhh…aaauuuhhh…oooohhh… Vitooo… teruuusss…
auuuhhh…
Aduh…. Pelan dikit Vito…. “
“Herlin… ooohhh… enak banget sayang… ooouuuh… goyangin
pantatnya Lin…”
“Ooouuuhhh… aku ngga tahan Vito… enak banget… terus…
aaahhh… uuuhhh… aku… aku… ngga tahan lagi…
aaahhh…Vito….”
“Jangan ditahan Lin…, keluarin aja…. “
“Vitoooo… Auuuhhh… aku sayang kamu Vitooo…”
seeeeerrr…seeerrr…serrrr… terasa hangat di penisku saat
Herlin mengalami orgasme.
Aku tetap menggoyangkan pantatku maju mundur semakin
cepat sehingga mengeluarkan bunyi-bunyian akibat gesekan
penisku dengan vagina Herlin.
Creeep…creeeep…creeeek….clopp… creeeek…
Herlin terkulai lamas merasakan kenikmatan yang baru
saja dia dapatkan, aku pun merasa akan mencapai klimaks,
“Lin, aku… mau… keluaarr…”
“iyaaa…. Keluarin aja… di daleeem…” beberapa detik
kemudian, aku memuncratkan seluruh energiku di dalam
vaginanya
creeeett…creeettt… cruuuttt… creeeeetttt…. Beberapa kali
spermaku menyemprot di dalam vagina Herlin.

Aku merebahkan diri di samping Herlin, dan selintas
kulihat spermaku bercampur darah perawan Herlin mengalir
keluar dari vagina Herlin. Kulihat wajah Herlin begitu
damai dengan nafas yang masih agak memburu. Beberapa
saat kemudian Herlin membuka matanya dan tersenyum
kepadaku, sambil memelukku ia berkata, “Vito, jangan
tinggalkan aku yah… Aku sayang banget sama kamu….” Aku
hanya mengangguk pelan, walau di hatiku masih terdapat
kebimbangan. Sampai aku menulis cerita ini hubunganku
dengan Herlin masih tetap berjalan tanpa ada orang yang
mengetahuinya.

Istriku sempat curiga denganku, tetapi setelah
kujelaskan bahwa Herlin adalah rekan kerja, dia percaya
dan tidak pernah lagi menanyakan hal ini lagi. Untuk
para netters yang ingin berbagi pengalaman dengan saya,
silakan kirim imel. Begitu juga bagi para netters yang
ingin berkonsultasi mengenai pengobatan alternatif, juga
dapat menghubungi saya via imel atau telepon langsung.
Terima kasih.