Tuesday, May 1, 2007

SEX BER-4

Namaku Marga Firliany P. Teman-temanku memanggilku Marga. Atau kalo
lagi gaul biasa dipanggil Maggie, biar lebih ngegaya. Usia ada di
mid twenty. Body nggak sexy-sexy amat: 165 cm / 55 kg, rambut
sebahu. Ukuran dada-pinggul? Sampe saat ini biarlah cowok saya (dan
temen deket yang nanti saya ceritain) yang tahu.

Yang mau saya bagi untuk teman-teman adalah pengalaman saya yang
paling pribadi, semacem cerita biografi sexual saya,
kegatelan-kegatelan saya, dan kegenitan masa ABG saya (dan beberapa
rekan gang cewek saya). Tentu saja banyak detail yang sudah
terlupakan, maklum sudah bertahun-tahun yang lampau.

Semuanya berawal di th. 1995, saat saya naik kelas 2 SMA di kota S,
saat saya berjumpa dengan sahabat-sahabat (Aluh yang paling sexy dan
paling nekat, Anik yang cuek, dan Ririn yang pemalu). Kami berempat
kebetulan memiliki keingintahuan dan kegatelan yang sama tentang
masalah hubungan pria dan wanita. Kami mulai sadar bahwa cowok-cowok
mengarahkan pandangan kepada kami, dan kami menyukai hal tersebut.
Sering kali kami saling bercerita bagaimana si A mencuri-curi
pandang pinggul Aluh, atau si B yang menjulurkan lehernya berusaha
mengintip belahan dadaku saat aku membungkuk untuk mengambil bolpoin
jatuh, atau Ririn yang diintip ketiaknya waktu membenahi ikat
rambutnya. Merupakan kebanggaan jika ada cowok yang difavoritkan di
kelas kami mencuri pandang ke arah kami.

Kadang kami juga suka memancing perhatian, baik dengan berbusana
seksi atau bertingkah laku menggoda. Misalnya menggunakan rok ketat
dari bahan kaus yang mencetak pantat dengan jelas. Atau menggeliat
dengan menarik tangan ke atas dan menekuk punggung untuk sekaligus
memamerkan lekukan pantat dan payudara.

Salah satu kesukaan kami adalah acara ganti baju sebelum dan sesudah
olahraga. Beberapa kali, tentu saja dengan mengunci pintu kelas
sebelumnya, kami berempat dan beberapa cewek lain, nekat ganti baju
di kelas. Satu persatu seragam kami berlolosan hingga tinggal bra
dan celana dalam, sebelum berganti pakaian olah raga. Kami saling
memperhatikan dan memperbandingkan kehalusan kulit, memperbincangkan
model bra transparan yang dipakai si D, atau celana dalam Winnie the
Pooh nya si Y. Dua tiga kali kejadian ada cowok yang mencuri lihat
lewat lubang kunci, yang tentu saja kami tahu melalui
bayang-bayangnya di celah bawah pintu. Namun kami cuek saja,
berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Malahan beberapa dari kami
(termasuk saya) secara provokatif berpura-pura mengobrol sambil
duduk di atas bangku, sambil membiarkan si pengintip menikmati tubuh
kami. Bahkan pernah sekali saya dan Aluh pernah sengaja mencopot
bra, lalu mengoles krim pelembap di dada, sambil sesekali melirik ke
arah pintu berdoa semoga cowok itu masih di situ. Temen-temen cewek
lain tertawa cekikikan sambil memuji kenekatan kami. Dan itu,
pertama kalinya di kelas kami ada adegan seperti itu. Dan setelah
itu beberapa teman cewek mulai berani meniru melepas bra di depan
teman cewek yang lain, meski belum sampai taraf kenekatan Aluh dan
saya.

Meski pernah mempertontonkan tubuh dan sering berakting seksi, kami
berusaha untuk tidak terkesan murahan. Kami dengan cerdiknya
memancing cowok untuk melirik dan menikmati indahnya lekuk tubuh
kami, tanpa bermaksud menantang mereka. Pergaulan sehari-hari
berjalan seperti biasa. Pancingan-pancingan omongan dari cowok nekat
jelas nggak kami tanggapin. Prinsipnya, kagumilah kami. Lebih dari
itu, no way.

Kegatelan kami semakin memperoleh penyalurannya di semester 4.
Diawali dari Anik yang memperoleh buku porno dari seorang teman
cowok, yang segera beredar di antara kami. Masih teringat jelas
bagaimana sang tokoh merendam 'barang'nya dengan teh basi setiap
pagi sore untuk memperkokoh ototnya, bagaimana sang cewek tokoh
utama kesakitan dan kemudian menikmati diperawani, bagaimana sang
tokoh cowok menggoda dan menyetubuhi tetangganya, dan seterusnya.
Beberapa kali kami mendiskusikan cerita itu. Tiap kata dan kalimat
di buku itu membuat kami semakin penasaran.

Pada suatu hari, Anik kembali membikin 'ulah' dengan menawari
tontonan vcd porno. Katanya sih dia ambil dari kamar kakaknya yang
udah kuliah. Berhubung kami masuk siang, kami punya banyak waktu
buat nonton di pagi hari. Kebetulan bapak ibu Anik bekerja, jadi
kami tinggal atur waktu pas kakaknya kuliah. Dan di suatu hari Jumat
pagi, kami berempat untuk pertama kalinya menonton vcd porno,
pertama kali kami melihat penis menembus vagina, pertama kali
melihat cewek mengulum penis, bagaimana clitoris digelitik dengan
jari atau lidah, pertama kali melihat indahnya penis meludahkan
cairan putih kental. Dan reaksi kami... awalnya terpana, terpaku,
tenggorokan kering, dan kemudian cekikikan, dan saling berkomentar
seperti "Gimana ya rasanya?" (waktu adegan oral atau adegan cowok
menebar benihnya di mulut pasangannya). "Wii... banyaknya..." atau
"Enak ya, mas?" (adegan keluarnya air mani), "Mmm... pengeeen..."
(adegan cewek orgasme), "Ayoo... tembak, mas..." (adegan cowok mo
ngeluarin benihnya).

Dan itu adalah bekal saya untuk mengexplorasi tubuh saya sendiri. Di
malam hari, setelah belajar, saya belajar untuk menyentuh tubuh
saya, merangsang puting susu berdiri dengan rabaan ringan, cubitan
lembut, atau dengan sentuhan ujung jari yang dibasahi dengan air
ludah. Kemudian mencari-cari titik-titik di sekitar paha yang
membuat 'greng' bila disentuh, menikmati gesekan pantat dan bantal,
mempertemukan paha dan guling, meremas pantat sendiri. Dan tak
terlewatkan, sentuhan di daerah kewanitaan.

Belaian di bibir luar, sentuhan ringan di klitoris, pelan-pelan
membelai seputar liang persetubuhan, sambil berhati-hati untuk tak
masuk terlalu dalam agar keperawanan tetap utuh. Mmmmh...
orgasme-orgasme pertamaku. Bagaimana otot-otot daerah paha dan
pinggul secara tiba-tiba terasa menegang, rasa lemas itu, rasanya
takkan terlupakan. Hari-hari berikutnya aku belajar bahwa sentuhan
di puting akan membuat orgasme makin kuat, bahwa orgasme dengan
posisi terlentang sambil meregang punggung atau mengangkat kaki
terasa lebih nikmat, bahwa dengan gesekan guling orgasme bisa
didapat. Posisi tengkurap, terlentang, miring, duduk di kursi,
bahkan berdiri sudah pernah kucoba. Telapak tangan, ujung jari,
guling, bantal, kain lembut licin (semacam satin atau sutra), mug,
atau es batu, pernah mengelus puting, membelai pinggang, menggelitik
pantat, dan menyentuh pusat kenikmatanku. Kupelajari juga kalo benda
dingin lebih dapat membuat syaraf kenikmatanku lebih terbuka.

Pengalaman menarik ini tentu saja kubagi dengan gank-ku. Anik dan
Ririn cuma berani pakai guling. Aluh, yang memiliki kegatelan sama
denganku, menganjurkan Anik dan Ririn untuk belajar menyentuh daerah
kewanitaannya. Dan tanpa basa-basi, Aluh mengajak kami berempat
untuk melakukan pesta 'self service'. Acara direncanakan Sabtu pagi,
di rumah Anik.

Sabtu pagi kami berempat udah ada di rumah Anik sekitar jam 7 pagi.
Sebentar kemudian, mas K (kakak Anik) pergi, katanya mo maen tenis.
Setelah itu, Anik menyiapkan kamarnya buat acara "have fun" kami
berempat. Ririn bilang kalo ia sedikit gemetaran. Sementara Anik
sibuk mengecek kunci pintu, menjaga agar pembantu tidak masuk
sembarangan. Atas usul Anik, kami saling membuka baju satu sama lain
sambil membayangkan cowok favorit kami yang melakukannya. Aluh mulai
dengan melucuti baju, rok, dan bra Ririn, sementara saya dan Anik
cekikikan menonton. Nampak sekali kalo Ririn gemetar, sentuhan nakal
Aluh di puting membuat Ririn beringsut mundur, lalu menolak untuk
dilepas celana dalamnya. Lalu aku dapat giliran ditelanjangi oleh
Anik. Cuek saja, sambil memejamkan mata, aku nikmati sentuhan jari
Anik di puting, pinggang, lalu pantat. Setelah itu giliran Anik
'digarap' Aluh, yang dengan berani mengelus pangkal paha Anik.
Terakhir Aluh yang kutelanjangi, lalu kubelai putingnya yang mulai
berdiri, kucubit lembut putingnya, kuremas pantatnya. Pokoknya semua
jenis sentuhan yang pernah kurasakan kupraktikkan ke tubuh Aluh,
yang nampaknya menyukainya. Aluh sempat memintaku untuk menyentuh
kewanitaannya. Namun karena risih, kutolak permintaannya. Berikutnya
kami berempat masing-masing mencari posisi yang enak, kemudian
terbang ke alam khayalan. Setelah melewati puncak, kulayangkan
pandangan ke Aluh, Ririn, dan Anik. Ternyata aku termasuk paling
cepat mencapai klimaks, sehingga aku sempat melihat gaya
sahabat-sahabatku merangsang diri. Satu persatu mereka mencapai
puncak dengan gayanya sendiri-sendiri. Aluh terlentang, tangan kanan
di pangkal paha tangan kiri mengusap dada. Ririn telungkup menjepit
bantal. Sementara Anik duduk bersandar di tembok dengan kaki dilipat
merangsang pangkal pahanya dengan kedua tangan.

Setelah semua 'sadar', kembali kami saling bercerita kenikmatan
kami, saling berbagi teknik belaian dan informasi area 'greng', dan
tentu saja, saling becanda seperti biasanya.

Tiba-tiba terdengar suara gerbang dibuka. Kami mengintip melalui
jendela. Ternyata mobil kakak Anik (mas K) masuk garasi. Sejenak
kami kebingungan, namun Anik langsung menutup gordin. Jadi kami
nggak usah buru-buru berpakaian.

Sekonyong-konyong Aluh punya ide gila. Teringat waktu mengekspos
dada di kelas, Aluh usul untuk bikin acara semacem itu dengan
sasaran kakaknya Anik. Aku langsung setuju. Keinginan untuk
dinikmati dan dikagumi muncul kembali dalam dadaku. Anik setuju
dengan catatan dia nggak mau telanjang bulat. Ririn setuju dengan
syarat yang sama. Kalo aku, justru pengen nunjukin miss V-ku,
apalagi kepada cowok sekeren kakaknya Anik. Lalu kami ngebahas
gimana pelaksanaannya. Kata Anik, setiap Sabtu kakaknya akan keluar
sekitar jam 7 pagi buat latihan tenis, terus pulang sekitar jam 9
pagi. Karena kamar Anik di tepi jendela samping dekat garasi, kami
punya kesempatan pamer pas mas K lewat jendela habis masukin mobil
ke garasi. Rencananya, jendela dibuka, tapi gordin ditutup dengan
disisakan celah di tepi jendela buat ngintip. Posisi juga udah
diatur, Aluh di atas ranjang. Aku di karpet di bawah, bersama Anik.
Ririn duduk di kursi belajar, membelakangi jendela. Dia sempat
protes, entar nggak bisa liat expresi mas K, dong. pemecahannya
gampang, taruh cermin di atas meja belajar, biar bisa liat mas K. Di
karpet juga ditaruh satu cermin, kalo-kalo aku ato Anik tiba-tiba
malu trus pengen membelakangi jendela. Sebelum pulang, Anik usul
agar kami bawa kosmetik buat dandan sedikit, biar tambah cakep. Aluh
dan aku sepakat untuk mencukur miss V sehari sebelumnya, agar lebih
keren dan bisa kelihatan lebih jelas.

Dan hari Sabtu berikutnya, jam 7 pagi kami udah standby di rumah
Anik. Kali ini agak lain. Semua terlihat nervous. Ririn terlihat
pucat, Anik juga. Tanganku gemetaran. Maklum, ini pertama kalinya
daerah paling pribadi kami berempat akan dilihat seorang pria. Cuma
Aluh yang santai. Dia juga yang ngajakin kami berempat untuk mandi
bareng biar fresh dan keliatan seger. Jadilah kami mandi bareng.
Ternyata bukan cuma aku dan Aluh yang mencukur bulu miss V, Ririn
dan Anik juga, padahal mereka rencana semula mereka nggak mau
telanjang. Malu-malu, Ririn bilang kalo aja berubah pikiran pengen
pamer, 'kan keren. Anik idem. Abis mandi kami langsung dandan
seperlunya, biar tambah cakep.

Jam 8 lewat udah siap. Kami berempat cuma pake baju atas plus celana
dalam, rok dan bra ditinggal. Anik dan Ririn pake G string, biar
bisa pamer pantat tanpa melepas celana. Aku dan Aluh manas-manasin
biar mereka mau copot celana juga. Entar nyesel lho. Jawabannya
nyantai: entar deh gimana. Trus nungguin. Anik membuka jendela,
terus menutup gordyn, tak lupa menyalakan semua lampu yang ada. Atas
usul Anik, sambil nunggu, kami mulai merangsang diri untuk
pemanasan. Sesekali kami bergantian melongok ke jendela, mengecek
apa "calon penonton" sudah datang.

Jam 9 kurang sedikit terdengar suara pintu gerbang dibuka. Aku dan
Aluh melongok ke jendela, mastiin mas K yang datang. Ternyata bener.
Aku buka gordyn sekitar 20 senti-an, trus lepas celana dalam dan
melepas semua kancing baju, lalu baring-baring di karpet. Aluh udah
telanjang bulat di atas ranjang sambil mengusap-usap putingnya. Anik
dan Ririn juga udah mulai. Aku baring-baring santai sambil
pelan-pelan membelai putingku. Sesaat kemudian, mas K lewat dan, pas
sekali, menoleh ke arah kamar Anik. Aku pura-pura memejamkan mata,
trus asyik dengan putingku. Pelan-pelan tanganku turun ke daerah
paha. Mataku yang terpejam kubuka kecil, mau liat reaksi mas K.
Ternyata dia lagi liat ke arah Aluh. Ah, sial bener. Saat ujung
jariku menyentuh clitorisku, secara refleks aku mengerang, ternyata
menarik perhatian mas K. Dan... dia melihatku, tepat saat aku
membuka lebar kedua kakiku. Aku tambah semangat. Dadaku berdegup
kuat sekali. Pelan-pelan kutekuk kedua kakiku, lalu kuangkat
pinggulku, agar miss V ku dapat dilihat lebih jelas. Aku bersyukur
dapat posisi di bawah, dekat jendela karena mas K dapat langsung
melihat ke arahku. Aku naik turunkan pinggulku, sambil sesekali
memicingkan mata mengintip mas K yang nampak sekali menyukai show
ku. Dan acara itu ditutup dengan orgasme yang nggak akan kulupakan
seumur hidupku: orgasme pertamaku didepan seorang pria!! Saat kubuka
mataku, tanpa sengaja tepat saat mas K melihat ke arahku. Mas K
tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke arahku. Wow... dia suka.
Meski dalam hati aku merasa lega dan bangga, namun aku pura-pura
tidak melihat. Aku pelan-pelan mengancingkan bajuku. Kedua kakiku
masih kubiarkan terentang lebar, sambil berharap semoga mas K
melihat ke arah bagian tubuhku yang paling pribadi.

Kulayangkan pandangan ke seputaran kamar. Ternyata, lagi-lagi aku
yang pertama mencapai puncak. Tak lama menyusul Anik dengan posisi
terlentang dan kedua kaki diangkat ke dinding. Aluh berikutnya,
terlentang di atas ranjang, kedua kaki diangkat. Dan terakhir Ririn,
si pemalu, yang dengan berani melorotkan celananya sampai sebatas
paha dan membungkuk ke arah meja. Miss-V nya mengintip di antara
sepasang pantatnya yang putih. Keliatan juga dia terus memandang ke
arah cermin di atas meja, memperhatikan mas K.

Setelah semua mencapai puncak, kulirik jendela, mas K udah nggak
keliatan lagi. Aku tersenyum ke arah Anik, lalu ke Ririn,
mengacungkan jempol tanda sukses. Aluh tersenyum mantap, berbisik
"sukses!".

Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari halaman. Kami berempat
melongok ke jendela. Ternyata mas K jatuh tersandung pot bunga. Kami
berempat tertawa cekikikan, yang membuat mas K menoleh ke arah kami.
Secara reflek kami berempat menutup dada dengan tangan. Tapi mas K
tersenyum ke arah kami, trus bilang percuma kami nutupin dada,
soalnya dia tadi udah sempat lihat. Abis gitu dia minta maaf,
katanya nggak sengaja liat acara kami. Bagaimanapun juga, mas K
bilang kalo tubuh kami keliatan seger dan menggemaskan. Trus dia
permisi masuk rumah. Kami sekali lagi kami berempat saling pandang
dan tersenyum lega. Sukses. Apa lagi? orgasme udah dapat, pujian
dari kakaknya Anik juga diperoleh.

Nggak seberapa lama mas K ngetuk pintu kamarnya Anik. Kami saling
pandang. Mau apa? Buru-buru kami pake baju seadanya. Setelah
dibukain pintu, mas K nawarin vcd porno punya dia. Katanya biar kami
tahu tubuh cowok. Kami ketawa, trus bilang kalo Anik udah pernah
ambil vcd itu dari kamarnya mas K. Aku tambahin, kalo udah pernah,
yang belum itu aslinya. Enggak taunya mas K nanggapin serius, dia
mau bantu kalo kami pengen liat cowok telanjang. Kami cuma ketawa
cekikikan, nggak berani mutusin. Mas K bilang kami boleh mutusin
kapan aja, lalu dia pergi ke kamarnya. Trus kami tutup pintu kamar,
ngebahas tawaran mas K. Anik nggak setuju kakaknya jadi obyek
sexual. Aku bilang nggak apa-apa, kami sama-sama saling lihat, jadi
impas. Lagipula kakaknya kan keren, siapa tau aku, Aluh, atau Ririn
entar bisa jadi pacarnya. Aluh dan Ririn setuju pendapatku. Jadilah.
Aluh jadi juru bicara. Kami rame-rame ke kamarnya, lalu minta mas K
buat njalanin tawarannya tadi. Dia tertawa lalu bilang okey, sambil
minta waktu buat mandi dulu, soalnya keringatan abis maen tenis. Mas
K mempersilakan kami masuk ke kamarnya, biar lebih enak, katanya.

Kami berempat duduk santai, nungguin mas K mandi. Kami ngobrolin
show kami yang sukses tadi. Ririn banyak digojlok karena hari ini
pertama kali dia mau menunjukkan miss V nya, bahkan dua kali, waktu
mandi dan show. Aluh sesekali mengintip ke kamar mandi dan
berkomentar wow keren... Abis mandi, mas K keluar dengan lilitan
handuk di pinggangnya, rambutnya basah. Abis gitu dia duduk di
karpet, ngajakin kami duduk di sekitarnya. Lalu dia cerita segala
macam tentang cowok. Mulai dari apa yang disukai tentang cewek, apa
yang diliat, kami jadi tau kalo cowok itu suka yang bikin penasaran,
kemampuan ejakulasi maksimal seorang cowok, bagaimana membelai
daerah paha dan bokong cowok untuk membuat ejakulasi makin kuat,
supaya tidak tersedak kami harus menaruh lidah di ujung penis saat
ia mau ejakulasi, dll.

Abis gitu dia nawarin kami untuk menyentuh tubuhnya. Mas K trus
nyuruh kami bergantian meraba dada dan punggungya. Setelah kami
semua dapat giliran, suasana agak cair. Kami mulai bisa cekikikan
lagi. Terus Ririn tanya, boleh lihat 'itunya' mas? Mas K melepaskan
handuknya, lalu membelakangi kami. Pelan-pelan dia menurunkan celana
dalamnya, lalu berbalik ke arah kami. Dan... wow... pengalaman
pertama melihat cowok telanjang secara langsung. Dadaku berdegup
kencang. Tenggorokan langsung terasa kering. Keindahan otot
tubuhnya, pantat yang kencang, warna pink bagian 'kepala' penis. Tak
akan bisa terlupakan. Ririn pura-pura tidak melihat namun sesekali
mencuri pandang, Anik cuek aja melihat kakaknya.

Abis gitu mas K ngajarin caranya bikin cowok tegang anunya. Mas K
meminta kami untuk membelai itunya. Langsung aja itunya mas K
berdiri. Kami pun cekikikan kembali.

Berikutnya kami diajarin ciuman, french kiss, necking, lidah, dll.
Kami bergantian ditraining mas K, kecuali Anik, cuman bisa liat aja.
Abis ciuman kami ditunjukin gimana rasanya diraba-raba oleh cowok.
Prakteknya, kami diminta mas K menghadap tembok seperti penjahat
diperiksa polisi di film-film. Aku dengan senang hati minta giliran
pertama. Mas K menyarankan untuk melepas baju seminim mungkin. Aluh,
Ririn, dan Anik memberi semangat. Pelan-pelan kulepas penutup
tubuhku satu persatu, tanpa ada yang tersisa. Lalu aku berbalik
menghadap tembok dan menyandarkan kedua telapak tanganku ke tembok.
Tangan mas K mulai menggerayangi rambut, pundak, punggung, puting,
pinggang, pantat, paha, kaki, termasuk daerah kewanitaanku. Kemudian
aku disuruh duduk di kursi, lalu... oh my God... mas K menggelitik
daerah kewanitaanku dengan lidahnya! Tak tahan, aku orgasme dengan
suksesnya. Kakiku sampai gemetaran merasakan nikmatnya. Mas K lalu
bertanya apa ini pengalaman pertama diraba cowok? Malu-malu aku
mengakuinya. "Kirain udah biasa, habis shownya tadi hot bener". kami
cuma cekikikan. Satu persatu semuanya dapat giliran, termasuk Anik.
Satu persatu, kami diantar mas K ke puncak birahi. Seolah tahu kalo
kami suka dipuji, Mas K mengomentari keindahan tubuh kami. Katanya
bokongku paling bagus, montok, kenyal, dengan kulit halus dan
lembut. Dia juga bilang kalo aku beruntung karena gampang terangsang
dan cepat orgasme. Payudara Anik paling sexy, putingnya yang tegak
amat menggoda. Kaki Aluh panjang, mulus, dan indah, serta proporsi
tubuh paling seimbang. Dan yang paling senang adalah Ririn, yang
selain dibilang mas K paling manis di antara kami berempat, juga
dipuji miss V-nya paling rapat, montok, dan menggemaskan. Aluh, aku,
dan Anik sedikit iri dengan keberuntungan teman kami yang pemalu
ini. Sementara Ririn sedikit tersipu namun kelihatan kalo dia
menyukai pujian mas K.

Abis itu, Aluh minta mas K buat nunjukin air maninya. Ia ketawa,
trus bilang kalian aja yang ngeluarin, sambil ngajarin kami metode
untuk memaksa air mani keluar, dengan tangan atau mulut. Kata mas K,
kami cuma dapat mencoba sebentar-sebentar, soalnya kalo udah
terlanjur ejakulasi pasti lemes. Lalu mas K duduk di kursi. Aluh
langsung minta giliran pertama. Ia berlutut di depan mas K, langsung
mengulum itunya mas K. Lewat 10 menit, mas K minta berhenti, hampir
keluar katanya. Aluh cuek dan meneruskan, tapi kami bertiga protes,
takut nggak kebagian. Trus istirahat sejenak. Setelah itu giliran
Anik, cuma pakai tangan. Trus Ririn, juga cuma pake tangan. Aku
dapat giliran terakhir. Berlutut di antara kedua pahanya, aku mulai
dengan membelai dan memelintir pelan-pelan. Mas K memejamkan
matanya, keenakan. Kurasakan otot itunya mas K menggelitik telapak
tanganku. Mas K bilang, diemut dong. Karena ragu-ragu, aku cuma
berani mengecup kepalanya saja. Rasanya asin. Beberapa saat, mas K
bilang mau keluar lagi. Aku cuek aja. Kugenggam itunya erat-erat dan
kunaik-turunkan tanganku. Dan... kurasakan ada sesuatu yang bergerak
cepat di saluran bagian bawah penis, dan... crut... cairan putih
kental melejit beberapa kali dari ujung penisnya. Yang pertama
menembak dadaku. Pinggul mas K terangkat. Yang kedua, saking
kerasnya, mengarah ke bibirku Mmm... terasa asin. Mas K terpejam,
terlihat keenakan. Setelah selesai puncaknya, dia tersenyum dan
bilang terima kasih dengan lembut. Lalu mengambil tisu untuk
mengelap dadaku dan bibirku yang belepotan benihnya.

Lalu mas K nawarin untuk ngajarin kami bersetubuh, kalo kami
berminat. Kami cuma celingukan. Ririn trus tanya apa mahkota kami
masih utuh jika udah pernah digituin. Katanya mas K, bisa ya bisa
enggak. Aluh yang biasanya nekat kali ini juga nggak berani mutusin.
Kata mas K, kalo kami udah siap, dia bisa bantu kapan aja. Abis gitu
mas K bilang mo istirahat soalnya capek.

Di kamar Anik, kami ngebahas pengalaman pertama kami tadi. Rame
banget. Kataku, enak Anik dong, serumah sama mas K. Anik bilang,
"Husy! dia kan kakak, paling cuma raba-raba ajah." Langsung aja aku,
Aluh, dan Ririn bilang, "Huuu. itu 'kan enak juga!" Ririn, dengan
malu-malu, tanya apa mas K udah punya pacar. Kalo belum, mau jadi
pacarnya. Aku nyautin, ijin dulu sama aku, aku udah pernah ngeluarin
benihnya dan bikin dia orgasme, jadi mestinya dapat prioritas. Aluh
langsung protes, soalnya dia yang tadi minta mas K nunjukin
benihnya. Sementara Ririn dengan optimis bilang mas K pasti suka
sama dia karena dia paling manis dan miss V nya paling menggemaskan
di antara kami berempat. Rame lah pokoknya. Akhirnya kami janjian
kalo kami nggak bakalan memancing-mancing mas K untuk dijadiin
pacar, kecuali dia yang meminta sendiri.

Sahabat-sahabatku juga pada bertanya, gimana sih rasa cairan benih
mas K? Gimana rasanya membikin cowok orgasme? Aku tersenyum, trus
bilang minggu depan atau besok 'kan bisa coba sendiri, tinggal
janjian sama mas K. Dalam hatiku aku berkata yang ini biarlah
untukku, akan kusimpan sendiri gurihnya rasa benihnya, rasa bangga
mengantar cowok ke puncak kenikmatan, dan tatapan lembut mas K saat
mengucap terima kasih.

"Kegilaan" kami berempat ternyata tidak membuat kami terhanyut.
Buktinya kami masih bisa mempertahankan mahkota kami sampai lulus
SMA. Setelah itu Ririn dan Anik melanjutkan kuliah di kota yang
sama. Aku dan Aluh melanjutkan kuliah di kota M, dan kadang
melanjutkan penyaluran bakat genit kami berdua.